BSD © Asagiri Kafuka & Harukawa Sango
Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)
Dazai Osamu, Nakahara Chuuya
.
0o0o0o0
The most cruel thing we ever did
0o0o0o0
.
Dari dalam ruang penelitian profesor Mori, Yosano bisa melihat dengan jelas Dazai yang duduk diam di salah satu bangku taman, di bawah pohon besar dan teduh. Sudah dua minggu sejak Dazai berkeliling mencari Chuuya. Tempat itu selalu menjadi tempat peristirahatan sementaranya. Di sana dia akan berdiam diri sambil menatap ke langit. Mungkin menerawang keberadaan kekasihnya yang melarikan diri.
Seminggu lalu Yosano sudah memenuhi tugasnya. Ia sudah menyampaikan pesan yang Chuuya titipkan untuk Dazai. Itu adalah tugas tersulit bagi seorang teman, kalau nanti ada kesempatan Yosano bertemu dengan Chuuya lagi, ia akan memastikan Chuuya membayarnya.
Lagi pula Chuuya itu hebat, Yosano mengakuinya. Karena hanya Nakahara Chuuya seorang yang mampu membuat Dazai uring-uringan setelah dia tidak pulang ke apartemen dua hari. Sejak hari dia menitipkan pesan itu (kalau Yosano tidak salah, mungkin lebih tepatnya sejak kembali dari makam Oda siang itu) Chuuya menghilang. Dari yang Dazai katakan Chuuya pamit untuk pergi menyiapkan bahan penelitian profesor Mori bersama dengannya, padahal jelas sebelum Chuuya pergi dengan Dazai bahan penelitian itu sudah Chuuya siapkan sendiri.
Setelah ditanyakan pada profesor Mori, ternyata Chuuya mengajukan libur lebih awal. Alasannya karena ada kepentingan dan harus keluar kota. Ijin itu juga dia minta mendadak di hari yang sama sebelum dia menghilang. Semuanya sangat mendadak dan yang lebih hebat lagi tidak ada satu orang pun yang berhasil menghubungi Chuuya. Dia benar-benar menghilang seperti ditelan bumi.
Yosano sudah berusaha menghubungi keluarga Chuuya, tapi nomor yang ia dapat dari registrasi mahasiswa ternyata sudah tidak aktif, begitu juga alamat keluarga yang tercantum di sana. Entah apa alasannya, yang Yosano tahu sejak awal Chuuya memang sudah misterius, dan salah Dazai sendiri karena tidak pernah benar-benar ingin tahu tentang Chuuya.
Kalaupun Dazai menderita lagi karena ini, untuk yang kali ini, Yosano akan melimpahkan semua kesalahan pada Dazai seorang. Berbeda dengan saat kepergian Oda, kepergian Chuuya kali ini semuanya murni karena kesalahan dan kebodohan Dazai.
Tapi melihat Dazai ada di zona keterpurukan seperti ini untuk kedua kalinya benar-benar berat, sebagai kawan Yosano tidak bisa mengabaikannya. Sebagian dari dirinya juga merasa bersalah karena hari itu dia tidak menahan Chuuya untuk tetap tinggal bersama dengan Dazai. Kalau saja hari itu Yosano tidak mengatakan apa-apa tentang peringatan kematian Oda mungkin Chuuya tidak akan pergi menghilang seperti ini.
Lagi pula, kalau tahu semua kontak keluarga yang dia tinggalkan di bagian registrasi adalah sudah tidak aktif, Yosano tidak akan menerima permohonan Chuuya untuk menyampaikan pesan pada Dazai. Sekarang bahkan Yosano terpaksa menjadi pengganti Chuuya untuk membantu penelitian profesor Mori.
"Yosano-kun."
"Ya, sensei." Profesor kebanggaan Chuuya itu mendekat. Memberikan ia sebuah amplop besar. "Ini apa, sensei?"
