Distant Memory of You
Cast:
Kim Ryeowook and friends
Disclaimer: semua character punya TYME dan saya Cuma pinjem nama doang
Warning: OOC, BL, BxB, YAOI, Sho-ai, Miss Typo(s) berceceran. Silahkan keluar dari halaman ini jika tidak suka dengan CRACK PAIR. Tidak ada unsur pemaksaan untuk membaca cerita ini.
.. = flashback
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading^^
.
.
.
Jongwoon menautkan kesepuluh jemarinya dan meletakkannya di phyltrum-nya dengan beralaskan meja kerja-nya. Ryeowook belum pulang. Entah kemana perginya namja berparas manis itu setelah pertemuan mereka lebih dari dua jam yang lalu. Jam di dinding tempatnya berada itu menunjukkan pukul sepuluh lebih. Dan namja manis itu belum juga ada di apartemen tempat mereka tinggal selama dua tahun ini.
"Semoga dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh,"gumam Jongwoon pelan.
Namun tetap saja, posisinya tidak juga berubah. Pikirannya kembali melayang.
Benarkah keputusan yang diambilnya ini?
Apakah sekarang dirinya menyesal telah mengakhiri hubungan 'tidak normal'nya dengan Ryeowook?
Apakah benar ini keputusan yang terbaik untuk semuanya?
Jongwoon kembali mengingat ke masa lalunya. Saat pertama kali bertemu namja berparas manis itu di rumah orang tuanya.
. .
Jongwoon menatap namja pendek di depannya dengan ekspresi datarnya seperti biasa. Sementara kedua orang tua mereka saling berbincang, dua anak remaja dan memasuki dewasa ini dibiarkan begitu saja.
'Lumayan,'
'Tapi tentu aku masih lebih tampan.'batin Jongwoon narsis.
Pikir Jongwoon saat itu masih dengan mempertahankan tatapan datarnya untuk namja di depannya, Ryeowook. Namja dengan rambut coklat yang diberdirikan, bola mata sewarna caramel yang ketika menatap orang tuanya terihat hangat tapi berubah datar ketika menatap Jongwoon, matanya tidak terlalu lebar, tapi juga tidak sipit, bibir tipis berwarna pink, hidung kecil yang mancung dan pipi tirus.
Sementara Ryeowook yang ditatap seperti itu juga balas menatap datar namja di depannya. Namja dengan mata sipit yang digaris dengan eyeliner hitam sedikit tebal, rambut hitam, bola mata hitam. Dan ternyata, namja itu juga memakai kemeja dan celana jeans hitam. Astaga!
'WoW.'pikirnya ketika itu.
Namun pemikiran itu tidak bertahan lama ketika melihat namja itu masih betah menatap datar padanya yang berakhir dengan balasan tatapan malas darinya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita makan dulu?"suara Ny. Kim, Kim Taera, sang tuan rumah berhasil menginterupsi aksi saling tatap kedua namja berbeda usia itu.
"Benar. Ayo kita makan malam lebih dulu baru kita lanjutkan obrolan kita ini. Aku juga sudah lapar. Haha~"timpal Tn. Kim, Kim Daehwan, yang disambut kekehan orang tua Ryeowook.
Ke-enamnya kemudian menuju ruang makan rumah besar keluarga Kim yang hangat. Beberapa makanan khas Korea tersaji di meja makan dengan didampingi beberapa menu masakan eropa. Meja makan yang cukup panjang itu nyaris terpenuhi oleh makanan yang sudah disiapkan beberapa maid keluarga untuk acara makan malam hari itu.
"Hei, Ryeowookie, kau masih ingat ahjumma kan?"sapa Taera di sela kegiatan makan mereka dan disela percakapannya dengan eomma Ryeowook, Minri.
Ryeowook yang dipanggil namanya mendongak dari piringnya dan menatap Taera dengan senyum tipisnya yang masihlah terlihat manis.
"Ne, Taera ahjumma."
Taera menarik senyumnya sebelum menelan makanan dalam mulutnya.
"Kelas berapa kau sekarang? Ah, sudah lama sekali sejak kita bertemu dua tahun yang lalu kan? Kau tidak banyak berubah, Ryeowookie."
Ryeowook kembali menarik senyumnya.
"Ne, sekarang aku sudah di tingkat akhir high school, ahjumma. Dan kuanggap itu tadi adalah pujian,"jawab Ryeowook diahiri kekehan kecil yang diikuti Taera."Dan ahjumma masih sangat cantik."lanjut Ryeowook membuat Taera tersenyum malu.
"Hey, siapa yang mengajarimu menggombal seperti itu, Wookie?"sahut Daehwan yang ikut terkekeh mendengar ucapan Ryeowook.
"Teman-teman sekelasku suka bercerita kalau mereka menggoda mantan kekasihnya seperti itu."jawab Ryeowook jujur.
Kedua pasang orang tua itu hanya bisa geleng-geleng.
"Jadi kau berniat menggoda Taera ahjumma dengan kata-kata tidak bermutumu itu?"Tanya Umma Ryeowook, Minri.
Ryeowook membulatkan matanya lucu.
"A-aniyo… Aku hanya ingin memuji Taera ahjumma, umma. Sungguh,"jawab Ryeowook panic sambil tangannya dikibas-kibaskan.
"Tapi kau menggunakan kalimat godaan untuk memujinya. Itu berarti kau menggodanya, bukan memujinya."timpal sang appa, Dongsuk.
Ryeowook menatap panic Taera dan Daehwan bergantian dengan bumonimnya.
"Kim Ryeowook…"panggil Daehwan dengan suara rendah. Dan itu membuat Ryeowook semakin panic."Kau sudah pintar menggoda eoh? Aigoo~ putramu sudah besar, Dongsuk-a."ucapnya sambil tertawa.
Ryeowook semula membulatkan matanya tapi kemudian mem-pout bibirnya dan menghabiskan sisa isi piringnya dengan beringas. Sementara itu Jongwoon hanya memperhatikan orang-orang itu berbincang tanpa ada niatan untuk bergabung.
"Ah, Jongwoonnie, kau sudah tingkat berapa sekarang?"Tanya Minri tiba-tiba setelah menggoda Ryeowook dan tawanya mereda.
Jongwoon mendongkakkan kepalanya dan menatap sahabat orang tuanya itu dengan tatapan sedikit ramah, karena nyatanya tatapan itu masihlah datar namun tidak dingin.
"Aku sudah tingkat akhir, ahjumma."balasnya ramah.
"Aaa~ berarti setelah ini kau akan membantu appa-mu?"Tanya Minri antusias.
"Ne, ahjumma."
"Sebenarnya sekarang-pun Jongwoon sudah ikut membantu di kantor. Tapi masih belum bisa sepenuhnya berada disana kan? Lagi pula sebenarnya posisinya mengharuskan dirinya banyak-banyak di kantor."sahut Daehwan.
"Begitukah? Aah~ hebat sekali putramu itu, Daehwan-ah."puji Minri.
Dan kedua pasang orang tua itu kembali mengobrol ringan disela kegiatan makan malam hangat mereka. Menyisakan dua anak manusia yang memilih diam mendengarkan atau menyahut jika ditanya.
.
.
.
Beberapa waktu setelah pertemuan antar sahabat itu berlangsung, baik Jongwoon maupun Ryeowook jadi lebih sering bertemu. Setidaknya satu minggu dua kali adalah pertemuan mereka yang paling jarang. Kenapa? Karena appa Jongwoon yang ternyata sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan orang tua Ryeowook itu melimpahkan semuanya pada Jongwoon. Hingga saat ada waktu luang-pun, tak peduli jam berapa yang penting masih pantas untuk bertamu, Jongwoon akan mendatangi rumah Dongsuk.
Dan dari sana semuanya dimulai.
Ryeowook yang selalu memperhatikan Jongwoon ketika namja itu berkunjung-pun tak bisa memungkiri ada yang lain dengan dirinya. Bukan, Ryeowook bukan penyuka sesama jenis sebelumnya. Karena Ryeowook bahkan memang belum pernah menjalin hubungan lebih dari teman satu kali-pun. Perasaan yang dirasakannya kian aneh setiap hari berganti. Dan beberkal nasihat dari Henry, sepupunya yang lumayan berpengalaman dibanding dirinya yang masih polos itu, Ryeowook berusaha mendapatkan perhatian dan hati Jongwoon.
Mulai dari megajak ngobrol lebih dulu setelah membukakan pintu atau ketika menunggu sang appa.
Bercerita tentang sekolahnya hari itu.
Meminta nomor ponsel namja tampan itu dan mengiriminya pesan dengan rajin mulai dari pagi untuk bangun, siang untuk makan siang, dan malam untuk mengucapkan selamat tidur.
Sampai mengiriminya bekal makan siang ketika kebetulan namja itu ada di kantor –Ryeowook kabur sementara untuk mengantarkan bekal itu sebelum kembali lagi ke sekolah.
