Disclaimer : J.K Rowling

Pairing : Dramione

Setting : Tahun ke tujuh Harry Potter setelah perang melawan Voldemort

Rated : T semi M

Warning : Cerita aneh, gaje, typos dll


Hermione menatap Draco Malfoy dengan ragu. Melihat wajahnya kini terukir seringai-an yang menunjukkan khas Malfoy nya membuat dia kembali menahan emosinya. Tanpa babibu lagi kali ini dia menyeret kaki nya sendiri untuk melangkah.

Sekarang, karena tidak ada pilihan,

Dia tengah duduk di samping Draco Malfoy, di meja Slytherin.

Sekarang dia akan menjalankan tahun baru dengan para ular licik.

Sekarang dia tak tahu apa yang harus dia pikirkan lagi.

Sekarang dia merasakan kalau… ini sudah terlewat gila.


.

Chapter 2 : Princess of Slytherin

Happy Reading:)

.

Hermione merasa sangat asing. Kini dia melihat semua murid bertatapan aneh ke arah nya di ruang rekreasi Slytherin. Karena itulah, dia memutuskan untuk melangkah menaiki tangga -pergi dari sana- dan langsung melesat ke kamar nya segera.

Sudah lima menit dia menatap seragam baru nya yang ada di atas kasur nya itu. Baju seragam dengan dasi berwarna hijau khas Slytherin nya. Sedaritadi dia memikirkan tahun ke tujuh nya yang akan dilanda bencana.

"Kau jangan menganggap kami seperti yang dibilang orang dulu Granger. Karena kami sebenarnya tidaklah begitu."

Perkataan yang lembut itu membuat Hermione tersadar akan lamunannya. Kini dia mendongak ke arah suara itu. Gadis cantik yang kini ada di hadapannya duduk di tepi ranjang nya.

"Oh sorry." Katanya lalu kembali berdiri. "Tak apa Greengrass, duduklah. Aku sama sekali tak keberatan." Hermione tersenyum simpul. Sebenarnya dia shock sekarang karena ada seorang Slytherin yang mengajak nya berbicara. Terlebih dia itu kan…

"Panggil saja aku Daphne, Hermione. Oh, bolehkah aku panggil Hermione?." Katanya lalu dia tersenyum. Hermione tak bisa menahan ekspresi konyol nya. "Tidak usah memandangku seperti itu. Sudah ku bilang kan.. Semua perkataan mengenai murid asrama Slytherin yang licik itu tidak sepenuhnya benar Hermione..." Katanya sangat lembut. Hermione yang merasa bersalah kemudian tersenyum kikuk. "Eh iya maaf Daphne. Aku tak bermaksud begitu, hanya saja aku-."

"Aku tahu kau sangat kaget." Dia terkekeh pelan.

"Sungguh konyol bukan hal mengenai status darah itu? Kau tahu, aku sama sekali tak memperdulikan itu sedari dulu. Bagiku semua sama saja, kita sama-sama penyihir bukan?." Katanya yang membuat Hermione kembali shock. "Eh, Daphne.. A-ku sangat kagum kau berkata seperti itu. Kau kan…."

"Sungguh Hermione, berapa umur kita sekarang? Lagipula Voldemort juga sudah tidak ada kan? Untuk apa kita masih mengungkitnya."

Hermione tersenyum lebar mendengar pernyataan salah satu punggawa Slytherin itu. "Ah ya, besok kelas ramuan di pagi hari kan? Sekarang tidurlah dengan tenang. Karena kau bisa pergi bersamaku besok kesana." Katanya lalu dia beranjak berdiri menuju sebuah ranjang yang berada disebelahnya.

Hermione tak bisa menyembunyikan senyum manisnya.


.

Hermione sedaritadi tak juga beranjak dari cermin besar yang menampilkan replika dirinya. Setelan seragam Slytherin melekat di tubuhnya. Dengan dasi hijau, Hermione merasa kalau dia seperti para ular.

"Oh Merlin Hermione, kau terlihat… Merlin Merlin Merlin!."

Hermione menyipitkan matanya ke arah gadis berambut pirang itu. "Eh, kau kenapa Daphne?."

"Hermione! Aku sangat tak menyangka kalau kau begitu terlihat liar saat memakai seragam Slytherin." Kata Daphne yang sukses membuat Hermione melotot. Dia kembali menatap tubuhnya di cermin. Dan ah ya benar sekali kata Daphne. Hermione merasa dia lebih hot dengan seragam Slytherin.

