"Ini semua salahmu, Suigetsu!". Pain melempari Suigetsu dengan apapun yang ada di hadapannya. Buku, lampu meja, alat tulis, bahkan keyboard computer. Sedangkan Suigetsu hanya mengangkat kedua tangan untuk melindungi kepalanya. Pain pergi dari posisi awalnya, melangkah menuju Suigetsu yang ketakutan. Menarik kerah anak buahnya itu dengan tangan kirinya dan mengangkat lengan yang lain hendak melempar pukulannya ke wajah Suigetsu. Namun tertahan. Menyadari semua tindakannya adalah hal yang sia-sia. Pikiran Pain kini amat kacau hingga tak mengendalikan tindakannya.
"Kenapa kau memilihnya untuk mengambil map itu? Tidak ada kesempatan sebagus ini selama 7 tahun terakhir. Semua rencana telah kupersiapkan sematang mungkin. Sekarang hilang dengan mudah karena kesalahanmu!". Pain melayangkan kepalan tangan kanannya ke tembok. Kini tembok putih bersih itu telah berhias noda merah. Pain juga tidak memperdulikan tangannya yang meneteskan darah yang keluar dari venanya.
"Maafkan saya, kupikir ini adalah tugas mudah, Tuan. Setelah menyingkirkan Hatake Kakashi dan Yuuhi Kurenai, tugas terakhir terlihat amat mudah bahkan untuk orang selevel Aburame Shino".
"Keluarga Aburame memang tidak berguna. Hanya untuk sekarang. Penjarakan mereka di bawah tanah, kita akan membutuhkan mereka lagi suatu saat".
"Ba-baik Tuan". Suigetsu sedikit ragu menjawabnya. Tujuannya membuat Shino sahabatnya mendapatkan muka di depan Pain kini berjalan sebaliknya. Ia sendiri yang menjebloskan sahabatnya ke penjara. Rasa menyesal amat menghantui Suigetsu saat ini.
"Kita harus mencari cara lain untuk mendapatkannya. Dengan apa yang terjadi kemarin, Tsunade pasti memperketat keamanannya pada setiap sisi." Pain kembali memposisikan dirinya untuk duduk di kursi.
"Tsunade yang lemah itu, jika saja aku yang mengambilnya…" Lanjut Pain.
"Ma-maafkan saya, Tuan!" Suigetsu kembali membungkuk.
"Kata maaf saja tidak akan merubah apapun! Sekarang pergi dari ruanganku". Pain berdiri dan menggebrak meja yang ada di depannya dengan kedua tangan.
"Ba-baik Tuan". Suigetsu pergi ketakutan. Iapun keluar bertumpu pada kakinya yang terasa telah berubah menjadi jelly, ia tidak pernah melihat bosnya yang ia kenal kalem tapi tegas itu marah-marah.
"Merampas langsung dari induknya bukan lagi disebut sebuah cara. Aku butuh umpan untuk menariknya langsung ke sarangnya. Tapi bagaimana? Untuk menyusupkan orang dalam akan sangat sulit dengan penyaringannya yang ketat".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf Fanfict ini pasti jauh dari kata sempurna. typo akut, cerita pasaran, OOC, AU, OOT, EYD berantakan, pemilihan kata kurang pas, banyak pengulangan, semuanya deh. No flame here.
.
.
.
.
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
.
.
mohon reviewnya.
Saran/ide needed!
Happy reading ~
Disclaimer karakter selamanya punya Masashi Kishimoto
Disclamer cerita punya Devi Na Akeyama
Pairing: Sasusakux.
.
.
.
.
.
RATE :M
My Annoying Neighbor
Chapter 2
Dunia kita ini
Dibutakan oleh banyak hal
Ketenaran, kekuasaan, kekayaan
Segala cara dilakukan
Jatuh menjatuhkan
Saling membunuh
Sanak saudarapun jadi targetnya
.
Siapa yang bisa merubahnya?
Ada yang menyebutnya cinta
Lagi lagi cinta
Kata yang hanya berisikan omong kosong
Tanpa makna tanpa arti
Ada hanya untuk variasi
di dongeng dan fantasi
.
Tapi aku bertemu dengannya,
Matahari penghangatku,
Membebaskanku dari belenggu
Dinginnya keadaan dunia
Dia hanya hadir pada waktu tertentu
Awan dan hujan menjadi pengganggu
Tapi ketahuilah, di balik itu
Ia selalu berada di sisimu
.
.
.
.
.
Flashback dulu-
"Selamat siang, tetangga baruku. Namaku Sakura Haruno. Aku tinggal di apartemen nomor 563, tepat disebelahmu. Kudengar akan ada pendatang baru yang menempati lobi 6. Dan kubawakan kau bento sebagai ucapan selamat datang". Gadis aneh yang kutemui di supermarket berdiri tepat di depanku. Bicara dengan mata tertutup, hingga ia tidak menyadari orang yang ia ajak bicara adalah aku. Korban tabraknya beberapa menit lalu. Aneh. Ternyata ada orang yang berbicara dengan mata yang tertutup.
