For ES21 Awards: Kasih Sayang. Rice Bowl, turnamen dua tahunan tingkat universitas sudah di depan mata. Ini kesempatan pertama dan terakhir bagi Hiruma untuk memenangkan turnamen ini bersama timnya. Tapi... 'Ii.. itu..'/ 'Semua pasti ada konsekuensinya, anak muda'.


Disclaimer for Inagaki Riichirō & Murata Yūsuke

Character: Hiruma Youichi, Anezaki Mamori, Anggota Saikyoudai Wizards yang lain

Timeline: Tahun kedua di Universitas Saikyoudai, saat Rice Bowl

~oOo~

Limited Time
by Little Hatake

.

.

Kedua kelopak itu mengerjap-ngerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya putih yang lembut, cahaya yang belum pernah ia lihat. Kedua iris kehijauan itu membuka perlahan. Setelah beradaptasi dengan cahaya yang aneh itu, mereka terbuka sempurna.

Putih.

Si empunya menyadari dirinya dalam keadaan tidur terlentang, mencoba duduk dengan menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Ia sapu pandangannya ke sekeliling, hanya putih tak bertepi sejauh mata memandang. Tempat di mana ia duduk maupun atap di atasnya berwarna pucat yang sama. Kulitnya yang putih merasakan keadaan yang tidak wajar, tidak dingin, tidak juga panas. Tidak hangat maupun sejuk. Tidak ada suara yang terdengar barang sedenting lonceng pun. Di sini memang sepi, tapi sepi yang terlalu hening. Sensasi yang janggal. Alisnya menukik tajam tak mengerti di mana ia berada. Tapi tak ada kata yang terlontar dari mulutnya, lebih tepatnya tak ada kata yang dapat keluar dari mulutnya. Ia terlalu bingung.

Ia melirik kedua tangannya, menggenggam beberapa kali. Ia melihat dirinya masih memakai baju yang sama ketika ia berada di depan gedung olahraga, setelan kemeja dan celana panjang hitam, dengan sepatu pantofel hitam mengkilap. Ia sentuh telinga kanannya, masih menggantung di situ dua buah piercing yang ia pasang sejak duduk di bangku sekolah menengah. Ia raba rambutnya, ia ambil sejumput kecil, masih berwarna kuning, warna pilihan hair dye-nya.

Ia masih dirinya yang sama. Ia masih Hiruma Youichi yang sama—minus senjata kesayangannya. Tapi, mengapa ia merasa berbeda?

Ah, tampaknya syaraf-syaraf di otak jeniusnya sudah mulai menyambung, menyampaikan koneksi antar neuron. Seperti kabel-kabel panjang yang melintang yang sudah menemukan stop kontak masing-masing, dengan cepat kabel-kabel itu menyalurkan sinyal-sinyal listrik yang menghasilkan sebuah visualisasi semu di pikiran pria berambut spike blonde ini, memutar kembali memori yang menyebabkan dia berada di sini.

Pengundian tim untuk Rice Bowl. Gedung Asosiasi Olahraga Jepang. Yamato Takeru. Taka Honjou. Anezaki Mamori terlambat. Truk. Ia berlari. Ia tertabrak. Ia tak merasakan apapun. Kode-kode jari. Lalu, hitam.

Mulut dari menara kontrol American Football jenius ini sedikit terbuka, terkejut menyaksikan adegan yang melintas cepat, disuguhkan padanya.

'Aku sudah mati?'

Terlihat dari kejauhan seseorang mendekat. Awalnya tampak tidak jelas, hanya siluet. Lama kelamaan terlihat jelas sesosok pria paruh baya berpakaian serba putih yang menutupi tubuhnya hingga ujung kaki. Pria ini berkacamata, raut wajahnya amat kebapakan, rambutnya keperakan. Di balik punggungnya terbentang sepasang sayap keputihan tembus pandang berukuran kasar masing-masing satu setengah meter. Di depan dadanya, ia memegang sebuah buku kecil berwarna gelap.

"Benar, kau sudah mati, Hiruma Youichi."

Kaget orang asing yang menghampirinya dapat membaca pikirannya, Hiruma semakin tak mengerti. "Heh, siapa kau, Kakek Sialan? Dan dimana aku?"

