~Natsu P.O.V
"Ohayou gozaimasu. Natsu-sama."
Aku menoleh ke arah sekertarisku. Lucy sudah berada di tempatnya ketika aku datang, seperti biasa. "Hm, Ohayou." Balasku pendek dan menuju ruanganku.
Di atas meja kerjaku sudah terdapat tumpukan proposal. Wow... Luar biasa sekali orang itu, berangkat sangat pagi dan menyiapkan semua ini. Aku juga tidak ingin kalah. Aku bos disini, jangan kalah dari sekertaris, apalagi dia perempuan. Waktunya beraksi.
…
Aku membaca dan menyeleksi isi proposal-proposal yang berbagai macam. Aku yakin Lucy sudah menyeleksinya dengan ketat, tapi akulah yang memiliki kuasa untuk menentukan proposal yang cemerlang. Kau harus melihatnya dari berbagai situasi karena semua proposal belum tentu menguntungkan.
Saat aku larut dalam kegiatanku, saluran telepon berdering. Dari Lucy. "Ya?" dan Lucy menjelaskan tentang tamu yang datang tanpa janji pagi ini. . membuatku menghela napas panjang.
"Yo!" sapa pria bermahkota jingga di depanku.
"Ada perlu apa, Loki?" tanyaku langsung dan mengabaikan salamnya.
"Ayolah, kenapa kau sedingin itu padaku, Natsu?"
"Aku hanya tidak suka pada playboy yang ketika datang selalu menggoda karyawan-karyawanku," ucapku pedas.
Loki hanya tertawa. Tidak mengelak. Ya, dia memang si otak kelamin. "Pergi saja kalau kau hanya menggangguku. Aku sibuk."
"Tu-tunggu.. Aku sahabatmu 'kan, Natsu? Jangan kejam padaku," pinta Loki.
Aku memutar mata bosan. "Baiklah… kau ingin minta tolong apa?"
"Hehe.." wajah Loki terlihat sangat sumringah. Aku yakin permintaannya menyangkut wanita.
"Aku ingin meminjam sekertaris pirangmu"―APA? "karena dia bawahanmu, aku meminta ijin padamu."
Aku tidak tahu harus membalas seperi apa. Tapi Loki di depanku terus berbicara tanpa henti―
"Awalnya aku hanya iseng padanya, Natsu. Tapi dia memang berbeda dari wanita-wanita teman kencanku yang lain. Dia sangat anggun dan berkelas. Setelah aku dan dia berhubungan untuk pertama kalinya, aku sadar… dia memang berbeda. Dia.. Uhh.. membayangkannya saja membuatku bergairah, Natsu!" tangan Loki seraya memperagakan meremas-remas angin.
Grr. 'Dasar si otak kelamin ini!' geramku. Aku segera mengusir Loki keluar. Napasku memburu membayangkan yang tidak-tidak. Sialan Loki! Berani-beraninya kau menyentuh sekertaris pribadiku!
Sejak saat itu, aku tidak bisa menatap Lucy seperti biasanya. Meskipun ia menyapaku dengan senyuman ramah dan suara merdunya, aku tidak bisa menatapnya. Aku akan berpura-pura tidak melihat atau menatap ke arah lain. Aku sedikit merasa bersalah sebenarnya, yah.. mungkin belum aku siap.
Erza datang. Kakak tiriku.
Kami bersaudara sejak ayahku, Igneel, menikah dengan Ibu Erza, Eileen. Meskipun saudara tiri, kami benar-benar saling menyayangi. Eileen adalah ibu yang baik, tidak pernah membeda-bedakan kami. Sehingga hubungan antar anggota keluarga juga baik.
Erza sangat cerdas dan cekatan. Ayah telah mempercayakan kursi pimpinan sebagian perusahaan padanya. Kami saling bekerja sama mengurus perusahaan Salamander. Aku terkadang, bahkan sering meminta pendapat dari Erza. Termasuk menyeleksi sekertaris.
