Chapter 2
Kyuhyun terbangun saat merasakan sinar matahari yang menusuk matanya . Dia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan biasan cahaya pagi yang menyinari hari itu. kepalanya terasa pusing mengingat berapa lama dia menangis semalaman sambil memeluk 'putri'nya itu.
"appa sudah bangun?"Tanya seseorang yang masuk kekamar dimana kyuhyun tidur sambil membawa beberapa makanan ringan yang bisa menjanggal perut.
"makanlah, aku tidak mau jika appa pingsan karena kelaparan."lanjut yeoja itu.
"gomawo, sungmin-ssi."jawab kyuhyun singkat. Diambilnya potongan sandwiche yang ada disana lalu dimasukkannya kedalam mulut.
"apakah appa tidak bisa menggantikan nama panggilan itu? aku merasa sangat risih mendengarnya." seru sungmin datar menatap kyuhyun.
"wae?"
"kita sudah bersama selama tiga tahun. Kupikir, kita tidak harus memanggil dengan bahasa yang seformal itu. lagipula, kita adalah ayah dan anak secara hukum. Bukankah aneh jika appa memanggilku seformal itu?"
"hmmm, baiklah kalau begitu. Aku akan memanggilmu min, bagaimana?"Tanya kyuhyun.
"tidak buruk."
"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"lirih kyuhyun dengan pandangan kosong. Sungmin yang melihat itu hanya menghela napasnya berat.
"hhh, yang pasti siang ini kita harus menghadiri pemakaman eommaku, appa. Selanjutnya, kita harus melakukan aktifitas seperti biasa…
.
.
.
Tanpa eomma~"jawab sungmin tegar walaupun dia harus menahan tangisnya saat mengucapkan kalimat yang terakhir.
"tenanglah, min-ah. Aku akan selalu disampingmu."ingat kyuhyun.
"aku tahu, appa~"ujar sungmin tersenyum tipis memandang kyuhyun.
~"~
Siang hari
"saya turut berduka cita, kyuhyun-ssi."
"jangan sedih berlarut-larut, kau harus bisa menghadapi cobaan ini."
"aku sedih sekali mendengar kabar tentang Victoria-ssi."
Begitulah ucapan-ucapan yang didapatkan oleh kyuhyun dari banyaknya orang-orang yang hadir disana. Banyak kata-kata berbelasungkawa kepadanya. Bahkan, ada yang menawarkan putrinya untuk menggantikan kedudukan Victoria dengan tidak malunya. Ckckck, sedangkan sungmin? Entahlah, semenjak mereka berdua datang, yeoja itu langsung menghilang bagaikan angin yang tidak diketahui keberadaannya.
"kyuhyun." Panggil namja yang sudah berumur namun belum dapat menutupi kewibawaannya mendekati kyuhyun.
"ne, haraboeji?"sahut kyuhyun dingin.
"gwechana?"
"ne, gwechana. Haraboeji tidak perlu merasa khawatir dengan keadaanku."jawab kyuhyun.
"dimana sungmin, anakmu?"
"mungkin kini dia sedang menyendiri haraboeji. Pasti dia tidak kuat melihat eommanya untuk yang terakhir kali."jawab kyuhyun dengan wajah sendu.
"kau pikir aku peduli dengan keadaan anak itu. panggil dia sekarang juga, bisa-bisanya dia membuat malu keluarga cho. anak macam apa dia? Tidak menghormati tamu-tamu yang datang."ucap tuan cho sarkartis membuat kyuhyun mendengarnya geram.
"tapi, kek…"
"tidak ada tapi-tapian, cepat cari dia. Atau kau akan tahu sendiri akibatnya."desis haraboeji pelan namun mengancam.
"tidak usah dicari kek. Aku sudah kembali. Mianhamnida, karena aku menghilang sebentar tadi."seru sungmin dari belakan kyuhyun.
"darimana saja kau?"Tanya tuan cho.
"kupikir itu bukan urusanmu, kek." Jawab sungmin dengan dingin.