"Sudahlah.. jangan terpaku disana terus, ayoooo kelas ramuan menanti.. dan kita belum sarapan.." Tanpa babibu Daphne langsung menarik tangan Hermione. "Eh, tapi. Daphne tunggu tunggu."

Hermione terus menggerutu karena Daphne menarik tangannya secara tiba-tiba, yang hingga kini keduanya telah sampai di ruang rekreasi.

"Kau tidak mengambil pelajaran ramuan Draco? Aku tak percaya." Kata Theo dengan sungutan.

Hermione melihat Draco Malfoy dan Blaise Zabini tertawa. Huh. Hermione menghela napas nya saat berjalan melewati mereka, namun… sesungguhnya dia sangat tak menyangka dirinya sukses menjadi pusat perhatian seluruh anak Slytherin sekarang.

Draco Malfoy, Blaise Zabini, dan Theodore Nott memperhatikan Hermione dari atas hingga bawah berulang kali. Bahkan bukan hanya mereka, tapi murid lelaki yang lain pun melakukan yang sama. Hermione melotot saat melihat Draco Malfoy menelan ludahnya dan memandangnya nakal.

"Pagi Granger."

Hermione mendengus. "Woaa Granger.. aku tak menyangka kalau kau sangat- err seksi." Blaise kian berkomentar. "Kau terlihat entah seratus kali lebih liar dengan pakaian Slytherin." Timpal Theo sambil mengedipkan matanya. Dan Blaise juga mengikutinya. Hermione membelalakkan matanya.

Alih-alih sudah tersadar akan keadaan yang ada, gadis itu sempat berpandangan tajam kepada mereka semua yang mengerling nakal padanya, sebelum akhirnya dia melangkah pergi keluar asrama sambil menarik tangan Daphne Greengrass secara agak paksa.

Tanpa dia sadari, Draco Malfoy saat ini tengah menyunggingkan seringai-an khas nya sambil memandang punggung gadis itu yang kian menjauh, lalu dia bergumam "Menarik."


Great Hall.

Hermione rasa sekarang dia harus kesana. Mengingat perutnya sudah berceloteh ingin merasakan makanan. Dia bersama Daphne Greengrass memasuki aula besar.

BRAKK. Pintu aula terbuka lebar.

Hening. Mereka semua mengarahkan pandangan ke arah pintu depan aula. Semua menghentikan aktivitas makan mereka. 'Oh Merlin. Apalagi ini?.' Batin Hermione merasakan hal buruk.

Hingga akhirnya Hermione berjalan kikuk karena para lelaki menatapnya seolah dia ini adalah wanita liar saja.

Hermione melihat Harry, Ron, dan Ginny bergabung di suatu meja. Setelah memberikan tatapan kau-kesana-saja-aku-ingin-duduk-disini (meja Gryffindor) kepada Daphne yang mengangguk, kini Hermione mengarahkan langkahnya ke arah tiga sahabatnya itu.

"Hermione Merlin!."

Sama seperti yang lainnya, ketiga sahabatnya itu sama-sama memandangnya dari atas hingga bawah. "Sungguh, aku tak tahu kalau kau liar Hermione!." Komentar Ron yang belum mengalihkan pandangannya ke arah Hermione.

"Jangan berkata seperti itu Ron." Hermione memukul lengan Ron lalu dia mengambil tempat disampingnya, dihadapan Harry-Ginny.

"Ta-tapi Hermione.. Ah bisakah nanti kau meminjami seragam Slytherinmu padaku? Aku juga ingin mencoba menjadi seorang princess Slytherin." Kata Ginny yang langsung disambar pandangan tak mengenakkan dari Harry. Sementara kedua gadis itu terkekeh pelan.

"Jadi… apa saja yang sudah aku lewatkan tadi?." Tanya Hermione sambil memegang jus labunya.

"Woaaa… kau pasti sangat tak percaya kalau aku bilang." Kata Ron sambil mengambil arah pandangan ke pintu aula besar yang kini membuka dan beberapa orang masuk ke dalamnya.

"Katakan saja Ron, aku pasti percaya." Kata Hermione yang kemudian mengalihkan pandangan dari pintu aula ke Ron karena melihat segerombolan murid lelaki Slytherin memasuki aula dengan seringai-an ke arahnya.

