My Star © Blue NaNadia

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

Genre: Romance

Warning: diusahakan tidak terlalu OOC, Typo(s), Aneh, dwwl (Dan Warning-Warning lainnya)

Summary: Naruto selalu mengamati bintang setiap malam. Tapi hari itu, dia menemukan bintang di sore hari. Bintang yang amat indah. Naruto pun lama-kelamaan semakin jatuh cinta pada bintang itu.

.

.

~ My Star ~

.

.

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

Happy Reading!

.

.

Matahari sudah terbenam dengan sempurna. Langit yang awalnya berwarna jingga telah berubah menjadi hitam. Naruto dan gadis berambut indigo tadi kini sedang berjalan bersama. Naruto berjalan sambil menuntun sepedanya.

"T-Terimakasih, kau s-sudah membantuku tadi." Kata gadis itu malu-malu.

"Sama-sama." Jawab Naruto.

Hening.

Keadaan saat ini benar-benar hening, tanpa suara. Lebih tepatnya canggung.

"Ah, tadi kita belum berkenalan. Namaku Naruto Uzumaki, kau?" Akhirnya Naruto membuka percakapan.

"A-Aku Hinata Hyuuga." Balas gadis berambut indigo yang mengaku bernama Hinata Hyuuga itu.

"Jadi di mana rumahmu, Hinata?" Tanya Naruto.

"Tidak jauh dari sini, di blok A, kalau Uzumaki-san sendiri?"

"Wah, berarti kita tetangga. Aku juga tinggal di blok A." Nada bicara Naruto menjadi terdengar riang. Sangat malah.

Akhirnya mereka sampai di depan rumah Hinata. Hinata segera pamit pulang duluan lalu berlari masuk ke dalam rumahnya. Naruto hanya memandang punggung Hinata yang semakin menjauh.

Dia akhirnya menyadari kalau Hinata lah pemilik suara yang ia dengarnya malam itu. Dan ia menyadari sesuatu yang lain. Yaitu dia sudah menemukan bintangnya. Hinata.

.

.

.

Matahari kini telah terbit dengan sempurna dari ufuk timur, cahayanya yang terang mulai memasuki celah-celah jendela kamar Naruto, membuat sang pemilik kamar terbangun dari dunia mimpinya.

Dengan malas-malasan, Naruto bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi, untuk mandi tentunya.

Setelah mandi dan berganti baju, Naruto segera turun ke bawah untuk sarapan. Hari itu ternyata Naruto bangun jauh lebih cepat di banding Naruko. Naruto hendak membangunkan sang adik, tapi begitu melihat wajah adiknya yang kelelahan, membuat Naruto mengurungkan niatnya. Dia ingat, semalam adiknya itu bekerja lembur. Sebagai seorang pekerja kantoran, tugas yang diberikan cukup banyak, membuat Naruko harus menyelesaikan tugasnya di rumah juga, karena terlalu banyak.

Naruto pun pergi ke dapur, membuat sarapan untuknya dan menyiapkan makanan untuk adiknya itu. Setelah sarapan, Naruto bergegas pergi. Dia meninggalkan pesan di meja makan untuk Naruko.

Naruto mengayuh sepedanya dengan penuh semangat, tak sabar ingin bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sekitar 2 minggu ini selalu masuk di pikirannya.

Naruto telah sampai di tempat tujuannya, toko buku. Akhir-akhir ini Naruto memang sering pergi ke toko buku hanya untuk menemui seseorang. Yaitu, Hinata.

Sejak pertemuan pertama mereka beberapa hari yang lalu, hubungan mereka menjadi semakin erat saja. Dan secara tak sadar, telah tumbuh benih-benih cinta di antara mereka. Meskipun pada awalnya keduanya tak ada yang mau mengakui hal itu. Tapi, hari itu, Naruto memutuskan untuk menyatakan cinta nya pada Hinata. Dia sudah tak bisa mengelak jika ditanyai apa dia menyukai Hinata.