"terserah, yang pasti jaga sikapmu disini. Banyak orang-orang penting yang hadir. Jangan sekali-kali kau mencoba untuk mempermalukan marga CHO."terang haraboeji kemudian meninggalkan kyuhyun dan sungmin.
"ne, haraboeji sialan."jawab sungmin setelah haraboeji itu hilang dari penglihatannya.
"hhh, sungmin. Apa kau lelah?"Tanya kyuhyun tiba-tiba.
"ne. aku sangat lelah melihat kebohongan dan kepalsuan yang ada disini hingga membuatku muak."jawab sungmin kalem.
"bagaimana kalau kita pulang?"tawar kyuhyun.
"hhh, kenapa appa baru bilang sekarang. Aku sudah ingin pulang sedari tadi."keluh sungmin.
"mian, ayo kita pulang kalau begitu. Namun, sebelum itu ayo kita lihat dulu eommamu untuk yang terakhir kalinya, min."
"ne, ayo kita temui dia untuk yang terakhir kalinya~"
.
.
.
.
.
~"~
.
"sungmin."panggil yeoja imut berwajah tirus dari lorong sekolah. Sungmin yang merasa dipanggilpun menoleh. Dia sangat bingung melihat sosok yeoja itu. hey, semenjak dia pindah disekolah elite ini tiga tahun yang lalu. Dia tidak pernah merasa telah berteman dengan siswa maupun siswi yang ada disini apalagi berinteraksi dengan mereka.
"waeyo, ryeowook-ssi?"Tanya sungmin setelah membaca nama yeoja itu dari tag-name didadanya.
"kudengar eommamu kemarin…"belum sempat yeoja imut itu berbicara. Sungmin langsung menyelanya.
"ne, gwechana ryeowook-ssi."ucap sungmin datar.
"waeyo?"Tanya balik ryeowook membuat dahi sungmin berkerut bingung.
"ne?"
"mengapa kau biasa-biasa saja. Apakah kau tidak merasa sedih?"ujar ryeowook polos. Sungmin tersenyum tipis mendengarnya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan sefrontal itu dari gadis imut yang baru ditemuinya itu.
"tentu saja aku merasa sedih, ryeowook-ssi. Namun, untuk apa aku merasa sedih yang berlarut-larut? Eommaku pernah bilang tidak baik menangisi orang yang sudah tiada karena jika kita menangisinya maka dia tidak akan tenang dialam sana."terang sungmin panjang lebar.
"sungmin~aku benar-benar kagum padamu… jujur saja, kupikir kau adalah gadis yang angkuh nan arogan. Ternyata, kau adalah yeoja yang tegar dan kuat."puji ryeowook membuat pipi sungmin memerah mendengarnya.
"hahaha… kau bisa saja ryeowook-ssi."gelak sungmin.
Pletakkk- pukulan yang diberikan ryeowook sukses membuat sungmin merasakan kesakitan. "yak, kenapa kau memukulku, eoh?"Tanya sungmin meringis kesakitan.
"kau sendiri mengolokku~"cemberut ryeowook.
"hahaha… ne, mian."
"sungmin~ apakah aku boleh berteman denganmu?"Tanya ryeowook tiba-tiba membuat sungmin kaget mendengarnya.
"ne? tentu saja boleh ryeowook-ssi."ucap sungmin geli.
"yakkkk~"
"apalagi?"Tanya sungmin.
"kenapa kau memanggilku dengan suffix ssi, huh? Aku tidak suka itu, terasa aneh ditelingaku. Panggil aku wokkie, ne?"
"hahaha… ne, wokkie."
"nah, begitu kan lebih bagus!"riang ryeowook.
"wokkie~"
"ne, sungmin? Waeyo?"
"bolehkan aku menanyakan sesuatu?"Tanya sungmin ragu-ragu.
"silahkan apa itu?"
"kau bisa masak?"ryeowookpun melongo sukses mendengarnya.
.
.
.
.
.
.
