The Wall

.

.

.

.

.

Park Chanyeol x Byun Baekhyun

Chapter II

.

.

.

.

.

Tahun berlalu begitu cepat.

Tanpa terasa, sudah empat kali Baekhyun melewati Natal di Korea, bersama ayah dan ibunya. Ia pun bukan lagi bocah miskin berusia lima belas tahun. Kini, ia si pemuda manis pewaris korporasi Byun, salah satu kerajaan properti di Negeri Gingseng.

Namun, tidak banyak yang tahu soal dirinya. Baekhyun benar-benar menutup diri. Pribadinya berubah. Senyum manis khas anak kecil itu tidak lagi mudah ditemukan di wajahnya. Byun Baekhyun adalah si dingin yang tidak mudah diraih, putra cantik dari si cantik Byun Hyesun.

"Tuan Muda."

Baekhyun menghentikan langkahnya yang akan masuk ke dalam mobil mazda merah yang akan membawanya ke universitas. Dahinya berkerut saat menemukan Cho Kyuhyun, orang kepercayaan ayahnya, telah berdiri di belakang tubuhnya.

"Ya, Hyung?" Baekhyun menutup kembali pintu mobil yang sempat dibukanya. "Ada apa? Kau menemukan sesuatu."

Kyuhyun mengangguk. "Sepertinya, aku tahu kemana mereka pindah, Tuan."

"Benarkah?" Kedua bola mata Baekhyun berbinar, walau parasnya tetaplah datar. "Dimana?"

"Aku akan menjelaskannya lebih jauh sore ini. Tuan Muda punya waktu?"

Baekhyun berpikir sesaat. "Aku ada waktu makn siang nanti. Di restoran biasa?"

"Bisa, Tuan Muda. Aku akan menunggu disana."

"Baiklah." Baekhyun mengangguk dan membuka kembali pintu mobilnya. "Aku harus ke universitas. Sampai jumpa siang nanti."

.

.

.

Krystal Jung memutar bola matanya malas. Pagi masih riuh di universitas. Dirinya pun baru saja sampai. Gadis cantik itu menatap malas sebuah mobil hitam elegan yang menghalangi jalannya. Tangannya bersidekap.

"Chanyeol oppa!" bentaknya. "Ya! Turunlah! Sebenarnya kau mau apa?!"

Suara klik disusul debum pelan membuat gadis itu mendengus. Sosok pria tinggi dengan jas dan kacamata hitam turun dari kendaraan itu dan berjalan ke hadapannya. Krystal mendongak, menantang.

"Ck." Chanyeol membuka kacamatanya. "Ayo ikut aku."

Krystal tetap pada tempatnya, menolak saat tangan Chanyeol mencoba meraihnya. "Aku tidak mau!"

"Kau harus."

"Kenapa?!"

Chanyeol menghela nafas. "Aku akan bilang pada bibi Jung kalau putri kesayangannya bolos kuliah demi konser boyband, tahun lalu."

"Oke." Krystal berdecih. "Aku ikut."

"Pilihan bagus."

Gadis itu kembali mendengus. Kaki semampainya ia langkahkan ke samping mobil. Baru saja pintu mobil terbuka, Krystal berjengit. Sebuah mobil lain, berwarna merah hati, memotong tajam belokan di sebelahnya, dan langsung berlalu masuk ke dalam parkir universitas.

"Astaga!" Krystal menepuk dadanya. "Anak itu."

Dahi Chanyeol berkerut. "Siapa dia?"

"Si manis dari fakultas bisnis." Krystal mengangkat kedua bahunya. "Pewaris Byun. Byun Baekhyun."

Bibir Chanyeol merengut tak peduli. "Masuklah. Aku tidak ingin membuang waktu."

.

.

.

"Kau tidak percaya?"

Minhyuk menghela nafas entah untuk keberapa kalinya sejak mereka keluar dari kelas mereka. Baekhyun, berjalan di sampingnya sambil terus berceloteh.

"Mungkin itu saudaranya, Baek."

Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar. "Kau benar-benar masih percaya padanya? Krystal itu pernah selingkuh darimu, tahu."

"Sudahlah, Baek." Sehun, yang berjalan di belakang mereka bersama Kyungsoo, menepuk pundak Baekhyun. "Kau tahu bagaimana tuan muda ini mencintai si putri Jung."

Minhyuk tertawa pelan. "Kau berlebihan."

"Lagipula," Kyungsoo menyahut dan melirik Baekhyun. "Daripada kau marah tidak jelas dan bertindak sebagai ibu kami, ada baiknya kau mencari pasangan juga, Baek."

"Kenapa harus?" Dahi Baekhyun berkerut. "Aku tidak mau Kyungsoo sendirian saat Minhyuk dan Sehun berkencan. Bukankah aku teman yang baik?"

Sehun tertawa keras. "Sebagai informasi, Tuan Byun, burung hantu kita ini resmi dilamar Kim Jongin tadi malam."

"Tidak mungkin." Mata sipit Baekhyun melebar. "Kim Jongin yang komposer? SM Entertainment?"

"Yap." Minhyuk ikut menjentikkan jarinya. "Tuan muda Kim itu."