Hari itu Naruto tidak pergi latihan band, melainkan pergi jalan-jalan dengan Hinata. Sebuah kesempatan yang bagus untuk menyatakan cinta. Naruto memang tak merencanakan semuanya, tapi ia berharap pernyataan cintanya di terima.

.

.

.

Tak terasa matahari sudah hampir terbenam. Langit berubah warna menjadi jingga. Membuat kesan yang indah dan mempesona.

Saat itu, Naruto dan Hinata sedang ada di sebuah taman. Mereka sedang duduk di bangku taman di bawah pohon bunga Sakura. Angin sore hari membuat kelopak-kelopak bunga Sakura itu terjatuh, membuat suasana sore itu terasa sangat romantis bagi Naruto dan Hinata.

Hening.

Keadaan mereka saat ini terasa amat canggung. Tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka hanya diam sambil memandangi pemandangan yang indah.

Kegiatan itu pun terhenti ketika Naruto mulai bersuara, membuat Hinata menoleh ke arah Naruto.

"A-Ano, sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu, Hinata." Naruto memulai pembicaraannya.

"A-Apa yang ingin kau k-katakan, Naruto?" Tanya Hinata penasaran.

"..." Hening sejenak, Naruto masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk menjawab pertanyaan Hinata. Naruto menolehkan kepalanya ke Hinata, membuat kedua mata mereka bertemu. Naruto memandang Hinata lekat-lekat. Tampak sekali ada keseriusan di tatapan mata biru laut itu. Tatapan itu membuat Hinata tertegun sejenak. Hinata hendak mengucapkan sesuatu, tapi Naruto sudah menyelanya lebih dulu.

"Aku mencintaimu, Hinata..." Ucap Naruto tiba-tiba. Ucapan Naruto membuat mata lavender tanpa pupil milik Hinata sukses terbelalak. Hinata benar-benar terkejut, dia tak percaya Naruto akan mengatakan hal itu padanya. Hinata hanya bisa menunduk dalam-dalam. Lidahnya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu. Bibirnya terkunci. Yang bisa Hinata lakukan sekarang hanyalah meneteskan air mata. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Satu sisi dia merasa senang, dan sisi yang lain merasa sedih. Hatinya sakit. Sangat sakit.

Tiba-tiba saja Hinata berdiri. Kepalanya masih tertunduk, tak berani menatap mata Naruto langsung.

"Gomen." Hanya kata itu yang sanggup Hinata katakan pada Naruto. Dia segera berlari meninggalkan Naruto yang masih terdiam membisu. Hatinya benar-benar hancur. Hanya mendengar kata maaf saja bisa ia simpulkan kalau Hinata menolak pernyataan cintanya.

.

.

.

Naruto berjalan lunglai sambil menuntun sepedanya ke dorm Blue Star. Dia tak berani pulang ke rumah karena jika ia pulang kerumah, ia harus melewati rumah Hinata. Dan tak menutup kemungkinan kalau mereka akan bertemu di jalan. Naruto tak ingin lukanya bertambah sakit ketika melihat wajah Hinata. Dia tak ingin hatinya terluka lebih dalam lagi.

Gaara dan Kiba yang saat itu masih di dorm di buat terkejut ketika melihat bandmate mereka datang dengan penampilan yang 'kacau'. Rambut acak-acakan, mata agak memerah, wajah kusut. Kelihatan sekali kalau dia sedang bersedih.

"Naruto? Ada apa denganmu?". Tanya Gaara dengan nada yang terdengar khawatir.

"Biarkan aku tinggal disini selama beberapa hari, dan untuk saat ini, tolong jangan ganggu aku." Kata Naruto. Suaranya terdengar serak. Dengan langkah gontai, Naruto masuk ke salah satu kamar di dorm itu. Gaara dan Kiba hanya saling pandang, mereka bingung. Kiba segera menghubungi Sasuke begitu pintu kamar yang di masuki Naruto tertutup.

