THE LAST HEART
A Minseok/Xiumin x ? Fanfiction
With other cast (Just find out them)
Story is MINE purely
(mungkin rada aneh yah)
Drama, Family, /Mystery, Hurt/Comfort, etc (temukan sendiri yaw)
WARN!
This is BOYS LOVE (DLDR)
, EYD belum sempurna.
Butuh Saran Bukan Bash. Makasih.
Happy Reading
Chapter 2
"APPA…!"
Minseok terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah, raut wajahnya menampakkan ketakutan hebat. Minseok menekuk kedua lututnya, menangis disana.
"Hikss,,appa"
Brak
"Minseok-ah"
Seorang pemuda berusia sekitar 14 tahun memasuki kamar Minseok, lebih tepatnya kamar dia yang sudah dua hari ini ditinggali oleh Minseok. Pemuda berbadan tinggi, berkulit agak cokelat dan memiliki aura dewasa ini mendekati Minseok yang tengah menangis. Sungguh, bukannya Minseok lemah, dia sudah mencoba untuk tidak menangis seperti apa yang dia katakan di pemakaman sang ayah. Tapi dia hanyalah seorang anak berusia 10 tahun yang telah ditinggal kedua orang tuanya. Kini dia hanya sendiri. Ketakutan jelas tercetak dalam dirinya. Dan trauma yang dialaminya kini sungguh menyakitkan.
"Tenanglah… Hyung ada disini"
Dengan sayang, pemuda bernama Yunho ini tengah mengelus surai rambut hitam Minseok. Yunho menganggap Minseok seperti adiknya. Adiknya yang dulu juga pergi meninggalkan Yunho, oleh sebuah kecelakaan.
"Yunho hyung… Appa..hiks..appa"
"Heii… Jangan menangis seperti itu. Bukankah kau sudah bilang pada ayahmu untuk tidak menangis lagi"
"Appa"
.
.
.
"Detektif Shin.. Appa"
Duarrr ….
"APPA…!"
Minseok berjarak kurang lebih 20 meter dari ayahnya saat ini. Saat kakinya hendak melangkah menuju sang ayah ketika itu juga dia ditahan oleh seseorang yang memeluknya dari belakang. Minseok meronta-ronta. Semuanya benar-benar dilihat dengan kedua iris matanya. Detektif Shin yang dia ketahui adalah teman sang ayah kini dengan teganya menembakkan peluru senapannya kearah ayahnya, seketika itu juga mobil keduanya meledak.
"Appa….! Lepaskan aku..!"
Semuanya terjadi begitu saja. Dalam hitungan detik kobaran api menyelimuti dua mobil yang ditaiki oleh Jeongsuk dan Detektif Shin. Hingga beberapa saat bus-bus pemadam kebakaran datang dan menjinakkan si jago merah dari arah lalu lintas berlawanan. Keadaan lalu lintas yang tadinya sempat macet kini tidak lagi, karena ternyata mobil-mobil yang tadi sempat terjebak macet lebih memilih untuk melawan arah jalan demi menyelamatkan diri mereka dari penyebab macet itu.
Suara ambulance berbunyi nyaring, sampai ke telinga Minseok. Dalam pertahanannya berjalan menghampiri Jeongsuk, setelah berhasil dia terlepas dari rengkuhan seseorang tadi, Minseok merasakan pandangannya memudar.
"Appa…."
Bruk..
Tubuh kecil Minseok ambruk. Semua yang dilihatnya sungguh membuat dia takut. Takut dengan segala hal. Pikiran bocahnya tidak bisa mencerna apa yang sudah terjadi. Ayahnya dan Detektif Shin.
"Hey…Hey…Bangun…"
Seorang pemuda yang tadi menahan Minseok berusaha memastikan kondisi Minseok. Pemuda yang dalam pikirannya hanya satu, menyelamatkan Minseok dari insiden di jalan itu yang bahkan dia tidak kenal siapa itu Minseok.
