Diamond no Ace © Terajima Yuuji
Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)
Sawamura Eijun, Miyuki Kazuya,
Kazu & Eiko (OC)
.
DIVINE
0o0o0o0o0
.
Pagi itu Kazuya bangun karena suara bel pintu rumahnya yang terus berbunyi. Padahal alarmnya belum berbunyi, berarti bahkan belum sampai pukul tujuh pagi. Sialnya lagi bel itu tidak berhenti setelah Kazuya abaikan, jadi mau tidak mau ia membukakan pintu, tapi sayang saja, niat ingin memakin orang kurang ajar yang sudah membangunkannya sembarang pagi itu tidak bisa terlaksana, karena yang muncul di hadapannya adalah wajah seorang pria yang ia lumayan kenal.
"Selamat pagi, Miyuki-san. Saya Sawamura Eijun, mulai hari ini saya yang akan bekerja di rumah ini." Ingatan tentang telepon dari Watanabe yang mengatakan tentang pembantu urusan rumah tangga yang ia minta akan datang langsung memenuhi isi kepalanya, Kazuya juga ingat dengan peringatan yang Furuya katakan kalau orang ini punya sepasang anak kembar yang masih belum bisa ditinggal, jadi Miyuki mau tidak mau harus tetap membiarkan pembantu barunya ini untuk pulang saat sore hari.
"Ano, Miyuki-san?"
Kazuya tersadar, pintu yang baru terbuka separuh akhirnya ia buka lebar, mempersilahkan Eijun untuk masuk. Karena baru bangun Kazuya juga tidak mengatakan banyak hal, ia hanya menunjukan beberapa ruangan yang ada di sana.
"Yang ini kamarku, kau bisa masuk ke dalam saat aku tidak ada, tolong dibereskan, tapi sebisa mungkin jangan pindahkan barang-barang yang ada di rak itu ke tempat lain. Kalau mau ditata lebih rapih silahkan saja." Selanjutnya Kazuya membuka satu pintu tidak jauh dari rak yang ia tunjukan. "Ini lemariku, aku akan sangat senang jika kau menyusun semua berdasarkan jenis pakaiannya. Itu lebih mudah dicari, dan kalau ada aksesoris yang aku taruh sembarangan bisa masukan ke dalam laci ini."
Selama berkeliling di kamar itu hanya anggukan dan jawaban sederhana yang Kazuya dapat.
"Sisanya akan aku jelaskan setelah aku mandi."
"Baiklah, saya akan kerjakan yang ada di ruang lain dulu."
"Oh dan ..." dia berhenti di ambang pintu kamar Kazuya, menoleh dan menunggu Kazuya untuk melanjutkan. "..bisa buatkan aku sarapan?"
"Tentu saja. Akan segera saya siapkan."
Setelah pintu kamarnya kembali tertutup Kazuya kembali duduk di sisi ranjangnya. Ia tidak mengerti kenapa pria tadi sangat mengganggu pikirannya, rasanya tidak asing—memang mereka sudah bertemu saat acara pernikahan Furuya waktu itu tapi Kazuya yakin mereka pernah bertemu di tempat lain. Sudah begitu aroma Sawamura Eijun itu ... Kazuya tidak bisa menjelaskan.
Jadi sambil memikirkan apa saja tugas yang akan ia bebankan pada pembantu rumah tangga barunya itu, Kazuya memilih mendinginkan kepalanya sebentar.
Hari ini ia ada janji pertemuan di kantor dengan beberapa petinggi lain, akan ada presentasi untuk beberapa model baju dan perlengkapan olahraga untuk musim selanjutnya. Tapi itu juga setelah makan siang. Kalau harus ke kantor pagi-pagi rasanya aneh, karena Kazuya tidak punya banyak hal yang bisa ia lakukan di sana, ia hanya salah satu pemegang saham dan bertanggung jawab mengotrol perusahaan sesekali, sisanya sudah ia bebankan pada Watanabe—kawan baiknya itu.