"Ginny terpilih menjadi ketua murid putri bersama dengan Kevin Whitby si Hufflepuff yang menjabat sebagai partnernya." Kata Ron. Hermione tidak jadi meneguk jus labunya. Sungguh itu jabatan yang sangat dia impikan sedari dulu, dan saat dia tengah mendapatkannya, semua itu kandas begitu saja.

Tapi… kalau masalah berikutnya sahabatnya yang terpilih, Hermione tak perlu merasa sedih kalau begitu. Mengingat, selama sahabatnya itu senang dia pasti juga akan senang.

Hermione menoleh ke arah Ginny yang tersenyum tipis. "Waw. Sungguh aku tak menyangkanya Gin! Tapi.. ah ya selamat untukmu." Kata Hermione tersenyum. "Ya well Hermione, maaf aku menyerobot hak mu." Katanya disertai gelengan kepala. Hermione menghela napasnya dulu sebelum menjawab. "Ah, apa katamu Gin? Aku tidak ada hak untuk itu. Itu wewenang kepala sekolah kan? Tapi sungguh Gin, aku sangat bersyukur kalau kau yang terpilih menjabat." Kata gadis itu yang membuat Ginny menghela napas lega. Sebenarnya Ginny menyangka kalau Hermione akan marah padanya sebelumnya.

Sesaat hanya suara-suara sendok dan garpu yang terdengar dari aula, sebelum Harry berkata "Jadi… bagaimana kau bisa dekat dengan Daphne Greengrass?..Ya, kalian tadi memasuki aula bersama dengan tenang." Katanya. Hermione menghela napas lagi lalu menceritakan semua percakapan malam antara Daphne dan dirinya kemarin. Beberapa kali Hermione menoleh ke meja Slytherin. Disana Daphne sedang duduk bersama dengan Draco, Theo, Blaise dan Slytherin lainnya.

Sungguh, Hermione kira mereka bertiga tak percaya dengan apa yang di dengarnya mengenai percakapannya dengan Daphne, karena… ekspresi mereka sungguh aneh tak mengenakkan. Tapi akhirnya mereka menganggukkan kepalanya.

"Dan Harry, bagaimana murid Hufflepuff?." Tanya Hermione kemudian.

Hermione menoleh ke meja Hufflepuff, disana terlihat Neville sedang asik mengobrol dengan Hannah dan Justin. Eh Justin? Ah iya Hermione sampai lupa kalau Justin bernasip sama dengannya, muggle-born yang sekarang se-asrama dengan ular licik.

"Ya, walau masih semalam aku menjadi murid Hufflepuff, tapi sejujurnya aku agak risih bila dipandangi terus oleh gadis-gadis saat aku melakukan aktivitas apapun." Kata Harry lalu dia menggeleng. Terlihat juga gelengan dari Ginny.

"Sepertinya satu tahun ke depan tak ada yang dapat menebaknya ya." Kata Hermione memecah keheningan. Mereka mengangguk pasrah. "Dan ah ya Ron, bagaimana kabar Parkinson di Gryffindor?." Tanya Harry yang sukses membuat Hermione tertarik, tapi Ron malah memandangnya masam.

"Bersyukurlah aku ini bukan anak perempuan. Karena Lavender bilang, semalam dia sama sekali tidak tidur karena merasa tak betah. Sangat mengganggu anak perempuan yang lainnya. Dia bahkan juga suka berteriak sesukanya di ruang rekreasi. Sungguh, yang terburuk yang pernah ada." Kata Ron sambil menggelengkan kepalanya.

Mendengar penjelasan Ron itu, tentu saja membuat yang lain tertawa. Tentu Hermione tak bisa membayangkannya.

Setelah melepas tawa, empat sahabat itu kembali menekuni sarapannya yang kini hampir habis.

"Dan, ah ya Hermione aku hampir lupa, bisakah nanti kau beritahu prefect asrama Slytherin untuk rapat membentuk jadwal berpatroli, jam 5 sore nanti?." Pinta Ginny saat sarapannya benar-benar sudah habis tak tersisa. Hermione berpikir sejenak sebelum mengangguk pasrah kepada sahabatnya. Dan-…. ah Merlin! Setelah beberapa detik kemudian, kini gadis itu sukses membelalakkan matanya karena dia baru menyadari satu hal. Prefect Slytherin itu kan…. Draco Malfoy dan Blaise Zabini!


