.

.

Barista

presented by RFionn

BTOB belongs to God, their parents, and Cube Ent.

Main Pairing : ChangJae (Changsub-Sungjae)

Warning : typo(s), OOC, alur cepat, AU, Yaoi

.

Don't Like, Don't Read!

.

.

Happy Reading~


Flashback

"Hyung, Sungjae menemukan 'target' barunya!" lapor Ilhoon pada Hyunsik, yang masih bercengkrama asyik dengan Seo Eunkwang, kekasih sunbaenya sekaligus manajer cafe tempat mereka singgah saat ini, Melody cafe.

"Eojjeorago (so what), Ilhoon-ah? Bukankah itu sudah biasa?"

Pemuda Jung itu menggelengkan kepalanya lucu, yang membuat Hyunsik sedikit mengurva bibirnya untuk tersenyum pada kekasihnya yang terkenal tsundere tersebut. "Aniya, aniya (tidak, tidak). Kali ini bukan wanita, dia pria. Tapi kali ini berbeda dari selera Sungjae yang biasanya."

"Seolma. Kau ingin melanjutkan taruhan kita yang dulu?" tanya Hyunsik ragu-ragu, sambil mengingat syarat taruhannya dengan kekasihnya. Jujur saja, pemuda pemilik eyesmile itu sudah tidak lagi seantusias saat pertama kali taruhan dibentuk dulu.

Hyunsik dan Ilhoon memang pernah bertaruh pada Sungjae. Mereka bertaruh apakah Sungjae bisa serius menjalin hubungan dengan orang lain, jika ya, apakah gadis? Atau pemuda? Mengingat orientasi seks junior mereka telah melenceng sejak lama. Jika pemuda, siapa yang menjadi pihak dominasi?

Seingat Hyunsik, namja Yook tersebut mulai belok semenjak hubungannya dengan Park Sooyoung –yang menggemparkan seantero kampus, bahkan setelah hubungan mereka berjalan enam bulan lamanya– berakhir, entah apa alasan dibalik perpisahan itu. Dan setelah kabar berpisahnya Sungjae dan Sooyoung mengudara, Han Sanghyuk adalah korban pertama dari gosip miring yang menerpa Sungjae.

Tapi pemuda yang memiliki tubuh lebih bongsor dari Sungjae itu diketahui telah mengencani sang flower-boy dari jurusan seni peran, Lee Hongbin. Sanghyuk mengklarifikasi bahwa hubungannya dengan Sungjae hanyalah sebatas teman, Sanghyuk juga menambahkan kalau dirinya canggung jika berada di lingkup yang sama dengan Sungjae, hanya berdua.

Entah Sungjae yang terlalu cuek atau ia bodoh, namja dengan julukan jalddo (si tampan yang gila) itu sama sekali tidak sadar bahwa dirinya sempat jadi bahan perbincangan hangat di kampus. Banyak gosip –miring– yang beredar tentang pemuda Yook tersebut, mulai dari homo hingga playboy yang saat ini perlahan-lahan berhasil menggeser titel melencengnya. Sungjae benar-benar terlihat sama sekali tidak peduli. Bahkan dengan idiotnya tebar pesona pada yeoja lain, bukankah itu malah akan memberi maksud bahwa ia tengah memaksakan diri?

Nyatanya, gosip-cap-playboy itu tidak cukup mengalihkan perhatian Hyunsik dan Ilhoon yang masih keukeuh dengan taruhan masing-masing. Karena mereka yakin dengan prinsip yang mengatakan bahwa sekali belok maka seterusnya akan belok.

"Ini kesempatan yang langka, hyung! Kau ingat sudah berapa lama kita mengintili bocah satu itu hanya untuk mengetahui siapa orang yang ia kencani, tetapi disaat seperti ini kau malah bilang 'so what'?!" geram Ilhoon. Ia mendudukkan dirinya dengan gusar di hadapan kekasihnya.

Hyunsik menyerah, adu mulut dengan Ilhoon benar-benar membuatnya sakit kepala. Ia lebih memilih 'adu mulut' yang sebenarnya dengan sang kekasih, kalau boleh memilih.

