Turn On The Light
All character belong to Naruto
Naruto © Masashi Kishimoto
1999
Turn On The Light by Putpit
09 Juni 2013
Love Contest
Tuk tuk tuk
Ino mematukan-matukan pensil ke meja kayu. Matanya menerawang jauh ke luar jendela. "Hm, apa ya tema yang menarik untuk ajang adu bakat enam hari lagi?" tanya Ino pada dua sahabat yang duduk di hadapannya.
"Harus sesuatu yang berbeda," jawab Tenten yang lebih memilih memandang lurus ke depan daripada ke jendela di sebelah kanannya.
"Unik dan berkelas," timpal Sakura dengan dua tangan yang menopang dagu.
Pendapat Sakura sukses menutup obrolan singkat ketiga gadis. Akhirnya, mereka pun sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan perlahan, keheningan menyelimuti ruangan yang dipenuhi berbagai alat musik itu.
Ino, gadis yang memiliki iris berwarna biru laut terus menatap kosong ke arah gumpalan-gumpalan kapas yang nampak cantik menghiasi langit. Ia tanpa sadar teringat pada satu sosok yang sangat menyukai pemandangan indah yang tengah ia tatap sekarang. "Hari yang cerah ya," gumamnya.
Puas dengan menikmati lukisan angkasa, Ino mengalihkan pandangannya menuju lapangan sekolah. Ekor mata Ino mendadak menangkap dua siluet yang berjalan menyebrang petak tanah aspal berukuran dua puluh kali sepuluh meter itu. Ia sedikit mengulurkan kepalanya ke jendela seraya menyipitkan kedua mata.
Betapa bahagianya Ino kala telah melihat secara jelas pemilik siluet-siluet itu. Keduanya juga berhenti dan mendongak untuk menatap langsung ke tempat Ino berada. "Ah, Shikamaru! Neji!" batinnya.
Ino segera menyodok pelan lengan Tenten untuk meminta perhatian.
Lamunan sang gadis keturunan China spontan buyar dan berubah menjadi tatapan penuh tanda tanya. "Ada apa?"
Ino menjawab dengan sebuah lirikan genit ke samping kanan.
Tenten mengikuti gerakan mata Ino. Ia agak melongok dan detik berikutnya, semburat kebahagian juga terpancar jelas di wajah orientalnya.
Ino curi-curi pandang pada Sakura, memastikan bahwa sahabatnya itu masih dalam posisi terbawa arus imajinasi. Ketika telah yakin, Ino kembali menatap ke luar jendela. Ia melambai kecil pada dua cowok yang ternyata terdiam di tengah lapangan sambil mendongak menatap mereka.
Salah seorang cowok, berambut mirip nanas yang kedua tangannya berada di saku celana, membalas lambaian Ino dengan anggukan sembari menyunggingkan senyum tipis.
Ino bertanya tanpa suara, "Mau kemana?" Mulutnya membuka dan menutup secara patah-patah. Seakan menekankan setiap kata yang terlontar dari bibir merahnya.
"Ke studio tari," jawab Shikamaru diselingi mulut yang menguap.
"Kok berhenti disitu?" tanya Ino lagi.
Shikamaru menyahut dari kejauhan, "Kangen." Memang hanya terdiri enam alfabet, tapi hal itu berhasil membuat Ino menampilkan senyum yang lebar serta rona merah di pipinya.
"Aku juga," balas Ino masih tanpa suara.
Tenten menoleh sekilas ke arah Ino. Karena sepasang iris coklatnya sedari tadi asyik bertemu sapa dengan sepasang iris keperakan di seberang sana, Tenten jadi tidak sadar bila sudah terjebak dalam lilitan romansa antara Ino dan Shikamaru. Dengan insting ceweknya, Tenten berinisiatif untuk tidak kalah dari Ino. Ia juga ingin menunjukan kemesraannya dengan sang kekasih. Tenten pun melontarkan kalimat pertanyaan pada lelaki di sebelah Shikamaru menggunakan cara yang sama dengan Ino, tak bersuara bercampur patah-patah. "Neji, apa kamu sudah makan?"
"Sudah," balas Neji.
Ino gantian menoleh ke Tenten. Ia memanyunkan bibirnya, menandakan jika ia menantang tindakan sahabatnya. "Aku juga bisa lebih mesra. Lihat ini," bisik Ino.
"Shikamaru, aku cinta kamu," ucap Ino masih dengan gayanya.
"Aku juga," sahut Shikamaru.
"Neji, aku cinta kamu," ucap Tenten sambil melirik Ino sengit.
