-Fate-
Pairing : Russia/America
With slight France/Chibi!England, Denmark/America,
Russia/Fem!Germany and Russia/Fem!China
Genre : Romance/Family
Warning : OOC, Typo (s), Fan-service, Yaoi,
BL, AU, Human's Name used, M-Preg,
Lemon in the future chapter, etc
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Reevelin Foster Braginski / Alaska © Velika / Adelfia Kirkland
Story © Me
Braginski Family.
Siapa yang tak kenal dengan mereka?
Keluarga yang terkenal di Rusia dengan perusahaannya yang bergerak di bidang transportasi. Bahkan, perusahaannya merupakan salah satu perusahaan paling maju di kawasan Eropa yang kini mulai merambah dunia internasional, terutama pasar Amerika.
Kesuksesan keluarga Braginski bermula pada sosok Vladimir Braginski, ayah dari Romanov Braginski dan kakek dari Ivan Braginski. Ketertarikannya dalam dunia otomotif pada masanya, membuat ia berniat untuk mendirikan bengkel sendiri miliknya.
Berawal dari bengkel sederhana, kemudian usaha kecilnya itu mulai berkembang lewat bantuan oleh seorang pengusaha. Bengkel sederhananya mulai berkembang dan menjadi salah satu bengkel yang digemari banyak penggila otomotif karena perawatannya yang baik.
Lewat bengkel itulah, Vladimir muda bertemu dengan sosok Marishka, yang akhirnya ia persunting menjadi istrinya. Dan bersama, mereka berdua mulai mengembangkan bisnis keluarga Braginski.
Kelahiran bayi yang diberi nama Romanov Braginski dari rahim Marishka, membawa berkah bagi Vladimir dan keluarga kecilnya. Vladimir mendapat kesempatan semakin besar untuk mengembangkan usahanya. Ia banyak belajar dari berbagai ahli dalam bidang otomotif dan teknik, sehingga usaha kecilnya semakin berkembang luas.
Hingga akhirnya, Vladimir Braginski mengukuhkan dirinya sebagai salah satu pengusaha di bidang otomotif. Awalnya, perusahaan hanya memproduksi mesin. Namun, seiring berjalannya waktu, Vladimir meningkatkan produksinya dengan memproduksi alat transportasi. Meski tidak secara mandiri, namun Vladimir sudah cukup bangga akan hal itu.
Ketika Romanov sudah beranjak dewasa, lelaki itu pun mulai terjun dalam bisnis yang didirikan ayahnya. Dan sumbangsihnya bagi Braginski Industries membawa dampak besar. Dia berhasil menjadikan Braginski Industries sebagai perusahaan mandiri yang memproduksi alat transportasi.
Motor, mobil, kereta api , dan kereta listrik.
Seolah mewarisi bakat dari sang kakek dan sang ayah, sejak kecil, Ivan sudah tertarik dengan mesin. Bahkan, ia berhasil menciptakan mesin pertamanya, ketika berusia 8 tahun. Ide-idenya yang cemerlang juga digunakan oleh Braginski Industries dalam mengembangkan berbagai alat transportasi yang diproduksi Braginski Industries. Dan itu berarti, Ivan sudah memiliki penghasilan sendiri sejak usianya masih belia.
Dan kini, Ivan sudah mencapai posisi yang diidamkannya selama ini, yakni sebagai CEO. Sejak kecil, ia tak pernah menargetkan dirinya untuk menjadi Presiden Direktur menggantikan Kakek atau Ayahnya. Dan perlu kalian ketahui, bahwa sebelum sang Kakek meninggal, beliau sempat berpesan pada Ivan untuk menggantikan posisinya sebagai Presiden Direktur Braginski Industries, di usianya yang masih 15 tahun. Tapi Ivan menolaknya dengan halus, karena dia bukanlah tipe orang yang terlalu suka memerintah dan lebih tertarik untuk terjun secara langsung ke lapangan. Alhasil, kini Ivan pun menduduki posisi CEO, karena dia bisa tetap memimpin perusahaan dan terjun ke lapangan, bergabung dengan Divisi Penelitian dan Pengembangan.
Dan seperti yang kita ketahui, proyek besar yang sedang berada di tangan Ivan adalah kerja samanya dengan pemerintah Amerika dalam mengembangkan KRL bertenaga surya. Dan masih banyak kerja sama lainnya dengan berbagai pihak, yang bahkan akan sangat panjang jika diceritakan.
Tak akan ada habisnya jika membahas tentang Braginski Family dan Braginski Enterprises yang melegenda itu.
Ah, tapi bagaimana dengan kisah cinta sang CEO?
Mungkinkah sepanjang kisah Braginski Family dan Braginski Enterprises?
Mungkinkah kisah cintanya dengan Alfred juga akan melegenda?