Setelah diperhatikan, penampilannya terlihat amat kekanakan. Ia mengenakan topi berbentuk panda dengan bulu-bulu dan ekor di kepala belakangnya. Rambutnya yang lurus dan sedikit mencuat ke sana sini, mungkin ia lupa menyisir rambut. Sweater panjangnya bergambar panda dipadukan dengan blue jeans, ia juga masih mengenakan sandal rumahan yang juga berbentuk panda.
Ketika ia membuka matanya, memperlihatkan emeraldnya dan menatapku terkejut tak percaya.
"Kau, kau kan yang—yang tadi kutabrak?". Aku tidak menjawab pertanyaan restorisnya. Hingga kami menghabiskan beberapa detik untuk saling menatap. Menunggunya mencerna keadaan. Dimana ibunya? Kenapa ia membiarkan anak penganggunya ini berkeliaran seenaknya, berbelanja banyak sekali makanan sendirian dan sekarang mengganggu waktu makanku.
"Kau benar Uchiha Sasuke? Orang yang menempati 564?". Ia menodongkan jari telunjuknya ke arahku.
"Hn".
.
.
.
.
.
.
.
.
"Gomenasai! Aku tidak sempat bertanya nama saat menabrakmu. Tapi aku juga senang sekarang kau menjadi tetanggaku yang baru, hahahaha". Gadis bernama Haruno Sakura itu tertawa lepas seakan ia tidak mempunyai beban apapun dipundaknya.
"Tidak perlu repot-repot" Ucapku tanpa melihat ke arah wajahnya.
"Memang pertemuan kita tidak terlalu bagus sih…".
"Kau baru tahu itu?".
"Tidak juga. Tapi ini…" Sakura memberiku kotak berwarna hitam yang pasti isinya ada bento. Aku hanya melihatnya lalu membuang kembali pandanganku yang entah kemana.
"Aku membuatnya sendiri pagi ini, tapi ada bahan yang kurang jadi aku pergi berbelanja sekalian tadi". Ia mengulurkannya dengan menampakan senyuman yang amat lebar namun tidak menampakan giginya.
"Kau aneh. Ternyata ada orang di dunia ini yang sarapan dengan bento dan aku tidak mau makanan sisa". Kulipat kedua tanganku ke dada.
"Ini bukan makanan sisa, sebagai informasi aku makan dengan bubur tadi pagi. Bento ini benar-benar kubuat khusus untukmu".
"Terlalu banyak basa-basi. Apa sebenarnya maumu?".
"Mauku? Kau menerima ini". Ia memberikan lagi senyum tak berdosanya kepadaku.
"Kau pikir aku bodoh? Di dunia ini semuanya menerapkan prinsip 'Give and Take'. Pasti ada sesuatu yang kau inginkan dariku".
"Hahaha, dunia macam apa yang kau tinggali selama ini? Kalau begitu selama datang di dunia barumu. Aku tulus memberikan ini". Ia tersenyum, hidup macam apa yang telah ia lalui hingga berkepribadian sebahagia ini.
Kini hidung Sakura mulai bergerak-gerak. Mencium aroma yang berterbangan di sekitar, tak tahu aroma apa itu. Menunggu saraf hidung mengirimkan sinyal ke otaknya untuk mengetahui aroma apa yang ia rasakan.
"Hmm… Aroma ramen tapi ini ramen instan apa kau tidak memasak? Ini kan akhir pekan. Apa kau tadi membeli ramen instan di supermarket? Kulihat kau membeli banyak barang dari sana." Sakura berbicara amat fasih tanpa adanya jeda pada setiap pertanyaannya. Apa ia benar-benar lulus kelas bahasa?
"Bertanyalah satu-satu dan berhenti membuat orang bingung".
"Aku tidak bisa dan tidak punya waktu untuk memasak. Iya aku membelinya di supermarket beserta makanan lainnya. Puas? Sekarang bisakah kau pergi?". Aku mulai lelah menanggapi gadis cerewet ini.
"Ide bagus". Ia tersenyum licik.
"Ide?" Tanyaku penasaran melihat ekspresinya yang amat mencurigakan.
"Aku akan mengajarimu memasak hingga kau bisa! Sudah tugasku sebagai tetanggamu yang baik, Sa-su-ke". Ia memanggil nama depanku. Seakan ia sudah selamanya mengenalku. Dan siapa dia? Tiba-tiba hendak mengajariku memasak, aku tidak membutuhkannya. Saat kuliah nanti pasti akan sangat sibuk dan tidak sempat melakukan hal-hal ribet semacam ini.
"Tidak perlu!" tolakku. Jika ku izinkan, banyak waktu yang kuhabiskan bersamanya. Entah kesialan apa yang akan ia berikan padaku.
"Tidak usah sungkan, kemarikan ponselmu". Ia mendapatkan IPhoneku yang ada di dalam kantung kemeja, ia telah mengincarnya beberapa detik lalu, terlihat jelas karena ukuran IPhone 6s+ yang kalian tahu sendiri.