Katakan saja Watanabe itu seperti sekertaris pribadi Miyuki, karena semua yang Miyuki butuhkan biasanya akan ia katakan pada Watanabe, padahal jabatan sang kawan di kator hanya ketua Tim Perancangan. Tapi mungkin hari ini Kazuya akan sedikit menganggung waktu kerja Watanabe sampai waktu rapatnya tiba, karena untuk tinggal di rumah rasanya sedikit sulit.
Tidak tahu kenapa, Kazuya rasanya tidak yakin ia bisa bertahan jika terus berada di rumah. Pembantu barunya itu membuat Kazuya merasa sedikit cemas—tidak tenang.
Saat Kazuya keluar kamar dan menuju meja makannya, satu set sarapan ala Jepang sudah tersaji di sana. Satu mangkuk nasi, satu mangkuk sup miso, empat potong telur gulung, dan satu piring tumis sayur, untuk menemani semua itu satu cangkir teh hitam sudah tersanding bersama dengan teko kecil di sisi. Bahkan koran harian yang harusnya masih ada di kotak pos sudah ada di atas meja itu. Pembantunya tidak ada di sana, tapi Miyuki mendengar suara mesih cuci di dekat kamar mandi belakang.
"Dia bekerja lebih baik dari kelihatannya."
0o0o0o0o0
Eijun kaget saat Miyuki Kazuya, majikannya tiba-tiba saja datang padanya yang sedang mencuci di belakang. Setelah masak sarapan untuk majikannya itu Eijun langsung mencari hal lain yang bisa ia lakukan selagi menunggu, tapi ia tidak menyangka kalau justru akan didatangi seperti ini.
"Bisa di tinggal dulu?" Eijun mengangguk dan berjalan mendekat. Sekali lagi ia diajak berkeliling mengenal rumah besar milik Miyuki Kazuya.
Untuk seorang pria single rumah ini terbilang besar. Tidak bertingkat, hanya sangat luas. Kamarnya saja ada empat, yang paling besar adalah kamar utama milik Miyuki, ada kamar mandi dalam dan ruang lemarinya pula. Lalu yang lain ada kamar tamu yang sangat jarang di gunakan, satu diantaranya mungkin adalah kamar mantan pembantu sebelumnya, ada di belakang dekat dengan kamar mandi belakang dan dapur, juga ukurannya lebih kecil dari yang lain. Selain itu ada ruang tengah dengan televisi besar dan sofa mewah, karpetnya saat diinjak juga lembut bukan main, Eijun pikir ia rela mengganti futonnya dengan karpet lembut itu kalau boleh.
Kemudian ruang tamu yang ukurannya juga lumayan besar. Dapurnya juga luas, langsung bertemu dengan meja makan pula. Di sana Eijun terkagum-kagum pada lemari es tiga pintu yang bahkan tinggi pintunya lebih dari tinggi badan Eijun sendiri. Sudah begitu isi lemari es itu juga penuh. Alat makan dan beberapa rempah yang tidak bisa di simpan di lemari es ada di rak gantung di atas westafel dapur. Sebagian yang biasa di gunakan juga sudah ada di rak piring kecil di sisi westafel. Eijun sangat kagum dengan semua hal yang ada di dalam dapur itu.
Satu kata untuk dapur itu; LENGKAP!
Kazuya juga menunjukan gudang tempat alat-alat kebersihan di simpan. "Aku tidak tahu yang ada di dalamnya lengkap atau tidak, tapi kalau memang tidak lengkap atau sudah tidak layak pakai beri tahu saja."
Eijun mencatat itu baik-baik dalam kepalanya. Majikannya ini kaya bukan main, dan mungkin karena dia masih sendiri jadi semua keperluannya terlihat sangat mahal, beda jauh dengan dirinya, jangankan untuk membeli satu buah penyedot debu dengan kualitas terbaik, punya yang bekas dan masih bisa digunakan saja sudah lebih dari sukur.
"Ah, dan ini." Tiga lembar uang sepuluh ribuan disodorkan padanya. "Pakai untuk belanja. Aku suka masakanmu, jadi kalau bisa setiap hari tolong buatkan aku sarapan dan makan malam sebelum pulang. Ada supermarket di dekat stasiun, kalau pasar sedikit lebih jauh, tapi kalau kau mau coba bisa ke arah utara dari stasiun."
