The Story Of Konohaloid
Disclaimer :
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Vocaloid belongs to Yamaha Corp.
.
.
.
Part Two : Like – Dislike
Main Chara : Sasuke Uchiha with Sakura Haruno
.
.
.
Konoha, 12 October XXX0
Sasuke Uchiha, pemuda remaja berusia 14 tahun yang sedang jatuh cinta, kini sedang bermain dodge ball dengan para sahabatnya. Ia menatap lurus lapangan dodge ball lalu berkonsentrasi bermain, sebelum peluit tanda permainan selesai dibunyikan.
Ia menatap papan skor, cukup signifikan perbedaannya.
Ia duduk di bench, mendecih kesal saat banyak sekali fansnya yang semakin beringas saja. Ia melempar pandangannya, ke ujung lorong yang sempit dan gelap. Matanya menangkap sosok berambut merah muda yang bersembunyi sedikit-sedikit, namun terkadang tersenyum malu-malu.
"Tch." Ia meminum minumannya. "Naruto, aku mau ke kelas." Naruto menoleh sebentar sebelum mengangguk, menyuruh Sasuke untuk segera pergi. Sasuke mengambil tas dan handuknya, lalu beringsut pergi dari lapangan dodge ball.
Ia melintasi lorong tempat ia menemukan bayangan merah muda tadi.
"Siang, Sasuke-kun~!" Sasuke melewatinya. Tak mempedulikannya sama sekali. Ia tetap berjalan. "Sasuke-kun!" Sakura menarik-narik seragam Sasuke, membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan menatapnya risih.
"Hn." Ia menyuruh Sakura melepaskan tangannya dari seragamnya, lalu kembali berjalan. Sakura yang sadar langsung mengejarnya lagi, dan kini ia menarik tas milik Sasuke. Sasuke mendelik tajam, sebelum kini ia pasrah dan berbalik.
Sakura tersenyum senang. "Sasuke-kun, maukah kau ikut denganku?" Sasuke memutar kedua bola matanya bosan. Sakura terlalu fanatik padanya sejak SD, namun tak membuat Sakura jengah. Mereka sudah duduk di kelas 3 SMP.
"Tidak." Sasuke berbalik lalu berjalan cepat, lalu Sakura langsung menghalangi langkah Sasuke dengan merentangkan tangannya lebar-lebar. "Minggir." Sakura menyentakkan kakinya ke lantai.
"Sasuke-kun!" Sakura setengah beteriak. "Aku selalu dekat denganmu sejak SD, bodoh! Kenapa kau tak sadar juga!" Sakura jengah. Itu saja.
Sasuke memandangnya biasa. "Karena aku tidak tertarik." Ia kini berjalan melintasi Sakura, namun Sakura bersikeras menahan Sasuke. "Minggir." Sasuke menatap Sakura lebih tajam, Sakura yang hampir menangis.
Dasar dia ini. Selalu saja. Apakah tidak ada jurang yang lebih dalam antara suka dan tidak suka? Tidak, Sasuke. Kau harus memilih kali ini.
Sasuke menghela napas berat. "Apa maumu?" Sakura menatapnya sebentar, memastikan, lalu kini berdeham pelan.
"Jalan-jalan saja. Aku ingin mengenal Sasuke-kun lebih dekat!" Sakura berujar polos dengan senyum indah di wajahnya. "Dan, ya, kau tahu kalau aku menyukaimu bukan?" Tipe Sakura. Blak-blakan namun dengan ronaan wajah. Sasuke sedikit malu mendengarnya, namun ia menutupinya dengan wajah datarnya.
Sasuke menatap Sakura dari atas ke bawah, lalu ia bergumam pelan.
"Hn."
oOo
CRING!
Sakura memasuki toko perhiasan dengan hati berbunga. Ia tersenyum senang ke para penjual perhiasan dalam satu toko itu. Ia melirik satu per satu permata di hamparannya. Sedikit kecewa saat ia tahu bahwa permata emerald yang ia sukai sedang kosong.
