A/N: Seperti yang dijanjikan, dalam waktu yang relatif singkat luna bisa apdet cerita yang ini. Entah bakal sampai berapa chapter untuk fandom (yang niatnya mau dibikin pendek) ini. Semoga bisa selesai sebelum luna apdet cerita lainya XD (kalo nggak, bisa stress nih, menyelesaikan semuanya T_T)

Dsiclaimer: Oda-chi adalah bapak kandung One Piece dan para karakternya, luna cuma pinjem karakternya buat main.

Warning: mungkin sama saja dengan chapter sebelumnya. Yang jelas AU, bahasa kasar, dan kekerasan, lalu ada hints pairing baik het maupun shounen ai… yang lainya mungkin sambil jalan saja dicermati…

Oya, tak lupa makasih yang sebesar-besarnya pada beta Luna: ShinomoriNaomi-chan ^__^



The Meaning of a Family

Bagian 2

Begitulah…

Apanya yang begitulah? Yah, bisa dibilang kehidupan Sanji dan keluarganya setelah insiden terakhir di perkenalan antara dia-ayahnya dengan calon ibunya dan calon adiknya.

Meskipun dengan perasaan harap-harap cemas, akhirnya Zeff dan Jessica tetap melangsungkan pernikahan. Walaupun pernikahanya tidak terlalu mewah, hanya mengundang kerabat dekat—yang bagi Sanji dan Zeff mungkin hampir tidak ada—, para staf Baratie yang bekerja di bawah Zeff dan sedikit rekan-rekanya, rekan-rekan Jessica, dan teman-teman akrab Sanji—artinya ya, geng Topi Jerami plus beberapa wanita yang dikencani Sanji. Zeff dan Jessica tampak bahagia di pernikahan itu.

Melihat tamu-tamu yang datang, Sanji sempat heran karena teman-teman Zoro 'yang seusia' tak ada yang hadir. Di dekatnya hanya ada seorang paman berambut hitam lurus panjang dan berkacamata. Wajah paman itu terlihat lembut dan baik hati, tapi Sanji tak menggubrisnya karena sebetulnya ada yang lebih membuat Sanji terpukau daripada hal itu.

Si marimo sialan itu… sangat cocok memakai pakaian resmi!

Sanji benar-benar tak habis pikir. Memangnya ada keajaiban macam itu? Orang yang punya sifat sejelek itu kenapa bisa sekeren itu dengan hem putih berdasi hijau tua yang ditimpa jas hitam dan celana panjang kain hitam? Bentuk badannya itu lho, yang membuat iri para lelaki dan membuat semua mata wanita tertuju ke arahnya! Lagipula anting dan dandanan rambutnya menimbulkan kesan liar yang kerap disukai para wanita—dan mungkin dikagumi para pria.

Sudah begitu, ketika mengantar Jessica ke pelaminan untuk diserahkan kepada Zeff, Zoro menunjukan wajah yang begitu kalem dan cool, ditambah lagi dia memandang Jessica dengan sangat lembut, membuat semua tamu pernikahan itu (termasuk Sanji) menyadari betapa Zoro sayang pada ibunya. Semua wanita seakan meleleh sambil berkomentar "Aww~," saat melihat adegan Zoro memeluk ibunya sebelum menyerahkan tangan sang ibu ke sang (calon) ayah.

Sanji bisa melihat Zoro menatap Zeff dengan yakin, sekaligus seolah memperingatkan kalau sampai dia melukai ibunya, mungkin Zeff bakal diburunya sampai ke ujung neraka sekalipun. Zeff dengan yakin menerima amanat dan peringatan itu dengan sepenuh hati dan mengikrar sumpah di hadapan Tuhan dan Zoro kalau dia akan membahagiakan Jessica dengan sebaik-baiknya.

Lalu upacara pun dilanjutkan ke resepsi pernikahan. Sanji berkumpul dengan teman-teman gengnya, sementara Zeff dan Jessica berbincang dengan tamu-tamu mereka. Lagi-lagi Sanji menyalakan rokoknya dan mulai menghisap nikotin untuk bersantai.

"Bisa-bisanya merokok di saat seperti ini," kata Nami yang memakai gaun panjang kuning dengan tampang sebal. Ia memakai hiasan bunga matahari keemasan di rambutnya yang sedikit digelung.

"Wah, maaf Nami-san, tapi kalau tidak begini, aku tak bisa tenang," kata Sanji sambil tersenyum manis pada Nami.

"Yah, sudahlah… toh kau sendiri yang rugi," kata Nami menghela nafas, tak mau peduli lagi.

"Tapi," tiba-tiba Vivi yang ada di samping Nami—dengan gaun biru tua dan hiasan bunga mawar merah di rambut yang dibiarkan tergerai di punggungnya—ikut berkata, "-putra Jessica-san itu, lho! Keren sekali, ya~!" Vivi terpesona dengan wajah sedikit memerah. Sanji kontan merasa sebal saat mendengar remark yang paling tak ingin diakuinya soal adik tirinya itu. "Namanya Zoro, ya? Orangnya seperti apa ya, Sanji-san?" tanya Vivi dengan pandangan penuh harap pada Sanji.

"Uh~, aku belum terlalu kenal dia sih…," kata Sanji mencoba menghindar.

Aku tak bisa mengecewakan harapan Vivi-chan dengan mengatakan kalau marimo kurang ajar itu antisosial dan tak ramah, juga orang super tak sopan dengan perangai kasar! Maaf, Vivi-chan~!—pikir Sanji merasa sangat menyesal, menoleh ke arah lain supaya wajah menangisnya tak terlihat oleh Vivi dan Nami.

