Chapter 2!!!!!
Di sini ketahuan kenapa Mello gatel-gatel..
Widih, ternyata ada juga yang mau review!
Ao-chan terharu!!!
Makasih yang udah review.. ^^
Met baca!
Kring.. kring.. kring..
Mello membuka matanya perlahan-lahan dan mengambil jam weker yang berada di atas mejanya.
Dengan kasar, Mello mematikan jam wekernya.
Jam 8, batinnya singkat.
Mello menaruh kembali jam wekernya dan mengambil handuk bergegas menuju kamar mandi.
10 menit kemudian, Mello keluar dari kamar mandi dengan wangi yang harum sekali.
Periksa buku dulu deh, batin Mello lagi.
Mello mengambil tasnya dan mengacak isinya.
"Mello!" teriak Matt sambil masuk ke dalam kamar Mello.
"Matt, jangan berisik! Pagi-pagi saja sudah berisik!" omel Mello.
"Hehe, maaf deh. Ngomong-ngomong, tadi malam kau habis perang yah?" tanya Matt asal.
"Perang? Memangnya kenapa?" tanya Mello sembari mengacak kembali tasnya.
"Habis kamarmu seperti habis perang dunia ke 3!" jawab Matt.
Mello langsung melempar bantal ke muka Matt.
"Kalau kau berisik meningan keluar deh!" kata Mello.
"Haha, galak banget pagi-pagi. Lagi datang bulan yah?" tanya Matt asal lagi.
Tanpa berkata apa-apa, Mello langsung mendorong Matt keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Matt hanya tersenyum melihat tingkah temannya yang sedang jengkel.
"Pagi-pagi udah cari ribut." gumam Mello sambil menggigit sebatang coklatnya.
Sesudah membereskan kamarnya yang diakui oleh Mello sendiri seperti perang dunia ke 3, Mello keluar kamar bersiap untuk ke sekolah.
"Hai! Lama banget! Aku sudah tunggu lama nih." kata Matt.
"Iya, iya, maafkan aku." kata Mello malas.
"Mello, tanganmu masih merah tuh!" kata Matt sembari menunjuk tangan temannya.
"Iya, tau nih. Sudah tidak begitu gatal sih, tapi masih ada bintik-bintik merah." jawab Mello sembari menggigit coklatnya.
"Lapor aja ke !" usul Matt.
"Ga mau ah, males!" jawab Mello.
"Ayolah Mello! Nanti kalau kulitmu tambah parah bagaimana?" tanya Matt.
"Masa bodo." jawab Mello.
"Mello, Matt, ayo masuk kelas! Nanti kalian terlambat!" kata seorang guru perempuan.
"Yes, ma'am!" jawab mereka berdua serempak.
"Pokoknya kau harus melapor ke ." kata Matt berbisik ke Mello kemudian Matt langsung menuju ke tempat duduknya.
Selama pelajaran berlangsung, Matt terus melirik ke arah Mello.
Tuk
Sebuah kertas kecil mendarat di atas meja Mello.
Apa ini? batin Mello.
Mello membuka kertas tersebut dan membaca tulisan yang berada di sana.
Kau harus melapor ke ! by Matt.
Anak itu lagi, batin Mello.
Mello tersenyum senang karena orang yang ia cintai peduli dengannya.
Kring.. kring.. kring..
Bel usai pelajaran berbunyi.
Anak-anak gembira karena pelajaran sudah usai dan mulai keluar dari kelas termasuk Matt dan Mello.
"Mello! Ayolah, lapor ke !" paksa Matt.
"Iya, iya! Aku akan ke ruangan . Kau temani aku yah." jawab Mello.
"Sip!" kata Matt.
Mereka berdua berjalan pelan ke ruangan dan mengetuk pintunya.
Tok.. tok..
"Masuk." sebuah suara terdengar dari dalam.
"Oh, Matt dan Mello. Ada perlu apa?" tanya ramah.
"Begini , kulit Mello dari kemarin muncul bintik merah dan gatal-gatal tanpa sebab." kata Matt.
melihat tangan Mello dengan seksama.
"Bagaimana kalau nanti sore kita ke dokter?" usul .
"Apa!? Aku tidak mau!" tolak Mello.
"Sudahlah Mello, kau harus ke dokter! Jangan bilang lho kalau kau takut disuntik!" usil Matt.
"Siapa yang takut? Baiklah, nanti sore aku akan ke dokter." kata Mello.
"Ya sudah, sebaiknya kalian berdua kembali ke kamar kalian masing-masing." kata .
"Baik, ." kata Matt sedangkan Mello hanya diam saja.
"Oi, Mello-Jello-Marshmellow! Kenapa kau dari diam saja?" tanya Matt iseng.
"Ga apa-apa. Cuman lagi mikir aja." kata Mello datar.
"Sebelum ke dokter, main game dulu yuk!" ajak Matt.
"Engga ah, males!" jawab Mello.
"Oi, Mello!" teriak Matt, tetapi Mello tidak mau menengok dan terus berjalan ke dalam kamarnya.
Sial, sebenarnya aku sakit apa sih? Kenapa harus ke dokter segala? batin Mello.
Sorenya, Mello ikut ke dokter spesialis kulit.
Dokter tersebut mengambil sampel darah Mello.
