Let's try to conquer, then.
Evelyne merebahkan badannya ke atas ranjang sambil memejamkan mata sejenak. Selanjutnya ia melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi di kamarnya, tapi ia mendadak berhenti dan berbalik menatap L yang sedang duduk bersandar di sofa kamar Evelyne, "Kau jangan mengikutiku ke kamar mandi!"
L hanya terkekeh dan tidak mengiyakan ancaman Evelyne malah menyeringai misterius, "kita lihat saja nanti"
Evelyne mendengus kesal tapi tetap melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
Sementara suara shower terdengar dari dalam kamar mandi, L mulai memutar otaknya. Bukan tentang bagaimana cara menemukan lelaki yang ada hubungannya dengan perintah ini, tapi bagaimana caranya ia bisa pergi ke Skyflotic besok supaya ia bisa menghadiri pengadilan itu? Ia sampai sekarang tidak habis pikir, kenapa pengadilan yang memproses hukuman untuk dirinya malah tidak melibatkan dirinya dalam proses pengadilannya? Sungguh mencurigakan dan membuat ia semakin bersemangat untuk menyelinap ke sidang itu besok.
Evelyne yang sudah keluar sejak tadi masih terus memperhatikan kerutan di dahi L yang tidak menyadari kehadirannya. Perempuan itu tidak ambil pusing dan lebih memilih mengutak-atik ponsel yang ia abaikan seharian ini. Dan seperti yang ia duga, banyak pesan maupun miscall yang menghantui. Tidak perlu meminum susu tiga kali sehari untuk tahu siapa pelaku pengirim pesan-pesan itu, tentu saja tiga penggemar fanatiknya.
Ia mengernyit ketika tidak menemukan nama Kevin Clark di deretan inbox dan miscall list-nya. Tapi ia segera saja memaklumi itu. Toh tadi ketika ia kabur, Kevin juga sudah tidak ada di sekolah, jadi kemungkinan besar Kevin tidak tahu tentang hal itu.
Babe, kau kamana? Kenapa kau menghilang tanpa suara? Apakah kau diculik hantu?!
Evelyne mendengus membaca pesan agresif yang dikirimkan Bryan. Lalu jarinya mengarahkan ke pesan bawahnya, masih dari Bryan.
Besok akan ada banyak ulangan. Kau harus bersiap. Si botak bilang ini untuk menyiapkan ujian kita yang tinggal dua bulan lagi. Jadi, selain harus belajar, kau juga harus menjaga kesehatanmu, jangan sampai sakit. Dan lagi…
Evelyne memutuskan untuk tidak membaca kelanjutannya, karena ia cukup pintar untuk tahu bahwa yang selanjutnya pasti yang tidak penting. Yang penting sekarang adalah ia harus belajar, karena besok ada ulangan, dan dari cara Bryan mengirimkan sms 'banyak ulangan' berarti semua pelajaran besok akan menjadi ulangan. Sial.
Ketika perempuan itu sudah mau mengangkat badannya, ia kembali duduk dan kembali membaca sms tepat di bawah sms Bryan. Pesan dari Chris.
Oh damn! Kenapa Mr. Khun sangat tidak adil! Tadi ketika kau menghilang, guru indigo itu tiba-tiba saja masuk kelas dan mengumumkan bahwa ketika ada pelajaran Matematika, kelas kita akan berkelompok…
Lalu apa masalahnya? Evelyne membatin tapi langsung tahu begitu membaca lanjutannya..
Dia memutuskan kau sekelompok dengan si Culun Kevin karena kau tadi sama-sama tidak masuk dengan anak itu! Kau bisa mengajukan protes kalau kau tidak mau kok.
Evelyne menghela nafasnya. Memang benar bahwa Mr. Khun itu adalah guru matematika yang indigo. Dulu saja, hanya Mr. Khun yang tahu bahwa Evelyne bisa melihat makhluk halus tanpa diberitahunya. Dan sejujurnya, sekarang ia jadi agak khawatir ketika Mr. Khun tiba-tiba membentuk kelompok tanpa alasan dan ditambah lagi, ia memasangkan Evelyne dengan si Culun Clark. Oh, sungguh tidak lucu.