Dan, perlahan tapi pasti, Jongwoon yang semakin sering bertemu dengan Ryeowook, terpesona entah oleh apa. Padahal di matanya, Ryeowook hanya namja berwajah manis yang polos dan masih bersikap manja pada orang tuanya tapi berubah berwajah datar di luaran sana. Bahkan Jongwoon tidak yakin dengan perasaannya karena sendirinya yakin jika dirinya masih berjalan di jalan yang benar. Dirinya bahkan beberapa kali menjalin asmara dengan wanita cantik meski tidak sering seperti playboy di universitasnya.
Lebih dari satu tahun untuk Jongwoon meyakinkah debaran jantungnya dan Ryeowook untuk melakukan usaha keras demi mendapatkan Jongwoon. Beruntungnya, Henry ternyata juga sepertinya. Dalam artian, Henry juga ternyata sedang menjalin hubungan dengan seorang namja setinggi pohon cemara yang dipanggilnya 'gege'. Bahkan Ryeowook yakin bisa melihat rona kemerahan di pipi namja berpipi bak mochi itu ketika menceritakan tentang seseorang yang dipanggilnya 'gege'. Dan Ryeowook mendapat keyakinan dari namja itu yang berkata cinta tidak pernah salah. Mengingatkannya juga pada kata Cinta itu buta. Oke, Ryeowook-pun menyerah dengan hatinya sendiri dan meyakinkah hatinya terlebih setelah beberapa kali melihat adanya pernikahan sesama jenis di Paris sana. Dan setelahnya, Ryeowook tidak peduli. Hanya menunggu waktu yang tepat ketika mereka harus mengakuinya di depan orang tua mereka.
"Hey Kim Ryeowook, kau tahu tidak? Aku sedang menyukai seseorang."
Ryeowook yang kala itu sedang akan menyesap coklat hangatnya sontak berhenti sebelum dirinya tersedak. Ryeowook terluka. Jelas terpancar dari matanya.
"Benarkah? Siapa wanita beruntung itu?"
Ryeowook mencoba santai. Meletakkan kedua tangannya pada cangkir yang berisi coklat hangat. Batinnya berteriak memanggil umma-nya yang sudah berada di Jepang sana lebih dari tiga bulan yang lalu.
"Sayangnya, dia buka seorang wanita."jawaban Jongwoon yang terkesan santai itu membuat Ryeowook menaikkan sebelah alisnya. Diletakkannya cangkir ke meja depan sofa yang tengah diduduki mereka berdua itu.
"Dia seorang namja. Namja yang sangat manis. Tapi terkadang menyebalkan walaupun polos. Juga terkadang sangat jahil."
"Benarkah? Apa aku mengenalnya?"
Ryeowook membuat suaranya senormal mungkin. Padahal Jongwoon juga sedang berusaha sesantai mungkin saat ini. Tidak ada yang tahu kalau keduanya sedang menahan diri dari sakit dan gugup.
"Tentu saja. Mana mungkin kau tidak mengenal dirimu sendiri?"
Begitulah kalimat yang diucapkan Jongwoon yang berakhir dengan membuat Ryeowook menangis haru karena ternyata cintanya yang sering dianggap salah itu terbalaskan.
.
.
.
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Ryeowook dibandingkan dengan apa yang baru saja dialami dan didapatkannya. Perjuangan dan usahanya selama setahun itu tidaklah percuma. Karena menurutnya memang tidaka da yang percuma akan apa yang sudah dilakukannya. Meski mungkin tidak sesuai harapannya, tapi pasti aka nada sesuatu yang lebih baik dari yang diharapkannya dengan usahanya. Bukankah Tuhan selalu lebih tahu apa yang terbaik untuk makhluk ciptaannya?
Ryeowook meletakkan sepiring spaghetti yang baru saja dibuatnya di meja makan. Membuat coklat hangat sembari menunggu kekasihnya, Jongwoon, selesai dari acara mandinya. Ryeowook bersenandung kecil disela kegiatannya. Ini adalah bulan pertama tepat sejak kejadian dimana namja bermata sipit itu mengungkapkan perasaannya dengan tidak romantic sama sekali.
Tapi Ryeowook bahkan tidak peduli apakah Jongwoon seorang yang romantic atau bukan. Karena baginya, Jongwoon yang seperti ini adalah segalanya. Tidak perlu romantic atau kata-kata romantic karena segala tidakan yang dilakukan Jongwoon untuknya, padanya, sudah sangat romantic. Tidak romantic sebenarnya. Hanya sedikit manis. Tapi di mata Ryeowook itu adalah hal yang romantic.
Suara derap langkah mengalihkan perhatian Ryeowook. Ryeowook berbalik sedikit dan menamukan keekasihnya sudah duduk di kursinya di ruang makan. Ryeowook membawa dua cangkir bersamanya dan meletakkan salah satunya di hadapan Jongwoon.
"Bagaimana pekerjaan Hyung hari ini?"
Jongwoon yang sedang meniup pelan isi cangkirnya mendongak dan menatap Ryeowook dengan senyum kecilnya.
"Seperti biasa. Melelahkan. Bagaimana kuliahmu?"
Ryeowook tersenyum. Hanya pertanyaan seperti itu yang Ryeowook anggap manis dan romantic. Karena Ryeowook begitu senang ada yang menanyakan kegiatannya setelah seharian beraktifitas. Dan menurutnya itu hal yang manis. Romantic.
"Cukup melelahkan. Tapi cukup menyenangkan ketika berhasil mengerjai seseorang dengan partner in crime-ku."ujar Ryeowook riang.
"Siapa yang kali ini jadi korbanmu dengan Kyuhyun itu?"
Ryeowook menggaruk belakang kepalanya ketika Jongwoon menanyakan hal itu dengan gelengan kepala pelan.
"Donghae Hyung. Kami hanya menyembunyikan ikan nemo-nya kok Hyung. Tapi dia sudah nyaris menangis melihat akuarium kecilnya tidak ada di ruang dance itu. Ckckck~"
"Kau ini nakal sekali."
"Hanya pada teman dekatku, Hyung. Akh iya. Aku meembuat cake untuk hari jadi kita yang ke satu bulan."
Ryeowook beranjak dan mengambil cake yang sudah dibuatnya tadi menjelang sore sepulangnya dari kampusnya. Ryeowook membaca cake kecil berlumur Krim warna biru muda itu ke hadapan Jongwoon. Jongwoon hanya menatap cake itu.
"Ini tidak semanis itu kok Hyung."ucap Ryeowook yang mengerti Jongwoon tidak begitu menyukai manis. Lihat saja isi cangkirnya. Sejak tadi hanya ditiup dan disesap sedikit. Padahal milik Ryeowook sudah nyaris habis tapi milik Jongwoon malah nyaris utuh.
"Baiklah. Mari kita rayakan~"seru Jongwoon yang disambut senyum cerah Ryeowook.
.
.
.
Now as I look back into my memories
You're always smilling through you hold onto your bruised heart
You let me go because th break up that I wanted
I turned away leaving your teary voice behind me
I let you so easily
.
.
.
Waktu akan terus berlalu. Bisa secepat angin berhembus. Bisa pula selambat siput berjalan. Yang pasti, secepat atau selambat apapun waktu berlalu, aka nada banyak hal yang berubah. Kau sadari atau tidak. Sama seperti waktu. Ketika waktu berlalu. Maka perubahan itu akan terjadi. Meski hanya sedikit. Seperti pohon yang akan terus tumbuh setiaap detik walau perubahan itu tidak terlihat. Ketika seseorang mengatakan jika perasaan mereka setiap detik akan semakin besar, maka aka nada pula kemungkinan dimana setiap detik perasaan itu akan semakin terkikis.
Hari jadinya dengan Jongwoon tepat untuk tahun pertama. Betapa Ryeowook merasa begitu bahagia dengan semuanya. Dengan senyum lebarnya, Ryeowook berjalan menyusuri trotoar dari halte bus terdekat dengan apartemen Jongwoon. Di tangan kirinya tergenggam kantong putih tebal yang cukup besar. Sementara tangan kanannya menggenggam erat tali tas yang tergendong oleh punggungnya.
"Jongwoon Hyung pasti akan senang."gumamnya dan berlari kecil memasuki gedung apartemen yang sudah ditempatinya lebih dari setahun terakhir.
Ryeowook melangkah menuju lift yang kebetulan terbuka. Menekan angka 13. Menunggu pintu lift terbuka sebelum keluar dan memasuki ruangan nomor 1302 dan bergegas menuju dapur. Meletakkan barang belanjaannya. Pergi ke kamar dan mengganti bajunya setelah mencuci muka lalu menjepit ke belakang rambut berponi-nya yang sudah tidak diberdirikan seperti saat pertama bertemu Jongwoon. Dan kembali lagi ke dapur untuk membuat makanan dan cake untuk hari jadinya yang terhitung satu tahun sudah berjalan.
