For My Family
Summary : Bagaimana jika cincin Vongola yang sebenarnya (yang ada di Future Arc saat Giotto muncul di hadapan Tsuna) sudah berada di tangan Tsuna sejak dulu? Tidak ada yang aneh dari kehidupan Tsunayoshi Sawada—selain masa lalunya yang merupakan anak kandung dari Vongola primo. Terkirim ke masa 400 tahun setelah masa ayahnya, saat Giotto Vongola tewas setelah mengunci kekuatan cincin Vongola dan memberikannya pada Tsunayoshi. Bagaimana jika bukan Tsuna yang menjadi kandidat dari Vongola Decimo karena ia hanya dianggap sebagai anak angkat dari Iemitsu yang merupakan keturunan dari Vongola Primo—tetapi saudara angkatnya?
Disclaimed : KHR © Amano Akira
Rating : T
Genre : Family/Friendship
Warning : Semi-AU, OOC
.
Chapter 2, Vongola—Unexpectable Meeting
.
"Hah, kau ingin melindungi Tsuna hanya dengan kekuatan seperti ini?" G tampak membungkuk dan menatap anak laki-lakinya yang baru berusia 6 tahun di depannya itu dengan senyuman mengejek, "bahkan untuk melindungi dirimu sendiri saja tidak bisa…"
"Jangan meremehkanku kakek tua! Aku pasti akan semakin kuat dan bisa melindungi Tsuna! Lihat saja, kau akan lihat sendiri bagaimana aku bisa menjadi tangan kanan yang bahkan lebih hebat darimu! Akan kutunjukkan didepan matamu sendiri!"
Mendengar perkataan itu, G hanya bisa diam dan menatap Hayato dengan tatapan datar dan sedikit terlihat sedih. Ia ingin melihat hal itu, saat Hayato menjadi tangan kanan Tsuna. Ia tahu kalau anak ini akan bisa melakukan itu, meskipun tidak dalam waktu yang dekat, dan ia tidak memiliki cukup waktu untuk menunggu hal itu.
"Ada apa dengan tatapanmu itu?"
Sedikit tersentak dan mencoba untuk tersenyum seperti biasa.
"Heh—kita lihat saja nanti Hayato," berbalik dan terbatuk untuk kesekian kalinya, membuat Hayato mengerutkan dahinya dan berjalan perlahan mendekati G yang membelakanginya. Hampir saja sampai di samping G, saat tiba-tiba tubuh ayahnya itu sedikit limbung dan akan jatuh kalau saja tidak segera memegang kursi di sampingnya.
"O—Oi, ada apa denganmu kakek tua!" mencoba untuk memegang lengannya seolah menahannya agar tidak jatuh, menatap wajah pucat ayahnya dan darah yang keluar dari sela tangannya. Membelalakkan matanya—tampak mencoba untuk bertanya sebelum tiba-tiba tubuh itu benar-benar merosot dan terjatuh begitu saja diatas lantai.
"Ka—a-ayah!"
…
"Apa yang kau katakan?"
Saat ini, berada di samping tempat tidur dimana ayahnya berbaring—matanya melebar mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Selama beberapa minggu ini ia tahu kalau ada yang aneh dengan ayahnya, tetapi tidak menyangka akan separah ini.
"Haruskah aku mengulanginya," berdecak kesal, mencoba untuk bersikap seperti biasa walaupun ia tahu tubuhnya tidaklah sehat seperti sebelum ia menggunakan cincin itu, "aku akan pergi—"
…
"Kemana?"
"Tidak perlu kau mengetahuinya—" masih menatap Hayato yang menundukkan kepalanya dan tidak menatap G, "—tempat yang sangat jauh, tetapi sejauh apapun tempat itu aku masih bisa melihat kebodohanmu…"
"Ketempat ibu?" G menatap Hayato yang semakin menunduk, tidak mau menunjukkan apa yang ia rasakan saat itu, "kau akan mati bukan? Ibu juga mengatakan hal seperti itu sebelum ia pergi—"
"Hayato—"
"Kau akan mengatakan kalau kau akan mengawasiku, meskipun aku tidak bisa melihatmu bukan?" tidak mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, hanya menggelengkan kepalanya dan meninggikan suaranya, "kalian benar-benar egois! Apakah kalian fikir aku hanya ingin merasa diawasi?"
"Aku melakukan itu semua untuk kebaikanmu—apakah kau tidak mengerti?"
"Tidak! Aku tidak pernah mengerti apapun yang kau fikirkan, kakek tua!" berdiri dan berlari, membuka pintu dan tidak menghiraukan Tsuna dan juga Giotto yang ada disana, dan teriakan Tsuna yang memanggil namanya.
