Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-AU, Many Bashing (Later will have a character development), semi-dark, and many more
Summary: Kehidupan Naruto berubah menjadi lebih unik di saat sang pemeran utama memiliki perbedaan dari yang aslinya: di mana Naruto Uzumaki terlahir sebagai perempuan dan sebuah kejadian mengubah seluruh hidupnya. Di saat Naruto yang sedang kabur dari amukan masa, ia tanpa sengaja berhasil keluar dari perbatasan Konoha dan di culik oleh ninja dari Iwagakure.
Pairing: (Main) Gaara X (Fem) Naruto dan (One sided) Sasuke x (Fem) Naruto
Tale of Jinchuriki: The Little Fox Girl
Chapter 2 – Meet Mr. Horse, The Gentle Giant!
Seorang gadis kecil terlihat tengah terbaring di tanah tidak sadarkan diri, dadanya naik dan turun dengan teratur, menandakan bahwa ia masih bernafas dan masih hidup, sepertinya sang gadis tidak telalu mempermasalahkan bahwa tempat ia tidur bukanlah tempat yang nyaman untuk di tiduri.
Jujur saja, siapa yang menganggap tiduran di tanah, di kelilingi oleh bebatuan di alam liar tanpa menggunakan alat tidur apapun di bawah teriknya sinar matahari masuk dalam kategori nyaman? Namun sepertinya sang gadis kecil tidak terlalu memikirkannya karena ia masih tertidur pulas.
Namun bunyi burung gagak yang terbang di atasnya membangunkan sang gadis kecil dari tidurnya, ia bangun dari posisinya dan menguap sebelum mengusap matanya yang sedang mencoba fokus dan membiasakan diri terhadap cahaya matahari yang menyerangnya secara langsung.
Sang gadis memeriksa sekitarnya dengan ekspresi sedikit khawatir sebelum ekspresinya berubah menjadi bingung, karena yang ia tahu adalah ia di culik dan sedang di bawa entah ke mana, namun ia sekarang berada di tempat yang ia tidak ketahui di mana dan penculiknya tidak terlihat di manapun.
Sebelum akhirnya sang gadis kecil teringat dengan apa yang terjadi sebelumnya, tuan rubah, teman satu-satunya berjanji bahwa ia bisa menyelamatkannya dan melepaskannya dari penculiknya. Sebuah senyuman terlukis di wajahnya sebelum sang gadis melompat-lompat kegirangan karena tahu akhirnya ia sudah terbebas dari penculiknya.
'Jangan terlalu berisik bocah! Aku tidak bisa tidur dengan tenang!' Sang gadis kecil berhenti melompat-lompat dengan senang mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
"Tuan rubah!" Sang gadis kecil tersenyum lebar dan mencoba mencari-cari sang 'tuan rubah' namun ia tidak bisa melihat rubah berukuran jumbo dan berekor sembilan yang telah menyelamatkannya sama sekali "Di mana dirimu tuan rubah?"
'Tidak usah bicara secara langsung, aku ada di dalam pikiranmu jadi kau tidak bisa melihatku, bocah' Sang rubah yang ada di dalam sang gadis kecil mengerang pelan, ia terlihat sedikit kesal karena di bangunkan secara tidak sengaja.
Sang gadis mengangguk, ia melihat sekitarnya dan menyadari bahwa ia ada di tempat yang tidak familiar dan ada sebuah tas di sampingnya 'Tuan rubah, aku ada di mana?'
'Di perbatasan sebuah desa bernama Iwagakure' Jawab sang rubah, ia terlihat tidak bisa tidur lagi jadinya ia memutuskan untuk memperhatikan penahannya 'Tas itu berisi uang, makanan, serta barang-barang yang aku ambil dari penculikmu'
'Sekarang aku tanya dirimu… kau mau ke mana bocah? Kembali ke desamu?' Sang gadis kecil terdiam mendengar pertanyaan sang rubah, ia terlihat kebingungan dan tidak tahu mau menjawab apa.
'Aku… tidak tahu… aku mau kembali ke desa karena aku yakin kakek pasti sangat menghawatirkan diriku namun… aku tidak mau bertemu orang-orang yang selalu menyakitiku setiap hari…' Sang gadis kecil memainkan ujung pakaiannya yang kotor dan lusuh, ia akhirnya menyadari bahwa ia tidak pernah mengganti pakaiannya dan mandi selama ia di culik, jangankan di bolehkan mandi; mengganti pakaiannya saja tidak boleh oleh penculiknya.
