Summimasen, Ryu update lagi ni.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Waring : OOC Maybe, typo, AU, dan sebagainya de.

Semoga chapter ini gak ngebosenin ya, semoga suka ya

.

.

SMILE SOUL

CHAPTER 2

SOUL

~SEMOGA SUKA & SELAMAT MEMBACA~

.

.

.

.

Sebuah mobil berwarna kuning keemasan dan agak sedikit coklat, bermerek Nissan Extrem Crossover. Mobil yang menjadi rajanya Crossover tersebut berparkir di depan sebuah butik yang megah.

Kemudian seorang laki-laki bersurai merah yang berada di dalam mobil tersebut menarik lebih ke atas jaket coklatnya yang menutupi tubuh gadis di sampingnya. Gadis tersebut sedang tertidur dengan nyenyaknya.

Saat ini mereka berdua sedang berada di Iwagakure, laki-laki itu Gaara setelah menarik jaketnya yang berfungsi sebagai selimut untuk menutupi tubuh Hinata kemudian turun dari mobilnya.

Terlihat di depan butik itu sedang dibuka kuncinya oleh si pemilik butik yang ternyata seorang perempuan berambut biru dengan hiasan berbentuk bunga besar di atasnya bernama Konan.

Tentu butik ini baru akan dibuka kuncinya karena waktu baru menunjukkan pukul 6.30 pagi. Semalam Gaara membawa Hinata lebih tepatnya menculik Hinata, karena dia membawa Hinata tanpa sepengetahuan keluarga Hinata pada pukul 3 dini hari.

Gaara menghampiri si pemilik butik, "Apa anda pemilik butik ini?" tanya Gaara tanpa mengucapkan salam sebelumnya untuk sekedar basa-basi atau bentuk perilaku sopan santun.

Wanita itu menoleh kepada Gaara "Ya saya pemilik butik ini, ada yang bisa saya bantu?" tawar wanita itu. "Aku ingin beberapa baju, sepatu, dan pakaian dalam untuk gadis yang ada di dalam mobil itu." Gaara menyebutkan itu semua dengan ekspresi datarnya bahkan tidak risih sedikitpun ketika menyebutkan pakaian dalam seorang gadis.

Ketika Gaara membawa pergi Hinata, ia tidak mengambil pakaian Hinata dan langsung membawa Hinata saja saat itu. Tapi membelikan beberapa helai pakaian untuk Hinata bukan hal yang merepotkan baginya.

Konan menghampiri mobil Gaara dan Gaara membuka pintu mobilnya, menampakkan Hinata yang masih tertidur. "Kenapa tuan tidak membangunkannya agar lebih mudah mencoba pakaiannya?" tanya Konan. "Tidak perlu, kau berikan saja sesuai ukurannya!" perintah Gaara.

Konan agak terkejut, orang ini aneh. Sebenarnya sebuah keberuntungan bagi Gaara karena Hinata belum bangun saat ini. Kemudian Konan menuruti perintah Gaara.

Konan membawa beberapa helai pakaian yang sesuai ukuran Hinata dan menunjukkannya kepada Gaara. Tapi Gaara tidak menyukainya, karena Konan membawa pakaian yang agak terbuka "Aku tidak suka, berikan yang sederhana saja dan tidak terlalu terbuka" Karena Gaara suka Hinata yang memakai pakaian yang tidak terlalu terbuka seperti dulu dan walaupun begitu, Hinata tetap sangat cantik baginya.

Konan membawa pakaian yang diinginkan Gaara, kali ini Gaara tidak memprotes. Gaara juga membelikan beberapa baju tidur dan bukan baju tidur seperti lingerie tetapi baju tidur yang setipe dengan yang dipakai oleh Hinata.

Sepatu dan sandal tidur dipilih oleh Gaara, Gaara tidak membelikan Hinata sepatu berhak tinggi tetapi berjenis pantofel seperti yang sering Hinata pakai saat mereka masih kecil hanya saja disesuaikan dengan ukuran kaki Hinata yang sekarang.

Kalau untuk pakaian dalam, tentu Gaara membiarkan saja Konan yang memilihkannya. Gaara tidak tahu menahu masalah pakaian dalam tersebut. Konan yang sepertinya mengetahui tipe yang diinginkan Gaara, memberikan pakaian dalam wanita yang cukup nyaman untuk dipakai, tidak dengan bentuk yang aneh-aneh seperti yang wanita dewasa pakai ketika 'merayu' suaminya di ranjang.

