Hai, loncati saja author note ini jika kamu sudah tidak sabar untuk membaca cerita selanjutnya. Saya akan membalas beberapa review dari kalian.

Cherrydevilla93 : Saya tepok jidat saat membaca reviewmu. Minangkabau, saya justru membayangkan setting kerajaannya seperti diserial putri Huan Zhu *sweatdrop. Jujur saja saya ini bukan otaku dan saya jarang nonton anime, bahkan saya gak ngikuti serial Naruto. Saya cuma suka pair SasuSaku saja. Jadi saat menyusun cerita ini saya buka2 artikel tapi malah meleset dibagian setting kerajaan hahahaha. Tapi malah orang-orang tidak menyadarinya, ya syukurlah. Terimakasih Cherry.

Chiwe Sakura : Disini Sasuke adalah seorang kaisar dan ia berpredikat kaisar yang kejam. Dan atas kedudukannya ini dia sudah memiliki banyak selir (istri sah) dan kecil kemungkinan kalau ia masih perjaka. Tapi tenang saja Chiwe, ia hanya melakukannya dengan para istri sahnya.

Someone : Untuk someone yang ada disana *tersipu-sipu, maaf ya kalau ide ceritaku mirip sama punyamu. Tapi demi Neptunus aku gak nyuri laptopmu. Kita sama-sama gak kenal kan? *kedip2. Haha, aku menantikan ceritamu. Ayo realisasikan. Mungkin ceritamu malah lebih menarik. Jujur saja aku ngetik cerita ini juga lewat hape kok. Karena aku merasa gak dapat feel kalau lewat komputer atau laptop. Dengan hape aku bisa menulis kapanpun dimanapun.

Williewillydoo, Piyorin, ZhaErza : Terimakasih atas koreksinya, awalnya saya juga ragu pengen masang Izanagi. Tapi yasudahlah terlanjur makai Amaterasu karena saya termakan artikel di Wiki dia dewi matahari sekaligus jagad raya. Hehe.

Maaf saya gak bisa membalas review kalian satu-satu, pertanyaan-pertanyaan reviewer yang lain akan terjawab di chapter-chapter selanjutnya. Terimakasih.

Disclaimer

Naruto©Masashi Kishimoto

Kutukan Sang Kaisar©Green Maple

.

Genre : Alternatif Universe, Drama, Romance, Fantasy, Rate M.

Dont like dont read, please read and review.

.

Kutukan Sang Kaisar

Chapter 2 : Persembahan Kaisar

Selamat membaca

oOo
.

Perayaan musim semi adalah perayaan tahunan yang diadakan oleh kekaisaran Uchiha yang sudah berlangsung sejak 8 tahun yang lalu. Saat perayaan berlangsung para penduduk akan menghiasi semua pohon sakura dengan kertas-kertas yang bertuliskan pujian bagi sang kaisar. Gadis-gadis yang lahir disaat musim semi dan genap berusia 16 tahun akan dirias dengan kimono dan rambutnya akan ditata sedemikian rupa untuk menarik hati sang kaisar. Dan bagi gadis yang terpilih untuk dijadikan selir, anggota keluarganya akan diberi sebuah upeti oleh kaisar sebagai hadiah.

Gadis-gadis yang akan dibawa ke istana dibekali dengan sebuah keranjang yang berisi hasil dari jerih payah masing-masing yang akan diberikan kepada kaisar sebagai tanda terimakasih.

Sakura terlahir 16 tahun yang lalu saat musim semi tiba di desa Kaito. Ia seorang gadis lugu anak satu-satunya dari petani desa yang miskin. Hidupnya ia habiskan untuk membantu orangtuanya berkebun, terutama semenjak sang ayah meninggal dunia karena sakit.

Sakura menghela nafas, hari ini ia dan beberapa gadis lain di desanya akan mengikuti perayaan musim semi. Kimono hijau muda pemberian sang ibu sudah membalut tubuhnya yang ramping. Rambut merah mudanya digelung dan diberi hiasan bunga untuk menonjolkan aura musim semi yang terpancar dari sang gadis. Bibirnya sudah diberi perona dengan gincu yang dibuat dari serbuk tumbukan daun salaya dan dioles dengan sedikit sari buah salaya.

