Warning: typo(s), alur berantakan, tidak sesuai EYD. Thank you for your attention, sistur! Enjoy!
—
Gangnam-gu, 23.00 pm
"Luhan! Ku tanya sekali lagi! Kau dimana sekarang?!" Sehun bertanya sambil menggeram marah untuk kesekian kalinya pada sosok gadis yang sedang berbicara dengannya melalui ponsel. Tangan pemuda itu mengepal hingga kuku-kuku nya memutih. Tak habis pikir dengan Luhan yang tak berhenti membuatnya khawatir.
"Luhan! Ku tanya sekali lagi, kau dimana?!" Sehun tak kuat menahan amarah nya. Luhan sudah mengikis seluruh kesabarannya malam ini.
"Sehun-a," suara Luhan terdengar tidak beraturan, "Jangan mencariku, arraseo? Aku—tidak apa-apa, brengsek!" Luhan memaki Sehun di akhir perkataannya. Nafas gadis itu terdengar memburu.
Suara dentuman music yang begitu memekakan telinga terdengar di pendengaran Sehun. Ia mencengkram stir mobil nya. Matanya menyalang menatap jalanan. Sudah cukup. Ia harus membawa Luhan sekarang juga!
"Kau tidak akan menemukanku, Sehun~" ia dapat merasakan Luhan mulai kehilangan kesadarannya, "Sekarang, kau diam dirumah, arraseo? Aku tidak akan menganggu mu lagi bersama Bang Minah kesayangan mu~ hihihi,"
"Luhan, kumohon." Suara Sehun terdengar parau, "Kau dimana, Lu? Jawab aku, Tuan Putri."
"Aku, jauh darimu, Sehun-a~" Luhan terkekeh lucu di seberang sana, "Ouch, kepalaku. Ugh,"
"Luhan," Sehun memukul stir mobilnya tak sabar, "Berhenti membuatku marah, Luhan. Kau dimana sekarang?"
Luhan tertawa keras, "Berhenti mengkhawatirkanku, brengsek! Aku tidak butuh belas kasih mu! Hiks, kau pikir—aku suka kau abaikan?! Tidak! Aku tidak suka!" gadis itu mengerang kesal. "Aku membencimu!"
"Selamat tidur, Sehun-a. Bye~" sambungan telpon itu langsung diputus oleh Luhan secara sepihak. Membuat Sehun gelagapan mencari dimana keberadaan Luhan.
Sehun menepikan mobilnya di tempat yang lumayan sepi. Berpikir keras kepada siapa yang bisa membantunya untuk mencari Luhan di hari yang akan berakhir ini. Jalanan sedang ramai. Seolah-olah, kehidupan kota ini tidak akan usai meskipun hampir menunjukkan waktu tengah malam.
"Ya, Oh Sehun? Ada apa?" gotcha, Sehun mendengar suara dentuman music saat Baekhyun mengangkat panggilannya.
"Mencari Luhan, huh?"
"Ya, Baekhyun. Katakan dimana dia sekarang. Aku meminta tolong padamu,"
Suara Baekhyun belum terdengar. "Club milik Johnny. Aku dan Luhan sedang berada disitu,"
Sehun tersenyum lega. Astaga, seperti beban-beban yang ada di tubuh nya hilang seketika. "Terima kasih, Baekhyun."
"Cepatlah, Sehun. Luhan benar-benar membutuhkanmu."
Mendengar perkataan Baekhyun, Sehun langsung menancapkan gas nya dengan cepat. Menembus angin malam menuju Luhan, kehidupannya.
—
Dentuman music yang menggelegar, kerumunan orang-orang yang sedang menari seperti orang kesetanan di dance floor tak membuat Sehun berhenti mencari gadis mungil nya. Tubuh jangkung miliknya menerobos orang-orang itu dan sesekali menyelipkan kata 'permisi'.
Bahkan, ia tau kalau tubuhnya beberapa kali digerayai oleh beberapa gadis yang ingin menyentuh nya. Sehun tak perduli, ia butuh Luhan sekarang!
Sehun menemukan Luhan yang sedang terduduk lemas di kursi panjang. Dengan Baekhyun serta Kyungsoo di depannya. Di tengah mereka, terdapat meja berukuran sedang yang dihiasi banyak soju. Tangan mungil gadis itu tak berhenti untuk meminum minuman beralkohol di depannya.