.

Pre-Test Rune Kuno besok!.

Tentu saja Hermione tak boleh membuang waktu. Siang ini juga setelah makan siang, dia akan langsung mencari referensi mengenai pre-test nya itu di perpustakaan dan belajar sepuasnya. Karena pasti perpustakaan itu sepi di hari siang begini. Kalau dipikir, siapa yang mau ke perpustakaan di hari siang? Lebih baik menyantap makanan di aula besar.

Hermione berjalan menyusuri koridor Hogwarts sambil membaca buku Rune Kuno setebal 7 cm. Tak diliriknya jalanan sama sekali. Karena Hermione tahu, tidak akan ada orang di koridor ini selain dirinya tentu saja.

"Hei princess…."

Suara-suara itu membuat Hermione mendongak dari buku tebal nya lalu menatap pandangan di depannya. Princess? Rahangnya mengeras seketika saat melihat mereka berkumpul menjadi satu menghalangi jalan. Ya, murid kelas enam dan tujuh Slytherin berkumpul di koridor. Ini aneh. Bagaimana bisa mereka berkumpul dikoridor ini? Yang Hermione ingat sejak dulu, koridor ini selalu kosong saat jam makan siang.

Hermione menyapu pandangan ke sekeliling dan melihat mereka membalas pandangannya dengan seringai-an. Eh tapi tunggu. Apa yang dibawa mereka itu? Satu botol fire-whiskey masing-masing di genggam oleh mereka.?

Kini Hermione tahu apa alasan mereka berada disini.

"Potong 50 poin dari Slythe…"

"Kau ingin memotong poin asrama mu sendiri eh Granger?."

Draco Malfoy menyeringai melihat gadis itu diam seketika. Rahang Hermione kembali mengeras. Wajahnya menahan amarah emosi yang bisa saja keluar saat ini juga. Dia mendengar suara gelak tawa dari para lelaki itu. Gadis itu sama sekali tak berkutik.

KYAAA…. Hingga salah satu lelaki mendekati dirinya lalu mendekapnya erat. Buku setebal 7 cm itu jatuh di lantai, yang menghasilkan suara memekakkan saking tebalnya.

"A—apa yang kau lakukan! Enyahlah!" Hermione berusaha sebisa mungkin melepaskan pelukan lelaki -yang Hermione tahu- tahun ke enam itu. Gadis itu terus meronta, tapi tak berhasil. Mengambil tongkat yang ada disaku nya saja dia tak mampu.

"Aku sudah tidak tahan, aku merasa sangat ingin bisa sedekat ini denganmu princess... Aku selalu memimpikannya tiap malam, dan suka wangi rambutmu... Strawberry." Kata lelaki itu berbisik. Hermione bersumpah akan merapalkan mantra kepada lelaki itu sekarang.

"Woaaaah. Hei menyikirlah darinya!." Kata seseorang. Dia itu Theodore Nott. Lelaki yang memang tampan menurut Hermione. Tentu saja semua sependapat dengannya. Perlahan lelaki murid ke enam itu memperkendur pelukannya, lalu menjauh dari tubuhnya.

Hermione dengan sergap mengambil tongkat dari balik jas Slytherinnya. Melihat aksi princessnya itu, kini para lelaki Slytherin semakin tertawa keras. Tak terkecuali ular berkepala tiga yang kini ada tepat di hadapannya.

"Potong 50 poin dari Slytherin karena menyelundupkan botol fire-"

"Apalagi itu Granger? Kau kini bertindak bodoh. Memotong poin asrama mu sen-."

"Keputusanku sudah bulat Malfoy!." Hermione berkata dengan setengah berteriak. Suaranya membuat gemaan yang terjadi di koridor.

"Hei santai dulu Granger. Kami ini hanya memegangnya saja bukan, kau bisa lihat kami tidak meminumnya. Lihat masih utuh dan masih di segel." Ucap lelaki berkulit hitam manis itu.

"Lalu apa yang akan kalian lakukan untuk itu?!." Kini Hermione mengacungkan tongkatnya ke depan, karena salah satu ular berkepala tiga yang berambut pirang itu berjalan mendekatinya.