…
Suasana hening tercipta saat Hayato kembali bersama dengan Tsuna ke kamar G, yang kemudian langsung dibawa Giotto untuk meninggalkan mereka berdua di dalam kamar itu.
"Aku tidak memintamu untuk mengerti—" suara G semakin memelan dan ia hanya bisa menghela nafas pendek, "—karena aku tahu, kau tidak akan mungkin mau untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi…"
"Pergilah—" suara itu tampak datar dan tidak ada emosi, tetapi G tahu apa yang ada di balik itu semua, "—apapun yang aku lakukan tidak akan mungkin bisa mengubahnya. Kau terlalu egois untuk memberitahukannya padaku, dan aku terlalu bodoh untuk tidak mengetahuinya sejak awal…"
"Kau akan menjadi tangan kanan yang hebat—" menghela nafas dan menatap Hayato yang merespon perkataannya itu. Melepaskan sebuah cincin bergambar storm dari tangannya, meletakkannya di telapak tangan Hayato, "—aku percayakan padamu cincin ini…"
…
"Apakah aku bisa?"
"Heh? Kemana sifat percaya dirimu yang biasanya—" menatap anaknya dan tertawa kecil, mengusap sambil menekan pelan kepala Hayato, "—tenang saja, aku hanya bisa mempercayakan cincin ini padamu…"
…
"Atau kau hanya berpura-pura saat mengatakan kau akan melindungi Tsuna?"
"Te—tentu saja tidak, aku akan melindungi Tsuna kapanpun!" Hayato akan mengambil cincin itu dengan segera, tetapi tangannya ditarik oleh G dan membuatnya berada di dekapan ayahnya itu, "ap—"
"Tetaplah—berjuang untuk hidup," berbisik tepat di depan telinga Hayato, hingga hanya Hayato dan G yang bisa mendengarnya, "jangan mundur saat musuh menyerang, dan lindungilah apa yang menurutmu harus dilindungi…"
Rasa kantuk menyerang—membuatnya tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh ayahnya. Mencoba untuk melawan rasa kantuk itu, tetapi semakin ia melawannya, semakin ia tidak bisa mempertahankan kesadarannya.
"Aku menyayangimu Hayato—ingat itu…"
Perkataan ayahnya tampak membuatnya semakin ingin mempertahankan kesadarannya. Menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk tetap sadar hanya untuk mengatakan satu hal—tetapi yang keluar hanyalah air matanya, dan sedikit suaranya yang keluar.
"A—aku juga—" tanpa bisa ia melanjutkan perkataannya, cahaya putih yang menyelimutinya sudah berganti menjadi kegelapan yang menguasainya.
…
"Ini yang kau inginkan bukan?"
Seorang pria berambut hitam dengan pakaian dokter itu tampak memberikan sebuah map berwarna orange dengan lambang berukirkan emblem yang tentu saja sangat ia kenal—lambang Vongola.
Pemuda berambut perak itu tampak mengangguk sebelum membuka-buka file yang ada di tangannya saat ini.
"Entah kenapa kau sangat tertarik dengan kelompok Vongola ini—" menghela nafas dan melihat pemuda berusia kira-kira 13 tahun itu, "—kau seperti sangat penasaran dengan misi yang diberikan Nonno pada Reborn…"
'Entah kenapa—'
…
Melihat sebuah file dengan nama Reborn yang disebutkan pria itu, ia membacanya dengan teliti sebelum berhenti di tengah tulisan itu.
"APA!"
"Ada apa Hayato—" pria itu tampak menatap kearah Hayato yang membelalakkan matanya melihat sebuah nama yang tertulis disana. Kertas itu tampak sedikit lecek karena diremas oleh Hayato, dan dengan segera ia melempar file itu dan berbalik meninggalkan tempat itu.
'Yang benar saja—aku tidak akan membiarkan itu terjadi…'
…
"Selamat pagi kaa-san, Tsuki—" menguap pelan, mencoba untuk menghilangkan rasa kantuknya dengan meminum sebuah jus di atas meja makannya. Ibu angkatnya, Sawada Nana tampak menoleh dan tersenyum lembut kearahnya.
"Selamat pagi Tsuna-kun, kau ingin telurnya berapa?"
"Satu saja kaa-san," duduk di samping Tsuki yang sudah memakan makanannya terlebih dahulu, "bagaimana dengan tutor untuk Tsuki?"
"Oh, benar juga—" saudaranya sukses memberikan tatapan tajam kearah Tsuna—berterima kasih untuk memberitahu rencana 'hebat' ibunya itu yang sempat terlupakan, "—seharusnya ia sudah datang sekarang…"
"Ciaosuu!" suara yang tampak seperti anak kecil itu terdengar membuat ketiga orang itu menoleh dan menemukan seorang balita yang memakai jas hitam dan topi fedora dengan sebuah Kristal bulat berwarna kuning.
