A TVXQ Fanfiction
"Are We Still Brothers?"
LEE HANJI©2013
WARN :
AU/GS/Brothership/Lil bit Romance/OOC
Harap maklum dengan segala kekurangan yang ada pada fict buatan bocah ingusan yang patut untuk diceburin ke laut ini /oke, yang ini abaikan!/
If you don't like, don't read, you can go back to Screenplay Archive…:D
.
.
"Are We Still Brothers?"
Lee Hanji Present.
Enjoy reading
.
.
Yunho's House—09.00 KST
Sudah hampir dua jam Changmin berbaring diatas sofa menghadap TV yang menyiarkan serial kartun anak-anak yang sangat populer, Spongebob Squarepants. Sebenarnya bukan Changmin yang menggemari film dengan tokoh utama hewan bunga karang bentuk persegi panjang berwarna kuning cerah dan tawanya yang khas itu, Taepoong si Siberian Husky bermoncong mirip serigala milik Yunho-lah yang sejak tadi menggoyang-goyangkan ekornya kegirangan menyaksikan kelakar Spongebob dan kawan-kawan. Entah bagaimana seekor anjing yang buta warna bisa menyukainya.
Lima bungkus Tortilla Chips juga sudah Changmin lahap tanpa sisa, tak terkecuali remahannya. Hari ini libur hingga 4 hari kedepan, itu berarti Changmin harus mengisi kulkasnya penuh dengan makanan untuk kepentingan perutnya yang tak bisa ditolerir. Apalagi besok adalah malam tahun baru.
Biasanya kalau sedang libur tahun baru seperti ini, Yunho paling cerewet menyuruhnya membenahi rumah. Padahal yang membuat rumah sangat berantakan adalah kakaknya itu sendiri, Yunho sangat tidak bisa hidup rapih. Dan setiap tahun baru, biasanya Yunho akan mengundang teman-teman dekatnya untuk makan malam bersama mereka. Yunho adalah orang yang friendly meskipun terkadang bersikap dingin pada orang baru, tidak seperti Changmin yang temannya saja bisa dihitung jari. Mungkin tahun baru ini akan Changmin habiskan seorang diri di rumah.
Changmin beranjak dari sofa, mencoba meregangkan otot-ototnya yang tidak ia gerakkan sejak dua jam yang lalu. Mata bambinya dilirikkan ke arah jendela, cuaca hari ini tampaknya bagus untuk pergi berbelanja sekaligus mengajak Taepoong jalan-jalan. Sudah lama sekali anjing itu tak menghirup udara segar karena beberapa hari ini hujan salju terus-menerus.
Changmin memunguti bungkusan Tortilla Chip yang telah kosong itu. Keheningan melandanya sekatika. Entah kenapa rumah tanpa kakaknya itu seperti tanpa kehidupan. Okelah, boleh saja tadi malam pada pertemuan terakhir Changmin dengan Yunho, Changmin bilang bahwa ia membenci Yunho dan Changmin sama sekali tidak mengantarkan kepergian kakaknya, tapi sekarang kenapa Changmin malah merindukan keberadaan kakaknya itu?
Changmin melangkah gontai ke arah dapur. Kenapa selalu Yunho yang ada di pikirannya saat ini, padahal baru enam jam keberangkatan kakaknya. Sebelum sampai dapur, ia menoleh kearah pintu kamar Yunho yang tertutup namun tidak terkunci. Changmin paling enggan masuk ke forbidden room itu, Yunho akan marah-marah kalau sampai memergoki seseorang telah masuk ke ruangan penuh rahasianya. Rahasianya hanya satu, Changmin pernah mengintip sekali waktu dan kamar Yunho itu sangat berantakan, sampai-sampai tak bisa dijabarkan dengan kata-kata, dan... koleksi doujin-nya sangat banyak. /plak!/
Kali ini Changmin memberanikan diri masuk ke forbidden room itu. Persetan kalau Yunho telah memasang CCTV untuk memantau kamarnya dan muka Changmin terekam tidak elit pada monitor, meski dirasa hal itu sangatlah mustahil. Changmin benar-benar tidak percaya dengan kondisi kamar Yunho yang kelewat rapih, bertolak 180 derajat dari kamar Yunho yang waktu itu. Bahkan karena sangat rapihnya, sprei kasur kakaknya itu tak ada lipatan sama sekali, buku-buku tersusun sesuai tingginya, letak benda-benda sangat simetris, tidak ada kemiringan khusus kecuali pigura foto di atas rak buku yang disusun miring-miring menghemat ruang.