Matanya yang hijau bulat membelalak melihat seluruh permata yang lebih indah. Ada amethyst, ruby dan sapphire. Ia tersenyum saat bayangannya terpantul dari berbagai macam warna indah bebatuan mulia di hadapannya.
Matanya kini memicing, namun kembali membelalak saat bayangannya terpantul sempurna di sebuah batu berukuran kecil di hadapannya. Bentuknya hati dengan bayangan warna-warna ajaib di sekelilingnya.
"Nama batu ini apa, Ayame-san?"
Ayame tersenyum kecil lalu mengambil batu itu dan menyerahkannya pada Sakura, "Namanya-"
oOo
TAP TAP TAP!
Sakura berlari riang menuju pohon sakura di depan gerbang sekolahnya. Mulutnya mengeluarkan nada-nada riang.
"Hei. Lama menunggu?" Ah, sudah lama Sakura ingin sekali mengucapkan kata-kata kencan itu di hadapan Sasuke. Sasuke menoleh padanya, dan Sakura terpaku sejenak.
Ia benar-benar manis.
"Hn." Sasuke menurunkan kakinya yang bersandar di batang pohon, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Kemana?"
"Hm… Bagaimana kalau kita ke taman hiburan saja?" Sakura agak ragu mengatakannya. Jujur saja, ini baru pertama kalinya ia bicara sedetil ini dengan pria selain anggota keluarganya. Sasuke mengangguk, membuat hati Sakura berjerit riang bukan main.
Wajah Sakura merona melihat wajah datar Sasuke yang kini semakin terlihat tampan dengan tubuh berbalut jaket kotak-kotak kasual yang cocok untuknya. Ia memikirkan sesuatu untuk dirinya sendiri, lalu menyimpannya baik-baik.
"Ah, Sasuke-kun!" Sasuke menoleh. "Bagaimana kalau kita ke tempat yang belum pernah kau kunjungi saja?"
"Aku belum pernah ke taman hiburan." Itu benar.
"Sudahlah! Ikut saja! Yayaya?" Sakura memelas. Sasuke menghela napas.
Ya sudahlah, terakhir kalinya juga.
Sakura tersenyum senang saat Sasuke mengikuti langkahnya untuk berbalik arah. Mereka berjalan menuju tempat yang asing bagi Sasuke. Sakura sesekali bernyanyi riang di tengah jalan. Ia menatap tangan Sasuke berkali-kali, ia ingin menautkan jemarinya dengan tangan kekar milik Sasuke.
"Hah… Sudahlah." Sakura bergumam putus asa. Ia merunduk kesal. Sasuke melihatnya dengan tatapan biasa.
Mereka sampai di taman bunga indah yang membuat Sasuke terpana sebentar. Sakura langsung berlari riang sambil tertawa di hamparan bunga aster putih. Ia berlari menuju pohon rimbun di tengah padang bunga.
"Sasuke-kun! Kita kesana!" Sakura menunjuk semangat bagian bawah pohon di tengah taman itu. Sasuke tak menanggapinya, hanya berjalan lurus mengikuti lambaian rambut Sakura yang panjang.
Sakura telah sampai di bawah pohon dan kini berbalik arah melihat Sasuke. Ia terpana melihat Sasuke yang bagaikan malaikat turun dari langit dan berjalan di hamparan bebungaan. Ia menepuk pipinya berkali-kali.
Apa yang ia lakukan?
"Sasuke-kun!" Sakura melambaikan tangannya kuat-kuat, sementara Sasuke langsung berjalan lebih cepat ke arahnya. "Hah… Indah sekali, kan, Sasuke-kun?"
"Hn." Sakura diam menyaksikan pemandangan indah di hadapannya sambil tersenyum getir. "Ini dimana?"