"Eh, bagaimana kau bisa masuk ke dalam?" Tsuki menatap bayi itu dan menautkan kedua alisnya. Tsuna dan juga Nana juga tampak mendekat dan melihat bayi itu, "siapa namamu? Dimana orang tuamu—"
"Namaku adalah Reborn, dan aku adalah seorang tutor—"
…
Baik Nana, Tsuki, maupun Tsuna tampak terdiam—sama-sama terfokus pada pemikiran mereka masing-masing akan kemunculan Reborn.
'Anak yang lucu, apakah ia adalah tutor yang dimaksud oleh Iemitsu?' tersenyum, Nana mencoba untuk menusuk-nusuk pipi Reborn dengan telunjuknya.
'Yang benar saja, bayi yang bahkan mungkin tidak akan bisa membaca dengan benar seperti ini akan menjadi tutor?'
…
'Pacifier?' Tsuna menatap Kristal berwarna kuning yang ada di leher Reborn, 'ya—seperti milik Sephira-san, jadi apakah dia—Arcobaleno?'
Keheningan itu pecah saat Tsuki mendengus pelan dan tertawa sedetik kemudian.
"Yang benar saja, jadi kau tutor yang dikatakan oleh kaa-san dan juga otou-san?" memegangi perutnya, mencoba untuk menghentikan tawanya, "oh ayolah kaa-san, aku bahkan Tsuna tidak akan separah itu hingga harus diajari oleh seorang bayi bukan?"
Belum sempat menghentikan tawanya, saat tiba-tiba saja Reborn melompat dan menendang leher belakang Tsuki hingga ia tersungkur.
Sementara Tsuna, hanya diam dan memutuskan untuk memakan makanannya lagi dengan santai. Reborn menatapnya, tampak meneliti Tsuna yang ada di depannya.
'Ia tidak terkejut dengan apa yang kukatakan tentang tutor—'
"Aku sudah selesai kaa-san, boleh aku pergi jalan-jalan bukan?" Tsuna mengembalikan piringnya dan tersenyum kearah ibunya.
"Tentu saja Tsuna-kun~"
CKLEK!
Mendengar suara pelatuk yang ditarik, Tsuna menoleh untuk menemukan Reborn yang mengacungkan sebuah pistol kearahnya.
"HIEEE!"
Nana melihat Reborn yang mengacungkan pistol kearah Tsuna dan akan menanyakannya.
"Tenang saja maman, ini hanya pistol mainan—"
"Oh, begitu? Seharusnya kau tidak perlu berteriak seperti itu Tsuna-kun~" tertawa dan menepuk kepala Tsuna yang masih terdiam melihat pistol itu. Terima kasih untuk pamannya—G yang addict dengan benda bernama pistol itu, ia bisa membedakan pistol palsu ataupun asli.
Dan tentu saja itu asli—
"Kau ikut ke kamar atau aku akan menembakmu—" Reborn berbicara dengan pelan namun bisa didengar jelas oleh Tsuna yang langsung mengangguk cepat.
…
"Eh—" dua kata yang keluar dari kedua orang yang—tampak seperti—kembar itu saat mendengar perkataan Reborn di kamar milik Tsuki.
"Aku adalah seorang assassin, dan alasan sebenarnya aku kemari adalah untuk melatih Sawada Tsuki menjadi seorang boss mafia," kali ini, pemikiran Tsuna dan Tsuki tidak jauh berbeda hanya saja Tsuna tidak terlalu kaget kalau mendengar Reborn berhubungan dengan mafia.
Bagaimanapun Arcobaleno selalu terlibat dalam dunia underground termasuk ke dalam dunia mafia.
…
"Kau sedang bercanda bukan?" Tsuna melihat Tsuki yang tampak lebih kaget darinya. Bagaimanapun yang akan menjalani adalah Tsuki bukan Tsuna—tentu saja ia akan terkejut mendengar perkataan itu, "apa-apaan dengan mafia? Aku tidak pernah mendengar bahkan terlibat dalam dunia seperti itu!"
"Memang, tetapi sayangnya kau menurunkan darah keluarga Vongola Primo, dan sudah menjadi takdirmu untuk—"
"Tu—tunggu!" Tsuna yang kali ini terkejut mendengar perkataan dari Reborn, "o—organisasi mafia, apa?"
Tampak sedikit bingung dengan perkataan Tsuna, baik Tsuki dan juga Reborn terdiam sejenak.
"Vongola Famiglia, organisasi mafia terbesar di Sicilly Italia—" terdiam, kali ini benar-benar tidak bisa mengatakan apapun saat mendengar nama kelompok itu disebutkan oleh Reborn, "—pokoknya kau harus mengikuti apa yang aku katakan dan semua latihan yang akan kuberikan…"
"Aku tidak mau!"
