Discalimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance

.

.

.

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje, Abal dan masih banyak kekurangannya.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Gadis cantik bersurai orange kecokelatan dengan iris abu-abunya terlihat tengah berdiri menengadahkan wajahnya menatap bulan purnama yang terlihat dari celah jendela kamarnya yang tinggi. Padangan matanya terlihat menerawang entah kemana, gadis ini terlihat sangat tidak bahagia berada ditempat ini, karena menurutnya kamar ini adalah sebuah penjara untuknya bukanlah sebuah kamar ataupun rumah baginya.

Dirinya ini berada ditempat ini bukan karena kemauannya, akan tetapi ia diculik demi membangkitkan kembali Sousuke Aizen. Tak hanya dikurung di kamar ini bahkan kedua tangan dan kakinya terikat rantai yang cukup panjang, membuatnya tidak bisa pergi kemanapun selain dikamar ini.

Tok…Tok..

Terdengar suara ketukan pelan dipintu kamarnya.

"Nona Orihime." Panggil seorang pelayan dari balik pintu kamar.

"….."

Gadis yang dipanggil Orihime itu, terdengar diam dan tak menyahuti panggilan dari sang pelayan.

KLEK'

Terdengar suara pintu kamar yang terbuka, dan menampilkan seorang wanita kurus kecil dengan topeng aneh yang melekat diwajahnya, yang merupakan seorang Hollow salah satu dari penghuni di Hueco Mundo.

"Saatnya anda makan." ucap gadis Hollow itu dengan datar.

Gadis cantik ini masih diam dan memandangi bulan tanpa menghiraukan sang pelayan yang datang membawakan makanan untuknya, tak lama setelah mengantarkan makanan wanita Hollow itu-pun pergi dari kamar Orihime, dan bisa gadis cantik ini dengar suara pintu yang terkunci dari luar.

Orihime menoleh dan menatap datar nampan makanan yang berada diatas meja kecil yang terletak di tengah-tengah kamar. Gadis ini tidak berselera makan sama sekali, ia lebih memilih berdiri diam memandangi bulan seraya memikirkan tentang keluarga dan teman-temannya yang berada di Soul Society.

"Kak Ichi, ayah..." Air matanya menetes jatuh membasahi pipinya.

Betapa hatinya merasa rindu sekali pada sang kakak juga ayahnya, jika saja ia tidak diculik oleh para Espada mungkin saat ini dirinya tengah bersenda gurau bersama sang kakak, Ichigo Kurosaki atau belajar kaligrafi dengan sang ayah.

Tidak terasa sudah hampir satu jam gadis ini terus berdiri didepan jendela, tanpa memperdulikan makan malamnya yang sudah mendingin. Hingga lamunannya terhenti saat mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka lagi. Orihime masih diam dan lagi-lagi tidak mengidahkan orang yang masuk kedalam kamarnya dan berfikir kalau itu pasti pelayan yang datang untuk membawa nampan makanannya.

Tap...Tap...Tap...

Namun yang masuk bukanlah pelayan Hollow tadi, akan tetapi seorang pria bermata Emerald yang berjalan dengan perlahan menghampiri Orihime lalu berhenti tepat dibelakang gadis bersurai orange kecokelatan itu.

"Kau tidak memakan makananmu lagi, Nona." Ucapnya dengan dingin.

Orihime menolehkan wajahnya, "Aku tidak lapar Tuan." sahutnya datar.

"Apa kau ingin aku memeras makanan itu dan memasukkannya dengan paksa kedalam tenggorokkanmu?" pria itu menatap datar nampan makanan yang masih terisi penuh tanpa tersentuh sedikit-pun oleh Orihime.

"Kewajibanmu adalah menjaga kesehatan juga nyawamu hingga semua pecahan Hogyoku terkumpul, lalu dengan seluruh kekuatanmu bangkitkan kembali Aizen-sama," ucapnya dengan dingin.

"Setelah tugasmu selesai, jika kau menginkan mati akan ku kabulkan dengan mudah." Sambungnya.

Kedua mata Orihime membelalak sempurna dan seluruh tubuhnya terasa gemetaran membuatnya tidak mampu bergerak sama sekali, dirinya benar-benar sangat takut pada pria tampan bersurai hitam itu yang merupakan penguasa tempat ini, Ulquiorra Schiffer.

