Sakura adalah orang terakhir yang Sasuke duga akan menjadi sosok misterius yang pegawai front office kabarkan ingin menemuinya. Terakhir wanita itu menghubunginya adalah sekitar tiga bulan ke belakang, itu pun kontak pertama setelah perpisahan mereka satu tahun yang lalu. Wanita itu mengatakan akan menghubunginya lagi, tetapi tidak terjadi. Ungkapan itu membuat Sasuke sering—nyaris selalu—menduga dering ponselnya muncul karena Sakura, yang nyatanya bukan. Dan setelah semua itu, tiba-tiba dia menemukan Sakura terlelap di sofa tamu dalam kantornya. Bagaimana hal tersebut tidak menimbulkan kejut dalam dirinya?

"Kau terlihat sedang terganggu."

"Hn."

Atmosfer yang membungkus lingkungan keduanya terasa canggung. Bagaimanapun, ini adalah pertemuan pertama setelah perpisahan mereka atas hati yang terluka. Butuh waktu lama bagi Sasuke untuk membiasakan diri hidup tanpa kehadiran Sakura. Dan saat wanita itu datang lagi, ada rasa tak nyaman yang timbul di dalam dirinya. Rasa yang membuatnya menerka pembiasaan diri setelah ini akan dilalui dengan lebih sulit lagi. Sama seperti apa yang terjadi setelah Sakura meneleponnya tempo waktu.

"Kau tidak senang aku ada di sini?"

Sasuke menoleh singkat ke arah Sakura. Matanya memicing setelah bola matanya bergulir, seolah-olah berbicara yang benar saja. Pandangannya buru-buru beralih pada jalanan di balik kaca mobilnya.

Dia tak berani menjawab dengan kata. Sakura terasa asing dan akrab baginya di saat yang sama. Dia tak tahu pasti apakah dirinya senang akan kehadiran Sakura atau tidak. Kejadian ini masih terlalu mengejutkan baginya. Terlebih, ini terjadi setelah Sasuke berpikir bahwa Sakura tak akan pernah mengambil kesempatan yang Sasuke berikan dulu.

"Kau lupa fungsi ponselmu?"

Sakura mengernyit. "Apa?"

"Berapa lama kau menungguku?" Sasuke mendecak. Dia melirik arloji di tangannya. Lima belas menit menuju pukul sembilan. "Kenapa tidak menghubungiku?"

Sakura tak akan bisa menangkap betapa luas maksud dari pertanyaan itu.

Dari ekor matanya, Sasuke menangkap Sakura memalingkan wajah sampai ke jendela mobil. "Aku hanya tidak ingin mengganggumu."

"Setidaknya aku bisa memberitahumu kapan aku pulang jika kau menghubungiku. Kau tidak perlu menungguku sampai tertidur di tempat umum seperti tadi."

"Maaf."

Sasuke mendengus. "Simpan maafmu untuk dirimu sendiri."

Keheningan menyekap keduanya. Sasuke melirik Sakura melalui sudut matanya. Kaca jendela mobil memantulkan refleksi Sakura yang tampak murung. Siku wanita itu bertumpu pada tas yang ditaruh di atas paha. Telapak tangan menyangga dagunya. Dia terlihat tengah tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

Sasuke tidak mengerti. Sakura pasti memiliki tujuan dalam pertemuan dengannya hari ini. Lantas, mengapa wanita itu membiarkan mulutnya tetap terkunci?

"Sasuke," panggilnya. Tatapannya masih belum beralih dari kaca jendela. "Kau sibuk, ya? Kalau begitu, aku pulang saja."

"Aku pulang karena urusanku hari ini sudah selesai, Sakura. Lagi pula aku yang mengajakmu makan bersama, bukan sebaliknya." Sasuke melepas napas panjang. "Kecuali kalau kau memang tidak mau."

Sakura menoleh ke arah Sasuke. Matanya membesar. Dia menggeleng. "Bukan. Bukan begitu."

"Lantas kenapa?"

Sakura menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya saling menganyam di depan tas. "Tidak apa-apa."

Tak ada dialog lagi sampai mereka tiba di sebuah restoran. Sasuke menduga Sakura akan bercerita banyak padanya, sekadar bertanya, atau apa pun selain diam. Namun, kata pertama yang lepas dari bibirnya setelah mereka duduk di dalam restoran pun hanya ungkapan pesanan makanan pada pelayan. Kemudian, bibirnya terkunci lagi. Wanita itu bahkan tak berani membalas tatapannya. Yang dilakukannya hanyalah menatap kedua tangannya sendiri.

"Sakura."

Sakura mengangkat wajah dan menatap Sasuke ragu-ragu. "Hm?"

Sasuke memperhatikan raut wajah Sakura. Dia tampak gugup dan bingung, tak terlihat memiliki tujuan apa pun dalam menemuinya. Sebenarnya Sasuke pun tak merasa tenang. Entah bagaimana, debaran jantungnya terpacu dengan tekanan yang tak normal. Dia menunggu Sakura mengatakan apa pun untuk memecahkan kecanggungan yang ada di antara mereka, tetapi tidak ada.

"Bagaimana kau bisa ada di sini?"

"Aku pulang," kata Sakura. Senyumnya baru kembali lagi. "Aku menjual apartemenku di Konoha."

"Kenapa?"

Keterkejutan tipis melintas di wajah Sakura. Dia menggigit bibirnya lagi. Gerak matanya menunjukkan bahwa dirinya tengah mempertimbangkan sebuah jawaban. "Tidak ada alasan untuk lari dari sini lagi."

Sasuke kehilangan kemampuan untuk menanggapi. Benaknya mendadak memutar kenangan di hari terakhir pertemuan mereka sebelum ini. Sakura mempertanyakan Sasuke masih memberi kesempatan untuknya atau tidak. Setelah satu tahun, Sasuke tak menduga bahwa Sakura akan menjawab kesempatan itu. Namun, jawaban Sakura mengindikasikan bahwa wanita itu tengah menggunakan kesempatannya.

"Selama ada di sini, apa saja yang sudah kaulakukan?"

Sasuke mendadak melihat Sakura yang selama ini dia kenal lagi. Raut gugupnya masih ada, tetapi sangat tipis hingga nyaris hilang.

"Tidak banyak," jawab Sasuke.

"Ada tempat menarik yang pernah kaukunjungi?"

"Tidak juga."

Sakura berkedip sangat cepat beberapa kali. "Kau pasti sibuk sekali."

Sasuke mengedikkan bahu. "Aku tetap punya akhir pekan."

"Dan yang kaulakukan untuk menghabiskan akhir pekan?" Intonasi suara Sakura diliputi rasa penasaran yang kentara. "Kau tidak mungkin hanya diam di apartemenmu saja, bukan?"

"Kadang-kadang aku pulang ke Konoha."

