Remove the Wound

Disclaimer: Naruto dan Boruto hanya milik Masashi Kishimoto. Saya hanya meminjam karakternya saja.

Warning: gaje, typo (maybe), agak ooc, ada kata2 kasar tapi sedikit kok, pokoknya banyak kekurangannyalah.

Happy reading :)

Aku memasang earphone di kedua telingaku lalu membuka aplikasi musik untuk mendengarkan musik favoritku yang beraliran rock n roll dengan volume yang lumayan keras. Sembari mendengarkan musik, aku membuka aplikasi instagram untuk melihat instastory sekaligus foto teman-teman dan juga artis idolaku. Aku pun juga melihat berbagai macam produk dari akun online shop yang kuikuti.

Tiba-tiba, aku jadi ingin ke pantai begitu melihat foto lautan dari akunnya Wasabi. Aku langsung beranjak dari zabuton lalu berjalan keluar dari kamarku sembari membawa ponselku.

"Yodo, mau kemana kau?" tanya ayahku sembari memegang bahuku yang membuatku menoleh kepadanya lalu melepaskan satu earphone-ku.

"Mau ke pantai," jawabku.

"Ngapain ke pantai? Tidak usah! Saat ini ombaknya sedang tinggi," larang ayahku.

"Bagaimana papa tahu kalau ombaknya sedang tinggi?" tanyaku.

"Papa habis kesana," jawab ayahku lalu duduk bersila di atas zabuton.

"Ngapain papa kesana?" tanyaku lalu duduk bersimpuh di atas zabuton.

"Mencari mamamu," jawab ayahku lalu menundukkan kepalanya. Hatiku terasa perih sekali mendengar ayahku berkata seperti itu.

Lima tahun yang lalu, ibuku dinyatakan telah meninggal dunia setelah tim SAR tidak menemukan jasadnya. Waktu itu pencarian ibuku di dalam lautan berlangsung selama tujuh hari. Aku tak habis pikir dengan ibuku yang begitu nekat berenang di lautan disaat ombak sedang tinggi. Padahal waktu itu ibuku tahu sendiri kalau berenang di pantai sedang tidak aman.

Tetapi, dari awal aku yakin kalau ibuku berniat mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan dirinya di dalam lautan. Sehari sebelum menghilang, ibuku sempat bertengkar hebat dengan ayahku karena ayahku menuduhnya berselingkuh dengan rekan kerjanya.

"Andai saja aku mempercayainya, pasti dia tidak akan meninggalkan kita," katanya.

"Papa," aku memegang telapak tangannya dengan memasang wajah sedih. "Ini sudah lima tahun sejak mama menghilang di lautan. Bagaimana mama bisa tenang kalau papa tidak merelakan kepergiannya?" kataku.

"Jadi kau menganggap mamamu sudah meninggal?! Dasar anak kurang ajar!" tanya ayahku disertai mengumpatku.

"Bukan begitu, pa. Hanya saja...," aku tak mampu melanjutkan perkataanku karena aku takut kalau kemarahannya akan semakin menjadi.

"Sampai kapanpun papa tidak akan menganggap mamamu sudah meninggal selama belum melihat jasadnya," ayahku langsung beranjak dari zabuton-nya lalu berjalan memasuki kamarnya.

"Papa," kataku lalu aku menitikkan air mataku.

Seharusnya aku yang lebih sedih dibandingkan ayah. Justru aku yang lebih tegar dibandingkan beliau. Aku tahu kalau ayahku diselimuti rasa bersalah karena telah menghilangkan nyawa ibuku secara tak langsung. Tetapi tak seharusnya beliau bersikap seperti itu sampai lari dari kenyataan.


Walaupun aku telah dilarang ke pantai oleh ayahku, tetapi aku bersikeras ke pantai untuk menghirup udara lautan sekaligus mengenang kepergian ibuku. Sampai di pantai, aku menaruh buket bunga di bibir pantai lalu kupanjatkan do'a untuk ibuku supaya beliau tenang di alam sana. Sejujurnya aku mengharapkan ibuku masih hidup dan bisa hidup bahagia seperti dulu. Tetapi aku harus menerima kenyataan bahwa ibuku telah tiada walaupun jasadnya belum ditemukan sampai sekarang.