"Ya," kata Neji.
Ino memeletkan lidah pada Tenten. "Ye, kasihan cuma di jawab gitu doang. Ditambah lagi, kata-katanya copas dariku. Hu, Tenten nggak kreatif," ejek Ino.
"Biarin yang penting romantis," kata Tenten acuh.
Ino mendengus. "Romantis kok copas."
"Memangnya ke-"
Belum sempat Tenten melanjutkan perkataannya, suara Sakura menginterupsi. "Aku sudah mendapat tema!"
Refleks, dua gadis yang sebelumnya sibuk memperdebatkan hal sepele itu memutar kepala mereka menghadap Sakura.
"Eh, benarkah?" tanya Ino kaku sekaligus terbata-bata. Jelas sekali, bila ia nampak menyembunyikan sesuatu.
Sakura tersenyum sekilas. "Iya, aku serius. Em, barusan aku mendapat pesan singkat dari Manajer kalau nanti malam, aku ada job menyanyi di salah satu stasiun televisi. Dan hal itu tiba-tiba mengingatkanku tentang mimpi. Aku akan mengusung tema impian untuk ajang adu bakat. Bagaimana menurut kalian?"
Tenten mengangguk keras. "Oh, sangat bagus!" responnya justru terkesan mencurigakan.
Sakura mengerutkan kening. "Apa sih yang sedang kalian ributkan daritadi?" Ia menengok ke jendela dengan penasaran. "Ada apa di luar?" tanyanya lagi.
Tenten sontak mengibas-ngibaskan tangan di depan muka Sakura. "Tidak ada apa-apa kok," ujarnya sambil menunjukan cengiran kikuk.
Ino pun sigap dengan keadaan. Ia mengayun-ayunkan tangan di jendela, memberi kode pada Neji dan Shikamaru agar keduanya pergi. Setelah lelaki-lelaki itu mengerti lalu melangkah meninggalkan lapangan, Ino berujar pada Sakura, "Kamu benar-benar hebat Sakura. Selain menjadi siswa terbaik di jurusan seni tarik suara, kamu juga penyanyi terkenal di Jepang. Aku berani jamin kalau Naruto akan kalah di ajang adu bakat."
Sakura yang mendengar pujian dari Ino tersenyum kecil dan mengurungkan niatnya untuk melihat keluar jendela. "Si cowok durian itu pasti kalah. Terima kasih teman-teman," ucapnya senang.
"Ya," sahut Ino serta Tenten bersamaan sambil bernafas lega.
"Eh, lalu apa kalian sudah menemukan tema?" tanya Sakura.
Ino mengembangkan senyum manis yang penuh makna. "Sudah. Temaku berhubungan dengan alam. Terutama awan," jawabnya.
Sedangkan Tenten menjawab seraya memandang ke atas. "Em, temaku tentang cinta di masa muda. Ah, betapa indahnya."
…TOTL…
Guratan jingga di ufuk barat mulai memudar perlahan. Bersamaan dengan itu, sekelompok burung nampak terbang sambil berkoak nyaring meramaikan langit. Dan di sebuah area yang dipenuhi oleh jejeran sepeda angin, seorang lelaki berbadan tinggi tegap dan berambut jabrik kuning terlihat tengah berbincang dengan dua temannya.
"Shikamaru, apa kau sudah menemukan tema untuk ajang adu bakat enam hari lagi?" tanya sang lelaki jabrik pada temannya yang sedang mengerjap-ngerjapkan mata mengantuk.
"Sudah," sahut lelaki yang bernama Shikamaru tersebut.
Pertanyaan sang lelaki jabrik berganti ke temannya yang berambut coklat panjang dengan perangai kalem. "Kalau kau Neji?"
"Sama," kata Neji.
"Astaga, berarti hanya aku sendiri yang belum mendapatkan tema! Arrgh, payah!" keluh sang lelaki jabrik kesal.
"Memang dari dulu kau payah, Naruto. Hah, kenapa baru sadar sekarang?" sela sebuah suara sinis dari belakang lelaki jabrik.
"Terima kasih telah memuji Sakura-chan (1)," kata lelaki jabrik yang ternyata bernama Naruto itu seraya membalikan badan.
"Hah, Baka (2)!" sungut Sakura si pemilik suara. "Kenapa kau memanggilku dengan suffix chan? Memangnya kita dekat? Huh," lanjut Sakura ketus.
"Daripada aku memanggilmu pinky?" goda Naruto.
"Apa kau bilang?" ucap Saura penuh emosi.