"yo man~ bagaimana keadaanmu sekarang?"Tanya namja jangkung kepada namja tampan berkulit pucat itu yang tak lain tokoh utama kita.
"ayolah changmin~ jangan menanyakan hal yang sama dan berulang-ulang seperti itu. lama-lama aku muak juga mendengarnya."ketus kyuhyun yang tetap focus dengan pekerjaannya.
"yakkk, dia kan 'istri'mu. Bukankah wajar jika aku menanyakan hal itu?"seru changmin tak mau kalah.
"tapi, apakah tidak ada pertanyaan lain, huh? Aku baik-baik saja, kau puasss?"ucap kyuhyun.
"ckckck, kau benar-benar namja yang berhati dingin sobat~"
"kau pikir aku peduli?"
"lalu bagaimana dengan sungmin?"Tanya changmin membuat kyuhyun menghentikan ketikan yang dikerjakannya.
"memangnya kenapa dengannya?"
"kau tetap akan tinggal dengannya?"
"ne, tentu saja. Ada masalah?"
"tentu saja masalah besar, man~ kau pria dan dia wanita. Kau tahu itu, kan?"
"tentu saja aku tahu itu. apa masalahnya?"bingung kyuhyun yang masih tidak mengerti dengan ucapan teman karibnya itu.
"oh my god sun~ hey, kalian tidak memiliki ikatan darah. Apakah kau tidak takut jika khilaf dan tak sengaja ehem-jatuh cinta-ehem."ucap changmin hati-hati dengan ucapannya takut membuat kyuhyun tersinggung.
"ya tuhan, changmin. Dia anakku, pabbo. Mana mungkin aku akan melakukan hal konyol seperti itu." teriak kyuhyun setelah mengerti apa yang dimaksud dengan changmin.
"apakah kau bisa mengucapkan hal itu untuk kedepannya, kyuhyun? Come on, sungmin itu cantik meski dingin. Namun dia memiliki daya tarik yang besar, man~"terang changmin.
"tetap saja dia anakku."ucap kyuhyun bersikukuh.
"tapi, kalian tidak memiliki ikatan darah. Kau masih bisa menikahinya."
"aku tidak akan menikahinya."
"aku bertaruh kau tidak akan bisa menjaga janjimu itu."
"whatever~cepat pergi ketempatmu changmin jika tidak ingin kupecat. Berlama-lama denganmu bisa membuatku gila."keluh kyuhyun.
"ne, arraseo sajangnim~aku pergi dulu. Ingat kata-kataku tadi."ucap changmin berlalu.
"ne, akan kuingat."jawab kyuhyun ogah-ogahan dan kembali focus dengan pekerjaannya.
.
.
.
.
"hey, minyaknya jangan sedikit seperti itu."
"cuci dulu baru dipotong."
"jangan kau cuci beras itu dengan sabun, pabbo yeoja."
"yakkk, darahmu kemana-mana, kau balut dulu dengan perban. Jangan kau kotori makanan itu dengan darah kotormu."
"aissshhh,, kan sudah kubilang jika ingin menyalakan kompor, tekan dulu lalu diputar."
Teriakan-teriakan ryeowook itu membuat suasana dapur dikediaman cho itu menjadi ramai. Ryeowook tak pernah menyangka jika teman 'baru'nya itu amat sangat payah dalam membereskan rumah dan memasak. Entah dari mana tenaga ekstra ryeowook yang dengan 'sabar' mengajarkan sungmin bagaimana mengurus rumah dengan baik dan benar.
"hhh, wokkie… ini benar-benar sulit!" rajuk sungmin sambil mengeluarkan aegyonya membuat wokkie yang melihatnya menghembuskan nafasnya keras.
"kau ini benar-benar manja Minnie… !"sungut wokkie tak kalah imutnya.
"aku pulang."terdengar suara berat yang khas dari arah pintu rumah cho itu membuat kedua yeoja imut kita ini menghentikan pekerjaan mereka sejenak.
"hn? Ada tamu?"Tanya namja itu yang tak lain adalah kyuhyun.