Keluarga adalah tempat dimana kita berbagi cinta, berbagi tawa, berbagi kebahagiaan.
Keluarga adalah tempat dimana kita berbagi luka, berbagi tangis, berbagi kepedihan.
Tanpa keluarga, kita hanyalah seorang diri di dunia ini. Sebatang kara.
"Al, menikahlah denganku."
"APA?! Menikah?" Alfred melongo mendengar permintaan Ivan. Baginya, ini terlalu tiba-tiba. Ia belum mengenal Ivan secara mendalam. Apalagi, mereka hanya bertemu sebanyak 3 kali.
Ivan menutup mulutnya dengan cukup keras, sehingga menimbulkan bunyi. "Ah, Maafkan aku, kalau ucapanku melantur,"
"Eh?"
"K-kalau kau belum s-siap, Tidak apa-apa," ucapnya gugup. "Maaf, kalau aku terburu-buru,"
Alfred malah bingung dengan sikap Ivan yang plin-plan. "Memangnya, ucapanmu yang tadi tidak sungguh-sungguh?"
Ivan mengaruk tengkuknya canggung. "B-bukan begitu," jawabnya.
Ivan merutuki dirinya sendiri, 'Ish! Kenapa tadi aku berbicara begitu sendiri tanpa bisa kukontrol, sih? Apa ini memang isi hatiku yang terdalam? Apa aku memang sudah terlalu jatuh cinta padanya?'
"Lalu?" Alfred menaikkan kedua alisnya, menanti penjelasan Ivan.
"Aku bersungguh-sungguh, Al," ucap Ivan tulus. "T-tapi..."
"Tapi apa?"
"Kau tahu sendiri kan, kalau kita baru beberapa kali bertemu?"
Alfred mengangguk.
"Tapi, entah kenapa, aku sudah jatuh cinta padamu, Al," tutur Ivan. "Jatuh cinta pada semua yang ada pada dirimu,"
"K-kau yakin?" Kini, Alfred-lah yang gugup.
Ivan mendesah berat. "Mungkin, cintaku memang belum terlalu besar. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, seiring kebersamaan kita, rasa cinta itu akan terus tumbuh dalam hatiku,"
Alfred tertunduk, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Ivan menggenggam tangan Alfred. "Jadi, apa jawabanmu, Al?" tanya-nya lembut.
Alfred mendongakkan kepalanya dengan takut. "Hm, kurasa, tak ada salahnya menerima lamaranmu,"
"Eh? Benarkah?" Ivan tak menyangka dengan jawaban-nya.
"Aku akan belajar mencintaimu, Ivan Braginski."
Tuhan akan selalu memberi jalan pada umatnya yang telah bertekad.
Seperti Tuhan yang akan memudahkan jalan seseorang untuk mencintai.
"Paman Jidat Lebar! Kenapa menutupi telingaku?!" seru bocah yang berdiri di depan Francis, sambil menghempaskan kedua tangan Francis dari telinganya.
Francis tetap mempertahankan tangannya, menutupi telinga bocah itu. Ia tak ingin bocah itu mendengar perbincangan Ivan dan Alfred tentang pernikahan. Bisa-bisa, bocah itu akan banyak bertanya padanya. " Kau tak boleh mendengarkan apa yang dibicarakan kakakmu!"
Bocah itu membalik tubuhnya dan menatap Francis. "Memangnya, apa yang dibicarakan Kak Al? Kak Al menjelek-jelekkan aku?" tanya bocah itu penasaran sambil mengerjapkan matanya dengan lucu.
Francis tersenyum kecil melihat tingkah bocah itu. "Kau ini umur berapa, sih?" tanya Francis gemas sambil mencubit kedua pipi bocah di hadapannya itu.
"Jangan cubit-cubit!" seru bocah itu, sambil menyingkirkan tangannya Francis dari pipinya. "Aku sudah berumur 16 tahun. Kenapa?" balas bocah itu.
"Benarkah?" tanya Francis tak percaya. "Tapi, kenapa kau pendek sekali, heh?"
Bocah itu memanyunkan bibirnya dengan kesal. "Jangan meledekku! Kalau aku pendek memangnya kenapa?" tanya bocah itu jengkel.
Ia tertawa renyah melihatnya. "Tak apa. Itu membuatmu terlihat semakin imut." Sekali lagi, Francis mencubit pipi bocah itu.
"Aku tidak imut! Aku ini tampan!"
Francis kembali tertawa. Ia semakin gemas dengan bocah di hadapannya itu. "Baiklah, baiklah." Dia menyerah dengan bocah itu. "Oh ya, ngomong-ngomong, kita belum berkenalan, ya?"
"Eh?" Bocah itu mengerjap. "Bukannya sudah? Nama Paman adalah Paman Jidat Lebar, kan?" Bocah itu pun terkikik geli.
