"Love Letter"

Jaehyun x Taeyong

Love Letter © Aza Bee

NCT & SM Rookies © SM Entertainmet

WARN! YAOI, typo(s), OOC

.

.

.

"Apakah kau ingat hari pertama kita bertemu?

Bibirmu yang manis itu tersenyum padaku."

.

.

Entah sudah berapa kali Jaehyun kembali menggerutu seraya menggumamkan berbagai macam kalimat tidak jelas. Membuat Jaehyun menjadi objek pandang beberapa mahasiswa yang tanpa sengaja berpapasan dengan dirinya.

Mungkin Jaehyun akan terus-menerus seperti ini di setiap paginya. Terlambat bangun. Diguyur air dan ditambah dengan mendapatkan sebuah lagu dari konser gratis yang demi apa pun sedang tidak ingin ia dengarkan—omelan Ibunya—.

Jaehyun memang seperti ini. Semenjak pertemuan dengan sosok yang seperti malaikat—bagi Jaehyun—beberapa hari yang lalu, atau lebih tepatnya dua belas hari yang lalu, Jaehyun selalu bertingkah aneh bahkan kelewat tidak wajar.

Mulai dari tidur tengah malam—tidak bisa tidur tepatnya—karena selalu memikirkan malaikatnya itu dan berakhir degan dirinya yang terlambat bangun. Selalu menebar senyum—setidaknya ia masih terlihat tampan—dengan semua orang yang ia temui di jalan meski ia sendiri tidak mengenal orang tersebut.

Jarang—bahkan hampir tidak pernah—menyentuh berbagai macam benda yang berhubungan dengan game. Bukan apa-apa, tapi sungguh. Jika Jaehyun tidak bermain game, itu berarti sebuah ketidak wajaran bagi Ibunya.

Dan yang terpenting, Jaehyun selalu menghayalkan bagaimana dia dan malaikat itu akan bersama. Jalan bersama, tertawa, bergandengan tangan, berciuman, memasak bersama, tidur bersama—tolong jangan berpikiran yang iya-iya—dan berbagai macam kegiatan bersama lainnya. Ia bahkan pernah membayangkan jika ia akan menikah dengan sosok yang selalu ia sebut-sebut sebagai malaikat itu.

Jaehyun menggaruk tengkuknya, ia menatap sepasang sneakers berwarna hitam dengan garis putih yang tengah ia kenakan. Hei, ini adalah hari pertama ia pergi kuliah, jadi ia tidak tahu apa-apa di sini. Ia tidak sempat mengikuti ospek karena ia tiba-tiba demam selama empat hari. Ia benar-benar terlihat seperti bocah yang baru naik kelas satu smp.

Ia kembali menggerutu dan melangkah dengan langkah gusar. Hingga di belokan koridor, ia baru menyadari satu hal. Tali sepatunya terlepas.

Jaehyun mendengus. Ia berjongkok dan mulai menali ikatan tali sepatunya. Ia tersenyum puas kala tali itu terikat dengan sangat sempurna. Dan akan lebih sempurna jika ia kembali bertemu dengan malaikatnya. Dan akan dua kali lebih sempurna jika ia mendapatkan senyum da—

"AWW!"

"YAHH!"

Jaehyun yang sudah dalam posisi membungkuk kembali duduk karena tubrukan keras dari arah depannya. Bokongnya yang lebih dulu mendarat terasa sangat sakit. Rasanya ia ingin mengumpati siapa pun yang baru saja menubruk tubuhnya.

Namun saat Jaehyun mendengar pekikan—yang bagi dirinya terdengar lucu—Jaehyun buru-buru menajamkan penglihatannya. Di hadapannya kini seorang laki-laki dengan surai berwarna silver dan berwajah manis juga tengah meringis.

Jaehyun menegakkan tubuhnya. Ia mengulurkan sebelah tangannya pada sosok tersebut.

Saat orang itu menerima uluran tangannya dan mendongak menatap dirinya. Jaehyun melebarkan kedua matanya. Ia menyadari satu hal. Orang itu adalah malaikatnya.

Mulut Jaehyun menganga, ia bergumam pelan, "Kau?"

Sedangkan orang itu tersenyum dan berkata, "Maafkan aku."