Namun, bukan Nami namanya kalau tak bisa membaca gelagat aneh Sanji meskipun kadang-kadang caranya membaca itu sangat salah. Nami menyeringai kecil. "Haha…," katanya seperti baru saja mendapat ilham melihat tingkah Sanji yang agak tak wajar itu.

"Ada apa, Nami?" tanya Vivi heran, melihat wajah Nami yang super licik itu.

"Sepertinya Tuan Sanji merasa tersaingi, ya?" jawab Nami sambil tersenyum meyakinkan. Sanji kelihatan kaget.

"Eh?" tanya Sanji sembari melihat ke arah Nami dengan wajah tak paham.

"Fufu, tentu saja. Lelaki yang bakal jadi adikmu itu nanti kan, akan tinggal seatap juga denganmu. Kalau beruntung, mungkin dia akan pindah sekolah ke sekolah kita juga. Terus… para gadis yang melihatnya bakal berkerumun seperti semut mengerumuni gula, ya? Wah, wah… Sanji-kun, terancam rupanya?" kata Nami seolah sudah membaca semuanya.

Sanji sampai tak sanggup berkata apa-apa saking herannya dia dengan kebiasaan Nami yang membaca terlalu jauh. Dia merasa terancam oleh si Marimo? Yang benar saja! Dengan sifat sejelek itu, jangankan wanita, teman lelaki pun akan menjauh dari lumut usang itu! Sanji tak usah melakukan apa-apa pun, si Marimo pasti bakal jatuh dengan sendirinya.

Hanya saja… sepertinya Sanji tak bisa membiarkan hal itu…sayang sekali ya? Soalnya dia harus membuktikan pada pak tua sial itu kalau dia juga bisa menjadi seorang kakak! Bagaimana pun caranya, Sanji tak akan mau mengalah! Memang dia suka main dan suka wanita, tapi dia paling tak suka diremehkan. Nilai-nilai pelajaran dan olah raganya sudah oke, lalu dia juga supel serta populer, tapi si pak tua sial itu masih saja suka mengritiknya dan meminta lebih darinya.

Khh! Memikirkanya saja sudah membuatku naik darah! Awas saja! Mau macan, mau serigala, silakan datang ke sini! Pasti bisa kubuat bertekuk lutut di bawah kakiku! Si marimo itu bakal kubuat jadi brother complex kalau perlu!—tekad Sanji bulat-bulat dalam hati secara tiba-tiba, mulai bersemangat dan berapi-api, membuat Nami dan Vivi yang melihat perubahan ekspresi dan gelagat Sanji menjauh beberapa langkah.

"Kenapa sih, dia?" bisik Nami bertanya dengan wajah aneh dan waspada.

"Mungkin sakit perut?" tebak Vivi dengan wajah agak cemas.

Zoro yang sedang berbincang ringan dengan paman berwajah baik itu melirik ke arah Sanji dan tanpa sengaja bertemu pandang. Sanji melihatnya dengan tatapan yakin dan Zoro langsung menyeringai kecil bagai tengah menantang duel.

Sialan! Aku tak akan kalah dari si Marimo itu!—tekad Sanji makin bulat.

OoooZxSoooO

Kemudian…dimulailah kehidupan keluarga baru Sanji. Dimulai dari hal yang paling dasar, kebiasaan kedua belah pihak—ayah dan ibu—berubah secara cepat dalam semalam.

Kehebohan di pagi hari yang biasa dilakukan Sanji dan Zeff saat memasak makan pagi, entah kenapa tidak terdengar pada pagi hari pertama setelah pernikahan Zeff dan Jessica.

Sanji secara jujur… merasa kaget.

"Selamat pagi, Sanji. Sarapan sebentar lagi siap. Duduk saja dulu di kursi," sapa Jessica sambil tersenyum. Wanita yang menjadi ibu baru Sanji itu memakai apron biru dengan tulisan 'Kiss the Cook' di bagian dada, yang biasa dipakai Sanji untuk memasak, untuk melindungi blous abu-abunya. Sementara penggorengan ada di tangan kirinya.

Selama beberapa detik, Sanji cuma bisa berdiri terpaku di depan pintu dapur. Rasanya… ada sesuatu yang aneh, tapi dia tak bisa memikirkan apa yang aneh itu.

"Minggir. Menghalangi jalan, tahu." Tiba-tiba muncul suara dari belakang Sanji yang membuat si pirang bermata biru itu terperanjat.

"A—!" Sanji hampir saja berteriak ke arah suara tak sopan yang dikenalnya sebagai suara si marimo kurang ajar berdarah hijau itu, tapi dia ingat tekadnya saat di resepsi pernikahan, jadi ia menahan diri meskipun pembuluh darah bermunculan di kepala dan wajahnya. "Oh, Zoro… sori," katanya berat hati, agak menggerutu, tapi menyingkir juga dari jalan masuk.

Zoro, dengan ekspresi tak peduli, langsung masuk ke dapur tanpa mengucapkan salam pada Sanji. Rasanya pembuluh-pembuluh di kepala, wajah, dan leher Sanji bakal meledak sepersekian detik lagi dengan ketidaksopanan adiknya itu. Sanji mengepalkan tanganya kuat-kuat untuk menahan diri.

"Tunggu, Zoro. Seharusnya kau tak boleh begitu. Ucapkan salam selamat pagimu dengan benar pada Sanji," perintah ibunya sambil bertolak pinggang dan cemberut pada anaknya yang baru saja duduk dengan ekspresi dinginnya itu.

"Eeh, aku kan sudah menyuruhnya minggir dari pintu," kata Zoro dengan wajah keberatan.

"Makanya, itu bukan salam yang benar! Kau tak boleh begitu pada kakakmu!" omel ibunya, sebal.