Tawa terus berderai dari empat orang itu, mengiringi langkah mereka menuju parkir universitas. Keempatnya begitu terkenal, F4 dari fakultas bisnis, para pewaris tampan yang jadi idola.

Kang Minhyuk dan Oh Sehun adalah saudara sepupu. Keduanya dipersiapkan menduduki kursi teratas perusahaan multinasional keluarga mereka. Dari keempatnya, mereka terkaya. Saham dan penghasilan bersih mereka menduduki posisi kedua, tepat dibawah Park Enterprises.

Kyungsoo sendiri terkenal dengan si kecil yang sarkatis. Satansoo, Devilsoo, dan burung hantu adalah panggilan yang kerap disematkan padanya. Pemuda Do ini putra kedua dari pengacara dan desainer terkenal. Butik ibunya tersebar di seluruh Korea.

Baekhyun yang terunik. Tidak banyak yang tahu jika dia adalah putra kaya yang baru ditemukan, kecuali tiga orang temannya ini. Korporasi Byun bergerak di bidang properti. Perusahaan yang dirintis kakek Baekhyun juga terkenal dengan sikap dermawannya.

"Baek, lihatlah."

Baekhyun baru saja menempelkan pantatnya pada kafetaria universitas mereka saat Kyungsoo menunjuk arah belakangnya dengan dagu. Pemuda itu menoleh, lalu mendengus halus.

"Astaga."

Minhyuk terkikik. "Dia sepertinya sangat menyukaimu, Baek."

"Itu ajaib, bukan?" Sehun menyahut. "Ada orang yang menyukai Baekhyun, si dingin yang cerewet."

Baekhyun menghela nafasnya. "Diamlah."

"Terima saja, Baek." Minhyuk tertawa geli. "Dia sepupu Krystal."

"Aku tidak peduli." sahut Baekhyun. Sebuah langkah membuatnya menoleh. "Ya ampun."

Sebuah kekehan kecil terdengar setelahnya. Figur tinggi seorang pria dengan rambut coklat menghampiri mereka. Senyumnya lebar, sesuai dengan bibirnya yang tebal, tapi dalam proporsi yang pas.

"Siang, Baekhyunie."

Ketiga orang lainnya menahan tawa. Baekhyun sendiri kini menunduk, melihat menu, enggan menatap si empu. "Ya, siang."

"Daehyun-ah." Kyungsoo menyahut. "Kudengar kau habis liburan? Tidak ada oleh-oleh?"

"Ah- sebentar." Daehyun —pria tinggi itu— merogoh paper bag dan mengeluarkan sebuah kotak berlapis kertas kado pink dan pita. "Untukmu."

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya saat tangan Daehyun terjulur dengan sebuah kotak— warna apa itu?

Pemuda itu menghela nafas, lagi. "Tidak perlu, Daehyun-ah. Terima kasih."

"Kenapa?" Daehyun tertawa pelan. "Ambillah. Itu kubeli khusus di Cannes. Suaranya diiringi rekaman suara ombak."

Baekhyun benar-benar tak mengerti dengan pria ini. Sejak awal, si tampan Jung Daehyun memang kerap mencari cara untuk mendapat perhatiannya. Pemuda itu terang-terangan berkata ia menyukai Baekhyun, walau dirinya sendiri selalu menolak dan menjauh selama dua tahun ini.

"Daehyun—"

"Sudahlah." Sehun mengambil kotak itu dan menaruhnya di hadapan Baekhyun. "Taruh disini saja, ya. Dia sedang dalam mood yang tidak baik, Daehyun-ah. Harap maklum."

Daehyun tersenyum tipis. "Ah, tidak masalah. Aku juga terburu-buru. Sampai jumpa, Baekhyunie."

Baekhyun tidak membalas. Pemuda itu berdecak, lalu menggeser kotak di hadapannya, ke arah Kyungsoo.

"Untukmu saja."

Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya. "Well, aku—"

"Aku harus pergi." Baekhyun merapikan buku dan menenteng ranselnya. "Kyuhyun hyung sudah menungguku."

"Tidak makan dulu?" sahut Minhyuk.

"Kalian saja." Baekhyun melambai pada tiga temannya. "Sampai jumpa."

.

.

.

"Jadi, kau bahkan belum menemukannya?"

Krystal menatap tak percaya sambil mengunyah irisan daging steak favoritnya. Didepannya, Chanyeol menghela nafas.

"Belum." Ia mendengus. "Atau tidak. Entah lah. Aku semakin stress."

"Apa paman dan bibi masih memaksamu menikah?"

"Semakin parah." Chanyeol tertawa pelan dan mengunyah kentang gorengnya. "Aku hampir tiga puluh tahun. Dan ini sudah tahun keempat."

Krystal menatapnya prihatin. "Aku benar-benar tidak tahu harus membantu apa lagi."

Chanyeol terkekeh. Empat tahun yang lalu, saat sang ayah memintanya menikah, Chanyeol begitu percaya diri. Bayangan bocah yang disetubuhinya di hari terakhir di Peru, membuatnya tak bisa lagi berfikir. Chanyeol bahkan masih mengingat wajahnya, bibir menggiurkan, paha proporsional dan lubang ketat yang luar biasa.