"Berhenti meledekku! Dasar pendek! Sudahlah. Mari kita berkenalan. Namaku Francis Bonnefoy," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Ah, Paman Francis," gumam bocah itu, seolah berusaha mengingat-ingat. "Kenalkan, namaku Arthur Kirkland!" seru bocah itu riang, sambil menjabat tangan Francis.
Francis tersenyum lebar. 'Dia benar-benar anak yang menyenangkan.'
Tak akan pernah ada yang salah dengan cinta.
Perbedaan agama, perbedaan usia.
Kalau memang itu salah, haruskah kita menyalahkan Tuhan?
"Lho? Arthur?" Alfred terkejut ketika menyadari bahwa kamar adiknya kosong. Adiknya tidak berada disana. Ia merasa khawatir dan tak ingin kejadian ketika adiknya ditemukan dalam keadaan pingsan itu terulang kembali.
Ivan yang juga menyadari hal itu pun terlihat cemas. "Adikmu dimana, Al?"
Alfred membalik tubuhnya. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan. "A-Arthur tak ada disini," ucap Alfred dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. "Bagaimana kalau dia pingsan lagi seperti waktu itu?" Sejak kejadian pingsannya adiknya, Arthur, beberapa hari yang lalu, ia selalu mengkhawatirkan keadaannya. Ia juga sudah sering memperingatkan Arthur untuk tidak keluyuran. Tapi, bagaimanapun juga, Arthur butuh hiburan di luar. Mungkin, karena Alfred meninggalkannya terlalu lama, jadi dia pergi dari kamarnya lagi. Alfred mendongak, memandang wajah Ivan dengan matanya yang basah. "Bagaimana ini, Ivan? Aku benar-benar kakak yang payah. Aku sama sekali tak bisa diandalkan,"
Ivan tak pernah benar-benar bisa menghadapi orang yang menangis. Dan dia melakukan sesuai nalurinya. Dengan gugup, tangan kanannya menyentuh punggung Alfred dan mendorong tubuh Alfred untuk mendekat padanya, lantas mendekapnya dalam pelukan hangat. "Tenanglah dulu, Al. Kita bisa minta bantuan pada perawat untuk mencari adikmu. Aku akan membantumu, karena bagaimanapun juga, aku juga menyebabkan Arthur menghilang. Aku sudah menahanmu terlalu lama tadi,"
Alfred terisak pelan di dada Ivan. Entah kenapa, ada suata rasa aman dan nyaman ketika ia berada di dekat Ivan. Bahkan, ia yang jarang menangis itu mendadak menjadi cengeng hanya karena Arthur yang menghilang.
Atau hanya karena Al merasa nyaman menangis di hadapan Ivan?
Ivan menangkup wajah Alfred dengan dua tangan kekarnya dan membuatnya terdongak. "Sekarang, berhenti menangis dan ayo kita cari Arthur," ucap Ivan lembut.
Alfred mengusap air matanya dengan menahan malu.
"Nah, begitu kan, kau terlihat lebih manis," gumam Ivan memuji.
Alfred tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Entah setan apa yang merasukinya, tiba-tiba saja, Al memeluk Ivan sekali lagi. "Terima kasih, Ivan.. Terima kasih," bisiknya tulus.
Ivan membalas pelukannya. 'Rasanya hangat.'
"Kakak~!" Arthur berlari sekencang-kencangnya.
Sementara itu, Francis yang melihatnya melongo dan panik. Ia khawatir, kalau asma Arthur kambuh lagi. "Hei, Arthur! Hati-hati!" serunya memperingatkan. Ia pun segera mengejarnya.
"Arthur!" panggil sebuah suara.
Dia melihat seseorang yang dikenalinya sebagai kakak Arthur, Alfred. Ia merasa tenang dan lega. Dan ia kembali terkejut, ketika Ivan yang masih berada di samping Alfred. "Ivan?"
"Francis? Kau?" Ivan memasang tampangnya yang linglung dan penuh tanya.
Francis hanya mengulas cengiran ke arah sahabatnya itu, sambil menggaruk tengkuknya dengan perasaan canggung.
Sementara itu, Alfred sedang memeluk Arthur. "Arthur, lain kali, jangan pergi-pergi lagi, ya?"
"Baik, Kak," jawab Arthur tegas. "Tapi, tadi Paman Ji-"
Francis yang menyadari panggilan menyindir dari Arthur pun langsung menunjukkan death glare-nya.
"Ah, maksud Arthur, tadi Paman Francis sudah menemaniku. Dia baik sekali, Kak," jelas Arthur riang.
Francis tersenyum kikuk ke arahnya.
"Terima kasih, Tuan," ucap Alfred sopan pada Francis.