"Luhan, sudah cukup. Kau sudah mabuk berat, Luhan!" Baekhyun menjerit. Ingin rasanya dirinya mengambil lagi seluruh botol-botol soju itu dari jangkauan Luhan. Namun, ia tau—Luhan sedang marah.
"Baekhyun-ie mau, tidak? Ini enak~ hihihi," Luhan menggoyangkan sebotol soju di depan Baekhyun, "Aku suka,"
Kyungsoo mengerang, "Luhan, sudah cukup. Kau membuat dirimu kesakitan! Aku tidak mau memapahmu pulang! Kau bau alkohol!" gadis itu mengeraskan suaranya karena music yang kian keras.
Sehun tak tahan lagi. Ia mendekati gadis mungil itu dengan cepat. Menariknya sehingga gadis itu berdiri dengan posisi yang hampir terhuyung ke belakang, "Siapa kau?! Jangan pernah berani menyentuhku!" marah Luhan padanya.
"Kita pulang," jawab Sehun tegas. Dirinya melepaskan botol soju dari jemari Luhan. Mengembalikan ke tempat yang semula, "Kita pulang, Luhan."
"Aku. Tidak. Mau." Luhan berkata gusar. Menepis jemari Sehun yang bertaut di jemari nya, "Sudah cukup, brengsek! Sudah kubilang, kau jangan mencariku!"
"Berhenti membantahku, Luhan." Sehun menggeram rendah, "Aku tidak suka kau menjadi gadis yang pembangkang."
Luhan tertawa kencang, "Lalu? Apa itu urusanmu, Sehun? Aku muak dengan mu! Silahkan kau kembali pada Bang Minah! Aku membencimu!"
Sehun menangkap tubuh mungil Luhan yang terhuyung. Melingkarkan tangannya pada pinggang Luhan, memeluknya posesif. Membawa Luhan kedalam dekapannya yang hangat meskipun gadis itu sedang memukulinya dengan kencang.
"Pergi, Sehun! Hiks, aku membencimu! Pergi! Kau menyebalkan! Kau mengabaikanku! Kau malah tidak menolehku! Sehun, hiks… Kau jahat!" Luhan menangis kencang. Ia sangat sakit hati pada Sehun. Sangat.
Ia membenci Sehun. Sangat.
"Tidak, princess. Aku tidak mengabaikanmu. Maafkan aku," Sehun menarik kepala belakang Luhan sehingga wajah gadis itu terbenam di dada nya, "Maafkan aku. Maafkan aku," ia berkata lirih.
"Hiks, Sehun jahat padaku." Luhan tersedu-sedu, "Aku tidak suka diabaikan. Harusnya kau tau itu!"
"Maafkan aku, Tuan Putri. Aku tidak akan mengabaikan mu lagi. Yaksok," ya, Sehun tidak akan tenang jika Luhan jauh dari jangkauannya. Sehun akan mencari kemanapun Luhan pergi jika gadis itu tidak mengabarinya sama sekali.
Ya, katakan kalau Sehun benar-benar mengekang Luhan.
Sehun mengenal Luhan sejak Sekolah Dasar. Awal pertemuan mereka adalah ketika Luhan yang sedang menangis akibat berebut mainan dengan temannya.
Sehun masih ingat saat itu Luhan menangis kencang dan menuduh temannya seperti penjahat nomor satu di dunia. Hati Sehun benar-benar menghangat melihat tingkah menggemaskan Luhan.
Sehun tidak ingat bagaimana mereka bisa sedekat ini. Yang Sehun justru ingat adalah ketika Luhan sudah mengekorinya seperti anak ayam yang sedang tersesat.
Luhan berubah menjadi gadis yang sangat cantik. Menjadi gadis yang sangat manja ketika bersamanya. Menjadi gadis yang sangat menggemaskan ketika bersamanya.
Luhan, benar-benar mengambil alih seluruh perhatian Sehun.
Sehun dielu-elukan. Sehun setiap hari mendapatkan bekel tiap pagi. Tak jarang, pemuda itu mendapatkan banyak sekali surat cinta yang selalu ia temukan di dalam lokernya.
Gadis-gadis itu melakukan apa saja untuknya—agar mendapatkan perhatiannya. Tetapi, Luhan berbeda. Luhan tak perlu itu.
Seluruh perhatian Sehun seolah terkuras habis hanya karena Luhan yang sedang tertidur dengan nyaman. Dengan mulut yang terbuka sebesar jari kelingking, Sehun seperti tersedot oleh pesona Luhan.