"Oh." Binar di mata Sakura menghilang. Mulutnya menganga selama beberapa detik. Rasanya Sasuke tahu apa penyebabnya. "Aku sama sekali tidak tahu soal itu. Kupikir selama satu tahun ini kau tidak pernah kembali ke Konoha sama sekali." Bibirnya mengulas senyum. Entah mengapa Sasuke merasa ada kegetiran yang meliputi senyuman itu.

Sakura mendadak kembali ke sosoknya yang diam seperti tadi. Sasuke yang tak tahu harus mengatakan apa pun membuat suasana menjadi lebih senyap lagi. Tak lama, pesanan mereka datang. Keduanya makan dalam diam, seolah-olah tak ada sosok lain di seberang meja. Seakan-akan mereka tengah makan sendiri.

Makanan Sasuke lebih dulu habis. Dia menatap Sakura sesekali. Murung yang dia lihat dari refleksi kaca jendela mobilnya kembali lagi. Sesaat setelah makanan Sakura habis, dia langsung mengalihkan pandangan ke kaca yang membatasi restoran dengan dunia luar. Wanita itu masih bertindak seolah-olah dia benar-benar makan sendiri.

Sasuke mendesah. Berbeda dengan saat di mobil tadi, dia mampu menerka penyebab sikap Sakura mendadak berubah lagi seperti ini. Sikap diam Sakura benar-benar membuatnya tidak nyaman. Dia meneguk ludah sebelum berkata, "Ada apa, Sakura?"

Sakura menoleh. "Ada apa apanya?"

"Kau marah?"

"Aku tidak punya alasan untuk marah."

"Tapi kau tidak terlihat baik-baik saja."

Sakura menipiskan bibirnya. Sepertinya permukaan meja menjadi lebih menarik untuk dipandangi daripada Sasuke. "Aku ... aku hanya merasa sedih karena tidak tahu kau beberapa kali kembali ke Konoha." Embusan napasnya terdengar sampai telinga Sasuke. "Itu saja."

"Aku tidak tahu kau ingin bertemu denganku."

Sakura menutup wajah menggunakan tangan sejenak. Tangannya beralih fungsi untuk mengusap rambutnya, kemudian kembali ke sisi tubuh. Dia menarik napas keras hingga gerakan bahunya kentara. Matanya terpejam cukup lama.

"Aku selalu merindukanmu, Sasuke," ungkapnya lirih. "Kau tidak memiliki keharusan apa pun untuk memberitahuku saat kau ada di Konoha, tapi aku tetap tak bisa merasa biasa-biasa saja setelah mengetahui itu. Lagi pula ... kalaupun aku ingin bertemu denganmu, seharusnya aku yang menghubungimu. Aku tidak bisa menunggu kau yang melakukannya."

Rahang Sasuke mengeras. Darahnya berdesir tiba-tiba. Dia tak menduga pembicaraan sensitif di antara mereka akan mengudara secepat ini. Dia membayangkan pertemuan mereka saat ini hanya akan diisi dengan basa-basi. Nyatanya ekspektasinya salah.

"Aku tidak akan menemuimu selama aku tidak tahu bahwa kau menginginkan hal itu."

Karena dia tak ingin pola hubungannya dengan Sakura di masa lalu terulang lagi. Dia tak ingin datang ketika hati Sakura dilanda kesepian sehingga secara tak sadar memaksa wanita itu untuk mencintainya di kala hatinya tak siap. Dia tahu bila Sakura memang mencintainya, wanita itu akan kembali padanya. Dan Sasuke tak ingin hal itu terjadi secara terpaksa.

"Aku tahu. Aku mengerti." Bibir Sakura bergetar. Dia memejamkan matanya sejenak dan setelah terbuka, dia meneguk minumannya. "Kita sama-sama tidak mau apa yang terjadi di antara kita dulu akan terulang lagi, bukan?"

Entah mengapa dia merasa Sakura mampu membaca pikirannya. "... hn."

"Maaf aku menyakitimu dan berlaku tidak adil padamu dulu."

"Aku pernah melakukan hal yang sama padamu."

"Tapi kau tidak—"

"Sakura," potong Sasuke. Percakapan mereka mulai membuatnya tidak nyaman. "Masa lalu biarlah berlalu. Kita tak perlu membahasnya lagi."

Kata-kata Sasuke menjeda dialog mereka. Tak ada interaksi yang terjadi, eksistensi masing-masing hanya berfungsi sebagai pengisi spasi kosong di seberang meja. Awalnya hanya Sakura yang menoleh ke arah jendela, kini diikuti oleh Sasuke juga. Kebisingan yang terjadi hanya bersumber dari manusia lain yang berada di dalam restoran.

Sasuke menangkap gerakan Sakura yang kini menoleh ke arahnya. Tanpa sadar dia menunggu sampai Sakura menyampaikan sesuatu. Dia ikut menatap wajah Sakura saat wanita itu memanggil namanya.

"Kau belum tahu banyak soal daerah sini, 'kan?" Sasuke mengangguk. Yang dia tahu hanya lingkungan sekitar apartemen dan kantornya. "Dulu kau yang mengenalkan Konoha padaku." Sakura menipiskan bibirnya. Dia berdeham. "Bagaimana jika aku melakukan hal yang sama padamu di kota ini?"

Saat pertama kali melihat Sakura, Sasuke bertanya-tanya apakah setelah ini akan datang pertemuan-pertemuan lainnya. Dan kata-kata Sakura menawarkan indikasi bahwa ini bukanlah yang terakhir kalinya.

Sasuke mengiyakan. Pandangannya tak lepas dari Sakura yang tak menyembunyikan keterkejutan hingga menanggapi persetujuannya dalam selang waktu cukup lama. Mereka memutuskan untuk pulang setelahnya. Sasuke berkehendak untuk mengantar Sakura pulang, dan hal tersebut membuatnya tahu bahwa Sakura masih tinggal di rumah orangtuanya. Mendadak tekanan darah pada jantungnya meningkat. Dulu, dia selalu bertanya kapan dirinya akan dipertemukan dengan orangtua Sakura, namun tak pernah memperoleh jawaban pasti. Dan saat ini dia akan mengantar wanita itu menuju rumah orangtuanya. Meskipun Sasuke tak yakin akan bertemu dengan orangtua Sakura sekarang—juga tak merasa perlu—namun hal tersebut tetap cukup untuk memaksa dirinya menekan kedua belah bibir agar senyumnya tertahan.

"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Sasuke," kata Sakura ketika laju mobil berhenti di depan rumahnya.

"Hn."

Sakura melepas sabuk pengamannya. Dia menoleh ke arah Sasuke. "Aku akan menghubungimu."

Sasuke tertegun. Penuturan Sakura membuatnya teringat akan kata-kata yang wanita itu ucap saat terakhir meneleponnya. Kata-kata yang tak ada realisasinya. Mendadak emosinya kelabu kembali. Betapa fluktuatifnya emosi Sasuke hari ini.