Tujuan Gaara adalah Sora no Kuni atau yang sering disebut Soragakure atau sering juga disebut kota langit , kota kecil yang indah dengan awan yang begitu indah dan bahkan letaknya sangat jauh dari Konoha. Yang paling penting Sora no Kuni adalah tempat di mana kakak sepupu Gaara yang bernama Sasori tinggal di sana.

.

.

.

.

Shuki wanita berambut merah itu dan berstatus sebagai ibu tiri Hinata dan juga putrinya Karin yang memiliki warna rambut yang sama seperti ibunya sedang memilih-milih pakaian di Konoha Mall.

Sementara Hiashi dan Neji sedang bingung akan ke mana perginya Hinata dan sedang berusaha mencari Hinata, mereka justru berpura-pura mencari Hinata padahal pada kenyataanya mereka justru berbelanja di mall. Seakan menikmati kepergian Hinata, dan memang itu kenyataanya.

"Kaa-san tidak menyangka bahwa anak itu pergi dari rumah, tapi itu bagus." Ucapnya kepada Karin.

Karin tersenyum "Kaa-san benar, ini di luar dugaan. Kita menginginkan dia menjadi gila adalah hal yang bagus saat berhasil tapi dengan dia pergi ini lebih bagus."

Ya Karin dan Shuki selama ini menaruh obat di dalam minuman Hinata dalam jangka waktu satu bulan ini. Obat yang membuat Hinata menjadi tidak waras. Dan kemarin lusa mereka menaruh obat dengan dosis yang lebih banyak sehingga emosi Hinata meledak.

Sebenarnya obat tersebut lama-lama selain akan membuat orang yang meminumnya menjadi gila, kalau obat tersebut diminum dalam jangka waktu panjang setelah gejala gangguan jiwa mencapai puncaknya. Orang tersebut akan mengalami kematian.

Benar-benar ibu dan kakak tiri yang jahat.

.

.

.

.

Gaara membawa nampan dengan susu dan nasi beserta sup di atas nampan tersebut. Gaara berpikir Hinata mungkin sudah bangun saat ini. Sekarang sudah menunjukkan jam 10.30 pagi.

Obat yang disuntikkan oleh dokter kemarin membuat Hinata tertidur lebih lama dari pertama kali dia diberikan obat penenang tersebut karena kondisi Hinata yang selalu mengamuk setiap bangun tidur.

Hinata sedang tidur di salah satu kamar villa milik Sasori. Gaara menelpon Sasori pada dini hari kalau dia akan datang. Menurut Sasori, Gaara adalah orang gila yang membangunkannya, tidak bisakah dia menelpon nanti? Bagi Gaara, itu tidak bisa dilakukan nanti.

Sasori tidak tinggal di villa tersebut, dia tinggal di apartemen dekat rumah sakit tempatnya bekerja agar lebih cepat sampai rumah sakit. Sasori bilang, ada pembantu wanita berusia 45 tahun yang menjaga villa itu jadi Gaara hanya perlu datang saja, Sasori akan mengabari kalau Gaara akan datang kepada pembantu di villa tersebut.

Tapi Gaara meminta Sasori untuk menemuinya dan memeriksakan temannya yang sakit. Sasori merasa aneh, dia kan seorang psikiater, bukan dokter umum. Tapi Gaara tidak memberitahu lebih lanjut, hanya lebih mempertegas agar Sasori datang.

Gaara tidak mungkin membawa Hinata ke rumahnya di Suna karena keluarganya akan memaksanya mengembalikan Hinata kepada keluarganya. Atau ke apartemen yang dia sewa di Tokyo saat dia kuliah di The University of Tokyo. Saat ini dia sedang libur kuliah, sama seperti Neji.

Neji tidak mengenal Gaara, Gaara adalah junior Neji, begitu pula Gaara tidak mengenalnya, Mereka adalah dua orang yang memiliki sifat yang sama-sama cuek. Baru saat Gaara mengetahui alamat lengkap Hinata, dia juga mengetahui bahwa Neji juga berkuliah di tempat yang sama dengannya.

Kalau di apartemen, mungkin orang-orang akan mencurigai sikap Hinata dan lagi kalau ada Sasori, mungkin bisa menolong Hinata.