Ryeowook menyelesaikan pekerjaannya pukul 6 lebih 32 menit. Setelah meletakkan semua hasil masakannya di meja makan, Ryeowook bergegas membersihakn dirinya yang sudah bau dapur dan sudah pasti namja manis itu merasa gerah.
"Apa Jongwoon Hyung masih belum pulang?" Ryeowook melirik jam weker bergambar hewan berleher panjang kesukaannya yang ada di meja nakas. Pukul 7 lebih 12 menit. Dan Jongwoon belum pulang. Biasanya, namja itu akan sampai pada pukul 7.
"Mungkin sebentar lagi,"gumamnya mmencoba berpikir positif.
.
.
Jongwoon melangkah menuju pintu apartemennya dengan wajah kusut. Rambutnya berantakan. Begitu pula baju kerjanya. Tas kerjanya yang tergenggam oleh tangan kirinya menggantung pada bahunya. Umpatan yang dilafalkannya dengan suara pelan beberapa kali terdengar menggema di lorong sepi itu.
Kesal.
Jongwoon sedang kesal. Jelas terpampang di wajah tampan lelah dan kusutnya.
Jongwoon mengetikkan beberapa kode dan membuka pintu. Membanting sedikit kasar pintu tidak berdosa itu dan melepas sepatunya lalu melemparnya asal. Mengabaikan sandal biru tuanya, Jongwoon berjalan cepat menuju kamarnya. Jongwoon baru saja menjulurkan tangannya untuk meraih kenop pintu ketika suara tenor itu terdengar.
"Hyungie~"
Jongwoon menoleh dan memasang wajah datarnya dan sama sekali tidak menyembunyikan raut lelahnya. Mengabaikan kekagetan namja yang memanggilnya, Jongwoon hanya menoleh tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Hyungie sudah makan? Aku sudah memasak banyak untuk kita malam ini. Sekalian merayakan hari jadi kita, Hyung.
"Aku lelah. Biarkan aku tidur. Kau makanlah sendiri malam ini. Simpan saja sisanya kalau memang tidak habis."jawab Jongwoon sedater wajahnya.
Ryeowook terhenyak. Kaget. Tentu saja.
Bahkan di awal pertemuan mereka, Jongwoon tidak pernah bersikap seperti ini padanya. Memang sama datar, tapi kenapa ini terasa begitu sakit? Dulu ketika Jongwoon berucap seperti itu, Ryepwook juga akan membalas sama datarnya dan tidak terasa sakit seperti ini. Tapi kenapa sekarang rasanya begini?
Merasa tidak ada jawaban, Jongwoon membuka pintu kamarnya dan kembali menutup pintu dengan sedikit bantingan. Ryeowook menyentuh dadanya yang berdegup kencang dan terasa sesuatu yang sesak disana. Ini adalah kali pertama Jongwoon bersikap seperti ini selama hubungan mereka. Dan Ryeowook mencoba mengerti jika Jongwoon pasti sangat lelah. Sudah jelas terlihat dari wajahnya. Lalu Ryeowook berbalik ke dapur dan menyimpan semua masakannya sebelum masuk ke kamarnya dan menjemput kantuknya.
.
.
.
Pagi itu, Jongwoon berangkat pagi-pagi sekali. Bahkan Ryeowook masih membuat sarapan saat itu. Hanya dengan menyambar satu lembar roti tawar, Jongwoon beranjak menuju pintu.
"Aku berangkat,"pamitnya datar ketika Ryeowook mengikutinya sampai depan pintu.
Tidak menunggu tanggapan apapun dari Ryeowook, Jongwoon segera melesat pergi. Ryeowook menatap sedih kepergian Jongwoon. Biasanya kalau Jongwoon pulang dengan keadaan lelah, tidak sampai seperti tadi malam bahkan sampai pagi ini.
"Kau kenapa Hyung?"Tanya Ryeowook entah pada siapa.
Sementara Jongwoon melahap rotinya sambil mengingat ekspresi sedih Ryeowook. Rasa bersalah menyeruah ke permukaannya. Namun Jongwoon juga tidak melakukan yang lebih dari sekedar berjalan menuju mobilnya sebelum mengendarainya menuju kantornya.
"Mianhae, Wookie-ah,"gumamnya sambil mengemudikan mobilnya ke kantor. Hari masih –sangat- pagi. Kemacetan masih belum menjebak sebegitu padatnya. Jongwoon mengedarkan pandangannya ke sekitar sambil menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
Jongwoon menghela nafas panjang. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin. Proposal untuk kerja samanya dengan sebuah perusahaan dari luar negeri tidak di terima. Kerja sama yang sudah direncanakannya gagal otomatis –setidaknya begitulah pemikiran Jongwoon. Padahal utusan perusahaan itu hanya memintanya untuk membuat ulang karena ada beberapa bagian yang kurang pas menurut sang utusan tersebut. Tapi Jongwoon yang sudah berususah payah membuat proposal itu, tentu saja kesal. Belum lagi umma-nya yang tiba-tiba memintanya untuk segera menikah dengan alasan ingin segera menimang cucu. Rasanya Jongwoon ingin menghilang saja.
Jongwoon kembali melajukan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah warna hijau. Dan lebih dari lima belas menit kemudian, sampailah Jongwoon di kantor orang tuanya yang juga merupakan tempatnya bekerja. Menganggukkan kepalanya pelan ketika ada yang menyapanya dan segera bergegas ke ruangannya untuk menyelesaikan beberapa kesalahan pada proposal pentingnya.
.
.
.
Kejadian seperti itu –Jongwoon sedikit mengabaikannya- tidaklah terjadi sekali dua kali. Ini bahkan sudah kali ke sekian Jongwoon bersikap seperti itu meskipun beberapa waktu yang lalu keadaan sempat membaik. Ryeowook ingin bertanya tentang sesuatu yang mungkin mengganggu Jongwoon. Tapi melihat Jongwoon yang selalu pulang dengan wajah lelah membuat Ryeowook memilih memendam pertanyaannya untuk dirinya sendiri dan membiarkannya tanpa jawaban.
Ryeowook sedang berkutat di dapur. Seperti biasa. Sebenarnya, Ryeowook lebih terlihat seperti seorang istri sungguhan di apartemen Jongwoon ini. Bangun pagi. Membuat sarapan sebelum membangunkan Jongwoon setelah membersihkan dirinya sendiri. Menyiapkan beberapa perlengkapan Jongwoon mulai dari baju stelan hingga memakaikan dasi. Membersihkan rumah disela waktu sibuknya sendiri. Ryeowook sendiri bahkan yang menolak ketika Jongwoon ingin menyewa jasa seseorang untuk membereskan apartemennya ini secara penuh –sebenarnya Jongwoon memang sudah menyewa jasa seorang ahjumma sebelum Ryeowook datang dan memintanya hanya membantu ketika Ryeowook benar-benar sibuk.
Dan ketika Ryeowook selesai dengan pekerjaannya dan menunggu Jongwoon, Jongwoon pulang dengan wajah lelah. Ryeowook tetap menyambutnya seperti biasa, sebenarnya. Tapi Jongwoon begitu cuek menanggapi.
"Hyung mau makan dulu atau mandi dulu?"Tanya Ryeowook sembari mengikuti Jongwoon dengan tas kerja Jongwoon di tangan kanannya.
"Aku ingin mandi."
Ryeowook mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi di kamar Jongwoon ketika Jongwoon membuka dasinya di sofa kamarnya.
"Air hangatnya sudah siap, Hyung."
"Terima kasih."
Dan setelahnya, Jongwoon menghilang di balik pintu kamar mandi. Ryeowook hanya diam di tempatnya. Menatap nanar pintu kamar mandi dan mendudukkan dirinya di sofa.
"Apa aku melakukan kesalahan sampai Jongwoon Hyung bersikap begitu? Kenapa Jongwoon Hyung tidak bilang saja?"Tanya Ryeowoom pada dirinya sendiri.
Ryeowook masih dan terus berpikir dengan kedua tangan yang saling bertaut di dahinya yang menunduk dengan lutut menyangga sikunya. Mencoba mengetahui dengan pemikirannya sendiri tentang penyebab Jongwoon bersikap begini padanya. Menurutnya, dan memang iya, tidak ada apapun yang terjadi diantara keduanya bahkan sejak sebelum hari jadi mereka sekitar tiga bulan yang lalu. Apa Jongwoon menyembunyikan sesuatu darinya? Tapi selama mereka bersama, Jongwoon tidak pernah menyembunyikan apapun darinya. Kecuali sesuatu yang sangat pribadi, mereka tidak akan saling mengusik.
Ryeowook mengacak rambut coklatnya frustasi.
"Sebenarnya kenapa?"desahnya pelan dengan pandangan menerawang. Tangannya yang bertautan kini berpindah ke bawah dagunya.