"Tu-tunggu dulu—". Ia mengabaikanku. Tidak butuh 10 detik untuknya mengembalikan ponselku.
"Nah, jika urusanku sudah selesai, aku akan segera menghubungimu. Kupilihkan dulu menu-menu yang praktis tapi enak untuk dimakan! Ini, jangan lupa dimakan ya!". Urusan? Cih, memangnya dia itu artis terkenal? Dengan paksa ia memberikan kotak bentonya kepadaku lalu berjalan masuk ke apartemennya dengan sedikit berloncatan. Mau tak mau aku harus membawa masuk bento yang ia berikan. Dosalah aku jika kubuang sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gadis yang teramat aneh. Aku duduk di meja makan kecil yang ada di dekat counter dapur. Membuka kotak bento yang masih dikemas dengan selembar kain Furoshiki berwarna merah. Sakura itu memberiku Shokado Bento yang terlihat amat cantik untuk dilihat. Nasi putih yang masih hangat dicetak berbentuk kepala beruang, dengan beberapa sayuran dan lauk pauk. Daging ham, egg sheet, nori. Sayuran seperti TOMAT chery, wortel, dan brokoli dipadukan menjadi bento cantik yang bisa dijadikan bekal. Lalu rasanya? Enak! Ternyata dia pandai juga memasak.
Tak kusangka bento yang Sakura berikan sudah ludes tenggelam dalam perutku, mungkin butuh waktu cukup lama mencernanya karena ada banyak daging yang kumakan.
Tunggu dulu, aku baru saja makan makanan yang diberikan orang asing. Mungkinkah ia meracuni makananku? lalu nanti malam ia akan menyelinap ke apartemen dan mencuri barang-barangku? Ah sudahlah, hentikan pikiran negatifmu itu Sasuke! Aku membersihkan alat-alat makan yang kugunakan dan membuang ramenku yang terlanjur lembek karena terlalu lama kudiamkan. Inginku pergi ke kota, tapi kenapa rasanya aku masih lelah. Mungkin aku bisa jalan-jalan ke taman, pemandangannya cukup menarik untuk menyegarkanku. Yosh, aku bersiap mengenakan pakaian casual yang santai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Udara sore hari yang sudah tidak terlalu panas membuat suasana taman terasa sejuk. Suara air mengalir dari air mancung berukuran sedang, dan nyanyian burung-burung yang bertengger di pohon amat menyenangkan untuk di dengar. Masih banyak orang berkunjung, ada yang membaca, mengajak hewan peliharaanya jalan-jalan, atau ada juga yang ber-hanami di awal musim gugur ini dengan orang terdekatnya.
Aku disini. Duduk di bangku taman berwarna putih di bawah pohon Sakura yang siap menghadapi musim gugur. Sakura, kenapa aku teringat dengan gadis itu sekarang? Lupakan Sasuke! Aku membaca beberapa buku yang telah kubawa dan menikmati suasananya. Lagi-lagi suasana yang kusukai ini tidak bertahan begitu lama, saat gadis itu muncul entah dari mana asalnya,
.
.
.
.
.
Sakura POV
Pagi ini aku bertemu dengan tetangga baruku yang cukup dingin dari segi sifatnya. Sebenarnya ia orang yang asik tapi karena kurangnya sisi sosial dari dirinya menutupi sifat asli yang tidak buruk untuk dimiliki. Hm, setidaknya aku tidak kesepian lagi di lobi 6 karena hanya aku dan dia yang menempatinya. Ia juga cukup tampan. Hari ini aku memberinya bento. Semoga rasanya enak, aku tidak begitu yakin karena persediaan bahan makananku yang menipis tadi pagi.
"Yosh, hari liburku. Hari ini akan kuisi dengan mengajak Mame berjalan-jalan di taman!".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suasana taman ini begitu mendukung kenaikan moodku, aku yakin Mame juga menikmati waktunya disini.
"Cuacanya bagus ya, Mame!" Aku menatap Mame lembut. Ia lucu sekali.
Guk guk. Aku tersenyum menanggapi gonggongan Mame yang terlihat senang.
Tapi kalian tidak akan percaya apa aku temukan di taman ini. Tetanggaku tersayang juga ada disini! Ia sedang membaca banyak sekali tumpukan buku tebal yang membuat kepalaku pusing hanya dengan melihatnya. Aku meluncur menuju Sasuke. Ia pasti tidak keberatan jika aku ikut bergabung, setidaknya itu yang kupikirkan.
.
.
.
.
.
.
.
Back to Sasuke POV
Gadis itu juga sedang mengunjungi taman. Tapi ia tidak sendiri, ada seekor anjing kecil bersamanya. West Highland White Terrier jenisnya. Anjing itu berbulu putih tebal, memiliki mata almond terang berwarna hitam kecoklatan, tubuhnya kecil dan kakinya pendek, telinga menunjuk tegak dan hidungnya kecil hitam. Lucu juga.