Eijun tidak begitu paham kenapa harus sebanyak itu dia menerima uang belanja, tapi mungkin itu untuk beberapa hari dan kualitas bahan juga menjadi pertimbangan sampai uang belanja saja sebegitu banyaknya.
"Aku juga sering pulang telat, jadi kalau pekerjaanmu sudah selesai, jam enam sore kau sudah boleh pulang. Ini," sebuah kunci manual dengan bandul lonceng kecil yang manis berpindah tangan pada Eijun. "Gunakan itu saat kau datang, aku tidak mungkin bangun pagi setiap hari untuk membukakanmu pintu."
Kurang lebihnya Eijun sudah mengerti. Majikannya itu sudah sangat menjelaskan apa saja yang harus Eijun lakukan, dan mungkin kalaupun ada kendala ke depannya, majikannya ini bukan tipe orang yang akan mengeluh dan mencari masalah.
"Rumahmu jauh?" itu pertanyaan terakhir yang dia ajukan pada Eijun sebelum berjalan menuju pintu depan.
"Ah, tidak. Hanya dua pemberhentian kereta dari sini."
Kemudian dia mengangguk, mungkin mengerti perkiraan waktu tempuh Eijun. "Kalau begitu, mohon bantuannya, Sawamura."
0o0o0o0o0
Hari kedua pembantunya mulai kerja. Pagi ini Kazuya tidak bangun karena suara bel, tidurnya benar-benar nyeyak, bahkan alarm yang berdering sampai ia abaikan satu jam. Begitu keluar kamar, meja makan sudah siap, seperti kemarin sarapan ala Jepang sudah siap di sana. Kali ini tidak ada telur gulung, tapi ada ikan bakar, dan tumisanya jadi lebih berwarna dari sebelumnya.
Kazuya sempat melihat sekitar tapi tidak menemukan pembantunya itu, baru setelah ia selesai makan dan mencari di belakang ternyata ia temui di halaman samping, sedang menyiram tanaman yang ada di sana. Padahal Kazuya tidak mengatakan apapun tentang tanaman di luar, karena memang biasanya ada orang yang ia bayar untuk mengurusnya setiap seminggu sekali, tapi melihat Sawamura Eijun menikmati sinar matahari pagi sambil memberi minum tanaman tidak ada salahnya.
Pagi itu, saat Eijun berdiri di membelakangi sinar matahari yang baru datang dari arah timur Miyuki baru menyadari satu hal. Ada perban yang dililit pada leher pembantunya.
Dari Watanabe dan Furuya sebelumnya ia sudah tahu kalau Sawamura Eijun adalah seorang omega. Kazuya juga sudah melihat sendiri sepasang anak yang datang memeriahkan acara pernikahan juniornya itu. Mungkin karena saat di acara pernikahan waktu itu dia pakai pakian formal dan kemarin saat hari pertama juga dia mengenakan kemaja, Kazuya jadi tidak terlalu memperhatikan, tapi lilitan yang ada di lehernya pasti untuk menutupi bekas gigitan alpha.
Kalau begitu setidaknya dalam sebulan akan ada satu minggu pembantunya itu akan ijin—saat periode heatnya datang. Tahu begini harusnya Kazuya bilang pada Watanabe untuk mencarikan yang seorang beta, jadi tidak perlu susah juga.
Tapi mungkin tidak apa-apa, mengingat kondisi pembantunya Kazuya juga jadi tidak tega untuk membatalkan kontrak. Lagi pula kalau memang benar sudah ada yang menggigit leher pembantunya itu, maka kemungkinannya kecil Kazuya akan terpengaruh dengan feromon yang keluar saat periode itu berlangsung.
"Sawamura, bisa tolong aku sebentar."
Dia menoleh. Kaus dengan V neck yang dikenakan hari ini memberikan kesan berbeda bagi Kazuya yang melihat. Rasanya tambah membuatnya tidak tenang, lebih dari yang kemarin. Padahal tidak banyak yang terekspos juga.
