Nightwish: Treasure

Chapter 2

o0o—

Aku terbangun dari tidurku. Malam ini suasana terasa sepi, dilengkapi dengan dinginnya udara setelah hujan tadi sore. Terlihat gugusan bintang yang bersinar di langit, tak sebanyak biasanya. Untuk pertama kalinya aku merasa nyaman tidur di zaman feodal ini layaknya aku sedang berada di rumah. Hangat.

Kumiringkan tubuhku dan rasa nyeri menyergap perutku. Terasa perih, dan kuputuskan untuk memegangi bagian itu.

"Argh." Rasa sakit seketika menjalar ketika lukaku tersentuh tangan. Bagaimana bisa?

"Ada apa, Kagome-sama?" tanya gadis kecil ramah padaku. Ia terbangun dari tidurnya dan langsung berlari ke arahku. Rambutnya yang panjang itu bergerak seirama dengan langkah kakinya bahkan kuncir kecilnya yang imut.

"Bagian mana yang sakit, Kagome-sama?" ia kembali bertanya padaku. Dengan kimononya yang berwarna oranye itu ia mendekat ke arahku dan memegang keningku.

Tangan gadis kecil itu —Rin, membuatku terasa lebih nyaman. Apakah aku juga demam? Apakah itu sebabnya? Apakah itu alasan ia meninggalkan bolero putihnya yang hangat itu dan menempatkannya sebagai bantal serta membuatnya mengelilingiku seperti kasur agar terasa lebih hangat?

Aku memegang tangan mungil Rin dan menatapnya. "Aku tak apa. Kembalilah tidur, Rin-chan." Ucapku padanya lembut dan tersenyum. Ia membalas senyumanku dengan lebih lebar.

"Baiklah. Aku akan tidur di samping Kagome-sama."

"Uh?" dia langsung mencari posisi yang berada di dekatku. Dia tidur berada di sampingku —lebih tepatnya sekarang berada di depanku karena posisiku yang tengah miring dan menghadap ke api unggun.

Aku membagi bolero itu untuk bantal Rin juga. Ia memperbaiki posisinya setelah aku membagi bolero putih itu. Dan aku baru menyadarinya. Menyadari bahwa aku mengenakan jubah putih milik Sesshomaru.

"Uh? Bukankah ini milik Sesshomaru?" gumamku lirih. Bagaimana bisa jubah itu berada padaku? Aku tidak ingat jika aku meminjamnya. Aku merasa bahwa aku tidak meminjam padanya. Bahkan jika aku meminjam padanya, aku tidak yakin bahwa ia akan memberikannya padaku. Tapi, bagaimana bisa? Aku melirik Rin yang nampaknya mulai tidur nyenyak.

"Sesshomaru-sama yang memberikannya padamu sebelum mengobati lukamu." Ujar Rin. Ia tak menoleh padaku, sepertinya ia mencoba untuk tidur, namun suaraku yang mengganggunya.

Aku melihat Jaken yang duduk di depan api unggun di seberang. Ia tetap memegang tongkatnya itu. Matanya tertutup, aku tidak yakin dia tidur. Ia mungkin terjaga namun berpura-pura tidur seperti yang biasa dilakukan oleh Inuyasha saat aku, Sango, Miroku, Shippo, Kirara tidur malam hari. Aku pernah terbangun dan ia langsung mengetahui bahwa aku yang terbangun kala itu dengan menanyakan apa yang membuatku terbangun di tengah malam.

"Sesshomaru mengobati lukaku dan memberikan jubah putih ini untukku?" tanyaku bingung. Mustahil Sesshomaru seperti itu. Ia tidak akan melakukan hal itu, apalagi padaku yang selalu bersama Inuyasha. Ia, Sesshomaru, selalu menganggap adiknya sendiri sebagai seorang musuh yang harus ia lenyapkan.

"Iya. Sesshomaru-sama yang mengobatimu." Rin berbalik dan menatapku, ia tersenyum. "Bahkan ia melarangku untuk membantunya mengobatimu. Ia hanya meminta padaku untuk membuka sedikit bajumu supaya ia bisa mengobati lukamu yang berada di perut itu. Sesshomaru melepaskan jubahnya itu dan memakaikannya pada Kagome-sama sebelum mengobati, karena baju yang Kagome-sama kenakan telah robek."