Gaara sengaja membawa susu dan sup itu sendiri ke kamar Hinata, bukannya pembantu itu. Gaara ingin menemui Hinata saat Hinata bangun nanti.

Gaara bahkan belum tidur, tapi hal tersebut bukanlah hal yang tidak mungkin karena dia sudah terbiasa, dia kan memiliki insomnia.

Gaara sampai di kamar yang ditempati Hinata, Gaara menemukan Hinata sedang duduk di lantai dan dengan kepala menunduk. Rambut yang acak-acakan. Lantai yang berserakan dengan sprei dan bantal-bantal di lantai.

"Hinata" Gaara tahu ini akan terjadi saat Hinata bangun tapi Gaara mencoba untuk memanggil Hinata.

Hinata yang mendengar sesuatu yang diucapkan Gaara, mengangkat kepalanya. Wajahnya dipenuhi air mata, Hinata telah menangis, Hinata menatap tajam kepada Gaara.

Gaara terkejut akan tatapan itu kepadanya kemudian tiba-tiba tatapan mata Hinata berubah menjadi takut. Hinata berdiri dan mundur "PERGI!" ucapnya kepada Gaara.

"Hinata, ini aku, Gaara. Kau tidak ingat aku?" tanyanya sambil mendekat kepada Hinata.

Hinata semakin mundur "PERGI…..PERGI…PERGI…" Hinata seperti sangat marah dan ketakutan dan mengambil bantal kemudian mengenai wajah Gaara.

Bantal itu mendarat di lantai setelah berhasil memberikan pukulan di wajah tampan Gaara. Gaara menghela napasnya. Kemudian menaruh nampan itu di lemari kecil alas lampu tidur.

Gaara menahan emosi kesakitan di hatinya karena harus menghadapi hal ini. Gaara tetap mendekati Hinata, tubuh Hinata menempel ke dinding, masih dengan ekspresi takut.

Gaara menarik tangan Hinata dan memeluk Hinata, Hinata berusaha meronta dengan memukul-mukul dada Gaara. Gaara membiarkan Hinata memukul-mukul dadanya.

Laki-laki bertatto 'Ai' itu tetap memeluk Hinata, tidak peduli betapa Hinata meronta-ronta sampai Hinata berhenti meronta karena merasakan kedamaian dan kehangatan yang diberikan oleh tubuh Gaara.

Gaara mengambil ponsel di saku celananya saat Hinata sudah tidak meronta lagi dalam pelukannya dan memanggil seseorang "Kau masih di mana?" tanyanya pada Sasori.

"Aku sudah di depan villa." Jawab pria berusia 25 tahun itu.

"Hm" adalah tanggapan Gaara. "Cek, dasar anak itu" keluh Sasori.

Sasori masuk ke villanya dan mencari-cari Gaara, kemudian menemukan Gaara yang sedang memeluk Hinata. Tentu ekspresi Sasori adalah ekspresi orang yang terkejut karena melihat kamar yang berantakan.

Tapi itu tidak seberapa dibanding dengan terkejut karena melihat Gaara yang memeluk seorang gadis, hal yang sangat jarang karena yang Sasori tahu kalau Gaara itu selalu bersikap dingin kepada para gadis.

.

.

.

.

Gaara dan Sasori, dua laki-laki yang memiliki warna rambut yang sama yaitu warna merah sedang berjalan di depan villa milik Sasori.

Sasori sebenarnya menganggap Gaara seperti adik kandungnya sendiri, mungkin karena dia anak tunggal, walaupun Gaara sangat menyebalkan.

Sekarang Hinata sedang tertidur pulas karena telah disuntik obat penenang oleh Sasori dan Sasori sudah mendengar dari Gaara tentang apa yang terjadi kepada Hinata.

Dari yang diceritakan Gaara ketika Hinata baru terlelap karena obat penenang tadi, Sasori mengambil sempel darah Hinata untuk dibawa ke laboratorium karena sepertinya ada yang janggal.

"Jangan memberitahu keluargaku kalau aku di sini dan jangan ceritakan apa pun tentangnya!" Gaara meminta Sasori untuk tidak memberitahukan keberadaan Hinata dan dirinya di sini kepada keluarga Gaara.

Sasori menghela napasnya "Hhhh, kau ini!"