Hanya karena tatapan Luhan, Sehun seolah melupakan dunia. Melupakan apapun yang ada di sekitarnya. Luhan, kehidupannya.
Apakah Sehun tidak pernah berhubungan dengan perempuan manapun? Jawabannya, tidak.
Apakah Sehun berniat untuk memiliki kekasih? Jawabannya, tidak.
Sehun tidak ingin membagi perhatiannya kepada gadis lain. Ia hanya memberikan perhatian pada tiga perempuan di dunia ini.
Ibunya, adiknya —Oh Yerim, serta Luhan.
Ia bahkan pernah bertengkar dengan Yeri. Gadis kecil itu melayangkan protes karena merasa tidak adil ketika Luhan mendapatkan perhatian lebih daripada dirinya. Terkadang, Sehun lebih mengutamakan Luhan daripada adiknya sendiri. Pemuda itu tak bisa untuk menahan senyuman geli.
"Sehun, pulanglah. Bawa Luhan bersamamu. Aku yang akan membawa mobilnya. Dia sudah banyak menangis," Baekhyun mendekati Sehun dan Luhan yang berada di dekapan, "Sepertinya, dia sangat kesal padamu, Sehun-a. Sampai-sampai, aku harus dibawa kesini bersama Kyungsoo yang sedang mengerjakan laporan dari Kim kyosu."
Sehun tersenyum miris, merasa bersalah, "Maafkan aku, Baek. Rusa kecil ini benar-benar merepotkanmu dan Kyungsoo malam ini."
Baekhyun tertawa, "It's okay, Oh Sehun. Justru aku tidak tenang jika Luhan tidak bersamaku. Dia gadis yang manja," gadis mungil itu mengelus rambut belakang Luhan, "Oh, apakah dia tidur?"
Sehun menundukkan pandangannya, "Sepertinya iya, Baekhyun. Dia tidak bergerak sama sekali." Pemuda itu terkekeh gemas.
"Baiklah," Sehun menggedong Luhan seperti koala. Membungkus tubuh kecil Luhan dengan jaketnya, "Aku pulang dulu. Terima kasih, Baekhyun."
Sehun membuka pintu mobilnya dengan susah payah. Merebahkan Luhan pada kursi mobilnya pelan. Menyelimuti gadis itu dengan selimut tipis yang berada di kursi belakang.
Sehun menjalankan mobilnya pada jalanan yang mulai renggang. Jemari nya tetap setia menggengam jemari kecil Luhan dengan erat. Mengelus punggung tangan gadis itu dengan lembut. Sesekali, mencium punggung tangan si mungil agak lama.
Sehun memakirkan mobilnya ke basement apartemen di tempat ia tinggal. Mematikan mesin dan menggedong Luhan kembali.
Setelah memencet password, Sehun membawa Luhan ke dalam kamarnya. Merebahkan tubuh ringan gadis itu keatas kasur. Melepaskan wedges putih milik Luhan. Tak lupa, Sehun mengecup kening Luhan lembut sebelum berlalu ke kamar mandi.
—
Gangnam-gu, 02.00 am
"Ugh," Luhan membuka pintu kamar Sehun pelan. Kepalanya masih berdenyut nyeri, efek dari alkohol yang cukup banyak ia teguk. Ia benar-benar menyesal karena meminum soju terlalu banyak.
"Sehun?" Luhan mengusap kelopak matanya berkali-kali, memfokuskan penglihatannya pada seorang laki-laki yang sedang menatap langit Seoul dari jendela besar. Ia bawa kakinya menuju pemuda itu, membuat selimut tebalnya menggesek lantai yang halus.
Sehun terkesiap ketika tangan mungil melingkar di perutnya. Merasakan hembusan nafas Luhan di punggung nya. Laki-laki itu tersenyum tipis.
"Sudah tidak pusing?" Sehun bertanya lembut. Jemari besarnya mengelus punggung tangan Luhan dengan lembut. Membuat Luhan semakin membenamkan wajahnya pada punggung kokoh itu.
"Hei," Sehun berbalik. Mengangkat tubuh ringan Luhan dan meletakkannya diatas meja pantry. Ia tempelkan dahi nya pada dahi Luhan, "Masih pusing, hm?"
Luhan mengangguk. Dia lingkarkan tangannya ke leher Sehun, "Pusing, Sehun-ie."
"Itu karena kau terlalu banyak minum soju, gadis nakal." Sehun menggigit hidung bangir Luhan gemas, "Kau bau alkohol."