"Hai Sasuke. Apa yang kau lakukan hari ini?". Gadis itu berdiri di depanku dan memulai pembicaraan. Penampilannya tidak kolot lagi. Ia mengenakan collar dress berwarna magenta dengan kerah putih, dipadukan dengan sepatu bots berwarna coklat. Menarik.
"Tidakkah ini sudah jelas". Aku kembali mengalihkan padanganku ke buku yang sudah setengah baca. Sakura tiba-tiba duduk di sebelahku, menghidup dalam-dalam udara sore hari ini sebelum berotasi menjadi malam dan pohon-pohon malah menghasil karbondioksida yang mengganggu proses pernafasan.
"Oya, kenalkan ini Mame, anjing terrier kesayanganku. Dia lucu kan? Bahkan lebih lucu daripada milik Leslie Burke di film Bridge to Terabithia". Sakura mengangkat-angkat anjing kecilnya yang penurut. Anjing itu menggonggo lucu ke arahku.
"Mame?". Aku penasaran tentang sejarah nama peliharaannya yang aneh ini.
"Bukankah itu nama yang lucu? Pertama kali aku menemukannya di jalan raya yang sepi, mobil yang kutumpangi sedang mogok, menunggu sopirku untuk memperbaikinya adalah waktu paling membosankan dalam hidupku. Jadi aku keluar dari mobil dengan membawa payung karena gerimis. Berjalan-jalan sebentar, hingga kusadari sesuatu baru saja bergerak di sekitar tumpukan kardus bekas, dekat dengan tong sampah. Kukira itu hantu atau monster (Sakura alay waktu itu), tapi aku menemukan monster terlucu yang pernah kulihat". Sakura bercerita panjang lebar. Aku pura-pura membaca buku, akan tetapi sebenarnya aku amat memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Hn,". Aku membalik halaman bukuku.
"Pertama kali aku melihatnya, aku langsung jatuh cinta padanya".
"Tubuhnya yang kecil dan pendek mirip sekali dengan buncis, karena itu kunamakan dia Mame". Sakura memeluk anjingnya.
"Hn. Souka". Aku membalik lagi halaman buku bacaanku yang sebenarnya belum terselesaikan semua.
.
.
.
.
.
"Sasuke, karena kita sudah disini, bagaimana kalau mampir sebentar ke Festival Musim Gugur di kuil Konoha? Akan ada banyak makanan di sana, mereka juga mementaskan Hayachine Kagura". Sakura memohon dengan membuat puppy eyes-nya.
"Tidak. Aku sibuk".
"Inikah yang kau namakan sibuk?".
"Hn".
"Ah, ayolah… buku ini bisa kau baca nanti. Tapi festival Musim Gugur? Hanya datang sekali di kuil itu. Setidaknya kita ikut meramaikan dan menambah jamaahnya".
Aku terdiam.
"Sasuke, ayo kita pergi ke kuil".
"Sasuke, disana nanti akan kutraktir 3 gelas kaki gori, deh… ya, ikut ya?".
"Sasuke ayo, pasti akan sangat menyenangkan".
"Ayo pergi Sasuke, Ayo pergi Sasuke, Ayo pergi Sasuke, Ayo pergi Sasuke, Ayo pergi Sasuke, Ayo pergi Sasuke, Ayo pergi Sasuke, Ayo pergi Sasuke".
Ia mondar-mandir di depanku dan terus saja mengucapkan hal yang sama. Anjingnya pun sama, si kecil itu menggonggong ke arahku. Kenapa ia bisa sama dengan majikannya begini? Jika aku terus berkata tidak, maka hal ini tidak akan berakhir walau matahari nampak kembali. Aku terpaksa menyerah, LAGI.
"Baiklah, baiklah jika ini membuat diam". Aku berdiri dan menutup bukuku.
"Eh?" Sakura berhenti. Memasang wajah penuh harapnya berangsur-angsur tersenyum.
"Hore! Kau dengar itu Mame, Sasuke akan pergi bersama kita". Sakura mengangkat-angkat anjingnya ke atas. Alih-alih takut, anjing itu malah menggonggong gembira. Astaga, mimpi apa aku semalam.
"Kemarikan bukumu. Aku akan membawakannya di dalam tasku". Aku lupa. Kenapa aku tidak membawa tas kecil? Akhirnya kuserahkan bukuku yang berjumlah 3 buah itu.
"Kenapa ada orang yang mau membaca buku seperti ini". Gumamnya sembari memasukkan bukuku ke dalam tasnya.
"Oke sudah! Ayo pergi". Sakura menarik tanganku.
"Tunggu, bagaimana dengan anjingmu?"
"Ada apa dengan Mame?".
"Kau tidak mengikatnya?".
"Hahaha, Mame tidak pernah pergi jauh-jauh dariku, ia juga benci diikat".
"Hn".