Ia mengeksplorasi kamar kakaknya. Hanya ada hanger jaket di belakang pintu, disebelahnya lemari pakaian dari kayu yang berhadapan dengan ekor ranjang, meja yang disatukan dengan rak buku rendah menghadap jendela yang tertutup membentuk siku dengan kepala ranjang, dan whiteboard besar di dinding. Tidak berbeda jauh denahnya dengan kamar Changmin.
Changmin duduk di tepian ranjang menghadap whiteboard besar di dinding. Banyak coretan milik Yunho disana, beberapa foto juga ditempel dengan magnet bulat-bulat yang diurutkan berdasarkan waktu pengambilan fotonya, gambar-gambar aneh Yunho dengan spidolnya, jadwal harian, agenda, dan sebagainya. Hidup Yunho sangat teratur. Tapi yang membuat mata Changmin tak lepas dari whiteboard itu adalah foto-fotonya.
Meski lebih dominan foto Yunho dari masa ke masa, tapi foto keluarganya dari masa ke masa juga tak kalah membuat Changmin bernostalgia. Ayah ibu mereka masih lengkap, masih ada Yunho, Yoochun, Junsu, dan Changmin yang masih kecil. Foto itu diambil saat usia Changmin 8 tahun. Tahunnya ayah mereka pergi ke perbatasan dan tidak kembali, itu merupakan foto terakhir seorang jendral bersama keluarganya.
Changmin terdiam cukup lama, kemudian ekor matanya menangkap sebuah foto seorang wanita yang terasa familiar di otaknya. Wanita yang ia temui di Café semalam berfoto dalam rangkulan Yunho, Changmin mulai cemburu. Ia berdiri menghadap whiteboard besar itu. ditelitinya lama foto kakaknya bersama perempuan yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu.
"Yunho with Jaejoong, 1st Year Anniversary." Changmin mengeja kalimat di pojok kiri bawah lembar foto itu. "Hah? Jaejoong?" Kali ini ia merasa familiar dengan nama wanita itu. ditariknya foto itu cepat, ternyata ada beberapa lembar foto lagi di belakangnya, Changmin meneliti satu persatu.
Changmin cukup tercengang oleh hasil kerja matanya. Wanita itu ternyata tetangganya dulu ketika masih di Gwangju, rumah ayahnya. Ia ingat sekali, sejak kecil Yunho sangat dekat dengan Jaejoong, mereka bersekolah di tempat yang sama, sepulang sekolah mereka selalu main bersama, ayah Jaejoong juga seorang angkatan darat. Ayah Jaejoong dan ayahnya bersahabat baik, mereka dikirim bersama-sama ke perbatasan dan hilang bersama pula. Nasib keluarga Jaejoong rupanya tak lebih baik dari keluarga Changmin, Jaejoong putri terakhir dari sembilan bersaudara yang kesemuanya perempuan. Ibunya yang hanya seorang housewife memutuskan untuk pindah ke rumah neneknya di sini, di Seoul. Waktu itu Yunho sangat terpukul atas kepergian Jaejoong, mereka sudah seperti saudara kandung dengan Jaejoong yang lebih tua sebulan sebagai kakaknya.
Changmin melihat foto lainnya, ada foto Yunho bertukar cincin dengan Jaejoong. Mereka sudah bertunangan rupanya. "Kenapa kau tak cerita padaku, Hyung!" bentak Changmin sendirian, kemudian segaris senyuman muncul di bibirnya. "Mereka memang sudah ditakdirkan berdua. Akhirnya hyung-ku yang masih bujang akan menikah!"
_FrankZ_
Yunho's House—11.00 KST
Changmin keluar dari kamar mandi sambil berusaha mengeringkan rambutnya yang basah celana cokelat mudanya berubah tua karena air. Seekor Siberian Husky dengan rambutnya yang masih basah berlari riang keluar kamar mandi lewat sela-sela kaki Changmin. Selama 2 jam keduanya berperang dalam kamar mandi. Kalau masih ada Yunho, Changmin akan memandikan Taepoong dengan bantuan kakaknya itu, karena Taepoong adalah anjing kesayangan Yunho. Meskipun Taepoong sudah jinak, tetap saja susah diatur kalau berurusan dengan air, meski air hangat sekalipun. Dan sekarang Changmin punya kerjaan ekstra untuk mengeringkan lantai yang basah karena ulah si hitam-putih.
