Rated: T

Discalimer: These chara is totally belongs to Theirself, but this fic is officially mine.

Warning: Bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, OOC tingkat dewa dsb

Soonhoon slight JiCheol

Read it with ur own risk (:

Chapter 2

Kedua laki-laki berambut pekat dan bermata hitam itu segera turun dari mobil Jeep Cherokee hitam ketika mereka sampai di sebuah department store, setelah mengunci pintu mobil mereka segera masuk ke department store itu. Soonyoung berkacak pinggang menatap arsitektur café kakak laki-lakinya. Café yang terletak di sebuah department store, memiliki design interior yang menganut unsur prancis, terlihat jelas dari sofa-sofa kulit berwarna soft yang berjejer tak jauh dari meja kasir, dan miniature menara eifel yang berdiri disudut cafe, meski begitu masih terlihat sentuhan Korea di café yang terletak bersebrangan dengan ice rink itu. Terlihat beberapa lampion menggantung menghiasi meja kaca tempat menaruh beberapa kue yang terlihat menggiurkan, dan beberapa origami yang bertengger di meja kasir. Sungguh perpaduan yang indah. Soonyoung menolehkan kepalanya ke samping, kearah ice rink luas yang terletak disebrang café, terlihat juga beberapa orang yang tengah meluncur disana.

Melihat ice rink, membuat Soonyoung melirik kearah Seungcheol yang berdiri disampingnya. 'Apa Seungcheol hyung tidak menderita harus menghabiskan kesehariannya di depan ice rink?'

"Lebih baik kita segera masuk ke café ku, sebelum para skater cilik menyerbu café ku." Ujar Seungcheol yang membuat lamunan Soonyoung terputus. Soonyoung hanya mengangguk lalu mengikuti kakaknya dari belakang.

"Ah, aku juga ingin mengenalkanmu pada seseorang."

"Oh ya? Siapa?" Tanya Soonyoung tanpa antusiasme yang terpancar dari pertanyaan singkat itu. "Dia seorang pelatih ice skating di ice rink itu, dan sering menghabiskan waktunya di café ku ketika ia sedang istirahat." Ucap Seungcheol tanpa menoleh kebelakang, Soonyoung hanya mengangguk singkat. Suasana café kakaknya terlihat jauh lebih tenang dibanding suasana di sebrangnya. Membuat Soonyoung sedikit rileks, begitu memasuki café kakaknya, Soonyoung kembali menatap kesekitar.

Tamu di café kakaknya kala itu tidak terlalu ramai, mereka pun menikmati kopi ataupun cake mereka dengan tenang.

'Haah, akhirnya aku bisa menemukan orang bersikap rasional disini.' Batin Soonyoung. Tiba-tiba saja suara gemuruh tertangkap oleh telinga Soonyoung, refleks laki-laki itu segera menolehkan kepalanya.

"WOAA! AWAS!" BRUGH! Detik itu juga tubuh Soonyoung seperti dihantam benda yang berat, membuat laki-laki itu terjengkang kebelakang dengan kepala membentur sesuatu benda yang keras, dan disusul dengan benda lengket dan cairan panas yang mengenai rambutnya. Pandangan Soonyoung mengabur, dadanya terasa sesak karena tubuhnya seperti ditiban benda yang berat.

"Soon! Kau tidak apa-apa?" Soonyoung hanya bisa mengerang tak jelas seraya mengerjapkan matanya, berharap kunang-kunang di matanya segera pergi. Soonyoung akhirnya berhasil membuka matanya tanpa gangguan kunang-kunang lagi. Akhirnya laki-laki itu menyadari benda apa yang menindih tubuhnya dan membuatnya sesak nafas. Pria mungil berwajah asia dan berambut pirang berponi mengerjap sekali, lalu bola mata nya terbelalak kaget.

"Oh astaga! Maafkan aku.. aku tidak sengaja-" belum sempat pria itu menyelaskan kalimatnya, sesuatu menariknya berdiri dan tentu saja Seungcheol adalah dalang dibalik semua itu.