Ino yang berdiri di sebelah kanan Sakura segera melerai. "Sudah, jangan mulai bertengkar lagi! Kalian mau berurusan dengan Guru Tsunade untuk yang kelima belas kali dalam bulan ini?"
Sakura melirik ke Ino. Detik berikutnya, ia menghela nafas panjang. "Ah, benar. Lagipula aku sudah capek berurusan dengan cowok durian plus payah plus baka seperti dia. Ayo pulang Ino, Tenten!" ajak Sakura seraya menggandeng tangan kedua temannya.
Ketika Ino dan Tenten diseret pergi oleh Sakura, dua gadis tersebut sempat menyunggingkan senyum manis pada dua sosok di belakang mereka. Dan untunglah, Naruto terlalu sibuk menatap punggung Sakura yang semakin menjauh sehingga tidak melihat ulasan senyum dua gadis yang sarat akan cinta itu.
Naruto menghembuskan nafas sejenak lalu menepuk pundak teman-temannya. "Baiklah, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok!" ujarnya seraya melangkah menuju salah satu sepeda angin berwarna silver.
Naruto menaiki sepeda dan mengayuhnya dengan kecepatan normal. Senja telah berubah menjadi kepekatan malam yang utuh. Kemerlap bintang maupun lampu jalanan saling beradu memecah kegelapan. Saat Naruto berhenti di sebuah jalan karena mematuhi traffic light yang berwarna merah, seorang gadis kecil berusia sekitar empat belas tahun, berambut coklat muda yang dikuncir dua tegak menghampirinya dengan tiga kaleng soft drink dalam rangkulannya.
"Kak, apa kau haus? Aku punya tiga minuman yang akan menghapus dahagamu dalam sekejap. Harganya terjangkau pula," promosi anak itu riang.
Naruto menggeleng singkat. "Maaf, aku tidak haus dik. Orang lain saja ya," tolak Naruto halus.
Gadis kecil itu tak pantang menyerah untuk merayu. "Kak, beli dua gratis satu loh!"
Naruto kembali menggeleng. "Tidak," jawabnya.
Sang gadis cilik tersenyum. "Baiklah. Terima kasih kak," katanya seraya berjalan ke mobil di samping kanan Naruto.
Dia mengumpulkan tiga kaleng minuman dalam satu sisi dekapan kemudian mengetuk kaca mobil bagian depan. "Minuman sehat dan segar. Harganya murah. Apa tuan/nyonya mau membeli?" tawarnya ramah.
Kaca mobil pun menurun perlahan dan adegan selanjutnya membuat Naruto terbelalak. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja orang yang ada di dalam mobil menyiramkan air pada sang gadis cilik hingga baju basah dan ikatan rambutnya terjatuh layu.
"Halo, Moegi! Malam-malam harus bekerja pasti melelahkan. Hahaha, makanya aku siram air supaya kamu tidak mengantuk," ujar orang, ah bukan lebih tepatnya anak lelaki berambut hitam panjang dikuncir satu.
"Watase," desis Moegi, sang gadis cilik.
Saat traffic light berubah warna menjadi kuning, Naruto turun dari sepeda lalu mendekati Moegi. "Heh, jangan memperlakukan orang lain dengan kasar! Apalagi gadis ini adalah temanmu," kata Naruto memarahi anak lelaki tersebut. Kedua tangannya mencengkeram bahu Moegi lembut, seakan bersedia membelanya mati-matian.
"Heh," komentar Watase jutek
Dahi Naruto berkerut. "Kau! Jaga sopan santun jika berhadapan dengan orang yang lebih tua!" seru Naruto. Amarahnya bertambah satu tingkatan.
"Orang bawah itu selalu sama saja. Banyak bicara dan maunya," ejek Watase.
Naruto menyahut tegas. "Bila tidak ada orang yang bawah, maka tidak ada orang yang atas. Tahu diri dong."
Watase langsung bungkam. Sang sopir yang baru menyadari keributan kecil majikannya, spontan bertanya, "Ada apa Tuan?"
"Tidak apa-apa. Cepat jalan!" perintah Watase jengkel. Dikarenakan menuruti perintah majikan sekaligus lampu lalu lintas telah berganti menjadi warna hijau, mobil pun bergerak meninggalkan Naruto serta Moegi.
Naruto bergegas menarik tangan Moegi menjauh dari jalanan menuju sepedanya. Ia kemudian menuntun gadis tersebut ke taman yang berada tak jauh dari sana.
Naruto memarkir sepedanya dan duduk di salah bangku taman. "Moegi, ayo duduk! Keringkan dulu bajumu dengan ini baru berjualan lagi," kata Naruto sambil mengulurkan sapu tangan berwarna putih miliknya.