'Vongola—organisasi mafia?' Tsuna sendiri tidak mendengar atau memperhatikan apapun yang dikatakan oleh Reborn dan juga Tsuki saat itu. Yang ada di fikirannya hanyalah bayangan ayahnya dan juga pamannya. Tangannya bergerak, meremas pakaian yang menutupi cincin milik ayahnya itu, 'kelompok yang ayah dirikan—menjadi organisasi mafia?'
"Tsuna katakan sesua—Tsuna?" Tsuki melihat Tsuna yang tampak gemetar dan juga tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Tsuki maupun Reborn, "Tsuna, kau tidak apa-apa?"
"A—ah, tidak apa-apa… Kenapa harus Tsuki, apakah tidak ada kandidat lainnya?"
"Benar, pasti ada yang lebih hebat dariku bukan?" Tsuki tampak memegang lengan Tsuna dan mendekatkan dirinya.
"Beberapa—tetapi," Reborn mengeluarkan beberapa foto dari jas hitamnya, "Enrico kandidat terkuat, tewas dibunuh dengan ditembak di kepalanya…" Reborn menunjukkan foto mayat yang tertembak—Tsuki tampak merinding, Tsuna hanya diam dan mendengarkannya, "yang kedua Matsumo tewas tenggelam—"
"EEEK!" Tsuki tampak mencoba bersembunyi di belakang Tsuna, wajah Tsuna tampak sedikit memucat melihat foto itu.
"Dan yang terakhir Federico ditemukan dalam keadaan tulang belulang," Tsuna tampak ingin muntah melihat foto itu dan berusaha untuk menahan dirinya.
'Apa yang terjadi selama 400 tahun ini—Vongola bukan kelompok seperti itu…'
"Kau tidak perlu menunjukkannya padaku!" Tsuki menenggelamkannya wajahnya di punggung Tsuna agar tidak melihat foto-foto itu.
"Yang pasti kau tidak akan bisa lari dari takdirmu Sawada Tsukiya—" menatap Tsuki yang memucat dan Tsuna yang tampak hanya terdiam, bukan karena ketakutan, tetapi karena terkejut akan sesuatu.
"Kalau begitu, sebaiknya aku meninggalkan kalian berdua dulu—" mencoba untuk tersenyum, sedikit dipaksakan, Tsuna berdiri dan berjalan menjauhi Reborn dan juga Tsuki, "—berjuanglah Tsuki…"
"E—eh, Tsuna!"
…
Berada di kamarnya, duduk di kursi kecil yang ada di depan meja belajarnya sambil menatap sebuah laptop yang ada di depannya yang dalam keadaan terbuka. Menghela nafas, menatap kearah cincin yang ia keluarkan dari kantung kecil di lehernya itu.
'Ayah—' menghela nafas dan mengetik apa yang ada di fikirannya itu, '—aku tidak tahu apa yang terjadi selama 400 tahun ini, tetapi—hari ini aku baru mengetahui, mungkin maksud ayah untuk mengunci kekuatan Vongola dan mengirim kami ke masa ini…'
…
'Tetapi, sepertinya Vongola tetap saja berubah seperti apa yang ayah takutkan dulu—dan kali ini aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan. Bagaimanapun semuanya hanya tahu jika aku tidak memiliki hubungan darah denganmu dan hanyalah anak angkat dari keluarga Sawada—'
Memainkan cincin yang ada di tangannya dan menutup matanya erat sambil menghela nafas.
"Maaf, karena aku mengecewakanmu ayah—"
…
Pagi hari masih menunjukkan pukul 7 pagi sementara Tsuna sudah berada di perjalanan menuju ke sekolahnya. Jangankan tertidur, memejamkan matanya saja ia sudah tidak bisa semenjak mendengar tentang kelompok Vongola yang menjadi sebuah kelompok mafia.
Matanya tampak merah karena lelah—ia hanya bisa diam, tidak bisa bertemu dengan Tsuki karena itu artinya ia akan bertemu dengan Reborn.
Tetapi yang tidak ia tahu—Reborn tampak mengawasinya dari belakang dan tampak menatapnya dengan tatapan curiga.
"Tsunayoshi Sawada—berusia 13 tahun, diadopsi oleh Sawada Iemitsu saat berusia 6 tahun. Berulang tahun saat 14 Oktober, sering dipanggil dame-Tsuna karena tidak bisa melakukan apapun dengan baik," Reborn mencoba untuk mengingat semua yang ia baca tentang Tsuna, "tidak ada yang tahu bagaimana kehidupannya sebelum berusia 6 tahun…"
…
"Ia tidak memiliki hubungan dengan Vongola Primo maupun Iemitsu, tetapi kemiripannya itu—" menurunkan fedoranya, membuat matanya menjadi tertutup oleh bayangan topi itu, "—apakah hanya sebuah kebetulan?"