"Ada salah satu anak dalam kelasku yang cukup dekat dengan Chuuya-kun, dia kenal Chuuya jauh sebelum pendaftaran masuk universitas, pernah satu apartemen juga, dan katanya saat itu Chuuya-kun datang dengan seorang wanita yang menjadi penanggung jawab sewa apartemen."
Yosano membuka isi amplop besar itu, ada beberapa lembar foto dan satu lembar kartu pos. Wanita dalam foto itu mengenakan kimono berwarna merah muda, cantik, rambutnya yang memiliki warna sama seperti warna rambut Chuuya tertata seperti putri bangsawan yang akan mengikuti perjodohan di jaman Meiji—cantik dengan satu tusuk konde. Chuuya di samping wanita itu jauh lebih muda dari yang dia kenal.
"Seragam SMA?" itu yang Chuuya kenakan dalam foto.
"Ah, kau mungkin tidak tahu, Chuuya-kun dan anak yang mengenalnya itu sudah bergabung dengan seminarku sejak kelas dua SMA. Mereka mahasiswa kehormatan di sini, tapi hanya Chuuya-kun yang tertarik masuk dalam penelitianku." Profesor Mori menarik kartu pos yang terselip di antara foto-foto tadi. "Yang lebih penting, alamat dalam kartu pos ini, kalian harus memeriksanya."
Benar, di kartu pos dengan pesan singkat untuk menjaga kesehatan, dan kabar tentang seorang anak bernama Kyouka yang kini resmi menjadi anggota keluarga mereka ada alamat yang berbeda dari yang ia dapat sebelumnya.
"Sensei, aku pamit dulu untuk hari ini." Tanpa menunggu jawaban, setelah melihat ke arah bangku taman dan mendapati Dazai masih duduk di sana Yosano langsung berlari untuk segera melaporkan hal yang baru dia ketahui ini pada Dazai.
"Akita, Chuuya ada di Akita."
0o0o0o0o0
"Kyouka, katakan pada Kouyou-nee-san aku pergi jalan-jalan sebentar." Anak perempuan berumur empat belas tahun, berambut hitam dengan kimono manis berwarna merah yang barusan disapa mengangguk patuh. Tidak tertarik dengan urusan Chuuya, anak itu kembali bermain dengan boneka kelincinya di beranda.
Chuuya sendiri juga tidak ambil pusing dengan perlakuan anak tadi, pada dasarnya mereka memang bersaudara, tapi tidak satupun dari mereka yang memiliki ikatan darah, karena Kouyou, kakak perempuannya memiliki hobi yang cukup unik, hobi mengangkat anak yang di temukannya sebagai adik, seperti Chuuya dulu.
Berbeda dengan Chuuya, Kyouka adalah anak yang diangkat karena Kouyou memiliki hubungan baik dengan kedua orang dua Kyouka. Anak perempuan asal Akita itu diangkat karena Kouyou merasa bertanggung jawab atas anak kawan baiknya, dan kebetulan momen itu tidak lama setelah kepindahan Chuuya ke Kanagawa. Jadi mungkin kakak perempuannya itu membutuhkan seseorang yang akan menggantikan Chuuya menemani dia tinggal di Fukuoka.
Sudah hampir sebulan Chuuya pulang ke rumah kakak perempuannya di Fukuoka, dan sampai saat ini perasaan bersalah karena meninggalkan Dazai begitu saja masih menggerogoti isi dadanya. Sesekali sesak, sesekali perih, bahkan pernah sampai tidak berani menarik napas karena terlalu sakit menahan perih. Kadang saat malam datang Chuuya jadi sulit tidur, ada rasa rindu yang minta dipuaskan, rasa rindu untuk tidur dalam pelukan Dazai seperti sebelumnya.