"Aku pinjam villamu sampai dia sembuh." kata Gaara dan Sasori mengizinkannya "Pakailah sesukamu!"

"Gaara, apa kau tidak berpikir dengan kau melakukan ini, tidak akan membuat keluarga gadis itu khawatir?"

Gaara terdiam, sepertinya Sasori tahu kalau Gaara sulit menjawab pertanyaannya dan Sasori bilang "Sepertinya mulai sekarang kau akan repot."

"Tolong sembuhkan dia." Pinta Gaara dan baru kali ini Gaara memohon kepada orang lain.

Sasori yang mendengarnya merasa tidak percaya Gaara memohon kepadanya, Sasori mengiyakan "Aku akan membantumu."

"Sasori" panggil Gaara dan mereka berhenti berjalan. Gaara memang tidak pernah menyebut Sasori kakak, padahal usia Sasori jauh dibandingkan dengannya.

"Ya, kenapa?" tanyanya "Apa Hinata akan terus diberi obat penenang?" ada tatapan kesedihan pada jade Gaara.

"Tidak selalu, lagipula tidak baik untuk penyembuhannya. Tindakanmu sudah bagus saat dia mengamuk, kau memeluknya. Itu sudah menjadi obat penenang karena pelukan adalah hal yang membuat dia merasa kalau ada yang peduli kepadanya."

"Tunggulah hasil lab, aku akan memberikan obat yang tepat setelah mengetahui hasil lab tersebut. Tapi….." Sasori menggantungkan kalimatnya.

"Apa?" tanya Gaara penasaran "Seperti yang aku katakan kalau mulai sekarang kau akan repot."

Gaara mengerti "Dia mengalami gangguan jiwa yang membuatnya amnesia, insomnia, dan bertingkah seperti anak kecil, dan akan berperilaku tidak wajar, kau tahu?"

"Kau yang berada di dekatnya, perhatianmu akan lebih membantunya sembuh."

Gaara sedikit menganggukkan kepalanya tanda mengerti "Mulai sekarang kau harus memperlakukannya seperti ratu, bukan….bukan ratu maksudku, kau harus merawatnya seperti mengajari anak kecil."

"Aku mengerti."

Sasori melihat sisi lain dari sikap saudara sepupunya ini, Sasori melihat ketulusan dalam diri Gaara.

.

.

.

.

Gaara sedang duduk di samping Hinata yang tertidur di ranjangnya, Sasori tidak memberikan obat penenang dengan dosis tinggi. Kemungkinan Hinata akan segera bangun.

Hinata sudah berganti pakaian menjadi pakaian tidur, pembantu di Villa Sasori yang menggantinya dan juga mengelap tubuh Hinata saat Hinata tidur tentu atas perintah Gaara. Gaara tidak melihat saat Hinata dilap dan diganti pakaiannya.

Benar saja, Hinata mulai menggeliatkan badannya dan lavendernya perlahan terbuka.

Saat lavender Hinata terbuka, Gaara tersenyum kepadanya. Hinata segera bangkit duduk melihat hal itu, Hinata sedikit menggeser tubuhnya menjauhi Gaara dan ekspresinya masih ketakutan seperti akan mengamuk lagi.

"Jangan takut, Hinata!"

"Hiiiinata?" tanya Hinata yang kebingungan dan melapalkan namanya dengan wajah bertanya.

Gaara mulai senang, karena Hinata tidak mengamuk lagi "Ya, Hinata. Itu kau."

"Aaakuu?" tanyanya.

"Hi-na-ta….Hi-na-ta….Hi-na-ta…hehhe" Hinata menyebut namanya sendiri berulang-ulang dan kemudian tersenyum.

"Ya, kau Hinata. Aku Gaara….." Gaara menggantungkan kata-katanya agar Hinata percaya kepadanya, dia berpikir apa yang harus dia katakan.

"Pelindungmu" lanjut Gaara.

"Pelinduuuung?" tanya Hinata. "Hm, orang yang menjaga dan melindungimu, jadi tidak usah takut ya!" ini seperti bukan Gaara yang stoic itu.

Hinata mengangguk berulang-ulang kali tanda mengerti.

"Sekarang, makan ya! Kau pasti lapar." Gaara mengambil nampan yang ada di atas lemari kecil di samping tempat tidur Hinata. Bukan makanan yang tadi Gaara bawa saat Hinata mengamuk tapi ini makanan yang baru.