"Kami hanya berusaha menyelamatkannya dari kantor Mr. Filch." Kata sang Casaanova itu, lalu mereka tertawa lagi. Hermione menatapnya tajam.

"Aku suka kau memakai seragam Slytherin Granger..."

Hermione melotot saat menyadari kini Draco Malfoy berbicara dengannya sangat dekat. Perkataannya lembut dan setengah berbisik. Dia membelai lembut rambut Hermione. Hermione masih diam tak berkata. Rupanya dia sangat tak ditakuti oleh para lelaki ini. Dan ya benar saja, mengingat dia hanya sendiri, dan mereka banyak.

Hermione baru saja akan mendorong tubuh lelaki berambut pirang itu. Tapi kini dia sudah mengunci kedua tangan Hermione menggunakan tangannya yang kekar. Segala pergerakan Hermione tak berhasil. Hermione menatap wajah lelaki itu. Dia err tampan. Walau wajahnya datar, tapi itu membuat daya tarik tersendiri. Mata nya yang kelabu, dan aroma mint yang memabukkan membuat Hermione tak berkutik sekarang. Hah bagaimana bisa?

"Jadi waw.. Ah hitam ya?."

Hermione masih menatap lelaki itu. Sekarang pandangan lelaki pirang itu mengarah ke arah dada nya. Eh tunggu. Hah dada?

Hermione sebisa mungkin tak mengeluarkan semburat merah karena saat dia mengarahkan pandangannya tepat ke arah pandangan lelaki itu, dia melihat kancing seragam atas Slytherin nya terbuka. Hingga terlihat pakaian dalam nya yang berwatna hitam itu. Dan sial. Lelaki itu tak melepaskan pandangannya dari sana. "Dasar mesum!." Teriak Hermione yang susul tawaan dari mereka semua. Hermione yang melihat Draco sedikit lemah akibat sedang tertawa akhirnya mencoba melepaskan dekapannya dan mendorongnya sedikit. Dia lalu mengancingkan seragamnya yang terbuka satu kancing di atas.

Alih-alih saat Hermione senang mereka sudah meredakan tawanya, justru keadaan semakin parah. Si ular Draco Malfoy itu kembali mendekatkan dirinya lagi. Hermione mundur selangkah, dua langkah, hingga Draco yang tidak sabar akhirnya menariknya paksa ke dekapannya lagi.

"Kau terlihat lebih seksi dan menarik…" Sambungnya dengan sangat lembut di telinga Hermione. Draco menjilat bagian atas telinga Hermione, yang membuat si-empu nya membelalakkan matanya. Seolah ada sengatan listrik, Hermione merasa lumpuh sekarang. Dia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata.

'Siapa dia Hermione? Merlin. Dia itu Malfoy! Kenapa kau diam tak bergeming saat dia menyentuhmu…?' batin Hermione meneriak-neriakkan kata-kata itu.

Hermione memejamkan matanya alih-alih menunggu lelaki itu lemah, tapi dia tahu pengharapannya kini konyol luar biasa. Lelaki itu semakin mendekapnya kencang. Keadaan koridor sekarang sangat sepi, karena mereka yang ada disini tak mampu berkata dan hanya bisa menyaksikan tingkah boss nya itu. Hingga akhirnya selama beberapa menit kemudian, lelaki itu berbisik lembut-lagi-. "Aku tidak akan melakukannya disini Granger. Jadi tenang saja, tidak usah tegang begitu..."

Hermione tersentak akan perkataannya itu. Sejujurnya dia tidak begitu paham, tapi sekarang dia bersyukur karena Draco Malfoy kini perlahan melepaskan dekapannya. Hermione yang merasa telah bebas, kini mengatur napas nya yang memburu. Dia mengambil buku tebal nya yang tadi terjatuh di lantai. Gadis itu memandang wajah Draco Malfoy yang terus menyeringai. Wajah Hermione memerah, dada Hermione naik turun karena emosinya sudah benar-benar memuncak. Draco yang sungguh senang karena musuh nya itu sekarang tengah sangat emosi, sesekali lelaki berambut pirang itu melemparkan senyum nakal.

"Jam 5 sore nanti Malfoy!." Kata Hermione sambil mengacungkan tongkatnya ke arah lelaki itu yang kini tengah menyipitkan matanya.

"Eh, jadi kau ingin mengajakku kencan Granger?."