Mata bambi Changmin melirik kearah Taepoong, anjing itu sedang berguling-gulingan dekat rak sepatu yang belum ia bersihkan dari lumpur sejak dua hari lalu. "TAEPOONG!" sialnya hari ini pet's salon juga turut libur tahun baru. Changmin memijat keningnya, rasanya ia ingin membunuh anjing itu.
.
Changmin mengeratkan balutan jaket woolnya. Setelah memeriksa kembali bahwa tali pengaman Taepoong sudah kuat, ia juga harus memastikan gerbang pekarangan rumahnya tertutup rapat, takut Yunho marah-marah lagi kalau melihatnya. Sore ini Changmin hendak pergi ke swalayan sekaligus mengajak Taepoong jalan-jalan. Udara cukup hangat, tidak seperti pada hari-hari sebelumnya yang sampai dibawah nol derajat.
"Annyeong Haseyo, Mrs. Lee..." sapa Changmin ketika dirinya melewati rumah dengan pekarangan rumah yang cukup luas dibanding rumah-rumah dinas angkatan darat yang kesemuanya bercat cokelat muda.
Wanita beranak satu yang juga sedang mengandung bayi itu tersenyum padanya, masih memegangi sapu lidi untuk membersihkan salju-salju yang sudah menimbun teras dan jalan setapak rumahnya. "Annyeong Haseyo, Mr. Jung..." balasnya kemudian.
Tak lama seorang bocah laki-laki berlari keluar dari dalam rumah Mrs. Lee, menghampiri Changmin yang memegang erat tali leher Taepoong. "Taepooong!" pekik bocah itu kegirangan. Changmin menghentikan langkahnya bersama Taepoong ketika bocah itu membuka pagar rumahnya yang cukup tinggi kemudian berjongkok di hadapan Taepoong dan mengelus-elus kepalanya. "Kau lucu sekali..."
"Kau menyukainya?" Changmin tersenyum, jarang-jarang ia berhubungan dengan seorang bocah seperti ini.
"Ya, dia sangat lucu... boleh aku memilikinya?" matanya berkaca-kaca pada menatap Changmin.
"Tidak boleh! Kasihan adikmu dalam perut Umma, Minho!" Mrs. Lee menyahut tegas membuat senyum manis pada bocah itu menghilang berubah kerucut.
"Ne Umma, da-dah Taepoong..." ia mengelus kepala si hitam putih sekali lagi kemudian masuk kedalam rumahnya.
"Cuci kaki tanganmu, jangan dekat-dekat Umma sebelum bajumu bersih dari bulu-bulunya!" marah wanita itu pada bocah yang berlari masuk kedalam rumah untuk membersihkan dirinya.
Changmin tersenyum ditempatnya berpijak. Keluarganya pecinta anjing, apakah ibunya dulu sering memarahi ketiga kakaknya seperti itu saat sedang mengandung dirinya? Yunho pernah bercerita kalau sejak dulu rumah mereka selalu ada seekor anjing, setiap satu dari anjing itu mati akan ada anaknya yang lahir.
Kalau berbicara soal Yunho bercerita, Changmin tak ingat kapan terakhir Yunho berbagi cerita padanya. Yunho selalu diam, biasanya justru dia yang selalu membuka pembicaraan. Sikap Yunho telah berubah pada keluarganya, tapi tidak pada teman-temannya ia tetap yang terpopuler seperti dulu.
Senyum Changmin mulai pudar. Apakah ini yang menyebabkan sejak kemarin salju terus-menerus turun menimbun Kota Seoul dengan ganas? Seperti itukah sikap Yunho pada keluarganya sekarang? Dingin. Biasanya Yunho akan bersikap dingin pada orang lain. Apakah sekarang Changmin adalah orang lain di mata Yunho?
_FrankZ_
Yunho's House—01.00 KST
Bulan sudah sedikit condong menuju tempat bernaungnya pada langit Seoul. Ini adalah pagi terakhir di tahun ini, besok adalah tahun yang baru dimana semua orang merencanakan hal baru dalam kehidupan mereka. Tapi semua itu hanya rencana, karena besok adalah sebuah rahasia. Tak seorangpun tahu, apakah matahari akan terus bersinar.