'Eh? Kenapa pakaianku baunya amis sekali? Dan sejak kapan warnanya jadi merah dan keras seperti ini? rambutku juga' sang gadis kecil menarik pakaiannya yang dulu berupa kaus berwarna putih polos kini berubah menjadi warna merah pekat dan meraba rambutnya yang terasa sedikit keras seperti ada sebuah cairan yang membasahi rambutnya dan mengering.
'Ambil tas di sampingmu dan berjalanlah terus ke samping hingga kau menemukan sebuah sungai, mandilah di sana dan bersihkan dirimu' Sang gadis kecil langsung melakukan apa yang sang rubah suruh, ia berjalan menelusuri jalanan yang sedikit berbatu hingga ia menemukan sebuah sungai kecil.
'Ngomong-ngomong kenapa kau masih memanggilku dengan panggilan bocah… namaku Naruto Uzumaki, kamu boleh memanggilku Naru! Seperti kakek!' Gadis kecil yang bernama Naru meletakkan tas miliknya di dekat sungai dan membuka pakaiannya sebelum mencelupkannya ke dalam sungai untuk mencucinya 'Ah! Dingin!'
'Aku akan terus memanggilmu dengan panggilan bocah karena kau hanya anak kecil yang tidak bisa apa-apa' Naru hanya bisa cemberut mendengar omongan sang rubah, ia akhirnya putus asa meminta sang rubah memanggilnya dengan namanya dan pasrah di panggil 'bocah' olehnya.
Ia mencuci bajunya sebersih yang ia bisa dan menjemurnya di batu yang terletak tidak terlalu jauh dari sungai sebelum ia mandi, ia dengan sebisanya membersihkan rambutnya sambil menyisir hingga rapi rambutnya dengan jari-jarinya.
Seusai mandi, sang rubah mengatakan bahwa di dalam tasnya terdapat kain yang bisa ia gunakan sambil menunggu pakaiannya kering, sang rubah juga mengajarkan Naru bagai mana cara membuat api dengan menggunakan ranting-ranting pohon, untungnya salah satu penculiknya merokok jadi sang rubah mengambil korek api milik penculiknya juga untuk Naru.
Naru sudah terbiasa hidup di luar karena di desa tidak ada yang mau membantunya dan ia juga biasa di keluarkan dari panti asuhan dan hanya di perbolehkan kembali lagi bila Sandaime Hokage akan mengunjungi dirinya, sisanya ia biasa hidup di jalanan dan harus mengurus dirinya sendiri.
Selama tiga hari Naru hidup di alam liar dengan bimbingan sang rubah, sang rubah mengajarinya berbagai macam hal untuk bisa bertahan hidup di alam luar, dari cara berburu, cara memasak (hanya di bakar di dekat api saja hingga matang), dan pengetahuan mengenai tanaman yang bisa ia makan dan tidak bisa makan, di saat di tanya bagai mana bisa sang rubah mengetahui hal seperti itu, sang rubah hanya bilang bahwa ia sudah hidup sangat lama jadi hal seperti itu bukanlah keanehan baginya. Sang rubah juga menjaga Naruto dari segala macam hewan buas dengan mengeluarkan aura membunuhnya yang bisa membuat hewan liar manapun lari terbirit-birit merasakannya.
Selama tiga hari juga Naru tidak menyadari bahwa ia tengah di awasi oleh seseorang, orang tersebut mengawasi Naru semenjak pertama kali Naru berhasil kabur dari penculiknya dengan bantuan sang rubah.
Han tidak percaya dengan apa yang ia lihat di saat ia menemukan siapa pelaku yang membunuh kedua orang shinobi tingkat Jonin sendirian dengan sangat kejam; seorang gadis kecil yang umurnya kemunkinan besar baru 5 tahun dan sekarang gadis kecil tersebut bisa bertahan hidup dengan cukup baik di alam liar sendirian!
Selain itu sang gadis kecil sangat mirip dengan orang yang paling di benci di desanya! Tidak perlu seorang jenius untuk melihat kemiripan sang gadis kecil dengan Hokage ke empat yang berhasil membunuh seribu ninja dari Iwagakure sendirian, hanya orang bodoh atau orang buta yang tidak bisa melihat persamaan sang gadis kecil dengan Hokage ke empat.
