The Four Acts. Act I: Causes. Part II
Seokjin mungkin menancapkan label sial dalam hidupnya saat ini. Empat orang hidung belang—budak-budak beruntung Tuan Shindong kini duduk bersila di ruang santai. Sofa kecil disana disingkirkan. Dimana sang tuan?
Seokjin merebus daging sapi yang baru ia beli. Beberapa sayuran di guci, sisa persediaan—sudah ia cincang. Menunggu daging matang, lalu ia membubuhi sayuran, bumbu, dan pelengkap. Batinnya menjerit. Sungguh ia bagaikan korban merangkap lacur.
Korban perampokan, dan pemerkosaan tentunya.
Sudikah ia menyambut tamu bajingannya? Batinnya menjawab tidak. Namun kramanya menjawab iya. Mendiang suami berwasiat sebajingan apapun tamu yang bersila di ruang santai, hendaklah ia tetap menyambutnya. Sebelum menendangnya keluar gubuk tentunya. Seokjin bahkan sudah ingin kabur dari tempat tinggalnya itu—pikiran sesaat waktu ia membeli daging—pergi ke tempat yang lebih jauh. Hutan? Atau gunung? Melakukan brata dan menghabiskan waktunya sendiri. Tanpa terikat. Namun jamur dari Namjoon memberinya ide lain.
Seokjin kini membuka gordin. Menatap para tamunya. Masih menggunakan pakaian yang sama. Kaus putih tipis dan celana kain pendek longgar. Menampakkan kaki mulusnya, tanpa rambut lebat di tulang keringnya.
Terpana kemudian para bajingan itu. Berbisik-bisik bagai tetangga bergibah. Salah satu dari mereka merona menatap Seokjin yang indah bagai malaikat.
"Malaikat indah kita, saudaraku! Hahaha!"
Pria baya—kira-kira lebih muda dari Shindong, bergerak duluan menyambut Seokjin yang membisu menatap mereka. Dilamatkannya pandangan mata menelusuri wajah, dada, hingga kaki Seokjin. Sempurna, batinnya. Seokjin mengusahakan dirinya tetap tenang. Tangan besarnya mengusap bibir bawah Seokjin. Aduhai. Bibir merah dan tebal itu. Nafsu bejat mereka semakin menjadi.
Usai ia menamatkan pandangannya pada Seokjin, ia meludahi tangannya, mengulur dan menggantung menunggu Seokjin membalas jabatan tangan. Seokjin hanya diam.
"Heechul."
Oh, ia memperkenalkan nama—pikir Seokjin.
Pria tua yang duduk di sebelah Heechul tadi kemudian berdiri dan bersorak. "Hyukjae! Panggil saya dengan desahmu yang indah itu, Sayang."
Seokjin masih membisu. Tangan Heechul masih menggantung, menunggu balasan. Seokjin membalas jabatan tangannya.
"Kim Seokjin."
"Kau dengar? Desahnya bagai dewi! Astaga sepertinya Tuhan salah memberimu penis padahal kau juga memiliki rahim, Seokjin!"
Bahasa yang biadab. Namun Seokjin hanya datar. Ia berbalik badan menuju dapur sebelum tangannya dicegat oleh Heechul.
"Mau kemana?"
Seokjin terpaku. "Memasak. Shindong menyuruhku memasak sup daging untuk kalian."
"Idaman!" Pria berambut hitam beruban di belakang berseru. "Namaku Jongwoon, Manis. Setelah makan, aku akan memberimu kenangan!"
"Hei! Kau mau dihajar Shindong?" Pria gundul dan gemuk di belakang Jongwoon itu berseru. Deru tawa kemudian menggema. Seokjin melepaskan tautan tangan Heechul, berlalu menuju dapur.
Dengan cepat ia mengambil kantung plastik, mengeluarkan jamur berwarna merah itu. Mengambil batu penumbuk, kemudian menumbuknya. Dipotongnya tomat dan dicampur dengan biji merica agar tidak dicurigai. Memasukkan sayuran dan bumbu tumbukan tadi ke dalam panci. Mengaduknya dengan hati-hati.
BRAK!