"Selamat pagi Hibari-san!" suara seseorang yang terdengar di dekat sana membuat Reborn menoleh untuk menemukan beberapa orang tampak berbaris di depan gerbang sekolah bersama dengan seorang anak laki-laki berambut hitam dengan mata abu-abu disana.
"Hn—" Hibari menutup matanya, tampak berjalan menuju ke luar lingkungan sekolah, "—aku akan berpatroli disekeliling, kalian lihat di dalam sekolah…"
"Baiklah Hibari-san!"
Tsuna yang tampak berjalan mendekati sekolah itu tampak hanya menunduk dan tidak melihat ke depan. Berjalan hingga melewati Hibari yang melewatinya begitu saja.
…
"Nee Kyouya-nii! Aku boleh menanyakan sesuatu?"
Sosok Tsuna yang tampak berusia 5 tahun itu tampak menghampiri seorang anak kecil berambut hitam dengan mata abu-abu yang berusia kira-kira 2 tahun di atasnya itu.
"Ada apa—"
"Kalau saja aku menjadi penerus papa—apakah kau ingin seperti paman Alaude, menjadi Cloud Guardianku?" memiringkan kepalanya, menanyakan hal yang polos seperti itu tetapi memiliki arti yang dalam untuk pemuda berambut hitam itu. Bagaimanapun, menurutnya Tsuna akan menjadi penerus dari Vongola—karena ia adalah keturunan langsung dari Giotto.
…
"Kau tidak mau?"
Kyouya masih diam sebelum tangannya bergerak dan mengusap pelan kepala Tsuna, memberikan senyuman yang sebenarnya jarang ia perlihatkan pada orang lain termasuk ayahnya.
"Herbivora selalu membutuhkan perlindungan—" Tsuna tampak sedikit bingung sebelum pada akhirnya ia mengerti dan tersenyum lebar sebelum memeluk Kyouya dengan erat.
"Aku tidak sabar menunggumu menjadi Guardianku, Kyouya-nii!"
…
Fikirannya yang sedikit kosong dan tidak fokus tadi tiba-tiba saja membuatnya mengenang secara tidak langsung saat bersama dengan salah satu orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu.
Menoleh kebelakang, mencoba untuk mengikuti intuisinya yang anehnya mengatakan kalau orang yang berada dalam ingatannya itu berada di dekatnya saat ini.
Tetapi, sayangnya—tidak ada siapapun yang berada di depan gerbang saat itu dan membuatnya sedikit mengerutkan alisnya sebelum mengangkat bahu dan segera berjalan kembali masuk kedalam sekolah.
Tidak menyadari kalau cincin Vongola di lehernya tampak bersinar di dalam kantung kecil itu.
Sementara pemuda bernama Hibari, tampak menghentikan langkahnya—dahinya juga ikut berkerut seolah-olah merasakan juga apa yang Tsuna rasakan. Menoleh kearah gedung sekolah yang baru saja ia lewati, mendapati di depan gerbang itu tidak ada siapapun yang berada disana.
'Entah kenapa aku malah memikirkan herbivore itu—'
…
"Tsuna, kenapa kau meninggalkanku sendirian!"
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi dan Tsuki yang hampir saja terlambat karena kesiangan tampak duduk di sebelah Tsuna yang berada di sampingnya. Walaupun usia mereka terpaut 1 tahun, Tsuki berada di kelas yang sama dengan Tsuna karena ia memulai sekolah pada usia yang sama dengan Tsuna.
"Kau tidak tahu apa yang dilakukan Reborn untuk membangunkanku—aku dipukul menggunakan palu besar berwarna hijau!"
"A—ah begitukah?" tertawa kecil dan menguap lebar. Ia benar-benar lelah dan tidak bisa tidur sama sekali sejak semalaman. Tsuki yang melihat itu hanya mengerutkan alisnya dan pada akhirnya menepuk kepala Tsuna.
"Bagaimana kalau kau tidur saja dulu Tsuna? Aku akan menutupimu dari Nezu-sensei—" berbisik sejenak sebelum bunyi bel tampak terdengar menandakan kalau pelajaran dimulai dan tidak butuh waktu lama untuk sang guru masuk.
"Ah," Tsuki menoleh kearah Tsuna, menemukan sang pemuda sedang tertidur dengan cepat membuatnya tertawa pelan karena sikap Tsuna.