"Ada apa?"
Evelyne mendengus ketika sadar bahwa L sudah bangun dari lamunannya, "Kau sudah bangun?" tukasnya dengan nada sakartis.
"Bangun?" L menggaruk kepalanya sendiri. "Aku rasa, aku tidak tidur"
"Benar. Kau tidak tidur dan justru baru tahu kalau aku di sini setelah sudah satu jam aku di sini"
"Eh… benar. Aku sedang berpikir tentang sesuatu tadi. Dan aku pikir…"
"Kau terlalu banyak berpikir, Tuan Kim" potong Evelyne dengan malas sembari mengeluarkan buku-buku pelajaran dari rak bukunya dan melemparkan satu persatu ke atas meja belajarnya.
L mendecak kesal, "Aku harus mengatakannya sekarang"
Mengatakan apa? Mengatakan kalau dia mencintaiku dan memutuskan untuk menjadi makhluk bumi selamanya?, lagi-lagi Evelyne berpikir tanpa sadar.
Jelas saja kening L langsung berkerut mendengar bunyi pikiran Evelyne, "Aku tidak mencintaimu, Nona"
Hati Evelyne runtuh seketika. Evelyne sadar pikirannya baru saja dibaca. Tapi hatinya tidak bisa dibaca kan? Hatinya sekarang terasa berdenyut sakit mendengar perkataan L. Kenapa harus kata tidak? Seharusnya dia tidak sekasar itu. Dia mengatakan belumpun sudah cukup rasanya.
"Baiklah baiklah" L mengangkat tangannya. "Belum. Aku belum mencintaimu"
"Jadi apa yang mau kau katakan?" Tanya Evelyne dengan cepat dan nada dingin menghantui kalimat tanyanya itu.
"Bisakah kau merelakan aku untuk pergi besok? Besok aku harus—"
"Pergilah sesukamu" tukas Evelyne dengan emosi. Ia memang sedang sakit hati karena ucapan penolakan sebelum penawaran yang dilontarkan L tadi. Dan sekarang dia semakin emosi. "Aku tidak membutuhkanmu, kau tahu itu. Jadi, kenapa kau harus menggunakan kata 'merelakan' ? Aku tidak membutuhkanmu. Kau datang ke bumi bukan karena aku membutuhkanmu. Tapi orang lain"
L menyeringai, "Aku tahu itu, Nona. Tapi kalau saja aku tidak terikat peraturan—"
"Terserah kau. Kau boleh pergi kapanpun kau mau. Sekarang juga tidak apa-apa" potong Evelyne masih dengan emosi yang meluap.
L tiba di tempat pengadilan dan sudah duduk dengan manis di sebelah kakaknya, Richard. Hari ini kakaknya itu terlihat mengeluarkan burning charismanya pada tingkat maksimum, dengan setelan kemeja putih panjang yang melekat sempurna pada tubuhnya dan malah memperlihatkan badan sixpacknya dan dengan celana kain hitam. L mendengus kesal, bisa-bisa hakim hari ini akan terpesona dengan kakaknya ini.
Richard yang tidak menyadari kehadiran L terus menatap ke depan dengan tajam. Tempat ibunya duduk sendirian di tengah ruangan. Hari ini Nyonya Kim akan menjadi tersangka—mewakili L yang seharusnya tidak boleh datang hari ini— sekaligus akan membela anaknya itu.
L bergantian menatap bola mata kakaknya lalu ibunya yang sendirian di tengah ruang sidang. Ia mendengus, "Richard berhentilah menatap ibu seperti itu, dia bisa terbakar karena tatapanmu itu"
Richard menoleh dengan enggan dan perlahan. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa L tidak mungkin ada di sini dan mungkin saja suara tadi hanya halusinasinya atau makhluk lain yang bersuara sama seperti adiknya itu. Tapi ketika sudah berhadapan dengan wajah L yang kini menatapnya dengan pandangan jenaka, tak urung Richard menganga sembari mengucek-ucek matanya sendiri.
Setelah beberap detik mereka bertatapan dan Richard yang memastikan bahwa ia tidak salah liat, akhirnya Richard memekik, "Bagaimana bisa kau ada di sini?!"