"Yodo-chan."

Aku menoleh kepada seseorang yang telah memanggil namaku.

"Araya? Kenapa kau berada di sini?" tanyaku.

"Mencarimu," jawab Araya lalu berjalan menghampiriku.

"Pasti kau disuruh oleh ayahku," tebakku.

"Iya. Ayahmu mengawatirkanmu, tahu?" jawab Araya lalu menatap buket bunga dan duduk di sampingku. "Sudah lima tahun ya?"

"Iya. Tadi ayahku sempat kesini. Lebih mirisnya lagi ayahku masih berusaha mencari ibuku," kataku.

"Jadi ayahmu masih belum merelakan kepergian ibumu?" aku menganggukkan kepalaku lalu mengeluarkan ponselku yang telah tersambung dengan earphone dari dalam saku jaketku.

"Kau mau mendengarkan lagu?" tawarku sembari memasang earphone di telinga kananku.

"Mau," jawab Araya lalu kupasangkan earphone di telinga kirinya.

Setelah itu aku membuka aplikasi radio lalu memilih saluran radio yang selalu kudengarkan.

"Sejak kapan kau suka mendengarkan radio?" tanya Araya.

"Sejak memutuskan menjadi penyiar radio," jawabku.

"Heh? Jadi penyiar radio?" aku menganggukkan kepalaku.

"Bukankah kau ingin menjadi musisi sekaligus kritikus musik?" tanya Araya lagi.

"Penyiar radio itu juga bisa menjadi musisi sekaligus kritikus musik, lo," kataku.

"Iya juga ya," kata Araya lalu menatap langit malam yang terdapat bulan dan bintang.


Sedari tadi, aku memperhatikan Shinki yang sedang serius menyulam. Melihat seorang lelaki menyulam adalah hal yang langka bagiku. Itulah sebabnya aku begitu tertarik melihatnya menyulam walaupun aku muak melihat wajahnya yang menyebalkan itu. Disaat ia hendak menoleh kepadaku, aku langsung berpaling darinya dengan menatap Araya yang sedang asyik mengobrol dengan Shikadai.

"Lagi ngobrolin apa sih?" tanyaku basa-basi.

"Sudah selesai ya melihatnya menyulam?" tanya Shikadai dengan suara yang keras yang membuatku melemparkan kotak alat tulis milikku ke arahnya.

"Brengsek! Jangan keras-keras dong!" kataku berbisik.

"Ngapain malu? Dia tidak akan memperdulikanmu kok walaupun kau terus melihatnya," tanya Shikadai tersenyum geli. "Apa jangan-jangan kau menyukainya?" tanyanya menggodaku.

"Mana mungkin aku menyukai cowok menyebalkan sepertinya," bantahku lalu melirik Shinki yang masih menyulam.

"Shinki-kun, sulamanmu bagus sekali," tiba-tiba Chouchou berada di depan Shinki.

"Mau apa kau kemari?" tanya Shinki ketus.

"Apakah kau mau menyulam gambar kupu-puku di kaosku?" pinta Chouchou sembari menunjukkan kaos putih polos miliknya kepada Shinki.

"Tidak bisa. Banyak pesanan dari pelangganku yang belum kuselesaikan," tolak Shinki.

"Kau punya pelanggan? Sugoi," puji Chouchou dengan mata yang membentuk hati.

"Pergilah. Kau mengganggu pekerjaanku," usir Shinki.

"Oke aku akan pergi. Maaf ya mengganggumu. Selamat bekerja," kata Chouchou lalu ia kembali menduduki bangkunya.

Tiba-tiba, ada seseorang yang mencolek bahu kananku disaat hendak memejamkan mataku karena mendengarkan lagu melow favoritku. Aku langsung menoleh kepada seseorang yang mencolekku.

