MY DAY WITH YOU
Keseharian Hinata dan Naruto, asam manis cinta yang mereka berdua rasakan.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem
Rated T
Pair saia kali ini : NaruHina :D
Warning : Typo, OOC, plus rada-rada gaje hihi~
.
.
.
.
Chapter 2 : My Sister
"Kakak!" teriakan seorang gadis kecil yang berasal dari dapur.
TAP,,TAP,, Langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa langsung menghampiri ke arah suara teriakan itu. "Ada apa Hanabi?" tanya Hinata khawatir karena pagi-pagi seperti ini adiknya yang satu itu sudah berteriak. Namanya Hyuga Hanabi adik Hinata satu-satunya, karena sudah hampir empat tahun Ayah dan Ibu mereka sedang sibuk bekerja di luar negeri jadinya kini hanya mereka berdua yang tinggal di rumah sebesar ini.
"Hehehe~ tidak ada apa-apa kok~" ucapan Hanabi itu sukses membuat Hinata sedikit kesal, sepertinya dia dikerjai oleh adik kecilnya ini.
"Apa maksudmu berteriak tadi?!" ujar Hinata kesal.
"Ah! Aku hanya ingin menguji kakak, apakah kakak masih khawatir denganku kalau aku berteriak seperti tadi, hehehe~ " jawabnya seraya meninggalkan Hinata yang masih membatu di sana.
"Hei!" teriaknya kesal. Adiknya yang satu itu memang sering sekali menjahilinya, itulah mengapa Hinata sedikit kesal jika diajak berurusan dengan anak kecil. Pagi-pagi seperti ini dia sudah dikerjai, Huh!
OoOoOoO
Selama perjalanan ke sekolah, Hinata masih memasang tampang masam. Membuat Naruto sedikit khawatir dengan keadaan pacarnya yang satu ini. Karena sejak ia menjemput Hinata seperti biasanya, Hinata sudah bermuka masam seperti sekarang ini.
"Kau kenapa Hinata?" tanyanya.
Hinata tersentak ketika Naruto tiba-tiba menanyai keadaannya, "Eh! Ti..tidak apa-apa kok!" ujarnya sedikit panik.
"Pasti Hanabi ya?"
Lagi-lagi Hinata terkejut, seakan Naruto bisa membaca pikirannya saja. Ia mengangguk pelan. "Iya, entah kenapa Hanabi suka sekali menjahiliku." Bisiknya.
Naruto langsung tersenyum senang mendengar penjelasan Hinata, sepertinya dia tahu harus melakakukan apa sekarang. "Pasti dia punya alasan sendiri kenapa dia berbuat seperti itu."
Mendengar ucapan Naruto, membuatnya berpikir kembali. 'Apa benar?' pikirnya dalam hati.
.
.
.
Skip Time
Bel pulang sekolah telah berbunyi, murid-murid yang lain pun langsung merapikan buku-buku mereka dan ingin segera cepat pulang atau mungkin mampir ke tempat lain.
"Jaa! Hinata kami pulang duluan ya!" teriak Ino, Sakura, Tenten, dan Temari. Inginnya sih mereka mengajak Hinata pulang bersama, tapi apa daya kalau Hinata sudah ditunggu oleh pacar tersayangnya itu. Yah~
"I..iya, hati-hati di jalan ya teman-teman!" ujarnya cepat.
"Hinata ayo kita pulang!" Naruto menghampiri bangku Hinata, kini yang tersisa hanya tinggal mereka berdua di kelas.
"I..Iya, Naruto-kun." Hinata dengan cepat merapikan buku-bukunya, tidak ingin membuat pemuda di sampingnya menunggu lama. Saking cepat-cepatnya Hinata tak sengaja menyenggol kotak pensilnya, dan alhasil kotak pensil itu terjatuh dan isinya bertaburan kemana-mana.
"Eh!" pekiknya kaget, Naruto hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku Hinata. padahal gadis itu tidak perlu cepat-cepat seperti itu.
"Hahaha~ Hinata kau tak perlu cepat-cepat seperti itu!" ucapnya seraya membantu Hinata memungut kembali isi-isi kotak pensil gadis itu. Hinata tersenyum kikuk.