"Jadi makanlah makananmu, aku tidak mau kau mati sebelum waktunya." Ujar Ulquiorra dengan dingin seraya pergi berlalu meninggalkan Orihime yang terdiam terpaku memandanginya dengan tatapan takut.

BRUK...

Tubuh Orihime langsung jatuh terduduk lemas saat Ulquiorra keluar dari kamarnya, seluruh tubuh gadis bemata abu-abu ini terasa gemetaran dan tanpa sadar kalau air matanya jatuh menetes membasahi kedua pipinya.

"Kak Ichi...Ayah..." isaknya dengan takut.

*#*

BLAM...

Ulquiorra menutup kasar pintu kamar Orihime, lalu menguncinya tak hanya itu saja di depan kamar gadis bermata abu-abu ini juga ada Ggio Vega yang menjaga kamar Orihime untuk memastikan kalau gadis cantik bersurai orange kecokletan itu tidak akan bisa lari kemana-kemana, mengingat kekuatan dari Orihime sangat dibutuhkan untuk membangkitkan kembali Aizen.

"Jangan biarkan siapapun masuk kekamar ini tanpa seijinku atau perintah dariku." Ujar Ulquiorra pada Espada bersurai hitam ini.

"Baiklah, Ulquiorra." Sahutnya dengan sopan.

Ulquiorra-pun berjalan meninggalkan kamar Orihime seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya, raut wajahnya terlihat sangat datar dan tanpa ekspresi sama sekali.

Akan tetapi saat Espada tampan ini berjalan menuju ruang pribadinya, Grimmjow Jaegarjaques, yang merupakan Sexta Espada terlihat berdiri bersandar pada salah satu dinding di lorong seraya memasukkan satu tangannya kedalam kantong celananya, dilihat dari gelagatnya sepertinya Espada bersurai biru ini tengah menunggu seseorang.

Pria bermata Emerald ini tidak memperdulikan Grimmjow sama sekali dan berjalan melewatinya dengan santai. Hingga dengan cepatnya salah satu kaki Grimmjow menghalangi jalannya.

Ulquiorra menatap datar Grimmjow, ia-pun tidak mengeluarkan sepatah katapun pada Espada bersurai biru itu.

"Dingin sekali sikapmu padaku Ulquiorra, sang penguasa Hueco Mundo," kekehnya.

Ulquiorra hanya diam dan menatap datar Sexta Espada itu.

"Bagaimana kabar mainan perliharaanmu?" cibir Grimmjow.

"Ia baik-baik saja dan gadis itu bukanlah mainan atau-pun peliharaanku, melainkan sebuah alat untuk membangkitkan kembali Aizen-sama," balas Ulquiorra dengan datar.

Grimmjow terkekeh mendengarnya, ia terlihat memandang rendah Espada bermata Emerald itu, "Lalu jika dia hanyalah alat untukmu, kenapa kau sangat menjaganya? Bahkan kau mengurungnya di kamar khusus dan tidak memperbolehkan kami semua untuk mendekatinya!" sindir Grimmjow yang berusaha memancing emosi Ulquiorra.

"Itu agar ia tidak lari dari tempat ini," jawabnya dengan datar.

"Benarkah itu!? Lagi pula ia bisa bersembunyi dan lari kemana dari sini? Karena seluruh wilayah Hueco Mundo hanya ada gurun pasir saja dan juga banyaknya Hollow, Menos Grade, Adjuchas yang berkeliaran di tempat ini! Kau hanya beralasan saja Ulquiorra," Grimmjow tersenyum sinis menatap Espada bersurai hitam itu.

"Jika kubiarkan kalian mendekatinya, aku yakin kalian semua akan melukainya karena dendam juga rasa benci kalian pada Ichigo Kurosaki. Terlebih denganmu Grimmjow, sudah pasti kau akan menebas gadis itu menjadi dua, mengingat kakak dari gadis itu-lah yang telah menghilangkan tangan kirimu," balas Ulquiorra dengan dingin.

"Kau benar sekali Ulquiorra, aku ingin sekali menebas tubuh gadis itu dan mencabik-cabiknya lalu melemparkan potongan tubuhnya pada Ichigo." Batin Grimmjow.