Seketika pikiranku kosong saat mendengar pernyataan Rin. Itu artinya ia benar-benar mengobatiku yang sedang terluka. Jika seperti itu, ia berarti membuka bajuku? Ah tidak! Kesalahanku memakai atasan pendek. Bukan dia, tapi Rin. Ia hanya memberikan obat pada lukaku saja tidak dengan yang itu. Tapi ia melarang Rin yang ingin membantunya, kenapa harus seperti itu?

"Apa yang dikatakan Rin itu benar, seharusnya kau berterima kasih pada Sesshomaru-sama. Andaikan saja Sesshomaru-sama menerima saran dariku, Jaken." Jaken menangis, memelas padaku. "Sesshomaru-sama bahkan menyuruhku untuk diam atau dia akan membunuhku. Sesshomaru-sama mengancamku." Lanjutnya. Ia masih menangis tersedu-sedu dengan menghapus air matanya. Benar, kan? Dia dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur.

Apa? Bagaimana bisa Sesshomaru memarahi abdinya yang setia padanya? Bahkan Jaken yang kecil itu sering membanggakan dirinya di depan yang lain tentang betapa loyalnya dia pada Sesshomaru. Ia juga membanggakan betapa hebatnya Sesshomaru —aku juga mengakui itu, bahwa Sesshomaru sangat hebat. Tapi aku tak pernah melihatnya yang begitu peduli pada manusia. Semua itu karena Rin. Semenjak gadis itu selalu mengikuti kemana perginya dia, dia menjadi sangat perhatian. Ia mencurahkan segalanya demi gadis kecil yang kini harus ia lindungi selain Jaken.

Aku terdiam. Aku tak ingin menjawab pertanyaan Jaken yang nantinya akan memancingnya lebih untuk berkata-kata. Aku ingin dia diam agar Rin bisa tidur dengan nyaman. Rin kini tertidur pulas di pelukan hangatku. Dari raut wajahnya, Rin, bahagia berada di dekat Sesshomaru. Ia bahkan tak takut dengan Sesshomaru yang sejatinya seorang siluman.

"Rin kau sungguh hebat." Batinku.

Sejak tadi, aku tak melihat Sesshomaru di sana. Mungkin dia keluar dan akan kembali menemui Rin di pagi hari. Sepertinya saat ia membopongku, aku jatuh pingsan. Kualihkan pandanganku pada api unggun yang menyala di depanku. Entah kenapa semakin lama aku memandang api unggun itu, semakin aku mengantuk. Perlahan, mataku mulai terasa berat dan perlahan tertutup dalam hitungan detik. Rin, sudah tertidur pulas sejak beberapa waktu lalu dan dengkurannya terdengar dalam ambang sadarku. Dengkurannya semacam nyanyian penghantar tidurku malam ini, terasa berbeda dengan malam-malam biasanya yang dihiasi dengan teriakan Inuyasha.

o0o—

Matahari sepertinya tidak sabar untuk melihatku. Dibalik pohon-pohon yang menutupi tempatku untuk tidur semalam, ia berusaha terus untuk mencuri pandang padaku. Melalui celah-celah itulah, cahaya matahari mulai membelaiku di pagi hari ini. Kubuka mataku perlahan. Aku mencoba bangkit dan duduk, serta meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku itu agar lebih santai. Saat aku benar-benar membuka mataku dengan sadar, aku melihat semuanya tengah duduk.

"Ahh.." Suaraku yang refleks saat mencoba meregangkan otot tubuhku setelah bangun dari tidur.

Aku merasa lebih baik jika dibandingkan dengan semalam. Hal itu sungguh terasa saat melakukan peregangan otot. Aku merasakan sebuah kebahagiaan dengan tidur nyenyak di era feodal ini. Semalam aku merasakan tidur yang nyaman berkat Sesshomaru, yang telh memberikan bolero putihnya yang hangat itu seolah-olah aku tidur di era modern. Kubuka mataku dengan lebar, semua orang tengah berada di sana dan aku tak yakin dengan kegiatan yang mereka lakukan.