Zoro mengerutkan alis matanya dan menghela nafas. "Merepotkan saja," desahnya agak sebal. Lalu dia melihat ke arah Sanji lagi dan membuka mulutnya. "Selamat pagi," katanya datar.

Malah makin menyebalkaaan!—pikir Sanji ingin segera menendang kepala Marimo brengsek itu.

"Pa-pagi, Zoro," sapa Sanji balik sambil memaksakan diri tersenyum untuk menyembunyikan amarahnya. Lalu Sanji pun masuk ke dapur untuk bergabung sarapan pagi. "Lho, si pak tua ke mana?" tanya Sanji agak heran karena ayahnya belum muncul juga meski jam makan pagi baru saja lewat. Biasanya ia tak pernah terlambat untuk hal semacam ini.

"Fufufu, masih tidur tuh. Entah kenapa Zeff bilang ingin sarapan di tempat tidur saja," kata Jessica sambil terkikik pelan, menyentuh pipi kirinya dengan tangan halusnya.

Wajah Sanji langsung merah padam mendengarnya. Zoro hanya berdehem pelan seperti sedang menahan tawa dan melanjutkan makan paginya dengan tenang dan cool.

Iya, ya… kan pengantin baru...— Sanji berpikir, masih memerah, tapi dia sudah melanjutkan makan paginya.

Lalu dia juga teringat akan hal lain. "Oya, Zoro, katanya akan pindah ke SMA Grand Line?" tanya Sanji mencoba mengajak bicara adiknya dengan normal.

"Hn," respon Zoro tanpa menoleh ke arah Sanji.

'Hn' itu maksudnya apa, sih? Iya atau tidak?—pikir Sanji dengan tampang aneh.

"Jadi… maksudnya 'iya', kan?" tanya Sanji memastikan.

"Kalau sudah tahu, jangan tanya," balas Zoro masih tak menggubrisnya.

Bocah iniii! Benar-benar tak ada lucu-lucunya!—pikir Sanji mulai emosi lagi. Ya sudah! Begitu saja seumur hidup, Marimo dungu! Lumut tak berguna! Karang laut bodoh!—maki-maki Sanji dalam batinnya sambil melotot berapi-api ke arah Zoro.

"Jangan menatapku dengan 'panas' begitu. Kau homo ya?" kata Zoro dengan pandangan jijik, membuat Jessica meneyemburkan minumannya karena kaget dan Sanji….

Sudah…

"Tunggu, Zoro! Bicara apa kamu!? Ayo minta maaf pada Sanji!" teriak Jessica marah dengan komentar Zoro barusan dan Sanji….

Batasnya…

Sanji tak sanggup lagi mengontrol emosinya dan melayanglah tendangan khas Sanji yang dengan mudah dielakkan oleh Zoro. Dia kan atlet kendo, tentu bisa mengelak sabetan pedang… eeh… maksudnya sabetan kaki Sanji dengan cepat.

"Kalau itu tak benar, Kau tak usah marah dong, Kak?" Zoro lagi-lagi menyeringai menantang.

"Awas, kau!" amuk Sanji murka. Lalu akhirnya, meledaklah pertengkaran kakak-adik pertama Sanji dan Zoro di rumah mereka… di dapur pula.

Atau lebih tepatnya, pertarungan mempertaruhkan harga diri.

Sanji benar-benar tak tahan dengan marimo satu ini dan dia sendiri tak paham kenapa. Segalanya yang ada pada diri Zoro meneriakkan kalimat 'Kau menyebalkaaan!' ke arah Sanji dan dia benar-benar tak suka itu. Sanji sudah mencoba bersabar, tapi kesabaran juga ada batasnya. Apalagi fitnah barusan…!

"Punya mulut itu dijaga! Dasar Marimo sial!" teriak Sanji sangat kesal sembari menyerang Zoro dengan semua ilmu tendangan yang dia miliki, tapi keberuntungan belum berpihak padanya karena Zoro bisa mengelak atau menangkis semua itu.

Zoro diam saja, tapi matanya sudah menajam, memperhatikan, dan membaca segala gerak otot Sanji. Sepertinya dia menanggapi serangan Sanji dengan serius.

"Tunggu! Hentikan, kalian berdua!" teriak Jessica cemas, tapi karena baik Sanji dan Zoro tak ada yang memperhatikan—sibuk berkelahi sendiri—, tiba-tiba Jessica merasa kesal. "Kubilang… HENTIKAN! Dengar tidak, sih!?"

Lalu tiba-tiba garpu-garpu dan pisau-pisau beterbangan ke arah Zoro dan Sanji yang tepat mengenai lengan baju Zoro dan kerah seragam Sanji, lalu menarik mereka menancap di tembok.

Zoro dan Sanji sangat terkejut dengan hal itu. Wajah mereka memucat melihat garpu dan pisau-pisau itu menancap sangat dekat dengan kulit mereka. Saat mereka melihat ke arah Jessica, wanita anggun dan lembut bagai Venus itu sekarang memasang wajah seperti preman. Air muka Sanji dan Zoro tambah pucat kalau memang bisa.

"Kalian… kalian pikir sedang melakukan apa dan dimana, hah!? Bocah-bocah dungu!?" teriak Jessica dengan bahasa yang kasar dan keras, yang kontan menancapkan pasak kayu ke jantung Sanji.

Jessica-san… bahasanya!Sanji hampir menangis mendengarnya.

"Aah, keluar deh, sifat aslinya," kata Zoro sambil menghela nafas panjang dan menutup wajahnya dengan tangan yang bebas.

"Hah?"Jessica melotot ke arah Zoro dengan mata lasernya yang kontan membuat si anak mengangkat kedua tangannya ke samping wajahnya, tanda dia tak akan melawan.