Moegi tersenyum simpul lalu menghempaskan diri di sebelah Naruto. "Terima kasih," ucapnya sembari menerima sapu tangan sang Uzumaki. Ia menyapukan permukaan sapu tangan pada wajah serta baju tipisnya. "Sekali lagi terima kasih Kak."
"Sama-sama. Tapi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Naruto.
Moegi mengangguk. "Hal ini sudah biasa kok Kak," jawab Moegi ceria.
Sebelah alis Naruto terangkat heran. "Apa kamu tidak marah dengan temanmu itu? Eh, benarkan kalau aku bilang dia temanmu?"
Moegi tertawa kecut. "Dia adalah teman sekelasku Kak. Lagipula, alasan mengapa aku tidak marah padanya ialah karena segala sesuatu yang ia katakan hanyalah omong kosong. Sampai kapanpun, aku akan tetap menjadi diri sendiri dan berpikir posotif. Semenjak kematian Ayah sebulan yang lalu, aku telah bertekad bahwa aku tidak akan bergantung pada Ibu. Aku harus menjadi dewasa dan membantu Ibu mencari uang," cerita Moegi panjang lebar.
Naruto tersenyum senang. "Kamu benar-benar gadis yang hebat, Moegi. Kakak salut denganmu," puji Naruto.
"Aku tidak sehebat yang kakak pikirkan," ucap Moegi rendah hati.
Beberapa menit setelahnya, kedua orang tersebut terdiam. Memikirkan topik pembicaraan yang akan mereka obrolkan.
"Kamu bekerja sampai jam berapa?" tanya Naruto, membuka topik obrolan.
Moegi menunjuk dagunya berpikir. "Aku tidak tahu. Biasanya, aku sampai di rumah jam dua pagi."
"Ap-?"
Tiba-tiba ucapan Naruto terpotong oleh gambar gerak yang muncul di salah satu gedung pencakar langit. Gambar itu menampilkan sosok perempuan berambut merah muda panjang sepinggang tengah menyanyi dengan suara emasnya. Kesan elegan ia dapatkan dari gaun merah marun potongan dada yang di kenakannya. Manik mata hijau zambrud perempuan itu nampak berbinar kala mengalunkan kata demi kata dalam untaian nada lagu. Seakan begitu menghayati.
"Kak Haruno Sakura memang terbaik! Selain masih muda, anggun, cantik, suaranya juga bagus. Aku fans berat Kak Haruno Sakura," kata Moegi dengan mata menatap lekat ke arah gambar tersebut.
Naruto menggerakan kepalanya ke atas dan ke bawah, setuju akan perkataan gadis kecil di sebelahnya. Tapi, di bibirnya yang terkatup terselip sebuah senyum tipis. "Sayanganya sifat si Haruno Sakura tidak seanggun yang terlihat. Bahkan mirip seekor singa yang menakutkan," batin Naruto.
…TOTL…
Mentari datang sambil membawa kelembutan embun pagi yang menyegarkan. Di sebuah kamar bergaya minimalis, bias cahaya mentari nampak menyinari melalui sela-sela tirai dan mengusik tidur seseorang bermahkota merah muda. Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, berusaha menghalau sinar pengganggu itu. Namun hanya beberapa menit setelahnya, suara dering jam beker yang terletak meja di samping ranjang menggugah alam sadarnya. Ia pun menghentakan selimut ke depan lalu merentangkan tangan ke atas.
"Hoam. Kenapa pagi cepat datang sih?" keluhnya sambil menguap lebar.
Dia mengucek kedua matanya kemudian turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi yang berada di pojok kanan kamar. Lima belas menit berlalu, orang itu akhirnya keluar dengan tampang bersih dan berpakaian rapi. Dia berjalan ke sisi timur dan menyibak tirai agar matahari dapat mengakses sinar ke kamarnya lebih intens. Selepas itu, ia berdiri menghadap cermin besar seukuran tubuh manusia yang terletak di samping meja dimana tempat jam beker berada.
"Selamat pagi, Sakura! Senyum untuk hari ini!" seru orang itu pada pantulan dirinya di cermin sembari membentuk bibirnya menyerupai bulan sabit. Dia pun meraih sisir yang tergeletak di meja dan menyisiri mahkota merah mudanya sambil bersenandung kecil. Tiga menit kemudian, ia berganti membubuhi wajahnya dengan bedak serta memoleskan lipgloss strawberry pada bibir mungilnya.