"Ah Merlin. Kau ini!." Hermione kembali menahan amarahnya.

"Ada rapat prefect nanti jam 5 ferret! Datang dan jangan terlambat! Dan kau juga Zabini!." Teriaknya yang kemudian tubuh itu menjauh dari kumpulan murid lelaki Slytherin itu.

Draco hingga sekarang tak bisa mengehentikan seringai-an nya. Sementara Blaise Zabini dan Theodore Nott melakukan hal yang sama sebelum mereka sama-sama bergumam, "Gadis aneh.".


...

"Baiklah besok jadwal patroli akan dilaksanakan oleh Hannah dan Neville. Kemudian besoknya Anthony dan Sarah. Lalu Susan dan Harry, kemudian aku dan Kevin. Lalu Blaise dan Sarah. Draco dan Harry. Lalu Hermione dan Draco, Susan dan-."

Pernyataan ketua murid putri itu terpotong akibat ocehan dari sang Pangeran Slytherin -Dia yang selalu dipuja-puja para gadis- "Apa-apaan ini Weasley?! Aku berpatroli dua hari berturut-turut? Dan kau tahu kan, besok nya itu setelah aku berpatroli akan ada pertandingan Quidditch!." Ginny menghela napas nya. "Apa kau sengaja agar tim Slytherin ku kalah, begitu Miss Weasley?."

Kali ini Ginny menggeletukkan gigi nya menahan emosi. Semua yang berada disana diam seribu bahasa. "Malfoy, aku sama sekali tak pernah berpikiran curang untuk itu! Kau tahu bukan, kalau tadi kami semua telah mengacak nama-nama dari kami semua untuk-."

"Aku ingin diulang." Katanya datar.

"A-apa?." Kali ini beberapa murid ikut bergumam.

"Kau ini sangat seenaknya Malfoy! kau ini memiliki wewenang lebih rendah dari ketua murid!." Hermione menekankan setiap perkataannya.

"Dan kau sama sekali tak punya hak untuk melarangku berpendapat Granger! Kedudukanmu sama dengan aku!."

Hermione susah payah menyembunyikan ekspresi kekesalannya. Terlebih kejadian dikoridor–ulah Draco Lucius Malfoy yang kurang ajar–beberapa jam lalu kembali teringat dipikirannya. Wajahnya memerah seketika.

Setelah tak puas dengan hanya tatap menatap, kedua murid itupun akhirnya sama-sama membuka mulutnya. Semua yang ada disana meneguk ludah masing-masing.

"Kau itu memang sangat menyebalkan ferret!."

Draco menyentakkan kakinya.

"Kau yang tak tahu di untung rambut semak!."

"Hei! Rambutku sudah tak seperti dulu!."

"Oh jadi kau sekarang mengatur rambutmu agar terlihat menarik ya Granger?." Draco memajukan wajahnya untuk menggoda.

"Aku sama sekali tak berpikiran seperti itu musang!." Hermione sebisa mungkin menahan diri untuk tidak mengeluarkan tongkatnya yang kini berada di dalam saku jas Slytherin nya.

"Yah, kurasa kau ingin menarik perhatian murid lelaki, berang-berang." Kini lelaki itu menyeringai.

"Kau seenaknya saja berbicara ferret idiot!."

"Sudah hentikan! Kalian ini membuat kekacauan di rapat!." Teriak sang ketua murid putra. Kali ini Draco dan Hermione seketika diam. Meski keduanya masih saling melawan dalam hal tatap-menatap.

Hening sesaat.

"Heran. Kenapa anak lelaki sangat mementingkan Quidditch." Sarah menggerutu pelan, tapi suaranya terdengar oleh semuanya karena keadaan sekarang sedang hening.

"Ya, aku juga heran. Pertandingan semacam itu sangat membosankan. Hanya menunggangi sapu, kemudian berebut bola." Susan Bones menggelengkan kepalanya.

Perkataan dari kedua gadis itu berhasil mendapat tatapan tajam dari Draco Malfoy dan juga Blaise Zabini. Sementara Harry, Ginny, Kevin, dan Anthony kini menyipitkan matanya setelah mendengar ocehan para gadis itu.