Tapi keputusannya sudah bulat hari itu, ia tidak ingin terus berada pada zona tersakiti dan menyakiti yang sama terus. Ia ingin kakinya berpijak di tempat yang bukan milik orang lain, tidak ingin menjadi pengganti bagi siapapun lagi. Jadi sampai saat itu, sampai Chuuya memiliki keberanian untuk datang memperkenalkan diri sebagai dirinya sendiri, ia tidak akan kembali ke Kanagawa. Tidak akan menemui siapapun yang dikenalnya di sana, termasuk Dazai.
Setelah di diskusikan juga, Kouyou tidak keberatan jika Chuuya mengajukan untuk pindah universitas. Chuuya tidak mengatakan alasan sebenarnya, tapi ia yakin kakak perempuannya itu tahu kalau ada alasan lain kenapa Chuuya menolak kembali ke Kanagawa.
Tidak jadi mengambil gelar dokternya juga tidak masalah, setidaknya dengan semua ilmu yang sudah ia dapat selama ini sudah cukup untuk membuatnya layak merawat Kouyou dan Kyouka. Ikut membantu Kouyou mengurus penginapan dan pemandian air panas milik keluarga mereka justru jauh lebih baik saat ini. Meringankan kerja sang kakak artinya bisa membantu kakaknya untuk lebih banyak beristirahat. Hitung-hitung balas budi setelah Kouyou memungutnya dari rumah ayah tirinya dulu.
Kouyou adalah dewi penyelamatnya, dulu maupun sekarang.
Tinggal kembali bersama Kouyou mengingatkan Chuuya bahwa ada orang yang akan perduli padanya, ada orang yang mau menatapnya, ada orang yang mau memberinya tempat tinggal tanpa perlu menjadi orang lain, dan akan selalu ada orang yang membalas kasih sayangnya. Kembali ke sisi kakak perempuannya menyadarkan Chuuya akan seberapa bodoh dirinya yang menawarkan kontrak menyakitkan untuk tinggal disisi Dazai.
Cintanya terlalu buta, bahkan tuli pula. Tapi sekarang Chuuya akan belajar untuk merelakan apa yang tidak bisa ia raih. "Setiap orang memiliki hal yang bisa dan tidak bisa ia lakukan ... dan karena aku bisa, makanya aku membawamu bersamaku." Itu yang pernah Kouyou katakan padanya dulu.
Butuh waktu yang cukup lama mungkin, tapi Chuuya akan memastikan dirinya bisa lepas dari bayang-bayang Dazai.
"Chuuya."
"Kouyou-nee-san. Kenapa ada di sini?" Wanita cantik nan anggun yang berjalan mendekat padanya ini tahu lebih banyak tentang dirinya ketimbang Chuuya pribadi. Dia tidak pernah marah, tidak pernah menolak permintaan Chuuya dan tidak pernah meninggalkan Chuuya sendiri. Tapi karena satu nama manusia yang membuat Chuuya jatuh cinta, kini wanita itu ikut merasakan susahnya juga.
"Jalan-jalan, sama sepertimu. Ah, harusnya tadi aku ajak Kyouka, jadi kita bisa pergi makan Dango bersama." Chuuya tertawa pelan, menjelaskan bahwa adik mereka terlalu asik main pesta teh dengan boneka kelincinya.
"Kalau begitu ayo mampir dan belikan dia beberapa tusuk Dango."
"Boleh juga."
0o0o0o0o0
Dazai hanya bisa berdiri diam melihat rumah di hadapannya. Rumah besar, bergaya Jepang dengan halaman yang lumayan luas, bahkan dari tempatnya berdiri saat ini Dazai bisa melihat ada kolam kecil di tengah halaman itu. Rumah yang cukup mewah jika saja terawat dengan benar.
Alamat dari kartu pos yang Yosano berikan benar-benar menunjukan kalau ini rumahnya, tapi Dazai yakin kalau sudah lebih dari satu tahun rumah ini tidak berpenghuni. Rumput liar, kolam dengan air hijau pekat, dan sampah daun yang berserakan sudah cukup menjadi bukti baginya. Dan yang lebih mengejutkan nama yang tertulis di pagar depan bukan Nakahara melainkan Ozaki.