Ya, Erza yang merekomendasikan Lucy. Dan Erza benar, Lucy sangat ahli dalam bidangnya melampaui harapanku. Tapi sejak kasus Loki, aku mulai menaruh perhatian terhadap agenda harian sekertarisku itu. Hasilnya, tentu saja sangat mengejutkan.
"Aku tidak masalah. Asalkan dia tetap menjalankan tugasnya dengan baik" ungkap Erza.
"Kau serius, Erza? Dia selalu―"
"Seorang pekerja keras memiliki sebuah pelampiasan untuk menghilangkan stress," potong Erza. "apalagi wanita."
Aku menghela napas pendek. "Apa ini tentangmu Erza?" sindirku.
Erza mendengus. Irisnya mengerling jenaka. "Setidaknya aku memiliki partner setia. Sedangkan kau?"
Dia mulai menyombongkan suaminya lagi. Dasar Erza. "Sudahlah, kita sedang membicarakan hal lain," elakku.
"Menurutku, kau ini sedang berada pada tahap penasaran. Tahap selanjutnya akan menjadi tahap tertarik.. " Erza menyeringai ketika mendapati wajah terkejutku.
"Jangan bicara sembarangan. Aku tidak ingin citra perusahaan kita tercemar hanya karena perilaku yang tidak senonoh karyawan."
"Oh ya? benarkah hanya itu?"
"Apa maksudmu?"
"Kalau kau takut Lucy mencemarkan perusahaan, pecat saja dia." Pernyataan Erza mengejutkanku, tapi kemudian wajah kakak tiriku ini berubah menjadi serius. "Tapi sebelum kau mengambil keputusan, aku ingin kau mengingat. Mengingat sudah berapa lama Lucy bekerja disini, dan berapa jumlah masalah yang ia timbulkan. Aku ingin kau mengingat setiap detail. Bagaimana ketika ia membantumu menghadapi situasi sulit, dan presentase keberhasilan yang kau capai akibat keberadaannya. Pikirkan dengan baik."
Hari itu, aku cukup lama memikirkan jawaban atas pernyataan Erza.
Ada sebuah undangan. Aku akan mengabaikannya apabila itu tidak penting. Tapi ketika membaca nama yang tertera pada sampulnya, aku sedikit tertarik. Hei. Kau bercanda?
Gajeel akan menikah?
Si otak besi itu bisa memikirkan pernikahan?
Aku tertawa ketika membuka undangan dan membacanya.
Sialan. Ini benar-benar undangan dari Gajeel. Sejak kapan sahabatku itu memiliki wanita di hidupnya? Aku kira dalam otaknya hanya ada ambisi. Bahkan ketika terakhir kali aku mengikuti sidangnya, dia tidak terlihat membawa pasangan.
Pasangannya adalah Levy McGarden. Hm? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat.. Uh.. entahlah. Lalu senyumku pudar ketika membaca bagian dress code mengharuskan membawa pasangan. Sialan.
Aku melempar undangan itu ke atas meja. Ya sudah. Aku tidak usah datang saja. Aku tidak bisa membawa pasangan. Dan aku tidak bisa mengajak sembarang wanita karena mereka pasti akan salah paham. Pasangan yang di maksud disini tentu saja laki-laki dan perempuan. Perempuan dalam hidupku hanya Erza dan Eileen. Ibuku sudah meninggal sejak aku kecil, jadi aku tidak memiliki ingatan apapun tentangnya. Mengajak rekan bisnis terlalu beresiko. Aku ingin menghindari perjodohan antar perusahaan. Merepotkan.
Aku melirik lagi undangan diatas meja. Lalu melirik ponselku dan meraihnya.
["Yo, Salamander."]
"Berhenti memanggilku reptile, bodoh."