Lee Taeyong baru saja ingin pergi menuju cafeteria untuk mengisi perutnya yang tiba-tiba saja terasa kosong. Namun saat salah satu dari temannya mengatakan bahwa ia harus menemui ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa—Kim Joonmyeon—untuk sebuah urusan, Taeyong buru-buru memutar tubuhnya dan melangkah pergi menemui lelaki bermarga Kim tersebut.

Mungkin karena ia terlalu buru-buru dan mungkin karena ia mendapati ponselnya tiba-tiba berdering, Taeyong jadi tidak fokus menatap jalan di depannya. Ia terlalu lama menunduk dan mengotak-atik ponselnya hingga ia merasa ia sudah merasa sakit karena bokongnya mendarat dengan keras pada lantai tak berperasaan yang ia gunakan sebagai pijakan.

Taeyong meringis. Untung saja ia bukan tukang umpat seperti teman-temannya yang lain. Jika ia tukang umpat, mungkin ia sudah berteriak dan mengumpati orang yang dengan seenak jidatnya menghalangi jalannya itu.

Taeyong—yang matanya masih menyipit—meski sedikit dapat melihat uluran tangan yang mengarah pada dirinya. Ia menerima uluran tangan tersebut, mendongak dan tersenyum.

Taeyong tidak bisa mendengar gumaman dari laki-laki tinggi itu. Ia terlalu sibuk tersenyum dan bergumam, "Maafkan aku."

Ia sedikit membungkuk kala menyadari laki-laki yang ia tubruk tadi tidak melakukan pergerakan apa pun. Bahkan sedikit tersenyum saja tidak.

Taeyong jadi kikuk sendiri. Ia melepaskan tangannya yang masih bertautan dengan orang itu pelan. Taeyong menyadari jika pergerakannya membuat orang itu agak berjingkat, lalu dengan gugup berkata, "Ma—maafkan aku. Aku tidak bermaksud—"

Taeyong tersenyum, lalu berkata, "Tidak apa-apa," ia kembali sedikit membungkuk, dan membuka mulutnya bertanya, "Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku, aku tidak melihat jalan dengan baik tadi. Ah ya, siapa namamu?"

"A—aku baik-baik saja. Tidak, ini bukan salahmu sepenuhnya. Aku sendiri juga sudah menghalangi jalan."

Orang itu berhenti mengoceh. Taeyong mengernyit saat pertanyaannya yang terakhir tidak mendapat jawaban. Ia tersenyum lagi, "Namamu?"

Taeyong terkekeh saat orang itu menepuk dahinya dan meringis. "Namaku Jaehyun. Jung Jaehyun. Lalu namamu?"

Taeyong kembali menerima uluran tangan itu dan berkata, "Namaku Taeyong. Lee Taeyong."

"Senang bertemu denganmu, Jaehyun!"

Dan setelah itu Taeyong melangkah pergi meninggalkan Jaehyun yang masih menatap dirinya hinga ia menghilang dari jarak pandang laki-laki berkulit kelewat putih tersebut.


Jaehyun masih berdiri di tempat ia bertemu dengan malaikat—yang akhirnya ia ketahui siapa namanya—dengan perasaan senang luar biasa. Meski wajahnya terlihat blank dan tatapan matanya kosong, ia kini sedang berusaha menahan pekikan rasa senangnya yang meletup-letup.

Ia menyentuh dada sebelah kirinya, tempat di mana jantungnya terletak. Jantung itu masih berdetak, berdentum dengan cepat hingga membuat dirinya merasa gugup dan menjalar ke wajahya yang kini memanas.

Ya Tuhan, ternyata malaikatnya itu bernama Lee Taeyong. Satu kampus dengan dirinya dan terlebih lagi Taeyong-nya itu benar-benar sangat manis. Ia jadi ingat saat Taeyong memberikan cokelat padanya.

Jaehyun berjingkat kala ia mendengar dering ponsel. Ia merogoh saku celananya dan melihat jika layar ponselnya masih berwarna gelap. Tidak menyala. Tidak berdering. Tidak bergetar. Dan intinya bukan ponselnya yang berbunyi.

Ia menunduk dan menatap sekeliling. Ia melebarkan kedua matanya lucu saat sepasang matanya menangkap ponsel tipis dengan layar yang lebarnya sama dengan ponsel miliknya tergeletak di tempat di mana Taeyong terjatuh tadi.

'Apa ini milik Taeyongie?'

Jaehyun memungut ponsel tersebut dan menatapnya dengan gusar. Apa ia harus mengangkatnya? Ia jadi serba salah.