"Siapapun…Tolong saya…"
Teriak sang pemuda sambil menggendong Minseok menuju mobil ambulance yang terparkir tidak jauh dari tempatnya kini berjalan.
.
Dua mobil ambulance yang kini masing-masing membawa dua orang yang tengah terbaring lemah telah sampai pada rumah sakit terdekat. Dengan gerakan cepat petugas ambulance membawa masuk kedua orang itu ke dalam ruangan UGD.
Yang satunya adalah Jeongsuk, terkapar tidak berdaya dengan kondisi tubuh yang sangat parah. Sementara di sebelah Jeongsuk yang berbarengan masuk ke dalam ruang UGD tadi adalah Minseok.
"Appa…"
Dengan sedikit kesadarannya Minseok menolehkan kepalanya melihat sang ayah. Ayahnya yang kini terlihat sangat parah. Matanya terpejam tidak berdaya. Kondisi tubuhnya banyak luka, seperti terkena bom, pikir Minseok.
"Appa...Kau tidak akan meninggalkanku kan?"
Minseok mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan segala hal buruk yang dia pikirkan.
Sreettt..
Bocah itu kini tak bisa lagi melihat ayahnya. Gorden pemisah tempatnya pada sang ayah ditutup. Dokter dan para suster kini tengah intens menangani kondisi Jeongsuk. Bersamaan dengan itu beberapa polisi mendatangi Minseok yang masih terbaring lemah. Tidak, bukan Minseok yang ingin para polisi itu temui melainkan seorang pemuda yang sedari tadi berdiri disamping Minseok. Sekali lagi, Minseok yang masih kecil pun takut melihat para polisi itu membawa serta pemuda tadi yang selalu menjaganya semulai kejadian di jalan.
"Hyung.."
Pemuda yang merasa dipanggil itu menolehkan kepalanya, memberikan senyuman singkat pada Minseok seperti menjelaskan semuanya akan baik-baik saja.
"Tidak apa.. Kau disini saja, suster akan merawatmu..Hyung pergi dulu sebentar ya"
Selepas keluarnya pemuda tadi, seorang suster tengah memeriksa keadaan Minseok. Beruntung Minseok tidak mengalami apa-apa. Hanya saja, dia masih mengalami trauma yang sangat berat. Setelah memeriksa Minseok, suster berpamitan pada Minseok sebentar.
"Nah..Sekarang kau tidur dulu ya..Nanti nonna kembali lagi"
Minseok hanya mengangguk lemah. Dia kembali mengalihkan pandangannya kea rah gorden disampingnya. Tempat sang ayah tengah ditangani oleh dokter. Rasanya dia ingin sekali bangun dan berdiri disamping ayahnya tapi dia lebih memercayakan semuanya pada sang dokter kali ini.
"Appa.. Kau berjanji untuk tidak meninggalkanku"
Minseok bergumam lemah sampai pada akhirnya matanya terpejam.
.
Sang dokter beserta dengan beberapa susternya menggeleng lemah. Orang yang sejak satu jam tadi mereka tangani tidak dapat mereka tolong. Dengan pelan sang dokter menutup mata pasien didepannya dan menarik selimut pasien menutupi wajahnya. Dengan langkah gontai mereka berjalan keluar dimana terdapat polisi dan pemuda tadi.
"Bagaimana hasilnya?"
"Dia tidak bisa diselamatkan.. Kondisinya sangat parah.. Kami sudah melakukan yang terbaik. Maafkan kami"
Dengan cepat polisi dan pemuda yang mendengar berita itu memasuki ruangan Jeongsuk berada.
"Detektif Kim.. Aku tidak menyangka ini semua"
"Paman Kim.."
Eunghh..
Keduanya menolehkan kepala mereka mengikuti sumber suara, membuka gorden pemisah Jeongsuk dan Minseok tadi. Terlihat Minseok sudah bangun dari tidurnya dan kini mencoba untuk berdiri. Dapat dilihatnya dua orang yang tengah mengelilingi ayahnya kini menatap Minseok dengan tatapan menyiratkan kesedihan dan iba pada Minseok.