Disaat Espada bersurai biru itu hendak mengatakan sesuatu Ulquiorra keburu memotong ucapannya.

"Dengarkan aku Grimmjow Jaegarjaques," Ulquiorra menatap tajam pada Grimmjow.

Espada bermata Emerald ini berjalan mendekat ke arah Grimmjow, "Aku tidak akan membiarkanmu sedikit-pun melukainya bahkan seujung rambut-pun hingga gadis itu melaksanakan tugasnya membangkitkan Aizen-sama. Jika kau melakukannya, aku tidak akan segan-segan untuk menyerangmu bahkan membunuhmu," ujarnya dengan dingin disertai dengan hawa yang sangat dingin dan menusuk.

Tubuh Grimmjow terasa gemetaran karena merasakan Reiatsu milik Ulquiorra, dan hal ini membuatnya sangat sebal juga marah pada dirinya sendiri karena merasa kekuatannya jauh dibawah Ulquiorra.

"Apakah kau jatuh cinta padanya?" celetuk Grimmjow.

Espada bersurai hitam ini terseyum miris mendengarnya. "Cinta?! Sebuah perasaan yang sangat merepotkan. Apakah kau lupa Grimmjow, kalau aku adalah seorang Espada yang terlahir dari kehampaan dan aku tidak membutuhkan sebuah perasaan dalam hidupku."

"Aku tidak percaya dengan semua perkataanmu Ulquiorra dan aku tidak mengakui kekuatan yang dimiliki oleh gadis itu."

"Aku tidak perduli kau percaya atau tidak dengan kekuatan yang dimiliki oleh gadis itu. Namun bisa aku pastikan aku tidak membiarkan siapapun menyakitinya, karena gadis itu berada dalam perlindunganku sampai ia melakukan tugasnya membangkitkan Aizen-sama," Ulquiorra mengeluarkan Reiatsu-nya yang langsung membuat seluruh tubuh Grimmjow gemetaran dan kaku.

Grimmjow terdiam seribu bahasa dan tidak bisa membalas semua perkataan dari Espada bermata Emerald itu, setelah Ulquiorra pergi baru seluruh tubuhnya bisa digerakkan kembali dan diam-diam dari balik tembok koridor seorang pria bersurai merah muda dengan mengenakan kacamata terlihat tersenyum kejam melihat kejadian itu, ternyata sejak tadi ia sudah berada di tempat itu melihat juga mendengar semua percakapan dari dua Espada tampan itu.

.

.

.

Orihime duduk diam dipinggir ranjang pandangan matanya terlihat koson, kedua matanya menatap dingin tangan dan kakinya yang terbelenggu oleh sebuah rantai, dirinya merasa tengah berada didalam penjara atau lebih tepatnya sebuah sangkar emas karena ia tidak bisa kemana-kemana selain di kamar ini, layaknya seekor burung.

KLEK...

Terdengar suara pintu yang terbuka, dan menampilkan seorang Espada bersurai kuning dengan kulit berwarna eksotis menghambur masuk kedalam kamar lalu berjalan menghampiri Orihime.

"Ulquiorra, memintaku untuk membawamu keruangan pertemuan." Ujar Tia Harribel dengan datar.

Orihime hanya diam dan tak menanggapi perkataan Espada cantik itu, bahkan saat kedua rantai di kaki dan tangannya dilepas tak ada reaksi ataupun ucapan sepatah kata-pun yang terucap dari bibir gadis bersurai orange kecokelatan ini.

"Ikuti aku, jangan sekali-kali mencoba lari atau aku akan memotong kedua kakimu." Ancam Tia Harribe sesaat sebelum keluar dari kamar.

Dan lagi-lagi gadis bermata abu-abu ini hanya diam, raut wajahnya benar-benar sangat datar dan tak ada ekspersi sama sekali. Dengan pelan-pelan Orihime mengikuti langkah kaki Tia Harribel yang membawanya ke ruangan pertemuan. Saat Orihime tiba diruangan pertemuan bersama dengan Tia Harribel semua Espada menatapnya dengan bingung kecuali dengan Ulquiorra.

"Kenapa gadis itu datang kemari?" gumam Yammy dengan dingin.