"Jihoonie! Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" Seungcheol memperhatikan mimik pria mungil itu ketika kaki kanannya menyentuh lantai kayu café nya, pria itu meringis kesakitan. "Aduh… tunggu." Ucap pria itu sambil berusaha menjejakkan kedua kakinya di lantai tanpa terhuyung-huyung, sebelah tangannya menyentuh kepalanya yang terasa berputar.

"Kakimu terkilir?" Tanya Seungcheol dua kali lebih khawatir dari sebelumnya.

Soonyoung menatap kakaknya dengan tatapan tak percaya. Seungcheol sibuk mengurusi si kecil itu dan tidak memperdulikan adiknya yang tergeletak tak berdaya dilantai? Soonyoung mendengus kesal seraya berusaha berdiri tanpa bantuan siapapun, ia berusaha berdiri dengan menopang tubuhnya dengan tangan dan langsung diserang oleh rasa sakit yang luar biasa, membuat wajah tampannya meringis kecil.

"Apa ada luka lain?" Suara Seungcheol terdengar lagi dan Soonyoung yakin pertanyaan itu bukan ditujukan padanya. "Kepalamu terbentur, lebih baik kita kerumah sakit."

"Tidak." Bantah pria kecil itu cepat. "Aku benar-benar baik-baik saja, tidak perlu kerumah sakit."

"Tapi tak ada salahnya kerumah sakit, siapa tahu ada pendarahan didalam." Kata Seungcheol lagi . "Tidak perlu, sudah kubilang aku tidak apa-apa, hyung."

"Tapi-"

"Sepertinya kita memang perlu kerumah sakit." Ujar Soonyoung yang akhirnya bisa menapakan kedua kakinya dilantai. Pria kecil itu menoleh kearah Soonyoung

"Sungguh, aku baik-baik saja, aku tidak perlu ke-"

"Bukan kau." Ujar Soonyoung tajam dengan rahang menggeretak, berusaha menahan rasa sakit yang mendera tangannya.

"Tapi aku." Seketika itu juga Seungcheol menolehkan kepalanya kearah Soonyoung.

"Oh astaga."

xXx

Bau menyengat alcohol dan obat-obatan khas rumah sakit besar langsung menari-nari di hidung Jihoon ketika pria itu menghela nafas panjang. Pria itu tak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

'Bodoh! Kalau saja bukan karena buntalan kapas itu.' Lagi-lagi pria mungil berambut pirang itu menghela nafas panjang seraya memejamkan mata nya. Rasa bersalah yang amat besar kini tengah bersemayam didalam hatinya. Kenapa? Tentu saja karena insiden buntalan kapas di café tadi beberapa menit yang lalu, ketika Jihoon tengah membawa sepiring chesse cake serta segelas hot choco late nya dan hendak duduk di pojok café untuk menikmati waktu istirahatnya, tiba-tiba saja seorang pria bertubuh besar dengan kasarnya menyenggol tubuh mungil Jihoon dan akhirnya sukses membuat Jihoon jatuh secara tidak elit dan menubruk adik dari Seungcheol, bos sekaligus pemilik café tempatnya biasa menyantap makan siang.

Ada sisi baik dan buruk dari kejadian itu. Sisi baiknya, Jihoon tidak terluka sama sekali, kepalanya hanya terasa sedikit pusing ketika menubruk dada bidang dari adik laki-laki Seungcheol ditambah bajunya tak ternodai krim keju maupun noda coklat. Dan sisi buruknya, selama perjalanan menuju kerumah sakit, Jihoon tak henti-hentinya mendapat tatapan tajam serta kata-kata menusuk dari adik Seungcheol.

'Siapa ya nama laki-laki itu? Sepertinya aku mendengar Seungcheol hyung memanggil namanya sebelum menarikku berdiri. Soon.. soonyoung? Ya! Itu namanya, tentunya.'

Tubuh Jihoon menegang ketika ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh keningnya, membuat pria kecil itu mengangkat wajahnya.

Mata bulatnya melebar ketika mendapati sesosok laki-laki bermata gelap menyodorkan segelas minuman kearahnya.

"Kurasa segelas coklat panas bisa menenangkanmu." Jihoon tersenyum kecil seraya menangkup cangkir karton yang disodorkan kearahnya itu dengan kedua tangan. "Terimakasih, Seungcheol hyung."