"Ada apa?" tanyaku menatap Metal.

"Yodo-san, tolong lepaskan earphone-mu," pinta Metal.

"Kenapa sih?" tanyaku sembari melepaskan earphone sebelah kanan.

Metal mendekatkan mulutnya ke telingaku lalu berkata dengan berbisik, "Yodo-san, tolong bilang kepadanya kalau habis pulang sekolah langsung kerja kelompok di rumahku. Bilang juga kepadanya kalau kesana bareng aku dan juga Toroi-san dan Namida-san."

"Kenapa kau tidak bilang sendiri saja kepadanya?" tanyaku.

"Soalnya...," belum selesai berbicara sudah dipotong oleh Shinki.

"Nanti ke rumahmu 'kan?" tanya Shinki.

"I-iya. Nanti kesana bersama-bersama biar kau tidak kesusahan mencari rumahku hehehe," jawab Metal nyengir.

"Baik," ucap Shinki lalu kembali menyulam.


Jemariku memetik senar gitar mengikuti irama lagu yang kunyanyikan serta dentuman cajon yang ditepuk oleh Araya. Seperti biasa kalau Araya selalu mampir ke ruang ekskul musik untuk menemaniku bermain alat musik jika sudah selesai latihan kendo. Walaupun Araya kurang aktif bermain alat musik, tetapi ia cukup jago bermain drum. Banyak yang menawarkannya -termasuk aku- untuk bergabung mengikuti ekskul musik, tetapi Araya menolaknya dengan alasan tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang.

"Yodo-chan," panggil Araya.

"Hn?"

"Aku merasa ada hal yang tak beres dari Shinki," kata Araya.

Aku memutar kedua bola mataku mendengar Araya menyebut nama Shinki.

"Emang ada apa dengannya?" tanyaku.

"Tadi aku tak sengaja melihatnya di tangga menuju atap. Tiba-tiba dia langsung pergi begitu saja setelah melihatku. Dia juga menghiraukan panggilanku," jelas Araya.

"Terus kenapa?" tanyaku lagi.

"Terus aku melihat setetes darah di tangga yang barusan ia lalui," jawab Araya.

"Jangan terlalu khawatir. Bisa saja tangannya tergores jarum. Kan selama ini dia selalu menyulam di manapun ia berada," kataku santai.

"Iya juga ya. Tadi aku melihatnya membawa peralatan menyulam," kata Araya.

"Kau ini sudah membuang waktu latihanku," kataku sembari mendorong kepalanya lalu kembali bermain gitar.

"Yodo-san," panggil Namida.

"Ada apa, Namida-san?" tanyaku.

"Tolong dengarkan baik-baik ya," aku menganggukkan kepalaku.

Namida menghelakan nafasnya lalu ia menyanyikan lagu Kachou Fugentsu yang dpopulerkan oleh Coalamode.

"Bagaimana? Apakah suaraku ada yang fales?" tanya Namida.

"Tidak ada yang fales. Hanya saja yang bagian refrain suaramu perlu ditinggikan lagi," jawabku memberi saran kepadanya.

"Oke terima kasih," kata Namida tersenyum. "Oh ya Yodo-san, kau ditugaskan oleh Tayuya-sensei mengganti Enko-san menjadi pianist," kata Namida.

"Heh? Kenapa aku? Emang ada apa dengan Enko-san?" tanyaku terkejut.

Bagaimana tidak? Aku sudah lama tidak bermain pianist setelah lulus SD. Selama ini aku hanya memantapkan kemampuanku dalam bermain gitar karena aku lebih suka menjadi gitarist daripada menjadi pianist. Walaupun menjadi musisi disarankan untuk menguasai segala jenis alat musik, tetapi aku tidak nyaman bermain piano. Karena karakterku yang keras tidak cocok dengan piano yang memiliki karakter yang lembut.

"Karena Enko-san akan pindah ke Kyoto. Karena di antara anggota klub musik hanya kau yang bisa bermain piano, maka kau disuruh menjadi pianist," jelas Namida.