Sesshomaru tengah tertidur —atau dalam keadaan terjaga seperti Jaken semalam— di bawah sebuah pohon besar tepat di depanku yang berjarak beberapa langkah. Ia telah memakai jubah yang sama dengan yang kupakai saat ini. Rin sedang berada di dekat api unggun, aku tak tahu apa yang dilakukannya, sepertinya ia sedang memanggang sebuah makanan yang ada untuk disantap. Sedangkan Jaken berada di samping Rin layaknya seorang bodyguard. Aku tersenyum melihat mereka, entah kenapa hal sederhana itu membuatku bahagia terlebih melihat Rin tersenyum bahagia, aku ikut bahagia karenanya. Bagiku, Rin seperti adikku sendiri sama dengan Kohaku maupun Sota. Kubereskan bolero milik Sesshomaru, dan itu menimbulkan suara yang membuatkan telinga Sesshomaru langsung sedikit bergerak mendengar gerakanku, tapi ia masih tetap menutup matanya.

"Kagome-sama!" teriak Rin bahagia, ia menghambur ke arahku.

"Naniyo, Rin-chan? Doushitano?" tanyaku keheranan melihat tingkahnya yang bahagia itu.

Sesshomaru melirik ke arah kami. Ia bangkit. Apakah kami mengganggunya? Apakah ia baru saja kembali dan ia sedang beristirahat? Rin menarik lenganku sedikit, dia ingin aku memperhatikannya. Kualihkan pandanganku pada Rin.

"Rin, di sinilah bersama miko dan Aun." Pamitnya. Ia pergi entah kemana aku tak tahu.

"Hai, Sesshomaru-sama." Jawab Rin dengan nada yang bahagia.

"Kagome-sama, aku membuatkan ikan bakar untukmu juga. Ini." Rin menyerahkan seporsi ikan bakar padaku yang beralaskan sebuah daun. Porsi ikan yang diberikan padaku lebih besar daripada yang akan ia makan.

"Kenapa kau.."

Belum sempat aku melanjutkan apa yang ingin kukatakan, ia menyelaku, "Karena Kagome-sama sedang sakit, maka kau harus makan lebih banyak dariku agar cepat sembuh dan bisa bermain bersamaku." Ia kembali tersenyum.

"Tapi, Rin.."

Ia mengabaikan apa yang baru saja kukatakan, lebih tepatnya ia mencoba untuk memperhatikan apa yang kulontarkan padanya. Ia sungguh gadis kecil yang perhatian.

o0o—

Bolero hangat milik Sesshomaru yang telah rapi aku serahkan pada Rin untuk diberikan pada Sesshomaru. Aku tak bisa memberikannya langsung padanya, bukan karena takut atau malu. Sesshomaru sedang tidak berada di sini, sejak tadi pagi hingga menjelang malam ia belum kunjung pulang. Ia meninggalkan Jaken dan Rin serta Aun. Pada bolero itu tak lupa kuberi sebuah parfum yang kupunya dan kubawa di era feodal ini. Parfum kesukaanku yang menyegarkan dan menentramkan untukku, aku harap dia menyukainya, walaupun hidung Sesshomaru sangat tajam dengan aroma —yang tak jauh berbeda dengan hidung Inuyasha. Kusematkan sebuah amplop yang berisi ucapan terima kasihku padanya serta tentang jubahnya yang masih kukenakan ini.

"Rin, tolong berikan itu pada Sesshomaru, ya?" Pintaku pada Rin.

"Dan ini, aku memiliki sesuatu untukmu." Aku mengeluarkan permen lolipop dari kantong tasku. Biasanya aku memberikan ini pada Shippo, tapi kali ini akan aku berikan pada Rin yang sudah berbaik hati padaku. Kuulurkan tanganku yang berisi beberapa lolipop padanya.

"Hai, arigatou." Ucapnya senang karena lolipop yang kuberikan itu.

Aku tersenyum dan melambaikan tanganku pada Rin yang berada di samping Jaken. Seperti biasa, Jaken terus menggerutu dan aku tidak ingin membahasa apa yang ia bahas. Hanya membuang tenaga saja. Jubah Sesshomaru yang besar ini terkena hempusan angin yang mulai terasa dingin malam ini. Aku berharap malam ini tidak hujan. Walaupun sudah di pengujung musim semi, hujan masih sering turun meskipun tidak sederas saat awal musim. Jubah Sesshomaru yang kukenakan ini juga terasa hangat, aku rasa apa yang dikenakan olehnya semuanya hangat. Apa karena dia seorang siluman anjing? Walaupun begitu, ia mewarisi kehebatan ayahnya.