"Ma..maaf Naruto-kun, hihi~" Dia pun ikut tertawa. Mereka berdua masih mencoba mencari-cari pensil Hinata yang hanya tersisa satu belum ditemukan. "Ah! Itu dia!" teriak Naruto dan Hinata bersamaan. Ternyata pensil itu terjatuh tepat di bawah meja guru, dengan cepat mereka mengambil pensil itu, sedikit kesusahan sih.
DUK,, Tak sengaja kepala mereka sama-sama terbentur. "Aww!" pekik mereka bersamaan lagi.
"Kau tidak apa-apa Hinata?" ujar Naruto, melihat Hinata yang masih mengusap-usap kepalanya yang terbentur tadi. Pensil itu sudah berhasil diambil Naruto.
"Ti..tidak apa-apa Naruto-kun, hanya sedikit sakit saja." Jawabnya pelan.
Naruto perlahan menghampiri Hinata, "Maaf ya.." ujar Naruto lagi seraya mengusap puncak kepala Hinata. "Eh?! Ti..tidak apa-apa kok, Naruto-kun. Ini kan hanya terbentur saja, lagipula tadi kau juga terbentur kan?"
"Aku sih tidak apa-apa."
CUP...
Naruto mencium puncak kepala Hinata, membuat gadis itu tersentak kaget. Wajahnya langsung memerah. " -kun?" ujarnya gugup.
"Sakit..sakit pergilah~" Naruto tiba-tiba mengucapkan sesuatu sambil mengusap kepala Hinata lembut.
"A..apa yang kau katakan itu Naruto-kun?" tanya Hinata.
"Hanya sedikit mantra, agar rasa sakit itu hilang!" teriaknya senang. Hinata pun tertawa mendengar ucapan pemuda di depannya ini. "Hihi~, sepertinya rasa sakitnya sudah hilang." ucapnya sambi tertawa kecil.
"Ohh! Baguslah! Hahaha! Kalau begitu ayo kita pulang, aku mau mengajakmu ke suatu tempat."
"Tempat apa Naruto-kun?" tanyanya, Naruto hanya bisa tersenyum kecil sambil mengatakan "Rahasia." Membuat Hinata makin penasaran.
.
.
.
Ternyata Naruto mengajak Hinata ke sebuah sungai, disana ia bisa melihat anak-anak kecil bermain dengan riang dan juga... 'Ah! Itu kan Hanabi!' pekiknya dalam hati, Naruto yang sepertinya bisa membaca pikiran Hinata langsung menghampiri gadis itu.
"Sepertinya kau sudah bisa melihatnya." Ucap Naruto. Hinata hanya bisa mengangguk.
"Baiklah! Hinata kau ingin tahu kan kenapa Hanabi itu sering menjahilimu?" ujar Naruto, Hinata tersentak kaget ketika Naruto menanyainya. Dan itu memang benar sih, Dia memang ingin sekali tahu sebabnya.
"I..iya Naruto-kun.." jawabnya pelan.
"Kalau begitu aku punya ide, Ayo ikut aku!" teriaknya seraya menggandeng tangan Hinata.
Mereka berdua perlahan-lahan berjalan mendekati ke tempat dimana Hanabi dan teman-temannya bermain, "Na..Naruto-kun kita sebenarnya mau ngapain?" tanyanya penasaran.
Naruto hanya menyuruh Hinata agar tidak bersuara keras. Mereka berdua sekarang sedang bersembunyi di sebuah pohon yang sangat besar, cukup untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Coba kau dengar apa yang mereka bicarakan." Bisik Naruto.
'Apa yang sedang dibicarakan oleh mereka?' pikirnya mencoba mempertajam pendengarannya.
OoOoOoOo
"Hei Hana-chan, aku boleh tanya nggak?" tanya seorang anak laki-laki pada Hanabi.
"Boleh kok." Jawabnya sambil masih bermain dengan lompat talinya.
"Kenapa ketika pengambilan raport dua hari lalu, Ayah dan Ibumu tidak hadir?"
DEG, mendengar pertanyaan temannya, Hanabi langsung menghentikan permainan talinya. Ia bingung mau menjawab apa. "E..E..itu karena..." tidak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa Hana-chan?" tanya teman-temannya yang lain ikut membarengi.