Padahal baru beberapa minggu dirinya kehilangan Chuuya, tapi melihat keadaan rumah yang disambanginya ini rasanya seperti sudah beberapa tahun Chuuya menghilang dari hidupnya.
Dazai menyesal tidak pernah benar-benar mengenal Chuuya. Ia menyesal tidak benar-benar menjaga dan melihat ke arah Chuuya selama ini. Dan yang paling ia sesali adalah kenyataan ia tidak sempat mengatakan apa-apa di depan makam Oda waktu itu.
"Ano, permisi." Dazai menghentikan salah satu pejalan kaki di sana. Seorang wanita paruh baya yang membawa kantung belanja. "Ini benar rumah Ozaki Kouyou, kan?" untuk jaga-jaga Dazai menyerahkan dua lembar foto dan kartu pos yang dibawanya, barang kali akan lebih mudah di kenali jika seperti itu.
"Oh, Kouyou-san. Ah, iya-iya, dia pernah tinggal disini, setelah orang tua Kyouka-chan meninggal dia yang menemani Kyouka-chan tinggal disini untuk beberapa bulan, tapi mereka sudah lama pindah."
"Pindah?"
"Iya, katanya mereka pulang ke rumah Kouyou-san di Fukuoka."
Dalam hati Dazai mengeluh, mendengar nama kota lain yang berlawanan arah dengan tempat yang ia datangi saat ini. Tapi sisi lain dalam dirinya bersyukur, hanya tinggal sedikit lagi, sedikit lagi ia bisa menemukan Chuuya dan bertanya alasan kenapa Chuuya pergi meninggalkannya.
"Boleh aku tahu alamat baru mereka?"
Wanita paruh baya itu terlihat sedikit tidak suka, tapi setelah membalik dan membaca isi kartu pos yang Dazai tunjukan dia mengangguk. Mengajak Dazai untuk ikut ke rumahnya.
"Aku tidak tahu di mana alamat mereka yang sekarang, yang aku tahu hanya Kouyou-san pemilik penginapan dan onsen di Fukuoka." Dazai menunggu sambil duduk di ruang tamunya, sedangkan wanita itu sibuk membongkar isi laci-laci yang ada di dekat mereka. Cukup lama sampai akhirnya dia menemukan satu lembar brosur pengingapan dan pemandian air panas di daerah wisata Fukuoka.
"Kalau boleh tahu, kau siapanya mereka?"
Ragu sesaat, tapi kemudian dengan sedikit rasa bangga Dazai menjawab, "Saya kekasih adik Kouyou-san. Sekarang kami sedang ada sedikit salah paham dan dia pulang ke rumah kakaknya, tapi—"
"Ah, ya-ya, aku paham. Anak muda jaman sekarang kalau ada masalah rumah tangga memang selalu kabur ke rumah orang tua atau keluarganya. Dasar." Sebenarnya Dazai ingin membantah pernyataan barusan, tapi biarlah, untuk saat ini yang terpenting baginya adalah menemukan di mana Chuuya.
"Kalau begitu terima kasih banyak."
"Hm, cepat berbaikan dengan istrimu."
Entah bagaimana menjelaskannya, Dazai pikir kalau memang benar Chuuya istri mungkin semua ini akan lebih mudah, setidaknya jika Chuuya benar-benar istrinya maka saat ada kesalahpahaman kecil yang membuat mereka berpisah seperti ini Dazai sudah tahu siapa yang akan didatangi Chuuya, alamat mana yang akan jadi tempat pelarian Chuuya, iya, andai saja seperti itu, mungkin akan jauh lebih mudah.