Tas ransel yang kugendong di punggungku terasa lebih ringan, setelah aku membagi ramen bersama Rin yang begitu menyukainya. Isi tasku lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Di dalamnya masih terdapat kotak obat yang kubawa dari rumah bersama makanan instan yang sering kumakan bersama dengan Sango, Miroku, Shippo, dan juga Inuyasha. Aku teringat saat Shippo dan Inuyasha saling berebut makanan ringan yang kubawa. Inuyasha sering bertingkah seperti anak-anak, sedangkan Shippo bertingkah lebih dewasa dari usianya. Bagaimana tingkah mereka bisa terbalik seperti itu?

Kupercepat langkahku menuju desa tempat tinggal nenek Kaede. Dari kejauhan aku bisa melihat cahaya terang dibalik sebuah hutan. Entah ada apa di hutan hingga ada cahaya yang terang bersinar, jarang —hampir tidak pernah hutan itu bersinar terang kecuali jika ada manusia yang berada di hutan tersebut. Derap langkah kaki seseorang terdengar samar dari arah samping. Bulu kudukku berdiri di gelapnya malam yang tak berhiaskan cahaya indah bulan. Hanya bulan sabit kecil yang berada di langit, yang sering tertutup awan. Mungkin akan kembali turun hujan malam ini.

Lagi, aku mendengar langkah kaki itu lebih cepat. Aku mencoba untuk berjalan lebih cepat agar aku mampu melihat dengan jelas orang yang tengah berjalan dari arah samping. Suara langkah kaki itu hilang di balik pepohonan yang terkena sedikit cahaya.

Aku melihat rambut putih panjang sekilas. Bukankah itu Inuyasha? Aku ingin memastikan apa yang kulihat itu memang Inuyasha atau justru Sesshomaru. Jika Inuyasha, apa yang ia lakukan di sini? Apa ia sedang mencariku? Akan tetapi, jika ia mencariku bukankah hanya dengan aromaku sudah cukup? Atau ia tak bisa membedakan aromaku dengan aroma Kikyo yang berada di sampingnya setelah kejadian yang melukai perutku saat itu? Apakah ia rancu untuk membedakan aromaku? Namun, jika itu Sesshomaru, apa yang ia lakukan di sini? Apa ia memburuku sebagai umpan untuk menghabisi Inuyasha? Tidak. Itu tidak mungkin. Walaupun ia bersikap dingin di luar, sebenarnya ia hangat. Aku ingat benar dengan pertemuan pertama kami saat aku baru saja memasuki era feodal di musim gugur. Saat aku baru saja selesai memanjat dan berjalan di sekitar sumur pemakan tulang itu, aku melihatnya menebas seekor kupu-kupu yang sedang lewat di depan wajahnya. Akan tetapi, setelah melihat sikapnya kemarin aku rasa dia tidaklah sepenuhnya dingin, adakalanya ia bersikap sangat hangat. Jika tidak, bagaimana bisa ia membopongku bukan meninggalkanku dibawah hujan malam itu?

Aku terkejut dengan apa yang baru saja kulihat dibalik pohon yang kini menutupi tubuhku. Tapi, kurasa keterkejutanku takkan mengganggu mereka. Aku berharap yang kulihat bukanlah Inuyasha, tapi Sesshomaru. Tapi, nyatanya aku salah. Yang kulihat adalah Inuyasha yang sedang bersama Kikyo. Aku sedikit mengintip dan mencuri dengar tentang apa yang mereka katakan. Inuyasha dan Kikyo? Kenapa bukan Sesshomaru dan Kikyo? Apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi selama aku tidak berada di dekat Inuyasha?

"Aku tidak peduli dengan bagaimana perasaanmu padaku. Aku takkan membiarkan Naraku memiliki dirimu. Hanya aku yang bisa melindungimu dari Naraku." Ucap Inuyasha. Ia memeluk Kikyo dengan paksa. Aku tak mengerti apa yang terjadi, bagaimana bisa mereka seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi selama aku tak berada di sini?

"Apa-apaan kau ini?! Apa kau sudah gila? Lepaskan aku!" Kikyo meronta pada Inuyasha dan berusaha melepaskan pelukan Inuyasha. Inuyasha memeluknya lebih erat.