Karena itu, sebulan setelahnya, Chanyeol menyuruh sang orang kepercayaan, Shim Changmin mencari yang bersangkutan. Berbekal ingatan wajah yang dijadikan sketsa, pria cerdas itu menyusuri Casuarinas. Hasilnya, nihil.

Enam bulan tanpa kepastian, membuat Chanyeol menyuruh Changmin memperluas wilayah sampai ke ibukota. Tapi, tetap saja. Tidak ada yang mengenalnya. Sampai suatu hari, Shim Changmin yang cerdas menemukan sebuah lubang di dinding pembatas. Pria tinggi itu menyebrang ke wilayah Vista Hermosa dan mendapat setitik informasi. Anak itu adalah anak sebuah panti yang diangkat sebuah keluarga di Korea. Panti itu sendiri, sudah hilang dan rata oleh tanah, karena penggusuran. Sampai sekarang, apapun tentang anak itu adalah misteri.

"Seharusnya lebih mudah jika dia ada di Korea."

"Aku sudah mencarinya ke seluruh panti asuhan." Chanyeol menimpali. "Tapi tidak ada wajah yang sesuai."

Krystal mengangguk. "Ke sekolah? Universitas?"

"Changmin hyung juga sibuk di perusahaan. Aku tidak bia sembarangan menyewa detektif demi nama perusahaan."

"Aku mengerti."

Suara 'kling' pada pintu kafe tempat mereka makan serasa berdenting. Krystal mendongak dan melambaikan tangannya heboh saat melihat siapa yang datang.

"Daehyun! Kesini!"

Pria tampan yang dipanggilnya itu berjalan cepat menuju meja mereka. "Maaf, aku terlambat. Ada urusan sedikit tadi."

Krystal berdecak. "Baekhyun lagi, kan?"

"Baekhyun?"

"Ah, Hyung." Daehyun mengusap tengkuknya tak enak saat melihat Chanyeol. "Aku selalu lupa kau disini juga—aw!"

Sebuah jitakan sendok mendarat di kepala Daehyun. Chanyeol mendengus.

"Byun Baekhyun." timpal Krystal. "Anak yang memakai mobil merah tadi. Itu incaran Jung Daehyun saat ini."

Chanyeol tertawa mengejek. "Kau bisa serius juga?"

"Ya!" Daehyun membentak sedikit. "Tentu saja. Aku pria setia jika kau tahu."

"Cih. Baekhyun bahkan menolakmu."

"Itu karena dia gengsi."

Chanyeol mendesah kesal. "Sudahlah. Pesan makananmu. Dan hentikan pembicaraan soal Byun-Byun itu."

.

.

.

Baekhyun mengunyah Enchilada yang sudah dipesannya. Sesekali, ia melihat jalanan yang ramai dari jendela besar di sisi duduknya. Kyuhyun agak terlambat. Jadi, dia harus menunggu lebih lama.

"Tuan Muda."

Kyuhyun datang dengan sedikit berlari. Nafasnya terengah-engah saat ia duduk di hadapan Baekhyun.

"Minumlah dulu, Hyung." Baekhyun menyerahkan jus jeruk yang sudah dipesannya ke hadapan Kyuhyun. "Appa ada rapat besar lagi?"

Kyuhyun mengangguk sambil menegak jusnya. "Rapat sejak pagi dengan investor. Tapi, saat ini beliau sedang makan siang dengan pemimpin Park Enterprises. Aku meminta izin kesini."

"Ah." Baekhyun mengangguk paham. "Jadi, bagaimana?"

"Oh, soal itu." Kyuhyun mengeluarkan lipatan kertas dari balik jas-nya dan memberikannya pada Baekhyun. "Aku hampir yakin mereka ada di New York."

Dahi Baekhyun berkerut saat melihat apa yang ada dibalik kertas itu. Sebuah foto berwarna yang menampilkan sekelompok anak SMA berfoto di sebuah taman.

"Aku tidak mengerti."

"Itu foto satu tahun yang lalu yang kuambil dari sebuah instagram salah satu murid SMA di New York." Jemari Kyuhyun menunjuk satu objek. "Kau lihat pohon ini?"

Mata Baekhyun mengikuti arah telunjuk Kyuhyun. Ia berfokus pada pohon rindang yang berada jauh di belakang para siswa SMA itu. Dibawah pohon itu, ada sekolompok anak lain, kira-kira empat orang, duduk tenang.

"Maksudmu anak-anak itu?" tanya Baekhyun.

"Tepat sekali." Kyuhyun mengeluarkan selembar kertas lain dari balik jasnya. "Aku memperbesar ukuran dan resolusi foto itu, dan menambah fokus pada anak-anak dibawah pohon itu. Lihatlah. Kau akan terkejut."

Tangan Baekhyun bergerak pelan mengambil kertas yang dipegang Kyuhyun. Ia membukanya perlahan, dan pekikan kaget terdengar setelahnya.

Kyuhyun tersenyum. "Bagaimana? Kau mengenalnya?"

Baekhyun mengangguk denga wajah sedih, sambil meraba foto di kertas itu. "Cecilia.."