Lalu ketika ia menoleh ke kanan, tanpa disangka ia bertatapan dengan sosok lelaki yang tengah duduk menghadap jendela sambil makan mie ramen dengan lahapnya.
"Ohayou gozaimasu, Sakura-chan(3)!" sapa lelaki itu melambaikan tangannya ke atas dengan mulut penuh mie.
"Tuhan, kenapa aku harus mendapat pemandangan tidak mengenakan di pagi yang indah seperti ini!" batin Sakura jengkel. Ia tidak menggubris sapaan si lelaki dan lebih memilih menutup tirai lalu berjalan keluar kamar sambil menenteng ransel hitam di pundak kirinya.
Sakura menuruni tangga cepat menuju dapur. Sesampainya disana, ia langsung menyambar roti panggang yang telah disediakan pembantunya di meja di pusat ruangan. Sehabis itu, ia dengan cepat meneguk segelas susu kemudian mengecup pipi dua orang yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.
"Papa, Mama, aku berangkat dulu. Bye," pamit Sakura seraya melangkah keluar rumah.
Sinar mentari menyapa Sakura ketika kakinya menginjak padatnya tanah berasapal. Dia menghirup nafas panjang, memenuhi paru-parunya dengan oksigen yang masih bersih. Namun, belum sempat sang gadis membuang karbondioksida secara perlahan, suara seorang lelaki menyelanya. "Kenapa kau tidak menjawab sapaanku tadi, Sakura-chan?"
"Memang penting ya?" sahut Sakura ketus.
"Bukankah awalan yang baik akan memberimu hari yang baik pula? Itu yang dikatakan Lee padaku," ucap sang lelaki ceria.
"Merepotkan," kata Sakura sinis.
"Wah, kau terdengar seperti Shikamaru, Sakura-chan," ujar sang lelaki masih dengan nada cerianya.
"Tuhan, bisakah ada hari tanpa adanya Naruto?" batin Sakura kesal. Ia kemudian berjalan menuju halte bus yang terletak lima ratus meter dari rumahnya. Menghiraukan seruan-seruan Naruto yang terasa menggelitik indera pendengarannya.
…TOTL…
Ketika Naruto sampai di sekolah, ia langsung pergi ke studio tari untuk membuat gerakan tari. Ia telah menemukan tema yang sekiranya cocok di ajang adu bakat nanti. Naruto akan berlatih semaksimal mungkin. Meskipun ia tahu, bila bertanding dengan Haruno Sakura bisa diibaratkan melawan gravitasi. Mustahil. Mustahil jika ia bisa menang. Tapi, seorang Uzumaki tidak akan berhenti untuk berusaha. Bukankah sebuah keyakinan akan membawa kemenangan? Siapa tahu?
Di studi lain di Konoha Art Senior High School Sakura juga nampak sibuk. Ia bolak-balik menekan tuts piano, mencari nada yang cocok atau mencoret kertas, mengganti beberapa bagian kata dalam lirik lagu buatannya. Tak butuh waktu lama bagi seorang Haruno Sakura untuk menghasilkan satu karya yang indah. Jika ada kemauan disitu ada jalan. Usai membuat lagu, Sakura ganti menjajal latihan vokal. Ia berlatih keras. Sakura juga menjaga pola makan dan rutin minum air jahe setiap pagi. Semua itu ia lakukan demi menunjukan yang terbaik pada ajang adu bakat nanti.
…TOTL…
Tak terasa, hari pelaksaan ajang adu bakat tinggal menghitung jam. Khusus, aula serta lapangan Konoha Art Senior High School disulap menjadi indah dan meriah. Ratusan pita, balon, juga bunga tersebar di dua tempat itu.
Bagi siswa-siswi jurusan seni tarik suara, musik, tari, serta drama, pertarungan akan dilakukan di aula sekolah. Sedangkan bagi jurusan seni lukis dan seni pahat dilakukan di lapangan.
Pukul delapan pagi, Guru Tsunade berdiri di tengah lapangan lalu meniup terompet sebagai pertanda bahwa ajang adu bakat telah resmi diselenggarakan.
"Aku grogi," kata Ino pada dua temannya.
"Minum air putih lalu tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. Hal itu manjur untuk menghilangkan grogi," kata Sakura memberi solusi.
"Atau mungkin kita bisa berjalan-jalan dulu di area anak-anak lukis. Aku ingin menghirup udara bebas. Disini terlalu pengap. Aku seperti dicekik," ucap Tenten seraya memandang ke sekeliling backstage.
"Ah, ide yang bagus. Lagipula, giliran tampil kita kan masih lama. Ayo Sakura!" ajak Ino sambil menarik tangan sahabat merah mudanya.