"Hei kalian yang tak mengerti Quidditch diam saja! Kalian sama sekali tak pernah mencoba nya kan? Mangkanya kalian bisa berkata seperti itu!." Kata Draco yang kini kembali geram. Sepertinya rapat kali ini kian memanas akibat ulah ular itu. Beberapa kali Hermione melihat ke arah kedua ketua murid kini sedang memijat pelipisnya.

"Ya, kami memang tak pernah merasakannya. Dan itu juga sungguh pertandingan yang amat membosankan. Kalau saja peraturan nya itu diubah, mungkin akan sedikit lebih menarik dan akan menjadi sangat seru." Komentar Hannah.

"Hah?." Semua yang berada diruang rapat itu mengeyirtkan dahi. "Apa maksudmu Hannah?."

"Ku mohon Ginny, Qudditch itu termasuk program prefect dan ketua murid kan? Jadi aku mengusulkan… aku tahu kami selalu banyak meminta. Tapi… tak disangkal memang banyak anak perempuan yang tak begitu antusias setiap dilaksanakannya pertandingan Quidditch."

Ya Ginny sesungguhnya juga tahu akan fakta itu.

Ginny yang berusaha agar rapat kali ini tidak kacau akhirnya berkata, "Teruskan." Perintahnya. Ya, gadis berambut merah itu sedikit menekan perkataan perintahnya karena dia melihat Draco Malfoy tadi hendak membuka mulutnya untuk kembali berkata. Draco yang merasa omongannya disela, lelaki itu menghentakkan kakinya dengan keras. Punggungnya dia dorong ke kursi dengan agak kasar lalu lelaki itu menyilangkan tangannya di dada.

"Begini, aku mengusulkan.. oh bahkan sebelumnya aku telah membayangkannya bersama murid perempuan Hufflepuff lainnya untuk mengubah permainan Quidditch. Jadi, menurut kami sangat mainstream kalau yang berdiri diatas sapu yang melayang adalah diri kalian sendiri. Tapi, kami pernah membayangkan kalau ada seseorang seperti kami membonceng sapu di belakang pemain itu." Jelas Hannah. Semua yang berada disana menatap prefect Hufflepuff itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Hermione mendengus kasar karena rapat kali ini benar-benar tidak nyambung total. Ini kan rapat untuk jadwal patroli, bukan untuk rapat Quidditch!

HHHH Hermione menarik napasnya dulu sebelum dirinya akan mencela pembicaraan yang baginya kini sama sekali tidak masuk akal. Tapi dia kembali mengatupkan mulutnya saat ada seseorang yang menyelaknya duluan. "Jadi… maksudmu, kita harus membonceng seseorang dalam satu sapu?." Tanya Blaise Zabini, dahinya mengeryit.

"Ya, dengan itu kan lebih asyik. Kita bisa bekerja sama berdua untuk mengambil bola, menangkap snitch, dan-ah pasti itu seru bukan? Tanggung jawab yang dilakukan juga kian menantang kan, karena pemain bukan hanya bertanggung jawab kepada permainan, tapi juga kepada seseorang yang membonceng dibelakang." Timpal Susan.

"Oh, kalau begitu ini menarik." Komentar Blaise Zabini, yang kini entah mengapa dia menjadi antusias akan pembicaraan rapat –yang kini sudah melenceng jauh–

Hermione kini menggeletukkan keras gigi putihnya.

Kevin dan Ginny sebagai ketua murid hanya bisa mendengar kata-kata itu. Bagaimanapun, prefect memiliki hak untuk mengusul program yang dijalaninya. Walau sebenarnya rapat kali ini bukan untuk membicarakan Quidditch, tapi mengingat pertandingan itu akan berlangsung beberapa minggu lagi jadi mereka berdua membiarkannya.

"Ya boleh juga idenya." Kata Harry dan Neville bebarengan.

Hermione memijat pelipisnya. Oh Merlin, apalagi ini? Hogwarts telah kacau sekarang.

"Ya, lebih menarik kalau yang dibonceng adalah lawan jenis dari teman se-asrama. Jadi… itu menarik kan?." Timpal Anthony Goldstein yang sukses mendapat anggukan antusias oleh para perempuan. Sementara Hermione menepuk jidatnya.