Gaara menyendokkan nasi di mangkuk kecil dan mencoba menyuapi Hinata. Tapi Hinata menggeleng.

Gaara berusaha meyakinkan Hinata "Kau tahu apa tugasmu sebagai orang yang dilindungi oleh pelindung?" Hinata menggeleng "Yaitu menuruti apa yang dikatakan oleh pelindungmu."

"Buka mulutmu, Hinata!" Awalnya Hinata ragu, tapi kemudian Hinata membuka mulutnya dengan perlahan. Gaara senang tapi tidak menunjukkan senyumnya. Gaara tidak membuang kesempatan ini dengan menyuapi Hinata.

"Kau suka?" tanya Gaara. Hinata mengangguk "Hiiii…nata suka." tanggapan Hinata.

Gaara terus menyuapi Hinata malam itu.

.

.

.

.

Pagi ini, Hinata sedang menonton televisi. Kenapa bisa begitu?

Tentu Gaara yang menyalakan televisi agar Hinata mendapat hiburan, Tadi mereka sarapan bersama di meja makan, Gaara awalnya menyuapi Hinata tapi kemudian Gaara mengajari Hinata menggunakan sendoknya. Hinata mengikuti gerakan Gaara, Hinata belajar dengan cepat.

Gaara senang akan kemajuan Hinata.

Awalnya Hinata merasa aneh dengan televisi yang menampilkan gambar bergerak tapi Hinata mulai menyukainya.

Saat ini pembantu Sasori sedang mencuci pakaian, Gaara memperhatikan Hinata dari dapur. Gaara sedang menyeduh kopi untuk dirinya sendiri.

Gaara mengaduk kopi dengan sendoknya tetapi "PERGI….." Gaara lansung menoleh kepada Hinata dan Hinata sedang melempar bantal sofa ke televisi.

Gaara segera menghampiri Hinata, Hinata mengambil bantal lagi yang masih tersisa di sofa dan akan melemparkannya lagi kepada televisi itu tapi tangan Gaara menahan pergerakan tangan Hinata.

"Kenapa?" tanya Gaara.

"Dia tidak mau pergi" Hinata mulai menangis dan Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menunduk tidak mau menatap ke depan.

Gaara melihat ke arah televisi dan melihat beberapa panda yang besar. Gaara mengerti sepertinya Hinata takut akan panda itu. Gaara segera memindahkan channel di televisi dan menampilkan drama.

Gaara menarik Hinata ke dalam pelukannya untuk menenangkannya sambil mengelus puncak kepala Hinata "Sudah takut!"

Dengan takut-takut Hinata melirik televisi itu, Hinata lega panda itu sudah pergi.

.

.

.

.

Hinata tertidur di sofa, Gaara pergi sebentar meninggalkan Hinata yang sedang tertidur dan tidak lupa menyelimuti Hinata.

Gaara kembali dan membangunkan Hinata dengan menggoyang-goyangan pundak Hinata.

Hinata membuka matanya dan kemudian terduduk "Pelindung?" seolah memastikan.

"Panggil aku Gaara!" perintah Gaara. "Hm…Gaaaara," Hinata mengangguk.

Gaara menunjukkan boneka panda yang besar, Hinata yang terkejut segera bangkit berdiri karena takut, ini lebih menakutkan dibanding panda-panda yang ada di televisi. Setidaknya yang ada di televisi tidak berada sedekat ini dengannya.

"PERGI…PERGI" Hinata panik dan bersembunyi di belakang sofa.

Gaara justru tersenyum melihat tingkah Hinata. Gaara menyimpan boneka panda berukuran jumbo tersebut yang tingginya hampir menyamai tinggi sepundak Hinata itu di sofa, kemudian Gaara menghampiri Hinata yang sedang bersembunyi di belakang sofa.

Hinata sangat ketakutan, Gaara meyentuh kepala Hinata. Hinata menatap Gaara. Gaara menggenggam tangan Hinata dan menariknya perlahan untuk berdiri.

"Lihat aku" perintah Gaara, Hinata mengikuti perintah Gaara. Gaara membiarkan Hinata memperhatikan wajahnya dengan seksama.

Gaara menuntun Hinata menghampiri boneka panda itu, Hinata refleks menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Gaara.