Terdengar suara dengusan di seberang.["Ada apa, Dragneel? Kau merindukanku? Maaf saja, aku sudah memiliki calon istri"] ucapnya sombong.
"Itu yang ingin kubicarakan denganmu, Redfox. Wanita mana yang mau menikah denganmu? Jangan-jangan kau memaksanya?!" candaku.
["Sialan kau, Salamander. Wanitaku sangat mencintaiku. Dia wantita yang sangat istimewa. Dia cerdas, dan bokongnya sexy. "]terdengar kekehan Gajeel, dan ia melanjutkan["Yang pasti aku sedang bahagia karena ia juga sedang mengandung benihku."]
APA?!
"Wow. Redfox, kau menang banyak rupanya. Syukurlah ada dewi yang menolong hidupmu dari jurang ambisi," ucapku tulus. "Selamat bahagia, Kawan."
["Terima kasih, Salamander. Tapi aku tetap ingin kau mengucapkannya lagi di pernikahan kami. Aku tidak akan memaafkan keabsenanmu. Kau harus datang."]titah Gajeel mutlak.
"Sebenarnya aku ada rapat perusahaan―"
["Aku akan mengundang semua tamumu. Jadi kau tidak ada kegiatan lain."]
"Aku diminta tolong Erza―"
["Erza sudah berjanji akan membawamu hadir. Dan kau harus datang dengan seorang gadis."]
"Tidak. Aku tidak akan membawa pasangan."
["Kau harus. Atau kau tidak bisa masuk."]
"kalau begitu aku tidak akan datang."
["Kau akan datang. Atau aku akan menghancurkan rumahmu dengan mobil konstruksi milikku."]
PIP.
Gajeel memutuskan sambungan kami secara sepihak. Urat kekesalan muncul di kepalaku. Grr. Rasanya aku ingin membanting ponsel ditanganku. Tapi tentu saja tidak akan aku lakukan tindakan bodoh itu.
Pagi ini moodku sedikit jelek. Aku menuju ruanganku dengan wajah kesal. Gajeel adalah orang yang akan melaksanakan segala ancamannya. Rumahku akan hancur apabila aku tidak menuruti permintaannya. Well, aku akan menjadi pria kejam apabila mengecewakan sahabatku di hari bahagianya. Tapi syarat pernikahannya… sangat tidak masuk akal.
"Ayolah, Lucy. Ikut ke pesta denganku.."
"Aku tidak bisa. Aku sudah ada pasangan sendiri, Loki."
Langkahku terhenti melihat adegan romansa di depanku. Sahabatku yang playboy sedang memaksa―merayu sekertaris pirangku. Sungguh pemandangan yang membuatku jengah.
"Bersamaku saja, Lucy. Ini pesta sahabatku, Gajeel. Aku ingin bersamamu di pesta itu," pinta Loki yang terdengar seperti sedang merengek pada ibunya.
"Aku tidak bisa. Aku sudah memiliki pasangan." tolak Lucy untuk kesekian kalinya.
"Memangnya siapa pasanganmu? Katakan padanya. Bahwa aku, Loki Celestial, yang akan mengajakmu ke pesta."
"Dia akan pergi bersamaku, Loki." ucapku tanpa sadar.
"Ini yang terakhir untuk hari ini, Bos."
"Ya, terima kasih."
Sementara aku membaca ulang berkas, aku merasakan tatapan intens dari seseorang di hadapanku. Aku menyadarinya. Lucy ingin bertanya padaku. Dan aku menyadarinya. Dengan mempertahankan ekspresi wajahku, tiba-tiba aku balik menatapnya. Gadis itu tampak salah tingkah karena merasa ketahuan.
Aku tersenyum geli. "Kau ingin bertanya sesuatu, Lucy?"
"Eh, tidak. Ah… maksudku iya, Bos. Eh, Natsu-sama!"
"Silahkan. Tidak perlu sungkan."