"Cepatlah kemari! Ada masalah dengan Naruto!" Ucap Kiba pelan.

.

.

.

Seminggu telah terlewati begitu saja. Keadaan Naruto sudah agak membaik, tapi perasaannya pada Hinata belum juga hilang, malah semakin besar karena dia merindukan gadis berambut indigo itu. Selama seminggu, Naruto tak pernah pulang kerumah, dia pun tak pernah keluar dari dorm, dia hanya berdiam diri di dalam sana, membuatnya tak pernah melihat Hinata.

Hari itu, Naruto memutuskan untuk pulang kerumah. Setelah di bujuk Naruko, Naruto akhirnya mau. Naruko juga tahu tentang perasaan sang kakak pada Hinata. Dan dari Naruko lah Naruto mendapat informasi yang sulit ia percaya. Yaitu, Hinata adalah anak dari seorang yakuza.

Memang sekarang orang tua Hinata telah meninggal, tapi tetap saja 'gelar' sebagai anak yakuza itu tetap melekat padanya.

Malam itu, Naruto berniat menemui Hinata, ingin mengetahui perasaan sebenarnya gadis itu. Apa dia menyukai Naruto, atau malah sebaliknya. Naruto yang sedang menuntun sepedanya melihat sekilas ke toko buku milik Hinata. Dia dapat melihat Hinata yang sedang menutup tokonya. Beberapa kali Hinata menjatuhkan kuncinya. Beberapa kali juga dia menubruk pintu. Tatapannya kosong. Tersirat kesedihan di mata lavender gadis itu. Naruto yang melihat itu merasa dadanya mendadak sesak. Hatinya teriris-iris. Jika ia tahu akibat dari pernyataan cintanya seperti ini, sudah pasti dia tak akan melakukannya. Dia lebih baik memendam perasaanya ketimbang melihat Hinata bersedih seperti itu.

Naruto pun berjalan mendekati Hinata. Dia berhenti tepat didepan Hinata. Hinata yang sedang menunduk tak menyadari kehadirannya.

"Hinata..." Panggil Naruto lembut. Suara Naruto membuat Hinata tersentak. Hinata segera mengangkat kepalanya untuk melihat sosok yang memanggilnya. Mata mereka bertemu. Mereka terpaku dan membisu selama beberapa saat, hingga akhirnya Hinata segera menunduk kembali lalu pergi berlalu. Tapi, Naruto dengan cekatan menarik tangan Hinata, membuat gadis itu mau tak mau harus menoleh.

"Maaf, bisakah kau melepaskan tanganmu?" Hinata memohon dengan suara yang pelan. Suaranya terdengar agak tegas.

"Tidak akan, sebelum kau mengatakan perasaanmu yang sebenarnya padaku!" Ucap Naruto tak kalah tegas.

"Maaf." Lagi-lagi hanya kata maaf yang mampu di ucapkan Hinata. Hal itu membuat Naruto kesal.

"Jika kau tidak menyukaiku, bilang saja!"

Hinata diam sejenak, dia lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan. Dia lalu menjawab.

"I-Iya kau b-benar, aku t-tidak menyukaimu" Jawab Hinata dengan suara yang terdengar bergetar.

"Jangan berbohong!"

Hening yang cukup lama menghinggapi keadaan mereka saat ini. Hinata akhirnya mau menatap mata Naruto.

"Baik, aku mengakui kalau aku sebenarnya juga menyukaimu, maksudku mencintaimu, tapi aku tidak yakin kau bisa mencintaiku dengan tulus, karena aku adalah-" Ucapan Hinata terhenti karena Naruto menyelanya.

"Aku tak peduli jika kau adalah anak seorang yakuza! Tidak bisakah kau percaya padaku, aku benar-benar mencintaimu dengan tulus, Hinata..." Kata Naruto, nada bicaranya mulai melembut.