"Kalian berdua saja. Aku akan menunggu disini," tolak Sakura.
"Ayolah Sakura! Satu tidak jalan, maka semua tak akan jalan. Kumohon," rayu Ino manja.
Dengan enggan, Sakura menuruti kemauan Ino lalu berjalan di belakangnya. Ia membiarkan sang gadis blonde menuntun arah jalannya. Tanpa Sakura ketahui bahwa ada maksud tersembunyi dari dua gadis tersebut. Kata pepatah, ada udang di balik batu.
Sampai di area anak lukis, Sakura langsung dibawa ke salah satu lukisan yang letaknya tak berada jauh dari pohon momoji. Sakura tampak takjub kala melihat potret dirinya dalam lukisan itu. Sebuah potret ketika ia sedang asyik bercocok tanam pada pelajaran lingkungan hidup. Di lukisan itu, Sakura nampak berjongkok dan menoleh ke arah kanan. Rambut merah mudanya acak-acakan, bajunya lusuh tak karuan, di pipi serta tangannya tercoreng oleh noda tanah, tapi senyum manis menghiasi wajah lelahnya.
Sakura membaca tema yang tertawa di bagian bawah lukisan.
Peduli lingkungan, peduli masa depan
"Lukisan yang bagus Sai!" puji Ino.
Sakura yang terbuai oleh pesona karya di hadapannya sontak menoleh ke kiri. "Eh, kamu yang melukis ini? Namaku Haruno Sakura. Salam kenal," ucap Sakura seraya mengulurkan tangan kanan.
"Shimura Sai," sahut lelaki berwajah pucat dan berambut hitam klimis sambill menggapai tangan Sakura.
"Ah, Sakura. Kami tinggal dulu ya. Lebih baik jika kalian berbincang berdua saja," sela Tenten seraya menarik tangan Ino pergi.
"Eh," kata Sakura bingung.
"Bye," ucap Ino dan Tenten.
Rupanya di seberang lapangan nampak dua orang lelaki yang sedang menunggu dua gadis tersebut dalam keramaian.
"Jadi, kenapa kau melukisku Shimura?" tanya Sakura sopan.
"Karena secara tidak sengaja, kau objek yang kudapat," jawab Sai datar.
"Alasan yang klise," komentar Sakura.
Mendadak seseorang menyeloroh. "Hai, Sai!"
Sai tersenyum hingga dua matanya menyipit. "Hai, Naruto," balasnya.
"Loh, sedang apa kau disini Sakura-chan?" tanya orang yang ternyata bernama Naruto itu.
"Hanya sekedar melihat-lihat," jawab Sakura cuek. "Ah, aku ingin kembali ke backstage. Aku duluan ya Shimura," lanjut Sakura.
"Tunggu!" ucap Sai serta Naruto berbarengan.
Sakura terpaksa berbalik dan menghadap dua cowok itu. "Ada apa?"
"Ada kotoran…" kata Sai juga Naruto lagi-lagi secara bersamaan.
"Di bahumu," lanjut Sai sambil membersihkan daun pundak Sakura.
"Di kepalamu Sakura-chan," sambung Naruto sembari menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Sakura.
Sakura menatap dua lelaki di depannya bergantian. "Terima kasih," ujarnya melangkah pergi.
Pukul sebelas siang, nama Sakura dipanggil oleh pembawa acara. Sang gadis langsung beranjak dari tempat duduk dan tersenyum kala mendapat semangat dari dua sahabatnya. Ia menggerakan kakinya menuju panggung dan langsung meraih microphone.
"Selamat siang. Nama saya Haruno Sakura, saya dari jurusan seni tarik suara. Tema yang saya bawakan ialah mimpi. Terima kasih," ucap Sakura kemudian membungkuk sembilan puluh derajat.
Hal selanjutnya ialah lantunan suara merdu yang berpadu oleh alunan musik. Sakura bercerita lewar nyanyiannya. Tentang masa kecilnya yang penuh mimpi untuk menjadi penyanyi seriosa, tapi terpaksa dienyahkan akibat penolakan kedua orang tuanya. Sakura tidak mau putus asa akan mimpinya. Ia ikut ekstrakulikuler paduan suara ketika sekolah dasar secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada suatu hari, dia berhasil memenangkan satu kontes bernyanyi dan akhirnya, Sakura mendapatkan izin kedua orang tuanya untuk mewujudkan mimpi. Bermimpi itu untuk dikejar bukan untuk diangan saja. Itulah pesan moral Sakura dalam bait-bait irama lagunya.