"Yosh! Ayo kita pergi!". Sakura berteriak. Sedikit memalukan untuk berada di dekatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Festival Musim Semi di Kuil Konoha atau orang-orang biasa menyebutnya dengan Matsuri. Suasananya ramai sekali. Lentera merah berjajar rapi menerangi tempat ini, Banyak orang berlalu lalang untuk menikmati setiap stand yang menjual banyak sekali makanan, ada juga beberapa pernak-pernik seperti topeng dijual.
"Sasuke! Ini indah sekali!" Sakura berputar-putar dengan 2 tangan diangkat sejajar dengan bahunya. Putar, putar, dan terus berputar. Mungkin jiwanya sudah melayang entah kemana.
"Hei, berhentilah atau kau akan ja-".
BRUKKKK-
Aku belum menyelesaikan suku kata terakhir dari kalimatku dan dia sudah jatuh duluan. Banyak orang memperhatikan, tapi rasanya itu bukan masalah bagi Sakura karena ia masih sibuk memegangi kepalanya.
"Sasuke, aku pusing". Emeraldnya berputar-putar tak searah.
"Tidak perlu kau beritahu. Ayo berdiri". Aku mengulurkan tanganku agar Sakura lebih mudah berdiri. Setelah membersihkan bajunya yang kotor karena tanah Sakura, eh maksudku kami mulai menjelahi setiap stand yang ada di sana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sasuke, itu ada kaki gori. Aku sudah berjanji akan memberimu 3 gelas. Ayo ke sana!". Sakura menarikku, tak tahu karena apa Sakura amat bahagia disini. Ia tak bisa berhenti tersenyum, kesana kemari mencicipi semua kuliner yang disuguhkan disini.
"Paman, aku minta 6 gelas kaki gori ya". Sakura memesan 6 gelas? Siapa yang akan meminumnya?
"Hei, aku tidak pesan!".
"Kau harus pesan, Sasuke!".
"Ya sudah, tapi aku hanya butuh 1 gelas".
'Hm. Baiklah kalau begitu". Kami menunggu es balok yang dibawa lelaki tua itu untuk diserut.
"Hei, katakanlah padanya".
"Katakan apa?".
"Kau itu bodoh ya? Siapa yang akan memakan 5 gelas sisanya?".
"Tentu saja aku". Sakura tersenyum polos *_*
DOENG. Seseorang sekurus dia mempunyai selera makan yang mengerikan juga. Harusnya aku sudah bisa menebak saat melihatnya berbelanja gila-gilaan seperti tadi. Tapi kemana perginya semua makanan yang ia lahap? Tak mungkin ia akan mengeluarkan semuanya. Setidak beberapa bagian akan menumpuk menjadi lemak.
"Rasa apa yang Anda inginkan, Nona?"
"Apa saja yang Paman sediakan?".
"Ada strawberry, anggur, melon, jeruk, leci, dan jambu".
"Sasuke, kau ingin rasa apa?".
"Anggur. Dan katakan jangan terlalu banyak memberi sirupnya".
"Oke. 5 gelas rasa pelangi dan 1 gelas rasa anggur tapi tolong dikurangi porsinya, Paman".
"Siap, Nona". Setelah menunggu selama 1 menit esnya siap. Setelah duduk di meja yang disediakan, Sakura memulai aksinya. Kau tidak akan tahu bagaimana ia menghabiskan semuanya hanya dalam hitungan detik. Aku disini yang baru memakan satu sendok dan ia sudah menghabiskan semuanya bersih tak bersisa.
"Ah, segarnya!". Ia bersandar pada pintu sambal memegangi perutnya.
"Sasuke! Apa kau sudah selesai dengan itu?".
"Apa kau mau ini?". Sakura mengangguk. Kami-sama, ternyata ada jiwa gila makan yang terperangkap di tubuh idealnya. Sakura tidak kurus, juga tidak gendut. Hanya berisi. Setelah selesai dengan gelas ke ENAMnya. Sakura beranjak pergi lagi menuju ke kedai yang lainnya.
"Ayo Sasuke!".
"Tunggu sebentar". aku baru ancang-ancang berdiri dari kursi dan Sakura sudah berada di luar mencari-cari stand lain.
"Pacarmu cantik sekali, Nak". Kata paman yang menjaga stand kaki gori. Eh? Pacar darimananya? Paman ini pasti salah paham melihatku dengan Sakura.
"Sasuke, cepatlah". Panggil Sakura yang mulai tidak sabar.
"Saya permisi dulu Paman, terima kasih atas minumannya" aku membungkuk lalu pergi.
.
.
.
.
.
Tak terhitung berapa banyak kedai yang telah dikunjungi. Semuanya dibeli olehnya, tentu saja dengan porsi yang mengerikan. Orang-orang yang melihatnya hanya tersenyum geli, dia yang kenyang, aku yang malu.
.
.
.
.
"Sasuke, Okonomiyaki ini enak sekali. Mienya kenyal yang berbumbu".
"Hn".
"Apa kau pernah mencoba Okonomiyaki ala Kansai di seelah barat Konoha?".
"Belum".
"Oke. Aku akan mengajakmu suatu hari nanti. Tapi aku juga jarang makan okonomi ala Hiroshima seperti ini".