"Tenanglah Yammy, kau jangan terlihat kesal seperti itu. Diam dan lihat saja apa yang ingin dilakukan oleh Ulquiorra." Syazel tersenyum penuh arti menatap gadis bersurai orange kecokelatan itu.

"Kemarilah Nona, ada hal yang harus kau lakukan." Ucap Ulquiorra dengan dingin.

Orihime langsung berjalan mendekati Espada tampan bersurai hitam itu, "Apa yang kau inginkan dariku Tuan Espada?" tanya Orihime dingin.

"Aku ingin kau memperlihatkan kekuatanmu di depan mereka semua, karena sebagian dari mereka masih belum mempercayai dengan kekuatanmu." Ulquiorra berjalan mendekat pada Orihime.

Espada tampan bermata Emerald ini terlihat menatap dingin seorang Espada bersurai biru yang duduk di sebelah kanan mejanya yang sedari tadi terus menopang dagunya menatap tajam juga menusuk pada Orihime dan Ulquiorra.

"Nona, tumbuhkan kembali lengannya yang sudah di potong oleh kakakmu," ucap Ulquiorra yang langsung membuat semua Espada kaget mendengarnya.

Sementara itu Grimmjow membelakkan kedua matanya, ia menatap remeh pada Orihime "Jangan bercanda kau Ulquiorra? Mana mungkin gadis selemah ini bisa mengembalikan tanganku yang terpotong puluhan tahun yang lalu."

"Itu benar sekali Ulquiorra, aku tahu kalau kekuatan yang dimiliki oleh gadis ini sangat besar akan tetapi menumbuhkan kembali lengan yang sudah hilang puluhan tahun yang lalu bagaimana bisa?" Yammy terlihat bingung dengan Ulquiorra.

Namun Espada tampan ini tetap dengan perintahnya, "Cepat lakukan Nona, jangan sampai aku memintanya kembali."

Orihime berjalan menghampiri Espada tampan bersurai biru itu, dan saat berada tepat didepan Grimmjow, ia langsung mengarahkan kedua telapak tangannya pada Grimmjow, "Soten Kishun." Ucapnya dengan pelan.

WHUSS...

Sebuah cahaya kuning ke emasan menyelimuti lengan kiri Grimmjow dan dengan ajaibnya, lengan kiri Grimmjow tumbuh kembali seperti sedia kala dan semua Espada benar-benar merasa sangat takjub dengan kekuatan yang dimiliki oleh Orihime.

"Sungguh kekuatan yang sangat dasyat!" seru Yammy dengan penuh kagum.

"Kekuatan yang sangat menarik sekali." Gumam Syazel.

Sesaat setelah mengobati Grimmjow, Orihime langsung jatuh terduduk di lantai.

BRUK...

"Ugh..." Orihime mengeluarkan darah segar dari mulutnya.

Gadis cantik ini memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit, tubuhnya sangat lemas sekali setelah menggunakan kekuatan Kotodama miliknya.

"Hahahahaha...Tanganku sudah kembali!" teriak Grimmjow dengan penuh kesenangan.

GREP...

Dengan cepat Sexta Espada ini mencekik leher Orihime, "Akhirnya tanganku kembali, dan akan kubalas perbuatan kakakmu padaku, Nona." Grimmjow menyeringai kejam.

"Ugh..." Orihime berusaha melepaskan cekikkan Grimmjow dari lehernya.

"Bersiaplah u..."

SREK...

Tiba-tiba Ulquiorra sudah berada dibelakang Espada bersurai biru itu seraya menghunuskan pedangnya tepat di lehernya, "Sebelum kau melakukannya, aku sudah menebas kepalamu terlebih dahulu," ancam Ulquiorra.

"Kau!" geram Grimmjow.

"Jadi apa pilihanmu Grimmjow?" desak Ulquiorra.

Mau tidak mau sang Sexta Espada melepaskan cekikkannya dari gadis bersurai orange itu dan pergi menjauh dari keduanya, sementara itu para Espada yang merupakan teman-teman dari Grimmjow dan Ulquiorra memilih duduk diam melihat semuanya tanpa mau ikut campur atau-pun berkomentar sama sekali.