Luhan merengut tak suka, "Itu karena kau." Gadis itu menghela nafas kasar, "Kalau kau tidak mengabaikanku karena Bang Minah, aku sudah tertidur di apartemen sekarang dengan Baekhyun dan Kyungsoo."
Sehun tersenyum bersalah, "Maafkan aku, Lu. Aku benar-benar tidak bermaksut untuk mengabaikanmu." Dirinya mengelus pipi lembut Luhan.
Luhan bersungut-sungut, "Kau benar-benar menyebalkan, Oh Sehun! Aku datang untuk membawa bekel untukmu. Bangun lebih awal untuk membuatkan mu sarapan. Setelah sampai kelas, kau bahkan hanya mengucapkan 'terima kasih' dan kembali mengerjakan laporan bersama dia. Kau kejam, Oh Sehun!"
"Aku tau,"
"Aku membencimu!" Luhan menjerit. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat, menahan isakan yang ingin keluar dari bibir kecilnya.
Benar, ia cengeng.
"Maafkan aku, princess. Aku tidak akan mengabaikan mu lagi." Sehun mengelus bibir Luhan, meminta gadis itu untuk melepaskan gigitannya, "Jangan digigit. Nanti bibir mu berdarah, Lu."
"Aku benar-benar membencimu!"
"Aku tau," laki-laki tinggi itu membawa Luhan menuju dekapan hangatnya. Mengelus punggung sempit Luhan dengan pelan. Mengucapkan berkali-kali kata 'maaf' untuk gadis itu.
"Aku tak suka kau berada di Club lagi. Jangan kesana lagi," Sehun berkata lirih. Ia menghela nafas putus asa. Benar-benar tak tau harus bagaimana lagi menjelaskan pada Luhan bahwa ia sangat mengkhawatirkan gadis itu.
"Kalau kau mengabaikanku, aku akan kesana lagi." Luhan menjawab sambil mendelik tajam pada pemuda di dekapannya, "Aku serius,"
"Aku tidak akan membiarkan mu lepas dari jangkauan ku," Sehun menggigit hidung Luhan kembali.
"Aku seperti anak ayam yang berada di dalam kandang," Luhan mengerucutkan bibirnya, "Dan kau seperti pemilik anak ayam."
"Itulah kenyataannya, gadis manis." Sehun tertawa melihat Luhan makin mengerucutkan bibir, "Kau anak ayam. Dan aku—pemilik anak ayam."
"Ish, aku tak mau menjadi anak ayam mu. Nanti, aku tak bisa memakai bikini di pantai." Luhan tergelak melihat tatapan sinis Sehun yang tertuju padanya.
"Aku bercanda, Sehun-ie." Luhan menangkup wajah Sehun. Mengelus pipi tirus Sehun hingga menuju rahang tajam pemuda itu. Tersenyum melihat Sehun yang sedang memejamkan mata, menikmati sentuhannya.
"Sehun-ie,"
"Hm?"
"Jackson Wang menyatakan perasaannya lagi padaku," Luhan mendengus lelah.
Jackson Wang, laki-laki yang sangat menyukai Luhan sejak 3 tahun yang lalu. Selalu menyatakan perasaannya biarpun tak pernah sekalipun dijawab oleh gadis pujaannya.
Sehun membuka mata elang nya. Menatap mata binar Luhan yang penuh dengan kelembutan, "Respon mu padanya?"
"Seperti biasa, Sehun. Aku tak bisa menerimanya. Jadi, aku hanya diam saja." Luhan mengerang pasrah.
Sehun menyelipkan helai-helai rambut Luhan yang menutupi wajah indah gadis itu, "Kenapa kau menjadi gadis yang menggemaskan seperti ini, sih?"
"Berhenti menggodaku, Sehun!"
Sehun terkekeh gemas, "Aku mengatakan fakta, Luhan. Kau menggemaskan. Sangat,"
Luhan langsung menyelusupkan wajah nya pada leher Sehun ketika dirinya merasa pipi nya mulai memanas, "Sekali lagi kau menggodaku, aku akan membunuh mu."
"Apa princess Xi sedang malu?" Sehun tertawa jahil mendengar Luhan mengerang kesal, "Princess Xi, apakah Anda sedang merona?"
"Oh Sehun!"
Sehun terbahak keras hingga matanya menyipit sempurna, "Astaga, Luhan. Sudah pukul 02.00 pagi dan kau menjerit, gadis nakal." Pemuda itu menggigit pipi tembam Luhan gemas.