Seungcheol hanya tersenyum samar seraya menyesap minuman yang sepertinya adalah capucinno. Bagaimana Jihoon bisa tahu? Tentu saja dari aromanya. Untuk kesekian kalinya Jihoon menghela nafas panjang, perasaannya sangat tidak enak. Rasa bersalah masih bercokol didalam hatinya, sedari tadi ingin sekali ia meminta maaf pada Soonyoung, tapi tatapan tajam laki-laki itu membuat Jihoon lebih memilih untuk tetap diam.

'Dia pasti sangat membenciku.' Batin pria itu. Tentu saja, karena Jihoon sudah membuat tangan laki-laki itu cedera. Tubuhnya secara tak sengaja meniban tangan laki-laki itu, membuat Soonyoung meringis sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Jihoon memutuskan untuk menyesap coklat hangatnya, berharap rasa manis dari coklat itu dapat menenangkan syaraf otaknya. "Ji, kau baik-baik saja? Sepertinya wajahmu agak pucat?"

Jihoon menjauhkan cangkir karton dari mulutnya dan menatap lurus kearah lobby rumah sakit. "Tidak, aku tidak apa-apa hanya saja…"

Seungcheol hanya bisa terdiam, menunggu pria di sebelahnya melanjutkan kata-katanya. "Aku hanya khawatir akan keadaan adikmu, melihat dari ekspresinya selama dimobil pasti cederanya cukup serius." Ujar Jihoon murung.

"Sudahlah, kau tidak perlu khawatir pada Soonyoung, dia akan baik-baik saja."

"Aku sangat menyesal, dia sepertinya sudah membenciku bahkan sebelum kami berkenalan, bukan begitu hyungi?" Tanya Jihoon sambil tersenyum geli, Seungcheol hanya bisa tertawa pendek. "Kau tidak perlu khawatir akan sifat buruk yang sudah mendarah daging di sosok adikku, dia memang selalu seperti itu pada semua orang." Ujar Seungcheol yang sepertinya berusaha menenangkan Jihoon.

Tak lama, pintu ruang pemeriksaan terbuka, membuat kedua manusia berbeda gender itu menolehkan kepalanya. Sesosok laki-laki paruh baya lengkap dengan jas putihnya keluar dari ruang pemeriksaan, disusul oleh seorang laki-laki yang terlihat kotor dengan krim keju dan noda coklat di baju dan rambut gelap nya. Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, Soonyoung sama sekali tidak menoleh kearah kakaknya maupun Jihoon, moodnya benar-benar hancur total. Rencananya keluar rumah untuk menenangkan diri kini sudah hancur lebur, moodnya sudah benar-benar hilang.

"Ah, apa anda kakak dari Soonyoung?" Tanya laki-laki paruh baya itu kepada Seungcheol. "Iya, ada apa, dokter?"

"Bisa saya bicara sebentar dengan anda?" Seungcheol menoleh kearah Jihoon, menatap pria mungil itu sekilas sebelum akhirnya beranjak pergi menyusul sang dokter. Sementara Jihoon hanya bisa menundukan kepalanya ketika Soonyoung berjalan melewatinya, dadanya sesak. Perasaan bersalah membuncah ketika matanya melihat perban berwarna coklat membelit tangan kanan Soonyoung.

'Ya tuhan! Aku harus meminta maaf.' Meski begitu tak ada sepatah katapun keluar dari bibir mungil Jihoon. Pria itu mengangkat kepalanya dan membuka mulutnya bersiap untuk meminta maaf pada Soonyoung, tapi begitu melihat ekspresi yang cukup –ehem- menakutkan diwajah laki-laki itu, Jihoon segera membungkam mulutnya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tahu mood laki-laki itu pasti sangat hancur.

Soonyoung menghentikan langkahnya, ia berdiri memunggungi Jihoon. Sepertinya ia sudah benar-benar muak dengan Jihoon. Entah untuk keberapa kalinya Jihoon menghela nafas panjang, ia tahu ia salah dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membayar kesalahannya, sungguh ini seperti membunuhnya. Tetapi mencoba berbicara dengan Soonyoung seperti menyerahkan nyawamu pada malaikat kematian, sudah dipastikan Soonyoung tidak akan merespon permintaan maaf Jihoon dengan 'hangat'.