"Ya." Kyuhyun berdehem. "Itu berarti setahun yang lalu, mereka ada disana. Tapi, tim-ku tidak berhasil menemukan Cecilia. Sekolah yang kami selidiki berkata, gadis itu tidak melanjutkan sekolah di yayasan mereka selepas sekolah dasar, tahun lalu."

"Mereka pindah?"

"Kurang lebih seperti itu, Tuan Muda."

"Tapi.." Baekhyun bergumam kecil. "Bagaimana jika Cecilia pindah bersama keluarga angkatnya? Bukan dengan Michele?"

"Aku sudah menyelidikinya. Wali yang terdaftar sebelumnya masih nama Michele."

"Begitu.."

Kyuhyun mengangguk. "Untuk saat ini, hanya itu yang baru aku temukan. Jika tim pencari sudah ada kabar, aku akan memberi tahu Tuan Muda."

Baekhyun mengangguk dan tersenyum tipis. "Terimakasih, Hyung. Kau yang terbaik. Omong-omong, ayo, makanlah dulu."

.

.

.

"Aku bahkan lupa kapan terakhir kita minum kopi seperti ini tanpa berbicara soal bisnis."

Byun Jaehyun tertawa kecil saat seniornya, Park Yoochun, bergurau di siang santai mereka. Ia menaruh gelas kopi yang baru di seruputnya di meja.

"Aku pikir, senior telah melupakanku."

Yoochun tertawa dan berdecih. "Junior kurang ajar. Harusnya kau yang sering - sering mengajak pria tua sepertiku mengobrol."

Jaehyun semakin tertawa. "Aku sering menanyakan keadaanmu pada Yoora saat ada rapat bersama. Maafkan aku. Kapan-kapan, kita atur makan malam bersama."

"Santai saja, Jaehyun-ah." Yoochun mengibaskan tangannya, tersenyum. "Omong-omong, apa kabar Hyesun?"

"Dia baik. Kafenya agak ramai belakangan ini. Bagaimana dengan Junsu Noona?"

"Kau seperti tidak tahu saja." Yoochun berdecak. "Dia masih mengharapkan seorang menantu dari putra bungsunya yang betah sendiri."

Jaehyun tertawa kecil. "Jangan terlalu dipaksa. Anak laki-laki tidak suka dipaksa."

"Tidak, Jaehyun-ah. Batas kesabaranku sudah habis." Yoochun menyesap kembali kopinya. "Ini sudah tahun keempat sejak dia berjanji membawa seseorang. Aku akan menjodohkannya."

"Aku tahu soal hubungan perjodohan yang gagal dengan keluarga Jung." Jaehyun meringis. "Sudah kubilang, pilihlah orang yang benar-benar kau percaya."

"Ya, tentu saja." Yoochun tersenyum dan menatap misterius pada Jaehyun. "Itu sebabnya, aku mengundangmu makan siang bersama hari ini."

.

.

.

Park Yoora memasuki ruangan ayahnya dengan bingung. Seorang anak lelaki kecil berusia hampir lima tahun yang berada disampingnya ikut mengerucutkan bibirnya, tidak mengerti.

"Eomma.." Anak itu sedikit berdecak. "Mana harabeoji?"

Yoora menghela nafasnya dan mengelus lembut rambut putranya. "Eomma juga tidak tahu, sayang."

"CEO Park?"

Yoora menoleh dan mendapati seorang pria muda tersenyum dan memberi bungkukan sopan padanya.

"Ah, Luhan." Yoora tersenyum. "Apa Ayahku menitip pesan?"

Luhan, pria itu, menggeleng pelan. "Tidak ada pesan, Nona."

Yoora berdecak. "Haish."

"Eomma. Manse mau main sama harabeoji.."

Yoora kembali mengelus kepala anaknya. "Apa dia bilang dia akan kemana?"

"Ya." Luhan mengangguk. "Beliau menemui presdir Byun."

"Apa?"

"Presdir Byun, Nona. Byun Jaehyun."

Yoora berdecak, menatap gemas Luhan. "Ya, kalau itu, aku juga tahu."

Luhan menunduk malu dan meminta maaf. Sementara itu, Yoora terdiam, berfikir.

"Jadi.. Appa benar-benar melakukan rencananya? Aih.."

Luhan menatap Yoora bingung. Laki-laki itu mengerutkan bibirnya, tak mengerti.

.

.

.

Chanyeol bersiul sambil berjalan dan menatap hasil foto dalam kameranya. Sesekali ia tersenyum saat beberapa momen unik tertangkap. Misalnya saja, momen Krystal menjambak Daehyun.

Langkahnya berhenti didepan pintu bernomor 614, nomor apartemennya. Bunyi klik terdengar saat ia menggesek kartu masuknya. Apartemennya begitu sepi, tentu saja. Dia masih hidup sendiri. Tangannya merayap dan menyalakan saklar, dan disaat itu juga, Chanyeol memekik kaget.

"Astaga!"

"Apa?"

"Appa!"