Sementara itu Orihime terlihat tergeletak tak sadarkan diri di bawah lantai. Ulquiorra berjalan perlahan menghampiri tubuh gadis bersurai orange kecokelatan itu, dan dengan hati-hati Espada bermata Emerald ini meraih tubuh Orihime lalu menggendongnya ala bridal sytle.

"Aku rasa pertemuan untuk hari ini usai dan aku harap besok kalian bisa membawakanku pecahan Hogyouko yang lainnya padaku." Ucap Ulquiorra sebelum pergi meninggalkan ruangan pertemuan.

Di saat Ulquiorra menggendong mesra tubuh Orihime, seorang Espada cantik bersurai kuning terlihat menatap sendu ke arah mereka berdua dan diam-diam Syazel yang duduk didepan Tia Harribel bisa menangkap jelas arti pandangn mata dari Espada berkulit eksotis itu yang terlihat cemburu juga iri.

"Semakin menarik saja." Batinnya.

*#*

Ulquiorra membaringkan tubuh Orihime diatas kasur, dan saat hendak menyelimuti tubuh gadis ini ia bisa melihat darah segar dibibir Orihime, lalu tanpa sadar kalau salah satu tangannya terulur ke bibir gadis cantik bersurai kecokelatn itu lalu menghapusnya. Namun tak lama Ulquiorra menyadari perbuatannya dan dengan cepat ia menarik tangannya dari area bibir Orihime.

"Apa yang sudah aku lakukan?!" Pikir Ulquiorra.

Espada bersurai hitam ini merutuki perbuatannya, "Pikiranku selalu menjadi kacau kalau berada di dekat gadis ini." gumam Ulquiorra.

Ulquiorra beranjak pergi dari kamar Orihime, lalu meminta tim medis untuk mengobati gadis bermata abu-abu itu.

X0X0X0X0X0X0X0X

Saat ini tengah di adakan rapat di ruangan Gotei tiga belas untuk membahas mengenai penculikan Orihime dan tindakan apa yang akan dilakukan pihak Soul Society untuk menyelamatkannya, karena bagaimana-pun mereka tidak akan membiarakan para Espada membangkitkan kembali Aizen dengan menggunakan pecahan Hogyoku juga kekuatan dari Orihime.

"Kita harus mencari semua pecahan Hogyoku, dan mencegah para Espada mengumpulkan pecahan itu lalu menyatukannya demi membangkitkan Aizen yang merupakan mimpi buruk untuk kita semua," ujar Ketua Yamamoto.

"Kalau begitu, ijinkan aku untuk masuk ke Hueco Mundo dan menolong Orihime, Ketua," teriak Ichigo dengan lantang.

"Tidak bisa, karena tugas utama kita saat ini adalah mencari semua pecahan Hogyoku yang tersebar di Soul Society dan Hueco Mundo." Tolak Ketua Komandan Yamamoto dengan tegas.

"Ta..."
"Aku tidak akan mengijinkannya Ichigo. Kau, Byakuya dan Toushiro akan pergi ke Rokungai untuk mencari pecahan Hogyoku disana. Dan jika kau masih nekat untuk pergi ke Hueco Mundo, aku tidak akan segan-segan menghilangkan semua kemampuan Shinigami milikmu." Ancam Ketua Yamamoto tanpa main-main.

Ichigo terdiam membisu dan tak bisa berkata sapatah katapun dan dengan terpaksa ia menuruti semua perintah dari Ketua Yamamoto, walaupun sebenarnya hatinya merasa kesal juga marah karena tidak bisa menolong sang adik dari cengkraman tangan para Espada.

"Tenanglah Hime, kakak akan datang menolongmu." Batin Ichigo.

*#*

BRAK

Ichigo mendobrak keras meja di ruangannya, meluapkan kekesalannya pada benda mati didepannya saat ini. Karena dirinya tidak di ijinkan untuk memasuki kawasan Hueco Mundo untuk menolong sang adik.

"Sial!" racau Ichigo.

"Tenanglah, Komandan kau jangan terbawa emosi," ucap Kira yang merupakan wakil Komandan sekaligus teman Ichigo.

"Bagaimana mungkin aku bisa tenang Kira, saat adikku berada di tempat berbahaya itu bersama dengan para monster yang bisa kapan saja membunuhnya," Ichigo mengacak-acak rambutnya frustasi.