"Duduklah, hari ini kita akan kedatangan murid baru pindahan dari Italia—"
'Bukankah itu tempat asal Reborn?' Tsuki tampak menatap pemuda berambut perak yang baru saja masuk, memiliki sorot mata yang tajam dan juga dingin.
"Namanya adalah Gokudera Hayato—dia lahir di Jepang namun menghabiskan waktu di Italia," tampak beberapa siswi perempuan yang sudah mulai menyukai sosok pemuda itu. Tsuki hanya bisa menghela nafas dan menatap pemuda itu—dan yang tidak terduga adalah pemuda itu tampak menoleh kearahnya dan membelakkan matanya saat melihat sosok Tsuki.
"Ka—KAU!"
Baik murid lainnya maupun Nezu-sensei tampak terkejut mendengar Hayato berteriak. Tsuna masih tampak tertidur dan tidak terganggu sama sekali dengan perkenalan dari Hayato.
"Kau mengenalnya Tsuki?" salah satu temannya yang berada di depannya itu tampak sedikit berbisik.
"Ti—tidak…"
"Niidaime!"
…
"Huh?" Tsuki dan juga semuanya tampak menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan dari Hayato saat itu. Suara bisik-bisik terdengar dari semua teman-temannya, dan Tsuki hanya bisa terdiam dengan tanda Tanya imajiner di atas kepalanya.
…
"Benarkah itu Tsuna?"
Hayato yang berusia 5 tahun itu tampak menatap Tsuna yang berada di sampingnya. Mengangguk pelan sambil tersenyum lebar melihat bagaimana sahabatnya itu terlihat terkejut.
"Papa bilang, kalau Tsuna bisa menggunakan api itu, Tsuna akan menjadi penerus kelompok Vongola setelah papa!"
"Kau pasti bisa Tsuna—bagaimana kalau mulai sekarang aku akan memanggilmu Niidaime!" tampak sangat bersemangat, Tsuna sendiri tampak menatap dengan buliran keringat di belakang kepalanya—melihat bagaimana sikap dari Hayato saat itu yang bahkan lebih bersemangat daripada dirinya.
"Ti—tidak perlu Hayato-nii, panggil saja seperti biasa—" tertawa dan mencoba untuk menghentikan nama yang terkesan terlalu berlebihan itu.
"Tentu saja tidak bisa, karena aku akan menjadi tangan kananmu—dan memanggilmu seperti ini lebih cocok, seperti kakek tua itu saat paman Giotto dan dia sedang berada di dalam pertemuan!" Tsuna ingat kalau pamannya G memang memanggil ayahnya dengan namanya, tetapi saat pertemuan antara kelompok mafia, 'primo' akan menjadi panggilan untuk Giotto.
"Ba—baiklah kalau begitu Hayato-nii…"
…
"Aku tidak mengerti maksudmu Gokudera-san," Tsuki masih mencoba untuk menenangkan Hayato yang sekarang ini ada di depannya. Terima kasih untuk Tsuna yang memiringkan kepalanya hingga membelakangi baik Hayato maupun Tsuki di sampingnya.
"Eh, apakah kau lupa denganku Niidaime?"
Belum sempat Gokudera berbicara lebih banyak, tiba-tiba saja sebuah bola berwarna hitam menggelinding sebelum mengeluarkan asap yang cukup tebal—yang menyelimuti seluruh sisi kelas.
"A—ada apa ini?"
"Hei siapa yang melemparkan benda tadi!"
"Niidaime tetaplah berada di belakangku—" Hayato segera melindungi—Tsuki yang masih bingung tetapi terlalu panik untuk berargumentasi. Tsuna? Masih terlelap dengan indahnya.
"Dasar bodoh—" seseorang ditengah asap itu tampak menendang perut Hayato hingga tersungkur. Sementara belum sempat Tsuki merespon, sebuah tendangan juga telak mengenai kepala belakangnya hingga ia ikut tersungkur.
Sosok Reborn tampak menyeret kedua 'mayat' itu keluar dari kelas saat asap itu mulai menipis dan menghilangkan sosok kedua orang murid itu.
"Di—dimana Sawada dan juga Gokudera?"
Nezu yang menoleh keseluruh sisi kelas menghentikan pandangannya pada Tsuna yang tertidur. Mendekat, menggulung buku yang ada di tangannya dan memukul kepala Tsuna dengan keras.
"I—Ittei…"
"Sawada Tsunayoshi—apakah tidurmu nyenyak?" Tsuna yang menoleh dan menemukan gurunya tampak marah hanya ber-'HIEEE' ria sebelum meminta maaf. Menoleh kearah sampingnya, menemukan kalau Tsuki saat itu tidak ada.
"Di—dimana Tsuki?"