"Jessica-san…." Sanji sudah menangis sekarang, benar-benar takut. Mengetahui sisi tersembunyi yang menakutkan dari ibu tirinya bukan rencana Sanji sih.

Melihat wajah Sanji, tiba-tiba Jessica tersadar. "Hah, aduh! Apa yang sudah kulakukan?!" katanya kaget. "Sanji, kau tak apa-apa?" kata Jessica cemas sambil melepaskan garpu dan pisau dari pakaian Sanji.

Saat melihat adegan Jessica mencemaskan dan mencoba menenangkan Sanji, tiba-tiba Zoro memalingkan wajahnya dengan ekspresi aneh. Dia melepas garpu dan pisau dari lengan bajunya, membebaskan dirinya sendiri dari tembok. Lalu ia meletakanya peralatan makan tersebut di meja.

"Sanji, kau tidak terluka, kan? Maaf ya, aku memang jadi lepas kontrol kalau marah. Aduh… jadi mengagetkan Sanji begini. Maaf ya, Sanji," kata Jessica benar-benar menyesal pada Sanji yang terduduk lemas di lantai sambil bersandar di tembok.

"Ha, hahaha," tawa Sanji dengan wajah cemas sambil berkeringat dingin. "A-aku tak apa-apa kok… cuma kaget…."

Se-seram sekali! Akan kuingat baik-baik kalau tak boleh membuat Jessica-san marah…!—Sanji mengukir catatan itu baik-baik di kepalanya dan bersumpah tak akan lupa selamanya.

Lalu dia melihat Zoro mengambil tas sekolahnya dari kursi dengan ekspresi yang agak aneh. Dia seperti… kesal?

"Oi, Marimo, mau kemana?" panggil Sanji.

Zoro agak tersentak dan Jessica juga menoleh ke arahnya. "Tunggu, Zoro! Kau belum minta maaf pada Sanji!" kata Jessica sambil berdiri, mencoba menasihati anaknya yang benar-benar sudah keterlaluan tadi.

Zoro tak menoleh ke arah mereka, dan dengan kata-kata singkat, "Ke sekolah," ia meninggalkan dapur dengan tenang.

"Zoro!!" Jessica masih mencoba memanggilnya, tapi Zoro sudah keluar dari dapur dan tak kembali lagi. "Dasar…!" Jessica berdecak sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan karena aktivitas berlebihan barusan.

Lho…?—Sanji merasa ada sesuatu yang aneh lagi melihat pemandangan itu. Apa ya…? Kenapa… baru saja rasanya… dadaku jadi sesak…?—pikir Sanji benar-benar heran sekarang sambil menyentuh dan mencengkeram seragam di dadanya.

"Maaf ya, Sanji," kata Jessica sambil menghela nafas lemas dan membantu Sanji berdiri. Kemudian mereka duduk di kursi. Sanji ingin mengatakan sesuatu, tapi keburu dipotong. "Tolong maafkan sikap Zoro barusan," kata Jessica sambil tersenyum sedih. "Sikapnya padamu memang agak keterlaluan, tapi dia tak punya maksud jahat, kok. Zoro itu… cuma sedikit merajuk," katanya sambil bersemu merah.

"Eh?" Sanji sama sekali tak mengira kata-kata itu yang akan dia dengar. "Me-merajuk?" tanyanya dengan tampang aneh tak percaya.

Marimo itu?—pikir Sanji benar-benar merasa aneh mendengar kata Zoro dan merajuk ada dalam satu kalimat, benar-benar tidak cocok soalnya.

"Benar… karena lama terbiasa sendirian, dia jadi tak suka berbagi dengan orang lain," kata Jessica masih dengan wajah memerah malu. "Mungkin memang terdengar aneh, tapi dia cukup sensitif untuk hal-hal yang personal. Mungkin… dia merasa Sanji merebut perhatianku darinya," kata Jessica sambil tersenyum sedih.

Ah…!—tiba-tiba Sanji tersadar. Jadi begitu…. benar juga… dia dan aku kan, berada dalam situasi yang sama, ya?—pikir Sanji tiba-tiba merasa lucu sendiri. Lain denganku yang bisa berkata dengan tegas kalau aku tak suka berbagi, Zoro yang tak pandai mengungkapkan perasaanya mencoba protes dengan berlaku seperti anak kecil.

Sanji tertawa pelan, membuat Jessica melihatnya dengan heran. "Sanji?" panggilnya cemas. Jangan-jangan kepalanya terbentur.

"Ah, maaf… baru saja aku berpikir kalau ternyata, dia lucu juga," kata Sanji masih sambil terkekeh pelan. "Yah… memang dia itu orang yang sulit, ya?" kata Sanji merasa agak percaya diri sekarang, lalu dia berdiri.

"Sanji?" tanya Jessica sambil menatap Sanji dengan wajah tak paham.

"Aku juga harus ke sekolah, kan? Lagian, mungkin si marimo akan tersesat karena tak tahu jalan ke sekolah baru," kata Sanji sambil meringis senang.

Jessicatersenyum mendengarnya. "Bekal makan siangnya sudah kusiapkan, lho. Tolong bawakan bagian Zoro juga," kata Jessica dengan wajah senang. Sanji mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol ke ibunya dengan wajah ceria.

"Oya, Jessica-san," kata Sanji sebelum berangkat di depan pintu rumah sambil memanggul tasnya. "Aku akan bilang pada ayah untuk membelikan apron baru untukmu," kata Sanji.

"Eh, kenapa? Apa yang ini aneh kupakai?" tanya Jessica agak cemas kalau penampilannya jadi memalukan dengan apron itu.