"Meskipun kau sudah mati, tetap saja omongan aroganmu tidak bisa hilang yah, anak muda." Pria itu tersenyum.

"Ck! Cepat katakan saja, dimana ini?" Hiruma sudah tak sabar ingin memuaskan rasa penasarannya.

"Duduklah dengan tenang, anak muda. Kita bicarakan hal ini dengan santai, kita masih punya banyak waktu."

Entah dari mana, dua buah kursi muncul di belakang pria itu dan Hiruma. Lalu pria tersebut menduduki kursinya. Hiruma yang masih bingung, mengikuti gerakan pria itu untuk duduk.

"Jadi, dimana kita, Kakek Sialan?"

Keping obsydian pria itu menatap lembut keping kehijauan Hiruma. "Kita sedang berada di dunia antara, anak muda."

"Dunia antara?"

"Ya, dunia di antara dunia kehidupan dan dunia kematian."

"Kekekek! Jangan bercanda kau, Kakek Sialan!" Hiruma tergelak. "Jika kita berada di dunia sialan ini, lalu kau akan berkata jika kau adalah seorang malaikat, begitu? Kekek—"

"Tepat sekali dugaanmu, anak muda." Tawa Hiruma langsung berhenti. "Aku adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk menemui orang-orang yang sudah meninggal, tetapi masih tidak rela karena meninggalkan urusan yang belum diselesaikannya di dunia."

"Tch, apa buktinya jika Kakek Sialan sepertimu adalah malaikat?"

Pria itu membuka buku yang sedari tadi dipegangnya, lalu berhenti di salah satu halaman. "Namamu Hiruma Youichi. Lahir di Deimon, 28 Februari 199x. Berarti kau sekarang berusia duapuluhan. Kau adalah mantan kapten dari Deimon Devil Bats merangkap quarterback. Sekarang kau adalah kapten dari Saikyoudai Wizards dan berada di tahun keduamu di Universitas Saikyoudai."

"Data semacam itu belum membuktikan bahwa kau adalah malaikat." Hiruma menaikkan kaki kanannya ke atas kaki kiri dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mulai terlihat bosan.

"Kau memang orang yang tidak sabaran, anak muda." Pria tersebut membetulkan letak kacamatanya. "Akan kulanjutkan. Hobimu adalah mengoleksi berbagai macam senjata api, mengintimidasi orang, mengumpulkan budak dan bermain American Football. Kemampuanmu adalah mampu menganalisis permainan tim lawan di lapangan, photographic memory, memperoleh informasi yang kau butuhkan dengan memanfaatkan budakmu, permainan poker yang tidak terkalahkan dan mind trick untuk mencapai kemenangan. Bagimu, kemenangan adalah hal mutlak yang harus kau dapatkan." Hiruma terkekeh mendengar 'prestasi'nya disebutkan.

"Ibumu adalah seorang manajer keuangan yang memilih berhenti bekerja ketika sudah melahirkanmu. Namun, beliau meninggal ketika kau berusia dua tahun karena sakit yang dideritanya. Ayahmu adalah direktur sebuah perusahaan dan pemain shogi nasional, ia amat depresi ketika ibumu meninggal dan meninggalkanmu demi wanita lain ketika kau berusia delapan tahun." Hiruma hanya mendecih kesal, pria itu dengan santainya membongkar kenangan-kenangan paling buruk yang sudah susah payah ia kubur dalam-dalam.

"Dan untuk pembuktian terakhirku, aku akan menunjukkan sesuatu yang tidak pernah kau duga sebelumnya. Sekaligus membuatmu percaya bahwa aku memang malaikat."

Air wajah Hiruma menunjukkan ketertarikan. "Tunjukkan padaku, Kakek Sialan!"

Pria itu seperti mengambil sesuatu dari balik punggungnya. Sekali lagi, Hiruma sangat terkejut melihat 'sesuatu' yang dipegang oleh pria tersebut. Sebuah buku yang memiliki banyak indeks di tepi halamannya dan bersampul hitam bertuliskan 'Akuma Techou'.

"Ii.. Itu.."