Francis terkekeh, sambil mengibaskan tangannya. "Tak apa. Arthur adalah anak yang baik dan menyenangkan. Lagipula, aku juga mengenal Ivan, kok,"
"Eh? Benarkah?" Alfred menatap Francis dan Ivan bergantian.
"Benar. Al, kenalkan, ini Francis, sahabatku,"
Francis dan Alfred pun saling berjabat tangan.
"Oh ya, Kak. Paman berhidung aneh ini siapa?" tanya Arthur dengan tidak berdosanya.
Francis terkikik geli mendengar panggilan Arthur pada Ivan.
Alfred segera menutup mulut adiknya. "A-Arthur! Jangan menyebutnya Paman berhidung aneh! Dia adalah Kak Ivan,"
"Oh, Kak Ivan, Perkenalkan, namaku Arthur Kirkland!" seru-nya sambil mengulurkan tangannya ke Ivan.
Ivan tersenyum lebar, lalu menjabat tangan Arthur. "Da. Aku Ivan Braginski. Senang berkenalan denganmu, Artie,"
"Eh? Artie?" Arthur mengerjap dengan lucu.
"Ya. Kenapa? Kau tak suka?"
"Ah, bukan begitu! Aku sangat suka! Artie sangat suka!" seru Arthur gembira.
Dan keempat orang itu pun tertawa bersama.
Siapapun yang melihat kebersamaan mereka, pasti menduga bahwa mereka adalah keluarga yang sangat bahagia.
Uhuk.
Yekaterina tersedak, setelah mendengar penjelasan Ivan.
Dengan sigap, Ivan menyodorkan air putih miliknya untuk-nya. "Minumlah dulu, Kak,"
Yekaterina segera meneguk air putih itu. Ia mengatur nafasnya. "Ini semua kan, gara-gara kau, Ivan~… Kau bersungguh-sungguh? Kau sudah melamar Alfred?"
Ivan menghela nafas. "Tentu saja, Kak. Mana mungkin aku berbohong pada Kakak?"
"Ya tuhan~ Adik Kakak sudah dewasa ya, rupanya?"
Ivan mendengus sebal. "Kak, Aku sudah dewasa. Aku sudah 26 tahun,"
Yekaterina tertawa. "Oh ya, memangnya, umur Alfred itu berapa?"
Ivan menepuk jidatnya dengan keras. "Aku belum bertanya.."
Yekaterina memanyunkan bibirnya karena jengkel. "Kau ini bagaimana, sih?" gerutunya kesal. "Bagaimana mungkin, kau belum tahu umurnya dan kau sudah melamarnya?" tanyanya jengkel. "Sebenarnya, apa saja yang kau bicarakan dengan Al selama ini, da?"
Ivan meringis. "Aku memang bodoh," rutuknya pelan.
"Dasar! Dan apa yang membuatmu langsung melamarnya kalau kau belum tahu apa-apa tentang dirinya?"
"Bukannya aku tidak tahu apa-apa, Kak. Tapi asal Kakak tahu saja, cinta itu tidak membutuhkan alasan, da,"
Dia terdiam. Benar juga apa yang dikatakan. Cinta memang tidak membutuhkan alasan.
"Selamat, Ivan! Aku turut senang!" Elizaveta tersenyum dengan bahagia, ketika melihat bos-nya datang ke kantor.
"Memangnya, ada apa, Eliza?" tanya Ivan heran.
"Aku mendengar dari Yekaterina kalau kau akan segera menikah,"
"Heh? Kakak bilang begitu padamu?"
"Iya," jawab Elizaveta senang. "Kemarin malam, dia meneleponku dan menceritakan semuanya padaku,"
Ivan melongo. 'Semuanya?'
"Setelah sekian lama, aku tidak melihatmu dengan seorang gadis, tiba-tiba saja, tiba kabar bahwa Kau akan segera menikah, Eh? Atau malah sebenarnya, aku memang tidak pernah melihat seorang Ivan Braginski dengan seorang gadis, ya?" candanya, lalu tertawa geli.
Ivan mendengus sebal. "Ya! Sudahlah! Hentikan acara gosipnya dan kembali bekerja!"
Elizaveta masih tertawa. "Memangnya, berita pernikahan itu hanya gossip?"
Ivan kembali mendengus. 'Dasar wanita!'
"Arthur. Kau imut sekali," puji Yekaterina sambil mencubit gemas kedua pipi Arthur.
Arthur hanya terkikik geli.
Sementara itu, Alfred melihatnya sambil tersenyum.
Dan Ivan?
Pemuda Rusia itu mendengus pelan melihat tingkah konyol Kakak satu-satunya itu.
Kini, Ivan dan Yekaterina sedang berada di kamar rawat Arthur. Karena Yekaterina yang merengek-rengek pada Ivan untuk mengantarnya menemui Alfred dan Adiknya.
"Duduklah disini, Ivan," ucap Alfred sambil mendorong kursi ke arah Ivan.