Han yakin bahwa gadis tersebut di culik dari Konoha dan akan di bawa ke Iwagakure untuk di eksekusi nanti, perasaan benci bercampur marah langsung memenuhi dirinya melihat bahwa sang gadis kecil yang tidak punya dosa apapun akan di bunuh hanya karena ia anak dari Hokage ke empat, hal tersebut membuatnya semakin benci dengan desanya.
Melihat sang gadis yang begitu kurus dan kelihatan kekurangan nutrisi serta penampilannya yang compang-camping membuatnya menjadi iba, umurnya masih begitu belia dan ia sudah merasakan bagai mana kerasnya hidup dan di siksa hingga menjadi seperti itu, namun ada satu hal yang sedikit membingungkan Han.
Apakah bisa seorang anak kecil terlihat kekurangan gizi seperti itu dalam waktu sangat pendek? Ia bisa melihat dengan jelas bahwa sang gadis kecil sudah memang kekurangan gizi bahkan sebelum dirinya di culik karena ia bisa dengan jelas melihat luka-luka yang sudah mulai memudar di seluruh tubuhnya, selain itu yang ada di pipi gadis tersebut bukanlah birthmark melainkan luka.
Apakah gadis kecil ini sudah di perlakukan tidak baik bahkan sebelum ia di culik? Yang benar saja, ia (kemunkinan besar) adalah anak dari sang Hokage ke empat, namun mengapa ia malah di perlakukan tidak adil seperti itu?
Namun Han juga menemukan sebuah kejanggalan dari sang gadis tersebut, setelah selama tiga hari ia memperhatikan sang gadis, ia menyadari bahwa gadis kecil tersebut sepertinya di bimbing oleh seseorang atau sesuatu karena berberapa kali ia melihat sang gadis berhenti tiba-tiba seperti sedang berfikir atau sedang berbicara dengan seseorang menggunakan telepati dan berberapa kali sang gadis kecil secara tidak sengaja berbicara secara langsung.
Sang gadis kecil memanggil entah apa itu yang membimbingnya dengan panggilan 'tuan rubah' dan Han hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangan setelah mendengarnya, hanya ada satu alasan mengapa ia tidak bisa melihat atau merasakan dengan siapa sang gadis kecil sedang berbicara, ia bahkan tidak bisa mempercayainya.
Gadis kecil tersebut adalah Jinchuriki dari Kyuubi no Kitsune! Ia pernah mendengar bahwa sang rubah berekor sembilan pernah menyerang Konohagakure dan lalu menghilang tanpa jejak secara tiba-tiba, sang Hokage ke empat juga di nyatakan telah meninggal dunia di waktu yang sama dengan hilangnya sang Kyuubi. Kyuubi tidak menghilang, sang Hokage ke empat menyegel sang Kyuubi di dalam anaknya sendiri dan membuatnya menjadi seorang Jinchuriki!
Demi siapapun yang ada di atas sana, Han tidak mau mempercayai bahwa gadis di depannya sudah menjadi Jinchuriki di umurnya yang masih sangat belia dan mendapatkan perlakuan yang sama dengannya, apa yang di pikirkan oleh sang Hokage yang katanya terkenal baik hati dan sangat menyayangi rakyatnya? Apakah itu hanyalah sebuah rumor belaka?
Namun hal yang lebih mengejutkan lagi adalah sang rubah yang kelihatannya bisa berbicara dengan penahannya dan membantunya, ada apa ini? bagai mana sang gadis kecil membuat sang rubah berekor sembilan yang terkenal atas keganasan dan kekejamannya membantu seorang gadis kecil yang menjadi penahannya? Namun bila memang benar begitu, itu menjelaskan bagai mana bisa sang gadis kecil membunuh dan kabur dari dua orang shinobi tingkat jonin dari desanya sendirian.
Ia pernah mendengar sebuah rumor mengenai Jinchuriki dari Kumogakure yang berhasil mengendalikan Biiju miliknya dan di anggap sebagai pahlawan di desanya, ia sempat iri dengannya namun pada waktu yang bersamaan ia merasa jijik karena ia yakin orang-orang yang kini memanggilnya sebagai pahlawan adalah orang-orang yang sama dengan yang pernah mencacimaki dan memberikan perlakuan yang tidak adil kepadanya dulu hanya karena ia adalah seorang Jinchuriki.