Tanaman salaya adalah jenis tanaman semak yang memiliki warna dominan merah. Daun, bunga hingga buahnya berwarna merah. Para penduduk biasanya mengambil daun dan bunganya untuk dijadikan pemerah bibir. Daun dan bunga salaya harus dikeringkan dahulu sebelum ditumbuk dan direndam dalam air selama seminggu penuh di dalam sebuah guci yang terbuat dari tanah liat. Biasanya para wanita akan memakai gincu salaya bersamaan dengan madu. Namun karena madu sukar didapat dan harganya yang lumayan mahal, para penduduk mulai menggantinya dengan menggunakan sari buah salaya walaupun hasilnya tidak sebaik saat memakai madu.

Mebuki tersenyum melihat hasil karyanya. Gadis kecilnya sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik dan mempesona. Netranya merekam lamat-lamat semua gestur yang ada pada tubuh Sakura. Andai saja sang suami masih hidup, ia pasti akan sangat bahagia melihat anak gadisnya sudah tumbuh menjadi wanita secantik ini. Tangan Mebuki bergerak meraih kedua pundak Sakura memintanya untuk berdiri.

"Putriku cantik sekali," Wajah Mebuki terlihat berbinar-binar, senyum tulus terukir dibibirnya. Sakura tersenyum kecil sebagai respon atas perkataan sang ibu. Mebuki kemudian memutar tubuh Sakura menghadap sebuah cermin cembung dari material kuningan."Lihat, ada seorang dewi di depan mata ibu." Mebuki terkikik kecil setelah mengucapkannya. Sakura hanya cemberut saat mendengarnya, tangannya naik meremas kedua tangan ibunya yang sudah memiliki banyak garis keriput.

"Ibu, terimakasih. Tapi sungguh bu jika ibu mengijinkan, aku tidak akan ikut perayaan musim semi." Mata Sakura menatap lekat-lekat bayangan Mebuki yang terpantul di depan cermin. Ia bisa melihat Mebuki menggeleng-geleng pelan,"Tidak sayang, sudah berapa kali ibu katakan. Tidak baik jika kita membohongi Kaisar. Sudah tidak apa-apa, ibu akan baik-baik saja disini."Mebuki mengulas senyum seraya mengelus pundak sang anak untuk menyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja.

Sakura mengerti bahwa keputusan ibunya sudah bulat dan ia tidak akan bisa lagi mengubahnya.

"Nah, ayo kau harus segera bersiap-siap. Kereta kaisar akan segera datang untuk menjemput kalian."Mebuki berbalik berjalan menuju meja kayu di sudut rumah untuk mengambil keranjang buah apel hasil berkebun mereka untuk seserahan bagi kaisar.

Keranjang persembahan mereka berisi apel-apel merah yang Mebuki petik dari kebun dan dihias dengan beberapa kelopak bunga sakura yang memenuhi keranjang. Mebuki berbalik mengamit lengan Sakura dan menggiringnya keluar dari rumah.

Saat menginjakan kaki diluar rumah terlihat kereta-kereta kuda yang sudah menanti mereka. Kereta-kereta kuda itu sengaja disiapkan oleh pihak kekaisaran untuk membawa para gadis persembahan menuju istana. Beberapa gadis sebayanya sudah siap di depan rumah mereka masing-masing.

Langkah Mebuki berhenti, ia menoleh dan menyerahkan keranjang buah ke arah putri kesayangannya. Sakura menerimanya dengan setengah hati, sungguh ia tidak ingin membiarkan ibunya hidup sendirian. Ia tidak ingin membayangkan ibunya mulai menjalani hari-harinya sendirian tanpanya. Matanya mulai berkaca-kaca saat mengamati raut wajah sang ibu.