"Hn".
.
.
.
.
"Sasuke, cobalah Yakisobanya. rumput laut kering atau aonorinya juga gurih, dan jahe merahnya mendominasi rasa".
"Kau saja".
"Ya sudahlah".
"Hn".
.
.
.
.
"Sasuke, Takoyaki ini adalah takoyaki paling enak yang pernah kurasakan".
"Hn".
"Sayang mereka mencincang gurita terlalu halus, tapi acar jahenya enak sekali!"
"Hn".
Aku kenyang sendiri melihatnya. Beruntunglah anjingnya, Mame, tidak seperti majikannya. Sakura sudah membawa makanan anjing di tasnya. Ia memberikan Mame 1 mangkuk kecil dan 1 mangkuk susu. Aku sedikit lega melihatnya.
"Berapa kali kau memberinya makan?". Sakura masih disibukkan dengan aktivitasnya makan takoyaki. Ia memesan 45 buah, aku hanya makan 3 buah dan dia sisanya.
"Um… sekitar 7-9 kali".
Doeng.
Lupakan apa yang sudah kalian baca diatas. Aku menarik semua kata-kataku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Acara utama dimulai. Semua orang berkumpul di sekitar panggung untuk melihat pertunjukan Hayachine Kagura dimulai. Seorang gadis mengenakan kimono warna cerah bercorak bunga mawar yang indah dan mewah. Ia segera memulai gerakannya. Setiap gerakan diiring dengan musik merdu dari taiko, simbal, dan suling, dipadukan dengan suara lonceng yang ia bawa menciptakan melodi teramat indah untuk didengar setiap orang. bagian 1,2, 3 ,4, 5 hingga akhir. Semua orang bertepuk tangan. Tak terkecuali aku. Tapi jika kau memperhatikan Sakura yang ada di sampingku, memang lain dari lain. Ia bertepuk tangan sembari loncat-loncat menyoraki penari yang ada di atas panggung. Prediksiku ia akan segera terjatuh, secara teori, peluangnya adalah 0,99999.
Dan benar saja,
BRUUKKKK- (lagi)
Ia terjatuh. Kakinya terkilir. Berapa kali ia jatuh hari ini? Aku yakin hidupnya dipenuhi dengan insiden jatuh dalam berbagai versi.
"Ahhh…. Itaii". Sakura memegang kakinya".
"Guk guk". Mame menaruh salah satu kaki depannya di paha Sakura, tanda ia amat khawatir dengan keadaan majikannya sekarang.
"Hmm… Aku tahu ini akan terjadi. Apa itu sakit?". Tanyaku.
"Tidak begitu".
"Berikan tasmu".
"Aku akan membawakan tasmu dan menggendongmu di punggungku". Lanjutku.
"Ah, tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri".
"Coba saja". Sakura mulai bangkit setelah setengah berdiri ia terjatuh lagi. Beruntung aku berhasil meraih tangannya sehingga ia tidak benar-benar jatuh ke tanah.
"Hentikan omong kosongmu dan turuti apa kukatakan".
"Baiklah". Sakura sebenarnya enggan untuk mengatakannya. Tapi kakinya terkilir, jika Sakura terus memaksakan, cederanya akan semakin parah.
.
.
.
.
.
.
Sakura POV
Karena aku terjatuh kini Sasuke menggendongku di punggungnya. Berjalan pulang menuju apartemen yang jaraknya tidak terlalu jauh. Baiknya Sasuke mau menggendongku hingga sampai ke apartemen.
"Mame, jangan jauh-jauh". Kataku saat melihat Mame mendahului kami.
"Biarkan saja. Setidaknya anjing itu lebih baik dari pada majikannya".
"Eh?".
"Sama-sama berisik, gila makan, tak bisa diam. Tapi anjingmu bukanlah tipe hewan yang hobinya menjatuhkan dirinya sendiri".
"Sasukee! Jangan bercanda". Aku memukul pelan punggung Sasuke.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?".
"Hm, kau memang benar. Entah itu menyadung barang, atau karena rok yang panjang, atau menyandung kakiku sendiri, aku selalu saja terjatuh. Seakan itu sebuah kebiasaan yang melekat selamanya padaku, hahahaha".
Tidak ada respon dari Sasuke. Biarkan saja, dia pasti mendengarkanku. Ia tidak menanggapi karena bingung respon apa yang harus ia berikan padaku. Aku mengerti sekarang.
Ditengah jalan, aku melihat sebuah pohon sakura besar sedang bermekaran indah, padahal ini adalah musim gugur, dan sakura bermekaran pada Bulan April lalu.
"Sasuke! Pohon itu indah sekali". Aku menunjuk ke arah pohon Sakura.
"Mau kesana?". Tawarnya.
"Bolehkah?".
"Ini belum terlalu larut". Sasuke melihat jam tangan Alexandre Chistie yang melingkar di tangan kirinya.
"Hore! Ayo!". Sasuke mengantarku. Di bawah pohon itu ada sebuah bangku panjang, Sasuke mendudukkanku di sana.