Apakah munkin sang gadis kecil berhasil melakukan hal yang sama dengan Jinchuriki dari Kumogakure tersebut? Dan di saat ia (kemunkinan besar) masih berumur 5 tahun? Sepertinya memang benar gadis tersebut adalah keturunan dari sang Hokage karena kepintarannya yang di atas rata-rata dan kapasitas chakranya yang bahkan melebihi kapasitas chakranya bila tanpa menghitung chakra milik monster berekor lima yang di segel di dalam tubuhnya.
Hingga akhirnya rasa ingin tahu mengalahkannya dan membuatnya memperlihatkan keberadaannya kepada sang gadis kecil.
Sang gadis kecil yang tadinya sedang menangkap ikan di sungai langsung terjatuh dan mundur ke belakang dengan ekspresi takut di saat ia melihat dirinya, Han tidak menyalahkan sang gadis kecil karena memang ia kelihatan menakutkan, dengan pakaian zirah besinya dan tingginya yang di atas rata-rata, ia terlihat seperti seorang pembunuh berdarah dingin—atau apapun itu yang pastinya akan membuat orang berfikiran buruk terhadapnya.
"Tenang gadis kecil, aku tidak ke sini untuk melukaimu" Han mencoba menenangkan sang gadis kecil di saat ia melihat sang gadis kecil mencoba meraih senjatanya—sebuah kunai yang ia curi dari penculiknya—dan terlihat mencoba menjauh darinya.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu…" Han merendahkan tubuhnya secara perlahan dan mengulurkan kedua tangannya seperti ingin memperlihatkan bahwa ia tidak akan mencoba menyakiti dirinya, namun sang gadis kecil semakin mundur ke belakang di saat ia melihat ikat kepala yang Han kenakan.
"Ah… ini… kau takut dengan ini?" ia melepaskan ikat kepalanya dan menyodorkannya kepada sang gadis namun sang gadis kecil malah semakin menjauh darinya, ia menghela nafasnya lalu membuang ikat kepala itu jauh-jauh, membuat sang gadis kecil membulatkan matanya dan menatap tidak percaya dirinya.
"Ke-kenapa kau membuangnya! Kakek bilang menghancurkan atau membuang ikat kepala seperti itu sama saja dengan melawan desa!" Han harus menahan sedikit tawa mendengar sang gadis kecil mencoba mengatakan sesuatu yang belum tentu gadis kecil itu mengerti.
"Aku membenci desaku, jadi aku tidak ada masalah dengan hal seperti itu dan juga untuk menjadi bukti bahwa aku tidak mencoba melukaimu" Jawab Han, ia masih mengulurkan sebelah tangannya, ia masih dengan sabar menunggu sang gadis menerima uluran tangannya.
Sang gadis kecil menatapnya dengan ekspresi kaget bercampur ingin tahu, ia terlihat sedang berfikir dengan keras namun Han tahu bahwa sang gadis sedang berbicara dengan rubah berekor sembilan yang ada di dalam tubuhnya, setelah berberapa menit barulah sang gadis kecil mengangguk lalu berjalan ke arah Han secara perlahan dan menerima uluran tangannya.
Naru awalnya merasa curiga dan takut dengan teman barunya yang katanya adalah teman satu nasib dengannya, ia bercerita bahwa dirinya juga tidak di sukai oleh orang-orang di desanya dan dulu di saat ia masih remaja juga menerima perlakuan yang sama dengannya.
Naru tidak tahu apa yang teman barunya yang mengenalkan dirinya sebagai Han maksud dengan teman satu nasib namun Naru tahu bahwa Han mengerti betapa sulitnya kehidupannya di desa, Han juga mengerti mengapa Naru merasa enggan untuk kembali ke desanya lagi.
Tuan rubah hanya diam saja di saat di tanyakan apa yang Han maksud dengan teman seperjuangan jadi Naru hanya bisa berlagak bahwa ia mengerti apa yang Han maksud, Han sebenarnya tahu bahwa Naru tidak mengerti namun ia membiarkannya saja, munkin lebih baik Naru tidak tahu sekarang.
Di saat Han menanyakan kehidupannya di desa, Naru bercerita kepadanya dengan penuh semangat dan menggebu-gebu, ia tidak pernah mencoba menutupi emosinya dan menceritakan segala kesulitan yang ia dapatkan di saat ia masih tinggal di desanya.