Mebuki yang mengetahui kegelisahan anaknya tersenyum hangat."Sayang jangan bersedih. Ini sudah menjadi jalan takdir kita, takdirmu. Bukankah dulu kau begitu menginginkan untuk ikut perayaan musim semi? Ku dengar sang kaisar memiliki wajah rupawan." Mebuki tertawa pelan, ia hanya ingin mencoba menyalurkan semangat dan keceriaan yang biasa ada pada putrinya. Sakura bergeming, kedua tangannya mencengkeram keranjang buah dengan erat. Mebuki tak tahan, ia langsung menyambar tubuh Sakura kedalam dekapannya. Memeluk erat, mengusap surai merah jambunya dan menahan isak tangis yang hampir saja lolos dari mulutnya.

Sakura mengeratkan pelukan, menyerap semua kehangatan dan kenangan yang tersisa. Jika ia berhasil lolos dan menjadi dayang kaisar, kecil kemungkinan ia bisa bertemu dengan ibunya lagi."Sayang, ibu mencintaimu. Jadilah gadis baik, jangan balas kejahatan dengan keburukan. Jadilah Haruno Sakura putri kecil ibu yang ceria. Jaga kesehatanmu, jika ada kesempatan kirimi ibu surat." Pelukannya terlepas, senyum masih terpatri diwajah teduhnya.

"Ibu juga, jaga kesehatan ibu. Aku akan mengirim surat. Mintalah bantuan kakek Jiraiya jika ibu merasa kesulitan. Aku juga mencintaimu bu." Mata Sakura masih berkaca-kaca namun senyuman manis terbit disudut bibirnya. Ia berbalik, melangkah tanpa keraguan menuju kereta kuda kaisar. Para pesuruh kaisar dan kusir kuda sudah siap ditempat dan tak berapa lama kemudian kereta-kereta kuda tersebut memacu membelah jalanan menuju kerajaan.

.
oOo
.

Sakura terpana saat pertama kali menginjakkan kaki ke dalam halaman istana. Ia bisa melihat bahwa istana benar-benar megah dan besar. Halamannya luas. Gerbang istana menjulang tinggi dan terlihat kokoh. Prajurit-prajurit berdiri di tiap titik bangunan. Dan ia bisa melihat banyak gadis yang sedang menunggu nasib sepertinya. Beberapa dari mereka berpakaian mewah, keranjang persembahan yang diisi dengan barang-barang yang terbuat dari material mahal, kimono yang terbuat dari serat sutra pilihan. Hingga perhatiannya terpecah saat seorang pria berambut putih dan terlihat tua berdiri di depan sebuah patung seorang kaisar.

"Selamat datang di kerajaan Uchiha. Saya adalah kepala dayang Sarutobi Hiruzen yang akan memandu kalian. Sesuai tradisi perayaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun, beberapa dari kalian akan dijadikan calon dayang kerajaan. Dan jika kalian beruntung, kaisar akan memilih satu diantara kalian untuk dijadikan selir," Suara riuh redam para gadis tiba-tiba menginterupsi pidato dayang Hiruzen,

"Oleh karena itu saya harap kalian dapat mematuhi tata krama dan peraturan dalam kerajaan. Tetap menunduk hormat, jangan sekali-kali mencoba menatap sang kaisar. Ini semua demi kebaikan kalian," Dayang Hiruzen sedikit berkata lirih diakhir kalimat,"buat barisan horizontal. Kalian akan menghadap kaisar dalam bentuk kelompok kecil. Baiklah, perayaan musim semi dimulai."

Kepala dayang Hiruzen berbalik masuk ke dalam istana Suizei. Sakura menoleh kanan kiri, berusaha mengikuti barisan kelompok yang sudah mulai terbentuk. Perasaan gugup tiba-tiba melanda batinnya. Sebentar lagi ia akan menghadap kaisar.