Ya, benar. Tuan Park Yoochun, ayahnya, sedang duduk di tengah ruangan, bersidekap dengan wajah galak, menunggu sang anak dalam kegelapan. Chanyeol tergagap. Ia melangkah mendekat dan duduk di kursi di hadapan sang ayah.

"Bagaimana appa bisa disini? Maksudku—"

"Jadi, aku tidak boleh kesini?"

Chanyeol mendesah lelah. "Bukan begitu."

"Kau harusnya berterimakasih. Aku membatalkan janji dengan cucuku untuk kemari."

"Ya, ya. Terima kasih." sahut Chanyeol sarkatis.

"Dimana dia?"

"Siapa?"

Yoochun berdecak. "Orang yang kau janjikan untuk kau bawa."

"Tapi, appa, kau tahu—"

"Ini sudah empat tahun. Batasku sudah habis."

"Appa.."

"Appa sudah merencanakan perjodohanmu."

Mata Chanyeol membulat, menatap ayahnya tak percaya. "Ya! Aku akan mencarinya. Appa, kau tahu kan aku benci perjodohan?"

"Tidak ada lagi alasan." Yoochun bangkit dan merapikan jasnya. "Kau harus segera memegang perusahaan. Noonamu hamil lagi. Tanggung jawab ada padamu selanjutnya."

"Tapi, aku sudah bilang aku tidak suka wanita!"

Yoochun mengangkat satu alisnya. "Memang aku bilang kalau calonmu adalah wanita?"

"...Apa?"

"Datanglah makan malam di Restoran biasa, lusa nanti." Yoochun mulai berjalan kearah pintu dan berhenti sejenak. "Oh, ya, ada undangan pesta pertunangan dari keluarga Kim besok malam. Kau datanglah sebagai wakil Park Entreprises. Undangan sudah kutaruh di mejamu."

Chanyeol masih terduduk kaku, melongo dan tidak siap dengan apa yang didengarnya. Mata bulatnya menatap undangan emas di meja nakas di ujung ruangan. Pria itu menghela nafas kasar dan mengacak rambutnya.

"Argh!"

.

.

.

Keesokan harinya, di pagi yang sama, Kyungsoo membawa tiga buah undangan emas dan membagikan pada karibnya. Ketiganya melongo, memandang bergantian antara Kyungsoo dan undangan di tangan mereka.

"Tunggu." Minhyuk lebih dulu menyahut. "Kau mengadakan pesta hari ini dan baru memberi undangan hari ini juga?"

Kyungsoo mendesah. "Sebenarnya, tidak pernah ada rencana pesta. Orangtua kami memutuskannya sepihak kemarin siang."

"Ah, yang benar saja." Sehun mendesah. "Irene ada kelas menari sampai malam. Aku tidak bisa mengajaknya."

Minhyuk ikut cemberut. "Krystal juga punya jadwal full. Lagipula, kami belum memilih baju."

Baekhyun mendesah. Ia membuka undangan itu dan membacanya perlahan. Disana tertulis nama Kim Jongin dan Do Kyungsoo, tersulam dalam benang berkilau. Ini jelas pesta pertunangan yang megah.

"Kyungsoo." gumam Baekhyun dengan dahi berkerut saat membaca sebuah kalimat. "Ini pesta topeng?"

Kyungsoo mengangguk kecil, dan tersenyum dengan wajah bersalah. "Itu juga ide orangtua kami."

"Ya!" Sehun dan Minhyuk berteriak bersamaan.

"Tapi, kalau mendadak tidak banyak yang datang, bukan?" sahut Baekhyun.

"Ya. Hanya beberapa kolega dekat yang diundang. Appaku mengundang Park Entreprises dan mengkonfirmasi pewaris mereka yang akan datang."

"Woah." Bibir Sehun membuat. "Maksudmu Park Chanyeol?"

Kyungsoo mengangguk.

"Aku dengar, CEO Park saat ini tengah mengandung anak kedua. Gosip berkembang, hak waris Chanyeol akan benar-benar aktif tahun ini."

"Aku juga dengar itu." Kyungsoo menyahut semangat. "Selepas kabar burung soal gagalnya pengikatan keluarga Park dan Jung, Chanyeol bagai menghilang. Tanda dia hidup hanya foto-fotonya di galeri seni."

"Tunggu, Tunggu." Baekhyun memegang kepalanya, bingung. "Chanyeol dan Jung? Maksudmu—"

"Hei, pewaris Byun." Sehun merangkul Baekhyun. "Kau benar-benar harus datang ke pesta ini agar tetap update."

Baekhyun berdecih. "Maksudmu update bergosip?"

"Ck, anak anjing." Minhyuk menjitak pelan kepala Baekhyun, membuat kata 'aww' terlepas dari bibirnya. "Gosip itu penting dalam dunia bisnis. Kau harus lebih sering praktek. Masuklah ke perusahaanmu, Baek. Ayahmu pasti akan senang."

Baekhyun memutar bola matanya malas. "Aku belum siap."

"Dua tahun lagi kita lulus." timpal Sehun. "Aku dan Minhyuk sudah mulai menopang perusahaan. Kau butuh mempelajarinya dulu."

"Seingatku," Baekhyun menatap malas keduanya. "Aku bertanya soal Chanyeol dan Jung."