Sesungguhnya Richard berniat akan menendang adiknya dari ruang sidang ini secepat mungkin. Tapi sudah terlambat, Sang Pengadil sudah menggunakan sihir yang membuat semua orang yang hadir tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arahnya, tanda bahwa sidang sudah dimulai.
Richard melihat Sang Pengadil dengan takut-takut. Sungguh ia takut kalau L sampai mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar. Sebisa mungkin ia memprovokasi otaknya agar mengirimkan perintah untuk menolak sihir Sang Pengadil. Dan bingo! Ia berhasil. Sekarang ia bisa melihat kemanapun sesukanya, termasuk menatap adiknya yang kini tidak mengalihkan pandangannya.
Sang Pengadil mulai membaca keputusan dan Nyonya Kim yang terus mendebatnya.
Tiba-tiba L membuka suara, "Richard, berhentilah menatapku. Aku rasa yang menyihir kita orang tua itu, tapi kenapa bisa kau mengalihkan pandangan darinya? Bantu aku! Aku juga tidak mau melihat orang tua itu terus. Mataku bisa terbakar dan membusuk kalau begini"
Richard terkekeh sekaligus bersyukur, "Paksa otakmu untuk menolak sihirnya"
Kening L terlihat berkerut beberapa detik tapi kemudian ia langsung melihat ke arah Richard sambil melemparkan senyum terima kasih.
"Kenapa kau jadi mendebat begini? Bukankah kita tahu sejak awal, memang seperti ini kan hukuman untuk tindakan melanggar yang dilakukan putra anda?"
L mendecak tidak setuju dengan doktrin yang diucapkan lelaki tua tak berambut, yang merupakan Sang Pengadil hari ini.
"Tentu saja aku mendebatnya, ini tentang L, putraku yang tidak melanggar apapun dan ini hanya tentang Miranda yang melaporkan kejadian tidak sebenarnya.."
L mengangguk setuju dengan apa yang dilontarkan ibunya. Mendadak hari ini, L merasa ibunya cantik. Mungkin karena hari ini, ia dibela oleh ibunya, tidak diomeli seperti biasanya.
Sedangkan Richard makin memandang L khawatir. Ia ingin meloncat ke tengah ruangan dan meneriaki ibunya agar tidak mengatakan apapun karena L tiba-tiba menyelinap ke sini.
"Selain itu…" Nyonya Kim terlihat menarik nafas. Terlihat bahwa raut mukanya berubah menjadi sedih. Raut wajah yang meyakinkan Richard, bahwa sebentar lagi ibunya akan memaparkan…
"Bukankah akan berbahaya kalau L jatuh cinta dengan makhluk bumi—"
"L!" Richard memekik membuat L dengan spontan menoleh ke kakaknya dan membiarkan konsentrasinya pecah. Padahal L baru saja akan memproses apa yang dikatakan ibunya tadi.
"Ada apa?!" Tanya L dengan gemas.
Tapi Richard justru tidak menjawab dan hanya mencoba membuat L terperangkap dengan tatapannya. Tidak berhasil karena L hanya menatapnya dengan bosan lalu mengalihkan pandangannya kembali ke ibunya.
"Tidak! Aku yakin ramuan itu tidak akan cukup ampuh untuk hatinya! Mungkin ramuan itu bisa mengelabuhi ingatannya. Tapi aku yakin intuisinya akan berkemungkinan besar membuatnya—"
"ASTAGA L! YA TUHAN!" Richard kembali memekik dan membuat konsentrasi L terpecah lagi. Walaupun begitu, L tidak menoleh dan tetap berusaha menangkap apa yang dikatakan ibunya di sana. Sepertinya tidak cukup berhasil, karena suara Richard yang berat dan dekat memenuhi indera pendengaran L dan membuat L seperti menonton ibunya berbicara dengan suara Richard yang ngelantur.
Dengan tidak sopannya, L menangkup mulut kakaknya dengan tangan kanannya tanpa berepot-repot menoleh.