"Hai." Seseorang dari samping berusaha menyapanya. Sakura menoleh, mendapati seorang gadis cantik berambut pirang dengan kimono biru laut yang membalut tubuhnya. Gadis itu menatap kearahnya dengan senyuman kecil, matanya biru. Ia gadis yang cantik, pikir Sakura."Kau tahu, aku sudah lama sekali menunggu saat-saat ini. Aku benar-benar berdebar. Sejak kecil aku ingin sekali masuk istana dan berharap bisa menjadi salah satu dari selir-selir kaisar." Gadis itu terkikik dengan pipi merona.

"Huh!" Suara dengusan terdengar dari belakang. Sakura mengernyit. Seorang gadis berambut pirang yang sama dengan gadis tadi memasang wajah yang tak bersahabat. Kimononya berwarna ungu mengkilap dan terlihat halus dengan sulaman benang emas yang membentuk bunga lily memanjang memenuhi seluruh kimononya. Penampilannya benar-benar seperti seorang putri bangsawan.

"Gadis miskin sepertimu jangan terlalu bermimpi. Lihat baik-baik siapa dirimu. Jangan pernah berharap Yang Mulia Kaisar akan mengangkat selir dari gadis lusuh sepertimu." Mata violetnya menyalang sinis, nada bicaranya terdengar mengintimidasi.

Sakura bisa melihat gadis disampingnya hanya mencebik, raut wajahnya langsung tertekuk sebal."Sombong sekali dia, sudah jangan dengarkan dia. Ngomong-ngomong siapa namamu?" Mata biru gadis itu mengerling, Sakura terkesiap."Haruno Sakura." Cicitnya kecil. Gadis itu tersenyum, matanya menyipit."Aku Yamanaka Ino senang berkenalan denganmu Sakura."

Wajah Sakura berbinar saat ia menyadari bahwa ia memiliki satu teman baru.

.
oOo
.

Kaisar Sasuke terlihat duduk dengan berwibawa diatas singgasananya. Ia memakai jubah kimono kerajaan yang berwarna dominan emas dan merah. Rambut hitamnya ditata dan terkuncir keatas dengan ditutup sebuah mahkota. Jenderal Naruto dengan jubah kemiliterannya berdiri gagah tepat dibelakang kaisar. Tangan kirinya menopang diatas sebuah katana. Dayang Hiruzen berjalan menghadap kaisar, ia bersujud dan membungkuk hormat kepada kaisar.

"Maaf Yang Mulia, persiapan perayaan musim semi sudah selesai. Mohon Yang Mulia memberikan titah untuk memulai perayaan."

Sejenak kaisar hanya melirik dengan pandangan tajam, sebelum ia memerintahkan dayang kepercayaannya untuk melanjutkan perayaan ini.

"Hn."

"Titah Yang Mulia adalah perintah bagi kami." Seperti mengerti akan arti ucapan kaisar, dayang Hiruzen membungkuk sekali lagi sebelum beringsut mundur untuk melanjutkan tradisi perayaan musim semi.

Satu kelompok kecil mulai berjalan ke depan singgasana kaisar. Gadis-gadis itu harus bersimpuh layaknya geisha dan menunduk tanpa berani melihat kaisar, mereka akan diberi kesempatan melihat kaisar hanya beberapa detik. Jika kaisar berkenan salah satu dari mereka maka ia akan dipilih untuk dijadikan dayang.

Namun, beberapa tahun belakangan ini hal itu jarang terjadi. Kaisar hanya akan duduk mengamati jalan perayaan berlangsung tanpa minat. Ekspresinya dingin dan datar. Jari tangan sebelah kirinya akan mengetuk-ngetuk berirama diatas kursi kekaisarannya. Iramanya seperti melodi kematian. Membuat beberapa orang disekitarnya berkeringat dingin tidak berani untuk mengusik kaisar.

Kaisar hanya akan menopang dagu, menutupi sebelah wajahnya. Jika sudah seperti ini dayang Hiruzen yang akan mengambil alih tugas kaisar. Menyeleksi beberapa gadis yang akan dijadikan dayang kerajaan.

.
oOo
.

Sakura mulai lelah, kakinya pegal berdiri menunggu giliran. Keringat mulai membanjiri tubuhnya.