"Karena.. mereka sedang..sibuk.." bisik Hanabi tapi masih bisa didengar oleh yang lain.
"Lalu apa mereka tidak khawatir sama sekali denganmu Hana-chan?" tanya mereka lagi.
"E..A..ku tidak tahu.." Hanabi benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, karena apa yang temannya katakan itu memang benar. Dia juga berpikir bahwa Orangtuanya tidak pernah sedikit pun merasa perhatian dengannya.
"Kasihan sekali kamu Hana-chan," ujar temannya lagi.
'Jangan kasihani aku!' pekiknya dalam hati, Ia tidak mau dikasihani oleh orang lain apalagi temannya sendiri. Tapi apa daya mulutnya terasa kelu untuk mengatakan hal itu. Jadi Dia hanya bisa terdiam.
"Pasti kakakmu yang perempuan itu juga tidak pernah perhatian denganmu ya?!" Teriak seorang temannya lagi.
DEG, Hinata yang dapat mendengar itu langsung merasa bersalah pada Hanabi, adiknya itu pasti berpikir seperti itu juga. Hinata sekarang hanya bisa tertunduk menahan airmatanya yang ingin turun. 'Aku memang tidak pernah perhatian dengan Hanabi..' pikirnya, tiba-tiba flashback kejadian Hanabi yang menjahili Hinata tadi pagi kembali terngiang di kepalanya.
"Ah! Aku hanya ingin menguji kakak, apakah kakak masih khawatir denganku kalau aku berteriak seperti tadi, hehehe~ "
Hatinya kembali merasa semakin bersalah. "Hinata..." panggilan Naruto menyadarkannya.
"I..iya Naruto-kun.." jawabnya seraya mengusap pelan airmata yang hampir turun membasahi pipinya.
"Percayalah pada Hanabi.." Hinata tidak mengerti maksud Naruto berkata seperti itu, sampai..
"Kakakku selalu perhatian denganku!" teriak Hanabi kencang. Membuat semua temannya terdiam, merasa bersalah karena sudah berbicara seenaknya tadi.
"Hanabi.." bisik Hinata pelan. Air mata yang ia tahan perlahan jatuh kembali. Naruto tersenyum melihat reaksi Hanabi.
"Biarpun..biarpun Ayah dan Ibu sibuk bekerja di luar sana, Kakakku selalu perhatian denganku. Jadi kalian jangan asal bicara!" teriak Hanabi sekali lagi kini air matanya juga ikut turun. "Ja..jadi kalian ja..jangan bi..bicara yang tidak..tidak tentang kakakku, hiks..hiks." isaknya semakin kencang.
"Ma..maafkan kami semua Hana-chan, kami hanya menyayangimu dan tidak ingin kamu kesepian, hiks,,hiks.." anak-anak lain kini ikut menangis, dan membuat Hanabi semakin mengencangkan tangisannya.
"Huaa!" isaknya.
"Hiks,,hiks..Hanabi.." Hinata kembali terisak, Naruto yang melihat itu langsung mengecup pelan puncak kepala Hinata dan memeluknya lembut, mencoba menenangkan gadis yang dicintainya itu.
"jadi kau sekarang sudah tahu kan, kenapa Hanabi sering sekali menjahilimu." Ujar Naruto pelan.
"I..iya,, hiks..hiks."
"Ayo kita temui mereka semua." Pinta Naruto yang dijawab anggukan pelan dari gadis yang dipeluknya sekarang. Naruto menggandeng tangan Hinata dan berjalan keluar dari tempat mereka bersembunyi tadi.
"Hanabi!" teriak Naruto yang membuat gadis kecil yang sedang menangis itu menoleh kearah suara Naruto, dan dia seketika kaget melihat ternyata Hinata sudah ada disana.
"Ka..kakak!" teriaknya.
Hinata perlahan berjalan mendekati adik kecilnya itu, Hanabi benar-benar takut dimarahi Hinata. "Ma..maaf kak.." ujarnya takut seraya berjalan mundur.
GREP, Kaget Hanabi benar-benar kaget, Ia kira kakaknya akan memukulnya. Tapi ternyata..
"Kakak.." ucapnya lagi.
"Dasar adik bodoh,," Hinata memeluk Hanabi erat, pundaknya semakin bergetar karena menangis.