Pintu belakang terbuka dengan kencang. Menampakkan seorang lelaki tampan disana. Seokjin bergetar. Ia hampir melupakan dua bajingan yang sedang mengambil paksa hewan ternaknya di kandang. Posisi Seokjin membelakangi pemuda yang masuk tanpa izin tersebut. Mungkin ia masuk karena bau masakan yang Seokjin buat.
"Masak apa?" pria itu berujar dengan dingin.
Mata Seokjin menatap potongan jamur yang tergeletak di dekat kakinya. Menginjaknya hingga lumat, dalam diam. Tangannya berusaha tenang mengaduk sup di kuali. "Sup. Sebentar lagi matang."
Langkah pria muda itu mendekat. Seokjin bisa merasakan pria itu mendekat ke arahnya. Angin malam yang dingin menusuk, ditambah hawa pria muda itu yang membuatnya kian merinding. Pria muda itu mendekatkan kepalanya, ke bahu bidang Seokjin. Menatap wajahnya sebentar, lalu menatap masakan di kuali.
"Boleh kucoba?"
"T-tapi dagingnya belum lumat."
Tersenyum tipis. "Bukan masalah."
Diluar dugaan Seokjin. Seokjin menggigit bibirnya, batin dan otaknya berputar-putar, bagaimana ini?
"B-baik. Kuambilkan. A-apa perlu nasi?"
"Tentu saja." Pria itu menjauhkan kepalanya dari Seokjin. Seokjin sedikit lega.
Seokjin berlalu menuju rak piring, mengambil mangkuk dan membuka bakul nasi, meletakkannya untuk pria muda itu.
"Hei! Lama sekali—oh? Hoseok?"
Seokjin sedikit terkejut. Pria gundul itu menyembulkan kepalanya dari balik gordin. Menatap Seokjin dan terkejut pula menatap pria muda bernama Hoseok itu tiba-tiba ada di dapur.
"Ah! Tuan Youngwoon! Mengagetkanku saja,"
"Harusnya aku yang terkejut, keparat! Kau mau apa dengan dewi manis ini? Hah?"
Youngwoon terbahak. Pria muda bernama Hoseok tersebut geram, sedikit merona pipinya.
"Kau itu bajingan muda. Heh. Jangan main dulu kalau kau belum sebanding dengan Bos Besar. Hahaha!"
Hoseok diam. Seokjin bahkan tak tahu wajah Hoseok secara detail mengingat ia sedari tadi menyiapkan sesuatu di dapur. Seokjin sedikit bergetar, memegang mangkuk berisi nasi hangat untuk Hoseok.
"Hei! Apa makanan belum masak?"
Seokjin terkesiap. Sadar seruan itu untuknya. "S-sudah matang."
"Bagus. Hei, Hoseok. Berapa barang yang kau ambil dari kandang?"
"Dua ekor sapi. Kambing dan ayam. Masing-masing lima. Satu nyambik. Satu anjing." Hoseok menjawab.
"Hoo. Nyambik? Hewan melata itu?" Youngwoon menggelengkan kepalanya. "Tinggalkan anjingnya. Sisanya masukkan. Dan Seokjin! Cepatlah, kami lapar."
Youngwoon berlalu meninggalkan dapur.
Seokjin mengangguk. Hoseok masih terpaku. Sadar ia adalah perompak muda yang baru bertugas selama lima tahun. Hoseok memilih untuk meninggalkan Seokjin sendiri. Mendesah lega Seokjin. Diletakkannya mangkuk itu. Kembali menahan air matanya agar tak tumpah.
.
.
Seokjin baru saja meletakkan seluruh makanan di tengah-tengah para bajingan itu. Di tengah ada satu dupa lilin untuk mencegah lalat menghinggapi makanan. Nasi hangat dan sup daging adalah kesederhanaan paling hakiki. Seokjin tak lupa memberi segelas air dingin untuk mereka.
Seokjin ingin kembali ke dapur, tercegah dengan seruan. Berasal dari Hyukjae.
"Ini adalah masakan terenak yang pernah aku cicipi!"
"Hmm. Kau benar. Sempurna lelaki ini. Bisa mengandung, bisa memasak dan bebersih. Aku tidak keberatan dia menjadi simpananku! Hahaha!" Youngwoon menimpali.