"Kau pasti sangat mengenal buku ini, anak muda." Pria itu tersenyum, ia berhasil membuat Hiruma percaya bahwa dirinya memang malaikat. "Ini adalah buku andalanmu untuk mengancam seseorang. Akuma Techou, Buku Ancaman. Tidak ada yang pernah seorang pun melihat isi dari buku ini."

"Dari mana kau mendapatkan buku itu, Kakek Sialan?"

"Kan sudah ku bilang jika aku adalah malaikat. Jika Tuhan berkehendak menyerahkan buku ini kepadaku, maka aku akan mendapatkannya." Senyuman kecil terukir di wajah pria tersebut dan Hiruma lagi-lagi berdecak kesal. "Aku tahu apa isi bukumu ini, anak muda, tanpa aku perlu membukanya."

Hiruma menunjukkan wajah sebutkan-saja-isinya-jika-kau-tahu.

"Isi dari buku ini sebenarnya adalah hanya lembaran-lembaran kosong. Kau menunjukkan indeks-indeks ini untuk menambah kesan intimidasi kepada calon budakmu. Semua informasi sebenarnya berada di otak jeniusmu. Benar begitu bukan, Hiruma Youichi?"

Akhirnya, mau tidak mau, Hiruma—dengan terpaksa—percaya bahwa pria yang duduk di depannya adalah malaikat. "Baiklah, aku percaya bahwa kau memang malaikat, Kakek Sialan! Lalu, mengapa aku berada di sini?"

Kedua buku yang dipegang oleh sang pria sudah menghilang entah kemana, pria itu mengubah sikap duduknya menjadi lebih santai. "Seperti yang sudah ku bilang, dunia antara ini untuk orang-orang yang belum bisa menerima kematiannya karena masih meninggalkan sebuah urusan. Dan nampaknya masih ada yang mengganjal di hatimu, sehingga kau masih belum bisa rela untuk meninggalkan kehidupan."

Mata kehijauan Hiruma masih tajam seperti biasa, namun tersirat kesedihan di situ. "Benar, aku masih harus membawa timku memenangkan Rice Bowl. Turnamen sialan itu hanya diadakan dua tahun sekali. Sekarang adalah kesempatan pertama sekaligus terakhirku untuk mempertahankan piala sialan di turnamen sialan itu, karena di tahun keempat, aku dan yang lainnya sudah tidak dapat ikut berpartisipasi karena harus serius mengerjakan tugas akhir. Dan..."

"Dan?"

"Dan aku... belum sempat mengucapkan sesuatu kepada seseorang... dari mulutku sendiri..." Rona kemerahan halus muncul di kedua pipi Hiruma. Manusia setengah setan ini bisa jatuh cinta juga rupanya. Ya, dia hanya seorang manusia biasa yang memiliki perasaan.

"Baiklah, ternyata itu yang menghalangimu untuk sepenuhnya meninggalkan kehidupan. Urusan yang belum terselesaikan itu bisa diibaratkan seperti rantai yang mengekang jiwamu, masih terhubung pada dunia nyata. Jika rantai itu lepas, maka kau akan sepenuhnya meninggalkan kehidupan."

"Lalu, bagaimana aku menyelesaikan dua urusan itu, Kakek Sialan?"

"Hmm..." Pria itu tampak berpikir. "Sebenarnya, manusia seperti dirimu memiliki banyak kesalahan. Tetapi, Tuhan tahu kau melakukan semua itu karena kau sangat peduli pada timmu. Rasa sayang yang dibungkus dengan sampul yang berbeda. Topeng tebalmu yang membuat perasaanmu tidak terungkap dan hanya segelintir orang yang mampu melihat celah itu. Apalagi, seorang gadis yang bernama Anezaki Mamori..."

Pipi Hiruma kembali memerah mendengar nama gadis yang sudah membuatnya jatuh hati. Untuk menutupinya, Hiruma memotong perkataan pria tersebut. "Tch! Sudahi saja cerita sialanmu itu, Kakek Sialan! Bagaimana caranya?!"

"Sebenarnya ada cara untuk membuatmu hidup kembali, tapi..."

"Tapi apa?"

"Semua pasti ada konsekuensinya, anak muda."