"Appa.."
Minseok segera menghampiri Jeongsuk. Tanpa memikirkan apa yang telah terjadi, Minseok membuka kain yang menutupi wajah sang ayah. Masih berharap semuanya akan baik-baik saja. Tapi gerakan tangannya terhenti seketika saat dia menyadari mata sang ayah terpejam damai dengan wajahnya yang pucat. Dirasakan tangan Minseok suhu tubuh sang ayah dingin. Raut wajahnya ketakutan. Langsung saja Minseok menatap kedua orang yang ada disana dengan bergantian, arti tatapan itu menyiratkan apa yang terjadi dengan ayahnya. Semakin takut Minseok saat pemuda yang tadi dia panggil 'Hyung' menggeleng lemah.
"Tidak.. Appa… Appa sudah berjanji untuk selalu ada disampingku"
Bagaimanapun juga, Minseok bisa mengartikan isyarat tadi. Bahwa ayahnya sudah pergi meninggalkan dia. Menangis, lagi.
"Kalau janji itu harus ditepati. Bukankah kau selalu bilang seperti itu. hiks appa"
Minseok kecil memeluk ayahnya kini yang tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Begitu juga dengan kedua orang yang berada disitu, mereka tidak berniat untuk memisahkan MInseok. Biarkan sejenak Minseok menumpahkan tangisannya.
"Appa…. Bangunlah.."
Brukk..
"Minseok.."
Teriak polisi dan pemuda itu bersamaan, tubuh Minseok kembali ambruk. Sungguh ini benar-benar membuat bekas luka yang sangat dalam dihati anak sekecil Minseok.
.
Acara pemakaman Kim Jeongsuk sudah selesai, namun Minseok masih saja tidak berniat meninggalkan tempat itu. Dia tidak lagi menangis, namun tatapan matanya kosong. Trauma yang dialaminya masih berbekas tajam. Minseok setia berdiri disamping pusara sang ayah yang bertempat tepat disebelah pusara sang ibu. Memang itu permintaan Minseok pada polisi yang menangani pemakaman ayahnya. Tidak salah jika para polisi begitu menghormati sang ayah, karena selama hidupnya Kim Jeongsuk sudah memberikan dedikasi tingginya pada negara mereka dalam melindungi negara mereka dari berbagai macam kasus membahayakan yang menimpa negara mereka.
Langit sudah berubah warna, awan-awan gelap juga terlihat menampakkan dirinya. Tersisa dua orang yang kini masih setia berdiri disamping sebuah pusara tadi. Rintik-rintik hujan mulai turun. Sepertinya langit pun mengerti perasaan Minseok, sehingga meneteskan airmata mereka. Minseok merasakan dirinya tidak terkena basahnya air hujan, beruntung bahwa pemuda yang ternyata bernama Yunho ini masih setia menemani Minseok. Memayungi tubuh kecil Minseok dari air hujan yang semakin lama semakin deras.
"Appa.. Aku tidak akan menangis lagi. Jadi, kau harus berjanji untuk bahagia disana. Bahagia bersama umma.."
"Aku menyayangi kalian.."
Minseok mengelap cepat setetes airmata yang jatuh dalam ketidaksengajaannya. Berusaha tersenyum, walau begitu sulit.
"Hujan semakin deras dan hari sudah mulai malam. Ayo kita pulang Minseok"
Minseok mengangguk sekali. Benar, ini waktunya dia pulang. Kedua orang itu berjalan pelan meninggalkan pemakaman. Dan tidak melihat seseorang yang tengah berjalan dengan gontai menuju pusara Jeongsuk.
"Maafkan aku, Jeongsuk"
.
.
.