Dia meneguk saliva. "Jangan mengucap sesuatu yang tak bisa kautepati," ucapnya datar.

Sakura tampak tersentak. Dia menarik napas keras-keras beberapa kali, kentara tengah menenangkan diri. Dari sudut matanya, Sasuke menangkap senyum dan gelengan dari Sakura. "Aku mengatakan akan mengenalkanmu lebih baik pada kota ini, bukan? Untuk itu, aku perlu menghubungimu." Dia mengalihkan pandangannya. "Untuk memastikan kau mau ... atau tidak."

Tak ada yang bisa Sasuke lakukan selain berharap Sakura tidak terpaksa mengatakannya.

"Hmm, sebaiknya aku masuk," kata Sakura. Suara kunci mobil yang terbuka menggema. Sakura membuka pintu mobil dan mengeluarkan kakinya lebih dulu. "Selamat malam, Sasuke."

"Selamat malam, Sakura."

Sakura keluar dari mobilnya. Wanita itu baru masuk ke dalam rumahnya setelah mobil Sasuke sudah melaju. Dalam sepi yang menyekapnya, pikiran Sasuke melanglang. Satu-satunya hal yang berkeliaran di dalam otaknya adalah perihal Sakura yang kembali masuk ke dalam hidupnya. Terlepas dari perasaannya pada wanita itu yang tak pernah berubah, dia masih belum yakin apakah dirinya harus merasa senang soal ini ... atau tidak.

.

Sakura menepati ucapannya. Wanita itu menghubungi Sasuke ketika dia tengah mengendarai mobil untuk kembali ke apartemennya. Dia tak biasa menjawab telepon saat sedang mengemudi. Namun, yang menghubungi adalah Sakura, dan bila tak dijawab, belum tentu wanita itu akan menghubunginya lagi. Sasuke mengambil referensi kejadian dari apa yang terjadi beberapa bulan lalu.

Dia bisa merasakan Sakura merasa canggung. Bicaranya terjeda-jeda dan selalu ditengahi gumaman tanpa arti. Butuh beberapa dialog sampai kecanggungan tak terasa lagi. Sasuke baru keluar dari mobilnya ketika sambungan telepon diisi keheningan. Dia tak berkata apa-apa untuk memecahkannya, dia sendiri pun tak punya topik apa pun yang ingin dibahas.

"Hmm, Sasuke?" ucap Sakura tiba-tiba. Sasuke masih menempelkan ponsel di telinganya selagi melangkah menuju apartemennya di lantai dua.

"Hm?"

"Kau besok libur, 'kan?"

"Iya."

"Aku ingin mengajakmu keluar. Kau bisa?" Jeda sejenak. "Kau mau?"

Bisa? Ya, Sasuke bisa. Jadwalnya sungguh-sungguh kosong besok dan belum ada rencana apa pun untuk menghabiskan waktu. Mau? Sasuke tidak yakin. Dia masih tak tahu apa yang terjadi. Dia masih mencintai Sakura sebesar saat mereka berpisah dan lukanya pun masih belum berubah. Tak ada kontak berarti apa pun yang terjadi setelah hari itu; itulah yang membuat Sasuke ragu. Hati Sakura mungkin masih sama seperti tahun lalu, dan bila mereka berhubungan lagi, mereka akan sama-sama lebih terluka sebagai akhir ceritanya.

Namun, Sasuke lantas teringat akan ucapannya pada Sakura. Dia akan memberikan wanita itu kesempatan, dan inilah kesempatan yang Sakura pinta.

"Aku bisa," jawabnya.

Entah mengapa, keheningan sejenak yang terjadi di tengah percakapan mereka diisi oleh bayangan Sakura yang menganga tak percaya di dalam benaknya. Dan Sakura memang memastikan kesediaan Sasuke berkali-kali untuk membuktikan bayangan Sasuke tersebut sampai pria itu mulai jengkel. Seolah-olah dapat membaca dinamika emosi Sasuke, Sakura berhenti memastikan ketika rasa jengkel mendatangi pria itu.

Setelah menanyakan jenis tempat apa yang perlu Sasuke kunjungi—jawabannya tidak ada karena rasanya Sasuke sudah mengetahui semuanya—wanita itu mengungkapkan rencana-rencananya, tapi tidak dengan tujuannya. Yang disebut hanyalah apa yang harus dibawa, pukul berapa, dan bertemu di mana. Membawa sepeda, pukul sembilan pagi, dan bertemu di taman yang dekat dengan palang kereta—Sakura menyebutkan nama tempatnya, tapi Sasuke tak tahu letaknya sebelum wanita itu menjelaskan patokan-patokan.

Percakapan berhenti ketika Sasuke pamit karena perlu membersihkan diri dan istirahat. Bila Sakura masih ingat, dia yakin wanita itu akan merasakan perbedaan kentara darinya. Sasuke nyaris tidak pernah memutus kontaknya lebih dulu karena sadar Sakura akan memahami kegiatannya. Namun, sekarang berbeda. Sasuke masih dilanda keraguan yang kentara, sama sekali tak tahu keputusannya untuk membiarkan Sakura memasuki kehidupannya lagi adalah suatu hal yang benar atau tidak. Di dalam kemelutnya, entakan di dada dari jantungnya justru bertambah karena menanti esok hari. Nyatanya sebagian dirinya tetap merindukan Sakura apa pun yang terjadi.

.

Sasuke mendapati eksistensi Sakura sejak jarak yang memaut mereka masih cukup jauh. Rambut merah muda yang mencolok itu memang terlalu sulit untuk diabaikan, meski diredam oleh floppy hat sekalipun. Wanita itu masih memunggunginya saat jarak sudah terkikis. Sasuke berdeham, Sakura sontak memutar tubuhnya.

"Hai, Sasuke," sapa Sakura. Senyum manis terbit di bibirnya.

"Menunggu lama?" tanya Sasuke.

Matanya terfokus pada wajah Sakura yang memesona. Ada perbedaan yang kentara dari fisiknya; rambut panjangnya kini hanya mencapai bahu. Ujung-ujungnya belok ke arah wajah, secara harfiah membingkainya seperti sebuah halo.

Sakura menggeleng. "Aku baru sampai di sini," jawabnya. Dia berdiri miring dengan satu telapak tangan menempel di jok. Tubuhnya ditumpu pada sepeda yang diberdirikan standar. "Kau yakin tak ada tempat yang perlu kau kunjungi tapi kau belum tahu tempatnya? Misalnya, toko alat elektronik?"

Kali ini Sasuke yang menggeleng. "Aku sudah mengetahui tempat-tempat itu sendiri. Kau terlambat satu tahun untuk itu," katanya.