"Kelakuanmu itu benar-benar membuat kakak khawatir tahu?!" bentaknya keras.
"Ma..maaf kak, aku hanya tidak ingin kakak pergi jauh seperti Ayah dan Ibu! Aku takut!" ujarnya disela-sela tangisannya.
"Dasar bodoh, Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Benarkah?! Janji ya kak!" teriak Hanabi seraya menghapus air matanya dan airmata Hinata. Senyum ceria kembali tersungging di pipi mungilnya, membuat Hinata ikut tersenyum juga.
"Iya, kakak janji!" ujarnya senang.
"Nah..nah, karena semua masalah sudah terpecahkan, bagaiman kalau sekarang kita bermain bermain bersama!" teriak Naruto memeriahkan suasana. Semuanya langsung mengangguk setuju. "Iya!" teriak mereka bersamaan.
.
.
.
Akhirnya semua bermain dengan ceria, melupakan semua kejadian tadi. Naruto dan Hinata yang terlihat sudah kelelahan pun hanya bisa beristhirahat sambil melihat Hanabi dan teman-temannya masih bermain tanpa ada rasa kelelahan sedikit pun.
"Lihat mereka! Hahaha!" teriak Naruto melihat kelakuan anak-anak kecil itu. Hinata hanya bisa tersenyum melihat Naruto, "Arigatou Naruto-kun." Bisiknya pelan.
Karena hari sudah menjelang sore, permainan pun terpaksa dihentikan dulu. Kini mereka semua sudah terbaring kelelahan di padang rumput di dekat sungai itu.
"Oh iya! Kakak boleh tanya tidak?" tanya seorang anak kecil pada Naruto.
"Boleh kok!"
"Sebenarnya kakak ini siapanya Kakak Hinata sih?" tanya mereka masih memasang tampang polosnya. Hinata yang mendengar itu langsung blushing. Pertanyaan temannya itu membuat Hanabi mengeluarkan seringaian kecilnya.
"Kalian tidak tahu ya, Kakak Naruto itu calon suaminya Kakakku!" teriaknya kencang, sontak membuat Hinata tersedak. "Ha...Hanabi!" ujarnya malu.
"Benarkan Kak Naruto?" mata Hanabi memandang manik Naruto.
"Yup, Benar Sekali!" Naruto malah mendukung perkataan Hanabi membuat Hinata tidak bisa menahan semburat merah di pipinya.
"Ka..kalian ini!" teriaknya masih malu, tapi sepertinya tidak dihiraukan oleh keduanya.
"Wah yang benar! Kalau begitu undang kami ya kalau nanti Kakak mau menikah!" ucap teman-teman Hanabi masih dengan tampang polos mereka.
"Tentu saja!" ujar Naruto lagi.
"Kalau begitu karena sudah hampir sore, kita semua mau pulang dulu ya! Jaa Hanabi, Kak Hinata, dan suaminya!" teriak mereka seraya berlari meninggalkan ketiga orang itu.
oOoOoOoOo
'Suaminya!' pekik Hinata.
"Heheheh~ sepertinya wajah kakak merah tuh!" ledek Hanabi ketika melihat wajah kakaknya sudah semerah kepiting rebus.
Naruto ikut membarengi sambil mengeluarkan seringaiannya, "Sudah pasti kan karena..."
CUP, Naruto mengecup bibir Hinata singkat. Membuat pipi Hinata semakin memerah.
"Kau akan menjadi calon istriku Hinata!" lanjutnya dan langsung berlari meninggalkan Hinata yang masih diam membeku karena ciuman singkat Naruto, begitu pula dengan Hanabi yang ikut berlari. "Hahaha!" tawanya melihat kondisi kakaknya sekarang.
Setelah otaknya kembali berfungsi (?) Hinata berteriak kesal sambil berlari mengejar pacar dan adiknya yang sama-sama suka menjahilinya itu.
"Naruto-kun! Hanabi! Awas kalian!"
'Yah mungkin ide itu tidak buruk juga.' pikirnya dalam hati.
TO BE CONTINUED...
Saia kembali lagi minna! #digeplok sandal#, Karena ceritanya memang sedikit jadi aku dengan cepat langsung bisa mengupdate cerita ini, hihi~. Jadi kalau mau me riview...
Silakan~~ :D ^^