"Bukan, apron itu… apron yang biasa kupakai…," kata Sanji agak canggung. Jessica menatapnya dengan tak paham. "Umm… sebelum Jessica-san masuk ke rumah, akulah yang bertugas memasak pagi hari, dan apron itu yang sering kupakai, jadi… aku merasa sedikit cemas saat melihatmu memasak dengan apron itu pagi ini…."

Aku merasa… peranku di rumah ini jadi hilang karena direbut olehmu….

Sanji menutup mata dan mulutnya dengan wajah memerah setelah mengakui bahwa dirinya juga tak suka berbagi tentang sesuatu yang personal. Jessica hanya menutup mulutnya dengan terkejut, lalu segera minta maaf. Namun, kemudian dia tersenyum dan memeluk Sanji.

"Aku senang kau mau jujur padaku, Sanji. Memang seharusnya begitu. Seorang anak tidak boleh menahan perasaannya terhadap orang tuanya," Jessica melihat Sanji dengan tatapan lembut seorang ibu. "Mungkin… kalau ada di dekatmu, anak itu juga bisa jadi lebih jujur ya?" katanya dengan wajah penuh harap.

"Aku sedang mencoba menjadi kakak yang baik, kok, Jessica-san," kata Sanji senang.

"Kalau begitu, jangan menahan diri juga pada Zoro, ya? Hubungan kakak-adik yang sebenarnya itu lebih keras lho! Kalau memang marah, lakukan saja seperti tadi! Berkelahi dan tumpahkan unek-unekmu padanya, lalu baikan lagi, oke?" kata Jessica menjadi bersemangat.

"Hahaha, asalkan Jessica-san tidak marah lagi seperti tadi, sih," kata Sanji sambil tertawa salah tingkah.

"Oke, tapi jangan berkelahi di dalam rumah ya, soalnya merusak barang. Itu yang aku tak mau kalian lakukan tadi," kata Jessica sambil tersenyum lebar.

I—, ibu yang hebat…!—pikir Sanji kagum.

"Kalau begitu aku berangkat dulu ya, Jessica-san," kata Sanji sambil melambaikan tangan pada Jessica.

"Hati-hati di jalan!" balas Jessica balas melambai dengan senang. Lalu dia menghela nafas panjang setelah Sanji menghilang di tikungan. "Kakak yang baik, ya…. Mungkin memang bisa, ya?" Jessica tersenyum dan masuk lagi ke rumah sambil bersenandung senang.

OoooZxSoooO

"Choppiii!" seorang wanita berambut abu-abu kebiruan panjang tiba-tiba muncul dari belakang Chopper yang tengah membaca buku kedokteran dan memeluknya dengan gemas.

"Gyaaa! Porche-san! Tolong jangan mengagetkanku begitu!" teriak Chopper kaget, sampai menjatuhkan buku teks Fisiologi Manusia karangan Guyton itu dari tangannya.

"Aww~, Choppi, jangan belajar terus~. Ayo main sebentar~," kata Porche sok imut, mencoba menggoda Chopper dengan keseksianya.

"Eh~, ini kan sedang jam pelajaran?" kata Chopper saat melihat ke papan tulis. Sepertinya gurunya sudah memiliki imun tersendiri sehingga tidak berteriak ataupun menangis lagi dengan pemandangan itu. "Lagipula… Porche-san kan kelas II! Kenapa ada di kelasku, sih!?" protes Chopper mencoba melepaskan diri dari pelukan Porche yang mulai mencekiknya itu. Mana dia pakai parfum aneh lagi, membuat Chopper pusing. Begitu-begitu, hidung Chopper sangat sensitif karena dia harus bisa mengenali jenis tanaman yang dapat dijadikan obat atau tanaman beracun dari baunya saja.

"Eh~, habis pelajarannya membosankan sih~. Porche lebih senang main sama Choppi daripada belajar~," kata Porche sok polos.

"Jangan begitu! Sekolah tempat buat belajar, kan? Lepas dong! Sesak nih!" berontak Chopper sedikit lebih keras. "Dan bawa kembali teman-teman kelas II di belakangmu itu ke kelas mereka sendiri!" tambah Chopper sambil menunjuk beberapa anak perempuan kelas II yang sekelompok dengan Porche, atau lebih tepatnya diperbudak olehnya.

"Kyaaa, Choppi marah, lucunyaaa!" pelukan Porche malah makin erat, membuat Chopper tercekik.

"Se-seseorang~, tolong aku~~!" hampir saja Chopper kehabisan nafas sampai tiba-tiba beberapa anak perempuan merebut Chopper dari dekapan Porche.

"Tunggu, Porche-senpai! Dia sudah bilang kalau nggak mau, kan!?" protes salah seorang anak perempuan.

"Hah?" Porche melihat ke arah anak perempuan berambut cokelat itu dengan wajah sebal.

"Apis benar! Chopper bilang dia tidak suka dipeluk-peluk begitu, Porche-senpai! Jangan ngelunjak dong, mentang-mentang kelas II…! Kembali ke kelasmu sendiri sana!" Anak-anak perempuan lain ikut berteriak kesal dan mencoba mengusir Porche dari kelas mereka.

"Apa katamu, bocah-bocah bau kencur!?" Kelompok Porche juga mulai merasa sangat sebal, dan sudah siap meladeni mereka semua kalau mereka mau berkelahi. Pak guru mulai panik dan anak-anak lelaki mulai memberi semangat pada para gadis yang akan mulai berkelahi. Chopper sudah berusaha menghentikan mereka, tapi situasi tambah memanas saja dan hampir saja pertempuran antara anak perempuan kelas Chopper dengan kelompok Porche pecah, tapi suara pintu geser dibuka tiba-tiba membuat semua orang terkejut dan terdiam.

