BLEACH © KUBO TITE

Nona Perancang, Chapter 2


Bleach Daily Post. Sunday, June 1

Senna membenarkan berita bahwa dia akan menjalin kerja sama dengan perancang bikini terkenal, Ayasegawa Yumichika, untuk persiapan pameran busana tahunan yang rencananya akan diselenggarakan akhir tahun mendatang.

Oke, selain melihat Shihouin Yoruichi berada di rumahnya karena semalam wanita itu dan kakaknya sempat bercinta, hal lain yang membuat Kuchiki Rukia kesal adalah ulasan pada koran pagi ini yang mencetak nama saingannya sebagai headline berita kali ini. Ayolah, kenapa dulu ketika dia masih unggul dengan dress rancangannya, media massa tidak memberitakan kesuksesannya? Ini sedikit tidak adil hanya karena Senna adalah perancang muda pendatang baru yang langsung melejit dengan potensinya.

"Temanya sudah ditentukan, Sexy and The Beach! Bikini dan baju renang akan menjadi ikon utama dalam pameran kali ini, kami sengaja mengambil tema ini karena pihak saya sedang berkolaborasi dengan Master Bikini, Ayasegawa Yumichika. Selain itu hal ini juga karena saya berniat memamerkan keindahan Pantai SS Town yang merupakan tempat pameran akan digelar," ungkap Senna. Saat ditanya mengapa dia memilih Pantai SS Town sebagai lokasi pameran, gadis berambut ungu tua ini hanya menjawab dengan cengiran manis khasnya, "Saya pertama kali datang ke SS Town untuk mengikuti perlombaan desain busana kimono, lalu saya sempat mampir ke pantai itu dan langsung jatuh cinta dengan pasir putihnya yang indah, hahaha…"

"Sok artis!" Pada kenyataannya, Senna memang artis dadakan bukan? Rukia mendengus sebal dan masih berusaha melanjutkan membaca artikel berjudul Senna dan Rencana Pameran Busana Akhir Tahun meski dia dongkol setengah mati.

Sekarang ini Senna tengah sibuk merancang model bikini pertamanya dengan bantuan Ayasegawa Yumichika dan beberapa perancang ulung lainnya yang berpartisipasi dalam pameran busana tahunan besok. "Saya berharap acara mendatang akan lancar dan sukses," katanya mengakhiri wawancaranya. (Kano Ashido)

"Benar-benar menyebalkan, seharusnya yang menempati posisi untuk bekerja sama dengan Ayasegawa Yumichika adalah aku bukan dia! Huh!" sekali lagi Rukia mengeluarkan bentuk kekesalannya melalui teriakan. Membuat sang kakak yang sedang asik menikmati kopi pagi buatan kekasihnya melirik tidak suka. Dengan tatapan menusuk khas Kuchiki Byakuya, gadis berparas cantik itu tahu bahwa dirinya bertingkah tidak sopan dengan berteriak-teriak di dalam rumah.

"Kalau kau ingin unggul, berusahalah untuk meraih apa yang kau inginkan. Memaki orang yang berkemampuan lebih baik darimu tidak akan membuatmu menang," tembak sang kakak sarkartis. Sementara dari dapur, Yoruichi yang mendengar kata-kata Byakuya hanya tertawa renyah sambil membawa piring-piring berisi nasi goreng untuk menu sarapan. "Jangan membuatnya bertambah murung, Byakuya-boo. Begini-begini dia juga mantan murid dari Matsumoto Rangiku lho."

Pria tampan dengan rambut hitam legam yang menjuntai menutupi bahunya itu hanya memutar bola matanya sembari meraih sendok dan menerima piring sarapannya. "Ya, kau benar. Dia adalah mantan anak didik Matsumoto Rangiku yang kalah dari new comer dan tidak bisa bersikap sportif terhadap kekalahannya, dasar kekanak-kanakan."

"Kakak!" seru Rukia marah, dia ikut bergabung ke meja makan untuk mendapatkan jatah makanan bagi perutnya yang mulai lapar.