"Oh, tentu saja," kata Sakura. Dia menepuk dahinya—bertindak jenaka. Padahal wajahnya menyiratkan raut muram. "Jadi?"

"Jadi?" Sasuke mengernyit. "Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu."

"Hmm. Ke mana saja?"

"Terserah."

"Oke." Sakura menaiki sepedanya. "Ikuti aku."

Sasuke yang sejak awal memang belum turun dari sepedanya segera mengayuh pedal setelah Sakura melaju. Pinggiran topinya berkibar-kibar, Sasuke bertanya-tanya bagaimana caranya topi itu tetap stagnan di kepala Sakura. Bahkan saat melewati jalanan di pinggir sawah, ketika anginnya lebih besar daripada sebelumnya, topi Sakura sama sekali tidak tanggal. Dan puncak ketahanan topi di kepala Sakura berakhir saat wanita itu melewati jalan yang turun cukup terjal. Sasuke berhenti untuk meraih topi tersebut. Sakura pun sudah berhenti ketika jalan sudah stabil kembali. Wanita itu mengucap terima kasih setelah menerima topi tersebut. Sebelum topi itu dikenakan, Sasuke mendapati lebih jelasnya wajah cantik Sakura. Wanita itu tampak lebih segar dengan rambut pendek.

Sakura melanjutkan perjalanannya lagi. Sasuke yang mengikuti di belakang hanya bisa menatap punggung wanita itu. Melihat Sakura ada di dekatnya, dengan segala yang wanita itu ungkapkan seminggu lalu, masih terasa seperti mimpi. Sasuke tak perlu mengerjapkan mata atau mencubit diri untuk memastikannya, karena dia tahu jelas ini bukan mimpi.

Kayuhan Sakura berhenti setelah melewati jalan raya, menjelajahi pinggir sawah lagi, dan menyeberangi satu rel kereta. Sasuke turut memarkirkan sepedanya setelah Sakura melakukannya lebih dulu. Wanita itu menyerahkan satu botol air mineral sebelum melangkah. Sasuke mencari-cari petunjuk yang memberi tahu di mana mereka sekarang sambil meneguk minum. Air di mulutnya nyaris tersembur ketika matanya menangkap tulisan "Perkebunan Tomat".

Ini benar-benar seperti mimpi.

"Dulu, setelah aku tahu kau suka tomat, aku selalu ingin mengajakmu kemari jika suatu hari nanti kita sama-sama berada di Ame," kata Sakura. "Akhirnya terwujud juga!"

Sasuke menoleh. Wanita itu tahu dirinya menyukai tomat ketika mereka masih menjalin hubungan. Dia tak menduga Sakura pernah memiliki rencana untuknya di kota ini saat itu, apalagi jika mengingat dirinya yang selalu enggan pulang bahkan saat Sasuke meminta untuk dipertemukan dengan orangtua Sakura sekalipun. Hal tersebut membuat Sasuke berkonklusi bahwa dulu Sakura hanya tak siap, bukan enggan seperti dugaannya. Dan sepertinya konklusi itu berlaku untuk seluruh hubungan mereka dulu.

Sakura memperhatikan wajah Sasuke. Kurang lebih ekspresinya sama seperti biasa—datar. Sasuke membiarkan Sakura menatap wajahnya. Wanita itu pasti menunggu reaksi Sasuke atas ini. Dia tersenyum tipis. Tangannya menepuk kepala Sakura yang ditutupi topi. "Terima kasih."

Sakura mengangguk, tampak senang dan bangga. "Ayo masuk."

Dia melangkah sambil menarik kain yang melapisi lengan Sasuke. Tangannya yang bebas meraih sebuah keranjang belanja dari tumpukan di dekat pintu masuk. Sasuke menatap wanita itu dengan kernyitan di dahi.

"Kau tidak berpikir kita hanya akan melihat-lihat, 'kan?" Sakura mendorong Sasuke pelan-pelan ke arah jalan kecil yang kanan dan kirinya dipagari tanaman-tanaman tomat yang menjulang tinggi karena disangga kayu. "Ayo, Sasuke. Petik tomatnya sesukamu."

Sasuke memetik beberapa tomat yang tampak bagus. Dia melirik Sakura yang memegang tomat dan baru memetiknya setelah menerima anggukan dari Sasuke. Saat tomat-tomat yang mengisi keranjang sudah banyak, Sasuke segera mengambil alih keranjang tersebut yang dia asumsikan mulai berbobot berat.

Ketika dia sadar bahwa tomat yang mengisi keranjang sudah cukup, dia baru sadar bahwa beberapa buah terakhir sama sekali tak ada petikan Sakura. Wanita itu menghilang entah ke mana. Sebelum Sasuke mencarinya, Sakura muncul di ujung jalan dari belokan ke kanan. Sebelah tangannya tersembunyi di punggung. Dia membawanya ke depan, dan di tangannya terdapat sebuah tomat yang tampak bagus.

"Ini satu-satunya tomat pilihanku. Bagaimana menurutmu?" tanya Sakura. Matanya dibinari semangat.

"Bagus," komentar Sasuke.

"Coba makan. Aaa," katanya sambil menjulurkan tangan ke arah mulut Sasuke.

Sasuke menggeleng. Tangannya mendorong tangan Sakura perlahan. "Tidak. Bukankah ini dihitung kiloan? Bagaimana menghitung yang ini nanti?"

"Bisa kiloan, bisa satuan. Yang di keranjang bisa dibayar dengan hitungan kiloan. Kalau yang ini kau makan, bisa dibayar dengan hitungan satuan," Sakura menjelaskan. Dia menyodorkan tomatnya lagi. "Ayolah, aku ingin tahu apakah tomat ini betul-betul bagus. Hanya kau yang bisa menilainya."

Sasuke menjauhkan mulutnya dari tangan Sakura. "Makan saja sendiri."

Sakura mencebik. "Aku tidak bisa makan tomat seperti memakan apel." Wajahnya memelas. "Ayolah, Sasuke. Ya? Ayo buka mulutmu."

Sasuke mendecih, tapi akhirnya membuka mulut dan menggigit tomat yang dipegang Sakura. Dia mengambil alih tomat tersebut karena terasa canggung.

"Enak?"

"Hn."

"Kau adalah satu-satunya orang yang makan tomat seperti makan apel, yah setidaknya yang pernah kulihat." Sakura terkekeh. "Kau benar-benar suka tomat, ya?"

"Hn."

"Sangat-sangat suka? Melebihi apa pun?"

"Apa pun selain kau," tanggap Sasuke ringan. Dia menggigit tomatnya lagi kemudian melenggang pergi, meninggalkan Sakura yang mematung dengan wajah memerah di tempatnya. Bibirnya mengulas seringai tipis karena ingat betapa sering dia menggoda Sakura dulu dan memiliki kesempatan untuk itu sekarang. Perasaan itu langsung hilang dalam sekejap setelah Sasuke sadar bahwa ini terlalu cepat. Sakura mungkin masih belum siap.