"..dan kekuatan itu cukup untuk meluluh lantakkan Skyflotic"
L mengernyit tidak mengerti. Sialan, ini karena Richard yang menganggu, ia jadi mendapatkan informasi terputus-putus. Sekarang kekuatan apa yang meluluh lantakkan Skyflotic?
L melepaskan bekapan tangannya dari mulut Richard dan langsung saja membuat kakaknya itu marah besar.
"Itu bisa kita pikirkan nanti, Nyonya. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah menghukum orang yang salah. Dan seperti yang diumumkan sebelumnya, Louise Lambrecth Kim akan menjalani hukumannya mulai hari ini" putus Sang Pengadil.
L merutuk frustasi dan dia sudah bersiap memarahi balik kakaknya ketika tiba-tiba saja jiwanya dipaksa untuk berpindah. Sial. Apa lagi ini? Bukankan wanita itu sudah mengusirnya kemarin malam?
"APA?!" tanpa sadar L langsung menyemprot Evelyne begitu sampai di depan perempuan itu.
Evelyne berjingkat mundur. Antara kaget dan kesal, ia mengubah raut ceria yang tercetak di wajahnya dengan raut wajah emosi. "Kenapa kau datang untuk membentakku?!"
Teriakan Evelyne yang ditujukan untuk makhluk invisible membuat siswa-siswi yang saat itu juga berada di taman memandang Evelyne seakan ia sudah kembali menjadi orang gila, sama seperti dua tahun lalu saat Evelyne suka meneriaki makhluk gaib.
"Kenapa kau menarik paksa jiwaku saat aku ada urusan penting di Skyflotic?! Dan bahkan kau sudah mengusirku semalam kan?!" L juga beteriak garang. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya marah pada Evelyne. Hanya saja info putus-putus di sidang tadi membuatnya frustasi sekaligus emosi dan tanpa sadar ia melampiaskan emosinya pada Evelyne.
Evelyne menghela nafas sambil menahan kepalan tangannya agar tidak melayang ke wajah tanpa cela milik L. Toh itu percuma, selain tangannya akan menembus, yang ada ia juga akan dianggap sinting.
"Katakan padaku, apa kau tahu ciri-ciri lelaki yang akan menjadi bagianmu menjalani hukumanmu di bumi?"
Evelyne berjengit menyadari bahwa kali ini ia bisa berbicara dengan lembut setelah dibentak! Yes, aku bisa mengendalikan emosiku!, teriaknya girang dalam hati.
Mau tidak mau L menyesal sudah melampiaskan emosi ke makhluk yang salah. Ia menghela nafas perlahan, "Lelaki itu akan memiliki marga yang sama denganku, yaitu Kim. Dia juga memiliki keahlian yang sama denganku. Dan seharusnya dia juga memiliki wajah yang hampir sama sepertiku"
Evelyne mengelus dagunya sendiri sambil berpikir keras, "Sejauh ini, dia sudah memenuhi syarat pertama. Mengenai keahlian yang sama, apa memangnya keahlianmu?" tukasnya dengan suara pelan karena ia tidak mau mengambil resiko anak lain mendengar dia berbicara sendirian.
L mengerjapkan matanya tidak mengerti. "Keahlianku banyak. Tapi paling tidak, lelaki itu akan memiliki satu keahlian yang sama denganku"
Selama beberapa detik mereka berdua terdiam sampai L membelalakkan matanya sendiri dan memekik kaget, "Kau berhasil menemukan lelaki itu?!"
"Mungkin"
"Siapa? Siapa? Cepat katakan padaku"
Evelyne mengenyit melihat tingkah L yang seperti wanita transgender yang diketahui kelamin aslinya. "Tenanglah. Ini kan baru kemungkinan.."
L kembali tenang, "Baiklah aku akan tenang. Tapi kau tidak perlu membandingkanku dengan waria"
Evelyne terkekeh lalu mengobrak-abrik tasnya sendiri.
"Kau membolos?" Tanya L heran ketika mendapati tas sekolah Evelyne sudah berada di pangkuan perempuan itu.