"Tolong seterika baju ini lagi." Satu stel pakaian formal yang tadi sempat Kazuya ambil di lemari dalam kamarnya ia berikan pada sang pembantu. Kazuya yakin acara siram tanaman pagi yang menyenangkan tadi belum selesai, tapi pagi ini dia harus ke kantor lebih awal karena akan ada pemeriksaan pajak yang tidak bisa lepas dari pengawasannya.
Setelah itu Kazuya bersiap, tidak banyak yang mereka bicarakan. Padahal dari yang Haruichi katakan Sawamura Eijun bukan orang yang pendiam, termasuk kategori berisik dan sulit dikendalikan, tapi sejauh yang Kazuya lihat tidak ada tanda-tanda seperti itu. Mungkin, bisa jadi, dia menjaga perilakunya di tempat kerja, tapi Kazuya juga jadi penasaran melihat orang pendiam seperti Sawamura Eijun ini jadi bermulut toa.
"Ini."
"Hah? Untuk apa?" saat Kazuya menyodorkan uang belanja dia justru menatap balik dengan pandangan heran.
"Uang belanja hari ini."
"Ah, itu ... aku sudah belanja cukup banyak dengan uang yang kemarin, semuanya masih ada untuk sampai tiga hari ke depan."
Kazuya sempat bingung, tapi kemudian ia mengerti, mungkin pembantu barunya jauh lebih sederhana dari pikirannya. "Terima saja. Mulai sekarang aku akan tetap memberimu uang belanja dengan jumlah yang sama, beli semua yang memang perlu, dan kalaupun lebih kau bisa menyimpannya."
"Menyimpan?" reaksi kaget yang mucul di wajah lugu pembantunya hampir membuat Kazuya tertawa lepas, tapi kali ini ia berusaha untuk tidak menyakiti hati Sawamura Eijun dulu, mereka masih baru kenal. Bahkan biarpun Kazuya adalah majikan Sawamura Eijun, tetap saja rasanya tidak sopan.
"Kalau kau tidak mau menyimpannyanya, kau bisa belikan camilan untuk Kazu dan Eiko. Oleh-oleh pulang kerja, atau semacamnya."
Uang yang Kazuya sodorkan masih belum di terima sampai beberapa saat, akhirnya Kazuya meraih tangan pembantunya sendiri dan menyerahkan uang itu paksa sebelum meninggalkan rumah. Pagi itu Kazuya tidak boleh sampai telat ke kantor masalahnya.
"Oh ya, malam ini aku mau kare, yang pedas." Kazuya menambahkan sebelum membuka pintu dan hilang saat pintunya kembali tertutup. Sambil memanaskan mesin mobilnya yang terpakir di luar Kazuya akhirnya bisa tertawa. Dia pikir tidak ada salahnya juga kalau punya pembantu yang masih polos seperti ini, setidaknya setiap pagi Kazuya bisa mendapat bahan tawaan yang baru.
0o0o0o0o0
Hari ini lagi-lagi Eijun bisa pulang cepat. Majikannya, Miyuki Kazuya itu, seharian tidak pergi ke manapun dan membolehkan Eijun pergi setelah memasak untuk makan malam, padahal langit sore itu masih terang.
Sudah begitu setelah bekerja tiga minggu di sana tidak pernah satu haripun orang itu telat memberinya uang belanja yang (menurut Eijun pribadi) kelewat banyak. Eijun sampai bingung harus bagaimana menggunakan uang-uang itu. Terus menerima sisanya juga jadi tidak enak, rasanya jadi seperti terlalu dimanja. Mungkin karena biasa dengan kehidupan sederhana menerima kebaikan berlebih dari sang majikan juga memberatkan hatinya. Eijun sedikit tidak nyaman pada bagian itu.
Kazu dan Eiko, kedua anaknya tentu senang kalau setiap hari Eijun bisa membelikan mereka puding enak, cake dengan buah strawberry besar sebagai topping, atau kue isi kacang. Tapi rasanya Eijun jadi terlalu memanjakan keduanya juga. Hari ini bahkan, saat Eijun datang menjemput mereka di sekolah hal pertama yang mereka tanya bukan lagi bagimana kerja Ibu mereka ini atau apakan Eijun lelah atau mengeluh kangen pada Eijun seperti pada minggu pertama. Sambil berlari keduanya langsung memeluk Eijun dan bertanya jajanan apa yang Eijun bawa pulang untuk mereka.