"Aku tahu itu, Kakek Sialan! Cepat beritahu aku!" Wajah Hiruma berubah serius. Iris emerald-nya menatap tajam pria itu.

"Kau diberi kesempatan untuk hidup kembali, tapi menggunakan tubuh orang lain."

Dahi Hiruma mengerenyit. Tiba-tiba seseorang berjalan dari belakang punggung pria malaikat itu. Seorang remaja lelaki berusia yang sama seperti Hiruma, memiliki tinggi kira-kira seratus tujuh puluh sentimeter (tinggi Hiruma sekitar seratus delapan puluh lima), berperawakan kurus, berkulit putih, berambut oranye berantakan dan teracung ke atas—seperti rambut jabriknya dalam versi lebih pendek, dan bermata hijau. "Kakek Sialan, dia siapa?"

Tangan pria malaikat tersebut menggamit lengan remaja misterius itu untuk mendekati dirinya. "Ini adalah tubuh yang akan kau gunakan, anak muda."

"Apa?! Tubuh cebol begini yang akan aku gunakan?! Terlihat lemah seperti ini, sama saja aku seperti Cebol Sialan yang sekarang berada di Enma itu! Aku tidak mau!"

"Hanya ini stok yang tersisa, anak muda. Tubuh yang lain sudah digunakan oleh jiwa-jiwa yang belum tenang lainnya." Pria malaikat itu tertawa.

"Tch, baiklah!" Manusia setengah setan yang biasanya selalu mendapatkan yang ia inginkan ini menjadi tidak berdaya, tidak bisa apa-apa dan harus menerima—meskipun dengan berat hati dan terpaksa.

"Ada konsekuensi lainnya. Yaitu, kau hanya diberi waktu sampai kau memenangkan Rice Bowl. Sampai saat itu tiba, teman-temanmu tidak boleh mengetahui sosok dirimu yang sebenarnya atau kau akan menghilang."

"Jadi, aku hanya diberikan waktu sebulan?"

"Ya."

"Aku tidak boleh membawa senjata?"

"Tidak boleh."

"Mengancam orang?"

"Tidak boleh."

"Memanggil orang dengan sebutan 'sialan'?"

"Tidak boleh."

"Membawa 'Buku Ancaman'?"

"Tidak Boleh."

"Mengintimidasi tim lawan?"

"Tidak boleh."

"Makan permen karet mint?"

"Tidak boleh."

"Sial! Apakah kau gila, Kakek Sialan?!" Hiruma mengacak-ngacak rambut pirangnya, kesal.

"Eh, mungkin kau boleh sesekali makan permen karet mint. Asal jangan ketahuan. Karena jika satu orang saja yang menyadari kau berada di dalam tubuh ini, kau akan langsung 'POFF!' menghilang!"

Hiruma terdiam, memikirkan segala cara yang bisa ia gunakan, memanfaatkan kesempatan satu-satunya yang diberikan.

Sebenarnya ancaman Hiruma akan menghilang merupakan ide jahil dari pria malaikat itu. Sang malaikat ingin mengubah sikap Hiruma yang 'sedikit' kasar agar ada yang bisa membuatnya masuk ke dalam surga.

"Manfaatkan kesempatan terakhirmu untuk berbuat yang terbaik bagi timmu dan orang yang kau sayangi, anak muda." Pria malaikat tersebut berdiri dari duduknya dan mendekati Hiruma. "Sikap diammu akan ku anggap kau sudah mengerti aturan mainnya." Tangan kanannya menghampiri kedua mata Hiruma dan tiba-tiba Hiruma tidak sadarkan diri dan menghilang perlahan, bersamaan dengan hilangnya juga sosok remaja lelaki berambut oranye. "Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, Hiruma Youichi."

.

Terdengar kepakan sayap yang kian menjauh.

.

TBC

.

~oOo~

rgrds, LH


Update kilat! *bisa dibilang kilat, ga?*

Terima kasih untuk vita, dua orang guest dan Wakiyu yang udah menyempatkan diri mereview :D dan untuk readers lainnya yang udah membaca fic abusrd ini, hehehe :)

I'm still hoping your supports to help me write a better story for you to enjoy. Read and Review, minna-san~ ;)