"Baiklah, baiklah. Jadi, siapa 'target' yang kau maksud, chagi?"

Ilhoon mendelik mendengar panggilan sayang dari sang kekasih. Jika hanya ada mereka berdua saja mungkin Ilhoon akan –sedikit– tersipu malu, tapi jika di depan umum? Wajah si namja Jung memang memerah, tapi marah.

"Hyung lihat barista disana?" tanyanya sambil mengendikkan kepalanya ke arah meja bar.

Pemuda Lim mengalihkan pandangannya menuju arah yang dimaksud. "Hmm," Hyunsik menyipitkan matanya, menilai. "Tidak buruk."

"Apa yang kalian bicarakan? Bukankah Sungjae adalah pemuda yang tadi? Temanmu yang tadi, 'kan, Ilhoon-ah?" Eunkwang yang sedari tadi menyimak pembicaraan kedua insan didepannya memutuskan untuk ikut campur.

"Ne, hyung–"

"Begini saja, Hoonie. Kita minta tolong bantuan Minhyuk-hyung. Karena tidak ada dari kita yang mengenal si barista itu, tidak mungkin kita tiba-tiba datang lalu berkata bahwa ada teman kita yang minta kenalan, bukan?" sela Hyunsik tidak sabaran. Ia tergugah kembali akan taruhannya dengan Ilhoon rupanya.

"Assa! Nah Eunkwang-hyung, tolong hubungi Minhyuk-hyung untuk segera membawa barista itu ke depan meja bar, bilang ada pengunjung yang minta kenalan, arrachi?"

Ilhoon dengan riang kembali ke meja bar, sementara Eunkwang dengan bingung mengontak kekasihnya –sambil sesekali meminta bantuan pemuda berotot didepannya–, Hyunsik hanya memandang punggung Ilhoon sambil menyeringai kecil.

Flashback end

.

.

.

"Bagaimana, Sungjae-ya?" desak Minhyuk setelah menunggu Sungjae yang tak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulut.

"Maaf... hyung," cicit pemuda dengan surai brunette itu ragu-ragu. Ilhoon seketika mangap dengan tidak elit. Minhyuk yang sedari tadi mengulas senyum, perlahan senyum itu memudar dan tergantikan dengan tatapan datar pada pemuda yang baru dikenalnya sejam yang lalu.

Si pemuda bermarga Jung memajukan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya pada telinga Sungjae, "Bukankah pemuda itu 'obyek' imajinasimu?" bisiknya gusar.

"Bukan yang ini, yang satu lagi, sebenarnya." Sungjae balas berbisik tak kalah gusar.

"Jadi," aura Lee Minhyuk benar-benar tidak enak dirasa saat ini. "Kalian mengajakku bercanda?"

Donggeun yang masih memasang wajah polos khas anak kecil, bertanya pelan. "What's going on here, hyung?" Kedua pemuda dibalik meja bar menghembuskan napas lega karena 'obyek' yang dimaksud sama sekali tidak mengerti konversasi mereka, dan kagum karena ia berasal dari kebangsaan yang jelas berbeda dengan mereka.

"No, it's nothing, Donggeun-ah. Kau bisa kembali bekerja." Minhyuk mengelus bahu lebar Donggeun dengan senyum menenangkan tersungging di bibir tipisnya.

"Ne," balasnya dengan bahasa Korea. Suaranya yang unik mengundang Eunkwang tertawa dibelakang sana.

"Is there something wrong with me, hyung?" tanya Donggeun pada Minhyuk dengan sedikit berteriak, mungkin dengan maksud menyindir tawa Eunkwang yang menurutnya sangat nyaring.

"It's no wrong, hyung. Just..." jawab Sungjae dengan bahasa Inggris yang amburadul sebelum yang ditanya sempat membuka mulut, kemudian ia menggerakkan kedua tangannya naik turun di depan dada sambil mengerling minta tolong pada Ilhoon maupun Minhyuk. Keduanya merespon bersamaan dengan sebelah alis yang naik, "Relax, man~" lanjutnya sembari tertawa canggung.

Ilhoon memutar bola matanya bosan mendengar tata bahasa Sungjae yang awut-awutan, "Can you just join us on that table, Donggeun-sshi?" celetuknya sambil menunjuk meja dimana Eunkwang dan kekasihnya duduk.