Pria bersurai orange ini benar-benar sangat cemas juga khawatir dengan kondisi sang adik, andai saja waktu itu ia lebih waspada menjaga Orihime dengan ketat mungkin saja adik perempuannya tidak akan di culik oleh Ulquiorra dan anak buahnya.

"Aku harus menolongnya, Kira. Aku harus membawa Hime, kembali kesini walaupun nyawaku sendiri menjadi taruhannya." ucap Ichigo dengan mantap.

"Tenanglah Komandan, aku yakin Ketua Yamamoto dan juga para petinggi Soul Society tengah mencari cara untuk menyelamatkan Orihime. Jadi tenangkanlah hati dan pikiranmu saat ini." Kira menepuk pelan pundak Ichigo.

"Tapi K..."

"Dengarkan saja perkataan dari wakil Komandanmu Ichigo," potong seorang pria bersurai merah, yang merupakan wakil Komandan dari divisi enam. Pria bersurai merah ini datang ke ruangan Ichigo bersama dengan seorang gadis cantik bersurai hitam.

"Renji, Rukia!" seru Ichigo.

"Ada apa kalian berdua kemari?" Ichigo menatap bingung sepasang kekasih itu.

"Memangnya kami tidak boleh datang berkunjung ke tempatmu?" omel Renji.

Ichigo hanya tersenyum kecil menanggapinya, ia meminta pada Kira untuk membuatkan teh hijau dan membawakan beberapa camilan ke ruangannya. Tak lama setelah kedatangan sepasang kekasih itu Toushiro, Rangiku, Ikaku dan Yumichika datang bersamaan ke ruangan Ichigo di divisi tiga. Mereka semua datang untuk memberikan nasehat juga semangat pada pemuda bersurai orange itu, karena bagaimana-pun mereka sangat tahu kalau Ichigo sangat menyangi sang adik melebihi nyawanya sendiri, dan mereka takut kalau-kalau Ichigo nanti akan berbuat nekat demi menyelamatkan Orihime di Hueco Mundo.

Awalnya niat mereka semua datang ke tempat Ichigo untuk itu, akan tetapi karena banyaknya orang yang berkumul di ruangan pemuda bersurai orange itu. Rangiku malah mengadakan pesta minum-minum dadakan bersama dengan Shinigami lainnya, hal hasil mereka semua malah berpesta ria di ruangan Ichigo.

"Aduh, kenapa jadi begini!?" keluh Ichigo dalam hatinya.

"Ayo, Ichigo kau juga minum." Tawar Rangiku yang sudah setengah mabuk.

"Tidak terima kasih Rangiku, aku tidak minum arak." Tolak Ichigo.

"Kau ini-kan pria dewasa, masa tidak bisa minum sama sekali walaupun hanya satu gelas?" ledek Rangiku.

"Biarkan saja, karena Hime melarangku untuk minum. Katanya itu tidak baik untuk kesehatan tubuh." Balas Ichigo dengan kesal.

"Hahahahaha..." Rangiku, Renji dan Ikaku tertawa dengan kerasa mendengarnya.

Mereka bertiga tidak mengira kalau pemuda bersurai orange itu sangat menuruti semua perkataan sang adik, bahkan saat di larang untuk minum arak atau semacamnya. Memang benar kalau Ichigo itu terkenal dengan sifat sister complex tingkat akutnya dan terlalu menyangi adiknya sendiri melibihi dirinya sendiri.

"Dewasalah Ichigo, suatu hari nanti adikmu pasti akan menemukan pria yang ia cintai lalu menikah dan memiliki keluarga." Renji menepuk pelan pundak kanan Ichigo.

Pemuda bersurai orange ini terdiam seribu bahasa mendengar perkataan dari Renji yang langsung membuat hatinya terasa sakit dan pilu. Memang benar kalau suatu hari nanti sang adik akan menikah dan memiliki sebuah keluarga, akan tetapi apakah hatinya sudah siap menerimanya jika saat itu tiba.

"Jatuh cinta-lah Ichigo." seru Rangiku.

"Rangiku benar, carilah gadis yang baik lalu menikahlah. Kau juga berhak bahagia Ichigo." Sambung Rukia.