"Ah, Terima kasih, Al." dia pun terduduk di atas kursi tersebut. Dan ia menyadari bahwa Alfred masih saja berdiri di sampingnya. "Bagaimana dengan kau sendiri? Mau kupangku saja?" Wajah Alfred bersemu merah, menahan malu. "T-Tidak," Alfred menggeleng lemah dengan wajah tertunduk.
Ivan tersenyum kecil melihat tingkah Alfred.
"Oh iya, Alfie," panggil Yekaterina.
"Ya?"
"Sebenarnya, aku dan Ivan kesini untuk membicarakan sesuatu padamu,"
Sementara itu, Ivan hanya menatap bingung ke arah Kakak-nya. 'Sesuatu apa?' batinnya bingung. Sebelum ini, Dia sama sekali tidak berniat untuk membicarakan sesuatu yang penting dengan Alfred.
"Kami ingin kau dan Arthur ikut kami ke Volgograd untuk bertemu dengan keluarga besar kami,"
Alfred membatu di tempatnya.
Begitu pula dengan Ivan.
"Aku harap, kita semua bisa saling mengenal," lanjut Yekaterina.
"T-tapi..."
"Tenang saja, Alfie. Kami yang akan mengatur semuanya,"
"Tapi, Arthur..."
"Kau juga tidak perlu mengkhawatirkan Arthur. Kami bahkan akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Arthur," jelasnya. Kini, Yekaterina menatap Arthur. "Arthur ingin sembuh, kan? Arthur ingin bermain bola seperti dulu lagi, kan?"
Arthur mengangguk dengan antusias.
"Jadi, terimalah ini, Alfie,"
Ivan dan Alfred saling bertatapan.
"Anggap saja, ini sebagai syarat, aku akan merestui pernikahan kalian," lanjut Yekaterina.
Dan kalau sudah begitu, mereka berdua tak bisa berkata selain 'iya'.
"Apa-apaan ini, Kak?" tanya Ivan jengkel, sambil mengemudikan mobilnya.
Dia tertawa melihat protesan Ivan. "Ada apa, Ivan?" tanyanya denga tak berdosa.
"Ini namanya pemaksaan!" tegas Ivan sambil terus menggerutu kesal.
"Aku hanya ingin membantumu dengan Alfred. Aku ingin melihat kalian segera menikah. Lebih cepat, lebih baik, kan?"
"Tapi, tidakkah Kakak tahu, kalau Al begitu cemas tadi?"
"Ya, mau bagaimana lagi?" Yekaterina mengangkat kedua bahunya.
Ivan mendengus pelan. "Ah, aku tahu. Sebenarnya, Kakak hanya memanfaatkan kami sebagai alasan, da?"
"Heh? Apa maksudmu?"
"Bilang saja, kalau Kakak sudah tak sabar bertemu dengan Eduard dan ingin membuat Anggota Braginski baru, ya?" goda Ivan sambil tertawa puas.
"I..Ivan!"
"Aku takut," racau Alfred cemas.
Ivan langsung menggenggam tangan-nya dengan lembut. "Tenanglah, Al. Tak ada yang perlu ditakutkan,"
Sementara sepasang kekasih itu nampak saling menenangkan, Yekaterina justru sedang asyik bermain dengan Arthur, selagi menunggu panggilan untuk keberangkatan mereka ke Rusia.
"Tapi, bagaimana sambutan keluargamu nanti? Bagaimana kalau mereka tidak menerimaku?" Alfred semakin meracau.
Ivan tersenyum lembut, lalu mengusap pipi Alfred lembut. "Tenanglah. Kau sudah lebih dari sekedar diterima di keluargaku,"
Alfred mengerucutkan bibirnya. "Kau mengatakan itu hanya untuk menenangkanku, kan?"
Ivan tertawa pelan. "Tidak, Al. Aku bersungguh-sungguh, da. Ayah, dan adik-ku sudah tak sabar untuk bertemu denganmu. Lagipula.. ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu ketika kita sampai di Volgograd nanti"
"Eh? Seseorang?"
"Da. Dia sangat spesial untukku," ucap Ivan. "Sama sepertimu,"
Alfred tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang selalu memerah setiap Ivan memuji atau menggodanya.
Ivan tersenyum melihat tingkahnya. "Al, dengarkan aku." Ia mengangkat wajah Alfred. "Selama kita bersama, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku,"
"Um. I-Iya, Aku percaya padamu."
"Apakah selama itu, Nat?" tanya Romanov cemas pada putri bungsunya, Natalia yang sedang asyik mengetik sesuatu di telepon genggam miliknya.
"Ya ampun, Ayah. Pemberitahuan kedatangan baru saja terdengar. Dan mereka pasti sedang bersiap turun," jelas Natalia santai.