"Sekarang kau tidurlah.. Istirahatkan dulu tubuhmu"
Yunho membaringkan tubuh kecil Minseok setelah berhasil menenangkan Minseok yang tadi sempat menangis lagi mengingat ayahnya. Menurut dengan apa yang diperintahkan Yunho, Minseok kembali memeluk sebuah guling yang dan mulai memejamkan matanya perlahan.
"Kau pasti kuat Minseok-ah"
Dirasanya Minseok sudah kembali terlelap dalam tidurnya. Yunho memutuskan untuk keluar dari kamar itu, memberikan ruang kenyamanan pada Minseok. Yunho memang membawa Minseok ke rumahnya untuk tinggal bersamanya setelah mengetahui bahwa Minseok tidak memiliki keluarga siapapun di kota Seoul ini. Yunho tidak tinggal sendirian, masih ada kedua orang tua nya yang juga tinggal dirumah ini. Mereka pun setuju saja Yunho membawa Minseok untuk tinggal bersama mereka. Karena dilihatnya Yunho begitu menyayangi Minseok, layaknya adik.
Kringg..kringg…
"Halo…"
"…."
"Apa? Kau yakin ada hubungannya dengan itu paman?"
"…."
"Baiklah, aku segera kesana"
Percakapan singkat Yunho terputus, lekas saja dia bergegas menuju suatu tempat itu. Sayangnya, saat Yunho menerima sambungan telepon tadi dia masih berada didepan kamar Minseok. Minseok yang memang nyatanya belum tidur mampu mendengar samar-samar apa yang Yunho ucapkan.
"Hubungannya dengan apa?"
Minseok mengubah posisi tidurnya menjadi telentang, menatap lekat-lekat langit-langit kamar yang ditempatinya kini. Seketika matanya terbuka lebar.
"Apa ini ada hubungannya dengan appa?"
Ingin sekali dalam hatinya dia berbuat sesuatu untuk mengungkap semuanya. Menemukan siapa dibalik kejadian yang menimpa ayahnya. Tapi dia sadar, dia masih terlalu kecil dan banyak yang tidak dia ketahui. Dan lebih dari itu semua, trauma yang dialaminya masih dirasakannya saat ini.
"Appa.. Aku akan menjadi detektif sepertimu, dan aku akan menemukan siapa yang melakukan itu semua padamu.
Ikrar Minseok kecil pada dirinya sendiri sebelum dia memejamkan kembali kedua matanya. Mengistirahatkan tubuhnya.
.
Yunho memasuki sebuah rumah setelah berkali-kali memencet tombol bel rumah itu. Tidak lama kemudian, seorang pria berusia 40an membukakan pintu masuk rumah itu.
"Kau lama sekali paman"
Yunho segera memasuki rumah itu tanpa basa basi melewati pria yang tadi membukakan pintu. Dengan santai Yunho mendudukkan tubuhnya pada sofa ruang tengah rumah itu.
"Paman, apa kau yakin kejadian yang menimpa Paman Kim itu ada hubungannya dengan kasus mafia yang tengah ditanganinya?"
Langsung saja Yunho mempertanyakan apa yang sedari tadi menjadi pertanyaannya. Seorang pria yang dipanggil 'Paman' oleh Yunho kini ikut duduk disamping Yunho. Membaca sebuah lembaran-lembaran kertas menampilkan banyak tulisan juga foto disana.
"Dari hasil anilisis paman, kemungkinan besar kematian Detektif Kim itu berhubungan dengan kasus itu. Dan apa kau bilang waktu itu kau melihat satu orang lagi yang tidak meninggalkan kedua mobil itu. satunya adalah Jeongsuk, lalu satunya lagi siapa?"
"Aku tidak begitu jelas melihatnya paman Byun, karena saat itu aku fokus untuk menghindari Minseok dari tempat kejadian…"
"Hahh.. Kalau begitu sulit untuk kita menyelidiki lebih lanjut, tidak mungkin kita asal menuduh tanpa bukti.. lagipula saat pemeriksaan tempat lokasi tidak ditemukan siapa-siapa lagi selain Detektif Kim"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan paman?"