Sebenarnya senang bisa memanjakan dua buah hatinya seperti itu, tapi Eijun juga takut jika kemudahan ini akan berakhir ketika mereka sudah terlalu nyaman dengan semua itu. Sama seperti yang ia alami tujuh tahun lalu. Saat semuanya jadi lebih mudah baginya setelah Kanemaru memutuskan akan menikahinya, tapi kemudian dia justru dijual, difitnah dan dijadikan buronan salah satu keluarga yakuza di Tokyo, rasanya seperti jatuh dari atas tebing dan terjebak di lereng yang gelap. Eijun tidak ingin kedua anaknya sampai mengalami hal seperti itu.
"Hari ini mama tidak bawa apa-apa?" ekspresi keduanya murung. Hati Eijun sempat ngilu melihat kekecewaan mereka.
"Hari inikan mama pulang cepat, jadi ingin masak makanan kesukaan kalian saja di rumah. Kalau terlalu banyak jajan nanti juga jadi tidak bisa menabung untuk piknik ke kebun binatang." Kekecewaan mereka ada, tapi keduanya mengangguk patuh. Berkat Wakana, kedua anaknya ini terbiasa untuk mengerti kesulitan Eijun, berkat sepepunya itu juga Kazu dan Eiko menjadi anak yang lebih suka menahan diri sebelumnya.
Mungkin itu tidak baik, tapi membiarkan mereka terlalu banyak bersenang-senang dan dimanjakan juga rasanya salah. Sekali lagi, Eijun ingin bisa melakukan itu selalu, tapi dia ada pada posisi yang tidak memungkinkan. Tahun depan juga kedua anaknya akan mendaftar masuk sekolah dasar, Eijun harus mulai mempersiapkan biaya untuk itu.
"Pamit pulang pada sensei dulu." Keduanya mengangguk, berlari lagi ke dalam untuk mengambil tas mereka dan mendatangi satu persatu guru yang menjaga mereka di sana. Selagi menunggu Eijun juga menyempatkan diri untuk menyapa salah satu guru yang bertanggung jawab atas kedua anak kesayangannya ini. Menanyakan sedikit tentang aktivitas harian keduanya, dan menerima buku laporan mereka berdua.
Taman kanak-kanak yang Eijun pilih ini menyediakan jasa penitipan anak bagi orang tua yang bekerja sampai sore dan malam, jaraknya juga tidak jauh dari rumah mereka. Tepat ada di tengah perjalanan dari arah stasiun menuju rumah. Tojo dan Kanemaru sampai repot mencarikan Eijun rumah di lingkungan yang baik untuk mendukung perkembangan anak, tetangganya juga ramah, entah karena apa tapi sangat berbeda dengan tetangga yang ada di kampung halamannya, mereka tidak menggunjing tentang Kazu dan Eiko.
Eijun merasa beruntung kenal dengan semua kawan-kawannya yang membantu ia bisa kembali ke Tokyo. Setidaknya sekarang setelah ia bisa kembali tanpa takut menjadi buronan, ia justru di hadapatkan banyak kemudahan.
"Mama, ayo." Kazu yang lebih dulu menyambar satu tangannya, kemudian Eiko ikut menyabar tangan yang lain. Keduanya ikut menunduk saat Eijun pamit. "Malam ini buat Omurise ya?"
"Eiko ingin karaage!"
"Aku ingin sosis gurita lagi."
"Eiko juga mau itu!"
Eijun hanya mengangguk. Mengiyakan. Untuk malam ini, mungkin memberikan apa yang mereka mau sebatas yang ia mampu.
"Mama, tadi di kelas Eiko dan Kazu diajari membaca buku bergambar." Kazu mengangguk, ikut bangga ketika Eiko mengagungkan kemampuan mereka. Tidak mau kalah Kazu juga bilang kalau dia sudah membaca sendiri tiga buku bergambar setelahnya.