Klek
Ryeowook sama sekali tidak mengubah posisinya ketika Jongwoon sudah membuka pintu kamar mandi. Jongwoon menatap namja manisnya yang diam dengan pandangan menerawang. Rasa bersalahnya kembali menyeruak ke permukaan. Tapi tetap saja, setelah itu jika Jongwoon teringat dengan tekanan sang umma, dirinya menjadi kesal dan berimbas pada Ryeowook yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
.
.
.
Ini adalah bulan ke enam sejak hari jadi mereka yang ke satu tahun. Dan tanggal ini pula yang menjadi awal semuanya. Ketika Jongwoon diajak untuk makan malam bersama bumonimnya. Tanpa Ryeowook. Biasanya, jika umma dari Jongwoon, Taera, mengajak Jongwoon untuk makan malam bersama, pasti Ryeowook juga akan menjadi anggota makan malam keluarga itu. Namun sayangnya tidak untuk malam ini. Ryeowook yang sudah membuat beberapa menu makanan terpaksa menyimpannya demi mengikuti kemana Jongwoon makan malam bersama orang tuanya.
Ryeowook menatap tidak mengerti bangunan yang ada di depannya. Restoran mewah itu, Ryeowook pernah beberapa kali memasukinya. Hanya beberapa kali. Bahkan masih bisa dihitung menggunakan kesepuluh jemari lentiknya. Beberapa saat kemudian, Ryeowook bisa melihat mobil lain yang berwarna silver mengkilat masuk pada area parkir gedung restoran mewah itu. Tiga orang keluar dari mobil. Satu pria dan dua orang wanita cantik. Ryeowook melihat Taera yang bergitu cerah wajahnya ketika ketiga orang –yang nampaknya satu keluarga- itu datang.
Ryeowook ikut msuk ke restoran mewah itu dan memilih satu tempat untuk dirinya sendiri. Dan Ryeowook tidak bisa mengikuti mereka lebih jauh lagi karena kedua keluarga itu tampak berjalan menuju sisi lain restoran mewah itu dengan seorang pelayan yang mengantar mereka. Ruang VIP. Jelas. Dan Ryeowook hanya bisa mendesah pasrah. Ryeowook memesan makanan ketika seorang pelayan menanyakan pesanannya. Ditambah perut laparnya, Ryeowook akhirnya memutuskan untuk memesan beberapa makanan.
"Mereka lama sekali?"Tanya Ryeowook pada dirinya sendiri. Kepalanya beberapa kali menengok ke arah dimana dua keluarga tadi menghilang. Ini sudah lebih dari satu jam. Dan makanan Ryeowook hanya tersisa satu potong cake coklat di mejanya.
"Apa sebaiknya aku pulang saja ya?"pikir Ryeowook.
Ryeowook mengangguk pelan dan menyuap sisa cake-nya sebelum pergi setelah membayar makananya.
.
.
.
Setelah malam itu, Jongwoon sering pulang malam dan melewatkan makan malam bersama seperti kebiasaan mereka. Di hari libur, Jongwoon akan pergi pagi –sekitar jam 10- lalu pulang setelah jam makan malam telah lewat. Ketika Ryeowook bertanya, "Hyung ingin makan apa malam ini?"
Jawaban yang diterimanya hanya, "Aku sedang makan bersama client. Tidak usah memasak untukku."
Atau,
"Hyung sudah makan dengan teman Hyung sepulang dari kantor."
"Hyung diundang untuk makan malam oleh client Hyung yang baru."
"Hyung sedang diminta untuk makan malam di rumah umma. Maaf tidak bisa menemanimu makan malam."
Atau lagi, yang terakhir, yang membuatnya berhenti seketika itu juga.
"Berhentilah menanyaiku ingin makan malam dengan apa. Aku akan sering pulang telat mulai sekarang. Jadi kau tidak perlu memasak makan malam untukku."
Jongwoon memintanya. Maka Ryeowook menurutinya.
Ryeowook tahu sebenarnya. Hanya saja Ryeowook berpura-pura tidak tahu. Berpura-pura buta, tuli dan bisu menurutnya lebih baik. Untuk menjaga perasaannya sendiri dari luka yang sebearnya sudah begitu dalam. Ryeowook bahkan melihatnya berkali-kali. Ketika Jongwoon menjemput seorang wanita muda yang dilihatnya beberapa waktu lalu. Mereka makan siang bersama. Pergi berbelanja bersama. Jalan-jalan bersama. Dan pergi menikmati hari libur berdua. Tapi Ryeowook masilah menyunggingkan senyumnya untuk namja yang dia cintai. Tidak peduli seberapa terlukanya dirinya. Ketika senyum itu bisa menutupi semua lukanya, Ryeowook akan merasa –mencoba, sebenarnya- lebih baik.
Jongwoon bahkan sering melewatkan sarapan berdua mereka. Kegiatan satu-satunya yang Ryeowook harap bisa membuatnya menatap wajah tampan Jongwoon lebih lama. Dan sekali lagi, Ryeowook malah menyunggingkan senyumnya ketika Jongwoon menolak sarapan buatannya.
"Aku sedang buru-buru."
"Aku akan sarapan di kantor."
Atau, "Aku ada meeting pagi ini. Maaf tidak bisa menemanimu sarapan."
Dan Ryeowook hanya menjawab, "Baiklah. Gwaenchanha. Makanlah dengan baik, Hyung. Aku akan mengantarkan bekal makan siang nanti." Tak lupa senyum yang dikembangkan kedua sudut bibirnya.
Dan jika jawaban "Tidak perlu," dilontarkan oleh Jongwoon, maka Ryeowook hanya akan kembali menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan mengucapkan kata "Baiklah," dengan nada pasrah yang terdengar menyedihkan.
Dan Jongwoon bisa melihatnya sebenarnya. Rasa sakit yang dipancarkan kedua caramel itu tidaklah terututpi dengan sempurna. Namun Jongwoon tetap pada keputusannya. Mencoba untuk tidak goyah. Karena itu adalah keputusan terbaik untuk semua. Menurutnya.
..
Jongwoon kembali ke alam sadarnya ketika mendengar suara pintu terbuka lalu tertutup lagi kemudian. Jongwoon menunggu. Biasanya, Ryeowook akan berkunjung ke kamarnya malam-malam. Meski Ryeowook berpikir jika Jongwoon sedang tidur –dan memang benar namja itu tidur- tapi nyatanya namja itu terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka. Jongwoon orang yang mudah terbangun meski hanya karena suara kecil, ngomong-ngomong.
Dan setelah lebih dari satu jam Jongwoon menunggu, namja dengan tinggi tubuh bak model wanita itu tidak juga memasuki kamarnya. Jongwoon hanya mendengar pintu kamar sebelah yang terbuka dan sekian menit kemudian tertutup kembali.
"Hhhhh~ semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu yang lain, Wookie-ah. Yakinlah, ini yang terbaik untuk kita semua."gumamnya pelan dan kemudian beranjak menuju tempat tidurnya.
.
.
.
Satu minggu sebelum acara pertunangan Jongwoon dengan Jessica. Pagi itu, Ryeowook keluar dari kamarnya beserta koper berukuran sedang di tangan kirinya sementara sebuah tas ransel berwarna putih digendong oleh punggungnya dan tangan kanannya memeluk boneka jerapah berukuran kecil yang sering dipanggilnya kiki.
"Kau mau kemana?"
Jongwoon yang saat itu juga baru saja keluar dari kamarnya tentu dibuat bingung dan penasaran dengan namja manis itu.
"Ah, ne. Aku akan pindah ke apartemenku yang baru mulai hari ini."
Ryeowook menyunggingkan senyum tipisya untuk Jongwoon yang masih terdiam dengan tangan yang berada di dasinya –Jongwoon sedang membenarkan letak dasinya ketika bertanya pada Ryeowook.
"Apartemen baru?"
Jongwoon bertanya seperti orang bodoh. Otaknya masih belum bisa mencerna satu kalimat singkat yang Ryeowook ucapkan tidak lebih dari tiga menit yang lalu.
"Ne, apartemen baru. Kemarin aku sudah mencari dan membereskannya bersama Henry. Hyung juga tidak perlu khawatir. Aku sudah membicarakan hal ini dengan umma dan appa. Dan mereka tidak masalah. Mereka malah mendukungku karena tidak enak dengan Hyung."
Ryeowook menjelaskan tentang hasil pembicaraannya dengan bumonimnya beberapa waktu lalu di telepon. Dan Henry yang sudah kembali dari China dengan senang hati membantu mencari apartemen yang tidak terlalu jauh dari universitasnya dan juga membantunya membereskan apartemen dan mengisi apartemen kosong itu.
"Kau akan pergi dari sini?"
Sekali lagi Jongwoon melemparkan pertanyaan yang sudah jelas terlihat di depan matanya jawabannya. Dan Ryeowook hanya mengangguk dengan senyum tipis sebagai jawabannya.
"Maafkan aku jika selama ini aku merepotkan Hyung. Dan terima kasih karena sudah menjagaku selama umma dan appa tidak disini. hyung bisa berkunjung ke apartemenku kalau Hyung tidak sibuk."