"Untuk sementara ini, kau lindungi saja dulu Minseok. Aku takut bahaya sedang mengancam dia"
"Baiklah, paman… euhm… Kalau begitu aku pulang"
"ya.. Pulanglah dulu. Ingat, besok kau juga harus menunaikan kewajibanmu sebagai pelajar, Yunho. Tidak seperti ini"
"Hehe.. Iya.."
.
Minseok menuruni tangga rumah milik Keluarga Jung. Setelah beberapa hari dia tidak bersekolah kini akhirnya dia memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikannya. Keluarga Jung pun sudah tahu semua tentang Minseok, karena ayah Yunho selaku kepala keluarga Jung ternyata adalah seorang mantan detektif, teman lama ayah Minseok. Beruntung sekali, Minseok bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka. Pasca hari pemakaman sang ayah, Minseok terlihat sedikit murung. Keluarga Jung mencoba menghibur dia, mencoba untuk menghilangkan rasa sedih yang dia rasakan. Namun, Minseok masih belum bisa sepenuhnya kembali seperti dulu. Membuat keluarga Jung berinisiatif untuk membawa Minseok ke seorang psikiater kenalan mereka. Mereka takut kejadian sang ayah itu membuat bekas trauma yang mendalam bagi Minseok kecil. Tapi sepertinya harus ditahan dulu, karena mereka ingin memberi ruang bagi Minseok untuk menenangkan dirinya.
Minseok berjalan mendekati meja makan yang kini sudah ada ayah dan ibu Yunho. Dengan sopan dia menyapa mereka satu per satu lalu duduk disalah satu kursi meja makan tersebut.
"Yunho hyung kemana, Bibi?"
Minseok sedari tadi pagi terheran karena dia tidak melihat Yunho seperti biasanya beberapa hari terakhir. Biasanya, setiap pagi Yunho akan membangunkannya dan menyambutnya di meja makan. Minseok merasa mempunyai sosok seorang kakak yang begitu menyayanginya. Namun, sampai saat ini dia dia melihat Yunho.
"Ah.. Dia sudah berangkat lebih dahulu tadi pagi, katanya ada tugas sekolah yang belum dikerjakannya. Jadi nanti kau berangkat ke sekolah bersama paman, oke?"
"Baik,,paman"
.
"Nanti.. Sepulang sekolah, kau tunggu saja. Paman atau Yunho hyung akan menjemputmu. Jangan kemana-mana. Paham?"
"Iya.. Paman.. Terima kasih"
Selepas perginya paman Jung, Minseok masih belum memasuki gerbang sekolahnya. Dia terlihat menggigit-gigit bibir bawahnya. Kakinya dihentak-hentakkan kecil. Minseok mengatur nafasnya. Mengambil dan membuang nafasnya perlahan. Memejamkan matanya sekali lalu dia mencoba mengukir senyuman diwajahnya, meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Brukk..
Baru saja Minseok ingin melangkahkan kaki kecilnya memasuki area sekolahnya. Dia merasakan tubuhnya terdorong kedepan oleh seseorang, beruntung dia masih bisa menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh.
"Maaf..Maaf.."
Minseok membalikkan tubuhnya, ingin menemukan siapa yang telah membuatnya hampir terjatuh seperti itu. Dan seketika matanya mengerut, mencoba meyakinkan apa yang dilihatnya saat ini. Orang yang ditatapnya pun juga begitu.
"Kau/Kau?"
Keduanya saling bersahutan dengan nada yang berbeda. Minseok dengan nada datarnya dan anak itu dengan tatapan terkejutnya. Minseok masih mengenali wajah itu, wajah yang pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalau di kantor ayahnya. Dan anak itu pun juga sama, bahkan dia masih ingat dengan jelas bahwa orang yang tadi ditabraknya dengan tidak sengaja itu adalah Kim Minseok.