"Ah, kebetulan—cari Tsuki dan juga Gokudera, aku tidak ingin ada seseorangpun yang menghilang secara tiba-tiba di tengah kelasku…" Tsuna tampak menghela nafas dan segera mengangguk sebelum berjalan menuju ke luar kelas untuk mencari saudaranya itu.
…
"Apa yang kau lakukan Gokudera Hayato—" Reborn menatap kearah pemuda berambut perak dengan mata hijau tosca itu, yang mengaduh sambil mencoba untuk bangkit, "ingat perjanjian kita?"
"Aku akan menjadi kandidat Don Vongola Decimo kalau aku bisa membunuh Sawada Tsuki bukan," berdiri dan tidak mengerti apa yang dikatakan atau dimaksud oleh Reborn, "lalu apa salahku?"
"Kalau begitu lakukan sekarang," menunjuk kearah Tsuki yang tampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Reborn dan menatap Gokudera.
"Ja—jadi kau bukan Niidaime?"
"Aku bahkan tidak mengenalmu," Tsuki tampak panik mendengar perkataan 'membunuh' yang dikatakan oleh Hayato. Tatapan yang tampak senang dan juga lega itu berubah menjadi wajah suram dan Hayato hanya menundukkan kepalanya saja.
"Benar juga—tidak mungkin Niidame kebetulan ada disini," menutup matanya sebelum membukanya dan menatap Tsuki dengan tatapan tajam, "kalau begitu, aku akan membunuhmu…"
"A—apa!" Tsuki menatap Reborn dan juga Hayato yang hanya tersenyum. Dan beberapa detik kemudian, beberapa dinamit sudah berada diselipan tangannya.
…
Tsuna berlari mencoba untuk mencari sosok adiknya dan juga orang bernama 'Gokudera' itu. Menoleh kekiri dan kekanan, mendengar suara tembakan dan juga ledakan entah darimana.
Dengan segera ia berlari ke halaman belakang sekolah tempat asal suara itu terdengar. Menatap dari jendela lantai 2, menemukan Tsuki dan juga pemuda berambut perak dengan mata hijau.
"Tsuki!" mencoba untuk melihat dengan jelas pemuda Italia yang berada bersama dengan Tsuki, matanya melebar karena mengenal sosok itu dengan baik walaupun terlihat jauh lebih tua daripada terakhir kali ia bertemu dengannya, "Ha—Hayato-nii?"
"Kau mengenalnya?"
…
"HIEEE! Re—Reborn, sejak kapan kau ada disini?" Tsuna melihat kearah sampingnya untuk menemukan Reborn yang entah kenapa malah sudah berada di sampingnya.
CKLEK!
"Jawab pertanyaanku dame-Tsuna—"
"I—itu karena," mendengar perkataan Reborn ia langsung sadar akan sesuatu, "di—dia siapa?"
"Kau baru saja menyebut nama depannya dame-Tsuna, dia adalah Gokudera Hayato—" Tsuna tampak menatap Hayato dan tampak senyuman samar terlihat di wajahnya.
"Kau mengenalnya Reborn?"
"Jangan membalik pertanyaanku," mengacungkan pistol kearah Tsuna dan siap untuk menembaknya, "ia adalah Smoking Bomb Hayato, salah satu anak dari kelompok aliansi Vongola—ia kemari untuk membunuh Tsuki dan menjadi kandidat selanjutnya dari Vongola Decimo…"
"E—EH! Me—membunuh Tsuki?"
"GAAAH!" Tsuna melihat Tsuki yang tampak kewalahan untuk menghadapi Hayato. Kalau ia menggunakan kekuatan cincin Vongola ia bisa menghentikan Hayato, tetapi masalahnya adalah, Reborn berada di sampingnya dan ia tidak bisa begitu saja menggunakan kekuatan yang ia sembunyikan sejak 7 tahun lalu itu.
"Re—Reborn lakukan sesuatu! Tsuki tidak akan bisa menang!"
"Kau fikir aku tidak menyiapkan semuanya dame-Tsuna," mengambil sebuah peluru dan memasukkannya kedalam pistol yang ia bawa, "aku akan menembaknya…"
"HIEEE! Re—Reborn, kau bercanda!"
BANG!
Tembakan tampak dengan segera mengenai telak dahi Tsuki. Membuat Tsuna tampak terkejut, begitu juga dengan Hayato. Tsuki terjatuh ke tanah dan suasana hening dengan segera.
"Re—Reborn, apa yang kau lakukan!"
"Lihat saja dame-Tsuna—" Reborn tampak tersenyum samar, Tsuna menoleh dan menatap Tubuh Tsuki yang masih belum bergerak beberapa saat. Hayato juga tampak mencoba mengecek tubuh Tsuki di depannya.