Dering telepon di ruang tengah menarik pria jenjang berambut ikal yang masih bergelung dalam selimut itu dari mimpinya. Taepoong, si Siberian Husky berambut hitam-putih itu naik keatas dada Changmin sambil menjilati wajah majikannya, entah bagaimana cara anjing besar itu masuk untuk membangunkannya bahwa benda berisik yang setiap hari berdering panjang juga membangunkan tidur anjing itu. Kata-kata gerutuan diselingi umpatan terus diulang-ulang seperti pita kaset kusut dari bibir tipisnya.
Penghangat ruangan seolah tak bekerja, hawa dingin menyengat sekali di ruang tengah setelah remaja itu membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Changmin berjalan terhuyung-huyung keluar kamar, menuju benda yang meraung-raung tak sabaran sejak beberapa menit lalu. Taepoong kembali pada kasur birunya di ruang tamu, meninggikan rambutnya yang hitam putih untuk menghangatkan diri.
"Yeoboseyo?" Sapa Changmin tanpa intonasi, matanya setengah tertutup sambil mendekatkan gagang telepon ke telinganya.
"Hai, sudah bangun 'kan? Jangan sampai aku bicara pada jasad tanpa nyawa."
"..." sontak kelopak mata Changmin melebar.
"Kenapa? Ini aku, kau tak rindu padaku yang ganteng ini?"
"Bodoh! Siapa yang mau merindukan Hyung seperti kau!" bentaknya sarkastik.
"Hahaha..."
"Tertawalah yang puas, dasar pengganggu tengah malam."
"Gomenasai membangunkanmu tengah malam, aku baru bisa menghubungimu saat ini. Ada hal yang harus ku sampaikan, aku juga agak terburu-buru."
"Apa?" Changmin tak sabar, dia bukan tipe remaja yang menyukai basa-basi.
"Jaga dirimu..."
"Ya, aku juga tahu. Kau sering mengatakannya, Appa dan Umma juga sering mewanti-wanti seperti itu!" gerutu Changmin kesal.
"Kalau kau butuh uang, kau bisa ambil dana asuransi milik Appa, dan..."
"Jika tempatku sekarang diserang, kemana aku harus pergi?" Changmin memotong pembicaraan Yunho yang sudah sering di ulang-ulang itu dengan pertanyaan tidak jelas, menandakan ia muak dengan pembicaraan ini.
"Tidak mungkin, Seoul sangat jauh!" Yunho berkata dengan cepat menjawab pertanyaan asal-asalan Changmin. "–oya kau bisa menggunakan dana asuransiku sekarang!" sambungnya dari pembicaraan yang disela Changmin.
"Hah? Maksudmu?"
Di seberang telepon terdengar suara gaduh. "Aku tak punya banyak waktu. Aku menyayangimu, Changdola!" TUT... TUT... TUT...
Telepon diputus sepihak.
Changmin mengendikkan bahu. 'Apa-apaan sih Hyungnya ini...' kali ini malah bukan Changmin yang ngelindur, tapi justru kakaknya itu. Changmin kembali lagi ke kamar untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu. Tapi belum sampai dua puluh menit Changmin menutup matanya, telepon berdering lagi. Setengah berlari ia menghampiri telepon itu supaya suaranya tidak mengganggu tetangga yang lain.
"Yeoboseyo?"
"Changmin!"
"Yakk, Kyu! Ngapain kau telepon jam 1 pagi seperti ini!" marah Changmin begitu tahu sahabatnya yang kali ini mengganggu tidurnya, padahal Changmin kira Yunho meneleponnya kembali untuk menjelaskan ketidak jelasannya tadi.
"Cepat nyalakan teve-mu! Channel 3!"
"Sudah tak merasa bersalah meneleponku pagi buta seperti ini, kau malah menyuruhku menyalakan teve! Aku tak suka sepak bola!"
"Changmin! Aku serius, televisi channel 3. Jangan bicara lagi, nyalakan saja, dan tutup mulutmu!" bentak Kyuhyun hilang kesabaran di seberang sana.
"Oke-oke..." Changmin meraih remote TV dan menyalakan benda kotak di atas meja ruang tengah.