"Demi dewa, kenapa lama sekali Sakura?" Ino mengeluh sudah berapa lama mereka berdiri menunggu seperti ini, juntaian kimononya mulai beralih fungsi menjadi kipas. Sakura menyeka keringat, ia berjinjit demi melihat sejauh mana antrian ini bergerak.

"Sebentar lagi Ino, kurang dua barisan lagi menghadap lalu kita." Jarak barisan dengan singgasana kaisar memang cukup jauh, namun dari sini Sakura bisa melihat bahwa gadis-gadis itu duduk bersimpuh dengan kepala menunduk. Samar-samar ia bisa melihat kaisar bertopang dagu sehingga menutupi setengah wajahnya.

"Selanjutnya."

Terlihat kelompok kecil yang menghadap kaisar sudah beringsut pergi, barisan mulai bergerak maju. Dua barisan yang akan menghadap kaisar harus ikut duduk bersimpuh mengikuti barisan kelompok kecil yang sedang menghadap kaisar.

"Sakura aku tidak tahan ingin melihat bagaimana wajah kaisar dari dekat." Ino berbisik-bisik lirih namun suaranya masih terdengar memekik kecil. Sakura yang duduk bersimpuh disebelahnya tersenyum mendengar antusiasme sahabat barunya.

"Sabar Ino, sebentar lagi kau akan bisa melihat wajah Yang Mulia kaisar. Tinggal satu barisan lagi maka giliran kita." Sakura bisa melihat ada seorang dayang wanita tua yang melotot melihatnya. Sakura meneguk ludah kemudian menunduk takut. Di dalam tradisi penyeleksian tidak boleh ada suara apapun yang terdengar kecuali sang kaisar.

"Selanjutnya."

Barisan yang menghadap kaisar sudah beringsut mundur. Sakura bisa melihat dari ekor matanya bahwa kelompok kecil yang ada di depannya sudah bergerak maju ke depan. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Sebentar lagi adalah gilirannya. Ia gugup sekaligus takut, ini pertama kalinya ia akan menghadap sang kaisar. Kedua tangannya mencengkeram keranjang dengan erat. Matanya memejam.

Yang selama ini ia dengar sang kaisar adalah raja yang berhati dingin dan kejam. Kaisar tidak pernah berhenti berperang dan membunuh. Katana sang kaisar menjadi sebuah legenda seperti pedang dewa kematian dengan batu safir merah yang terlihat seperti mata merah yang menyalang tajam. Ia tidak akan segan-segan menebas kepala seseorang yang menyinggung atau menentang kehendaknya.

Namun ada selentingan kabar yang mengatakan bahwa sebenarnya kaisar memiliki wajah yang rupawan. Inilah yang membuat sahabat barunya, Ino, ingin sekali melihat seberapa rupawan wajah kaisar. Jika ia memiliki nyali yang cukup tinggi untuk melihatnya.

"Selanjutnya."

.
oOo
.

Sudah berapa gadis yang terpilih untuk menjadi dayang. Gadis yang terpilih itu akan digiring ke sudut ruang istana Suizei bersama para dayang wanita senior yang lain. Kaisar Sasuke masih duduk menopang dagu, jari-jari tangan kirinya mengetuk berirama kursi singgasananya. Ia jengah dan ia merasa kesal. Sudah berapa kali ia melakukan ritual bodoh ini dengan dalih merayakan musim semi. Hingga sudah 8 tahun lamanya ia menunggu dengan sabar namun tak kunjung ada tanda-tanda bahwa reinkarnasi dewi itu muncul.

Ia menggeram, kemarahan tiba-tiba menyeruak direlung hatinya, tangannya mendadak berhenti mengetuk. Jenderal Namikaze yang berdiri disampingnya melirik was-was. Ia bisa merasakan bahwa suasana hati kaisar mendadak buruk. Tangan kaisar mengepal erat disamping kursi. Ini tidak baik, batinnya.

"Selanjutnya."