"Dibandingkan dengan masakan bini, ini adalah yang paling enak. Tapi masih berbeda sedikit, dengan masakan ibu. Hahahaha!" Heechul berucap dan membuat seluruh bajingan di ruang santai tertawa mengejek.
Seokjin menunduk, sembunyikan wajah. "Nikmati makanannya. Jika butuh apa-apa, aku ada di dapur."
Seokjin segera berlalu setelah berucap demikian. Para bajingan itu merasa tak keberatan. Perut adalah hal yang paling utama untuk diurus. Alasan itu mungkin membuat Seokjin segera berlalu, mendesah lega, dan menunggu efek dari racun jamur yang ia bubuhi.
Deru tawa para bajingan tersebut masih menggema. Bahkan Seokjin dapat mendengar seluruh gibah mereka. Membicarakan tentang bayangan mereka memasukkan penis mereka ke dalam lubang ketat Seokjin. Suara Heechul yang nyaring bahkan mengumpat dan bersumpah ingin membuat Seokjin mengandung buahnya. Hingga bagaimana mereka berbagi Seokjin dalam satu kali bermain. Satu lawan empat. Atau lima? Seokjin hanya memiliki satu lubang, demi apapun. Apa mereka sudah sejauh itu bejatnya?
Seokjin menatap nanar pemandangan kosong dari pintu belakang rumahnya. Menampakkan satu halaman besar, cocok untuk para anak kecil bermain bola sepak, atau hanya sekedar mengotori halaman bersemen itu dengan batu kapur, membentuk satu kotak dan garis besar seperti permainan gobak sodor. Lampu temaram sudut jalan penghubung antara halaman belakang rumah Seokjin menjadi sumber cahaya yang paling terang selain bintang di angkasa. Lainnya akan tampak remang, mengingat Seokjin membeli rumah dan memperbaikinya tepat sehari setelah ia menikahi mendiang suaminya.
Jika saraf matanya tak bekerja, maka ia akan mengabaikan sosok tinggi tegap berjalan lurus di jalan penghubung tadi. Seokjin tipe pengamat, ia masih sadar kala pandangannya tampak kosong menamatkan sosok pemuda tinggi tersebut, dan sedikit waktu untuk memahami siapa pemuda yang berjalan di malam-malam sepi ini.
Sedang apa dia malam-malam begini? Pelacur bahkan tidak keluar sebelum langit lebih malam, pikirnya.
Tapi Seokjin tak peduli. Ia memikirkan bagaimana cara menyingkirkan para bajingan di rumahnya.
Dentum tabrakan sebuah benda ke lantai, suara piring yang pecah, hingga suara bisik dan batuk penuh pilu membuyarkan lamunan Seokjin.
Jamur yang ia beli ternyata mujarab. Secepat ini.
Suasana kini lebih hening. Tampak mengerikan, namun cukup tenang bagi Seokjin.
Dengan sisa tenaganya ia menyeret mayat-mayat yang mati keracunan tersebut ke sebuah kamar kecil tepat di sebelah dapur. Ia juga membersihkan kekacauan di ruang santai. Satu orang lagi yang perlu ia habisi.
Mungkin dengan sedikit kejam, batinnya.
.
.
Kala itu Seokjin hanya berniat membangunkan Shindong yang tidur di kamar utama untuk makan. Kamar itu ada lima langkah dari ruang santai. Namun Seokjin sedikit sial karena Shindong mulai membekapnya, merapatkan tubuhnya dan Seokjin ke dinding yang lapuk.
Seokjin merinding ketakutan. Shindong sudah menyeretnya, apa ia tahu bahwa baru saja pria cantik ini membunuh kawan sejawatnya dengan racun jamur?
Seokjin kian merinding saat Shindong sudah menjelajahi tiap jengkal lehernya. Hanya menjilat, tak melumat. Tak memberi tanda cupangan. Seokjin baru menyadari, Shindong sedang mabuk berat. Tepat di bawah kursi kayu, ada botol arak yang kosong.
"He-hentikan!"
Seokjin berusaha mendorong Shindong, bergerak menjauh. Namun Shindong sudah menanggalkan celananya—satu hal yang tak disadari Seokjin. Meronta. Shindong dengan badannya yang tambun membalas dorongan Seokjin, tentu menuntunnya ke ranjang.