Ia menceritakan mengenai orang-orang yang memanggilnya dengan panggilan yang jahat dan selalu melukainya, ia menceritakan mengenai guru-guru yang tidak pernah mengajarkannya sesuatu dengan baik dan tidak pernah memberi tahu mana yang salah dari pekerjaannya, ia menceritakan tentang teman satu kelasnya yang selalu mengejek dan menjauhinya, dan ia bercerita mengenai anak laki-laki yang selalu terlihat membencinya bernama Sasuke.
Han mendengarkannya tanpa memotong omongannya sama sekali, sesekali ia mengangguk atau menatap mata Naru sebagai bukti bahwa ia mendengarkan segala yang Naru katakan dan itu membuat Naru menjadi sangat senang. Tidak pernah ada orang yang mau mendengarnya berbicara hingga selesai kecuali kakeknya namun sang kakek terlalu sibuk untuk mendengar semua keluhan dari Naru jadi ia selalu menceritakan hal-hal yang baik (menurutnya) saja kepada sang kakek.
Dan untuk pertama kalinya, Naru mengeluarkan segala emosi yang ia tahan selama ia bercerita kepada Han, ia menghentak-hentakkan kakinya dan mengatupkan mulutnya di saat ia bercerita mengenai dirinya yang selalu di kucilkan oleh teman sekelasnya, ia menarik-narik rambutnya karena frustasi di saat ia menceritakan mengenai dirinya yang tidak pernah di beri pelajaran mengenai apapun kepada gurunya di sekolahan yang membuatnya menjadi seperti orang bodoh di kelas, dan ia menangis di saat ia menceritakan bahwa ia sangat kesepian dan menginginkan seorang teman.
Naru merasakan kepalanya di tepuk oleh Han dan itu membuatnya menangis tertahan, untuk pertama kalinya ada seseorang (selain tuan rubah dan kakeknya) yang mau mendengarnya bercerita panjang lebar tanpa di potong, untuk pertama kalinya seseorang memberikannya gestur berupa kasih sayang kepadanya selain kakeknya, dan untuk pertama kalinya Naru bisa mengeluarkan emosi yang ia simpan di dalam hatinya.
Naru mencoba memeluk Han sebagai tanda terimakasih namun Han mundur menjauh, tentu saja melihat hal tersebut membuat Naru menjadi sedih dan mulai berfikir hal yang buruk mengenai mengapa Han tidak mau di peluk olehnya "Kenapa aku tidak boleh memelukmu…"
Han menggeleng pelan dan menepuk kepala Naru lagi, ia merasa kasihan dengan Naru namun ia punya alasan tersendiri mengapa ia tidak mau di peluk "Aku mengeluarkan uap panas yang bisa saja menyakitimu, jadi kau harus menjaga jarak dariku atau mengenakan sesuatu yang bisa melindungimu dari uap panas"
Naru menatap bingung Han sebelum ia menyadari sebuah benda yang ada di punggung Han yang mengeluarkan uap panas, pantas saja ia merasa sangat hangat semenjak ia bertemu dengan Han.
"Oh…" Naruto tertunduk dan memainkan ujung pakaiannya, ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu namun Han sudah tahu apa yang ia ingin katakan dan sudah terlebih dahulu berbicara.
"Kau mau ikut denganku?" Naru langsung mengangkat kepalanya dan menatap Han dengan tatapan takjub bercampur penuh harap, ia langsung mengangguk dengan cepat dan membuat Han tersenyum kecil di balik maskernya.
Selama satu minggu Naru pergi berkelana dengan Han, Naru di ajari berbagai macam hal oleh Han dan juga sang rubah yang selalu bersamanya, Han mengajarinya bagai mana cara membaca dan pelajaran-pelajaran yang dulu tidak pernah di ajarkan kepadanya di akademi dengan sabar hingga Naru mengerti sedangkan sang rubah mengajari dirinya mengenai apa yang ia sebut dengan chakra dan jutsu.
Naru tadinya tidak mengerti dengan apa yang sang rubah ajarkan hingga suatu saat Han menggunakan henge untuk masuk ke dalam sebuah pedesaan kecil agar ia bisa membeli perlengkapan baru dan suplai makanan untuk dirinya dan Naru.