"Karena kau menggodaku, Oh Sehun!" si mungil mencebik sebal, "Kalau sampai tetangga mu menghampirimu, aku tidak mau tanggung jawab."
"Mereka tidak akan berani untuk menghampiriku dan memarahiku, Lu."
Luhan menyerngit bingung, "Karena?"
"Karena—" Sehun mencium pipi Luhan, "—aku tampan."
"Ish!" Luhan memukul kepala Sehun, "Kau menyebalkan, Oh Sehun!"
"Arraseo-arraseo, aku berhenti." Sehun lelah tertawa. Tingkah gadis ini membuat harinya seketika berwarna dalam sekejap, "Baiklah, Tuan Putri. Apakah kau tidak tidur? Hari sudah menjelang pagi dan kau belum tidur? Nanti kau tidak bisa bangun untuk masuk kelas."
"Aku lelah, Sehun." Luhan merengut, "Aku tidak ingin berangkat kuliah hari ini."
Sehun menggeleng tegas, "Tidak ada alasan, Rusa nakal. Kau harus berangkat hari ini. Laporan mu belum tersentuh setengah nya."
"Tapi, aku tidak tau bagaimana cara mengerjakan tugas selanjutnya." Luhan merengek, "Susah!"
"Akan aku antarkan ke Lee kyosu. Kalau bisa, kau bisa meminta bantuan Junmyeon sunbae," Sehun menutup mulut Luhan yang sedang menguap.
"Apa Junmyeon sunbae mau membantuku?"
Sehun mengangguk, "Tentu saja, Lu. Kalian satu mata kuliah dan Junmyeon sunbae tidak se-pelit itu untuk tidak membantu hoobae nya yang sedang kesulitan."
"Sehun~ aku mengantuk," Luhan merentangkan kedua tangannya keatas, "Gendong," lanjutnya sambil merengek.
"Astaga, Rusa kecil ini," Sehun terkekeh. Menggendong tubuh ringan Luhan layaknya koala dan membawa gadis manja itu ke dalam kamarnya.
"Tidurlah, princess." Sehun mengecup kening Luhan yang tertutupi beberapa helai rambut, "Jangan mabuk lagi, arraseo?" pemuda itu menyelimuti Luhan hingga atas dadanya.
Luhan merengut. Sehun langsung membawa Luhan kedalam dekapannya yang hangat. Menarik kepala gadis itu sehingga deru nafas Luhan menerpa leher nya yang sensitif.
"Tidurlah. Aku akan bernyanyi," Luhan mengadahkan kepalanya, "Jangan tertawa, Luhan." Sehun memperingati.
"Hihi, baiklah Sehun." Gadis itu mulai memejamkan matanya sembari menunggu Sehun bersenandung—membawa nya ke alam mimpi yang indah.
I think about it 24/7
Even if I text you "sorry", you aren't calling me
I think about it 24/7
I can't shake this empty feeling
Luhan menikmati seluruh nyanyian Sehun meskipun suara pemuda itu terdengar sumbang di telinga nya.
It's a long day ooh ooh
I dream next to you ooh ooh
You're all I think of 24/7
I'm burning up, going crazy, dying slowly
Jantung Luhan bertalu menyenangkan. Semakin meringkuk ke dalam dekapan Sehun, pemuda itu langsung menyambutnya dengan lebar. Si laki-laki makin mempererat dekapannya.
You're stuck in my head
And ice is stuck in your heart
What did you think of all day long?
Now it's time for me to hurt
Hingga pada nada terakhir, Luhan telah berkelana ke alam mimpi. Menyisakan Sehun yang tersenyum lebar—mengingat Luhan sangat menggemaskan ketika sedang tidur.
"Good night, Tuan Putri-ku." Sehun mencium seluruh area wajah cantik Luhan.
—
CHAPTER 1 END.
2,3K+ words.
Bagaimana? Wdyt? Dikata ya, mereka itu kayak sepasang kekasih gitu(?). Dan—kenapa saya menulis fanfic absurd seperti ini? Argh, ini terlalu absurd. Maafkan saya! So, likes—follows—reviews nya, sayang? Jangan menjadi readers yang menyebalkan karena siders, arraseo? Semoga kalian suka pada fanfic absurd yang melebihi tingkah saya. Kamsahamnida! /bow/
Review? Likes? Thank you, sweetheart.
Pretty sign,
syyaaaaak.