"Etto.. tadi pagi, Natsu-sama menolong saya dari Loki-sama. Saya ucapkan terima kasih, hanya saja saya ingin berangkat sendiri."
"Sendiri? Kau punya undangan?"
"Ya. Mempelai wanitanya adalah sahabat saya. Jadi, saya―"
"Bukankah di undangan mengharuskan membawa pasangan?"
"Ya. Tapi itu tidak masalah. Saya akan tetap menghadirinya tanpa membawa pasangan."
Aku mengangguk mengerti. Situasi Lucy hampir sama denganku. Lalu tiba-tiba ide gila muncul dari kepala jeniusku. Aku menatap Lucy dengan semangat.
"Lucy. Mempelai pria, yaitu Gajeel, adalah sahabatku." Gadis itu tidak tampak terkejut, hanya mengangguk. "Dan meskipun aku ini sahabatnya, dia tidak mengijinkan aku mengikuti pestanya apabila aku tidak mengikuti aturan mereka. Aku yakin sahabatmu pasti juga tidak akan mengijinkanmu masuk tanpa membawa pasangan."
Lucy tampak berpikir. "Sebelumnya saya juga sudah meminta ijin, tapi dia―Levy, tidak memperbolehkan. Saya tidak ingin membawa pasangan pria sembarangan di hari pernikahan sahabat saya. Karena itu adalah momen istimewa.."
"Aku tahu itu. Momen seperti ini adalah hal yang sangat pribadi dalam hidupmu. Sehingga daripada membawa sembarang orang, lebih baik sendiri. Aku juga merasa seperti itu." Lucy mulai menempatkan perhatian padaku, pada ucapanku selanjutnya. "Jadi, daripada kita mengecewakan mereka, lebih baik kita datang bersama sebagai pasangan," tawarku pada si blondie.
Lucy tampak terkejut. Lebih terkejut daripada tadi pagi ketika aku menginstrupsi Loki. Entah kenapa wajah terkejutnya membuatku menarik sudut-sudut bibirku.
"Ja-jangan bercanda, Natsu-sama. Saya tidak ingin ada gosip di perusahaan ini." elak Lucy.
Sebenarnya penolakan Lucy sedikit mengejutkanku. Bagaimana mungkin, seorang gadis yang sebenarnya wanita ini menolak tawaran dariku. Bukankah aku target yang empuk untuk kesenangannya? Bukannya besar kepala, tapi banyak orang yang mengatakan aku ini tampan. Harga diriku sedikit terluka disini.
Aku tetap menata ekspresiku agar tenang. Lucy sedikit sungkan karena menolakku. Tapi aku mencoba sedikit tersenyum.
"Jangan khawatir, Lucy. Aku hanya ingin menghadiri pernikahan si bodoh Redfox agar dia tidak menghancurkan rumahku. Setelah masuk, kau boleh berpisah denganku." Aku mengucapkannya dengan lambat agar mudah dimengerti oleh Lucy.
Tapi sepertinya gadis itu menjadi sedikit gugup karena aura hitam milikku, yang tanpa kusadari keluar. "Apa Natsu-sama yakin? Dengan saya? "
"Ya." jawabku pendek.
Mungkin karena melihat wajahku yang seolah tidak ingin dibantah, Lucy akhirnya luluh dengan permintaanku."Tapi kita akan langsung berpisah ketika sudah didalam, 'kan?" gadis itu memastikan.
"Ya. Aku akan berkumpul dengan teman-temanku."
Lucy mengangguk. Ia terlihat sedikit lega dengan jawabanku. Kemudian kami membuat janji dimana akan bertemu, meskipun acaranya masih seminggu lagi. Lucy memberikan alamat apartemennya setelah aku bersikeras akan menjemputnya. Yah, sebagai seorang gentlemen, aku harus menjemput seorang gadis yang kuajak ke pesta, itu yang diajarkan Erza. Ups.