Naru tentu saja langsung ingin mempelajarinya dan meminta Han mengajarinya, dan dalam waktu tiga hari; Naru menciptakan sebuah jutsu yang ia namakan Orioke no Jutsu dan di marahi habis-habisan oleh Han serta mendapatkan pelajaran mengenai tatakrama dan cara menjadi perempuan yang baik dan benar.
Tanpa Han sendiri sadari, ia pelan-pelan mulai melembek dan menyayangi Naru yang kelihatan menganggapnya sebagai kakak yang tidak akan pernah ia bisa miliki dulu, terlebih lagi di saat ia mengetahui bahwa Naru menciptakan sebuah jutsu dengan bantuan sang rubah agar ia bisa menyentuh dan memeluk Han.
Jutsu yang di buat oleh Naru adalah dengan menggunakan chakra berelemen air dan angin; Naru membuat tempratur tubuhnya menjadi turun sehingga bisa melawan hawa panas yang Han keluarkan, membuat Naru bisa memeluk dan menyentuh Han dan seluruh armornya dengan sesuka hatinya. Dari situ Han menyadari bahwa elemen utama milik Naruto adalah air dan angin.
Han melihat bahwa Naru memiliki potensi besar sebagai seorang ninja dan dengan bantuan sang rubah bisa saja Naru menjadi sangat kuat, bahkan lebih kuat dari dirinya, terlebih lagi ia menyadari bahwa Naruto bisa menggunakan semua elemen yang ada, membuat Han teringat dengan Hokage ketiga yang juga bisa menggunakan lima elemen sekaligus, dan juga orang yang Naru panggil kakek.
"Kita mau ke mana kak Han?" Tanya Naru di saat mereka kini sedang berjalan melewati perbatasan Iwagakure dan terus berjalan semakin menjauh dari Iwa.
"Aku ingin kau bertemu dengan mentorku" Jawab Han, ia ingin melatih Naru agar ia bisa menjadi ninja yang kuat dan bisa melindungi dirinya sendiri dan juga ia ingin mencoba mendiskusikan dengan temannya mengenai bagai mana bisa Naru bisa mendapat bantuan dari sang rubah berekor sembilang, karena setahunya, temannya yang satu ini juga bisa berkomunikasi dengan Bijuu miliknya namun sang Biiju itu sendiri tidak pernah membantunya.
Namun di tengah perjalanannya menemui temannya, di saat ia dan Naru sedang bermalam di alam liar; Han merutuk ketidak beruntungannya, alasannya? Karena malam itu adalah malam bulan purnama, malam di mana para Biiju akan memberontak dan tidak bisa diam, termasuk Biiju yang ada di dalam tubuhnya.
Han tidak bisa tidur sama sekali dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menjaga kesadarannya agar tidak di ambil alih oleh monster berekor lima di dalam tubuhnya, ia terlalu serius menjaga dirinya sendiri, ia tidak menyadari Naru yang sedari tadi diam saja.
Naru tengah mendatangi alam bawah sadarnya dan menemui rubah berekor sembilan yang sudah ia anggap keluarga sendiri, ia hanya bisa menatap bingung sang rubah yang tidak bisa diam dan terus-menerus mondar-mandir di dalam kandangnya.
"Ada apa tuan rubah… kenapa kau tidak bisa diam…" Naru berjalan mendekati jeruji besi yang memisahkan dirinya dengan sang rubah berekor sembilan, ia mencoba meraih sang rubah dengan tangannya namun menyentuh ujung bulunya saja tidak sampai.
Sang rubah terus-terusan mondar-mandir, seperti ia tidak menghiraukan Naru, sang Kyuubi no Kitsune sedang merasa tidak nyaman dan selalu seperti itu di malam bulan purnama, begitu juga dengan saudara-saudaranya.
Naru yang tidak tahu mau berbuat apa hanya bisa menatap sedih sang rubah, namun tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Naru dan membuat sang rubah berhenti mondar-mandir dan terdiam.
"Sedih sekali kita harus bertemu di saat seperti ini… Kyuubi" Naruto membalik badannya dan langsung berhadap-hadapan dengan seekor kuda berwarna putih dengan kepala mirip lumba-lumba yang sedang menatap sang rubah, sang kuda terlihat tidak bisa diam juga karena berkali-kali ia mengganti posisi duduknya dan sesekali mengerang pelan.
Tanpa Naru sadari, ia tidak sengaja menyambungkan alam bawah sadarnya dengan alam bawah sadar Han, namun Han tidak terlihat di manapun sehingga membuat Naru sedikit takut dan mundur kebelakang dan memeluk jeruji besi yang ada di belakangnya; seperti meminta perlindungan dari sang rubah.