"Nah, sekarang bagaimana Whitby, Weasley? Kau tahu kan? Aku rasa murid kelas satu hingga kelas enam sangat iri dengan murid kelas tujuh karena refreshing pertukaran asrama, ya siapa tahu saja kan seperti itu? Jadi dengan pertandingan Quidditch kali ini, bukan hanya tahun ke tujuh saja yang merasa terhibur, mengingat peserta pertandingan Quidditch adalah murid tahun ke-satu hingga tujuh. Well.. Kami hanya meminta ini dalam kali ini saja kok. Seterusnya, biarlah memakai aturan yang lama." Jelas Blaise Zabini kepada kedua ketua murid itu.

Kevin dan Ginny tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menyetujuinya. Mengingat keduanya merupakan pemain Quidditch dari asramanya. Sementara Hermione hanya acuh tak peduli mengingat topik kali ini adalah Quidditch, permainan yang sama sekali tak dia kuasai.

Setelah perbincangan yang melenceng itu selesai, mereka kembali menyusun jadwal patroli. Yang entah mengapa Draco Malfoy sudah tak memperdebatkan lagi masalah jadwal patroli dirinya yang mendekati pertandingan Quidditch.

Hermione sekarang merasa dirinya sudah sangat muak akan semuanya. Rapat kali ini membuat mood nya menurun seketika. Terlebih rasa muak itu semakin kuat karena sedaritadi dia menangkap jelas Draco Malfoy itu tengah memperhatikannya terus. Hermione yang agak risih selalu membuang muka.

'Apa yang dipikirkan ferret itu sih?.' Batin Hermione saat melihat Draco Malfoy terus menyeringai ke arahnya.

'Ku rasa aku memiliki rencana bagus mengenai Quidditch.' Batin Draco terus berkata. Kemudian lelaki berambut pirang itu tersenyum-senyum sendiri membayangkan hal yang akan direncanakannya dalam pikirannya.


To be continued

.

Cuplikan chapter 3

"A-apa yang terjadi princess?."

"A-ku juga tidak tahu."

...

"Suhu tubuhnya sangat rendah. Dia benar-benar menggigil hebat. Apa Mr. Malfoy salah makan?."

"A-aku salah memberinya ramuan, professor..."

...

"Kau mau kemana Granger? Ini semua salah kau! Aku jadi merasa hidup di kutub kalau begini! Dingin sekali!."

"HHHH Baiklah... Apa yang kau inginkan Malfoy?."

"Peluk aku."


.

YEEEEYY ini udah updated ya! Maaf kalo idenya lagi berantakan:(

Masalah Quidditch, hehe di fict ini Quidditch itu termasuk program murid yaa:) Dan masalah membonceng orang pas waktu pertandingan Quidditch itu murni tika ngebayanginnya sendiri hahaha

Terus masalah fict ini akan naik rated M/Lemon, aku gatau nih... Aku 15th, belum pernah buat yang begitu hehe jadi liat aja nanti yaa:)

Eh tapi btw di fict ini memang banyak lime nya kokk

.

Untuk ZeeMe: terimakasih sarannya ya hehe..:)

Jadi kalau ada yang mau ngeliat Hermione versi Slytherin-seperti saran ZeeMe-, cari aja di google ya atau enggak liat cover fict ini hehe sumpah disitu tika bener-bener ngerasa kalau Hermi keren banget jadi seorang Slytherin...*Plak

Untuk Immortal girl: terimakasih juga ya sarannya, di chapter ini gaada tanda"-_-" begitu lagi ya..:) Masalah HPHG, iya kok wizarding world...

Untuk Lillyan flo: tebakan kamu benar...!:) Ginny jadi head-girl di fict ini hehe

.

Big Thanks To:

Nisa Malfoy, AbraxasM, Immortal girl, rainism, riseptiani, riskaka, mydraco, selvinakusuma1, Dee, zulfanurrahmani, AnastasiaR, khofifah halizah, si kenyang, MsMalf, fprisil, Mrs AntariusMalfoy, aprilia d pratiwi5, hana37, Secretly D Ar, Mata48, ZeeMe, Lillyan flo, novyfajriati, Nha Chang, chika nate granger, Lavenderindigo, Rara ameliana, Nureh, yosikhan amalia, uchihakhamya, Farah Zhafirah, Guest, Rania Malfoy, Dramione Granger Malfoy, hashi99, catherine raycyrus, zen, CallistaLia

Dan yang sudah mem-Favorite/mem-Follow fict ini...

.

Well... After read, don't forget to review!:)

See you next chapter!

Salam...