"Oh, kalau begitu kapan-kapan kita pergi ke toko buku, akan mama belikan buku bergambar, tapi kalian yang bacakan untuk mama. Bagaimana?"
"Itu mudah." Kazu langsung menyahut.
"Eiko ingin yang ceritanya tentang tuan putri ya?"
"Baiklah. Kazu ingin yang ceritanya tentang apa?"
"Pahlawan! Kalau Eiko itu tuan putri, mama berarti ratunya. Aku ingin menjadi pahlawan yang melindungin mama dan Eiko saat papa tidak ada." Eijun tidak bisa mengatakan apa-apa lagi setelah itu. Membiarka dua anak yang menggandeng tangannya bermain-main manja, menarik ia untuk berjalan lebih cepat. "Aku hebatkan?"
Tidak bisa berbohong lagi, Eijun tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya ini. Kedua anak itu sudah berhenti bertanya tentang ayah mereka sejak dua tahun lalu. Keduanya memilih untuk bermain di halaman rumah, menyerah untuk bergabung dengan kumpulan anak-anak lain yang tinggal di sekitar rumah mereka saat di Nagano. Mereka berdua justru lebih pintar menyimpan perasaan mereka. Tapi sebagai orang tua, Eijun justru adalah pihak yang paling lemah jika topik bahasan ini naik ke permukaan lagi.
"Wah, Kazu hebat!" mengimbangi semangat sang kakak, Eiko ikut berseru senang.
"Tentu saja."
0o0o0o0o0
Sawamura Eijun hanya meminta ijin tiga hari untuk masa heatnya. Kazuya sempat heran, karena biasanya hal seperti ini digunakan para omega untuk beristirahat lebih, apalagi Eijun juga punya dua anak yang mungkin ingin menghabiskan waktu bersama Ibu mereka. Lagi pula, menurut Kazuya tiga hari itu adalah waktu yang sangat singkat, ia pribadi ragu kalau dalam waktu singkat itu Eijun sudah benar-benar pulih dari masa heatnya.
Walau memang tidak akan berpengaruh pada Kazuya, tapi tetap saja rasanya sedikit aneh. Sudah begitu dia bilang dia sedikit demam makanya sampai tidak bisa berangkat hari ini. Padahal tanpa ada demam sekalipun tiga hari menurut Kazuya terlalu pendek.
Yah, sebagai langganan tidur dengan partner omega kurang lebihnya Kazuya ikut paham dengan siklus mereka, dan ... rasanya Kazuya tidak bisa mengabaikan Sawamura Eijun begitu saja.
"Yakin hanya tiga hari?" sang pembantu mengiyakan di sambungan telepon mereka. "Kalau butuh sesuatu kau bisa minta tolong padaku, kebetulan tiga hari ke depan aku juga tidak terlalu sibuk."
"Terima kasih banyak, Miyuki-san. Tapi saya tidak ingin lebih merepotkan."
"Tidak. Aku yang justru merasa jahat, kau tetap datang ke rumahku bahkan di hari minggu, meninggalkan anak-anakmu di penitipan. Sesekali aku juga ingin membantu, walau tidak banyak."
"..tidak perlu."
"Jangan sungkan .. ah, aku bisa membantu untuk menjemput anak-anakmu. Jadi kau tidak perlu repot dan bisa fokus istirahat."
"Tapi—"
"Aku memaksa. Jadi kirimi saja alamatmu dan alamat sekolah anak-anakmu."
"Miyuki-san, saya—"
"Aku tunggu, jangan lama. Oh, ya tolong kabari juga pihak sekolah kalau aku yang akan menjemput mereka nanti." Kemudian sambungan mereka Kazuya putus sepihak. Tidak tahu kenapa ia justru merasa semakin gelisah setelah mendengat suara pembantunya itu tadi di telepon. Sudah sangat lama Kazuya tidak mendengar seseorang berbicara dengan nada seperti itu padanya, mungkin semenjak ayahnya meninggal.
Nada bicara yang dibuat sekuat mungkin untuk terdengar baik-baik saja.