"ahhh, ryeowook imnida… bangeumsimnida, ahjussi."salam ryeowook.
"hn. Ah, min~ini kubawakan pizza untukmu. Kau belum makan kan? Makanlah, ajak temanmu juga."ucap kyuhyun singkat lalu menaiki tangga kamarnya dan membuka pintu tak lupa menutupnya kembali.
"itu appamu, Minnie?"Tanya ryeowook sambil membuka bungkusan pizza dari kyuhyun.
"ne. waeyo?"Tanya sungmin balik sambil memakan potongan pizza tersenut.
"dia tampan. Namun sayang, dia terlihat… errr, membosankan, dingin, cuek, dan yahh, sederet sikap menyebalkan dari pria ada didirinya… untung dia tampan."cerocos ryeowook sambil mengunyah.
"dia baik."bela sungmin.
"oohhh, mungkin tampan dan baik adalah nilai plus yang masih tertinggal didirinya."
"apakah pria seperti ayahku adalah tipe yang ideal?"cetus sungmin.
"ne, jika untuk wanita bermake-up tebal dan suka selingkuh… selebihnya, kupikir tidak ada yang mau menyukainya jika sifatnya seperti itu."terang ryeowook apa adanya tanpa menyadari orang yang dibicarakannya itu ada dibelakangnya.
"mianhe, jika aku tak sesuai dengan tipe idealmu, anak muda."ucap kyuhyun dingin. Ryeowook yang ketangkap basah sedang mengejek itu hanya menelan ludah gugup melihat kyuhyun yang ada dibelakangnya menatapnya datar.
"min~apakah besok kau ada acara?"Tanya kyuhyun kepada sungmin yang sibuk menahan tawa melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh ryeowook.
"hhmmfff… ani, appa… waeyo?"
"tidak, aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama dengan klien-ku. Tidak masalah bukan?"
"ne, kita berdua?"
"kalau kau ingin mengajak nona muda yang sok tahu ini juga tidak apa-apa."sindir kyuhyun keryeowook membuat ryeowook merasa bersalah.
"ne, wokkie akan ikut appa~"
"mwooooooo?"teriak ryeowook kaget membuat kyuhyun yang disampingnya harus menutup telinganya kalau tidak mau mendengar suara ryeowook yang naik beberapa oktaf itu.
"ne, keberatan?"Tanya sungmin menatap ryeowook tanpa dosa.
"anni, aku ikut."ucap ryeowook yang tak tega melihat wajah polos yang dipancarkan oleh sungmin itu.
"baiklah~mungkin hanya itu yang ingin kukatakan. Aku naik kembali ya? Dan kau nona tak baik loh membicarakan orang tanpa tahu sifatnya yang sebenarnya."ucap kyuhyun tanpa ekspresi.
'yah, jangan salahkan aku juga jika ekspresi ahjussi yang membosankan itu memang benar-benar menyeramkan.' Batin ryeowook.
"appa~ ngomong-ngomong siapa nama klien appa itu?"Tanya sungmin penasaran membuat kyuhyun menghentikan langkahnya.
"kim jongwoon.. tapi, banyak yang memanggilnya yesung. Dia artis yang sedang naik daun saat ini dan perusahaan kita memakainya sebagai model, min~"
"yesungg oppa?"teriak ryeowook girang.
"ne, ada masalah nona?"
"kyaaaaa…. Aku penggemarnya ahjussi... aku ingin sekali bertemu dengannya… kyaaa, aku harus berpenampilan menarik besok kyaaaa~"girang ryeowook tanpa menyadari seringai yang dikeluarkan oleh kyuhyun.
'ne, berpenampilanlah dengan menarik nona sebelum kau terkejut melihat sifatnya. Salah sendiri menjelekkanku didepan min. kubuat kau shock baru tahu rasa.' Batin kyuhyun penuh dendam dan semua itu dilihat oleh yeoja yang sedari tadi terus menatapnya.
To be continued