Ryeowook berucap dengan tak melepas senyumnya.
Jongwoon merasa, Ryeowook sama sekali tidak pernah menganggap apa yang selama ini mereka lalui itu berarti. Tapi, bukankah perpisahan ini dirinya juga yang memutuskan?
"Ah, baiklah. Hati-hatilah. Kau bisa menghubungiku kalau kau butuh sesuatu atau ada apa-apa."
Balas Jongwoon dengan suara dibuat sebiasa mungkin meskipun sebenarnya dirinya merasa sakit dengan keputusan Ryeowook ini.
"Ne. Ah, aku akan segera berangkat sekarang. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk Hyung. Aku pergi dulu ne. Na kalkke,"
Jongwoon menatap Ryeowook yang mulai meraih gagang pintu, membukanya, melangkah melewati pintu dan kemudian menghilang dibalik pintu berwana coklat itu. Jongwoon lalu menghela nafas pelan dan membawa langkahnya menuju meja makan dimana sudah ada nasi goreng kimchi –sarapan kesukaan mereka dulu- di meja makan. Hanya untuk satu porsi. Dan sebuah kotak bekal di sampingnya.
"Selamat makan,"
Ucapnya entah pada siapa karena sekarang ini dirinya hanya seorang diri di apartemen yang cukup luas itu.
.
.
.
Ryeowook menghampiri mobil audi putih milik Henry yang sudah menunggunya sejak lebih dari sepuluh menit yang lalu. Setelah meletakkan kopernya dengan benar di bagasi mobil, Ryeowook melangkah menuju pintu penumpang dan masuk sebelum kemudian mobil putih itu melaju meninggalkan gedung apartemen yang sudah ditempati Ryeowook dua tahun terakhir.
"Kau tidak akan menyesal kan?"
Henry bertanya dengan mata tetap focus pada jalanan. Dan Henry bersumpah bisa mendengar helaan nafas Ryeowook yang terdengar begitu berat.
"Jongwoon Hyung yang menginginkan ini. Aku akan mengikuti apapun yang Jongwoon Hyung katakan."
"Jadi kalau dia memintamu mati, kau juga akan mati?"Tanya Henry ketus.
Ryeowook terkekeh pelan.
"Tentu saja. Kecuali ada seseorang yang menghalangiku dan memintaku untuk tidak mati, mungkin aku tidak akan mati untuk Jongwoon Hyung."jawab Ryeowook santai.
"Kau plin plan."sahut Henry sedikit kesal dengan pemikiran sepupu manisnya itu.
"Tidak. Lagipula, coba kau pikir, untuk apa aku mati demi Jongwoon Hyung sementara Jongwoon Hyung adalah orang yang tidak menginginkanku? Aku hanya akan mati demi orang yang menginginkanku, Henry-a."
Henry menghela nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
"Terserah kau saja."sahut Henry kesal.
"Tentu saja terserah aku,"
"Yak! Kau menyebalkan Kim Ryeowook!"
"Tapi kau sangat menyayangi aku yang menyebalkan ini, Henry Lau."
"Aish! Sudahlah."
Dan Ryeowook terkekeh senang karena berhasil membuat sepupunya itu kesal.
Setelahnya, sisa perjalanan menuju apartemen baru Ryeowook itu hening. Sesekali Henry tampak melirikkan bola matanya pada Ryeowook. Melihat namja manis yang sedang memandang keluar jendela sambil memeluk boneka jerapah kecil yang diketahuinya diberikan oleh Jongwoon untuk ulang tahunnya dua tahun lalu. Diam-diam Henry menyunggingkan senyum tipisnya. Ryeowook terlihat sedikit melupakan masalahnya ketika mengerjainya tadi. Itu sudah lebih dari cukup untuk Henry. Dibandingkan Ryeowook nyaris tiga minggu yang lalu. Yang lebih suka diam dan menyahut seadanya jika ia bertanya, ini jauh lebih baik ketika Ryeowook kembali suka mengerjainya dengan kata-kata yang membuatnya sebal.
"Cha, kita sampai~"seru Henry ketika mobilnya sudah terparkir dengan rapi di basement gedung apartemen yang cukup mewah itu.
Keduanya turun dan Ryeowook mengambil koper dan membenarkan letak ranselnya yang sempat ia pangku tadi.
"Apa kita perlu membuat pesta kecil-kecilan, Henry?"Tanya Ryeowook ketika keduanya sudah berada di dalam lift yang akan mengantarkan mereka menuju lantai Sembilan gedung itu.
"Tentu saja. Lagi pula kau juga belum memberiku imbalan atas bantuanku untuk mendapatkan dan memebereskan apartemen ini."
Ryeowook mendengus. Sepupunya kenapa jadi suka meminta imbalan begini?
"Jadi kau tidak ikhlas membantuku selama ini?"sungut Ryeowook.
"Tentu saja aku ikhlas. Tapi alangkah lebih baiknya kalau kau memberiku imbalan atas kerja kerasku."
"Itu sama saja, babo!"
Dan Henry tertawa karena berhasil membalas Ryeowook dengan membuatnya kesal.
.
.
.
Ryeowook memencet bell apartemennya dengan sedikit kesusahan. Di kedua tangannya tergenggam kantong plastic besar yang berisi bahan makanan untuk makan malamnya bersama Henry. Tiga kali Ryeowook memencet bell dengan susah payah, akhirnya pintu terbuka dan menampilkan sosok Henry dengan rambut coklat basahnya.
"Lama sekali."gerutu Ryeowook sambil melangkahkan kakinya ke dalam apartemennya membiarkan Henry kembali menutup pintu.
Ryeowook berjalan menuju dapur setelah melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah berwarna biru yang kemarin dibelinya bersama Henry.
"Maaf. Aku kan baru selesai mandi ketika kau memencet bell. Lagi pula kenapa tidak membukanya sendiri huh?" Henry menajawab gerutuan Ryeowook dengan keluhan.
Ryeowook meletakkan kantong plastic belanjaannya di meja counter dan mengeluarkan isinya satu per satu.
"Apa kau menyimpan matamu di rumah 'gege'mu? Kau tidak lihat ya dua tanganku membawa kantung belanjaan berat seperti ini?"sahut Ryeowook kesal.
"Arasseo. Mianhae. Dan apa kau juga meninggalkan matamu di apartemen Jongwoon Hyung? Kau juga tidak lihat mataku ada bersamaku sekarang!"seru Henry.
Dan setelahnya, yang terdengar hanyalah perdebatan tidak penting dengan kata-kata pedas dengan Ryeowook sambil memilih bahan makanan yang akan dimasaknya juga menyimpan yang lain sementara Henry dengan santainya menyantap ice cream coklat milik Ryeowook.
"Yah Henry Lau! Siapa yang menyuruhmu makan ice cream-ku eoh?!" Ryeowook berseru ketika Henry dengan cueknya kini malah membawa cup ukuran sedang yang tinggal berisi separuh itu ke sofa.
"Kau masih punya banyak Kim Ryeowook! Sesekali berbagilah dengan sepupumu yang imut ini."
Ryeowook mendengus mendengar ucapan Henry. Diraihnya pisau dan mulai memasak sambil menggerutu.
"Memang aku tidak pernah memberinya apapun? Aku bahkan lebih sering mentraktirnya dibanding dia. Dasar tidak tau diri!"
Ryeowook mencincang bawang Bombay dengan ganas hingga menimbulkan bunyi berisik.
"Kim Ryeowook! Kau berisik! Kerjakan pekerjaanmu dengan baik atau kubuang ponselmu yang sedang dihubungi Wufan ini!"teriak Henry dari ruang tv.
Mendengar kata Wufan dari Henry, Ryeowook langsung meninggalkan pisaunya dan berjalan menuju tempat Henry berada. Disana, Henry tampak sedang berbincang dengan seseorang di telepon yang sayangnya, itu ponsel Ryeowook. Bukan milik Henry sendiri.
"Kau tidak sopan, Henry."
Ryeowook mem-pout bibirnya sambil merebut ponselnya dari tangan Henry. Namun Hnery hanya membalas dengan gendikan bahunya dan kembali menonton acara variety show di tv sambil menyendok ice cream coklat di pangkuannya.
"Yeoboseyo,"sapa suara berat di seberang sana.
"Ah, ne Wufan. Ada apa menelpon?"Tanya Ryeowook sambil melanjutkan kegiatan memasaknya setelah menjepit ponsel pada bahu dan telinganya.
"Aniya. Hanya ingin mendengar suaramu."
Jawaban dari seberang sana menyebabkan Ryeowook tersenyum kecil.
"Apa kau sedang mencoba menggombaliku?"
Suara di seberang sana terkekeh.
"Apa itu tadi terdengar seperi itu?"
"Ya. Dan itu sangat tidak bermutu."
Dan keduanya tertawa.
"Kau sedang apa?"