Lima menit berlalu, belum juga ada pesan masuk dari sang pembantu, Kazuya akhirnya mengirim pesan lebih dulu. Pesan singkat yang menanyakan alamat rumah dan sekolah anak-anak Sawamura Eijun. Baru setelah itu balasan datang, lengkap dengan waktu untuk menjemput Kazu dan Eiko.
Kazuya tidak mengerti kenapa, tapi ia senang bisa bertemu dengan dua anak yang menjadi bintang di pernikahan Furuya dan Haruichi itu. Menunggu sampai jam pulang mereka rasanya jadi lebih mendebarkan, Kazuya sampai tidak bisa menahan diri agar tetap di rumah. Jadi dua jam sebelum waktu yang ditentukan Kazuya sudah keluar rumah.
Ia pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, membeli beberapa hal yang menurutnya bisa membantu, kemudian mendatangi sebuah taman kanak-kanak yang alamatnya tadi Eijun berikan. Dari luar gerbang Kazuya memperhatikan banyak anak yang main di halaman, matanya juga langsung menangkap sosok si kembar yang menjadi pusat dari perkumpulan bocah di sana.
"Ah, permisi. Anda Miyuki-san?" seorang wanita mendekat padanya. Dari penampilannya Kazuya langsung menarik kesimpulan kalau wanita itu adalah salah satu guru di sana. "Saya Ayano yang bertanggung jawab untuk Kazu-kun dan Eiko-chan. Tadi Sawamura-san sudah menghubungi kami. Silahkan menunggu di dalam, sekalian bermain dengan anak-anak."
"Boleh?"
"Tentu saja." Wanita itu langsung memanggil Kazu dan Eiko, menghentikan kegiatan anak-anak disana, membawa semua perhatian kepada Kazuya. Dua anak yang namanya di panggil mendekat sambil bergandengan, mereka berhenti di hadapan Kazuya dengan tatapan heran.
"Mama kalian tidak bisa datang untuk menjemput hari ini, jadi paman yang datang. Tidak apa-apa, kan?" keduanya sempat saling menoleh sebelum kembali menatap Kazuya dan mengangguk senang. Setelah di persilahkan oleh wanita yang menyambut Kazuya tadi, keduanya langsung membawa Kazuya bergabung dengan teman-teman mereka, bermain mini baseball. Kazuya terkagum-kagum dengan pengetahuan Kazu dan Eiko tentang baseball, mungkin itu sebabnya mereka berdua menjadi pusat di permainan ini.
Karena Kazuya ikut bergabung Eiko memkasanya untuk menjadi cacher. "Paman Miyuki, kan chacer hebat, batter hebat juga, jadi bisa bantu picher juga. Iyakan, Kazu?"
Kembarannya mengangguk, dan karena itu anak-anak lain setuju. Tiba-tiba saja Kazuya merasa menjadi guru olahraga mereka. Sudah begitu guru yang lain lain justru asik menonton dan menjadi pendukung murid-muridnya sendiri. Tapi jujur saja, ini adalah kali pertama Kazuya bisa membaur dengan anak-anak, sebelumnya Kazuya selalu dicap dingin, kaku dan menakutkan oleh anak-anak, jadi membuatnya sedikit menjauh dari anak-anak.
Sampai ada beberapa orang tua anak yang datang menjemput Kazuya bau sadar kalau waktu pulang sekolah anak-anak sudah terlewat setengah jam. Kazuya tidak ingin pembantunya khawatir karena ia tidak membawa pulang Kazu dan Eiko tepat waktu. Jadi cepat, setelah menerima laporan dari guru anak-anak itu Kazuya mengajak keduanya naik ke mobil yang ia parkir tidak jauh dari gerbang sekolah.
"Tadi paman sempat jalan-jalan sebentar sebelum menjemput kalian, dan beli ini. Kalian mau?"
"MAU!" dua batang cokelat yang sempat di tunjukan tadi langsung ia berikan pada dua bocah yang duduk di belakang. Sebenarnya Kazuya ingin membelikan lebih, tapi karena tidak tahu apa yang disuka anak-anak itu, dan setelah bekeliling pusat perbelanjaan kapalanya justru jadi pusing, akhirnya Kazuya memilih untuk beli cokelat. Sukur saja dua anak itu suka.