"Enak saja. Aku pulang lebih cepat karena berhasil menyelesaikan ulangan hari ini dengan cepat. Ya begitulah. Aku memang pintar" Jawab Evelyne ringan lalu menyodorkan sebuah map berisi beberapa kertas kepada L.
"Apa—"
"Ini adalah data-data dari Bryan Ailmound" potong Evelyne.
"Bryan? Bryan penggemar fanatikmu itu? Kau—"
"Ya, benar. Karena ternyata selama ini dia berasal dari Korea. Dan aku baru mengetahuinya pagi ini" Evelyne kembali memotong kalimat L.
L mulai membuka map itu dengan perasaan setengah dongkol karena kalimatnya yang selalu dipotong dan setengahnya lagi kaget karena Bryan ini termasuk dalam lelaki yang dicurigai. "Jadi nama Koreanya Kim Ki-Bum?"
Evelyne mengangguk singkat.
"Lalu kenapa kau berani mencurigainya hanya karena namanya bermarga Kim?"
Evelyne menyeringai misterius, "Salah. Bukan hanya marga Kim-nya. Tapi karena dia adalah fansku yang paling menyukai hal-hal berbau mistis, dan ditambah kemarin waktu aku menghilang dia sempat mencurigai kalau aku diculik hantu, darimana dia tahu kalau aku benar-benar diculik hantu?"
"Ck. Aku kan bukan hantu! Enak saja" L menggumam samar karena kesal.
"Sudahlah, terima saja takdirmu sebagai makhluk transparan, jadi sudah pasti di bumi kau patut dikategorikan hantu" ucap Evelyne sambil terkekeh.
L mendengus kesal tapi tetap ingin memperjelas status Bryan, "Tapi apa alasannya dia membutuhkan bantuanku?"
Evelyne mendengus, "Kau ini bodoh ya. Begini, kalau katamu kau datang ke hidupku karena lelaki itu—yang sekarang ini kita ubah menjadi Bryan—meminta bantuan kepadamu yang berkaitan denganku, apakah kau belum menemukan titik terangnya?"
"Hah?"
"Ya Tuhan, kau benar-benar bodoh! Kau sedang memperjelek image Skyflotic saat ini, kau tahu?"
L berdecak kesal, "Sudahlah, cepat katakan padaku, apa maksudmu?"
Evelyne tidak langsung mengatakannya malah melihat ke sekitar. Taman sekolah sudah sangat sepi. Ia melirik jam tangan, sudah pukul 5 sore. Evelyne bergegas berdiri. Ia harus keluar dari sekolah sebelum terkunci sampai besok. L menahan lengannya ketika Evelyne hendak menyeret kakinya.
"Begini saja, aku harus keluar karena sebentar lagi sekolah akan tutup, dan aku akan menjelaskan padamu selagi kita berjalan. Bagaimana?"
L menyetujuinya karena sekarang ia juga ikut melangkahkan kakinya mengikuti Evelyne.
"Arghhh! Aku benar-benar frustasi!"
Evelyne menaikkan alis kirinya mendengar teriakan L yang sepertinya benar-benar menunjukkan kefrustasian lelaki itu.
"Bagaimana bisa?!" L kembali berteriak
"Apanya yang bagaimana?" Evelyne merespon teriakan L yang menggema di kamarnya, walaupun hanya Evelyne yang bisa mendengarnya.
"Bagaimana bisa aku membantu Bryan, kalau benar lelaki itu Bryan dan kalau benar itu yang ia minta dariku?!"
"Memang kenapa?" tantang Evelyne.
"Mana mungkin aku membuat hati makhluk mencintai seenaknya saja?!"
Tiba-tiba saja Evelyne merasa kasihan kepada L. Ia menghampiri L lalu duduk di sebelahnya. Ntah dapat keberanian darimana, ia mengelus pundak L, rasanya sama seperti menggenggam tangannya, seperti mengelus benang halus yang dingin dan mengkristal.
L berjingkat kaget atas apa yang dilakukan Evelyne membuat perempuan itu menarik tangannya kembali.