Tiba-tiba detak jantungnya menggila saat merasakan Sakura berjalan tepat di sampingnya. Matanya melirik untuk membaca sisa reaksi wanita itu tadi, yang nyatanya tidak ada. Dia sudah bertingkah seolah-olah tak ada yang terjadi sebelumnya. Tangannya menarik kain yang melapisi lengan Sasuke lagi, masih tampak segan apabila langsung mengamit lengannya.

"Ayo kita petik tomat ceri," kata Sakura.

Sasuke mengikuti alur yang dibawa Sakura. Mereka masih berada di sana sampai waktu makan siang datang. Makan siang dilakukan di sana, dengan menu yang didominasi oleh tomat. Bagi Sasuke, dia memilih makanan secara acak pun tak masalah selagi semuanya mengandung tomat—asalkan bukan makanan manis. Tidak seperti Sakura yang termenung menatap daftar menu lebih lama daripada biasanya.

Saat sedang melakukan pembayaran, Sasuke berupaya agar sesuatu di dalam dompetnya tak terlihat. Dan upaya itu justru malah membuat dompet tersebut jatuh dalam keadaan terbuka. Sakura lebih dulu berjongkok untuk mengambilnya sehingga dia melihat segalanya. Tangannya yang bebas membekap mulutnya, sementara sebelahnya lagi menyerahkan dompet itu pada Sasuke sampai pria itu selesai melakukan transaksi.

Yang Sasuke sembunyikan adalah foto yang mengabadikan kebersamaannya dengan Sakura yang selama ini tak pernah dia tanggalkan dari dompetnya. Foto itu diambil oleh tangan Sakura dengan cara swafoto. Wanita itu tersenyum lebar ke arah kamera, sementara Sasuke mengecup ubun-ubun Sakura, sehingga mulutnya tidak terpotret. Sakura sudah melihat apa yang ingin disembunyikannya. Dia tak bisa imun dari rasa malu.

"Kenapa kau masih menyimpannya di situ?" Sakura bertanya dengan hati-hati.

Sasuke mengembuskan napas panjang. Dia melipat dompetnya dan menaruhnya di saku celana. "Aku tidak mau mengeluarkannya."

Senyum terbit di wajah Sakura. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan dompetnya. Dompet tersebut dibuka dan diperlihatkan ke arah Sasuke. Foto yang sama mengisi slot foto di sana. Itu memanglah satu-satunya foto yang sengaja dicetak seukuran foto di dompet. Menurut Sakura ini adalah foto paling manis dari mereka—mengingat Sasuke yang memang malas mengambil foto, dan sekalinya mau pun pasti sangat kaku.

"Aku juga tidak pernah mengeluarkannya. Entah kenapa, rasanya tidak rela saja."

Sasuke terdiam. Entah harus menjawab apa. Tapi, kehangatan memeluk hatinya. Membuatnya ingin mendekap Sakura, tapi itu bukanlah keinginan yang dia jalankan.

Sakura tidak menyebutkan tujuan mereka selanjutnya, tapi Sasuke tahu pulang masih jauh dari rencana. Di tengah kegiatan mengayuh sepeda, awan mendung mendominasi langit. Angin dingin bertiup dan membuat pipi Sasuke terasa kaku karena diperkuat oleh angin yang menerpa wajah selagi sepeda dikayuh. Saat tetes demi tetes air mulai jatuh, dia mendapati Sakura menoleh ke belakang dengan sebelah kaki menahan sepeda berdiri. Dia berkata, "Kita harus mencari tempat berteduh."

Tempat berteduh baru ditemukan setelah sebagian pakaian mereka basah. Sakura menggigil di bawah terpal toko, padahal bagi Sasuke, suhunya tidak sedingin itu. Dia menahan diri dari keinginan untuk memeluk Sakura, bagaimanapun hubungan mereka masih rapuh sekarang. Yang dia lakukan hanyalah mendorong Sakura mundur ke belakang dan Sasuke berdiri di depannya, menjadi penghalang antara Sakura dengan tiupan angin dingin dan percikan air hujan. Dia merasakan tangan wanita itu mencengkeram bagian belakang kemejanya.

"Bawa jaket?" tanya Sasuke.

"Ti-tidak."

Sasuke mendesah. Toko di belakang mereka pun adalah toko es krim, sama sekali tak bisa membantu. Mereka terdiam di sana sampai gemetar tubuh Sakura tak terasa punggungnya lagi. Hujan pun berangsur-angsur berhenti.

"Kita kembali ke apartemenku dulu kalau tak ada rencana lain," kata Sasuke. Dia sudah mengenal daerah ini. Estimasi durasi perjalanan dari sini ke apartemennya hanyalah sepuluh menit.

"Kenapa?"

"Lebih dekat daripada ke rumahmu. Dan kau bisa meminjam jaketku."

Sakura menurut. Kali ini mereka mengayuh sepeda berdampingan. Aura canggung kental menyelubungi mereka. Gigi Sakura masih bergemeletuk, tiupan angin selagi mengayuh sepeda sama sekali tak bisa dihindari. Tak ayal embusan napas lega lepas darinya ketika sudah memasuki apartemen Sasuke yang hangat—apartemen mantan kekasihnya.

Sasuke lekas mencari jaket tebal dari lemari dan memberikannya pada Sakura. Wanita itu langsung membungkus dirinya menggunakan jaket tersebut tanpa melepas pakaiannya yang basah. Mulut Sasuke terbuka, hendak menyarankan untuk melepas pakaian basahnya dulu, dan dia menemukan celah untuk menggoda Sakura lagi. Tapi, ingatan mengenai perasaan yang menimpanya setelah dia menggoda Sakura di perkebunan tomat tadi menundanya. Yang dia lakukan hanyalah menyeduh teh panas dan memberikannya pada Sakura.

Suasana canggung kembali lagi. Suara yang terdengar hanyalah Sakura yang tengah menyeruput teh panasnya pelan-pelan.

"Aku belum terbiasa dengan intensitas dan curah hujan di sini," kata Sakura tiba-tiba.

"Aneh sekali. Setahuku kau tinggal di sini lebih dari seperempat abad sebelumnya."

Sakura merapatkan jaket Sasuke. "Tapi Konoha 'kan relatif hangat dan aku sudah terbiasa dengan suhu di sana. Dulu saat aku baru pindah ke Konoha malah berpikir bahwa Konoha itu panas sekali."

"Hn. Aku ingat kau sering mengeluh kepanasan saat menurutku suhunya biasa-biasa saja."