[Suara TV]
Kantor pusat angkatan darat mendapatkan tanda bahaya yang dikirimkan beberapa menit lalu lewat telegram dari camp angkatan darat di perbatasan Korea Utara - Korea Selatan. Kantor pusat angkatan darat sudah mencoba menghubungi kembali, tetapi tak ada respon. Saat ini beberapa orang utusan yang berada tak jauh dari lokasi sedang ditugaskan untuk melihat keadaan dan kantor pusat juga sedang memantau lokasi dengan teropong bumi.
Komandan pangkalan angkatan darat dengan singkat mengatakan bahwa sebenarnya mereka tak ingin kejadian sepuluh tahun lalu terulang kembali. Tapi sepertinya yang kali ini tak dapat dicegah, penyerangan dilakukan secara mendadak.
Demikian berita yang dapat kami sampaikan, Breaking News akan tampil satu jam mendatang, dan selamat pagi.
[Suara TV Off]
Dengan gerakan cepat Changmin membunuh benda kotak itu dari jauh. Menutup gagang telepon yang masih tersambung dengan Kyuhyun yang masih teriak-teriak dalam sambungan dengan cepat. Kemudian berlari masuk kedalam kamarnya dan membanting pintunya keras sampai Taepoong tersentak bangun.
Pada hari terakhir di tahun ini, Changmin mengunci diri dalam kamarnya. Entah sudah keberapa puluh kali teleponnya berbunyi dari berapa puluh orang yang meneleponnya serta berapa voicemail yang mengungkapkan bela sungkawanya pada Changmin, tak satupun ia angkat. Handphone-nya juga terus bergetar oleh puluhan telepon masuk dan pesan singkat. Bahkan Kyuhyun mencoba datang ke rumahnya, mengetuk pintu berkali-kali, sampai melongok ke jendela kamarnya tapi hanya mendapat bentakan yang menyuruhnya pergi.
Sekarang Changmin mengerti tentang perkataan kakaknya terakhir kali lewat telepon tentang menjaga diri dan asuransi itu. Mungkin Yunho telah merasa bahwa waktunya sudah hampir tiba. Hari ini Changmin tidak memantau TV, ia menangis seharian di kamarnya. Matanya bengkak. Setelah ayah ibunya dulu, lalu kakak kembarnya Yoochun dan Junsu, kemudian Yunho. Sekarang kemana ia harus mencari perlindungan dan panutan? Ia sendirian?
_FrankZ_
Post Office—13.00 KST
Sudah satu minggu setelah hari bersejarah itu, Changmin tidak kunjung hadir di kantor pos. Semalam managernya menelepon, jadi hari ini ia terpaksa datang, meski mood-nya dalam keadaan jelek. Siang ini Kyuhyun menemuinya di kantin kantor pos, saat ia sedang makan siang. Kyuhyun mencoba mengajak Changmin bicara, tapi karibnya itu belum mau merespon.
"Aku tahu kau masih sedih. Tapi dengan kesedihanmu itu membuat mereka takkan bahagia disana." Kyuhyun mencoba membesarkan hati Changmin.
"..." Changmin memandangi makan siangnya. Suatu hal yang tidak lumrah kalau Changmin membiarkan sepiring makan siang utuh seperti saat ini, biasanya ia bisa menghabiskan dua piring atau lebih.
"Aku juga merasakan hal yang sama ketika Ummaku meninggal dunia karena mendengar Appa tersangkut kasus suap, padahal itu tidak benar." Kyuhyun mencoba lagi.
Changmin membanting sendok dan garpunya. "Tapi kau masih punya Ahra Noona!" bentak Changmin, ia langsung menjambak rambutnya, sikunya ditumpukan diatas meja. Tubuhnya di ayun-ayunkan kedepan dan kebelakang.
"Kau masih punya aku. Aku sahabatmu, aku selalu siap bersamamu." Ujar Kyuhyun halus.
"Rasaya beda." Changmin mulai menangis. Kyuhyun beranjak dari hadapan Changmin dan duduk di sebelah sahabatnya. "Rasanya beda ketika kau sudah tak memiliki keluarga lagi." Sambung Changmin pelan.
Kyuhyun mengelus pundak Changmin pelan. "Kau masih punya Taepoong. Yunho pernah bilang kalau dia Appa-nya Taepoong, 'kan?" Kyuhyun tersenyum, disusul goresan senyum tipis bibir Changmin. "Dia ponakanmu, Min!"