Sejenak kecanggungan meliputi keduanya. L sendiri tidak tahu harus canggung karena apa, bukannya kemarin ia biasa-biasa saja menggodai Evelyne ketika 'berkencan' di Myeongdong? Toh ia juga sering melakukan itu dengan banyak perempuan di Skyflotic. Tapi, kenapa sentuhan Evelyne di punggungnya tadi seakan sekaligus menyentuh bagian sensitifnya?
"Eh… kau tenang saja. Kau tidak harus sefrustasi itu, itu kan belum tentu kalau Bryan-lah orangnya dan juga belum tentu kalau maksudnya meminta bantuanmu adalah untuk membuatku jatuh cinta padanya. Jadi, tenanglah" kata Evelyne setengah canggung.
L mengangguk lalu mengangkat badan menyingkir dari Evelyne dengan ragu, "Aku harus pergi. Sampai jumpa"
Begitu saja lalu L menghilang dari hadapan Evelyne dengan kemampuan teleportasinya.
Evelyne mengumpat dalam hati, kenapa sekarang L bisa dengan mudah pergi begitu saja? Bukannya aturannya mengatakan kalau ia harus berada di sekitar Evelyne?
"Ah! Itu benar! Pasti karena omonganku kemarin malam! Sial! Berarti dia bisa pergi kapanpun dia mau sekarang!"
Richard kembali dibuat jantungan ketika harus melihat L dua kali hari ini. "Astaga, L! Apa lagi yang kau lakukan sekarang?!"
L hanya mengendik dan tetap merebahkan dirinya di kasur Richard yang terasa nyaman di punggungnya. "Sepertinya aku sudah menemukan lelaki yang harus aku bantu itu"
Richard menghembuskan nafas lega karena ternyata adiknya tidak datang untuk menanyakan masalah di persidangan tadi, "Benarkah? Lalu kenapa sekarang malah di sini, bukannya mengurusi urusanmu dengan lelaki itu?"
L merasakan kasur Richard mengempes, yang berarti Richard juga turut memberikan bebannya ke kasur ini, "Aku butuh pelarian, Richard"
Richard menaikkan alisnya heran, "Pelarian…dari…?"
L menggeleng lalu tertawa, "Aku hanya akan memastikan kalau aku tidak benar-benar menjadi seperti yang dikatakan ibu di persidangan tadi"
Tanpa sadar Richard menelan ludahnya getir, akhirnya adiknya membahas masalah persidangan. "Yang dikatakan ibu? Yang mana?"
"Bagian bahwa bagaimana kalau aku jatuh cinta pada makhluk bumi?"
Richard menatap L dengan shock. Tanpa sadar ia meneriaki adiknya, "apa yang kau katakan?! Kau kehilangan akal sehatmu?! Ibu tadi hanya mengarang kebohongan agar kau bisa lolos dari hukuman itu! jangan tersugesti dengan itu, L!"
"Astaga kenapa kau malah berteriak?" L mengelus telinganya sendiri. "Tenang saja. Justru itu, ijinkan aku di sini selama beberapa hari untuk menghindari keanehan jika aku di bumi"
Richard menghela nafas mencoba sabar, "keanehan apa?"
"Seperti dadaku yang bergemuruh ketika gadis itu menyentuhku tadi" tukas L sambil menerawang ke atap kamar Richard.
Setelah beberapa menit Richard terdiam, L mengambil kesimpulan bahwa mungkin saja kakaknya itu sudah tertidur.
"Dan selama beberapa hari itu pula, biarkan aku mencari tahu kata-kata ibu yang terputus-putus di persidangan tadi" gumam L.
Ini sudah terhitung satu minggu sejak hari L pergi dengan canggung malam itu. Diam-diam Evelyne merutuki kebodohannya yang melakukan skinship kepada makhluk itu. Bisa saja L marah padanya sampai tidak mau menampakkan diri lagi.
"Nona Jo?" ini sudah keempat kalinya Mr. Khun—guru matematikanya—memanggil nama perempuan itu. Perhatian semua teman sekelasnyapun terarah padanya.
Evelyne mengerjapkan matanya bingung, "Ya, Sir?"
"Would you like to write your answer for exercise one on the whiteboard, please?"