Aku menyeringai ketika Lucy keluar dari ruangan. Bukan hanya berhasil membuat Loki kesal, aku juga berhasil membuat Gajeel tidak bisa menjalankan ancamannya. Bukannya takut, hanya saja aku sangat menyukai rumahku, hasil kerjaku, apabila hancur, ia tidak akan sama lagi. Ehem, kesampingkan tentang rumah. Kenyataan bahwa sekertarisku, yang selalu professional di tempat kerja… adalah wanita nakal, kini akan menjadi pasanganku. Aku mungkin akan mengejutkan Erza dan teman-teman yang lain. Tapi entahlah, aku tidak peduli. Atau aku peduli?
Sebenarnya dari pertanyaan Erza, aku sudah memiliki jawaban. Dan dia benar. Lucy sangat berperan besar dalam pekerjaanku. Bahkan selama bekerja disini, ia sangat jarang menimbulkan masalah. Ia lebih sering menyelesaikan masalah dengan cerdas, aku mengakui itu. Dia benar-benar professional. Oleh karena itu… mungkin ada sedikit rasa penasaran disudut hatiku, kenapa wanita cerdas dan berbakat seperti Lucy… memiliki sisi liar?
"Seorang pekerja keras memiliki sebuah pelampiasan untuk menghilangkan stress, apalagi wanita."
Kata-kata Erza membuatku termenung. Benarkah hanya sebuah pelampiasan? Bagiku, sungguh mengerian melakukan hubungan intim hanya karena pelampiasan atau untuk bersenang-senang. Ya, seseorang seperti Lucy… aku sedikit tidak percaya ia memiliki kebiasaan seperti itu.
"Ne, Natsu~"
"Hm?"
"Kenapa kau tidak mengajakku ke pesta Gajeel?"
Lisanna memberikan tatapan menuntut yang tidak ku mengerti. Kami sedang membicarakan rencana bisnis, kenapa menjadi melenceng?
"Aku sudah bersama seseorang," jawabku tanpa minat.
"Siapa? Aku baru tahu kau dekat dengan seseorang," selain aku, batin Lisanna.
"Siapapun dia, itu tidak penting. Aku hanya meminta bantuan dia agar bisa masuk ke pesta." Aku masih sibuk meneliti proposal menarik di tanganku, jadi au tidak begitu menanggapi ekspresi Lisanna.
"Mou~.. Kau 'kan boleh meminta bantuanku, Natsu. Bukankah kita sudah mengenal sejak kuliah?" rengek Lisanna.
"Ya. Tapi kalau aku mengajakmu, aku bisa dipaksa untuk segera menikah denganmu. Aku tidak ingin membuat orang salah paham dengan hubungan kita."
Lisanna terdiam cukup lama, hal ini membuatku menoleh padanya karena penasaran. Yang kulihat adalah wajah merah Lisanna yang ingin menangis. Ini membuatku panik. Apa aku salah bicara?
"Li―"
"Kau menganggapku apa, Natsu?" ujar Lisanna dengan suara tercekat. "Kau menganggap apa hubungan kita selama ini?"
Kemudian isak tangis Lisanna membuatku membisu. Aku…
.
.
.
.
TBC
Haloha~
Satu tahun lebih dan saya baru dapat wangsit. Wkwk
Saya meminta maaf, bagi kalian yang menunggu fic ini..
YOSHA! Terima kasih banyak sudah membaca! Bolehkah saya minta pendapat kalian? RnR, please?
Thanks to:
Nazu-kun, Anonim, Nalusha, Guest, mkhotim1, Guest, Abdul, Luluk Minam Cullen,Guest ,Arunasachii, Ade854, naladivany28, Guest ,dark blue and pink cherry ,Yuna, Guest , Morita Naomi , ana, MydnMhrniNaLu, Guest, nuruko03 , NataliaXaveria ,Lightning Shun , 64 , Reader69 ,nuruko03