"Re…BORN!" tampak tubuh Tsuki yang seolah robek dan mengeluarkan tubuh baru, dengan sebuah flame yang berada di dahinya dan tentu saja tanpa ada pakaian yang tertanggal di tubuhnya, "aku akan mematikan dinamit itu sebelum meledak!"
Baik Tsuna maupun Hayato tampak sweatdrop melihat bagaimana penampilan dari Tsuki.
"Heh, apa-apaan itu—terima ini!" Hayato melempar beberapa bom kearah Tsuki. Tetapi dengan segera Tsuki memadamkan api yang ada di sumbu dinamit itu sehingga tidak meledak.
"A—apa?"
"Tadi itu apa Reborn?" Tsuna tampak menatap kearah Reborn sambil menunjuk Tsuki.
"Peluru Dying Will, peluru yang dikembangkan oleh Vongola—orang yang terkena tembakan ini akan melakukan sesuatu yang paling ingin ia lakukan sebelum mati," Reborn menunjukkan dan memberikan peluru itu pada Tsuna, "ingin mencoba?"
"Ti—tidak, aku tidak tertarik," menatap kearah peluru itu sebelum melihat Reborn di sampingnya, "kenapa kau memberitahukan semua tentang Vongola padaku?"
"Karena kau akan menjadi kakak dari seorang Vongola Decimo—dan itu artinya kau juga akan diincar oleh musuh-musuh Vongola. Terutama, mengingat fakta bahwa kau sangat mirip dengan Tsuki…"
"Be—begitu…"
BUM!
Suara ledakan semakin terdengar dan kali ini terlihat Hayato yang mengeluarkan dua kali lipat bom yang entah darimana didapatkannya. Tetapi Tsuki dengan cepat menghentikannya dengan segera.
"I—itu tidak perlu dibicarakan dulu, kita harus menghentikan mereka sebelum sekolah ini hancur!" Tsuna dengan segera berlari dan menuju ke lantai bawah, hingga akhirnya mereka berada di bawah.
…
Saat Tsuna dan juga Reborn berada di dekat tempat Hayato dan juga Tsuki bertarung, keadaan disana tampak sepi. Beberapa selongsong dinamit tampak bertebaran di sekeliling mereka.
Tsuna memutuskan untuk melihat dari jarak yang cukup jauh, tetapi masih bisa melihat dengan seksama apa yang dilakukan oleh Hayato dan juga Tsuki.
"Kenapa kau menyelamatkanku?"
"E—eh?" Tsuki menatap Hayato dengan tatapan bingung, "ka—kalau aku tidak mematikannya kau bisa terluka bukan?"
"Bukankah lebih baik kalau orang yang mengincarmu terluka? Dasar bodoh—"
"Tidak," tersenyum kearah Hayato, membuat pemuda Italia itu seolah melihat Tsuna yang sedang tersenyum kearahnya. Wajah dan senyuman Tsuki memang sangat mirip dengan Tsuna dan juga Giotto, "aku tidak akan mungkin membiarkan temanku terluka bukan?"
…
Baik Tsuna maupun Hayato tampak terdiam dan semuanya mengerti apa yang mereka fikirkan. Tsuki memang sangat mirip dengan Giotto dan juga Tsuna baik wajah maupun sifatnya.
"Ah—" belum sempat Hayato akan mengatakan sesuatu saat Tsuki menoleh ke arah Tsuna dan juga Reborn di depannya—di belakang Hayato, "—Tsuna!"
Mendengar nama itu, membuat Hayato tersentak dan melihat Tsuki yang menoleh ke belakangnya. Membalikkan tubuhnya, melihat kearah pemuda berambut cokelat yang sangat ia kenal baik sejak dulu itu sekarang berdiri di depannya dan tersenyum kearahnya. Tsuna sendiri tampak tersenyum tipis dan melambaikan tangannya sambil berjalan mendekati mereka.
"Nii—daime?"
…
"Sudah lama tidak bertemu—Hayato-nii…"
…To be Continue…
Oke, kayaknya ini kecepatan ya…
Jadi, kemunculan Reborn + Gokudera di gabung ^^; dan ada sedikit kemunculan Hibari yang tidak terduga. Yah, ini ada sedikit adegan yang sama kaya anime + manganya, tapi ga semuanya kok :)
Oh iya, makasih buat yang review, follow, maupun fave ya ^^
Dee Kyou : e—eh, beneran? Saya ga tahu kalau ada yang sama kaya ini o.o kalau tahu judul atau linknya, saya bisa minta? ^^' dan makasih pujiannya :) itu bukan bikin sendiri tapi emang Lullaby dari Italia…
Mutsumi Ayano : Ma—makasih ^^' ah iya, itu salah tulis :(
Hikari Vongola : makasih juga ya :D
X-Eddreine-X : hm? Apa aja ^^'