Brosur kecil berisi gambaran penginapan dan pemandian air panas yang ia dapat mungkin juga bukan tempat Chuuya berada sekarang, tapi setidaknya, untuk kali ini ia ingin memastikan kalau dirinya bisa sedikit lebih mengenal Chuuya.
Dazai ingin tahu siapa Ozaki Kouyou dan Kyouka itu. Dazai ingin tahu di mana kampung halaman Chuuya yang sebenarnya, siapa orang tua Chuuya, dan seperti apa Chuuya tumbuh dulu, di mana Chuuya biasa bermain, apa saja yang Chuuya suka sejak kecil. Dazai ingin tahu lebih tentang Chuuya, sampai rasanya tidak mungkin lagi bagi Chuuya bersembunyi darinya. Dazai ingin tahu semua hal tentang Chuuya sampai tidak ada lagi hal yang perlu ia takuti lagi.
Ini namanya egois. Dazai sudah pernah merasakannya dulu, dan ingin merasakannya sekali lagi.
0o0o0o0o0
"Chuuya, masuk, terlalu lama di luar kau bisa masuk angin."
Padahal langit malam itu cukup indah untuk ditonton sepanjang malam, tapi memang benar, udara disana jauh lebih dingin dari pada saat masih di Kanagawa.
"Aku dapat telepon dari Nyonya Lee, tetangga Kyouka di Akita. Katanya ada yang mencarimu kesana."
"Siapa?" kakaknya mengendikan bahu.
Sekali lagi, sebelum meninggalkan halaman samping rumahnya Chuuya menatap ke langit terang malam itu. Kalau ada Dazai di sana Chuuya ingin menghabiskan sepanjang malam sambil melihat bintang di samping Dazai. Tidak banyak yang ingin ia lakukan, Chuuya hanya ingin Dazai ada di sampingnya, menjadi seseorang yang membagi kehangatan bersama dengannya di saat seperti ini.
Sayang, itu hanya angan. Mungkin nanti malam ia bisa memimpikan hal seperti itu untuk sedikit mengobati diri dari rasa perih tersiksa rindu ini.
"Seorang pria. Katanya seperti habis kecelakaan. Banyak perban ditubuhnya."
"Hah?"
"Orang yang mencarimu ke Akita itu."
Dazai. Nama itu menjadi satu-satunya yang terpikir dan seratus persen Chuuya yakin, Dazai yang mencarinya ke Akita. Tapi kenapa?
Chuuya tidak pernah berpikir kalau Dazai akan mencarinya.
0o0o0o0o0
Fukuoka luas, dan mencari satu penginapan dengan pemandian air panas di sana itu susah-susah gampang walau sudah membawa brosur tempatnya. Belum lagi ini adalah kali pertama Dazai datang ke sana.
Sambil menyusuri jalan pasar kecil yang ia yakini sebagi pusat oleh-oleh disana Dazai mulai bermain tebak-tebakan, kehidupan seperti apa yang Chuuya jalani di tempat seperti ini. Otaknya mulai berimajinasi Chuuya yang biasanya pergi kemana-mana dengan celana jeans akan berjalan menyusuri pasar kecil itu dengan kimono.
Chuuya yang biasanya meangkah lebar untuk mengejar Mori-sensei, dan mondar-mandir mengurus penelitian sambil berlindung dibalik jas putih di tempat ini mungkin akan berjalan dengan langkah yang lebih pendek, menyapa satu persatu penjual yang ada di sana dan tersenyum ramah.
Chuuya-nya ...
"Chuuya!"
Kimono berwarna merah hati membalut tubuh kurus dengan kulit putih itu. Dazai baru sadar kalau ternyata wajah Chuuya bisa sangat bersinar saat rambutnya diatur ke samping, poninya di potong pendek, dan matanya terlihat dengan jelas.
Rasanya tidak sia-sia dirinya langsung terbang ke Fukuoka setelah mendapat brosur kemarin. Karena tanpa di duga, hari ini juga ia langsung bisa menemukan orang yang dicari-cari.