"Hentikan! Hentikan!"
Seokjin mengerang. Tertahan suaranya di kerongkongan. Tubuhnya terhempas ke ranjang, masih tetap berusaha mendorong Shindong menjauh—mungkin tak akan kuat karena Shindong telah mengungkungnya.
Zakar milik Shindong lumayan, namun tentu saja masih menyakitkan Seokjin kala bagian itu memasukinya. Memompa dan menumbuk rahim Seokjin hingga sang empunya mengerang. Bukan mengerang nikmat, namun mengerang penuh lara.
Seokjin masih berusaha mendorong Shindong. Seokjin mendorong tubuh tambunnya, kini ia pun mengubah posisi senggamanya, duduk di atas Shindong. Masih memompa zakar yang menancap di lubangnya. Jemarinya meraih sebuah botol arak di nakas, masih berisikan penuh. Membanting botol kaca itu ke dinding, terbelah dua. Menghujamnya tepat ke arah dada kiri Shindong yang mabuk itu.
Darah mengucur, Seokjin tak peduli. Hujamannya keras, pecahan itu menembus jantung. Perompak itu mati. Matanya terbuka lebar. Seperti ia menerima dendam Seokjin dengan mentah. Seokjin menarik pecahan botol itu. Tak terduga. Jantung perompak itu tersangkut disana. Satu bentuk jantung yang berukuran sebesar kepalanya.
Tubuh itu digulingkan. Lumuran darah yang kental itu ia usapkan di wajahnya yang ayu. Menangis lara hingga dadanya sesak.
Apakah ia salah? Mengapa ia membunuh banyak nyawa? Itu nyawa para bajingan. Tapi membunuh itu perbuatan dosa? Apakah Seokjin berdosa? Menghindari ia dilecehkan oleh kawanan hidung belang?
.
.
Seokjin mengunyah jamur yang tersisa, seperti ia mengunyah batang sirih. Seokjin mengeluarkan isi mulutnya, tak kuat menahan getahnya. Rasanya seperti getah karet terbakar. Seokjin juga mengeluarkan isi perutnya. Tepat di tanah kubur suami dan putranya.
"Sudikah kiranya aku tidur bersama kalian? Sudikah..? Izinkan.."
Kaus Seokjin tercemar darah. Ia sudah berpakaian lengkap sejak ia selesai menghujam jantung Shindong. Tangisnya tumpah ruah. Tanah humus itu tercemar cairan lambung dan air mata.
Malam itu Seokjin tertidur di pusara suami dan putranya, hingga fajar tiba.
.
Mengabaikan fakta, bahwa jendela kamarnya terbuka lebar malam itu. Seseorang telah mengamati Seokjin, bersenggama dengan perompak itu, hingga perompak itu mati di tangan Seokjin yang keji.
Netra itu sebenarnya menatap nanar. Kadang jika awam mengutarakannya, tatapan itu datar, namun jika ditamatkan benar maka tahu bahwa bola mata gelap itu bergetar.
.
.
Pemilik netra semalam kini berdiri di terminal pinggir jalan. Jarak itu cukup jauh ditempuh dengan kaki. Ujung kampung raya masih berjalan lurus hingga sampai sana. Kemeja motif adat setempat, berpadu dengan celana hitam. Bagaikan menghadiri pernikahan—atau pergi melamar wanita?
Sosok baru kini menemani pria itu. Ransel kecil, dan karung di tangan kanannya. Sedikit gelap bagian bawah karungnya, seperti membawa barang basah. Hanya menggunakan jaket bertudung dan celana kain. Serta sandal jepit hijau. Jika pria itu tak menamatkan sosok baru di sebelahnya, ia mungkin mengabaikan sebuah parang terselip di pinggang.
"Siapa yang semalam mengumumkan kematiannya? Dan orang itu sekarang ada di sebelahku sekarang? Wah. Mengerikan,"
Sosok itu membuka tudung jaket. Menatap lurus ke jalan. "Aku sudah mati."
"Lalu?"
"Lalu? Kau tidak akan mengenal Kim Seokjin yang semalam."
.
.
.
End of Act I
.