"Aku? Aku sedang membuat makan malam. Apa yang kau bicarakan dengan sepupuku tadi?"Tanya Ryeowook sedikit penasaran.
"Tidak ada. Hanya sekedar berkenalan. Dia juga pernah tinggal di Canada kan? Jadi kami sedikit berbicang sesama pria yang pernah dan sedang tinggal di Canada."
Ryeowook mengangguk yang jelas tidak bisa dilihat oleh Kris. Hening sesaat entah apa yang dilakukan Kris di seberang sana. Sedangkan Ryeowook sedikit memfokuskan dirinya pada masakannya.
"Err~ Wookie-ya,"panggil Kris pelan.
"Wae?"sahut Ryeowook seadanya.
Beberapa kali terdengar helaan nafas di seberang line. Seperti sedang menimbang nimbang apakah pertanyaan yang ada di ujung lidahnya itu pantas ditanyakan atau tidak.
"Ada apa Wufan-ie?"Tanya Ryeowook yang sadar kalau Kris masihlah ragu untuk menyuarakan pertanyaannya.
"Kuharap kau tidak marah. Tapi aku benar-benar penasaran dengan ini. Apa kau… Apa kau akan datang ke pesta pertunangan keka—ah, ani, pertunangan mantan kekasihmu? Maaf jika pertayaanku terlalu pribadi."
Ryeowook terdiam dengan sebelah tangan memegang spatula dan sebelahnya lagi mambawa mangkuk berisi daging.
"Tentu saja. Orang tuanya akan mencariku kalau aku tidak datang. Lagi pula orang tuaku juga akan pulang minggu depan. Wae?"
"Kau mau kutemani? Aku akan berusaha meluangkan waktuku minggu depan dan menemanimu. Bagaimana?"tawar Kris.
Ryeowook menggeleng pelan sambil mengaduk daging yang sudah dia masukkan ke dalam frying pan.
"Aniya. Tidak perlu sampai seperti itu, Wufan-ah. Aku akan baik-baik saja. Ada Henry juga nanti yang akan menemaniku."tolak Ryeowook
"Kau yakin? Aku sungguh akan menemanimu kalau kau mau."
"Gwaenchanha. Kau bekerjalah dengan baik. Kau bisa kesini kalau kau sudah tidak sibuk."
"Baiklah. Lanjutkan pekerjaanmu. Bye~"
"Ne. Bye~"
Ryeowook menyimpan ponsel pada kantong apron-nya dan kembali melanjutkan memasaknya dengan helaan nafas yang mengawalai kembali kegiatannya.
.
.
.
Jongwoon memasuki apartemennya dengan langkah gontai dan raut wajah lelah tampak jelas pada raut tampannya. Namja itu meletakkan pantofel hitam-nya di rak sepatu dan berganti memakai sandal rumah berwarna merah yang dibelikan Ryeowook satu bulan sebelum kepergiannya ke Jepang waktu itu.
"Aku pulang,"ucapnya pelan entah pada siapa karena saat ini Jongwoon hanyalah seorang diri di apartemen mewah yang cukup luas itu.
Jongwoon membuka pintu kulkas dan meraih satu botol air mineral untuk diteguknya sampai habis. Namja itu memperhatikan sekelilingnya. Dan satu kata yang menyapanya saat ini. Sepi.
Dulu, biasanya, ketika Jongwoon baru pulang dan mengucapkan kata 'Aku pulang,' pastilah ada suara tenor manis yang segera menyambut gendang telinganya dengan nada ceria. Dan dulu, jika Jongwoon sudah melangkah menuju dapur, maka akan ada langkah kaki lain yang mengikutinya dengan berbagai macam pertanyaan mulai dari 'Apa Hyung lelah?' atau 'Hyung sudah makan malam?' atau lagi 'Hyung mau makan malam dulu atau mandi dulu?' dan berbagai pertayaan lainnya yang sayangnya, sering diabaikannya beberapa bulan yang lalu. Padhal Jongwoon sudah pernah mengatakan untuk tidak menanyakan hal itu karena dia akan pulang telat. Dan kenyataannya memang begitu. jongwoon pulang telat dan mengabaikan pemilik suara tenor manis itu.
Dan sekarang, hanya suara desiran angin lembut yang menyambut kepulangannya dari pekerjaan yang menguras tenaga dan pikirannya. Dan barulah sekarang Jongwoon sadar, kalau hidup sendiri itu sangat menyedihkan. Mungkin dulu Jongwoon memang biasa saja ketika dirinya tinggal seorang diri di apartemen ini. Tapi sejak dua tahun terakhir ada penghuni lain di tempatnya, Jongwoon merasa sudah terbiasa dengan keributan yang seringlah terjadi di tempat tinggalnya ini. Dan sekarang, Jongwoon harus membiasakan dirinya lagi.
"Tidak ada makan malam. Tidak ada yang menyiapkan air hangat. Ck,"gerutunya ketika melihat meja makannya masihlah kosong. Dan lagi, bekas sarapannya tadi masih setia menjadi penghuni tempat cuci piringnya.
Jongwoon melangkah menuju ruang tv-nya dan meraih ponsel. Menelpon delivery dan menyalakan tv dengan satu kaleng soda di tangannya.
"Ryeowookie, ada drama kesukaanmu!"seru Jongwoon tanpa sadar ketika channel yang dipilihnya sedang menayangkan drama kesukaan Ryeowook.
Dan heninglah yang menjawab teriakannya. Biasanya akan langsung ada ketika Jongwoon meneriakan kalimat itu. Meski sudah sangat jarang dilakukannya beberapa bulan lalu.
"Ah~ aku lupa kalau Ryeowook sudah pergi dari sini tadi pagi."gumamnya sambil mengganti channel.
Beberapa saat kemudian bell apartemennya berbunyi. Jongwoon menerima makanannya dan membayarnya lalu pergi ke dapur mengambil air putih dan menyantap makan malamnya seorang diri.
"Rasanya aneh jika harus makan seorang diri seperti ini,"gumamya disela kegiatannya menyuapkan makanannya.
.
.
.
Tiga hari sebelum pertunangannya, Jongwoon menyempatkan dirinya untuk menjemput Jessica di bandara. Namja itu menunggu sambil memainkan ponsel di tangannya. Kepalanya sesekali mendongak untuk sekedar menatap lalu lalang di depannya. Jas hitamnya yang tidak dikancing melekat di tubuhnya. Masih juga ada pantofel hitam di kakinya. Jongwoon hanya menambah kacamata hitam untuk menutupi mata bulan sabitnya.
Sementara itu, beberapa meter dari tempat Jongwoon duduk, seorang namja dengan tinggi menjulang sedang menyeret koper sedangnya dengan langkah santainya. Kaos tanpa lengan berwarna hitam yang dilapisi kemeja abu-abu gelap yang dibuka dua kancing teratasnya menutupi tubuh tegapnya sementara kacamata hitam juga menutup matanya dan celana jeans hitam juga membalut kaki panjangnya. Ponsel hitam tertempel di telinganya.
"Ne, Ryeowookie. Jadi bisa kau menjemputku?"
Namja itu yang kebetulan melewati Jongwoon tampak mengucapkan kalimat yang membuat Jongwoon mau tidak mau mengangkat kepalanya demi menatap namja kelewat tinggi itu. Kening Jongwoon berkerut. Ryeowookie? Ah, nama Ryeowook kan tidak hanya satu. Pikirnya.
"Jadi kau tidak akan menjemputku?"
Namja itu mendudukkan dirinya di kursi yang tepat berada di samping Jongwoon.
"Oppa,"seruan dari seorang wanita mengalihkan perhatian Jongwoon dan namja tadi.
Sama-sama menatap seorang gadis cantik yang sedang menyeret koper berukuran sedangnya dengan kacamata coklat membingkai wajah cantiknya. Namun tetap saja itu tidak membuat namja tinggi tadi lupa siapa sosok wanita yang kini tengah bergelayut manja di lengan Jongwoon. Namja itu, Kris, mendengus sebelum menjawab ucapan orang yang ada dalam sambungan telepon dengannya. Ryeowook.
"Karena kau memang harus menjemputku, sayang. Kau pikir siapa lagi yang bisa menjemputku disini kalau bukan kau, Ryeowookie?"matanya sesekali melirik pada Jongwoon yang masih berdiri di tempatnya tadi dengan tangan yang kini menggenggam gagang koper wanita tadi, Jessica.
"Aku tidak tahu alamat rumahmu. Lagi pula, kenapa kau repot sekali. Kau hanya perlu mengemudikan mobilmu ke bandara dan menemuiku yang akan menunggumu di depan dan semuanya selesai, sayang."
Matanya menatap Jongwoon sekilas yang juga tampak meliriknya.
"Tidak mau. Aku ingin memanggilmu begitu. Sudahlah. Yang jelas aku akan menunggumu disini sampai kau datang. Bye~"
Kris menatap kepergian sepasang calon tunangan itu dalam diam. Ponsel dalam genggamannya diremasnya pelan. Dengan pelan membuka kacamata hitamnya dan menggantungnya pada kaosnya sebelum keluar dan memutuskan menunggu Ryeowook di depan.