"Dazai." Iris biru yang memantulkan bayangangannya sudah cukup menjelaskan seberapa kaget Chuuya dengan kedatangannya. Dazai sendiri kaget dirinya bisa sampai di tempat ini untuk mencari Chuuya, tapi lebih dari itu, Dazai bersyukur ia bisa langsung menemukan Chuuya. "Ke-kenapa kau ada di sini?"
"Kenapa? Tentu saja mencarimu." Ada ratusan pertanyaan yang ingin Dazai katakan pada kekasihnya ini, tapi di antara ratusan pertanyaan itu hanya satu yang jawabnnya benar-benar ingin ia dengar sekarang. "Nah, kenapa kau pergi dari aku?"
Di tengah lalu lalang jalan pasar oleh-oleh kecil itu ia tahan kekasihnya, satu lengan Chuuya susah ada di gengamannya, berjaga-jaga agar sang kekasih tidak melarikan diri lagi.
"Kalau ada masalah katakan padaku. Kalau aku berbuat salah juga tolong katakan. Jangan menghilang mendadak."
"Ah, itu ... maaf. Tapi aku—"
"Aku sudah dengar kau mengajukan pengunduran diri."
Chuuya yang ada di hadapannya masih sama tapi juga terlihat berbeda. Bukan karena kimono yang dikenakan, tapi cara Chuuya memandangnya yang berbeda. Seperti melihat hantu, atau alien, makluk asing yang seharusnya tidak muncul di sana—Chuuya memandangnya dengan cara seperti itu.
Saat itu, untuk kali pertama dalam hidupnya Dazai sadar kalau dirinya tidak ingin Chuuya membencinya.
Padahal dulu, kalau diingat bagaimana pertemuan mereka, Dazai hanya memanfaatkan keberadaan Chuuya untuk mengusir sepi setelah Oda pergi. Tapi entah sejak kapan, sosok Chuuya yang selalu datang dan menjadikan dirinya sebagai prioritas utama jadi begitu penting, sampai rasanya dua hari Chuuya tidak kembali ke apartemen mereka saja sudah cukup untuk membuat Dazai hampir gila.
Setelah dua minggu mencari kesana kemari tanpa petunjuk sedikitpun, dan kemudian sekarang setelah ada sedikit petunjutk ia bisa langsung menemui orang yang dicari-cari, seperti mendapat keajaiban. Bukan sekedar beruntung saja.
"Chuuya, aku—"
"Maaf, Dazai. Aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun. Bisa kau pergi saja?"
"Hah? Kenapa?" sakit bukan main. Dazai baru tahu ini kalau sesakit ini rasanya ditolak. "Aku datang untuk bertemu denganmu. Aku tidak akan kembali sampai kau mau mengatakan kenapa tiba-tiba kau memilih pergi."
Butuh lebih dari satu menit sampai Chuuya menjawabnya. "Aku—aku pikir lebih baik jika kita sudahi saja hubungan kita. Aku dan dirimu, kita tidak bisa bersama—tidak maksudku, aku sudah tidak sanggup untuk bersama denganmu."
"Tapi kenapa?"
Sepasang mata yang takut-takut menatapnya itu mulai basah, mulai memerah. Disaat yang sama Dazai mulai merasa sakit yang menyiksa dadanya. Dazai tidak ingin Chuuya menangis, apapun alasannya. Ia tidak ingin kekasihnya ini menitihkan air mata.
"Aku ingin tetap bersama denganmu, Chuuya. Aku sudah sangat mencintaimu—"
"Tidak!" lengan tangannya ditarik bebas paksa dari genggaman Dazai. "Tidak. Yang kau cintai bukan aku."