Hinata tak dapat berkata-kata, ia hanya bisa menatap mata biru laut milik Naruto. Air mata Hinata mulai mengalir. Ia sudah tak sanggup untuk membendungnya lagi. Naruto lalu membingkai wajah Hinata dengan kedua tangannya. Ia mengusap air mata Hinata dengan ibu jarinya.

"Naruto... Arigatou... Aku juga mencintaimu..." Ucap Hinata pelan. Naruto pun membenamkan kepala Hinata di dadanya. Perlahan tangan itu turun ke pinggang Hinata. Naruto memeluk Hinata dengan erat, seolah dia tidak mau gadis itu pergi meninggalkannya.

Malam itu, menjadi saat yang membahagiakan bagi Naruto dan Hinata. Mereka akhirnya bisa bersama. Naruto benar-benar mencintai Hinata dengan tulus, ia tidak peduli tentang status Hinata sebagai anak yakuza, begitu juga dengan Hinata. Hinata juga mencintai Naruto dengan tulus.

.

.

.

Bulan purnama bersinar terang malam itu, membuat malam yang gelap gulita terasa terang benderang.

Malam yang di tunggu-tunggu Naruto akhirnya datang. Malam bulan purnama dimana dia akan bernyanyi bersama dengan seseorang. Naruto duduk di atap ditemani seorang gadis berambut indigo yang duduk di sampingnya. Mereka tak pernah lelah meski terus saja bernyanyi. Mereka begitu menikmati kegiatan mereka. Dengan diiringi petikan gitar dari Naruto, mereka berdua pun bernyanyi bersama.

.

.

.

Listen to my story

I saw a falling star

And i made a wish upon the tiny spark, then

My heart belongs to you

Forever, forever more

I hope my wish can be heard to the sky...

Kono sekai de kagaiyaiteiru

Kimi to boku no hanashi wo shitteiru?

Kawarazu soba ni itekureru

Kimi no kokoro ga hikarasetieru

Hey, look at the night sky

Do you know why that glitters?

Our minds become a star with one accord

Glitter in the night sky. And like your mind, baby

And it is shining somewhere tonight

Kono sekai de kagaiyaiteiru

Kimi to boku no hanashi wo shitteiru?

Kawarazu soba ni itekureru

Kimi no kokoro ga hikarasetieru

Zutto kono hitotsu no omoi

Kagayaki tsudsukeru youni

Sou kitto kimi to boku no omoi

Hitotsu no hoshi ni naru youni

I sing a song with all

My heart, my heart

Kono sekai de kagaiyaiteiru

Kimi to boku no hanashi wo shitteiru?

Kawarazu soba ni itekureru

Kimi no kokoro ga hikarasetieru

I wish i could see a starlit night

With you all the time... with you forever...

Ohhh...

Kono sekai de kagaiyaiteiru

Kimi to boku no hanashi wo shitteiru?

Kawarazu soba ni itekureru

Kimi no kokoro ga hikarasetieru

.

.

.

"Aku mencintaimu Hinata, sangat mencintaimu..." Ucap Naruto sambil memeluk Hinata dari belakang dengan erat.

"Aku juga mencintaimu... Naruto-kun." Balas Hinata. Dia hanya bisa memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang tersalur dari pelukan erat kekasihnya.

Di bawah sinar bulan, Naruto dan Hinata saling berbagi kehangatan dengan cara mereka sendiri, yaitu bernyanyi. Malam yang biasanya sepi, kini berubah menjadi ramai karena sepasang kekasih itu. Mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa menghentikan mereka, karena mereka sedang di mabuk asmara...

.

.

.

FIN

.

.

.

A/N:

Yosh! Chapter 2 sudah selesai!

Saya senang sekali karena ada yang mau mereview FanFiction saya ini. Terima kasih banyak reader-san sekalian.

Daripada Author Note ini terlalu panjang, lebih baik saya segera akhiri saja.

Sekali lagi terima kasih untuk dukungannya *ojigi*

.

.

.

Mind to Review?

.

.

.