"Saat kalian berangkat tadi bagaimana keadaan mama kalian?"
"Mama baik-baik saja, katanya hanya sedang flu makanya tidak bisa berangkat kerja." Kazu yang menjawab. Di sampingnya Eiko sudah lebih dulu melahap cokelat pemberian Kazuya.
Sebenarnya Kazuya ingin menanyakan lebih banyak tapi rasanya tidak mungkin. Sawamura Eijun bukan tipe orang tua yang akan mengeluh pada anaknya yang masih kecil. Jadi selama perjalanan singkat menuju rumah dua anak itu Kazuya hanya bertanya hal-hal sepele seperti apa kesukaan mereka dan cita-cita mereka.
Jawabannya, untuk Eiko; suka baseball, cita-cita ingin menjadi guru. Sedangkan Kazu; suka baseball, cita-cita ingin menjadi cukup kuat untuk menjaga Eiko dan mama.
Kazuya sempat terpaku, kagum dengan jawaban Kazu, tapi ia cukup mengerti alasan di balik cita-cita anak laki-laki itu.
"Sudah sampai. Ayo." Keduanya turun, Kazuya juga jadi harus membersihkan sedikit noda cokelat di wajah Eiko dan Kazu sebelum masuk gedung apartemen sedehana di hadapannya dan mencari nomor yang pembantunya berikan. Tapi berkat kedua anak itu Kazuya juga jadi tidak perlu mencari, mereka tahu di mana pintu rumah mereka sendiri.
Setelah menekan bel beberapa kali akhirnya terdengar langkah kaki mendekat. Sosok sang pembantu muncul, penampilannya tidak sekacau yang Kazuya pikirkan, tapi yang lebih mengejutkan adalah aroma feromon yang menyertai Sawamura Eijun. Sangat menyengat, kalau saja Kazuya tidak langsung membekap mulut dan hidungnya mungkin dalam hitungan detik Kazuya sudah terpengaruh aroma itu.
Dengan gerakan cepat juga Kazuya menarik mundur Kazu dan Eiko, mendorong Sawamura untuk masuk dan menutup pintunya lagi sebelum terduduk di depan pintu persis.
"A-aku akan bawa anak-anak ke rumahku dulu. Ja-jangan khawatir, aku akan menjaga mereka. Kalau kau sudah lebih baik kau bisa datang menjemput mereka nanti." Kemudian Kazuya bangun, menggandeng kedua anak di sana untuk ikut dengannya. Dia hanya memberi penjelasan singkat kalau penyakit mama mereka bisa menular untuk saat ini, jadi Kazuya meminta agar Kazu dan Eiko sementara ikut dengannya.
0o0o0o0o0
TBC
0o0o0o0o0
.
13/05/2019
Yey~ akhirnya ada kesempatan buat update chapter duanya. Semoga berkesan dan tidak mengecewakan.
Untuk kalian semua yang mengharapkan adegan panas alias pertarungan pedang alis ena-ena, maaf seribu maaf, ini epep aku rancang buat update pas bulan puasa (walau kayanya nanti berakhir abis lebaran) jadi adegan kaya gitu saya hilangkan, DAN KEBETULAN AKU NGGA BISA BIKINNYA~
Buat kalian yang meninggalkan review, terima kasih banget! Aku cinta kalian! Buat yang nge-favfol juga, terima kasih! Aku sayang kalian!
NGOMONG-NGOMONG INI ULANG TAHUNNYA WAMURA, JADI SEKALIAN AJA
HAPPY BIRTHDAY OUR DUMMY WAMURA!
Semoga makin dicintai fans-fansnya, dan disayang sama semua member Seido lainnya! Semoga Miyuki makin perduli, semoga Koushuu makin gencer ngejar-ngejar biar Miyuki merasa terancam! Sekali lagi,
Terima kasih untuk yang meninggalkan jejaknya.
Segitu aja dariku.
Bye~