Tawa samar keluar dari bibir tipis Changmin, lelucon Kyuhyun kali ini berhasil membobol kesedihan Changmin. "Andai anjing bisa bicara..." gumamnya.
"Kau masih punya banyak orang yang menyayangimu. Salah besar kalau berpikir kau sendirian."
_FrankZ_
Korean Ethnic Café—20.00 KST
Changmin duduk di kursi bar, menghadap langsung ke dapur. Café sedang sepi pengunjung dan tak terlihat servant yang biasa berdiri di konter. Café sedang kosong, sama seperti hatinya yang kosong. Kata-kata Kyuhyun tak berpengaruh banyak. Changmin terdiam menatap kosong kearah dapur yang juga sepi.
"Hai, mau pesan apa?" servant berpakaian Hanbok menghampirinya, ia baru datang dari arah kantor. Wajahnya datar tanpa senyum, kulitnya yang putih tampak semakin pucat, ia juga sedang bersedih sama seperti Changmin.
"Jae Noona?" Changmin memastikan, tujuannya kemari hanya ingin menemui wanita ini.
"Turut berduka tentang Yunho." Jaejoong tertunduk dalam sampai poninya yang lurus menutupi keseluruhan wajah, ia juga merasakan kesedihan.
"Aku juga. Justru itulah tujuanku kemari, aku hendak mengatakan hal yang sama pada Noona. Kini aku tahu kalau kalian sudah bertunangan sejak setahun yang lalu." Changmin memainkan jemarinya yang panjang, tidak mau menatap Jaejoong.
"Kami bahkan sudah merencanakan pernikahan, tiga minggu setelah kepulangannya dari tugas ini." Jelas Jaejoong sambil memainkan pita Hanboknya, kemudian duduk berhadapan dengan Changmin tanpa saling tatap muka. "Kami sudah mempersiapkan semuanya. Pakaian pengantin dan cincin kawin."
Changmin menahan nafas saat mendengarnya. Menikah ya? Tiga minggu lagi? Semua sudah dipersiapkan? Tapi Yunho tak kembali, kakaknya itu memang bodoh atau gimana, Changmin tak mengerti. Akal sehatnya mulai menalar tentang ketidakpastian, sekarang ia mulai berpikir irrasional, agak bodoh memang. Changmin memulai analisisnya.
Biasanya seorang yang telah mendekati ajal akan merasakan sesuatu yang berbeda dan berperilaku tidak biasa. Sementara Yunho, dia tetap meneruskan aksinya untuk mempersunting Jaejoong Noona. Tapi kalau dilihat dari sikap Yunho terakhir kali pada Changmin memang berbeda, dari tindakannya ketika di Café terasa sangat halus, padahal biasanya cara bicaranya kasar. Bahkan ia menangis sebelum keberangkatannya—Changmin bisa mendengarnya, kamar mereka hanya dibatasi ruang tengah. Tapi Changmin tidak tahu pasti alasan Yunho menangis malam itu—Changmin kenal Yunho, kakaknya itu pantang menangis, itu merupakan suatu hal yang tidak biasa. Lalu ketika Yunho meneleponnya tengah malam, ada suara gaduh, Changmin baru mengerti kalau itu adalah detik-detik pertama camp angkatan darat diserang, kata-kata Yunho sangat menggambarkan keputus asaan. Ya, menurut Changmin itu hanya keputus asaan. Jadi...
"Hey, kau tak apa-apa?" Jaejoong melambai-lambaikan jemari lentiknya di hadapan Changmin. Sejak tadi Changmin larut dalam analisisnya tentang Yunho. "Kau sakit? Berapa hari kau tak makan karena Yunho?" serbu Jaejoong.
"Hah? Tidak-tidak, aku hanya memikirkan sesuatu yang tampaknya sangat bodoh." Elak Changmin.
"Kau memikirkan apa?" seru Jaejoong cepat karena ingin tahu.
"Tidak, lupakan!" raut wajah tak suka muncul di wajah Jaejoong saat mendengarnya. "Ta-tadi kau bicara apa?" tanya Changmin gugup.
"Aku bahkan tak bicara apapun! Kau hanya terdiam menatapku, kau pasti memikirkan sesuatu yang buruk tentangku! Dasar, kakak adik sama saja!" Jaejoong ngedumel.
"Eh? Aku tak memikirkan apapun tentang Noona!" balas Changmin tak kalah sengit, wajahnya memanas, benarkah sejak tadi ia memperhatikan Jaejoong Noona?