Jihoon merasa sedikit lega ketika melihat sosok Seungcheol berjalan mendekati mereka. "Lebih baik aku segera mengantarmu pulang, Ji."

xXx

'Kau tidak diperbolehkan menggerakan tanganmu selama kurang lebih satu bulan.'

Soonyoung mengepalkan tangan kirinya, rahangnya terlihat menegang pertanda bahwa laki-laki itu tengah kesal. Laki-laki itu memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya yang sudah diselimuti amarah. Begitu membuka matanya, ia segera melirik ke kaca spion tengah. Mata onyx nya menyipit ketika menangkap sosok pemuda bertubuh mungil tengah terduduk di kursi penumpang belakang. Pria itu, pemuda berambut coklat terang yang tengah menunduk. Beberapa helai rambutnya menutupi wajahnya, membuat Soonyoung tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu.

'Gara-gara dia.' Soonyoung segera mengalihkan tatapannya, berlama-lama melihat si mungil itu bisa membuat amarahnya kembali bangkit. Kalau saja pemuda itu tidak menubruknya tadi, kalau saja ia tidak datang ke café kakaknya, kalau saja kakaknya tidak datang ke apartemennya, dan kalau saja mesin kopi sialannya tidak rusak.

'Kau tidak boleh menggunakan tanganmu untuk sementara, apapun itu termasuk bermain piano, kau mengerti Soonyoung?'

Tanpa sadar Soonyoung menggeram kesal. Ya, dia tidak akan bisa bermain piano selama setidaknya paling cepat satu bulan. Ia tidak akan bisa menjalankan recital yang sudah ia tunggu bulan depan, ia tidak akan bisa menyelesaikan lagu barunya.

'Ya tuhan! Bisakah kau berhenti memikirkan semua pernyataan itu, otak! Tanpa kau perjelaspun aku bisa tahu, otak bodoh!' Batin Soonyoung lebih untuk dirinya sendiri. Soonyoung kembali melirik ke kaca spion. Pemuda kecil itu masih menundukan kepalanya, entah kenapa Soonyoung sangat membenci pemuda ini. Dia bagaikan malaikat kegelapan yang merenggut segalanya dari Soonyoung.

Merenggut resitalnya, merenggut lagu barunya, merenggut pagi harinya yang tenang dan damai. Soonyoung ingin sekali segera berpisah dengan pemuda ini dan menjauh setidaknya dalam radius 100 meter.

"Baiklah, kita sudah sampai." Ujar Seungcheol yang memecah keheningan, baik Jihoon maupun Soonyoung memilih untuk tetap diam. Soonyoung menyentuh rambutnya yang sudah terasa lengket karena krim keju

"Bisakah kita segera kembali ke apartemenku? Aku tidak mau rambutku jadi chesse cake." Gerutu Soonyoung. Seungcheol tidak menggubris kata-kata adiknya, sementara Jihoon segera membuka pintu penumpang dan melangkah keluar dari mobil. Melihat aksi Jihoon membuat Seungcheol turut keluar dari mobil, meninggalkan si penggerutu didalam mobil.

"Jihoon." Langkah pria itu terhenti ketika mendengar seseorang memanggilnya. "Ah hyung, terimakasih atas tumpangannya ya, maaf sudah merepotkanmu."

"Tidak sama sekali tidak merepotkan, dan terimakasih karena menemaniku di rumah sakit." Ujar Seungcheol sambil tersenyum ringan, entah mengapa setelah melihat senyuman itu perasaan Jihoon sedikit tenang. "Ah, sudah seharusnya aku ikut. Penyebab adikmu dibawa kerumah sakitkan karena aku." Ujar Jihoon yang sekilas melirik kearah Soonyoung. "Apa Soonyoung akan baik-baik saja? Apa yang dokter katakan, hyung?"

"Yea, sebenarnya cedera di tangan Soonyoung tidak terlalu serius, tangannya hanya terkilir tapi dokter menyarankan untuk tidak menggerakan tangannya selama satu bulan penuh, karena Soonyoung adalah seorang pianis."