"Bagaimana kakimu?".
"Lebih baik". Aku tersenyum. Sasuke duduk di sebelahku.
"Pohon ini cantik sekali, Sasuke!". Aku menatap ke atas, bunga-bunga Sakura bermekaran. Dewa bumi melakukan tugasnya dengan baik.
"Pohon Sakura ini bernama Akizakura. Jenis pohon sakura yang cukup langka dan unik karena bunga mekar pada musim gugur, sesuai dengan namanya, Aki yang berarti musim gugur".
"Jadi itu alasannya aku tidak pernah melihatnya".
"Katanya, jika melihatnya mekar pada musim gugur, keberuntungan akan datang padamu".
"Eh? Benarkah? Pohon ini dekat dengan apartemen kita, mungkin aku bisa melihatnya setiap hari". Ucapan Sasuke membuatku bersemangat. Walau hanya berdasarkan kata 'katanya' tapi ini hal menyenangkan. Aku sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan keberuntungan. Menatap bulan yang sedang mengalami pasang purnama bersama seseorang membuatku bahagia. Suara kodok yang mungkin sedang mencari makan di kolam menghiasi malamku ini.
Bersamanya.
"Sasuke?".
"Bisakah kau mengambil beberapa bunga Sakura itu dan memasukannya ke kotak yang ada di tasku?". Pinta pada Sasuke. Ingin aku pergi mengambilnya sendiri karena Sasuke pasti tidak bisa memilih bunga sakura yang berkualitas baik, tapi beginilah, kaki ini bahkan tak sanggup menopang tubuhku.
"Hah? Untuk apa?". Tanya Sasuke.
"Banyak makanan enak yang dibuat dari bunga Sakura, Sasuke…".
"Kau memang maniak makanan". Aku sudah membawa beberapa kotak kecil di tas Jansport-ku. Tentu saja aku sudah mempersiapkan hal-hal kecil semacam ini. Terkadang jika sedang berpergian, aku membawa lebih banyak kotak karena akan ada banyak tanaman herbal yang bisa kutemukan seperti tiger dan ashitaba atau seledri Jepang sebagai bahan tambahan masakanku agar lebih bermanfaat.
Sasuke mengambil bunga sakura dari dahan yang rendah yang bisa ia raih secukupnya. Lalu memasukkannya lagi ke dalam tasku.
"Sudah kan? Sekarang ayo kita pergi".
"Kenapa buru-buru?".
"Tidak bisakah kau melihat Mame sekarang?". Aku mengalihkan pandangan ke anjing kecilku. Ia tertidur di bawah kaki Sasuke. Sepertinya Mame menyukainya. Biasanya ia akan segera menyalak jika ada orang mendekat. Tapi sore ini aku kaget dengan sikap Mame yang menerima Sasuke dengan senang hati.
"Bisakah kita tinggal sebentar lagi?".
"Sudah mulai larut. Kita bisa kemari lagi besok". Aku tersentak kaget dengan ucapan Sasuke.
"Kita?". Kulihat Sasuke juga baru menyadari perkataannya, langsung mengalihkan padangannya ke arah lain. Aku tersenyum melihat tingkah Sasuke.
"Ayo pergi". Tanpa ada kata terucap dari mulutnya, Sasuke menggendongku di punggungnya.
Untuk pertama kalinya aku digendong oleh seseorang. Jadi begini ya rasanya? Punggung pria ini terasa begitu hangat. Tak pernah kurasakan kehangatan semacam ini, enggan rasanya untuk pergi. Aku mengalung lenganku di lehernya dan meletakan kepalaku di punggungnya. Nyaman, hanya itu yang kurasakan sekarang.
"Sasuke". Panggilku.
"Hn?".
"Terima kasih".
"Untuk apa?".
"Untuk semuanya".
"Sama-sama, Sakura".
Uchiha Sasuke. Untuk pertama kalinya ia memanggil dengan namaku. Kenapa aku begitu senang hanya karena itu? Aneh sekali. Tapi hari ini adalah hari paling menyenangkan bagiku karena ada Sasuke yang menemani. Biasanya aku akan pergi sendirian, karena Nii-chanku sedang pergi keluar negeri untuk belajar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lobi 6 lantai 5, Apartemen Jiraiya.
Sasuke POV
Saat kami sudah sampai di depan pintu apartemen Sakura, ternyata gadis yang ada dipundakku ini sudah tertidur. Kasihan juga jika kubangunkan sekarang untuk bertanya dimana ia menyimpan kunci pintunya, masa aku harus mengajaknya masuk ke apartemenku, kemustahilan. Hingga Mame menggonggong pelan ke arahku,
"Ada apa, Mame?". Anjing itu pergi menuju depan pintu, bukan depan pintu tapi pot tanaman bambu yang ada di setiap pintu. Mame mengendus pot tanaman di dekat pintu Sakura.
"Mungkinkah?". Aku segera menelusur permukaan tanah dari pot itu, dan benar saja, ada sebuah kunci di sana. Aku tersenyum pada Mame dan mengusap pelan kepalanya yang mungil.