"Bukan Jung tapi Jessica."

"Ya, Jessica Jung." Baekhyun mendengus. "Apapun."

"Lima tahun yang lalu, ada perjodohan hebat antara Chanyeol dan Jessica. Tapi, saat pertemuan, Chanyeol justru pergi, menolak semuanya. Keluarga Jung merasa sedikit sakit hati. Tapi, mereka hanya bisa diam. Park Enterprises terlalu hebat."

"Itu kurang ajar."

Minhyuk mengangguk. "Memang. Tapi, setahun kemudian ia kembali. Kris Wu, yang menemukannya, dan berhasil membuat Chanyeol berdamai dengan keluarga Jung."

"Kris Wu.." Baekhyun bergumam. "Yang istrinya model itu bukan?"

"Huang Zitao?" sahut Sehun. "Ya, benar."

"Jika Chanyeol datang, berarti siap-siap pestamu akan jadi ajang pamer dada para wanita haus pria berkuasa." Minhyuk memukul pundak Kyungsoo pelan. "Itu akan hebat!"

Baekhyun memutar bola matanya malas. Ia melirik arlojinya sesaat. Kelas mereka akan dimulai lima belas menit lagi. Pemuda mungil itu beranjak, menenteng tasnya.

"Aku ke kelas duluan."

Ketiga yang lain hanya saling menatap dan menganguk. Kyungsoo bergumam heran.

"Dia kenapa?"

.

.

.

Malam itu, dengan topeng ungu muda dan hiasan pita emas di sekitarnya, Baekhyun berjalan memasuki hall pesta. Sesuai dugaan, dia benar-benar seperti anak hilang saat ini. Nafasnya berhembus kesal. Kaki kecil itu melangkah menuju sebuah meja berlapis kain merah jambu, dan mengambil beberapa kue untuk dikunyahnya.

"Minum, Tuan?"

Seorang pelayan dengan baki penuh dengan gelas tinggi berisi wine datang menghampiri Baekhyun. Pemuda itu tersenyum tipis dan mengambil segelas untuk disesapnya.

"Terima kasih."

Menit berlalu dan Baekhyun masih disana, asik mengemil kue-kue manis yang disajikan. Wine-nya sudah diminum hingga lima puluh persen. Baekhyun tidak terlalu sempurna dalam menahan mabuk. Ia menyesapnya sedikit demi sedikit.

"Oi, Byun."

Baekhyun menoleh. Masih dengan mulut penuh kue, dahinya berkerut saat melihat Sehun ditemani seorang wanita cantik bergaun merah, yang bukan Irene, kekasih sebenarnya.

"Mana Irene?" si Byun tidak memberi jeda, memicing pada sang sahabat.

"Makanya, datang lebih awal atau buka chat grup." Sehun memutar bola matanya malas. "Aku dan Irene berakhir. Ia selingkuh selama ini."

Mata Baekhyun membulat. "Bagaimana—?"

"Sudahlah." Pria Oh itu mengibaskan tangannya. "Aku akan ke lantai dansa. Nikmati pestamu. Gandeng pria atau wanita yang ada disini."

Baekhyun berdecak. "Aku tidak seperti kau."

"Ya. Terserah saja." Sehun menyeringai lebar. "Aku pergi dulu."

Seiring dengan itu, langkah Sehun makin menjauh, meninggalkan si mungil yang menatapnya malas. Baekhyun meneguk lagi wine-nya, lalu terbatuk kecil saat tenggorokannya menerima terlalu banyak cairan.

"Aku harus pulang."

Baekhyun pun menaruh gelas itu sembarangan di meja. Sambil berjalan, ia mengedipkan matanya berkali-kali, mencoba untuk menahan mabuknya. Kakinya membawanya menuju selasar panjang, yang terhubung pada sebuah taman luas. Baekhyun berdecak.

"Aku salah pintu."

Pemuda itu menimbang untuk kembali ke dalam dan keluar lewat pintu depan atau berjalan memutar melewati taman dan langsung ke gerbang. Baekhyun menghela nafasnya. Pada akhirnya, ia melanjutkan langkahnya, kearah kiri taman.

"Ngh.."

Baekhyun berhenti mendadak. Suara aneh menghampiri telinganya. Matanya mencoba fokus, melihat ke sekeliling. Tidak ada apapun. Apa dia salah dengar?

"Ohh mmh.."

Tidak. Ia tidak salah dengar. Baekhyun pun melanjutkan langkahnya, berderap pelan sambil terus menajamkan telinganya. Suara itu terdengar makin keras. Langkahnya berhenti di sebuah tembok putih, dengan sebuah gang buntu kecil dibalik pohon kecil. Baekhyun merapatkan tubuhnya ke dinding. Kepalanya ia tolehkan hati-hati, mencoba melihat apa yang terjadi di gang itu.

Crap.

Baekhyun menahan nafasnya. Dalam kegelapan remang, ia masih bisa mengetahui apa yang kedua insan itu lakukan. Si wanita—yang terpojok di dinding gang—terus-terusan mendesah selagi pria dihadapannya menghujam lubangnya keras-keras. Baekhyun menutup mulutnya dan mundur perlahan.