Hingga saat suara salah satu dayangnya menyeruak meminta barisan berikutnya maju, sang kaisar tiba-tiba berdiri. Jenderal Namikaze sedikit tersentak kaget.

Angin musim semi tiba-tiba berhembus pelan. Menerbangkan beberapa kelopak bunga sakura yang berguguran ke dalam istana Suizei. Kaisar bergerak melangkah menjauh saat barisan calon dayang itu mulai duduk bersimpuh di depan singgasananya, meninggalkan suara gemerisik saat jubah kekaisarannya bergesekan dengan lantai.

Ia sudah tidak perduli lagi, hatinya sudah diselimuti kemarahan. Putus asa mulai menggerogoti hatinya. Harus berapa lama lagi ia akan seperti ini?

Kaisar tidak tahu bahwa hal yang menentukan takdirnya sudah berada di depan mata. Setiap langkah yang ia ambil akan membuatnya semakin menjauh. Menjauh dari takdir yang menentukan nasib hidupnya. Membuat benang-benang merah diantara mereka semakin kusut.

Ketidaksabaran kaisar akan menjadi sebuah petaka baginya.

.
oOo
.

Jenderal Namikaze yang mengikuti di belakang langkah kaisar berhenti saat tiba-tiba saja kaisar menghentikan langkahnya. Tangan kaisar menengadah saat satu kelopak bunga sakura terbang dan jatuh di atas telapak tangannya. Mendadak hati kaisar gelisah. Jantungnya berdegup. Perasaanya benar-benar tak tenang. Ada apa ini? Firasat apa yang tiba-tiba datang menyerbunya?

"Selanjutnya."

Suara dayang Hiruzen memecah lamunannya. Ia berbalik dan melihat barisan para gadis itu mulai berdiri.

Tak sengaja mata hitamnya melihat mata hijau seorang gadis berambut merah jambu yang sedikit mendongak saat gadis itu berdiri dari duduknya.

"Tunggu!"

Suara kaisar yang tiba-tiba menggelegar di ruang istana membuat beberapa orang disana terlonjak kaget dan mengernyit bingung. Beberapa orang reflek mendongakkan kepala. Termasuk gadis merah muda itu.

Kaisar Sasuke tidak perduli jika tingkahnya yang tiba-tiba membuat perhatian semua orang tertuju padanya, ia tidak perduli saat ada gelenyar aneh yang merayap ditubuhnya ketika mata sehitam jelaganya bersiborok dengan mata hijau jernih itu. Seakan menyadari kelancangannya gadis itu tiba-tiba menunduk takut.

"Dayang Hiruzen."

Dayang Hiruzen tersentak saat tiba-tiba kaisar memanggil namanya."Hamba Yang Mulia."

Sorot mata kaisar masih menatap lurus kearah barisan kelompok kecil di depannya."Aku ingin mereka semua menjadi dayangku." Setelah mengatakannya kaisar Sasuke berbalik dan melanjutkan langkah.

"Sesuai titah Yang Mulia." Walaupun dalam hati dayang Hiruzen bingung, namun ia tidak berani membantah kehendak Yang Mulia Kaisar.

Kaisar Sasuke berjalan cepat, langkahnya lebar dan terburu-buru. Jenderal Namikaze yang mengikuti di belakangnya dibuatnya terheran-heran. Apa yang membuat suasana hati kaisar berubah drastis seperti ini?

Gelenyar aneh itu masih ia rasakan. Degub jantungnya berdetak dengan tempo cepat. Ia merasakannya, ia merasakannya. Merasakan perasaan aneh itu. Perasaan aneh yang menggebu-gebu. Tangannya mengepal erat, gairah hidupnya muncul menyeruak. Ada hasrat yang luar biasa tinggi muncul tiba-tiba untuk memiliki pemilik mata hijau indah itu.

Itu dia, itu dia. Dia sudah muncul, dia sudah datang. Belahan jiwaku.

.

Chapter 2 : Persembahan Kaisar - End

.

A/N :

Kenapa aku suka sekali ya menyebut Naruto sebagai Jenderal Namikaze? Haruskah aku ubah?