Usai, Sakura bernyanyi semua orang terpana. Tentu saja, kepopuleran Sakura sudah merajalela sehingga tak heran bila semua siswa menjagokan sang gadis musim semi untuk menjadi peraih nilai terbaik.
Tiba giliran Naruto. Ia naik ke atas panggung dengan mantap. "Perkenalkan, nama saya Uzumaki Naruto dari jurusan tari. Tema saya adalah menjadi diri sendiri. Terima kasih," ujarnya melalui sebuah microphone di depan mulutnya.
Bila menyanyi mengandalkan suara dalam bercerita, maka menari mengandalkan gerakan badan untuk bercerita. Gerakan tubuh Naruto begitu lincah dan lentur di saat bersamaan. Koordinasi antara kaki serta tangannya nampak kompak dan solid. Tarian yang sangat menggambarkan akan karakter dirinya yang ceria, berisik, dan rendah hati.
Dua rival abadi itu sungguh mempesona dalam ajang adu bakat. Anak-anak sampai mempeributkan bila keduanya lebih serasi kalau bersama daripada bertengkar terus.
"Perbedaan antara benci dan cinta itu hanya selembar tissue. Kebencian itu sesungguhnya adalah cinta yang tertutupi oleh perasaan negatif," batin Guru Tsunade setelah melihat aksi Naruto dan Sakura.
Performance selanjutnya ialah Shikamaru. Shikamaru menari dan menunjukan cerita mengenai cinta seorang lelaki pemalas pada gadis yang memiliki warna mata mirip awan. Ino yang sengaja duduk di bangku penonton dan juga bisa menangkap cerita dari tarian Shikamaru, berusaha mati-matian menyembunyikan kebahagiannya.
"Shikamaru," batin Ino terharu.
Giliran selanjutnya ialah Ino. Ia bernyanyi mengenai keindahan awan. Awan yang bisa memberikan ketenangan bagi siapa saja yang melihatnya.
Rupanya dua sejoli itu memiliki tema yang serupa. Baik Shikamaru maupun Ino sama-sama mengangkat tema awan, namun dalam kemasan cerita yang berbeda.
Pukul satu siang, Neji maju untuk menampilkan tariannya. Ia membawakan tema yang kaku dan datar. Sebaliknya, Tenten yang maju berikutnya justru membawakan tema yang penuh semangat berapi-api.
Guru Tsunade geleng-geleng kepala menonton empat murid berbakatnya.
"Ada apa Guru Tsunade?" tanya Guru berambut keperakan mencuat ke atas. Wajahnya tertutupi oleh masker hitam.
"Oh, tidak apa-apa Guru Kakashi," jawab Guru Tsunade.
"Satu jam lagi, kita akan menilai karya siswa yang ada di lapangan" sela Guru cantik beriris merah di sebelah kanan Guru Tsunade.
"Ya, aku ingat Guru Kurenai," sahutnya.
"Anak-anak penuh semangat masa muda ya. Aku sangat bangga menjadi guru mereka," ucap Guru berambut mangkuk.
"Tentu saja Guru Gay. Aku juga bangga," jawab Guru wanita berambut hitam dikuncir satu di sebelah kiri Guru Tsunade.
"Ya, kita sama Guru Anko," kata Guru Gay terlampau semangat.
Guru Tsunade tersenyum puas. "Cinta itu menyatukan persamaan serta perbedaan. Menjadikannya netral dalam balutan saling pengertian juga kesetiaan sepasang kekasih," batinnya.
Ajang adu bakat berlangsung lancar serta memukau. Puluhan siswa kelas dua berhasil menyuguhkan kemampuan terbaik mereka dalam ajang ini. Saat pengumuman tiba, seluruh siswa yang terdiri dari dua ratus anak dikumpulkan dalam aula.
Tepat pukul empat sore, Guru Tsunade berjalan ke tengah panggung dan berdiri di balik podium. "Selama sore, para murid hebat!" ujar Guru Tsunade.
"Selamat sore," sahut anak-anak.
Guru Tsunade tersenyum penuh arti. "Ah, sebenarnya sangat sulit menentukan peraih nilai terbaik dari berbagai jurusan di Konoha Art Senior High School ini. Mengingat kalian memiliki bakat yang berbeda-beda dan tentu saja istimewa."
Wanita berparas cantik tersebut menghentikan ucapannya dan semakin memperlebar senyumannya. "Perlu diperhatikan oleh para siswa bila kriteria penilaian adalah tema serta kualitas penampilan. Oh ya, saya berani jamin kalau penilaiannya adil dan keputusan guru-guru tidak dapat diganggu gugat."