"My shift aren't finished yet," jawab Donggeun, sambil mengelap sekitar mesin pembuat minuman. "Tapi jika Minhyuk-hyung mengijinkanku, tidak masalah." lanjutnya lamat-lamat dengan bahasa Korea.

"Bahasa Koreamu bagus juga, Donggeun-ah." puji Sungjae sok akrab, ia bahkan tidak mengetahui umurnya lebih tua atau lebih muda dari Donggeun.

Si pemuda plontos meringis, kemudian ia melangkah mendekat ke arah Minhyuk yang tepat berdiri di hadapan kedua pemuda yang lain. "Bahasa Inggrismu juga bagus, err..." Donggeun berhenti sejenak kebingungan akan nama Sungjae, sedangkan Sungjae sedikit merengut kala kemampuan bahasanya dikomentari.

"I'm Yook Sungjae. Nice to meet you." sahut Sungjae setengah dongkol, terbukti dari pengucapannya yang memang sengaja ditekan dan terkesan mengeja per kata.

"I'm Peniel, but you can just call me Donggeun like Minhyuk-hyung and Subie-hyung. Nice to meet you too." Kali ini Donggeun tersenyum seperti anak kecil mendapat permen. Manis dan imut.

"Ja ppali wa yo (cepat kemari), aku yakin Minhyuk akan mengijinkanmu istirahat barang sejenak, Donggeun-ah!" teriak Eunkwang dari seberang, sembari mengayunkan sebelah tangannya ke arah bar. Pemuda-pemuda yang berkerumun di meja bar memilih untuk beranjak kecuali Sungjae, yang masih diam di tempat menerka-nerka sesuatu.

'Siapa itu Subie-hyung?'

.

.

.

Malam berikutnya, pemuda bersurai brunette terlihat sedang duduk di bangku pojok dekat jendela di Melody cafe. Ia mengenakan topi dan mantel hitam, majalah terbuka di hadapannya namun sepasang manik obsidian itu terfokus pada 'obyek' lain.

'Barista itu, itu yang namanya Subie-hyung? Yang dimaksud Donggeun-hyung kemarin?'

Penampilan barista tersebut masih sama seperti kemarin, hanya saja jika kemarin fokus Sungjae terganggu akan kehadiran yang lain, kali ini ia akan memuaskan diri dengan memandangi sosok tampan-dan-seksi-dalam-waktu-bersamaan yang sedang melayani pelanggan tersebut.

Dari pengamatannya, barista itu memiliki wajah yang dingin ketika sedang dalam 'dunia'nya –it means, ketika sedang meracik kopi atau sedang diam menganggur– tapi memiliki pipi chubby yang membuatnya semakin terlihat berisi ketika tersenyum atau tertawa, matanya yang ikut tersenyum ketika ia mengurva bibirnya mengingatkannya pada Lim Hyunsik.

'Tapi tentu saja senyum si chubby ini yang paling menarik.' batinnya meralat.

Saking asyiknya memandangi salah satu pahatan Tuhan yang sedang beraksi di balik meja bar, Sungjae tak sadar jika ada sepasang mata milik pemuda dengan julukan 'Lee-ramjwi' memerhatikannya sedari si namja Yook melangkahkan kaki masuk ke cafenya.

.

.

.

TBC


ㅋㅋㅋ sengaja ngga masukin bumbu ChangJae di dua chapter awal, karena aku ingin mengekspos dulu 'asal-usul' mereka. Di chappie selanjutnya baru full ChangJae. ff ini lahir dari kebaperan aku nonton Beatcom #34 kemarin, aaaahh Sungjae can you just be nice to your soft-fluffy-mochi-hyung mu itu?! Tak bawa pulang baru rasa! #asahgolok #dikeroyok

Oh iya, leeramjwi artinya Lee –Minhyuk– squirrrel.

Tengkyu buat yang udah review chapter kemaren, balesan sudah terkirim di akun masing-masing ya –bagi yang login. Makasih juga buat para silent reader yang sudah menyempatkan singgah, lol I see you there!

Boleh minta review –lagi? :3