"Saat ini aku telah membuat desain pakaian yang hebat dan akan mengkonsultasikannya pada Ran-sensei, kalau tahun depan aku bisa menendang gadis bernama Senna itu, bersiaplah untuk menyerahkan kartu kredit unilimited milikmu!" tambahnya dengan mulut sibuk mengunyah potongan sosis pada nasi gorengnya.

Mendengar ucapan adiknya, Direktur Bank Jepang cabang Hueco Mundo ini menghela napas remeh. Sebetulnya dia tahu kemampuan yang dimiliki oleh adiknya, tapi sayang, gadis cantik itu mudah sekali terpancing hal yang membuatnya jatuh. Mungkin dia harus membagi sedikit kepercayaan dirinya yang tinggi kepada sang adik agar Rukia tidak goyah dengan pendiriannya. Tak hanya itu saja, Kuchiki Rukia juga merupakan gadis egois yang suka menjelek-jelekkan lawannya karena tidak bisa menerima kegagalan. Dan Byakuya tidak suka dengan sifatnya yang satu itu. "Seharusnya kau bercermin terlebih dulu. Dengan keadaanmu saat ini yang tidak lebih dari Senna, kau berharap bisa menggesek kartu kreditku? Ada baiknya kau berpikir ulang, adikku."

"Pameran busana tahunan besok mengambil tema yang menarik ya, hebat sekali Senna ini. Dia tahu cara yang tepat untuk menggaet penonton nakal, aku yakin acaranya akan berlangsung ramai dan meriah," ujar Yoruichi sambil meneguk secangkir teh herbal organik buatannya. Seperti yang kalian tahu, baginya yang seorang dokter kulit, kembali ke makanan dan minuman organik adalah rahasia yang tidak mungkin ia beberkan pada para pasiennya terkecuali Kuchiki Rukia yang merupakan calon iparnya. Maka tak heran kalau tubuh indahnya kencang lebih lama dari para pelanggannya yang aktris maupun model sekalipun.

"Dia memang pantas menjadi ikon mode baru untuk Jepang, negara ini membutuhkan ide-ide kreatif dan fresh seperti itu agar tidak ketinggalan bersaing dengan produk-produk Eropa dan Amerika," tambah Byakuya yang tetap asik menyantap hidangan lezat kesukaannya semasa kecil tersebut. Sekilas dia melirik sinis pada adiknya dan mereka berkontak mata untuk beberapa detik yang menyebalkan. Dan seperti dugaannya, gadis pemilik mata sebesar buah lemon itu menampakkan raut wajah tak suka.

"Kalian berdua jangan mengomporiku ya! Aku tidak mau berdebat pagi-pagi seperti ini," ketus Rukia sembari mengacung-acungkan sendoknya pada kedua orang yang duduk berseberangan dengannya, untuk ukuran gadis bangsawan, perilakunya termasuk sangat tidak sopan dan tidak beretika. Andaikan kakeknya tahu, mungkin seorang Kuchiki Rukia harus rela mengikuti kelas kepribadian.

"Terserah," kata sang kakak dingin.

"Tapi kau mempunyai keunggulan ketimbang Senna untuk tema ini, dengan Matsumoto Rangiku sebagai mantan tutormu, segala hal yang seksi dan vulgar adalah hal mudah." Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Yoruichi, spontan Rukia meletakkan sendoknya dan memandang wanita berkulit eksotis tersebut barang sejenak. Ya, setidaknya wanita itu benar. Tapi… Rukia kembali berpikir dan menerawang jauh mengingat bagaimana seorang Matsumoto Rangiku itu selama dia menjadi anak didiknya. Ran-sensei merupakan wanita yang open-mind dan easy going dengan mulut blak-blakan sama seperti Shihouin Yoruichi. Gurunya yang satu itu memang pemabuk dan tingkah lakunya serampangan. Tapi dia selalu mengajarkan yang terbaik pada murid-muridnya, tidak, tidak! Bukan yang terbaik, tetapi dia memberikan apa yang tidak dimiliki guru lain. Menurutnya, hanya mengandalkan ilmu mendesain saja tidak cukup, maka dari itu dia ikut memberikan berbagai pengalamannya dalam berjuang menjadi seorang perancang hebat kepada murid-muridnya. Dia ingin agar para anak didiknya berhasil melampaui pencapaiannya, hal itu merupakan suatu kehormatan baginya yang merupakan seorang guru.