Romanov mendengus pelan. Ia menyadari bahwa ia telah bersikap berlebihan. Maklum, karena ia tak sabar untuk segera bertemu dengan Anak-anaknya. Dia pun memutuskan untuk menenangkan dirinya dan terduduk di samping Natalia.
"Oh ya, Ayah," panggil Natalia yang sudah menghentikan kegiatannya.
Romanov menoleh ke arah Natalia. "Hm?"
"Kak Ivan benar-benar akan segera menikah, ya?"
"Da," jawab Romanov malas. Entah sudah keberapa kalinya, Natalia menanyakan hal itu. "Ada apa? Kau kedengaran meragukan Kakak-mu, da?" tanya Romanov penuh selidik.
Natalia tertawa renyah. "Tidak, Ayah. Hanya heran saja, mengingat kalau Kakak jarang dekat dengan wanita dan tiba-tiba ia mengabarkan kalau akan segera menikah,"
Romanov mengangguk mengerti dengan jalan pikiran Natalia. "Yang paling penting adalah bahwa kita semua harus mendukung pilihan Kakak-mu, Nat,"
"Da! Tentu saja, Ayah!" seru Natalia sambil mengacungkan dua jempolnya. "Nah, itu mereka!"
Romanov menolehkan kepalanya dan mendapati sosok yang Yekaterina berjalan ke arahnya, diikuti oleh Ivan dan dua orang yang belum dikenalnya, seorang gadis manis dan remaja yang nampak imut. "Yeka~" gumam Ayah. Ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Yekaterina.
Yekaterina tersenyum senang ketika melihat suaminya. "Ayah~" balas Yekaterina yang langsung menghambur memeluk tubuh kekar Ayahnya itu.
Sementara itu, Natalia mengikuti Ayah-nya, bangkit dari duduknya. Namun, ia menyambut Kakak-nya terlebih dahulu, karena ingin membiarkan Yekaterina dan Ayah-nya untuk saling melepas rindu. "Bagaimana kabarmu, Kak?" tanya Natalia sambil memeluk tubuh Ivan.
Ivan membalas pelukan-nya dengan hangat sambil menepuk punggungnya. "Baik," jawabnya singkat. "Kau sendiri?" tanya Ivan sambil melepas pelukannya.
"Seperti yang kau lihat," jawab Natalia ringan. Matanya nampak tertarik pada sosok cantik yang berdiri di samping Ivan. "Nah, dan ini pasti calon istri Kakak, kan?"
Sosok cantik itu tersenyum lembut. "Perkenalkan, aku Alfred F. Jones," ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Natalia.
"Ah, senang bertemu denganmu, Sestra," balas Natalia sambil menjabat tangan Alfred.
"Braht, Nat," ralat Ivan.
"Eh?" Natalia mengerjap terkejut. "Jadi?"
Alfred tertawa renyah. "Jangan percaya pada penampilan. Penampilan bisa menipumu,"
Natalia tersenyum canggung karena telah salah mengenali sosok-nya. Dia berusaha mengalihkan perhatian dengan sosok imut yang berdiri di samping Alfred. "Ah, dan kau?"
"Aku Arthur Kirkland!" seru anak imut itu.
"Natalia lebih tua enam tahun daripada kau, Artie. Jadi, panggil saja dia Kakak, da?" kata Ivan memberitahu. "Atau tiang listrik juga boleh," guraunya.
"Yah, Kakak!"
Ivan dan Alfred tertawa.
"Ah, Ayah sampai kelupaan," celetuk Romanov yang tiba-tiba muncul diantara anak-anak muda itu. "Jadi, mana calon menantuku?" tanya-nya bersikap seolah pura-pura tidak tahu. Meskipun dia belum pernah melihat wajah calon menantunya, tapi ia bisa menebak yang mana yang merupakan calon menantunya. Mengingat kalau salah satu diantara sosok asing itu masih terlalu muda untuk dijadikan istri Ivan.
"Ayah, kenalkan, dia Alfred F. Jones," kata Ivan memperkenalkan.
"Alfred." Alfred mengulas senyum sambil menjabat tangan Romanov.
Romanov pun mengalihkan perhatiannya pada Arthur. "Dan kau? Kau pasti adik Alfred kan?"
"Ya!" seru Arthur. "Aku Arthur Kirkland!"
Romanov tertawa renyah melihat tingkah Alfred. "Kau manis, dan Kakak Perempuan-mu cantik,"
"Ayah! Alfred itu laki-laki," tukas Ivan jengkel. Entah sudah keberapa kalinya, banyak orang yang salah mengenali Alfred.
"Eh?" Romanov pun terkekeh pelan.
Dan semuanya ikut tertawa.
Benar-benar keluarga yang bahagia, bukan?
"Selamat datang di rumah keluarga Braginski!" seru Natalia sambil merentangkan kedua tangannya ke atas, tanda menyambut kehadiran Alfred dan Arthur sebagai anggota keluarganya.