"Nanti akan saya kabari lagi. Sekarang anda boleh pulang." kata dokter itu ramah.
"Terima kasih, dok." jawab ramah juga, sedangkan mulut Mello manyun.
Mereka berdua pulang kembali ke Wammy's House.
"Mello!!!!!!!" teriak Matt ketika melihat Mello kembali dan langsung memeluk Mello.
"Mello!! Bagaimana kata dokter?" tanya Matt.
Mello yang mukanya memerah langsung melepaskan dirinya dari Matt.
"Ngapain sih peluk-peluk!?" omel Mello gengsi, padahal sebenarnya Mello ingin dipeluk lagi sama Matt. *Author mau dibunuh sama Mello*
"Hahaha. Tidak apa-apa kok. Apa kata dokter?" tanya Matt.
"Entahlah. Katanya nanti aku mau dikabari lagi." jawab Mello.
"Main game yuk!" ajak Matt.
"Di mana-mana otakmu game terus." jawab Mello.
"Haha, kau seperti tidak tahu aku saja!" kata Matt sembari menarik tangan Mello.
"Ayo kita main game!!" kata Matt sembari memasuki aula.
Mereka berdua bermain game lagi sampai jam 7 malam.
Lama sekali kabar dari dokter tadi, batin Mello.
"Mello." panggil seorang pria tua dari belakang Mello.
"Ada apa, ?" jawab Mello.
"Ayo, ikut aku ke ruanganku. Aku ingin membicarakan tentang kulitmu itu." jawab .
Mello dan pergi ke ruangan . Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Matt mengendap-endap mengikuti mereka berdua.
Pintu ditutup dan Matt menempelkan telinganya di pintu ruangan .
"Mello, sebenarnya kulitmu itu tidak terkena penyakit apa-apa." kata .
Yes! Kedengaran jelas! batin Matt senang.
"Jadi kenapa kulitku gatal-gatal?" tanya Mello bingung.
"Kau ternyata ada alergi terhadap coklat." jawab .
"Apa!!???" teriak Mello kaget.
"Apaa!!???" timbrung Matt sembari berlari memasuki ruangan .
"Matt!? Ngapain kau di sini?" tanya Mello.
"Hehe, aku tidak sengaja mendengar dari luar." jawab Matt.
", memangnya tidak ada obatnya?" tanya Matt.
"Kata dokter, di kawasan sini tidak ada. Obatnya ada di kawasan Asia." jawab .
"Untuk sementara, dokter memberikan obat bedak agar gatal dan bintik merahmu berkurang." tambah sembari memberikan obat bedak tersebut ke Mello.
"Kalau begitu, kami permisi ya, ." kata Matt sembari menarik Mello keluar.
Mello hanya terdiam sembari memandang obat bedak tersebut.
Mereka berdua memasuki kamar Mello.
"Hoi, Mello! Kenapa bengong saja?" tanya Matt santai.
Terlihat beberapa urat kemarahan ada di jidat Mello.
"Kau masih tanya kenapa!? Sudah tau aku sedang dalam musibah bukannya hibur aku!" omel Mello.
"Maaf, maaf. Kau mau ku hibur bagaimana?" tanya Matt.
"Ya sudah. Kalau kau mau hibur aku, cium aku saja!" jawab Mello asal-asalan.
Tiba-tiba, Matt langsung mencium bibir Mello dan tersenyum.
"Sudah tuh." senyum Matt.
Mello masih bengong karena ciuman yang diberikan Matt tadi.
Tiba-tiba mukanya memerah.
"Hwa!? Apa yang kau lakukan!?" teriak Mello.
"Tadi kan kau minta dicium. Sekarang kenapa kau yang tanya?" tanya Matt.
Mello tidak bisa menjawab. Mukanya kini tambah merah. Semerah buah strawberry.
"Padahal.... tadi itu ciuman pertamaku." kata Mello sambil menunduk.
"Tadi juga ciuman pertamaku kok! Kenapa? Mau lagi?" tanya Matt usil.
Mendengar kata tersebut, muka Mello memerah lagi.
"Keluar dari kamarku!" teriak Mello sembari mendorong Matt keluar kamarnya.
"Oi, Mello! Tadi cuman bercanda kok!" kata Matt sambil berusaha masuk kembali ke kamar Mello.
Percuma, Mello mengunci kamarnya.
"Ya sudah. Aku minta maaf deh! Aku ingin tidur dulu yah! Sampai ketemu besok." kata Matt.
Di dalam kamar, Mello sedang terdiam di atas ranjangnya sambil memegang bibirnya.
Mukanya kembali memerah ketika mengingat peristiwa tadi.
Bodoh. Tidur ah, batin Mello dengan muka merahnya sembari menarik selimutnya.
Chapter 2 ini saya tutup dengan muka Mello yang merah! *Author digeplak Mello*
Maaf yah rada-rada lama update chapter ini, soalnya ga tau napa selera buat nulis Ao-chan akhir-akhir ini menghilang.
Buat yang request fic Akatsuki juga maaf yah, soalnya Ao-chan belom bikin fic-nya.
Makasih yang udah mau baca dan jangan lupa review!
Nonton The Master 3 dulu deh~
Hehe..
Arigatou gozaimasu! ^^