Gaara melepaskan genggamannya pada Hinata dan memegang pundak Hinata 'Tak apa"

"Lihat itu!" Gaara melihat boneka itu, Hinata mencoba mengikuti apa yang dilihat Gaara tapi kemudian Hinata menutup matanya. "Buka matamu, Hinata!" Gaara memerintahnya.

Dengan takut-takut Hinata membuka matanya "Dia mirip aku kan?" Hinata kemudian melihat Gaara dan boneka itu secara bergantian. Sebenarnya Gaara tidak suka selama ini orang-orang selalu menyamakannya dengan panda tapi kali ini Gaara menepis kekesalannya.

Hinata mengangguk "Jadi tidak usah takut, dia tidak jahat." Hinata mencoba mendekati boneka itu dan perlahan mengulurkan tangannya dan menyentuh hidung panda dengan telunjuknya.

Boneka itu tidak bergerak, Hinata tersenyum, Gaara benar boneka itu tidak jahat.

"Hinata" panggil Gaara dan Hinata menoleh kepada Gaara. "Dia itu seperti ku, pelindungmu."

"Dia yang bertugas menjagamu saat tidur."

.

.

.

.

Setelah makan malam, di meja makan. Gaara pergi sebentar ke dapur dan mengambil sekotak ice cream. Gaara tidak terlalu menyukai manis pada dasarnya.

Tapi semenjak dirinya mengenal Hinata, Hinatalah yang menjadikannya menyukai ice cream, saat mereka sering menghabiskan waktu di taman ketika mereka kecil. Mereka sering memakan ice cream bersama.

Berbeda dengan Hinata yang sangat menyukai ice cream rasa coklat, Gaara lebih menyukai ice cream rasa vanilla yang tidak terlalu manis dan rasa strawberry yang agak asam.

Kotak ice cream seukuran tempat menyimpan bento tersebut, berisi tiga rasa yaitu vanilla, strawberry, dan coklat.

Gaara duduk di kursi meja makan kembali. Kemudian membuka kotak ice cream itu.

Hinata yang tadi menggoyang-goyangkan kakinya berulang-ulang berhenti dari kegiatannya dan memperhatikan Gaara.

Gaara menyerahkan sendok kepada Hinata. Hinata menatap Gaara "Makan lagi?" tanya Hinata.

"Hm, makan ice cream." Jawabnya dan Hinata tidak mengerti "Ice cream?"

"Ini ice cream" tunjuk Gaara pada sekotak ice cream tersebut "Ohhhhh" Hinata ber oh.

Gaara menyendok ice cream vanilla dan Hinata mengikuti Gaara. Entah sadar atau tidak Hinata menyendok rasa coklat. Gaara berpikir "Tidak berubah" ucapnya dalam hati.

Gaara memakan ice cream itu dengan wajah datarnya dan Hinata mengikuti Gaara. Hinata kaget dan mengeluarkan kembali sendok yang masih ada ice cream coklatnya "Dingin" ucapnya.

Gaara menyunggingkan senyum, Hinata menyentuh lidahnya yang terasa dingin.

"Tak apa, telan saja. Ini enak dan lembut." Hinata perlahan meyuapkan kembali ice cream di sendoknya dan merasakan kelembutan ice cream kemudian menelannya "Enak" dan mengangkat sendoknya.

Setelah ice cream itu tersisa setengahnya "Sudah dulu, ayo kita gosok gigi!"

Hinata yang masih tidak mengerti segera ditarik tangannya oleh Gaara menuju kamar mandi.

Setelah berada di kamar mandi "Setelah makan, kita harus menggosok gigi apalagi makan makanan manis seperti ice cream." Jelas Gaara.

Hinata menggeleng "Tidak boleh seperti itu, nanti ada kuman yang seram menyerangmu."

Hinata ketakutan "Makanya harus menggosok gigi. Ikuti aku!" Gaara memulai mengajari Hinata dan Hinata megikuti Gaara. Walau awalnya kesulitan seperti Hinata yang justru menelan pasta giginya, tapi akhirnya Hinata dapat mengikuti Gaara dengan baik.

.

.

.

.

Hujan yang awalnya gerimis berubah menjadi lebat dan mengguyur Sora no Kuni, Hinata memperhatikan hujan tersebut dari balik pintu kaca villa tersebut.