Ichigo hanya tersenyum kecil menanggapinya, karena jujur saja hatinya sudah terlanjur tertambat pada adiknya sejak sang adik masih kecil, karena menurutnya belum ada gadis yang mampu menggeser posisi Orihime dihatinya. Akan tetapi Ichigo akan melakukan apapun demi kebahagian sang adik walaupun harus merelakannya jatuh kepelukkan pria lain. Karena ia menyangi, mencintai Orihime dengan tulus dan sepenuh hatinya sebagai seorang kakak.

X0X0X0X0X0X0X0X

"Bagaimana dengan kondisi gadis itu?" tanya seorang pria tampan bermata Emerald pada salah satu Hollow tim medis.

"Kondisinya masih lemah Ulquiorra-sama, ia kehilangan banyak energi roh dari tubuhnya." Jelasnya dengan takut.

"Berapa lama lagi ia akan tertidur?" Ulquiorra menatap datar tubuh Orihime yang terbaring lemah di atas kasur.

"Entahlah Ulquiorra-sama saya tidak tahu. Mungkin saja jika ada yang memberikan energi roh padanya. Nona Orihime bisa cepat siuman." Hollow itu menudukkan wajahnya tak berani menatap Espada bersurai hitam itu.

"Bagaimana caranya menyalurkan energi roh pada gadis itu?!" Ulquiorra menyeringitkan salah satu alisnya.

"De-dengan..." Hollow itu terlihat gugup menjawab pertanyaan dari Ulquiorra.

"Dengan apa? Cepat katakan, kalau tidak mau kepalamu kutebas." Espada tampan ini mengeluarkan pedangnya.

"Tentu saja dengan menciumnya, Ulquiorra. Masa hal seperti itu saja kau tidak tahu," ledek Nelliel yang tiba-tiba saja datang ke kamar Orihime.

"Kau? Ada apa kau kemari?!" Ulquiorra menatap dingin Espada cantik itu.

"Aku hanya ingin menjenguk gadis cantik itu." Nelliel menunjuk ke arah Orihime yang terbaring tak sadarkan diri di atas kasur.

Ulquiorra menatap dingin istri dari Nnoitra itu yang selalu saja iseng dan mengganggunya terlebih semenjak ia menculik Orihime ke Hueco Mundo, Espada bersurai hijau ini selalu menggodanya dengan mengatakan kalau dirinya sangat cocok juga serasi dengan Orihime. Sebagai Espada yang lahir dari kehampahaan Ulquiorra tidak memiliki sebuah perasaan baik itu senang, sedih, cinta atau-pun semacamnya karena ia tidak membutuhkannya sama sekali. Dengan dingin Ulquiorra menyuruh Hollow medis untuk pergi dari kamar ini dan membiarkan ia berdua dengan Nelliel.

"Jika kau ingin gadis itu cepat siuman, kau harus menyalurkan energi rohmu padanya dengan cara menciumnya."

"Kenapa bukan kau saja yang melakukannya saja?" ujar Ulquiorra.

"Tidak bisa Ulquiorra, karena jika aku melakukan maka aku akan jatuh pingsan. Kekuatan Energi roh milikku tidak sebesar milikmu, jadi hanya kau yang bisa melakukannya." Jelas Nelliel seraya memperlihatkan senyuman manisnya.

"Kenapa harus dengan menciumnya? Tidak adakah cara yang lain?" tanya Ulquiorra, berharap kalau ada cara lain untuk membuat Orihime siuman.

"Ada, tapi itu jika kau seorang Shinigami atau-pun Quincy. Tapi kau bukanlah dari keduanya, hanya dengan cara itu-lah kau bisa memberikan energi rohmu padanya." Jawab Nelliel.

Espada bermata Emerald ini terdiam dan seperti tengah memikirkan perkataan dari Nelliel, dan tanpa sadar kalau wanita Espada ini tersenyum sangat tipis sekali melihat ekspersi wajah Ulquiorra yang terlihat bingung dan berfikir dengan keras mengenai perkataannya.

"Baiklah aku akan melakukannya," ucap Ulquiorra.

Seulas senyum terlukis di wajah cantik Espada bersurai hijau ini, "Bagus." Batin Nelliel dengan senang.