"Eh? Pianis?"

"Yeah, seorang pianis pasti menggerakan tangannya lebih sering daripada orang biasa seperti kita bukan? Dan jika terlalu sering menggerakan jari jemari di saat kondisi otot lengan tidak sehat, bisa memicu peradangan." Jihoon termenung sesaat, berusaha mencerna kata-kata Seungcheol yang berputar dikepalanya. "Jadi.. Soonyoung tidak bisa bermain piano lagi?"

"Ya untuk satu bulan ini, tidak." Tubuh Jihoon tersentak. Tidak bisa bermain piano lagi? Jihoon baru mengetahui kenapa Sooonyoung sangat kesal, bagaimana tidak? Soonyoung adalah seorang pianis, bayangkan jika seorang pianis tidak bisa bermain piano selama satu bulan?

"Tak heran dia terlihat sangat membenciku." Ujar Jihoon yang akhirnya tersenyum getir, Seungcheol hanya bisa menatap pria mungil dihadapannya. Baru saja Seungcheol hendak berbicara, suara yang dingin dan tajam bak sebilah pisau merambat diudara.

"Bisakah kita segera pulang? Kau sudah mengantar bocah itu didepan apartemennya bukan, apa kau ingin mengantarnya kedalam juga?" Gejolak amarah muncul di dalam hati Jihoon. Pria itu merasa kesal, bukan kesal karena tatapan tajam Soonyoung yang dilontarkannya selama dua jam belakangan, bukan. Tapi kerana sifat tidak sopannya di hadapan Seungcheol, bagaimanapun Seungcheol adalah kakaknya, dan ia tidak sepantasnya berkata sekasar itu. Atas dasar amarah Jihoon berjalan melewati Seungcheol. Pria itu berhenti ketika ia sudah mendekati mobil Jeep Cherokee hitam yang terparkir di depan apartemennya.

"Aku tahu kau sangat kesal karena tanganmu! Tapi itu bukan alasan untuk bersikap sekasar itu dengan kakakmu! Bagaimanapun, dia adalah kakakmu! Aku sama sekali tidak marah atas tatapan tajammu, atau kata-kata menusukmu saat diperjalanan menuju rumah sakit, aku tidak marah karena kau melampiaskan amarahmu padaku, tidak sama sekali karena aku tahu aku pantas mendapatkannya, tapi kau tidak perlu melampiaskannya pada kakakmu!"

Jihoon berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, sementara Soonyoung hanya bisa menatap kearah si mungil itu. Meskipun tatapannya terlihat datar, tapi jauh dilubuk hatinya ia sangat terkejut. Terkejut bahwa baru sekali ini ada yang berani… mengomelinya selain ibunya tentunya. Semua pemuda maupun gadis yang ia kenal pasti selalu bertekuk lutut padanya, tapi ini? Baru saja ia membentak Soonyoung? Setelah beberapa detik menatap pria kecil itu, Soonyoung menolehkan kepalanya kearah jalanan, mata onyxnya menatap lurus kedepan. "Bisa kita pulang sekarang, Coups?"

Begitu mendengar suara adiknya yang sedikit serak, Seungcheol segera membalikan tubuhnya dan berjalan kearah mobil, sementara jihoon kembali menundukan kepalanya. Pria itu mengutuk dirinya didalam hati.

'Bodoh! Kenapa aku bisa lost control seperti tadi?! Kenapa aku malah memarahinya?! Harusnya aku meminta maaf padanya, bukan malah marah-marah seperti tadi.' Jihoon memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tubuhnya sedikit menegang ketika merasakan sebuah tangan menyentuh lembut pundaknya.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Soonyoung, dia akan baik-baik saja. Dan lagi, terimakasih ya atas aksimu tadi." Jihoon menoleh kesamping, tepatnya kearah Seungcheol yang berdiri disampingnya. Laki-laki itu tersenyum sekilas sebelum akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan Jihoon. Pemuda itu berdiri ditempatnya sampai mobil Jeep Cherokee hitam itu melaju dijalanan.

Senyuman indah itu kembali terbesit di kepalanya, membuat pipinya bersemu merah.

TBC

and ini ga diedit samsek.