Itu jelas bukan tawaran. Itu perintah. Evelyne kembali mengerjapkan matanya bingung. Jadi, sudah berapa lama ia melamun? Dan kapan Mr. Khun menyuruh menjawab soal di latihan satu?
Evelyne menatap nanar melihat excersice one yang ada dua puluh nomer dan tidak mungkin diselesaikan di depan papan tanpa menghitung. Tiba-tiba buku matematika bersampul hitam teronggok di bangkunya. Itu buku Kevin. Evelyne menatap punggung Kevin dengan heran.
Apa ia tidak tahu kalau dia sudah pasti akan diamuk Mr. Khun dengan menawarkan konspirasi kepada Evelyne yang memang lalai? Ditambah lagi, Mr. Khun sudah pasti tahu soal konspirasi ini, dia kan mempunyai kemampuan 'lebih'.
Tapi ketika melihat Mr. Khun tidak menunjukkan perubahan ekspresi, Evelyne memberanikan diri maju ke depan.
Semua teman sekelasnya sedang melihat Evelyne dengan iba sambil menebak-nebak hukuman apa yang akan diberikan Mr. Khun kali ini. Mr. Khun bukan hanya tega perkara memberi hukuman, tapi orang itu juga kelewat kreatif dalam membuat hukuman.
Evelyne maju ke depan papan sambil mengulurkan tangannya menulis di papan. Tapi kemudian dia berhenti dan berbalik sambil menunduk dan menggelengkan kepalanya, "Maaf, Sir. Aku tidak bisa. Aku belum menjawab soal-soal ini sama sekali, aku salah. Tidak seharusnya aku melamun sepanjang pelajaran dan tidak mengerjakan perintahmu. Aku patut dihukum, Sir" katanya pasrah.
Seluruh makhluk di kelas itu membelalakkan matanya, kecuali , ia justru menyeringai senang. Kevin paling shock di antara semua teman sekelasnya. Seingatnya, ia sudah menjawab semua soal itu di rumah dan sudah memberikan bukunya ke Evelyne, jadi kenapa perempuan itu sekarang malah menyerahkan diri?
Mr. Khun menepuk tangannya senang, "Bagus sekali Nona Jo!"
Evelyne menghembuskan nafas lega. Paling tidak, hukuman apapun yang akan dijalani, jangan sampai melibatkan orang lain yang tidak bersalah, dalam hal ini Si Kevin itu.
"Kevin Clark, atas konspirasimu dengan Nona Jo, dan ternyata Nona Jo tidak menghargaimu sama sekali…"
Evelyne menahan nafasnya, ah ternyata Mr. Khun tahu. Sedangkan wajah Kevin memucat.
"..kau tetap akan kuhukum bersama Evelyne. Kalian berdua harus mengerjakan semua soal di buku Matematika, baik buku latihan maupun buku paket. Ku tunggu besok di ruanganku."
Siswa-siswi di dalam kelas makin iba pada mereka berdua. Semuanya paham bahwa Mr. Khun mengetahui apa yang mereka tidak tahu, dalam hal ini konspirasi itu. Konspirasi apa memangnya? Ntahlah. Hanya mereka bertiga yang tahu pasti.
Evelyne dan Kevin mengangguk bersamaan. Dengan lesu, Evelyne kembali melangkah menuju ke bangkunya. Tapi sebelum ia sampai, Mr. Khun kembali membuka suara.
"Oh ya, dan kalian harus mengerjakannya bersama. Dalam arti, tidak boleh hanya satu pihak yang mengerjakan. Untuk membuktikan itu, kalian harus membuat video ketika kalian mengerjakan soal-soal itu. Tidak peduli akan menghabiskan waktu berapa jam, kalian harus memvideokannya. Paham?"
Evelyne kembali mengangguk tapi sambil menggerutu dalam hati. Bagaimana bisa menyelesaikan semua itu dalam waktu satu hari?! Dan lagi, kenapa Mr. Khun bertindak seakan-akan sedang mendekatkan mereka berdua?
Oh tidak, terimakasih. Evelyne tidak akan mau dekat dengan namja yang kurus kering, rambut klimis dan kacamata tebal. Ditambah lagi, sepertinya Kevin terlalu sering memakan buku.
TBC