"Bagaimana kalau aku tidak mau? Aku sudah lama tidak bermain piano. Ditambah lagi aku merasa tidak cocok menjadi pianist," tanyaku merendahkan diriku.

"Jika kau tidak mau, beliau akan mengeluarkanmu," jawab Namida hingga aku mendengis kesal.

"Wanita sialan itu selalu saja mengandalkan ancaman," kataku lalu meniup poni panjangku.

"Apa salahnya menjadi pianist? Bukankah menjadi musisi harus bisa menguasai segala jenis alat musik?" tanya Araya. "Omong-omong, kau terlihat anggun bermain piano," pujinya.

"Kau ini bisa saja deh," kataku kembali mendorong kepala Araya.

"Terus siapa yang menggantikan menjadi gitarist?" tanyaku.

"Sazanami-san," jawab Namida.

"Oke. Terima kasih infonya," ucapku lalu meletakkan gitar di tempat seharusnya.

Kemudian aku menghampiri piano lalu menduduki kursi piano. Perlahan-lahan aku menekan tuts piano bernada do, re, mi, fa, so, la, si, dan do. Setelah itu, aku mencoba bermain piano dengan lagu yang barusan dinyanyikan oleh Namida.

"Sugoi," puji Namida dengan mata yang berbinar.

"Ternyata kau masih mahir bermain piano, Yodo-chan. Kau benar-benar cocok menjadi musisi," puji Araya.


Karena aku berhubungan ditugaskan menjadi seorang pianist, mau tak mau aku harus membeli kibor untuk latihan di rumah karena hanya berlatih di sekolah saja tidak cukup. Aku tidak ingin tampil mengecewakan pada saat tampil di Tokyo nanti. Tak masalah membeli barang bekas ataupun tidak bermerek terkenal asalkan kualitasnya bagus.

"Siaaal mahal banget. Padahal ini barang bekas lo," kata Araya sembari menunjuk kibor berwarna silver.

"Iyalah mahal. Masih pengeluaran baru walaupun barang bekas," kataku lalu kembali berjalan mencari kibor bekas yang murah sekaligus berkualitas.

"Omong-omong kau tak masalah uang tabunganmu ludes hanya untuk membeli kibor?" tanya Araya.

"Tak masalah demi tampil maksimal. Toh, uang masih bisa dicari. Aku 'kan juga kerja paruh waktu," jawabku santai.

Seketika mataku berbinar melihat kibor berwarna hitam dan bermerek terkenal dengan harga yang terjangkau. Bukan barang bekas lagi. Aku langsung menyuruh sang pemilik toko ini dan bilang kepadanya kalau aku membeli kibor yang kupilih.

"Kenapa tidak pilih yang itu saja?" tanya pria berambut coklat pendek runcing dan bermata onyx ini sembari menunjuk kibor berwarna silver.

"Uangku tidak cukup untuk membeli yang itu," jawabku.

"Kan bisa dicicil," katanya.

"Aku tidak mau barang cicilan, oji-san. Aku masih terlalu muda untuk membayar cicilan," kataku.

"Ah bisa saja kau ini," katanya lalu memasukkan keyboard ke dalam tas kibor.

"Oh ya, jangan bilang kalau kalian kesini hanya membawa sepeda," katanya.

"Ka-kami memang hanya membawa sepeda, oji-san. Lagipula saya kuat kok membawa kibor," kata Araya.

"Jangan sok-sokan kau. Ini berat, tahu? Emang kalian tega aku diomeli sama adikku?" katanya.

"Adik oji-san? Emang apa hubungannya dengan kita?" tanyaku.

"Guru kalian ada yang bernama Gaara 'kan?" tanyanya.

"Beliau wali kelas kami," kata Araya.

"Dia adikku. Keponakanku juga satu sekolah dengan kalian," katanya tersenyum hingga aku dan Araya terkejut. "Oh ya, namaku Kankuro," Kankuro-jisan memperkenalkan dirinya kepada kami.