Semua mata tertuju ke pintu dan seseorang melangkah masuk. "Umm…ini kelas 1-D…kan?" tanya lelaki berambut hijau dan berseragam putih hitam itu dengan heran dan tidak yakin sembari melihat kejadian di hadapanya itu.

Memangnya di jam pelajaran semua siswa berdiri, ya? Gurunya pun kelihatan mau menangis….—pikir Zoro mencoba tanpa ekspresi, tapi sepertinya dia memang cukup kaget.

"S-siapa ya?" Pak guru yang tadi terlihat akan menangis membetulkan kaca matanya yang melorot dan melihat ke arah Zoro dengan tatapan heran.

"Aah, saya Roronoa Zoro yang mulai masuk hari ini," kata Zoro dengan wajah tampak kalem.

Ooh, Roronoa Zoro yang kemarin!—Chopper langsung ingat saat mendengar nama Zoro.

Luffy, Nami, Usopp, dan Vivi terus membicarakan adik baru Sanji yang katanya sangat keren sehabis pesta kemarin. Sayang sekali, Chopper tidak bisa datang karena dia harus membantu di klinik dokter Rin, nenek yang sudah Chopper anggap sebagai ibunya sendiri. Dia terus penasaran dengan seperti apa Zoro itu, dan sekarang dia melihatnya! Memang benar, Zoro terlihat sangat keren!

"Ah, Roronoa-kun, ya? Aku ingat Pak Kepala bilang ada murid baru di kelasku… Ng, kenapa terlambat datang? Ini sudah jam kelima, lho," tanya gurunya mulai bersikap seperti guru pada umumnya.

"Aah, ada banyak hal yang harus dibereskan di rumah tadi…," kata Zoro berbohong. Sebenarnya tadi dia tersesat dan baru ketemu sekolah ini beberapa menit lalu. Dia bahkan belum ke ruang kepala sekolah dan langsung mengikuti jadwal yang kemarin sudah diterimanya dari Sanji yang –entah apa maksudnya—sudah berbaik hati mengambilkannya.

"Yah, karena ini hari pertama, tidak apa-apa, deh…," kata gurunya sambil membetulkan kaca matanya lagi. Lalu dia menoleh ke arah murid-muridnya lagi dan memasang tampang aneh saat melihat wajah dan mata para gadis di kelas itu yang sudah berwarna merah jambu dengan background hati dan bunga-bunga beterbangan di sekeliling mereka. Para lelaki pun kelihatan kagum melihat wajah dan tubuh Zoro.

Pak guru berdehem pelan. "Umm… mulai hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Roronoa Zoro, silakan perkenalkan dirimu," kata pak guru sedikit berwibawa.

"Halo," katanya singkat. Lalu dia tak mengatakan apa-apa lagi hingga suasanannya menjadi aneh.

"Eeh… itu saja?" tanya gurunya dengan wajah salah tingkah.

Zoro menoleh ke arah gurunya dengan wajah heran. "Kau ingin aku bicara apa memangnya? Mereka sudah tahu namaku, kan?" tanyanya aneh.

"Yah… misalnya hobimu, yang kau suka atau tak suka?" kata gurunya pelan dengan wajah heran juga.

"Hobi… tidur dan kendo, yang kusuka… kendo, pedang, yang tak aku suka… banyak," kata Zoro sambil mencoba berpikir.

A… ANEH!—pikir semua orang di kelas itu kecuali Chopper yang memandangnya dengan mata berbinar-binar.

"Itu saja?" tanya Zoro lagi.

"Yah, sudah cukup, kau boleh duduk," kata gurunya dengan air mata berlinang. "Ng… tempat yang kosong…?"

"Ya! Pak guru!" Chopper langsung mengangkat tangan dengan semangat. "Sebelahku kosong! Bisa dipakai!" katanya agak terpatah-patah saking semangatnya.

"Ah, baiklah… di sebelah Chopper saja kalau begitu," kata si guru sambil menunjuk meja kosong di samping Chopper. Zoro melihat tempat itu juga dan mengangguk. Lalu ia berjalan ke arah kursinya.

Saat itu ada yang coba mengusilinya dengan menjulurkan kakinya keluar meja supaya Zoro terjegal, tapi Chopper melihat hal itu dan berdiri. "Hei—!" belum sempat Chopper mengomel, Zoro sudah menginjak kaki anak itu dengan 'keras.' Anak lelaki itu langsung meraung kesakitan, sampai jatuh dari kursinya sendiri. Sedangkan Zoro, tanpa merubah roman mukanya, dia duduk di kursi meja samping Chopper dengan tenang.

"Huh, bocah," gumam Zoro pelan dengan ekspresi yang sangat cool di mata Chopper.

Ke… KEREEEN! Ini dia lelaki sejati! Adik Sanji memang hebat!—pikir Chopper dengan mata berbinar-binar. Sepertinya dia mendapat idola baru selain Luffy dan Sanji.

Diperhatikan seperti itu, tentu Zoro mengetahuinya. Ia menoleh ke arah Chopper. "Apa?" tanyanya heran.

"T-tak apa-apa, kok! Sa-salam kenal ya, Zoro! Aku Tony. Tony. Chopper, panggil saja Chopper!" kata Chopper memperkenalkan diri dengan wajah memerah malu karena tertangkap basah sedang memperhatikan Zoro.

"Hn," Zoro menatapnya sebentar dan menangguk, tapi cuma itu. Lalu dia menoleh ke arah jendela dan sama sekali tak memperhatikan pelajaran maupun Chopper.