Sakura tersipu dengan senyuman. Wanita itu tampak sangat manis meskipun rambutnya lepek karena basah. Sasuke ingin mendekap dan menciumnya, dia menyangkal dorongan itu dengan susah payah. Namun, saat mata mereka saling bertaut, sangkalan itu melenyap perlahan. Kedua tangan Sasuke mengusap lengan Sakura yang dibungkus jaketnya, jarak antara wajahnya dengan wajah Sakura semakin mengikis atas partisipasi keduanya, matanya menatap mata dan bibir Sakura bergantian sampai mereka sama-sama terpejam.

Sekelebat pengingat bahwa Sakura mungkin belum siap merangsek ke dalam benaknya. Gerakan Sasuke meragu sampai berhenti. Ciuman itu tidak terjadi walaupun jarak di antara bibir mereka sudah tipis.

Sasuke menarik diri. Dia melepas tangannya dari lengan Sakura dan mundur sejauh yang sofanya izinkan. Suara hujan yang kembali turun dengan lebat memukul-mukul jendela. Sasuke tak menatap Sakura saat berkata, "Tinggallah di sini sampai hujan berhenti."

Mereka tidak bicara apa-apa lagi. Saat hujan berhenti, Sakura melepas jaket Sasuke dan menaruhnya di punggung sofa. Pakaiannya sudah terasa kering karena panas tubuhnya. Dia berpamitan pulang dan Sasuke mengantarnya sampai bawah.

"Kau yakin mau pulang sendiri?"

"Sangat yakin. Aku tidak mau meninggalkan sepedaku di sini."

Sasuke mengangguk mengerti. Sepeda Sakura tak akan bisa masuk ke dalam mobilnya. Ada sekelumit rasa khawatir membiarkan Sakura pulang sendiri, tetapi dia bisa membayangkan suasana canggung di dalam mobil jika dia mengantar Sakura. Pasti akan terasa sangat tidak nyaman. Sebelum Sakura pergi, Sasuke bertanya, "Di sini ada perkebunan prem?"

"Ada. Tapi terlalu jauh untuk ditempuh menggunakan sepeda," jawab Sakura. "Kenapa? Aku tidak ingat kau suka prem."

"Memang tidak. Kau yang suka." Sasuke mendapati Sakura yang tersentak. "Kau suka umeboshi."

Sakura tersipu. "Aku terkejut kau masih mengingatnya."

Sasuke pun terkejut Sakura masih ingat dirinya menyukai tomat. Apa yang terjadi hari ini membuat Sasuke tak menginginkan ini menjadi pertemuan terakhir mereka. Dia ingin memberi Sakura kesempatan ... dan dirinya pun memang ingin menghabiskan waktu bersama wanita yang dia cintai lagi.

"Aku akan menjemputmu minggu depan. Tunjukkan jalan menuju perkebunan prem."

Keterkejutan memenuhi wajah Sakura. "Apa?"

"Kau mendengarnya."

"Baiklah. Karena kau tidak bertanya aku bisa atau tidak, aku mau atau tidak, biar aku saja yang ungkapkan sendiri," kata Sakura dengan nada mengejek. Sasuke membeliak. "Aku bisa dan aku mau. Kau harus menghubungiku dua jam sebelum kau menjemputku. Oke?"

"Hn."

"Aku pulang dulu, Sasuke."

"Hati-hati. Kabari kalau sudah sampai."

Sakura melambaikan tangan sebelum mengayuh sepedanya. Saat Sakura benar-benar hilang dari pandangannya, dia merasakan kekosongan nyata. Rasa rindunya terhadap wanita itu sudah muncul ke permukaan. Dia tahu akan sangat sulit hidup tanpa Sakura setelah ini.

.

Sasuke mengetuk pintu rumah Sakura. Entakan keras terjadi di dadanya. Apabila orangtua Sakura ada di rumah, dia akan bertemu dengan mereka. Dan yang membukakan pintu adalah ibunya.

"Kau pasti Sasuke," kata Mebuki.

Sasuke mengangguk. Dia menyapa wanita separuh baya tersebut. Dia dipersilakan masuk dan diajak bicara oleh ibu Sakura. Sasuke mengetahui bahwa ayah Sakura tengah memancing dari percakapan tersebut. Tiba-tiba dia tersentak saat ditanya, "Kau pacar Sakura?" Dia tak tahu harus menjawab apa. Beruntung Sakura keluar dari kamarnya dan membuat pertanyaan itu tertelan begitu saja. Sasuke berasumsi pertanyaan itu akan diangkat lagi saat Sakura pulang nanti.

Butuh waktu yang cukup lama hingga mereka tiba di perkebunan prem. Tak aneh bila mengingat letak perkebunan ini berada di sisi kota. Sakura memetik prem dengan penuh semangat dan sambil memakannya. Meskipun makanan favoritnya adalah umeboshi, prem yang dibuat menjadi asinan, dia tetap suka buah premnya sendiri. Saking banyaknya, dia nyaris lupa berapa banyak prem yang sudah dia makan selagi memetik tadi, untung saja Sasuke membantunya menghitung.

Sakura membeli tiga stoples umeboshi untuk dibawa pulang dan Sasuke merasa tenggorokannya gatal saat melihatnya. Namun, ada kepuasan tersendiri saat melihat senyum tak pernah hilang dari wajah Sakura. Di perkebunan prem tidak ada restoran khusus seperti di perkebunan tomat, mereka melanjutkan makan siang di restoran sushi. Kegiatan dilanjutkan sampai sore hari dengan agenda mengunjungi taman favorit Sakura, ke toko buku, dan mengambil jas putih serta pakaian Sakura dari penjahit langganannya di kota ini. Mereka merencanakan untuk pulang setelahnya, dan pulang itu hanya berlaku untuk Sasuke.

"Sasuke?"

Sasuke melirik ke arah Sakura setelah memarkirkan mobilnya. "Aku ingin makan masakanmu."

Sakura merotasikan bola matanya. "Dari mana kau tahu aku mau memasak untukmu?"

Sasuke mendengus. "Sakura, maukah kau memasak untukku?"

"Nah, begitu." Sakura tersenyum. "Iya, mau. Asal bahan-bahannya sudah ada."

Sakura sungguh-sungguh memasak untuknya. Jajahan Sakura terhadap apartemennya semakin luas, hingga saat Sakura tak ada di sana, bayang-bayang eksistensi wanita itu masih ada. Pertemuan akhir pekan itu menjadi rutinitas apabila keduanya memiliki waktu luang dan selalu berakhir di apartemen Sasuke. Hubungan mereka masih kasual, tak pernah ada ungkapan rasa cinta atau tindakan penuh afeksi. Tapi kekosongan yang terasa selama setahun penuh tanpa satu sama lain kini sudah terisi. Bahkan, beberapa wanita yang dulu sering menggoda dan mendekatinya mulai mundur setelah kedekatannya dengan Sakura tercium.