"Yodo," kataku sembari membungkukkan badanku.

"Araya," kata Araya juga membungkukkan badannya.

"Ikut aku. Akan kuantarkan barang kalian sampai di rumah kalian," kata Kankuro-jisan hingga aku membelalakkan mataku. "Tapi aku mengantarkan TV terlebih dahulu ya ke rumah pembeliku. Kebetulan tempat tinggalnya di Desa Iwa."

"Be-benarkah?" tanyaku.

"Tentu saja," jawab Kankuro-jisan.

"Terima kasih, oji-san," ucapku kembali membungkukkan badanku kepadanya. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.

"Terus, bagaimana dengan sepeda kami?" tanya Araya.

"Tenang saja pick up-ku cukup kok untuk menanpung sepeda kalian," jawab Kankuro-jisan.

"Te-terima kasih, oji-san," ucap Araya kembali membungkukkan badannya kepada Kankuro-jisan.


"Jadi kalian tinggal di Desa Suna?" tanya Kankuro-jisan sembari menyetir mobilnya.

"Iya oji-san," jawabku.

"Omong-omong, dulu aku dan keluargaku pernah tinggal di Desa Suna," kata Kankuro-jisan.

"Shikadai pernah bilang kepada kami," kata Araya. Kankuro-jisan menganggukkan kepalanya.

"Kalau boleh tahu, kenapa oji-san sudah tidak tinggal di Desa Suna lagi? Kan toko oji-san tidak terlalu jauh dari Desa Suna," tanyaku.

"Karena tuntutan pekerjaan adikku," jawab Kankuro-jisan.

"Oh begitu," kataku sembari menganggukkan kepalaku.

Tiba-tiba, Kankuro-jisa memberhentikan pick up-nya di pinggir jalan. Ia meminta izin kepada kami untuk kencing lalu keluar dari pick up.

"Kau tidak sekalian kencing? Mumpung berhenti nih," tanyaku kepada Araya.

"Tidak," jawab Araya lalu menatap ponselnya karena ada pesan masuk.

"Dari siapa?" tanyaku.

"Ibuku. Dia meminta tolong kepadaku untuk membeli tabung gas," jawab Araya.

"Nanti saja kalau setelah mengantarkan TV ke pelanggannya," kataku.

"Tetapi mintanya sekarang nih," kata Araya. "Apa tidak apa-apa kutinggal?" tanyanya.

"Tidak masalah. Tetapi kau harus izin dulu kepada oji-san," jawabku santai.

"Tunggu. Ada pesan lagi dari ibuku," kata Araya lalu kembali menatap ponselnya. "Sial. Ternyata tidak jadi."

"Tidak jadi? Kenapa?" tanyaku.

"Ibuku langsung meminta tolong kepada ayahmu begitu sudah datang," jawab Araya.

"Syukurlah kalau begitu," ucapku lega.

"Araya-kun! Yodo-chan! Kemarilah!" tiba-tiba Kankuro-jisan berteriak memanggil nama kami hingga kami semua keliar dari pick up untuk menghampirinya.

"Ada apa, oji-san?" tanyaku.

"Li-lihat itu," kata Kankuro-jisan dengan tubuh yang bergetar sembari menunjuk seorang pemuda berpakaian seragam sekolah yang sama dengan kami yang tergeletak lemah di semak-semak.

"Shi-Shinki?!" aku terkejut melihat Shinki yang tergeletak lemah di semak-semak dalam keadaan yang lumayam mengenaskan. Bagaimana tidak? Terdapat darah dan memar yang cukup banyak di wajahnya. Kepalanya pun juga mengeluarkan banyak darah.

"Yo-yodo-chan...bukankah seharusnya Shinki berada di rumahnya Metal?" tanya Araya.

"Mana kutahu? Ayo kita periksa dia," kataku lalu bergegas menghampirinya untuk memeriksanya.