Lho?—Chopper melihat Zoro dengan heran. Meskipun keren, ternyata sikap Zoro seperti itu. Dia tampak… kesepian? Chopper mungkin berlebihan, tapi… sepertinya sosok Zoro mengingatkanya pada dirinya yang dulu sebelum bertemu Luffy dan kawan-kawannya yang sekarang.

Sampai jam pelajaran berakhir, Zoro tak mengucapkan sepatah kata pun pada teman-teman barunya (Porche dan kelompoknya sudah diusir dengan paksa oleh Pak guru dan pulang ke kelasnya sendiri dengan cemberut karena tak bisa ngobrol dengan Chopper dan Zoro, si murid baru dulu). Eeh… dibilang jadi teman juga, mereka baru kenal dia hari ini. Anak-anak perempuan sudah mengantri untuk bicara dengannya sepulang sekolah, tapi….

"Minggir, mengganggu tahu." Zoro mengusir mereka semua dengan tatapan tajamnya yang setajam pedang itu, dan kata-katanya sama sekali tak ramah.

Wah, sikapnya beda sekali dengan Sanji, ya? Kalau Sanji pasti sudah menari berputar-putar dengan mata bentuk hati kalau dikerumuni gadis-gadis. Lagipula, daripada disebut kesepian… dia lebih tepat disebut seram! Kalau dengan tampang dan wajah begitu, yang mau mengganggu juga akan berpikir dua kali ya?—pikir Chopper dengan wajah cemas dan air mata berlinang.

"Oi," panggil Zoro pada Chopper yang masih sibuk berpikir itu hingga mengagetkanya.

"Eh, apa!?" katanya agak sedikit keras, kaget. "K-Kau memanggilku, Zoro?" tanyanya pelan. Zoro menangguk. "Chopper," katanya.

"Hah?" tanya Zoro tak paham.

"Pa-panggil aku Chopper, ya?" kata Chopper sambil tersenyum ramah.

Zoro terdiam beberapa saat sebelum membuka mulutnya. "Chopper," katanya.

Senyum lebar dan cerah langsung mengembang di bibir Chopper yang sangat imut itu. "Apa?" tanya Chopper terlihat sangat senang.

"Klub Kendo… di sekolah ini ada tidak?" tanyanya.

"Ada, tentu saja! Zoro bermain kendo, ya?" tanya Chopper ingin tahu.

"Berlatih," kata Zoro, lalu dia diam.

"Eh?" tanya Chopper heran.

"Berlatih kendo, bukan 'bermain'," jelas Zoro tanpa ekspresi.

"O-oh, ya… tentu, 'berlatih' itu kosa kata yang lebih tepat, ya. Soalnya Kendo kan, salah satu Martial Arts," kata Chopper sambil meninju telapak tanganya, paham. "Aku jadi belajar, terima kasih, Zoro," kata Chopper senang.

"Jadi… di mana?" tanya Zoro pelan.

"Ah, bodohnya aku! Ayo aku antar, Zoro," kata Chopper sambil berdiri.

"Ah, arahnya saja," kata Zoro.

"Jangan! Sekolah ini besar, lho! Kau kan belum keliling sekolah ini, jadi belum familiar kan? Aku antar saja, sekalian keliling?" kata Chopper menawarkan.

Sesaat, wajah Zoro terlihat keberatan dan kesusahan, tapi lalu dia menghela nafas. "Mohon bantuannya," katanya pelan.

"Hei, jangan formal-formal begitu. Kita kan, teman!" kata Chopper sambil berjalan memandu Zoro sambil menggandeng tanganya.

Tiba-tiba Zoro tersentak dan menarik tanganya dari Chopper yang kaget juga karena gerakan tiba-tiba itu. "Ah…, ma, maaf, ini kebiasaanku yang terbawa dari luar negeri. Aduh, jadi tak enak. Zoro tak suka gandengan tangan ya? Maaf, ya? Aku tak bermaksud menyinggungmu lho," kata Chopper agak cemas.

Iya juga… ini kan di Jipanggu. Kalau anak lelaki menggandeng lelaki lainnya akan terlihat aneh, ya?—pikir Chopper merasa bodoh.

Yah, baik Luffy, Sanji, maupun Usopp tak ada yang menarik tangannya dari Chopper waktu dia menggandeng mereka, jadi dia tidak tahu. Dia pikir teman boleh menggandeng teman lainnya, tentu saja ada yang tidak suka dengan itu. Chopper kurang hati-hati. Dia harus bertanya dulu kalau mau menggandeng tangan orang mulai sekarang.

"Umm… Zoro? Kau baik-baik saja?" tanya Chopper makin cemas karena Zoro tak mengatakan apa-apa sejak tadi. Dia takut Zoro marah dan tak mau berteman denganya.

Zoro melihat tangannya. Lalu ekspresinya jadi kelihatan aneh, sedih, atau bagaimana begitu. "Sori, lebih baik beri tahu aku arahnya saja," kata Zoro lagi.

"Eh…? Tapi sekolahnya besar…,"

"Kalau kau mengekor terus, aku yang repot!" kata Zoro dengan wajah kesal, membuat Chopper tersentak kaget dan takut.

"OI!" tiba-tiba sebuah tendangan datang dari arah belakang Zoro, dan hampir saja kena kalau Zoro tak cepat-cepat mengeluarkan pedang kayunya untuk menangkis serangan itu.

"Sanji!" Chopper terlihat lebih kaget karena si pirang berwajah kesal itu tiba-tiba menyerang Zoro, adiknya sendiri. Zoro hanya berdecak sebal dan wajahnya berubah jadi dingin, tatapannya menajam beberapa kali lipat.

"Bukan begitu cara memperlakukan orang yang hendak menolong, Marimo tak tahu adat!" umpat Sanji sangat kesal.