"Tempat aku dan ibu sering bermain waktu kecil." Sasuke memilih untuk tak bertanya lebih banyak. "Oh iya, boleh aku bercerita denganmu?"
"Hn." Sakura menganggapnya sebagai ya.
"Aku ingin sekali menikah dengan orang yang kucintai." Mata Sakura berbinar saat ia menceritakan ceritanya. "Membuat rumah di tengah hutan, lalu memiliki 3 anak yang akan menjagaku sampai tua."
"Ketinggian." Sakura mendengus kesal. "Kita ini baru 14 tahun. Masih panjang." Sakura mengangguk pelan.
"Aku tahu." Kini ia mendongak. "Kita masih 3 SMP. Tapi, apa salahnya mimpi?" Sasuke menahan tawa. "Kalau Sasuke-kun, ingin jadi apa saat besar nanti?"
"Jadi laki-laki." Sakura menggerutu kesal. "Tentu saja jadi suami untuk istriku dan jadi ayah untuk anak-anakku." Sakura manyun mendengarnya.
Cuteness Sakura to the max!
"Ah. Kau bosan disini, Sasuke?" tanya Sakura saat mereka sudah terlalu lama diam menikmati hemilir angin di bawah naungan pohon. "Maaf, ya, aku paling gak bisa romantis. Nyari tempat jalan-jalan saja begini. Huh."
Sakura menarik poni panjang yang menutupi wajahnya. "Lagipula, aku kira Sasuke-kun paling gak suka tempat ramai, makanya aku ajak Sasuke-kun kesini." Sasuke tersenyum tipis mendengarnya.
"Hn. Terima kasih." Sakura terlonjak mendengarnya, lalu menoleh ke arah Sasuke yang kini sibuk bermain dengan dedaunan yang gugur. "Masih siang."
"Hm, bagaimana kalau kau temani aku ke tempat Ayame-san?"
oOo
"Ah, mahal sekali!" Sakura mengeluh pada Ayame yang memberitahukan harga batu mulia yang ia taksir dari kemarin. Ia merengut sebal sambil melihat isi dompetnya. "Mana cukup uangku, Ayame-san! Turunkan harganya!" Ia merengek, sedangkan Ayame tersenyum maklum.
"Ini batu yang langka, lagipula pembuatannya juga jarang sekarang." Ayame berusaha menjelaskan, namun malah membuat Sakura semakin mewek. Sasuke yang melihatnya hanya menatapnya datar.
Cengeng.
"Ya sudahlah! Sasuke-kun, ayo kita pulang!" Sasuke mengangguk lalu mengikuti Sakura yang berjalan duluan dengan langkah sebal keluar dari toko. Ia melirik sekali lagi batu mulia itu dengan ekor matanya.
Seleranya buruk.
Ia mengangkat bahu, lalu mengikuti Sakura yang hampir jauh darinya.
oOo
"INO! KAU HARUS DENGAR INI, BATU ITU MAHAL BANGET! ADUH! UANG JAJANKU SETAHUN JUGA GAK BAKAL CUKUP BUAT BELI ITU!" Ino langsung menjitak kepala Sakura yang sedari tadi berteriak-teriak lebay hampir menangis.
"Aku tahu kau suka batu itu. Habisnya, batu itu langka." Ino membuka lembaran majalah anak-anak di hadapannya. "Hah… Kita jalan-jalan, yuk?"
"GAK MAU! AKU MAU BATU ITU!" Sakura semakin mewek, membuat emosi Ino semakin tersulut. Ia menyumpal mulut Sakura dengan kertas, lalu membanting majalah anak-anak di pangkuannya.
"HELLO, SAKURA! KITA INI MASIH 3 SMP! JANGAN KELEWAT LEBAY CUMA GARA-GARA GAK KEBELI PERMATA GITU DOANG, AH!"
Sakura diam, namun setelah itu terdengar teriakan yang kencang dari arah rumah kediaman keluarga Haruno.
oOo
"Kau yakin?" Ino mengangguk. Ia merekatkan kaitan jas cokelatnya di tengah angin musim gugur yang semakin ekstrem. "Kau gak salah?"