"Yodo-chan, Shinki masih hidup," kata Araya sembari memegang pergelangan tangannya yang membuatku bernafas lega.

"Yodo-chan, ini kainnya," Kankuro-jisan memberikanku sebuah kain berwarna putih.

Aku meraih kain dari tangan Kankuro-jisan lalu mengangkat kepala Shinki secara perlahan-lahan. Kemudian aku melilitkan kepalanya yang berdarah dengan menggunakan kain putih untuk menghentikan pendarahannya.

"Ayo kita bawa ke rumah sakit sebelum terlambat," ajakku.

"Iya. Kebetulan daerah sini ada rumah sakit terdekat," kata Kankuro-jisan lalu mengajak Araya untuk membawa Shinki memasuki pick up-nya.


Di rumah sakit...

Metal bercerita kepada kami bahwa Shinki sempat bertemu dengan seorang pria misterius berpenampilan seperti preman dosaat mereka berjalan menuju rumahnya. Metal tak berani bertanya kepada Shinki soal preman itu karena ia takut Shinki memarahinya. Ia juga bilang kepada kami kalau Shinki hanya terdiam saja selama berada di rumahnya. Sementara dirinya, Namida dan Toroi sibuk mengerjakan tugas.

"Berapa lama dia berada di rumahmu?" tanyaku.

"Hanya 45 menit saja. Dia pulang lebih dulu karena alasan bekerja," jawab Metal.

Tak lama kemudian, sang dokter keluar dari ruangan. Beliau bilang kepada kami bahwa Shinki baik-baik saja dan diharuskan untuk dirawat di sini selama sehari karena lelaki itu masih belum sadarkan diri. Kami semua langsung bernafas lega mendengar Shinki baik-baik saja mengingat kondisinya tadi cukup mengenaskan.

"Terima kasih , sensei," ucap kami secara bersamaan sembari membungkukkan badan kepadanya.

"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit sang dokter lalu berjalan meninggalkan kami.

Kini yang jadi masalahnya adalah tidak ada yang bersedia menjaga Shinki selama berada di rumah sakit. Ditambah lagi kami tidak dapat menghubungi keluarganya karena Shinki orangnya tertutup.

"Loh? Bukannya Shinki satu desa dengan kalian?" tanya Metal.

"Masalahnya kami tidak tahu rumahnya. Kalau saja Sumire tidak memberitahu kita, kita tidak akan tahu kalau dia satu desa dengan kita," jawabku.

"Terus gimana dong? Mana mungkin aku akan menjaganya," tanya Metal.

"Coba aku hubungi adikku. Siapa tahu dia dapat menghubungi keluarganya. Kalian masuk dulu," kata Kankuro-jisan sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menghubungi Gaara-sensei.

Aku, Araya dan Metal memasuki tempat di mana Shinki dirawat. Aku menutup pintu ruangan ini lalu kami bertiga menghampiri Shinki yang masih tergeletak lemah di atas ranjang.

"Lihat, banyak memar di kedua lengannya dan juga kakinya. Pergelangan tangan kirinya pun juga terdapat bekas tusukan," kata Metal menatap miris tubuh Shinki.

"Kejam sekali mereka," kata Araya. "Tetapi soal pergelangan tangannya, tampaknya itu ulahnya sendiri," lanjutnya.

"Aku khawatir kalau dokter itu menduga kalau kita yang menyiksa Shinki," kata Metal panik.

"Jangan gitu ah," kataku sembari menyikut lengan si alis tebal itu.

"Soalnya dokter itu tadi tampak menatap sinis kita setelah bepamitan kepada kita," kata Metal.

"Kalau sampai si dokter itu melamporkan kita ke polisi, akan kutuntut dia. Jangan mentang-mentang tampang kita seperti preman dengan seenaknya menuduh kita," kataku tak terima.

Tiba-tiba, aku kepikiran ponsel milik Shinki. Aku menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan tanya Shinki. Siapa tahu ponselnya berada di dalam tasnya. Ketika melihat tas Shinki berada di dalam lemari, aku langsung membuka lemari untuk mengambil tasnya. Kubuka resleting tasnya lalu mencari keberadaan ponselnya di dalam tasnya.