"Tapi wajahmu mesum!" hardik Jaejoong.
"Benarkah?" Changmin mengusap-usap wajahnya. Kemudian keduanya terdiam cukup lama.
"Terakhir kali Hyungmu bilang, kalau nanti dia tak kembali, aku harus menikahi Changmin." Ungkap Jaejoong memecah keheningan dengan gebrakan besar.
CTAR! Changmin tersentak. Kalau benar begitu, berarti memang Yunho sudah diliputi perasaan cemas akan kematiaanya. Yunho pasti tak mau Jaejoong yang berpredikat sebagai orang yang ia sayangi jatuh ke tangan orang lain. Apakah itu berarti Yunho mempersiapkan pernikahan Changmin dengan Jaejoong, bukan pernikahan Yunho dengan Jaejoong?
"Dia meninggalkan surat?" tanya Changmin penasaran. "Yunho Hyung tak bicara apapun padaku, dia sangat diam akhir-akhir ini."
Sepertinya memang benar, akhir-akhir ini Yunho diam sekali. Apakah itu juga sebuah tanda?
"Tidak, tapi saat bertemu kau disini, ia ingin menyampaikan sesuatu yang lebih penting dari kuliah. Tapi kau langsung pergi. Saat bertemu denganku di kasir mukanya sangat sedih." Cerita Jaejoong. "Sebenarnya aku tak ingin menikahimu. Aku lebih mencintai Yunho."
Ada kelegaan di hati Changmin mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Jaejoong. Changmin juga tak ingin orang yang begitu disayang Yunho malah bersedih karenanya. Ia kemudian berbalik pada pemikiran awal bahwa, 'Kata-kata Jaejoong Noona mematahkan analisis Changmin. Mungkinkah Yunho Hyung sudah meninggal? Atau ada kemungkinan Yunho Hyung masih hidup, tapi persentasenya sangat kecil.'
"Aku juga tak ingin menikahimu. Ada seorang wanita lain yang aku cintai." Changmin berkata bohong. "Aku ingin janji pada Noona, aku ingin membawa Yunho Hyung kembali!" ia menggenggam tangan Jaejoong erat.
"Bagaimana caranya? Bukankah itu mustahil, aku yakin Yunho sudah pergi sangat jauh. Dia datang dalam mimpiku saat penyerangan itu terjadi." Aku Jaejoong.
Changmin menghela nafas. Pikirannya telah diacak-acak oleh pernyataan Jaejoong. "Tapi aku yakin Yunho Hyung masih hidup. Aku akan pergi ke perbatasan dan memastikan kalau Yunho ternyata masih hidup." Ujar Changmin menggebu-gebu.
"Jangan! Aku tak mau adik tunanganku mengakhiri hidupnya demi calon suamiku!" Jaejoong mencengkram bahu Changmin keras, sampai buku-buku jarinya memutih. "Meskipun Yunho tak kembali dan pernikahan kami tak pernah terjadi, aku rela, aku ingin kau tetap jadi adik iparku." Jaejoong menatap mata Changmin lekat-lekat.
"Tapi aku juga ingin cepat-cepat punya keponakan yang lucu."
_To Be Continued_
AN : Setelah mengetik ini saya jadi dapat ide membuat cerita fantasi... dan itu, itu, itu, Kyu kenapa OOC banget, dia jadi angle((ek))! Wkwkwkwk...
Oya di chap 1 kan anjingnya HoMin namanya Rider... itu typo! Itu cast lamanya -_- anjingnya Yunho namanya Taepoong/Typhoon, nah kalo Rider itu kucing saya :p
Special Thanks For : jaemums | cloud3024 | IrumaAckleschia | vivi minnie
Thanks For all SiDer! ((Kesalahan saya juga gak aktifin anonymous -_-))
Kan udah aktif anonnya. Yang gak review... eurmmm... moga cepet sadar deh. :p
Yasudahlah, komentar berupa : kritik, saran, bash baik positif atau negatif akan saya terima. Kalau bisa kritik alur dan editing saya, saya minus disana.
Terima kasih, ありがとう, 감사합니다,谢谢,Danke, Thanks, Gracias, Merci, Grazie ((deelel)) atas kesediaannya membaca fiksi abal bin gaje bin nista milik saya ((bungkuk 179 derajat))
.
With Love
FrankZ