"Anjing pintar!". Aku menepuk-nepuk kepala kecil Mame yang ditutupi bulu. Aku mengambil kunci itu dan membuka pintu apartemen gadis ini.
Aku melihat apartemen Sakura. Ukurannya sama persis dengan milikku. Hanya saja isinya,
Dinding apartemennya berwarna merah muda pucat. Ruang multifungsi ini cukup luas hanya saja keadaannya cukup kacau dengan banyak barang berserakan. Kapan terakhir kali ia membersihkannya? Dapur amat mendominasi ruangan ini. Alat-alat masak berbagai bentuk dan ukuran tersedia lengkap, anak itu memang maniak makanan, tapi setidaknya ia lihai mengolahnya.
Banyak sekali poster-poster makanan tertempel di dinding dan beberapa jatuh ke lantai. Lemari besar yang ada di sudut ruang berisikan replika mini makanan seperti Pancake, waffle, kari, sup miso, cheese fondue, pizza, veggie pancake, chirashi sushi, pumpkin pudding, lime pie, vegetable latte, dan masih banyak lagi. Disebelahnya ada meja kayu kecil yang digunakan untuk menempatkan boneka dango besar warna-warni.
Di meja makan, ada sebuah keranjang besar yang berisi banyak sekali boneka Sarubobo warna-warni, dipercaya orang Jepang bahwa boneka-boneka yang meniru bentuk dasar dari anak kera ini membawa keberuntungan.
Diatas tirai besar berwarna krem yang menutupi pintu balkon ada banyak sekali kantung Omamori bercorak bunga sakura warna-warni, yang lagi-lagi untuk keberuntungan. Dikatakan kantung itu tidak boleh dibuka, atau kemanjurannya akan hilang, jika sudah setahun, kantung itu harus dibuang ke kuil, atau jika dibuang sembarangan malah mendatang kesialan.
Aku pergi menuju kamarnya. Perabotnya mirip denganku, hanya meja belajarnya penuh dengan poster makanan dan bebrapa kupon makanan gratis, aku hanya berdehem. Kutidurkan Sakura di ranjang besarnya dan membenahi selimutnya. Tiba-tiba ada Mame yang juga hendak tidur di kaki Sakura, sebaiknya aku segera pergi karena malam ini sudah terlalu larut.
Sebelum pergi, aku sedikit membereskan kamar Sakura yang seperti habis dijajah pencuri. Saat membersihkan, aku menemukan aquarium kecil berisi Tiger Swallowtail awetan. Astaga, hanya untuk keberutungan, gadis ini juga memeliharanya. Mungkin ia menangkapnya sendiri, Karena kupu-kupu tidak berumur panjang sekalian saja diawetkan.
Setelah berkutat selama 15 menit, apartemennya sudah bersih, mungkin sedikit aneh tapi lantainya sama sekali tidak berdebu, hanya barang-barangnya saja yang berantakan. Aku keluar dari apartemen Sakura, mengunci pintunya dari luar yang memasukan kunci ke dalam apartemen melalui celah yang ada di bawah pintu.
Hari ini cukup melelahkan, tapi amat menyenangkan. Aku harus segera beristirahat, besok waktuku untuk mencari pekerjaan paruh waktu dan membeli beberapa peralatan untukku kuliah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC~~
Haiii! Ketemu lagii…. Updatenya kilat atau gak nih? Maaf ya kalo lama karena author lagi sibuk berburu anime, karena udah 3 bulan ini aku berpisah dengan lappieku tercinta buat belajar… Aku juga nonton Clannad untuk sekian kalinya dan masih aja banjir air mata, huaaaaa! Moga suka ceritanya!
Younghee Lee : Update ya ^^
BukanApaApa : Update nii… makasih buat fav, fol, reviewnya ^^
Ika Luthfiyyah Nurmawati : halo ika! Cieeee kita samaan. Kalo aku sih pengen ke SMAN jurusan Bahasa, kalo gak diterima disana ya homeschool karena ibuku fasilitatornya. Ika mau ke SMK akutansi? Semangat yaa, moga keterima disana. Haduh, aku udah gak punya FB hahaha, aku cuma punya insta, BBM, dan LINE, klo mau berteman lewat PM nanti aku kasih tahu pin/userid dsb… aku seneng kalo kamu suka ceritaku, Sakura itu aku buat jadi gadis yang gila makan tapi tetep ideal -_-aku juga pengen kayak Saki hahaha… kamu juga nulis? Cepet diselesei, aku penasaran, kalo soal ide emang kadang dongkol tapi ideku cepet ngalir karena keadaan kamarku amat menginspirasi. Salam kenal ya Ika, nilaiku? Huaaaa aku deg-degkan nihhh…
Ranichan1307 : Iya nih, enjoy yaa
Desta Soo : Update yaa ^^
Makasih yang udah review…. Xoxo
Salatiga, 1 Juni 2016
Devi Na Akeyama