"Keluarlah, tinggalkan aku sendiri di kamar ini." usir Ulquiorra degan dingin.

Awalnya Espada cantik ini menolaknya namun setelah diberi tatapan tajam dan menusuk akhirnya Nelliel mau pergi meninggalkan kamar, dengan cepat Ulquiorra langsung mengunci rapat pintu kamar. Sementara itu di luar kamar Nelliel terlihat senang sekali karena rencananya berhasil dan dengan hati senang Nelliel pergi meninggalkan kamar Orihime.

"Yes, aku berhasil." Senyuman lebar terukir jelas diwajah Nelliel, dengan perasaan senang Espada cantik ini pergi menghampiri sang suami yang tengah berlatih tanding dengan para Espada.

Ulquiorra terlihat diam berdiri disamping ranjang Orihime, ia menatap penuh arti pada gadis bersurai orange kecokelatan itu butuh kekuatan untuk melakukan ini karena menurutnya hal yang akan dilakukannya adalah untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai seorang Espada.

"Jika ini bisa membuatmu bangun, dengan sangat terpaksa aku harus melakukannya." Espada tampan ini mendekatkan wajahnya pada Orihime.

Dengan perlahan-lahan ia menempelkan bibirnya ke bibir Orihime, saat bibir tipisnya mencium bibir dingin gadis bersurai orange kecokelatan ini, ada perasaan aneh di dalam hatinya, jantungnya tiba-tiba terasa berdebar-debar dan berdetak dengan cepat.

"Perasaan apa ini?!" batinya.

Awalnya ia hanya menempelkan bibirnya namun lama-lama ia melumat pelan bibir indah milik gadis cantik bermata abu-abu ini, sepertinya ia terlihat menikmati ciuman ini. Tak lama setelah mencium Orihime, gadis bermata abu-abu ini membuka kedua matanya dengan perlahan.

"Hmph..." erang Orihime dengan tertahan.

Merasa kalau Orihime sudah siuman, Espada tampan ini menjauhkan bibir juga tubuhnya dari Orihime. Sementara itu gadis pemilik manik abu-abu itu menatap bingung juga malu padanya, dari pandangan mata Orihime terlihat jelas kalau gadis ini meminta penjelasan darinya mengenai ciuman tadi.

"Jangan pernah berfikir aneh-aneh padaku, Nona. Aku terpaksa melakukannya untuk mengarlirkan energi roh padamu agar kau cepat siuman." Ucap Ulquiorra dengan dingin.

Espada tampan ini terlihat datar dan tanpa ekspresi, tak ada raut kaget, malu atau semacamnya yang terpancar dari wajahnya. Berbanding terbalik dengan Orihime, yang wajahnya terlihat merona merah karena malu terlebih itu adalah ciuman pertamanya.

"A-anda bi-bisa melakukannya tanpa harus me-menciumku," cicit Orihime.

"Memangnya ada cara selain itu?" tanya Ulquiorra dingin.

"Te-tentu saja ada. A-anda bi-bisa mengalirkan e-energi roh de-dengan cara meletakkan kedua telapak tangan anda, sama seperti yang sering dilakukan oleh ayah dan kak Ichi." jelas Orihime dengan gugup.

Sesaat Ulquiorra membelalakkan kedua matanya, namun dengan cepat ia memasang wajah stoick-nya kembali, ia tidak menyangka kalau Espada cantik bersurai hijau itu akan membohonginya.

"Tapi aku rasa cara itu lebih efektif dan bisa membuatmu cepat tersadar." Ujar Ulquiorra dengan datar.

Espada tampan ini berdiri menatap dingin gadis bersurai orange kecokelatan itu, "Aku akan meminta pelayan membawakan makanan untukmu. Jika kau tidak memakannya lagi, aku bisa pastikan kalau aku yang akan memasukkan semua makanan itu kedalam mulutmu dengan caraku sendiri." Ancam Ulquiorra.

Orihime hanya bisa menunduk diam mendengarnya dan tak berani menjawab ataupun menatap wajah Espada tampan itu karena kini jantungnya masih berdegup kencang mengingat kejadian ciuman tadi yang menurutnya sangat lembut sekali.

TBC

Thank's for reading.

Jika berkenan RnR.

Inoue Kazeka