"Ketemu," kataku lalu mengeluarkan ponselnya Shinki dari dalam tasnya.

"Bu-buat apa kau mengambil ponselnya?" tanya Araya.

"Untuk mencari jawabannya," jawabku sembari membuka kunci layar ponselnya Shinki lalu menyentuh gambar aplikasi LINE.

"Apa? Tidak ada pesan apapun?" kataku heran menatap akun LINE milik Shinki yang sama sekali tidak ada pesan.

"Coba buka WhatssApp. Siapa tahu dia lebih aktif pakai aplikasi itu untuk mengobrol," kata Araya.

Aku keluar dari aplikasi LINE lalu mencoba memasuki aplikasi WhatssApp. Aku menggelengkan kepalaku karena tak ada pesan apapun WhatssApp miliknya. Persis seperti yang tadi kubuka. Dia hanya memposting status di WhatssApp story-nya yang tertulis "Kapan semuanya akan berakhir? Aku lelah."

"Pasti tidak ad obrolan apapun," tebak Araya.

"Iya. Dia hanya menulis status di WhatssApp Story-nya," jawabku.

"Emang apa statusnya?" tanya Araya.

"Kapan semuanya akan berakhir? Aku lelah," jawabku meniru tulisan statusnya.

"Kalau bunuh diri sangat tidak mungkin," kata Metal.

Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka yang membuatku menoleh menatapnya. Aku terkejut sekali melihat seorang pria berambut merah pendek acakan yang memasuki ruangan ini. Wajah pria itu terlihat mirip dengan Shinki walaupun mata dan juga rambut mereka berdua berbeda warna. Apa jangan-jangan pria itu adalah kakaknya Shinki?

"Apakah kalian semua adalah temannya anakku?"

Aku terkejut sekali mendengar perkataan pria itu bahwa Shinki adalah anaknya. Padahal pria itu terlihat berusia 30 tahun. Aku, Araya dan Metal langsung membungkukkan badan kepada ayahnya Shinki sebagai salam hormat kepadanya.

"Dia baik-baik saja. Tetapi dia harus dirawat di rumah sakit ini selama sehari," jawabku.

"Syukurlah kalau begitu," kata pria bermata hazel ini tersenyum. "Omong-omong, terima kasih sudah menolong anak saya. Tanpa kalian, mungkin dia sudah tidak tertolong," ucapnya sembari membungkukkan badannya kepada kami.

"Sama-sama tuan," ucap kami secara bersamaan.

"Kenapa kamu bawa ponsel anak saya?" tanya ayahnya Shinki hingga aku membelalakkan mataku.

"Anooo saya hanya ingin mencari jawaban alasan Shinki tergeletak lemah dengan tubuh yang banyak luka dan memar seperti itu," jelasku apa adanya.

"Berikan pada saya," pintanya dengan mengulurkan tangannya.

"Maafkan saya tuan," ucapku sembari menyerahkan ponselnya Shinki kepada ayahnya.

Tak lama kemudian, Kankuro-jisan memasuki ruangan ini.

"Apakah anda adalah ayahnya Shinki?" tanya Kankuro-jisan.

"Benar. Barusan saja yang dihubungi oleh wali kelasnya. Kebetulan posisi saya berada di kafe dekat rumah sakit ini," jawab ayahnya Shinki. "Oh ya, saya Sasori," ayahnya Shinki memperkenalkan dirinya sembari membungkukkan badannya kepada Kankuro-jisan.

"Saya Kankuro," Kankuro-jisan juga memperkenalkan dirinya sembari membungkukkan badannya.

"Terima kasih sudah menolong anak saya," ucap Sasori-jisan.

"Sama-sama, tuan," jawab Kankuro-jisan tersenyum.