"Tunggu, Sanji!" Copper berusaha menghentikannya memulai kekerasan. Apalagi mereka masih di wilayah sekolah.

"Bukan urusanmu, Alis keriting!" kata Zoro dengan alis berkerut marah.

"Zoro juga! Kalian kakak-adik, kok tidak akrab sih!?" kata Chopper mulai panik.

"Dia yang duluan, kan!? Tidak sopan begitu! Kalau tak diajari sopan santun, mau jadi apa nanti!?" protes Sanji sambil menunjuk Zoro dengan jari telunjuknya.

"Ah, bukan begitu, Sanji. Tadi aku menggandengnya tanpa izin. Zoro tak suka itu, jadi dia marah. Aku yang salah kok," kata Chopper pelan sambil menahan Sanji.

"Bukan begitu," kata Zoro dengan wajah aneh, terlihat kesusahan… terlihat menyesal.

"Eh?" Chopper dan Sanji melihatnya dengan tatapan heran.

"Aku bisa repot… kalau kalian dekat-dekat denganku," kata Zoro sambil melirik ke arah lain, lebih tepatnya ke bawah, dengan ekspresi yang campur aduk.

"Zoro… lagi-lagi bersikap begitu! Kita ini teman, kan?"

Sosok seorang gadis cantik berambut hitam pendek terbayang di kepala Zoro. "Ck…!" Tiba-tiba kepala Zoro jadi sakit dan dia memegangnya dengan wajah tampak kesakitan.

"Zoro?" Sanji jadi agak khawatir melihatnya.

"Jangan mendekat!" ancam Zoro sambil menatap Sanji dengan tatapan elangnya yang sangat tajam, membuat Sanji terpaku di tempat. Pandangan Zoro terlihat begitu dingin dan tanpa ampun, tapi luapan emosi juga terpancar darinya. Sangat aneh dan kontradiktif. Dia seperti kebingungan. "Sudah… jangan mendekat lebih dari ini…," kata Zoro lagi agak melunakkan suaranya yang tadi begitu tegang, seperti akan menyerang saja. "Jangan terlibat denganku lebih dari ini…!"

"Zoro…, Kuina diculik…!"

"Ukh…!" Zoro menjatuhkan pedangnya dan memegang kepalanya dengan dua tangan.

"Awas, Zorooo!"

Kilatan cahaya di kepala Zoro membuat gerakanya berhenti. Lalu dia menurunkan tanganya dari kepala dan kembali menatap Sanji (dan secara teknis, Chopper) dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. "Sudah paham? Jangan terlibat denganku lagi. Aku tak suka terlalu akrab dengan orang lain," lanjutnya lagi tanpa emosi. Kemudian dia membungkuk, mengambil dan pedang kayunya. Setelah itu ia membalikan badan dan pergi dari tempat itu.

A… apa-apan yang tadi itu?—pikir Sanji sangat heran, tak mengerti.

"Hei, Sanji," panggil Chopper yang lebih pendek darinya beberapa cm itu pelan. Sanji menoleh ke arah Chopper yang masih memperhatikan punggung Zoro sebelum dia juga menoleh ke arah Sanji. "Apa dulu terjadi sesuatu padanya? Sepertinya dia mirip aku, tapi… sepertinya juga lebih berat," kata Chopper dengan cemas.

Sanji memandang Chopper dengan kaget, tapi kemudian tatapan matanya melembut dan menghangat melihat bocah yang tampak khawatir itu. Sanji mengelus rambut Chopper yang sangat lembut iu dengan sayang. "Hebat, ya, dokter Chopper bisa menebak yang seperti itu," kata Sanji sambil tersenyum.

Wajah Chopper langsung memerah malu. "Me-meskipun dibilang begitu, a-aku tidak senang, lho. Bodoh!" kata Chopper malu-malu dengan wajah menahan diri untuk tidak tersenyum, jadi terlihat lucu sekali. Sanji tertawa melihatnya.

Sesuatu, ya… Mungkin aku harus mencari tahu dulu apa yang dialami marimo sial itu kalau aku mau membuka hatinya yang sudah lengket terkunci itu ya…?—pikir Sanji sambil memandang ke depan. Tapi… siapa yang tahu sampai sejauh itu? Kalau bertanya pada Jessica-san, sama saja mengorek luka lama, dong? Oya, kalau tidak salah…

Di pikiran Sanji tiba-tiba terlintas wajah seorang paman yang baik hati. "Ah!" sentak Sanji tiba-tiba teringat.

"A-ada apa, Sanji?" tanya Chopper kaget.

"Ah, bukan apa-apa, kok…," kata Sanji sambil tersenyum.

Benar juga, paman itu bicara akrab dengan Zoro. Pasti kenalan yang cukup dekat. Kalau aku lihat di buku tamu dan bertanya pada Jessica-san, aku bisa dapat nama dan alamatnya. Lalu mungkin aku bisa tahu sesuatu darinya….

Sanji pun membulatkan tekad. Perilaku si Marimo tadi memang sedikit aneh dan membuat Sanji agak khawatir. Dia jadi ingin tahu sedikit lebih banyak tentang Zoro.

Bagaimana Sanji akan mengorek masa lalu Zoro? Kita lihat di chapter selanjutnya….

Bersambung…


A/N: Ini dia chapter dua! Whoa, kok hubungan Sanji dan Zoro makin parah, ya? Tapi akhirnya Chopper muncul! Luna bakal memunculkan karakter lainya di chapter berikutnya! XD Masa lalu macam apa yang membayangi kehidupan Zoro? Begitu banyak misteri! XD Semoga ini tidak jadi cerita yang terlalu angst! Harusnya luna bikin drama saja…. Eniwei, review? Sampai jumpa di chapter lanjut!