Semua siswa menyimak dengan baik penuturan dari kepala sekolah yang terkenal awet muda nan disiplin itu.
"Dan peraih nilai terbaik tahun ini adalah…"
Hening. Semua siswa menahan nafas untuk mendengar penuturan Guru Tsunade selanjutnya.
"Uzumaki Naruto!" seru Guru Tsunade. Bersamaan dengan itu, proyektor yang sengaja di letakkan menghadap arah panggung menyala. Menampilkan deretan sepuluh siswa terbaik. Di urutan kedua ada Haruno Sakura lalu disusul oleh Uzumaki Naruto di urutan pertama.
Masih tetap hening. Mungkin karena anak-anak tercekat akan hasil yang di luar dugaan mereka.
"Tema yang diusung Uzumaki Naruto simpel, tapi mengena. Beri applause yang keras dong untuknya!" kata Guru Tsunade sambil bertepuk tangan.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Prok prok prok
Riuh tepuk tangan membaha di seluruh penjuru aula. Di selingi siulan-siulan yang saling menyahut.
Naruto terbengong di tempatnya. Ia hanya bisa pasrah kala anak-anak dari jurusan tari mengangkat tubuhnya dan melemparkannya ke atas kemudian menangkapnya kembali. Dan hal itu dilakukan berulang-ulang hingga lima kali dengan sorakan penuh semangat, "Yei! Selamat Naruto!"
"Tidak kusangka di bisa menang dariku," ucap Sakura dari kejauhan.
"Kalah bukan berarti gagal Sakura," nasehat Ino yang berdiri di samping kanan Sakura.
"Kamu sudah memberikan yang terbaik tadi," ucap Tenten di sisi lain Sakura.
Sang gadis musim semi hanya mendengus. "Anggap saja, kali ini aku mengalah padanya. Sudahlah, ayo kita pergi girls!" ajaknya seraya membalikan badan.
Ketika Sakura akan melangkah pergi, sebuah panggilan menghentikan niatannya. "Sakura-chan!"
Dengan terpaksa, Sakura memutar kembali tubuhnya. "Ada urusan apa si cowok durian memanggilku?" batinnya kesal.
"Aku mau menagih permintaanku," ujar lelaki yang dipanggil cowok durian oleh Sakura.
"Apa permintaanmu, Naruto?" tanya Sakura acuh.
"Datanglah kesini tepat pukul dua belas malam. Aku tunggu. Bye," jawab Naruto seraya memberikan lembaran kertas kecil pada Sakura. Ia kemudian berbalik dan bersorak sorai kembali bersama gerombolan teman-temannya.
Sakura membaca sekilas catatan di tangannya. Ia memandang punggung Naruto dengan mulut melongo serta dua alis terangkat. "Apa-apaan ini? Kenapa aku harus menemuinya jam dua belas malam? Dasar Naruto gila!" rutuknya marah.
Si gadis musim semi membaca catatan yang ditinggalkan Naruto sekali lagi, meremasnya, lalu membuangnya ke tempat sampah. "Aku pasti datang ke Kyubi Street pukul dua belas malam. Hah, kau kan sportif Sakura!" seru Sakura menyemangati diri sendiri.
(1) Chan: akhiran yang digunakan pada perempuan yang dekat dengan kita
(2) Baka: bodoh
(3) Ohayou gozaimasu, Sakura-chan: Selamat pagi, Sakura
Cerita singkat
Saya mendapat 'gambaran' untuk chapter ini setelah selesai latihan menari.
Yosh, terima kasih telah membaca. Siapa yang nebak kalau pemenangnya sang Uzumaki? Ayo angkat jempol! #eh
Summary for chapter tiga:
Sakura mengajak dua sahabatnya, Ino dan Tenten untuk memenuhi janjinya pada Naruto. Tapi, ketiga gadis itu ketakutan karena mereka berada pada jalanan asing yang lebih terasa mengerikan pada tengah malam. Naruto memang GILA! Sangat GILA! Astaga! Sebenarnya, apa rencana cowok durian itu? Hm, semoga Sakura dkk tidak apa-apa deh
Sampai bertemu di TOTL - A Secret of Street
Thanks for support guys
All guest (un-log in review), my sister: pidaucy, elfarizy, aurora borealix, dheeviefornaruto19, another sister: mizuki 'shina' hikari, haruna kei, natsuyakiko32, namikaze narusaku, heryanilinda, and all silent reader
Akhir kata.
REVIEW
~Please~