Hinata menghampiri pintu kaca itu dan menggesernya, Gaara yang melihat tingkah Hinata segera menghampiri Hinata.

Hinata berlari ke luar dan meloncat-loncat. "Hinata" panggil Gaara.

Hinata menikmati air yang terus membasahi tubuhnya, pembantu di villa itu segera memberikan payung kepada Gaara untuk melindungi Hinata dari hujan.

Gaara menerima payung itu dan segera menghampiri Hinata dan melindungi Hinata dari hujan dengan payung itu.

Hinata yang merasakan tetesan air hujan itu berhenti membasahi tubuhnya segera menoleh kepada Gaara dan memegang gagang payung tersebut kemudian membuangnya.

"Hinata" Gaara memanggil Hinata namun Hinata tidak menghiraukan panggilan Gaara.

Hinata meloncat-loncat dan merentangkan tangannya kemudian menengadahkan kepalanya.

Gaara memperhatikan Hinata, merasa dunia berhenti seketika. Hinata sangat indah, sangatlah indah menari-nari di tengah hujan.

.

.

Gaara datang ke kamar Hinata untuk memastikan kalau Hinata sudah tidur atau belum. Kamar Gaara berada tepat di depan kamar Hinata.

Hinata sedang tidur, sekarang tidak butuh obat penenang untuk membuatnya tidur terlelap.

Hinata memeluk boneka panda yang diberikan oleh Gaara, Gaara menghampiri Hinata.

Tapi Gaara sadar Hinata tidak setenang itu, Hinata seperti menggigil. Gaara menempelkan tangannya di dahi Hinata "Panas".

Gaara panik, Hinata sakit pasti karena dia bermain hujan sore tadi.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Terima kasih buat : alice9miwa, Bobbon 0330, gece, Guest, noone, Zian, Ayuzharinta, flowers lavender, Riz Riz 21, Moyahime, Yafa mut, no name, kirei-neko, lollyttha-chan, Vipris, mizuki R Lawliet.

Ayuzharinta, noone, Guest, gece : Makasih udah review n ni udah lanjut

Zian : Bener bgt kalo Hinata jadi gitu karena dikasi obat ma ibu n kakak tirinya. Gaara nemuin penyebabnya ntar diceritain di chapter 3. Ne Ryu, lanjutin. Makasih udah review

Yafa mut : Bener ni ulah ibu n kakak tiri Hinata, ni udah segera kan lanjutannya?

no name : Makasih udah review, Ryu mau curhat. Jadi gini ide awal cerita ni sebenernya udah lama, bahkan sebelum Ryu mulai nulis fanfic. Tapi ya Ryu kembangin. Sebenernya pas mau bikin n publish fic ini juga mikir kaya cerita di sinetron itu. Ryu juga mikir, kemungkinan pembaca bakal mikir kalo cerita ni mirip kaya sinetron itu. Tapi Ryu maksa bikin n publish.

Tapi ga ko, di sini ceritanya lebih menekankan kepada tingkah gangguan jiwa Hinata n gimana Gaara merawatnya. Semoga aja kamu ngikutin cerita ni, fic ini juga gak akan banyak chapter sama kaya fic Ryu yang multichapter sebelumnya. Semoga suka

A/N : Di fic ini, Ryu nampilin sisi Gaara yang sabar di balik sisi stoicnya.

Chapter ini, maaf kalo agak ngebosenin.

Maaf kalo romancenya kurang ya di chapter ini. Terus Ryu minta maaf kalo kurang bisa ngeggambarin perilaku Hinata yang terkena gangguan jiwa.

Pelukan, menurut yang Ryu baca dalam penanganan sakit jiwa adalah hal yang bagus karena akan membuat si penderita merasa ada orang yang memedulikannya.

Ryu pilih Sora no Kuni sebagai nama tempat Gaara merawat Hinata, Sora no Kuni tempat yang muncul di film Naruto kedua. Karena namanya yang bagus dan lagipula Sora no Kuni itu kan kalo di canonnya kan gak keliatan karena terapung di langit.

Di sini mang gak terapung di langit, tapi ceritanya kan Hinata agak tersembunyi keberadaannya karena diculik. Jadi menurut Ryu cocok.

Oh ya Konan di sini perannya kaya "cameo" di drama atau film, itu loh artis yang terkenal n jadi bintang tamu di drama atau film.

Review ya…..thank you