Sesaat Jaehyun melirik ponsel—yang Jaehyun perkirakan milik Taeyong—kini berhenti berdering dan menampilkan layar gelap.

Ia mengangkat bahunya dan saat ia ingin melangkah pergi, ia mendapati salah satu ponsel yang ia genggam kembali berdering.

'Ah, ternyata ponsel milikku.'

Jaehyun mengusap layar ponselnya dan membuka pesan dari nomor tidak dikenal.

From : 010402536xx

9:19 AM

Kupikir ponselku jatuh di sana. Apa ponselku ada bersama denganmu, Jaehyun-ssi?

Ini aku, Lee Taeyong.

Jaehyun tersenyum. Dengan cepat ia menyimpan nomor tersebut dengan senyum lebar. Jemarinya bermain pada layar ponsel, mengetik balasan pesan untuk Taeyong yang ada di ujung sana.

For : Cheonsa Taeyongie

Ya, ponselmu ada padaku Taeyong-ssi.

Tak lebih dari satu menit, ia kembali mendapat balasan.

From : Cheonsa Taeyongie

Baiklah, bagaimana kalau kita bertemu di cafeteria pukul 10:00 AM nanti? Aku akan mengambil ponselku.

Ah ya, jangan simpan nomor ini. Ini bukan nomor ponselku.

Jaehyun girang saat ia membaca pesan pada baris pertama. Namun saat ia membaca pesan pada baris kedua, senyumnya pudar begitu saja. Ia merasa tubuhnya lemas dan ia merengut lucu.

'Aku baru ingat jika ponselnya ada padaku. Sekarang percuma aku repot-repot menyimpan nomor yang ternyata bukan nomor ponselnya.'

Jaehyun kembali melangkah. Belum ada dua langkah, ia kembali berhenti.

'TUNGGU! DARIMANA TAEYONG MENDAPATKAN NOMOR PONSELKU!? KENAPA DIA TIDAK MENELEPON NOMORNYA SENDIRI?'

Saat itu juga Jaehyun—yang sudah mati-matian menahan diri untuk tidak mengotak-atik ponsel milik Taeyong—segera membuka dan merasa dua kali lebih lemas saat mendapati bahwa ponsel cantik itu diberi password.

'Harapanku kembali musnah'


Jaehyun mengetukkan jemarinya pada meja bundar yang ada di cafeteria tempat janji ia akan bertemu dengan Taeyong. Setelah memperbaiki penampilan dan menata jantung serta hati setengah jam yang lalu, Jaehyun segera melangkah ke cafeteria ini dan mengabaikan pesan dari Jung Hoseok—sepupunya—yang terus meminta dirinya untuk menemui Hoseok di parkiran. Entah untuk apa.

Jaehyun kembali melirik ponsel milik Taeyong yang tergeletak di atas meja di hadapannya. Ia tersenyum dan menghilangkan senyumannya kala ia mendengar perut kosongnya berbunyi.

Sejak Jaehyun duduk di sana, ia belum pesan apa pun ngomong-ngomong. Berniat menunggu sang pujaan hati agar salah satu dari sekian khayalan yang selalu ia impikan dapat terwujud.

"Menunggu lama?"

Jaehyun mengerjapkan matanya dan menggelengkan kepalanya bodoh, "Tidak, aku baru saja sampai beberapa menit yang lalu." Ya… setidaknya ia berkata jujur tentang beberapa menit yang lalu itu.

Taeyong yang tiba-tiba datang entah dari mana itu tersenyum dan menarik kursi. Mengambil posisi tepat di hadapan Jaehyun, lalu berkata, "Maafkan aku, aku benar-benar ceroboh tadi. Apa aku merepotkanmu?"

Jaehyun menggelengkan kepala dengan cepat. Kedua tangannya juga bergerak ke kanan dan ke kiri. Gestur tubuhnya yang tiba-tiba itu membuat Taeyong terkekeh.

"Kau lucu sekali Jaehyun-ssi. Ah ya, ini ponselku, bukan?" Taeyong menunjuk ponsel dengan hardcase bergambar spongebob di samping Jaehyun dengan mata berbinar.

Jaehyun mengangguk, "Tenang saja, aku tidak membedah isi ponselmu, Taeyong-ssi," ujarnya dengan nada bercanda.

Taeyong tertawa pelan, "Aku tahu, bagaimana kau bisa membukanya? Aku kan menguncinya dengan password, Jae-ssi."