Pada akhirnya Kikyo kalah. Ia melunak dalam pelukan hangat Inuyasha. Pelukan Inuyasha yang selama ini ia rindukan, ia berpelukan dengan seseorang yangg ia rindukan selama ini. Aku tahu bagaimana perasaannya.

Kikyo pasti sangat merindukan sosok Inuyasha. Lima puluh tahun yang lalu setelah ia menyegel Inuyasha pada pohon suci, ia terpaksa membuat permohonan pada shikon no tama untuk menghindari Naraku. Hanya dengan menyegel Inuyasha-lah ia bisa menyelamatkan nyawa Inuyasha. Itulah yang ia katakan padaku saat itu. Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Inuyasha ia melakukan itu, bahkan ia menggunakan shikon no tama untuk kepentingan pribadinya. Aku tak mengerti dengan jalan pikiran Kikyo. Hanya Inuyasha yang mampu memahaminya.

Setelah lama berpelukan, Inuyasha melepaskan pelukannya secara perlahan. menempatkan kedua telapak tangan pada wajah Kikyo. Merasakan suhu tubuh wanita itu mengalir pada telapak tangannya. Mata keduanya meredup, tetapi pandangan mereka hanya menunjukkan cinta dan kasih. Jarak wajah keduanya hanya terpaut beberapa sentimeter saja. Bukannya mencoba untuk menjauhkan wajahnya, sebaliknya, Inuyasha berusaha mendekatkan wajahnya pada wajah Kikyo.

Awalnya dia hanya memberikan ciuman-ciuman kecil pada wajah dan bibir mungil Kikyo. Tapi, kemudian Inuyasha berusaha memberikan sapuan lembut pada bibir itu. Ia tak memperhatikan apapun yang berada di sekitarnya. Bahkan ia tak bisa merasakan kehadiranku yang berada di balik pohon. Ia tak bisa mencium aromaku. Aroma Kikyo terasa lebih kuat di hidungnya itu.

Brukk

Tas ranselku terjatuh. Aku tak ingin menyita perhatian Inuyasha yang tengah bermesaraan dengan seseorang yang ia rindukan selama ini. Aku pergi dengan perlahan-lahan dengan langkah kaki yang begitu pelan supaya tak menimbulkan efek suara yang bisa membangunkan Inuyasha dari kisah romansanya bersama Kikyo. Aku hanya ingin pergi, aku tidak ingin mengganggunya. Bagaimana mungkin aku mengganggunya? Aku tak ingin menghalangi kisah mereka. Aku tahu bahwa aku mempunyai rasa pada Inuyasha, tapi aku rasa tidak tepat jika aku mengganggu kisahnya bersama orang yang sungguh ia cinta. Aku hanya ingin dia mencintaiku seutuhnya, sama dengan aku yang tidak menginginkan orang lain mengganggu kisah kami.

Aku terus berjalan perlahan tanpa memperhatikan apapun yang berada di depanku. Bahkan jika ada pohon yang tertabrak olehku. Aku berharap seseorang tak ada yang menemukanku dan membiarkan aku terluka parah. Tanpa terasa buliran air mataku mulai jatuh. Seperti benteng yang terbuat dari es yang akan hancur saat matahari menerpanya. Aku rasa akan lebih baik jika aku tadi tidak pergi meninggalkan Rin sendirian. Seandainya aku tidak meninggalkan Rin yang terlampau bahagia saat bersamaku. Aku masih mengingat bagaimana ia menyukai ramen yang kumasakkan untuknya, bagaimana ia memberikan ikan bakar dengan porsi yang besar untukku karena aku masih sakit, bahkan ia tidur dalam pelukanku. Aku masih ingat dengan jelas semua itu. Seandainya aku tak pernah hadir pada zaman feodal. Seandainya...

Brukk

Aku menabrak seseorang. Aku bisa merasakan bahwa aku menabarak seseorang karena aku berjalan dengan menunduk. Aku hanya ingin menyembunyikan tangisanku agar —siapapun itu tidak bisa melihatnya. Aku terus menunduk. Namun, aku bisa merasakan perutku yang terluka kembali sakit dan aku bisa mencium bau anyir. Seseorang yang kutabrak tidak beranjak dari posisinya, ia tetap berdiri mematung —mungkin ia mengamatiku. Aku mendongak untuk melihat siapa yang kutabrak dengan tatapanku yang penuh air mata.