Romanov yang berjalan di belakang Natalia, membalik tubuhnya dan memandang Ivan dan Alfred bergantian. "Nah, hari ini, ada kejutan spesial untuk kalian,"
"Eh? Kejutan apa, Ayah?" tanya Ivan penasaran.
Romanov tersenyum misterius. "Lebih baik, kalian langsung melihatnya di ruang baca," kata-nya sambil mengerling. Kini, ia mengalihkan pandangannya pada Arthur. "Nah, Arthur. Sekarang, ayo main dengan Paman di taman belakang," ajak-nya sambil menggandeng tangan Arthur.
"Iya, Paman!" balas Arthur penuh semangat dan mengikuti langkah Romanov.
"Ayah, Aku ikut!" seru Natalia yang langsung mengejar Arthur dan Romanov.
Yekaterina menghampiri Ivan dan Alfred. "Kalian cepatlah ke ruang baca, da?" ucap nya, yang lalu mengikuti langkah Romanov ke taman belakang.
Ivan dan Alfred saling bertatapan penuh tanya.
"Hm, ayo kita kesana sekarang, Al," ajak Ivan sambil menggenggam erat tangan Alfred.
Dan Alfred mengikuti langkah Ivan.
"Papa~" seru Seorang bocah berambut Coklat tua pendek yang duduk di salah satu sofa di ruang baca.
Ivan tersenyum senang ketika menyadari bahwa sosok yang ditemuinya di ruang baca saat itu adalah… Anak-nya. Putra-nya yang begitu ia sayangi dan rindukan. "Lee," panggil Ivan yang langsung menghambur ke arah Anak yang ia panggil Lee itu dan memberinya pelukan hangat.
Alfred nampak begitu kikuk. Ia merasa canggung karena seperti 'orang asing' diantara Ivan dan anak-nya itu.
Anak itu langsung melepaskan pelukan Ivan dan menatap ke arah Alfred yang berdiri terpaku disana. "Papa, Apakah Ini Mama baru Lee?" tebaknya.
"Eh?" Alfred tersadar dari lamunannya ketika dia dipanggil 'Mama' oleh anak itu.
"Da, Mama baru Lee manis bukan? Lee pasti suka," Ivan tersenyum dan menggendong Lee.
Alfred melangkah dengan gugup ke arah Ivan dan Anak-nya."Hai.. Aku.. Alfred, " Ucap Alfred dengan sedikit semburat merah di pipinya.
Lee menatapnya sejenak, lalu tertawa kecil. "Mama manis sekali, Lee ingin digendong Mama, Pa," Ivan yang mengerti keadaan seperti itu, mengangguk dan memberikan Lee ke gendongan Alfred.
"Mama~" Lee memeluknya erat. Alfred hanya bisa tersenyum dan memeluknya balik.
Ia merasakan suasana hangat melingkupinya.
Alfred termenung sambil menatap ke arah keluarga Braginski yang asyik bercengkrama, ditambah kehadiran Arthur diantara mereka. Meskipun anggota keluarga Braginski tidak terlalu banyak, namun terlihat begitu akrab dan penuh kehangatan.
"Al." Tiba-tiba, Ivan menyikut pelan lengan Alfred, menyadarkan namja cantik itu dari lamunannya.
"Eh? Ada apa?" tanya Alfred bingung.
Ivan tertawa pelan. "Kau sedang melamunkan apa?"
"T-Tidak," jawab Alfred bohong. Tentu saja, ia berbohong. Ia merasa bahagia, sekaligus sakit ketika melihat keakraban keluarga Ivan.
Ivan sepertinya menyadari bahwa dia sedang berbohong padanya. Namun, ia tak berniat menuntut penjelasan secara langsung dari kekasihnya. "Kau ingin jalan-jalan keluar bersamaku?"
"Eh? Bagaimana dengan keluargamu?.
Ivan tersenyum. "Tidak apa-apa. Mereka pasti akan mengerti, Kau ingin melihat-lihat keadaan Kota Volgograd saat ini, kan?"
Alfred mengangguk pelan.
"Kalau begitu, ayo berangkat,"
"Aku merindukan keceriaanmu, Al," ucap Ivan sambil memandang daun yang gugur dari pohonnya.
Kini, Ivan dan Alfred sedang terduduk di sebuah taman yang masih terselimuti salju. Untungnya, musim dingin segera berakhir, sehingga udara dingin Rusia kali ini tidak terlalu bermasalah baginya.
Alfred tertunduk lesu mendengar ucapan Ivan. "Maafkan aku," gumamnya. "Aku memang payah," ucapnya lirih.