'Krek'

Astaga.

Nafas Baekhyun serasa berhenti saat kakinya menginjak sebuah ranting, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Kedua insan di gang itu berhenti bergerak.

"Siapa disana?!"

Gawat, batin Baekhyun. Matanya membulat panik. Kakinya serasa gemetar saat mendengar derap langkah yang semakin mendekat kearahnya, dari arah gang. Dalam kepanikan itu, tubuhnya serasa melayang, tertarik ke belakang dan dengan cepat masuk ke sela dinding yang lebih dalam, diantara kungkungan seorang pria. Derap langkah di luar dinding melewati posisinya, berhenti sesaat dan kembali lagi.

"Jangan bergerak."

Baekhyun menurut. Pria di hadapannya menyelamatkan wajah memalukannya. Baekhyun melirik keatas—karena demi Tuhan—pria itu sebelas senti lebih tinggi darinya. Setengah wajah pria itu ditutupi topeng kuning emas, tapi setengah wajah yang lainnya sudah terlihat tampan.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Suara berat pria itu membuat Baekhyun menelan ludah. Ia kembali mendongak, dan mendapatkan mata pria tinggi itu tengah menatap tepat kearah netranya. Baekhyun tertegun. Mata bulat itu begitu dalam, seolah menyedotnya kedalam pusaran memabukkan.

"A-aku—"

"Tunggu."

Baekhyun kembali terdiam. Tangan pria itu kini bergerak, melepas topeng yang menutupi separuh wajah indah si mungil. Baekhyun tidak menolak. Ia merasa mabuk membuat pikirannya tak terbaca.

Sementara, pria tinggi itu—Chanyeol—membulatkan matanya kaku. Saat topeng Baekhyun terlepas, rasa geli menyenangkan dalam perutnya berebut masuk. Ia tidak pernah lupa wajah itu. Mata seperti anak anjing dengan pipi putih yang menggemaskan, juga bibir tipis menggoda yang pernah dikecupnya.

Anak itu—bocah yang selama empat tahun dicarinya.

Chanyeol tersenyum tipis. Ia meraba lembut pipi halus itu. Baekhyun memejamkan matanya, menikmati sentuhan. Chanyeol tertegun. Tangannya kini bergerak ke kepala belakang Baekhyun, menariknya pelan. Wajah Chanyeol mendekat. Aroma strawberry menghampiri penciumannya.

Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Saat wajah pria itu mendekat, nafasnya memendek. Bibir tebal si pria bahkan kini menjajah lembut bibirnya. Kaki Baekhyun melemas,kedua tangannya refleks memegang lengan Chanyeol, mencegah dirinya jatuh.

Ciuman itu berlangsung manis. Chanyeol begitu menikmatinya. Rasa bibir bocah ini tidak berubah, bahkan semakin luar biasa setelah empat tahun. Bibirnya semakin jauh mengecap rasa manis itu.

Baekhyun sendiri semakin lemas. Efek mabuk membuatnya berubah menjadi bukan dirinya. Ciuman Chanyeol sangat memabukkan. Kepalanya pening, beragam gambar menyeruak masuk kedalam memorinya. Baekhyun melihat dirinya dan pria tinggi yang merebut harga dirinya dulu, menciumi dan menikmati tubuhnya secara paksa. Tubuh Baekhyun menegang. Saat lidah Chanyeol mulai menjilat belahan bibirnya, Baekhyun berubah gemetar. Ia mendorong keras pria tinggi itu, membuat si empu kaget dan menabrak dinding di belakangnya.

"Hei—"

"Tidak, jangan.." Mata Baekhyun bergerak liar. Tubuhnya keluar dari tempat itu dan bergerak mundur. "Kumohon maafkan aku.. maafkan aku.."

Chanyeol menatap bingung dan berusaha mendekatinya. "T-tunggu, hei, kau kenapa.."

"Jangan mendekat.." Baekhyun mulai menangis, walau matanya masih bergerak kosong. Ia terus bergerak mundur, menjauhi Chanyeol. "Maafkan aku.."

Pemuda mungil itu kemudian berlari, ketakutan. Chanyeol terdiam, membiarkan siluet kecil itu semakin menjauh dari pandangannya. Pria itu menghela nafas. Ada apa dengan bocah itu?

Lihatlah, Park Chanyeol. Kau benar-benar pria tua yang tidak peka.

.

.

.

Keesokan malamnya, Hyesun dibuat bingung dengan putra semata wayangnya. Baekhyun hanya diam setelah kembali dari pesta tadi malam. Saat Hyesun dan Jaehyun mengajaknya ke undangan makan malam pun si mungil hanya mengangguk. Tidak merajuk seperti biasanya.

Ketiganya, Keluarga Byun, sudah menunggu di salah satu ruangan VIP di sebuah restoran Italia. Baekhyun tidak tahu restoran itu. Masakan Italia tidak terlalu nyaman di mulutnya. Ia pun hanya meminum jus-nya sedari tadi.

"Baekhyunie."

Hyesun memanggilnya pelan, dan tersenyum saat mendapati anaknya menoleh. Wanita keibuan itu mengelus surai coklat halus milik sang putra.