Dalam hati, Rukia memaki guru menyebalkannya itu dengan penuh rasa bangga tentunya. "Entahlah, aku ingin sekali dia membantuku secara penuh, tidak hanya memberikan saran atau kritikan saja pada rancanganku. Yah, tapi menengok kembali summer dress buatanku yang tidak bertahan lama… mungkin dia berniat mengujiku nanti," ucap Rukia yang kini hanya menatap piringnya, tiba-tiba nafsu makannya hilang.

"Ah, aku hampir lupa! Hari ini aku kan ada janji temu dengan Ran-sensei!" Buru-buru Rukia melenggang menaiki tangga menuju kamarnya, semakin mengobrak-abrik meja tulisnya yang sudah berantakan untuk menemukan buku sketsanya.

"Hei! Setidaknya habiskan dulu susu coklatnya!" Dan Yoruichi memekik begitu sadar bahwa adik dari kekasihnya sudah menerobos gerbang rumah lantas menghilang. "Huh, like brother like sister. Apa keras kepala itu gen turunan?"

Masih dengan indera pengecapnya yang sibuk meresapi kopi, Byakuya mengabaikan pertanyaan tidak penting dari kekasihnya. Oh, seseorang harus memperbaiki sifat acuh Kuchiki sombong itu.


Gaun ketat berwarna emas coklat dengan perpotongan leher rendah yang menggantung sepuluh centimeter di atas lututnya adalah ide yang buruk. Sebenarnya gaun itu memiliki kancing yang manis dari batu granit dan beberapa kristal swarovski. Kainnya pun dari sutera dan dipadukan dengan bulu angsa yang tidak kalah lembut. Terlihat berat dan mewah memang, namun Matsumoto Rangiku tahu bahwa mengenakan busana seperti itu bukanlah keputusan yang bijak. Mengapa tidak? Ya, hari ini adalah deadline penyelesaian gaun pengantin super rumit yang dipesan oleh pria kurang ajar kaya raya bernama Tsuukurou Tsukishima untuk mempelai wanitanya. Ck, setelah lembur dan hanya tidur dua jam untuk menyelesaikan gaun sialan itu, kini wanita seksi itu harus mengantarkannya langsung ke City Hall tempat pesta pernikahan dilaksanakan. Dan setelah bertemu dengan sang mempelai wanita juga mengetahui sedikit perangai buruknya, Rangiku yakin bahwa wanita yang akan menjadi istri Tsuukurou Tsukishima tersebut tidak akan suka melihatnya datang mengenakan pakaian yang fantastic tadi hanya untuk mengantar gaun pengantin pesanan. Inoue Orihime pasti akan berpikir bahwa Matsumoto Rangiku sedang mengejeknya di hari pernikahannya, semua wanita manapun pasti ingin menjadi yang tercantik sebagai sorotan utama di hari istimewa mereka. Maka dari itu, dia akan berpikir ulang hanya untuk mengenakan busana yang merupakan gaun kesayangannya tadi. Dengan setengah hati, akhirnya dia terpaksa mengambil setelan kampungan berupa celana jeans robek-robek sebatas pertengahan pahanya dan kemeja sesak tanpa lengan dengan tiga kancing bagian atas yang sengaja ditiadakan. Yang namanya perancang pakaian terkenal dan menjadi salah satu ikon fashion senior, outfit pilihannya yang kampungan sekalipun akan terlihat seksi dan menawan.

Bagaimanapun high heels memang tidak pernah salah, namun ada kalanya seorang Matsumoto Rangiku membenci sepatu berhak tinggi yang menghambat perjalanannya saat ini. Ayolah, ini adalah City Hall, bagaimana mungkin pria bernama Tsuukurou Tsukishima itu menyulap aula elegan itu menjadi tempat pesta kebun seperti ini? Ah, dia lupa, yang namanya jutawan apapun bisa dilakukan sesuai kehendak kan? Ya, asal ada uang, segalanya bisa diatur dengan begitu mudah.

"Ck, sialan!" umpat Rangiku karena lagi-lagi, lantai berupa rerumputan seperti lapangan sepak bola itu membuat segumpal tanah tersangkut di ujung runcing pada hak sepatunya.