Ivan menatap-nya lekat-lekat. "Apanya yang payah?" tanya Ivan heran. "Al, aku tahu, kau sedang punya masalah. Ceritakanlah padaku, karena sudah sepantasnya sepasang kekasih saling berbagi,"
Tiba-tiba, Alfred menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai terisak. "Aku iri padamu, Ivan,"
Ivan mengerjap kaget. "I-iri? Kenapa?" tanyanya heran.
Alfred terisak kembali. "Kau begitu beruntung memiliki keluarga yang penuh kasih sayang,"
"Lalu?"
"Aku tak pernah merasakannya, Ivan," ucapnya lirih. "Sejak kecil, aku dibesarkan di panti asuhan di New York. Panti asuhan yang kau kunjungi waktu itu,"
Ivan ingat dengan panti asuhan yang dimaksud Alfred."Mungkin aku memang merasa bahagia, karena aku memiliki teman-teman yang menyenangkan disana, tapi..." Tangisan Alfred mulai terdengar semakin keras.
Ivan langsung membawa Alfred dalam dekapannya. "Menangislah, Al. Menangislah, kalau itu membuatmu tenang,"
"Selama ini, aku hanya berusaha terlihat ceria. Tapi, aku tetaplah manusia yang payah," ujar Alfred menyalahkan dirinya sendiri.
"Ssshh. Berhenti mengatakan bahwa kau payah. Kau sama sekali tak payah, Al. Kau terlihat hebat di mataku,"
Alfred mengusap air matanya. "Kau memang selalu tahu cara menghiburku," gumamnya. Ia sudah berhenti terisak.
Ivan tersenyum lembut ke arah-nya. "Harus kukatakan berapa kali bahwa kau terlihat lebih manis kalau tidak sedang menangis,"
Dan Alfred langsung mencubit pelan lengan Ivan.
Ivan meringis kesakitan.
"Dan aku sama sekali tak menyangka kalau kau adalah Braginski yang itu," gumam Alfred.
Ivan mengernyit. "Jadi, selama ini, kau tak menyadarinya?"
"Kalau aku tak bertemu Ayah-mu, mungkin aku tak akan menyadarinya,"
Ivan begitu gemas dengan Alfred dan mencubit hidung mancung kekasihnya itu. "Kau ini. Berpacaran dengan pria paling diidamkan dan kau tidak menyadarinya? Yang benar saja, da,"
Alfred tertawa. "Kau terlalu percaya diri. Kalau kau memang diidamkan banyak orang, kenapa kau memilih aku sebagai kekasihmu?"
Ivan tersenyum. Diusapnya wajah sang kekasih dengan lembut. "Karena aku baru meyakini, bahwa kaulah sosok yang kucari selama ini,"
Alfred tersipu malu.
"Hatchi~" Tiba-tiba, Ivan bersin.
"Eh? Kau terkena flu?"
"Tidak. Aku memang seperti ini kalau terkena suhu dingin,"
"Ini semua pasti karena ulahku, Ayo kita segera kembali ke rumahmu,"
"Tidak mau.." ucap Ivan manja.
"Lalu kau mau apa? Keadaanmu bisa semakin parah, kalau berada disini terus,"
Ivan tersenyum lembut. "Tidak. Hatchi~"
"Nah, kan?"
"Aku akan baik-baik saja asal kau disini. Asal kau tetap memelukku dan berbagi kehangatan denganku,"
Sekali lagi, Alfred tersipu malu. Rona merah di pipinya terlihat begitu jelas.
Ivan mengeratkan pelukannya pada Alfred. "Mulai sekarang, kau tak perlu merasa sedih lagi," kata Ivan. "Karena mulai sekarang, keluarga Braginski adalah keluargamu juga."
Alfred mengangguk mengerti. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ivan.
Dan keduanya saling berbagi kehangatan hari itu.
"Lihat! Salju, Ivan! Salju pertama kita!"
Jika kau merasa sendiri di dunia ini,
ingatlah bahwa ada seseorang yang selalu membutuhkan kehadiranmu
.
.
.
Tsuzuku
.
.
.
[A/N]
Hai, berjumpa lagi dengan saya di chap 2 ^^
Sudah saya bilang ini OOC Banget, Hong Kong jadi Anaknya bang Ipan *nancep di Monas*
Loh kok Bingung karena Hong Kong jadi anaknya Ivan? Kok Galau? /plak
Semuanya akan dijelaskan nanti, hohohohoho
Dan Maaf, Lemon masih belum saya tampilkan. Setidaknya saya tampilkan Lime atau Mungkin Semi-Lemon waktu Ivan dan Alfred sudah menikah.
Dan btw, Alfred disini masih sekolah /pedodetected
Dan lagi, Terima kasih sudah mau membaca dan review fic saya yang abal ini :'3
Sekali lagi terima kasih!
dan sampai jumpa di chapter depan~
Vielen Danke!
RnR? No flame please.