"Kim Jongwoon. Jung Jessica."ucapnya pelan.
.
.
.
Ryeowook mendengus menatap namja tinggi yang kini berselonjor di karpet bulu tebal berwarna biru gelap miliknya di ruang tv. Sementara yang ditatap malah asik mengganti channel televise dan mengabaikan sang tuan rumah yang sudah kesal setengah mati.
"Kau menyebalkan, Wu Yifan!"seru Ryeowook kesal.
"Aku tahu."jawab Kris santai.
Ryeowook mendelikkan matanya pada Kris yang masih tetap mengabaikannya. Merasa dirinya akan semakin kesal jika masih bertahan di posisinya, Ryeowook memutuskan untuk ke dapur, mengambil masakan hasil memasaknya yang sempat diganggu oleh namja tiang itu dan meletakkannya di meja. Jam makan siang sudah lewat. Tapi Ryeowook sudah terlanjur memasak dan akan sangat sayang kalau tidak termakan.
"Wufan! Ayo makan!"seru Ryeowook dari dapur.
Kris yang berada di depan televise dengaan cepat mendudukkan dirinya dan bangkit lalu berjalan menuju sumber suara. Kris menatap meja makan untuk empat orang itu. Ada beberapa makanan disana. Ada cake coklat juga disana.
"Kau memasaknya?"tanyanya ketika sudah mendudukkan dirinya di salah satu kursi.
"Ne. Dan kau menggangguku dengan menyuruhku menjemputmu."
Kris mengabaikannya. Mencomot bulgogi dari mangkuk dan melahapnya.
"Ini enak."komentarnya dan kembali mencomot satu per satu makanan di meja.
"Ya. Cuci dulu tanganmu, Hyung babo!" Ryeowook memukul tangan Kris yang akan mencuri satu lagi bulgogi.
"Aish! Jangan memanggilku Hyung."protes Kris.
"Tapi kau memang lebih tua dariku. Jadi harusnya kau kupanggil 'Hyung'"
"Lupakan. Aku lapar."
Balas Kris akhirnya dan mengalah. Mencuci tangannya dan mengisi mangkuk nasinya dengan masakan Ryeowook sampai penuh.
"Kau makan seperti babi."celetuk Ryeowook.
"Aku lapar."balas Kris tidak peduli. Ryeowook mendengus.
.
.
.
"Aku akan mengantarmu ke rumah umma. Kau tidurlah disana selama disini."
Jongwoon tampak focus dengan kemudinya dan hanya melirik sesekali pada penghuni lain mobilnya.
"Eh? Aku pikir aku akan menginap di apartemen oppa?"
"Kau tidak bisa melakukannya, Ssica. Aku akan mengantarmu ke rumah umma. Baru setelah kau benar-benar tinggal disini, aku akan membantumu mencari apartemen."
"Baiklah."
Dan setelahnya, perjalanan menuju rumah orang tua Jongwoon hanya diisi dengan keheningan. Karena baik Jongwoon maupun Jessica sibuk dengan pemikiran mereka. Setidaknya, pikiran Jongwoon tidaklah terlalu jauh dari Ryeowook. Dan namja di bandara yang menyebut nama Ryeowook. Jongwoon penasaran, apa benar Ryeowook yang disebut namja tinggi tadi sama dengan Ryeowook yang sempat dicintainya. Setidaknya, begitulah pemikiran Jongwoon.
Jongwoon membukakan pintu untuk Jessica dan mengambil koper milik gadis cantik itu dari bagasi. Menuntunnya menuju pintu utama rumah besar orang tuanya. Jessica tampak menggantungkan tangannya pada lengan Jongwoon dan Jongwoon juga senang saja dengan itu. Keduanya disambut oleh pekikan riang sang Nyonya rumah. Kim Taera tampak begitu semangat menghampiri calon menantunya yang kini sedang memamerkan senyum cantiknya di depan pintu. Jongwoon hanya geleng-geleng dengan senyumnya ketika sang umma menyeret calon tunangan-nya itu ke sofa.
"Ah, aku sudah menyiapkan kamar untuk Jessica. Kau bisa meletakkannya di kamar tamu, Woon-ie."ujar Taera ketika melihat Jongwoon hanya berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk bersama Jessica.
"Baiklah,"
Dan Jongwoon pergi meninggalkan dua wanita itu untuk sekedar mengobrol santai. Lalu kembali dengan cepat setelah meletakkan koper Jessica di kamarnya.
"Aku harus kembali ke kantor. Kita akan bertemu lagi makan malam nanti, Ssica."pamitnya.
"Kau sudah mau kembali? Kenapa cepat sekali?"keluh sang umma. Sedangkan Jessica hanya tersenyum melihatnya.
"Ne, gwaenchanha Oppa. Sampai bertemu nanti malam. Dan hati-hati di jalan,"
Jongwoon mengulum senyumnya. Melangkah perlahan menuju pintu keluar dan melajukan mobilnya. Bukan ke kantornya. Tapi ke apartemennya.
.
.
.
Ryeowook memasukkan sisa barangnya dalam tas besar dan keluar dari kamar yang dulu pernah ditempatinya selama sekitar dua tahun lamanya. Matanya menatap Kris yang sedang mengamati ruang tengah apartemen mewah itu.
"Aku sudah selesai."ucapnya ketika sudah sampai di belakang Kris yang sedang menatap beberapa fotonya dan Jongwoon yang terpajang di meja kecil dengan televise.
Kris menoleh dan menemukan Ryeowook di belakangnya.
"Kita pulang sekarang?"
Ryeowook mengangguk. Dan baru saja keduanya akan berjalan, seseorang membuka pintu apartemen. Menampilkan sosok dengan mata bulan sabitnya yang sedang menatap terkejut keduanya. Benar, keduanya, Ryeowook dan Kris.
"Ryeowook?"
"Jongwoon Hyung?"
Dalam hati, Jongwoon bertanya-tanya dan tidak menyangka. Siapa sebenarnya Kris dan dirinya sangat tidak menyangka kalau Ryeowookie yang sempat disebut namja tinggi itu di bandara adalah Ryeowook yang dikenalnya. Jongwoon masih ingat, tentu saja. Ciri-ciri namja itu sedikit mencolok mengingat tinggi dan parasnya. Meskipun saat itu wajahnya terbingkai oleh kacamata hitam, Jongwoon tidaklah lupa.
Keduanya, Kris dan Jongwoon, sedang duduk di sofa depan televise milik Jongwoon. Namja tuan rumah itu duduk di sofa panjang sementara Kris mendudukkan di sofa single sebelah kiri Jongwoon –yang sebenarnya itu adalah tempat terjauh dari Jongwoon. Ryeowook kembali dengan dua gelas cappucinno dan segelas jus strawberry di nampan. Meletakkan di depan dua namja lain sebelum mendudukkan dirinya di ujung kiri di sofa yang sama dengan Jongwoon –lebih dekat dengan Kris letaknya.
"Jadi kau kesini untuk mengambil sisa barangmu?"Tanya Jongwoon membuka suara. Menyesap sedikit isi cangkir merahnya dengan pelan. Matanya melirik pada Ryeowook yang menatapnya.
"Ne. Maaf, aku tidak tahu kalau password-nya belum Hyung ubah. Jadi aku langsung masuk tadi."jawab Ryeowook merasa tidak enak dengan namja tampan berpipi chubby di sampingnya ini.
"Gwaenchanha."
Hening.
Kris memilih menikmati isi cangkir putihnya sambil sesekali melirik Ryeowook yang terkadang kebetulan juga sedang meliriknya. Jongwoon memperhatikan keduanya dalam diam lalu berdehem pelan untuk menarik perhatian dua orang yang sedang saling melirik itu. Ryeowook menolehkan kepalanya menatap Jongwoon yang melirikkan matanya pada Kris.
"Ah, ne. Kenalkan, Hyung. Ini Kris. Dan Kris, dia Jongwoon Hyung. Pemilik apartemen ini."
Keduanya saling menundukkan kepala dan berkenalan.
"Jongwoon Hyung tidak ke kantor?"Tanya Ryeowook yang cukup heran melihat Jongwoon berada di apartemennya pada jam seperti ini. Jam istirahat sudah lewat lebih dari satu jam yang lalu, ngomong-ngomong.
"Ah, aku hanya ingin mengambil beberapa file yang tertinggal."jawab Jongwoon kemudian meneguk isi cangkirnya.
"Ah begitu. Kalau begitu kami pulang dulu ne, Hyung."pamit Ryeowook sambil beranjak dari duduknya.
"Eh? Ah, baiklah."
Dan setelahnya, Ryeowook dan Kris keluar dari apartemen Jongwoon. Meninggalkan Jongwoon yang berpikir, "Apa mungkin dia kekasih Ryeowook sekarang? Cepat sekali?"