"Ya, eomma?"

Jaehyun melihat tatapan istri dan anaknya dengan senyum yang mengembang. Ia yakin keputusannya tidaklah salah. Baekhyun adalah pewaris satu-satunya Korporasi Byun. Mau dicegah bagaimana pun, anak manis harus menggantikan posisinya suatu saat nanti.

"Eomma ingin bertanya.." Nada suara Hyesun berubah serius, walau tetap halus. "..apa pendapat Baekhyunie soal perusahaan?"

Baekhyun tertegun. Ia berdehem sebentar. Otaknya memutar ulang omongan Minhyuk dan Sehun dua hari yang lalu. "Eomma.. ingin aku belajar di perusahaan ?"

"Itu akan terjadi, tentu saja." Hyesun mengangguk sambil tersenyum. "Hanya saja, eomma tidak akan memaksa, jika Baekhyunie masih belum menyukai perusahaan."

"Bu-bukan.." Baekhyun menggeleng keras. "Aku menyukai perusahaan, kok. Hanya saja, aku tidak percaya diri."

"Eomma mengerti. Appa dan eomma juga sangat mencintai perusahaan. Karena itu, kami selalu menginginkan yang terbaik. Termasuk untuk dirimu, pewaris utamanya."

Baekhyun hanya diam. Sejujurnya, ia tidak mengerti kearah mana pembicaraan ibunya berakhir. Ayahnya berdehem kecil, membuat Baekhyun mengalihkan atensi padanya.

"Baekhyunie." Jaehyun tersenyum. "Percayalah, kami selalu mengusahakan yang terbaik untukmu."

Sekejap setelah kalimat ayahnya, seorang pelayan membuka pintu ruangan itu dan membungkuk sopan. Derap langkah lainnya terdengar. Saat pelayan itu memundurkan dirinya, figur lelaki dan wanita paruh baya terlihat oleh Baekhyun. Ayah dan ibunya langsung berdiri, tersenyum dan memberi salam.

"Kau datang, senior."

"Tentu saja." Pria paruh baya itu berdecak jenaka. "Dan panggil aku hyung saja. Aku selalu merasa tujuh tahun lebih tua saat kau memanggilku senior."

Jaehyun tertawa, begitupun Hyesun. Wanita paruh baya disamping pria itu menolehkan kepalanya, menatap Baekhyun dengan senyum yang terkembang.

"Apa ini Baekhyun?"

Atensi ketiga orang lainnya beralih pada si wanita. Hyesun tersenyum dan mengelus kepala Baekhyun.

"Benar, Junsu unnie. Ini Baekhyun, anak kami."

Junsu—wanita itu—memekik pelan. "Astaga, dia manis sekali jika dilihat langsung."

Pipi putih Baekhyun merona halus. Ia menundukkan kepalanya. Jaehyun tertawa kecil.

"Lalu, dimana putra kebanggaan itu?"

Si pria paruh baya—Yoochun—menyeringai kecil. "Dia sudah disini. Mobilnya terparkir di belakang."

Baekhyun sama sekali tidak mengerti apa yang para orangtua itu bicarakan. Ia masih menunduk dan sesekali tersenyum saat mata Junsu menatapnya penuh binar. Ah, Junsu benar-benar melihatnya seperti anak anjing yang lucu.

"Maaf, aku terlambat."

Suara berat dan derap langkah terburu-buru menyeruak masuk, mengalihkan atensi mereka. Baekhyun mendongak, dan matanya langsung terbuka lebar. Figur pria tinggi dengan coat hitam elegan baru saja masuk, dan berdiri di samping Yoochun. Baekhyun mengepalkan tangannya. Dia tentu tahu siapa pria itu. Baekhyun tidak pernah lupa.

Pria itu, pria yang menidurinya, empat tahun yang lalu.

"Nah, sudah datang." Yoochun menarik pria tinggi itu mendekat kearahnya. "Perkenalkan, putra kami, Park Chanyeol."

Tubuh Baekhyun hampir limbung. Tidak mungkin. Apa dia salah dengar? Park Chanyeol? Pria yang menidurinya adalah Park Chanyeol?

"Nah, karena Chanyeol sudah datang.." Junsu mengusap tangannya dengan wajah berbinar. "..apa kita bisa melanjutkan pembicaraan soal pernikahan mereka?"

Baekhyun terkesiap. "Apa? Pernikahan?"

Agaknya, atensi Chanyeol berbalik pada si mungil. Matanya melebar sesaat, tapi kemudian tergantikan dengan senyuman entah apa, Baekhyun tidak bisa menerkanya. Sedangkan, Baekhyun mendongak, terkunci pada mata menawan sang pria. Chanyeol tersenyum semakin lebar.

Kita bertemu lagi.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

*Author's Note*

Halo, kalian semua. Ini dia chapter dua si tembok. Uhuy. Terimakasih yang udah fav, follow dan review ya. Mohon dukungannya untuk si tembok. /bow bareng vivi/

Ada yang mabok sama chanbaek belakangan ini? Kesel deh, mari kasih mereka aprosidiak dan kurung dikamar. /woi

Udah, ah, selamat membaca~

Regards,

Purf.