"Jadi ini penahanmu ya… masih kecil sekali…" Sang rubah mengerang pelan dan menatap tajam sang kuda sehingga membuat yang di tatap menatap bingung dirinya "Oh… jadi spekulasi penahanku benar ya, kau kelihatannya menyayangi penahanmu… mengagetkan sekali, sang Kyuubi no Kitsune yang terkenal dengan kekejaman dan ego yang setinggi langit bisa menyayangi manusia yang merupakan penahannya… katakan kepadaku bocah kecil, apa yang membuatmu spesial dan berhasil membuat rubah satu itu menyukaimu?"
Naru tidak tahu mengapa namun sepertinya tuan rubah tidak terlalu menyukai sang kuda di depannya, ia juga tidak tahu bagai mana bisa sang kuda tiba-tiba saja muncul di alam miliknya, namun yang Naru tahu entah mengapa ada perasaan nostalgia di dalam dirinya di saat ia melihat sang kuda, entah mengapa mata sang kuda mengingatkan dirinya dengan seseorang, tapi siapa?
Sarutobi Hiruzen atau yang biasa di panggil dengan Sandaime Hokage hanya bisa memijat keningnya di karenakan rasa sakit kepala yang tengah menyerangnya, ia mendapatkan berita bahwa Naruto Uzumaki di nyatakan menghilang dan tidak bisa di temukan di manapun.
Ia merutuk kegagalannya dalam melindungi anak satu-satunya dari mendiam Hokage keempat, karena ANBU yang di tugaskan untuk menjaga Naruto tidak mengerjakan tugasnya sama sekali dan malah tidak melakukan apapun di saat mereka tahu bahwa Naru berhasil keluar dari desa!
Ia baru saja mengetahui bahwa ANBU yang ia tugaskan malah menginginkan Naru mati dan tidak ada keinginan untuk menlindunginya setelah Inu melapor kepadanya bahwa Naru tidak bisa di temukan di desa dan sudah satu minggu berlalu semenjak Naru berhasil kabur dari desa!
Tentu saja kedua ANBU yang telah membohongi dirinya dan tidak mengerjakan tugasnya dengan baik langsung di bawa ke tempat introgasi dan akan secara langsung di introgasi oleh Morino Ibiki.
Sandaime mengetuk mejanya empat kali dan dalam waktu sekejap, dua orang ANBU muncul di depannya dan memberi hormat kepadanya dengan bertekuk lutut, yang satu menggunakan topeng anjing dan yang satu lagi menggunakan topeng rubah.
"Kalian berdua aku tugaskan untuk mencari dan membawa pulang Naruto Uzumaki yang satu minggu yang lalu di nyatakan hilang! Lakukan sekarang juga!" Dua orang ANBU tersebut tidak perlu di beri tahu dua kali dan langsung melaksanakan tugas yang di berikan kepada mereka oleh sang Sandaime Hokage.
Sandaime menghela nafas panjang dan mengerang pelan, ia tidak bisa tenang dan menghawatirkan Naru, mengapa begitu banyak orang tidak mengerti bahwa Naru adalah pahlawan mereka dan malah memperlakukan tidak adil dirinya! Ia juga merutuk ke tidak bisaaan dirinya dalam menjaga dan melindungi Naru.
"Naru… aku mohon… tetaplah hidup…"
Sedangkan gadis kecil yang ia khawatirkan sedang bermain-main di sebuah lubang yang di isi dengan air hangat sehingga menjadi seperti sebuah pemandian air panas kecil buatan teman barunya.
To Be Continue
Fun Fact: Kokuo adalah monster kuda putih berwajah lumba-lumba berekor lima yang pendiam dan suka menyendiri, ia juga sangat sopan namun ia juga memiliki harga diri yang cukup tinggi namun tidak setinggi Kurama, ia juga pernah mengatakan bahwa ia ingin tinggal sendirian di sebuah hutan, mengimplikasikan bahwa ia tidak mau di segel lagi.
Sekali lagi saya katakan, pairing akhir akan tetap GaaNaru, SasuNaru hanyalah selingan dan unrequited love.
Terimakasih sudah mau membaca, saya harap para pembaca sekalian menyukai chapter baru ini.
Review please