.
.
.
Ryeowook tiba di rumah lamanya bersama Kris. Orang tuanya sudah sampai siang tadi dan langsung menuju rumah mereka yang hanya dijaga oleh seorang bibi. Ryeowook yang tidak bisa menjemput karena pekerjaannya akhirnya terpaksa menerima omelan dari umma-nya.
"Apa uang yang kami berikan masih belum cukup sampai kau harus bekerja di waktu bebasmu dari kuliah? Kalau masih kurang, kau kan bisa memintanya dari kami? Kenapa harus bekerja seperti itu? Seharusnya jika kau punya waktu luang, gunakan untuk istirahat atau mengerjakan tugas kuliahmu. Bukan untuk bekerja. Lihatlah matamu yang bla bla bla." Ryeowook tidak mendengar lagi omelan sang umma dan lebih memilih mengusap telinganya yang sudah cukup panas mendengar celotehan umma-nya.
Ryeowook mengetuk pintu tiga kali dan barulah pintu terbuka menampilkan sosok bibi Nam yang memang sudah bekerja disana sejak entah kapan karena seingat Ryeowook, ketika dirinya masih balita, dirinya sudah bermain dengan bibi Nam.
"Annyeonghasseyo bibi Nam,"sapa Ryeowook ramah.
"Annyeonghasseyo, Ryeowookie,"balas bibi Nam.
Ryeowook dan Kris kemudian masuk setelah bibi Nam menyingkir dari pintu. Keduanya menuju ruang keluarga dimana umma dan appa Ryeowook sedang duduk menikmati teh hangat dengan beberapa cookies dengan tv menyala.
"Umma, Appa~~"seru Ryeowook dan berhambur pada orang tuanya. Ryeowook mendudukkan pantatnya tepat diantara orang tuanya. Kris mengikuti dari belakang.
"Yah! Perhatikan kalau duduk."seru ummanya –pura-pura- kesal sambil menggeser duduknya.
"Umma~ aku merindukan kalian~"ucap Ryeowook tidak menanggapi ucapa sang umma sebelumnya.
"Kami juga merindukanmu, sayang."balas sang appa dan mengusap sayang kepala Ryeowook.
"Err~ nuguseyo?"Tanya sang umma. Ryeowook dan Dongsuk, sang appa, menoleh dan dengan segera Ryeowook menepuk pelan jidatnya.
"Ah Wufan. Duduklah. Maaf aku melupakanmu. Ehehehe~"
Orang tua Ryeowook menatap namja yang baru saja mendudukkan pantatnya di sebuah sofa single di samping Minri, umma Ryeowook.
"Ah, annyeonghasseyo ahjussi, ahjumma. Jeoneun, Wu Yifan imnida." Kris membungkukkan badannya dan menarik senyumnya.
Dongsuk tampak mengerutkan keningnya. Berusaha mengingat, mungkin?
"Ah, annyeonghasseyo, Yifan."balas Minri ramah.
"Panggil saja Kris, ahjumma."ralat Kris.
Minri menganggukkan kepalanya.
"Ah, Kris. Kau kah itu? Benarkah?" Dongsuk tiba-tiba bersuara dengan senyum lebarnya.
Kris menatap Dongsuk dengan senyum lebarnya.
"Annyeong, ahjussi."
"Astaga Kris! Ini benar kau? Kau kenal dengan anakku? Ya Tuhan, betapa sempit dunia ini?"
Ryeowook dan ummanya hanya menatap bingung dua pria beda usia di depan mereka ini. Bibi Nam datang dengan secangkir coklat hangat dan cappucinno di nampan.
"Appa kenal Wufan-ie?"Tanya Ryeowook penasaran. Ummanya mengangguk menyetujui pertanyaan Ryeowook.
Dongseok menoleh pada Ryeowook dengan senyumnya.
"Tentu saja. Kami bertemu di Jepang bulan lalu untuk urusan bisnis. Benar kan, Kris?" Dongsuk menoleh pada Kris meminta persetujuan."Dan ya! Kenapa kau memanggilnya begitu? dia itu lebih tua darimu. Harusnya kau memanggilnya Hyung."tegur sang appa. Ryeowook manyun.
"Gwaenchanha ahjussi. Aku yang memintanya untuk tidak member embel-embel Hyung."bela Kris.
Ryeowook tersenyum menang.
"Tapi itu tidak sopan, Kris."
Kris hanya tersenyum menanggapi ucapan ayah Ryeowook. Kemudian ke-empatnya beranjak menuju ruang makan untuk makan malam. Kris akan menginap di rumah Ryeowook malam ini. Dan besok mereka akn berangkat ke acara pertunangan Jongwoon bersama.
.
.
.
Hari H. Jongwoon sedikit gugup. Padahal hanya pertunangan. Bagaimana kalau pernikahan? Pikirnya. Jongwoon berjalan memasuki ruang tamu di kediaman orang tuanya yang sudah cukup penuh dengan orang. Matanya mencari sosok cantik yang akan menjadi calon pendamping hidupnya nanti. Dan disana, di tengah ruangan, Jongwoon menemukan sosok cantik calon tunangannya berdiri dengan beberapa gadis lain. Temannya mungkin? Jongwoon tidak menghampirinya dan memilih menyambut tamu yang datang. Dan baru saja Jongwoon akan menyambut tamu yang baru saja memasuki ruangan acara berlangsung, dirinya dikejutkan dengan kedatangan rekan kerja appa-nya yang juga sekaligus sahabat orang tuanya.
"Hey, selamat untuk pertunanganmu, Nak."ucapan selamat didengarnya dari mulut pria yang sudah tidak muda itu.
Jongwoon tersenyum dan menyambut uluran tangan orang itu, Kim Dongsuk, appa Ryeowook.
"Terima kasih, ahjussi."
"Tapi mana tunanganmu, Jongwoon-ah?" Minri tampak melongokkan kepalanya kesana kemari demi menemukan sosok yang akan menjadi pendamping hidup Jongwoon nantinya.
"Dia sedang bersama teman-temannya, ahjumma. Akan aku panggilkan."
"Ah, tidak perlu Jongwoon. Biarkan saja dulu kalau begitu."
Jongwoon mengangguk dan tersenyum lalu menatap dua sosok lain yang datang bersama Dongsuk dan Minri. Ryeowook dan Kris.
"Selamat, Hyung."ucap Ryeowook yang hanya bisa didengarnya dan Jongwoon. Kris mengganggam lembut sebelah tangan Ryeowook yang tidak terulur untuk memberi selamat pada Jongwoon.
"Ne. Terima kasih, Ryeowook-ah."Jongwoon mengembangkan senyumnya.
"Selamat, Jongwoon-ssi."
Jongwoon menoleh pada pria tinggi di sebelah Ryeowook. Tatapan tidak suka jelas terpancar di mata tajam itu. Beruntung umma dan appa Ryeowook sudah pergi ketika melihat Daehwan dan Taera.
"Terima kasih, Kris-ssi."
Genggaman tangan keduanya tampak begitu erat. Berusaha membuat salah satunya meringis, setidaknya.
Suara dari sang pembawa acara menginterupsi keduanya untuk segera melepaskan genggaman keras itu. Jongwoon berbalik dan berjalan menuju Jessica yang sudah berada di tempatnya. Para tamu sudah berkumpul dan diam memperhatikan. Sesekali terdengar bisik-bisik diantara mereka. Dan kali ini Ryeowook yang meremas tangan Kris. Rasanya ingin melarikan diri saja.
"Jongwoon Hyung~"rintih Ryeowook dengan suara bergetar.
Dan air matanya malah menetes ketika dua orang di depan sana yang menjadi focus utama saling menyematkan cincin di jari manis keduanya secara bergantian. Suara riuh tepuk tangan menyamarkan isakannya. Kris berusaha menenangkannya sebisanya. Dan Ryeowook lebih memilih keluar dari ruangan penyiksaan batinnya itu dari pada harus merasakan sakit yang lebih dari ini. Kris mengejarnya dengan cepat.
Sementara itu, Jongwoon menatap kepergian Ryeowook dengan perasaan bersalah. Tapi sekali lagi, dirinya meyakinkan kalau keputusan inilah yang terbaik untuk semuanya. Baik dirinya, Ryeowook, bahkan kedua orang tua mereka. Berusaha untuk tidak menyesal akan keputusannya sendiri.
.
.
.
TeBeCe
.
.
.
Ichi bingung. Ini apaan? O.O ckckck
Maaf atas segala kesalahan dan kekurangan yang ada. *bow* Maaf pula atas keterlambatan apdet yang memakan waktu begitu lama sedangkan hasilnya hanya seperti ini. Hukss~
Makasi yang udah pad abaca dan review maafkan Ichi yang tidak bisa membalas satu-satu review kalian. Ichi baca kok. I swear! Words-a udah kebanyakan :D
Pay pay~~~