Dazai baru ingin menpertanyakan apa maksudnya, tapi Chuuya sudah lebih dulu menjelaskan. "Kau tidak mencintai aku. Yang kau cintai itu mendiang Oda. Dalam hatimu tidak ada tempat untuk diriku, sudah tidak mungkin juga bagiku untuk menyusup masuk ke dalam sana dan tinggal di sana. Itu sebabnya aku pergi, karena ... aku sudah terlalu lelah."
Dadanya bergemuruh. Dazai marah, tapi bukan pada Chuuya, melainkan pada dirinya sendiri.
Lelah, Chuuya bilang. Orang sekeras kepala Chuuya mengeluh tentang lelah. Oh, dewa, tiba-tiba saja Dazai merasa menjadi makhluk paling jahat di dunia. Ingatan-ingatan tentang semua sikap dan tingkahnya menyadarkan Dazai bahwa dirinya sendiri sudah menjadi algojo yang menyiksa Chuuya setiap hari untuk kejahatan yang bukan milik Chuuya.
Dia hanya mencintai Dazai dulunya, tapi dia berhenti dan memilih untuk melarikan diri karena rasa lelah, dan semua itu jelas salah Dazai.
Sekarang apa yang bisa Dazai lakukan untuk membawanya kembali bersama? Apa yang harus Dazai tunjukan agar Chuuya percaya kalau dirinya sudah benar-benar jatuh cinta pada kehadiran Chuuya?
"Sudah, ya."
"Tidak. Tunggu dulu." Sekali lagi lengan yang lebih kurus darinya itu ia genggam, kali ini lebih kuat. Berjara-jaga takut Chuuya memberontak, walau rasanya sedikit tidak mungkin mengingat mereka masih ada di tengah pasar kecil itu. Terlalu banyak orang yang akan menonton jika mereka membuat keributan. "Aku tahu aku salah sebelumnya, tapi aku sudah benar-benar lepas dari bayang-bayang Oda. Sungguh, Chuuya, percayalah."
"Kalau semudah itu untuk berhenti mencintai seseorang, kita pasti tidak akan pernah menderita." Pelan, tapi kalimat itu terasa memukul kuat dadanya.
"Aku ... aku masih mencintai Oda." Karena jelas bohong kalau Dazai bilang sudah tidak mencintai Oda. "Tapi aku juga sudah menerima keberadaanmu. Bukan hanya itu, aku juga tidak ingin kehilanganmu. Aku tahu ini egois, tapi kumohon, Chuuya, jangan tinggalkan aku. Kau tidak pernah menjadi penjara bagiku, percayalah."
Dazai maju satu langkah, punggung tangan Chuuya dalam genggamannya dikecup cukup lama. "Aku sendiri tidak mengerti, aku hanya tidak ingin kau pergi. Aku ingin kau tetap ada di sisiku. Chuuya, aku mohon, ayo kembali bersama denganku."
Iris biru yang menatanya bergoyang pelan. Ragu yang dirasa Chuuya tersampaikan dengan jelas hanya dengan menatap sepasang mata itu. Rasanya menakutkan untuk membayangkan hidupnya ke depan nanti tanpa Chuuya.
Ia pernah sekali kehilangan orang terkasih, waktu itu tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima takdir yang memisahkan mereka, tapi kali ini ia bisa melawan takdir itu, makanya tidak akan ia biarkan Chuuya juga ikut menghilang seperti Oda dulu.
"Aku mohon, Chuuya, ayo kembali bersama denganku."
0o0o0o0o0
.
14:20 29/04/2019
Gimana untuk kalian yang baca ini sampai disini?
Kalian puas? Kalian nyesel?
Jawaban Chuuya untuk Dazai aku serahkan pada imajinasi kalian. Diterima atau ditolak silahkan kalian yang menentukan~
Oh ya, (mengingtkan) fanfik ini aku dedikasi untuk ulang tahun MY BABY CHUUYA.
Terima kasih untuk yang meninggalkan jejaknya.
Segitu aja dariku.
Bye~