Keraguan, kegelisahan, dan rasa takut yang melanda Sasuke tak pernah datang lagi. Kemudian dipaksa muncul kembali ketika Sakura membuka pintu menuju balkon apartemennya. Semua rasa sakit yang sudah Sasuke lupakan pedihnya kini kembali begitu saja. Dia hanya terdiam sambil memperhatikan Sakura yang membersihkan balkon tersebut. Balkon itu tampak sangat kotor karena Sasuke memang tak pernah menuju ke sana sama sekali.

Senja berlangitkan lembayung saat balkon sudah bersih. Wanita itu mengomeli Sasuke atas betapa kotornya hingga debu-debu menempel di pakaiannya. Dia baru diam setelah tehnya sudah jadi. Sakura membawa tehnya, sikunya ditumpu ke birai di balkon. Sepahit apa pun tenggorokan Sasuke sekarang, dia melangkah ragu untuk menemani Sakura dengan secangkir kopi di tangan. Tak ada pembicaraan yang teruar selagi mereka ada di sana.

Sasuke melirik Sakura setelah mengalahkan rasa sangsi. Wanita itu tampak tengah melamun, tak ada ekspresi jelas di wajahnya. Sasuke merasa napasnya memberat. Tidak lagi, batinnya. Dia tak bisa bila kerisauan dan rasa takut kehilangan Sakura akan menggerotinya lagi.

"Jangan melamun," tegur Sasuke sambil mencubit pipinya pelan. Dia masih berupaya menyembunyikan perasaan yang berkecamuk di hatinya.

"Maaf," kata Sakura. Dia menyengir. Tatapan tertuju pada langit senja. Senyum tulus terukir di bibirnya.

"Sakura," tegur Sasuke lagi. "Memikirkan apa?"

Pipi Sakura memerah pekat. "Ah, i-itu ...," dia tampak gelisah. Senyum malu-malu muncul di bibirnya. "Aku teringat ... dulu hubungan kita dimulai di kondisi yang mirip seperti ini. Balkon, lembayung senja, kau minum kopi, aku minum teh. Bedanya dulu itu terjadi di apartemenku." Dia berdeham, tapi tak tampak hendak berhenti berbicara. "Kondisi yang sama dengan saat pertama kali ... kau menciumku."

Kegelisahan dan kerisauan Sasuke lenyap entah ke mana. Dulu dia tahu bahwa Sakura selalu memikirkan pria lain setiap kali melamun menatap lembayung senja. Sendu selalu memenuhi wajahnya. Kali ini yang mengisi otak wanita itu adalah dirinya. Senyumlah yang timbul di wajahnya. Sasuke tidak bodoh. Bukankah itu berarti hati Sakura hanya untuknya sekarang?

Kali ini, Sasuke tak bisa menahan diri untuk tidak mencium Sakura. Dia menaruh gelas yang wanita itu pegang di atas birai sebelum menempelkan bibirnya pada bibir Sakura dan melumatnya penuh perasaan. Kedua tangannya mendekap tubuh Sakura erat-erat seolah tak pernah mau melepasnya. Dia tak bisa berhenti. Dia tak mau berhenti. Dia terus mencium bibir Sakura, mengecap manis dari polesan bibirnya, dan merasakan degup jantung mereka yang saling bersahutan. Ciuman Sakura masih sama. Bibir manisnya menjadi pengecualian dari ketidaksukaan Sasuke terhadap rasa manis. Sasuke baru berhenti setelah Sakura mengindikasikan ingin berhenti.

Sakura memeluk Sasuke. "Sasuke, aku mencintaimu," ucapnya. Dia menarik diri dan menatap mata Sasuke. Iris seindah batu emerald-nya berkaca-kaca. "Hanya kamu."

"Aku tak akan pernah melepasmu lagi," bisik Sasuke tepat di telinga Sakura. Dia mencium kening wanita itu dengan lembut.

Hubungan mereka terjalin lagi dan tidak sekasual sebelumnya. Ungkapan cinta dan sentuhan penuh afeksi terlibat di antaranya. Sentuhan wanita di apartemen Sasuke semakin tercium dengan kuat, bahkan sampai ke kamarnya. Pakaian-pakaian Sakura mengisi lemarinya, parfum Sakura membaur dengan parfumnya di kamarnya, sikat gigi Sakura menggantung di kamar mandinya. Awalnya Sakura hanya menginap di apartemen Sasuke setelah melewati hari yang berat, seperti saat rekan kerja terdekat Sakura di laboratorium telah mengembuskan napas terakhir karena sakit. Namun kadang-kadang hanya didasari Sakura yang tak ingin jauh dari Sasuke.

Sasuke menemui orangtua Sakura setiap kali menjemput Sakura. Dia dikenalkan sebagai pacarnya—Sasuke mendengus menahan tawa mengingat dirinya yang sempat bingung ketika ditanyai siapa dirinya bagi Sakura. Orangtua Sakura baik, walaupun ayahnya konyol dan ibunya cerewet. Mereka tak pernah menyatakannya langsung, tapi Sakura berkata bahwa orangtuanya menyukai Sasuke. Sakura bahkan dimarahi saat bercerita bahwa di Konoha mereka sempat menjalin hubungan dan orangtuanya tidak diberi tahu satu patah kata pun.

Memahami hubungan mereka saat ini, ketika tak ada orang ketiga di hati baik dirinya maupun Sakura, Sasuke yakin kali ini semuanya akan baik-baik saja. Sakura akhirnya menjadi miliknya seutuhnya, baik hati maupun fisiknya.

.

Sasuke bertemu dengan mantan kekasih Sakura saat dia tengah menemani Sakura belanja bahan makanan dan beberapa kebutuhan. Sakura sedang tak ada di sisinya, wanita itu masih berada di segmen kebutuhan mandi, sementara Sasuke diminta untuk mengambil tomat sebanyak yang dia butuhkan. Sasuke masih ingat wajah pria itu walaupun hanya melihat dari foto. Dengan rambut merah itu dan lingkar mata hitam yang mencolok. Tangannya diamit lengan istrinya yang berambut cokelat dengan model yang hampir sama seperti Sakura.

Pria itu berada tepat di sisi Sasuke selagi dia mematung. Berbagai emosi bergejolak di dalam dadanya. Pria ini adalah orang yang mengkhianati Sakura. Pria ini adalah sosok yang meninggalkan luka dalam di hati Sakura. Pria ini adalah sosok yang menarik sebagian atensi dan hati Sakura yang seharusnya ditujukan untuk dirinya. Pria ini adalah alasan hubungannya dan Sakura retak dulu.

Kedua tangan Sasuke terkepal erat hingga urat-uratnya menonjol. Napasnya menderu. Rahangnya mengeras; giginya menggertak. Kemarahannya sudah mencapai ke ubun-ubun. Dia ingin membalas segala rasa sakit yang dia sebabkan pada Sakura—dan dirinya—sekarang juga. Niatnya tertelan ketika dia merasakan pelukan dari belakang.