Aku kembali menatap Shinki. Seketika aku membelalakkan mataku melihat jemari tangan Shinki bergerak secara perlahan-lahan. Kedua matanya yang terpejam pun perlahan-lahan mulai terbuka. Secara refleks aku menggenggam tangan kanannya begitu ia menatapku.

"Akhirnya kau sadar juga," gumamku.

"Ngapain kau berada di sini? Di mana aku?" tanyanya ketus yang membuatku melepaskan tangannya.

"Kau di rumah sakit. Tadi kau pingsan di semak-semak. Untung kau masih hidup," jawabku ketus lalu mengalihkan pandanganku darinya.

"Shinki, apakah kau baik-baik saja?" tanya Sasori-jisan lalu menghampiri putranya.

"Iya," jawab Shinki singkat lalu mendudukkan dirinya.

"Siapa yang tega melakukan ini kepadamu?" tanyanya lagi.

"Sekelompok preman yang berusaha memerasku," jawab Shinki.

"Lain kali hati-hati dong," kata Sasori-jisan sembari menepuk bahu putranya. "Untung saja ponselmu masih ada," lanjutnya sembari menunjukkan ponselnya kepada anaknya.

Bukannya lega justru Shinki tampak terkejut melihat ponselnya berada di tangan ayahnya.

"Kembalikan ponselku, otou-san," pinta Shinki.

Sasori-jisan mengembalikan ponselnya kepada pemiliknya. Shinki segera mengambil ponselnya lalu menaruhnya di bawah bantalnya.

"Kelihatan sekali ada bokepnya. Aku menyesal sekali tidak sempat membuka galerinya. Coba kalau sempat kubuka, akan kusebar kalau si angkuh Shinki adalah seorang yang mesum," batinku melirik sinis Shinki.

"Yodo-chan, Araya-kun, Metal-kun, saatnya kita pulang," kata Kankuro-jisan.

Aku menganggukkan kepalaku lalu kami berempat berpamitan pulang kepada Sasori-jisan dan juga Shinki. Setelah itu, kami berempat keluar dari ruangan ini.

"Sasori-jisan ramah banget. Beda sekali dengan anaknya yang...begitulah," kata Metal.

"Emang banyak yang tidak suka dengannya?" tanya Kankuro-jisan.

"Jangankan kami. Satu sekolah pun tidak ada yang suka dengannya. Hanya satu orang saja yang menyukainya," jawabku.

"Ah masa' sih?" tanya Kankuro-jisan tercengang.

"Iya. Bahkan ada yang membuat petisi kepada kepala sekolah untuk mengeluarkan Shinki. Iya 'kan Araya?" jawabku lalu bertanya kepada Araya.

"Iya. Waktu itu kami kelas satu SMA. Yang membuat petisi itu adalah kakak kelas tiga yang pernah bermasalah dengannya," jawab Araya membenarkan.

"Gila," Kankuro-jisan sampai menggelengkan kepalanya. "Tapi salahnya sendiri sih. Dia saja sama sekali tidak berterima kasih kepada kami. Malahan tadi sempat bersikap kurang mengenakkan kepadamu," kata Kankuro-jisan.

"Ya begitulah dia, oji-san. Kami saja tersiksa banget sekelas dengannya," kataku kesal.

To be continue...

Di cerita ini, Sasori menjadi ayahnya Shinki dan seusia dengan Naruto dkk. Kenapa menjadi ayahnya Shinki? Karena menurutku wajahnya Sasori terlihat mirip dengan Shinki hehehe.

Yyy: sdh terjawab kak sosok ayahnya Shinki di chapter ini. Soal Shinki akan dipasangan dengan Yodo...nikmati dulu saja ceritanya pasti akan terungkap kok hehe. Aku sengaja tidak menjadikan Gaara dan Shinki sebagai sepasang ayah dan anak karena di cerita ini Gaara masih single. Beberapa chapter lagi akan diceritakan kok tentang masa lalunya Gaara #UpsSpoiler

Hiki Kanata: terima kasih kak atas masukannya :)

Jangan lupa direview ya teman2 :)