"Maaf Nyonya, tapi Anda tidak boleh berkata-kata kotor seperti itu. Ini kan tempat umum, apa jadinya nanti kalau publik memergoki seorang tersohor seperti Anda berbicara yang tidak pantas?" Sebuah suara berat berhasil menarik perhatiannya. Rangiku segera menoleh ke arah sumber suara tersebut dan sepasang giok berwarna abu-abu miliknya mendapati seorang pemuda, eh, sepertinya pria yang tampak rapi dengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu. Bola mata yang tidak terlihat itu menandakan betapa sipit matanya, sepertinya bukan asli orang Jepang. Rambutnya perak dan sedikit keunguan, Rangiku tidak mengenal orang ini bahkan bertemu dengannya sebelumnya pun tidak. Tapi dia yakin, panas yang menyebabkan darah mengumpul pada wajahnya hingga membentuk semburat merah tipis yang sekarang ini sedang dirasakannya tidak akan pernah keliru. Oh, dia benar berdebar-debar hanya karena pria asing ini menyapanya terlebih dulu. "Ma-maaf, tapi kau siapa?" dengan gugup dia bertanya.

"Saya Ichimaru Gin, asisten pribadi Nona Inoue Orihime. Ah, maksud saya Nona Tsuukurou Orihime. Beliau sedang mengamuk karena Anda tak kunjung muncul dengan gaun pesanannya, untuk itu mohon ikuti saya ke ruang pengantin wanita." Dengan senyumnya yang mempesona, pria bertubuh jangkung itu berjalan untuk memandu Rangiku yang terlihat seperti patung.

"Sepertinya aku memang terkenal ya, bahkan kau yang seorang laki-laki pun bisa mengenaliku dengan sekali lihat. Apa karena tubuh mencolokku ini?" ujar Rangiku mencoba membuka pembicaraan setelah sempat beberapa saat mereka saling berdiam diri. Suara gesekan rerumputan dengan alas sepatu mereka tak lagi terdengar, bergantikan dengan derit lantai keramik yang menandakan mereka telah meninggalkan City Hall menuju sebuah hotel mewah yang berdiri kokoh di samping aula megah itu. Sunyi, pria tampan bernama Ichimaru Gin tadi tak kunjung menjawab ataupun memberi respon pada wanita yang masih berjalan mengekorinya. Sebenarnya, Rangiku bukanlah tipe wanita yang pendiam, dia suka mengoceh dan akan membahas topik apa saja yang bisa dibicarakan. Tapi kali ini sedikit berbeda, kalau biasanya dia akan berteriak marah pada orang yang mengacuhkannya, pria yang membuat darahnya berdesir itu sukses membungkam mulut cerewetnya. Seperti apapun perangainya, Rangiku tetaplah seorang wanita pada kodratnya. Jika bertanya sekali saja mendapat sikap sebegini dingin, maka wanita bertubuh aduhai itu memilih untuk tidak melanjutkannya. Dia tidak ingin membuat kesan pertama yang jelek di mata pria yang umh… boleh dibilang pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin begitu.

"Hueco Mundo bukanlah kota terpencil, meski begitu juga bukan merupakan kota metropolitan. Tapi ini kota besar dengan rata-rata pendapatan warganya yang jauh di atas standar perkapita kota lain. Semua hal yang terjadi di Jepang sendiri maupun di luar negeri dapat terhubung dengan mudah ke tempat ini. Masyarakat sekitar sangat up to date dan menerima globalisasi dengan positif. Tak heran apabila Anda yang memang pada dasarnya sudah terkenal, semakin terkenal di Hueco Mundo. Semua orang terlebih kaum hawa, menggilai Anda bagaikan memuja Aphrodite." Gin menoleh ke belakang sebentar dan tersenyum. Melihat hal itu Rangiku terperangah dan sedikit kaget, lantas menundukkan kepalanya karena malu. Tak menyangka bahwa pria yang sempat membuatnya frustasi karena terus saja diam itu kembali memberikan senyumnya, ya, senyum untuk Matsumoto Rangiku.