"Apa kau-"
"Luhan.."
Perkataan anak itu terpotong dengan datangnya seorang lagi anak yang keluar dari sebuah mobil yang ternyata dinaiki mereka berdua. Seorang anak yang merupakan teman baru Minseok, Kris. Kris mendekati Minseok dan anak yang Minseok kini kenal bernama Luhan itu dengan tatapan terkejut.
"Minseok? Apa ini benar kau Minseok?"
"Iya.."
"Kemana saja kau? Sudah berapa hari kau tidak masuk sekolah. Aku jadi kesepian"
Minseok yang sedari tadi diam kini masih tetap dengan tampang datarnya dan menyahuti pertanyaan Kris dengan singkat. Berbeda dengan Luhan yang berdiri disamping Kris kini memandang jijik pada sepupunya ini. Luhan tidak menyangka Kris yang datar bisa berbicara sepanjang itu.
"Aku..Ah.. Sudahlah, Aku ingin ke kelas"
Minseok sedang tidak ingin banyak bicara. Dalam dirinya untuk saat ini dia hanya tidak ingin banyak bicara pada orang lain. Meskipun itu adalah temannya. Entahlah, ada perasaan tidak percaya yang tiba-tiba muncul dalam diri Minseok pada seorang teman. Dia tidak tahu itu apa.
Melihat Minseok berjalan meninggalkannya, Kris segera menyusul langkah Minseok. Tidak perlu berlari, Kris bisa dengan cepat menyamakan langkahnya dengan langkah Minseok.
"Hari pertamaku sekolah disini begitu menakjubkan sepertinya"
Luhan berbicara sendiri sambil melihat pada Kris yang sedang berjalan beriringan dengan Minseok menuju kelas mereka. Dilihatnya tidak ada percakapan apa-apa dari kedua objek penglihatannya, Luhan segera juga menyusul Minseok dan Kris.
.
"Jadi, Luhan-ssi.. Kau bisa duduk dikursi paling belakang disana karena hanya disitu yang masih tersisa"
"Baik, guru"
Luhan berjalan menuju kursinya setelah acara perkenalan singkatnya pada kelas yang juga terdapat Minseok dan Kris disana. Setelah Luhan menduduki kursi itu dia menolehkan kepalanya ke kiri, tapat disebarang kirinya ada Minseok yang disebelahnya ada Kris, sepupunya. Senyuman dia berikan pada dua orang itu yang hanya disambut dengan tampang datar keduanya. Mereka fokus pada pelajaran yang diberikan guru mereka saat ini.
"Ish.. Dua makhluk itu."
.
"Heyyy….! Aku punya berita menarik"
Minseok yang kini sedang menggunakan waktu istirahat belajarnya dengan menidurkan kepalanya diatas mejanya terpaksa terganggu dengan teriakan seorang temannya didepan kelas. Sungguh, suara bass yang sangat menggelegar diseluruh penjuru kelas Minseok, membuat suasana yang tadinya hening kini menjadi sedikit ramai. Dengan malas, Minseok mengangkat kepalanya sambil memperhatikan apa yang temannya itu umumkan.
"Sekolah Detektif 9095 membuka penerimaan murid baru. Kau dengar itu teman-teman."
Mendengar kata-kata detektif, mata Minseok langsung terbuka lebar. Dia berdiri dan menghampiri Chanyeol, temannya yang telah memberikan pengumaman itu.
"Apa kau punya brosurnya?"
Minseok sudah berdiri didepan Chanyeol, memastikan apa yang diucapkan temannya itu tidak bohong.
"Tidak, tapi kau bisa melihat pengumaman itu di majalah dinding sekolah kita"
"Baiklah, terima kasih"
Minseok berjalan meninggalkan Chanyeol dan teman-temannya yang lain. Dia berjalan cepat namun masih bisa dibilang pelan juga.
.