Jaehyun tersenyum. Ia harus menanyakan satu hal ini, ini sangat penting, ia tidak boleh melupakan pertanyaan ini.

"Taeyong-ssi—"

"Taeyong Hyung."

Jaehyun melongo. Ia menatap Taeyong dengan pandangan bingung sedangkan yang ditatap tersenyum.

"Panggil aku, Hyung, Jaehyun-ah. Aku tidak suka jika orang yang kukenal berbicara formal padaku."

Siapa pun tolong bantu Jaehyun sekarang. Ya Tuhan, entah sudah berapa kali Jaehyun mendapatkan senyum maut dari Taeyong hingga membuat dirinya merasa benar-benar gemas. Dan apa itu tadi? Orang yang kukenal? Apa Jaehyun tidak salah dengar?

Jaehyun menggelengkan kepalanya, "Hyung? Tapi… maksudku, apa Taeyong-ssi lebih tua dariku? Taeyong-ssi seniorku?"

Taeyong menganggukkan kepalanya ringan, senyumnya sedari tadi selalu mengembang, "Ya, aku lebih tua darimu dan aku seniormu, Jaehyun-ah!"

Jaehyun-ah? Jaehyun-ah? Apa Jaehyun salah jika sekarang ia menganggap bahwa sosok yang selalu ia anggap sebagai malaikat dan yang selalu ia impikan kehadirannya benar-benar sudah akrab dengan dirinya? Hanya karena sebuah kecelakaan kecil tadi? Ya Tuhan, Jaehyun merasa sangat senang hari ini. Ia butuh Ibunya sekarang.

"Baiklah, Taeyong Hyung." Jaehyun memasang senyum tampannya pada Taeyong. Dan semoga saja ia tidak salah lihat dengan rona merah muda yang menghiasi kedua pipi senior-nya ini.

Jaehyun menggigit bibir bagian bawahnya. Ia tidak boleh melupakan pertanyaan terpenting dalam hidupnya—ia memang berlebihan kadang-kadang—jadi ia menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan.

"Ngomong-ngomong Hyung, dari mana kau mendapat nomor ponselku?"

"Dari Joonmyeon Hyung."

Jaehyun mengernyitkan dahinya, Taeyong yang mengerti dengan mimik wajah Jaehyun segera menambahkan, "Kau ingat kan saat aku menghubungimu tadi? Itu nomor ponsel milik Joonmyeon Hyung. Dia ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa jadi aku meminta dirinya untuk mengecek satu demi satu mahasiswa baru di sini. Dan kebetulan karena aku tidak pernah melihatmu sebelumnya aku dapat menebak jika kau memang mahasiswa baru, dan BAM—tebakanku benar kan?"

Entah kenapa Taeyong terkikik di akhir penjelasannya. Sedangkan wajah Jaehyun tertekuk lesu. Tidak pernah bertemu sebelumnya ya?

'Jadi, kau sudah lupa padaku ya, Hyung?'

"Aku berusaha mengingat wajahmu tadi, karena aku memang pelupa jadi agak sulit. Dan kau tidak mengikuti masa ospek, huh?"

"Aku sedang sakit saat itu."

Taeyong menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sebenarnya agak bingung saat mendengar nada suara Jaehyun yang berbeda. Jika Taeyong tidak salah dengar, nada suara Jaehyun terdengar agak sedikit kecewa. Atau hanya perasaannya saja?

"Kau tidak memesan sesuatu Jae-ah?"

Taeyong menatap Jaehyun lama, agaknya yang ia lakukan membuat Jaehyun sedikit salah tingkah. Taeyong melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya cemberut, bibir mungil itu mengerucut.

'God damn! Eomma, beruntungnya dirimu yang akan memiliki calon menantu seimut Tayongie Hyung!'

"Aku lapar Jae-ah, mau memesan makanan?"

Jaehyun menganggukkan kepalanya kaku, entahlah ia merasa tiba-tiba membeku. "Samakan saja denganku ya,"

Jaehyun kembali mengangguk.

'Astaga, akhirnya salah satu dari sekian banyak khayalanku selama ini terwujud. Huwaaaa, Eomma, anakmu yang sudah lama sendiri ini akhirnya akan memiliki kekasih baru!'

"Jaehyun, bisakah aku memiliki nomor ponselmu?"

Dan Jaehyun hanya bisa menahan napas.


To Be Continued...