"Ja-jadi bukan karena tubuhku ya, hahaha aku senang mendengar jawabanmu," ungkap Rangiku jujur. Dia tidak menutupi bahwa dirinya agak kesal jika seseorang menilainya lewat penampilan fisik, hal itu pasti membuatnya berpikir bahwa publik tidak menyorot bakatnya sebagai seorang perancang pakaian handal tetapi malah lebih peduli bentuk tubuhnya. Memang ini sedikit rumit mengingat bahwa Rangiku sendiri suka memamerkan kemolekannya secara cuma-cuma.

"Itu tidak mungkin, saat pertama kali melihat Anda, semua mata pasti akan tertuju pada tubuh Anda. Tapi saya tidak memungkiri, saya yakin Anda tidak mengandalkan keseksian untuk meraih posisi Anda ini. Karena tak mungkin orang bisa menjadi sukses tanpa punya prestasi kan?" ucap Gin. "Selain seksi dan berbakat, Anda juga cantik. Dan jujur saja, saya menyukai sifat Anda yang mengajak saya bicara untuk mencairkan suasana. Seperti yang Anda tahu, tak banyak wanita yang berani mengambil langkah duluan seperti itu," imbuhnya dan sekali lagi Ichimaru Gin berhasil membuat wanita berambut pirang bergelombang itu tersipu malu.

"Nah Nyonya, kita sudah sampai di ruang pengantin wanita, silakan masuk. Saya harap Anda tidak tersinggung dengan segala tingkah laku maupun ucapan majikan saya. Yah, hari ini mood-nya sedang buruk."

"Terima kasih, Gin." Rangiku berucap dengan senyum tipis, entahlah, pria dihadapannya ini membuat perasaannya jungkir balik dalam waktu yang singkat. Batinnya sedikit tak rela mengetahui sebentar lagi dia akan bertemu dengan mempelai wanita menyebalkan itu, padahal dia masih ingin berlama-lama dengan pria tampan ini.

"Kalau begitu saya permisi, Nyonya." Dan akhirnya, asisten pribadi calon istri Tsuukurou Tsukishima itu melenggang pergi. Memperlihatkan punggung tegapnya yang bidang.


Setelah lelah berdebat dengan Inoue Orihime soal gaun pengantin pesanan calon suaminya yang tidak cocok dengan seleranya, kini Matsumoto Rangiku harus kembali berlapang dada menunggui mantan anak didiknya yang sudah terlambat semenjak dua puluh menit yang lalu. Iris mata abu-abu miliknya menatap hamparan piring yang telah kosong di atas meja, sudah berapa menu yang habis dilahapnya? Dia memang asal memilih kedai untuk tempat pertemuan mereka, tapi dia hanya tidak menyangka bahwa kedai sederhana ini punya masakan yang enak. Mungkin faktor tidak sarapan pagi membuat indera pengecapnya mendeteksi makanan apapun menjadi sesuatu yang lezat.

"Aku baru saja sampai, mungkin nanti sore aku akan ke kota tempatmu berada. Kau belum meninggalkan Karakura bukan?" Rangiku melirik seorang pemuda yang tampak sibuk bercengkerama dengan lawan bicaranya diseberang telepon. Sedikit membantin sambil mengolok-olok, hanya orang kampung saja yang berbicara keras lewat telepon. Namun setelah diperhatikan lebih detail lagi, pemuda itu terlihat stylish dan lumayan keren. Rambutnya hampir senada dengan rambut keperakan milik Ichimaru Gin. Mungkin bukan suaranya yang keras, tetapi lebih pada suasana kedai yang terlampau sepi sehingga membuat suara sekecil apapun terdengar bising dan begitu jelas.

"Tentu, aku tidak akan pernah lupa untuk membawakan puding pisang susu kesukaanmu. Baiklah, sampai nanti, aku mencintaimu."

Ah, pemuda sialan! Kenapa Tuhan senang sekali mengerjai dirinya untuk hari ini? Oke, dikarenakan efek dari statusnya yang melajang hingga saat ini, Rangiku jadi sangat sensitive dengan kata-kata romantis seperti 'aku mencintaimu'.

"Ck, anak dekil, cepatlah datang!" gerutu Rangiku pada Kuchiki Rukia yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Continued on Chapter 3