Minseok membaca berulang-ulang setiap kata yang tertulis di pengumuman dari Sekolah Detektif 9095. Senyuman tipisnya terukir dari bibir manis Minseok. Minseok keci berpikir bahwa dengan dia masuk ke sekolah detektif itu dia bisa mewujudkan impiannya, juga impiannya tentang sang ayah.
"Hei.. Kau sedang membaca apa?"
Luhan yang entah datang darimana kini berdiri disamping kiri Minseok sambil mengikuti arah pandang Minseok. Minseok kini tengah menuliskan sesuatu pada catatan kecilnya. Luhan memandang Minseok dengan tatapan tanyanya.
"Apa kau tertarik untuk masuk sekolah detektif?"
"Hmm"
Minseok masih sibuk dengan kegiatannya mencatat apa yang ada pada pengumuman itu ke dalam catatan kecilnya hanya bergumam menjawab pertanyaan Luhan.
"Hei.. itu bukan jawaban"
Minseok menutup buku catatan kecilnya lalu menghadap Luhan.
"Iya.. dan aku ingin menjadi seorang detektif"
"wow..impian yang hebat ya.."
"Yeah.."
Minseok meninggalkan tempat itu dan juga Luhan. Kenapa dimatanya Luhan sangat tidak bisa diam. Dimulai dari perkenalannya di depan kelas mereka sampai detik tadi, Luhan seperti wartawan saja. Minseok berjalan menuju kelasnya, menghiraukan panggilan Luhan padanya.
'Aku akan masuk sekolah itu' batin Minseok.
.
"Paman... Aku sudah tahu siapa orang yang berada di lokasi kejadian bersama Paman Kim"
Yunho mengutarakan pendapatnya setibanya dirumah paman Byun tanpa basa basi.
"Siapa?"
"Detektif Shin, dia adalah rekan kerja paman Kim."
Paman Byun yang tengah membereskan berkas-berkas diatas meja kerjanya langsung menghentikan pekerjaan tangannya itu. Menatap selidik pada Yunho.
"Kau tahu darimana?"
"Semalam, Minseok menceritakannya langsung padaku. Maka dari itu, aku langsung datang menemuimu sekarang"
"Lalu apa menurutmu dia terlibat dalam kejadian Jeongsuk?"
"Iya.. Aku yakin sekali Paman.."
"Baiklah.. Akan aku selidiki"
.
"Tuan.. Apa kau tidak terlalu kejam kalau kau sampai mengincar putranya?"
"Tidak.. Itu akibat yang harus dihadapi bagi orang yang berani mengusik hidupku. Myungdae-ah"
Terlihat dua orang yang tengah berbicara didalam sebuah ruangan yang tidak memiliki pencahayaan lampu cukup. Salah satunya adalah pria berperawakan tinggi besar dengan kacamata hitam yang menutupi matanya. Dan yang lainnya adalah seorang pria dengan tatapan takut, seorang pria yang ternyata adalah orang yang berada pada saat kejadian Jeongsuk beberapa hari lalu.
"Maaf Tuan.. Sekarang anak itu tinggal bersama keluarga Jung"
"Astaga.. Anak itu memiliki perlindungan yang kuat ternyata"
Senyuman atau bisa disebut dengan seringaian tercetak jelas pada wajah pria berkacamata hitam itu.
.
.
.
TBC
Hehe,, ini seminggu ya dari dirilisnya chap 1..
Maaf ya… emang sengaja begitu, tapi gatau deh ini chap 2 nyambung atau ga.
Semoga tidak membosankan..
Terima kasih untuk
1, lee seokie, casproduction, ryeo ryeong, Imeelia,
feyy, Deer and Buns, Ve Amilla, kim hyun soo
Maaf ya, belum bisa ngasih moment couplenya. Masih bercerita tentang Minseok kecilnya, mudah-mudahan kalau jadi chap depan mulai Minseok gedenya beserta bumbu-bumbu couple-nya yah..
Ini nantinya akan jadi cinta antara XiuHanKris.. hehe…
See You…