Note (1) : Hallo, setelah sekian lama Aza gak pernah update, akhirnya Aza balik lagi ToT

Pertama, Aza bener-bener mau minta maaf sama kalian. Aza tau ini telat banget, tapi Aza bener-bener bingung. Jujur Aza seneng banget waktu baca review dari kalian di FF Love Letter ini. Terus Aza semangat banget mau bikin next chapter yang nantinya bakalan 'wahh' gitu :"

Tapi Aza masih takut banget waktu post chapter ini, takut kalian gak puas dan takut gak sesuai dengan harapan kalian :" Jujur lagi deh, waktu Aza dapet notif di gmail, Aza udah mulai bikin lanjutan ceritanya, tapi tiap Aza baca lagi pasti jelek :"

Aza sampe punya lebih dari 4 konsep cuma buat satu chapter, dan Aza mutusin buat ambil yang ini :"

Aza beneran minta maaf kalau kalian gak suka, segala macam kritik, saran, Aza terima deh TT-TT

Note (2) : Masih dalam acara minta maaf, Aza mau minta maaf buat para JaeDo / JaeTen shipper. Kali ini Aza masih pake JaeYong¸ soalnya lebih banyak yang minta mereka. Selain itu Aza juga belum terlalu bisa ngebayangin kalau Jaehyun x Doyoung :" Sorry yep :"

Tapi bakal Aza usahain deh, atau kalau misal Aza bikin [Oneshot/Drabble] FF Random NCT kalian pada mau baca? Jadi kalian bisa request pair disana?

Note (3) : Aza mau bales review :" Aza kangen banget sama kalian /nangisbombay/

mybestbaetae : Iya ini gak GS kok :'v Dan semoga ini sweet seperti yang kamu minta ya :"Semoga kamu gak kecewa juga hikseu /lapingus/

Annyeong unni, salam kenal juga yeps^^

nanaelfindo : Makasih kamu udah mau review walau gatau mau review gimana, eh, canda kok xD Makasih udah bilang FF ancur ini sebagai nice FF :'v

Yeayy! Kita seumuran, salam kenal xD

ayahana73 : Sini cium juga /eh/

Hah? Iyakah? Si TY suka spongebob? Aku gatau masa xD xD Wong di prolog itu aku cuma ngarang aja XD Wahh, mungkin inilah yang disebut dengan ikatan batin antara calon jodoh /gak/

Tahun yang sama ya? 1999 kah? Atau 1997? XD salam kenal yah~

Eraaa : Yeay, ini jadi JaeYong XD

Whoaaa, salam kenal yah ciye kita se-line XD

restiana : Yepps, ini pake JaeYong XD

Sekar310 : Manis? Ya semoga ini lebih manis ya :" Fell-nya yang ini dapet gak ya? Entahlah, semoga kamu suka dan gak nyesel bacanya :'v Dan makasih udah mau nunggu FF ini :'v

Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang : Aduhh, aku minta maaf ya :" Aku pake JaeYong disini, atau mungkin kamu setuju sama usulan aku di Note (2) aku belum terlalu ngehh kalau Jaehyun x Doyoung :" Sekali lagi aku minta maaf ya :"

: Ini udah dilanjut :" Yepss ini JaeYong :'v

: Dan semoga kamu suka sama chapter satu yang gak jelas ini :" Dan yang kamu ingingkan terkabul, it's JaeYong FF :'v Salam kenal jugaa dedeq :'v

mingyoukes : Huhuhuhu TaT Aku minta maaf ya sekali lagi, seperti yang aku tulis di Note (2) aku belum terlalu ngeh kalau JaeDo / JaeTen :" Sorry ya :'v

chocomilkshake : Dan untuk chapter ini semoga juga menarik perhatian kamu ya :" Aku minder banget waktu mau post ini :" Waswas gitu :"

Iyapp ini JaeYong kok :" Salam kenal unni XD

dabeerrel : Hamdalah semoga kamu suka ya :" Maaf belum bisa fast update :'v Maaf juga kalau ini beneram kurang :"

Buat last aja, Aza cuma mau tanya sih :" Aza gak begitu yakin dengan FF ini :'v

Sumpah Aza takut banget kalau kalian bosen dan yang lainnya :"

Tolong tuangin isi hati kalian di kotak Review ya, supaya Aza tau :"

Please /ppyeong~

Dan juga jawab pertanyaan Aza yang ini :"

Mau dihapus atau dilanjut? Kan Aza bimbang TT-TT