"Sasuke." Itu suara Sakura. "Sudah ambil tomatnya?"

Sasuke menghirup atmosfer janggal. Dia membuka lengannya agar Sakura melepas pelukannya. Padahal Sakura tahu Sasuke tak suka mengumbar kemesraan atau afeksi di tempat umum, bahkan saat hanya ada satu orang di dekat mereka sekalipun. Lantas apa yang dilakukannya tadi? Sengaja membuatnya kesal?

"Belum," kata Sasuke dingin.

Tanpa menoleh, Sasuke bisa merasakan tatapan mantan kekasih Sakura pada mereka.

"Kenapa cemberut begitu, hm?" Sakura memeluk lengan kiri Sasuke. Dia mencubit pipinya. "Tomatnya tidak ada yang bagus, ya?"

Sasuke mengernyit tidak suka. Dia memutuskan untuk tak menjawab Sakura dan menyingkirkan tangan wanita itu dari pipinya.

"Sakura?"

Sasuke menoleh dan melemparkan tatapan tajam ketika mendengar mantan kekasih Sakura berani-beraninya memanggil kekasihnya.

"Gaara," sapa Sakura. Sasuke mendengar Sakura tengah mengatur napasnya. Dia berdeham. "Apa kabar?"

"Baik. Kau?"

"Aku juga baik." Tatapan Sakura tertuju pada wanita di sisi Gaara. "Kau pasti Matsuri, istri Gaara." Dia mengulurkan tangannya. "Aku Haruno Sakura. Aku ... aku ... te-teman kuliah Gaara."

Sasuke membelalak tak percaya. Apa yang sebenarnya sedang Sakura lakukan?

Tepukan terasa di punggung Sasuke. Sakura memeluk lengannya lagi dan menyandarkan kepala pada bahunya. "Dan perkenalkan, ini Uchiha Sasuke, kekasihku. Sasuke, ini Gaara, teman—"

"Kita pulang, Sakura."

Sudah cukup omong kosongnya.

"Tapi Sasuke—"

Sasuke tak menanggapi. Dia melepaskan diri dari Sakura dan membalik tubuhnya begitu saja. Dia mendengar Sakura mengatakan, "Aku duluan," sebelum terdengar derap sepatu yang terburu-buru ke arahnya. Giginya menggertak keras.

"Sasuke, kau belum ambil tomatnya!" kata Sakura dengan napas terengah. Dia masih berusaha menyamakan cepat langkahnya dengan Sasuke.

"Aku tidak butuh tomat," jawab Sasuke dingin. Dia melangkah lebih cepat lagi hingga Sakura kewalahan untuk menyusulnya.

Sasuke meninggalkan Sakura di kasir dan segera kembali ke mobilnya. Dia tak bicara apa-apa ketika Sakura menggerutu setelah memasuki mobilnya. Belanjaannya dia hempaskan begitu saja di jok belakang tanpa memedulikan isinya. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

"Kau ini kenapa sih?!" Suara Sakura lebih tinggi daripada biasanya. "Sudah tidak sopan di depan temanku, lantas meninggalkanku, dan kau terus menerus tampak kesal!"

"Temanmu?" Sasuke menyeringai meremehkan.

"Ya! Temanku! Kau sudah mempermalukan aku di depannya dan istrinya! Sudah kubilang, kau tidak boleh kas—"

"Diamlah, Sakura!" bentak Sasuke sambil menyentak setir mobil. Tangannya menggenggam setir mobil kuat-kuat. Rahangnya mengeras.

Sakura tersentak. Namun, dia tak lagi melakukan apa pun selain membekap mulutnya tanda tak percaya. Ini adalah pertama kali Sasuke membentaknya, dan langsung sekeras itu. Wanita itu menciut karena rasa takut. Tak ada tindakan apa pun dari Sasuke untuk menenangkannya.

Di tengah suasana tidak nyaman itu, Sasuke melajukan mobilnya. Berbagai pikiran mengganggu benaknya, tetapi sebisa mungkin dia tetap fokus pada jalan di depannya. Rentetan kejadian tadi berputar di kepalanya sekali lagi dan mengarah pada sebuah konklusi. Omong kosong Sakura mungkin hanya karena wanita itu ingin bersikap sopan, dan dia pasti berpikir bahwa Sasuke tak tahu sejarah pria itu di hidup Sakura seperti apa. Namun, bagian mengumbar afeksi di tempat umum, di depan mantan kekasihnya yang sudah bahagia dengan istrinya, hanya menuju pada kesimpulan: Sakura ingin membuat pria itu cemburu—bagaimanapun mereka pernah menjalin hubungan bertahun-tahun yang membuat sangat mungkin bila pria itu masih bisa cemburu pada Sakura—atau menyombongkan Sasuke seolah-olah Sasuke adalah barang mahalnya. Atau menyombongkan kebahagiaan Sakura yang jelas-jelas dibuat-buat tadi.

Semua kesimpulan itu hanya mengakar pada satu hal: Sakura masih menyimpan rasa untuk mantan kekasihnya.

Dadanya berdenyut nyeri karena merasa dikhianati perasaan Sakura lagi. Dia tahu dirinya seharusnya percaya bahwa seorang wanita akan sangat sulit melupakan seseorang yang pernah dicintainya, bukannya terbuai oleh asumsi perasaan Sakura selama ini. Atau terbuai dengan apa yang wanita itu katakan.

"Sasuke, aku mencintaimu. Hanya kamu."

Sasuke ingin tertawa sarkastis saat mendengar itu di dalam kepalanya. Seharusnya dia sadar bahwa kata-kata itu hanya dipenuhi oleh omong kosong.

Dia tak ingin menguatkan diri dan menjadi pria yang sama dengan yang mendampingi Sakura saat di Konoha. Dia tak ingin menjadi sekadar pelampiasan Sakura karena pria yang sungguh-sungguh wanita itu cintai sudah tak mungkin dimiliki. Kebahagiaan Sakura adalah prioritasnya, dan dia tak yakin wanita itu akan bahagia apabila kondisinya masih seperti ini. Kecuali jika wanita itu menemukan kebahagiaan dengan cara menyiksanya perlahan. Dan jika benar begitu, dia tak mau mengorbankan dirinya lagi. Kali ini dia tak akan menahan sikap egoisnya bahkan demi Sakura sekalipun.

Ternyata semuanya tidak baik-baik saja. Dia tak yakin dirinya bisa memercayai perasaan Sakura lagi setelah ini.

.

.

tbc

.

.

A/n:

Mohon maaf atas update yang lama karena sejujurnya saya kesulitan menulis fic ini haha. Chapter depan adalah chapter terakhir. Terima masih sudah membaca sampai sini! :'D

daffodila.

[EDITED] baru sadar setelah baca ulang kedua kali ada yang kurang dan ada plot hole wqwq.