"Tentu saja enggak! Aku lihat dengan jelas Sasuke-kun masuk toko permata itu!" Ino manggut-manggut. "Benar, kan, Ino? Dia itu udah punya cewek!"
"Sst! Berisik!" Ino meletakkan jari telunjuknya di depan bibir mewek Sakura. "Eh! Lihat, itu Sasuke keluar buang sampah!"
"Mana?" tanya Sakura antusias. Ia memakai teropongnya, lalu menyibak semak-semak di hadapannya untuk melihat sosok Sasuke lebih jelas. Sasuke membuang sampah, lalu masuk kembali ke toko itu. "Lama banget."
"Kayaknya dia kerja disitu, deh, Sakura." Sakura antusias mendengarnya.
"Kali aja aku bisa dapat permata itu gratis!" Mata Sakura berbinar, sedangkan Ino kini menepuk dahinya sambil geleng-geleng kepala.
"Bodoh! Mana mau dikasih!" Ino kini menundukkan kepalanya, menarik syal Sakura agar Sakura ikut menunduk.
"Apa yang kau lakukan, bodoh!" bentak Sakura setengah berbisik. Ino menyuruhnya diam dengan kesal. "Apaan?"
"Ada Sasuke." Sakura langsung melihat di sela-sela semak belukar. "Eh, apaan tuh ada kantong makanan di tangannya." Sakura memicingkan matanya.
"Mungkin dia istirahat makan siang sehabis kerja?" tanya Sakura ragu. "Ah, masa Sasuke kerja di tempat khusus cewek begitu, sih?" Ino mengangguk ala detektif yang tengah memikirkan suatu kasus berat di hadapannya.
"Kalau begitu, kita ubah ke rencana baru."
oOo
Sakura duduk merenung di pinggir jendela kelas yang besar dan bertepi. Tatapan matanya yang sendu terjatuh ke lapangan dodge ball tempat Sasuke dan teman-temannya bermain. Ia tersenyum getir.
"Lebih baik, kamu jauhin Sasuke mulai sekarang. Dia aja gak berubah sejak kalian jalan-jalan itu, kan?"
Ia menatap nanar ponselnya yang berdering beberapa kali, menandakan betapa cemasnya Ino padanya.
"Lagipula, kau tahu kalau Sasuke bekerja disana, bukan?"
Ia menarik napas berat, lalu berlari menuju lantai bawah. Ia terus berlari, hingga kini kakinya dapat merasakan dedebuan khas lapangan dodge ball yang beterbangan menghalangi pandangannya. Ia jatuh terduduk.
"Besok hari terakhir kau bisa bertemu dengannya, karena besok kita akan kelulusan SMP."
Ia terduduk lemah di pinggir lapangan.
"Kau terlihat seperti selalu mengerjarnya. Biarkan saja ia hidup dengan dodge ballnya itu."
Ia menatap nanar dedebuan di hadapannya, lalu merunduk menangis. Para pemain dodge ball yang melihatnya langsung penasaran, namun Naruto yang pertama kali melihatnya langsung berlari menuju Sakura.
"Ke-Kenapa, Sakura-chan?" tanya Naruto. Sakura menangis dengan kening berkedut. "Hei, Sakura-chan!" Naruto mengguncang-guncangkan bahu Sakura.
"AKU SUKA KAU, SASUKE-KUN!"
Semua kaget.
Tercengang lebih tepatnya.
Mereka semua tahu Sakura mengejar Sasuke sejak SD, tetapi belum pernah mereka melihat sosok Sakura yang saat ini.
Duduk bersimpuh dengan air mata bercucuran dan berteriak seperti orang kesurupan.
Bukan. Seperti. Anak. Kelas. 3 SMP.
Sama sekali bukan.
Sasuke berjalan mendekati Sakura yang bersimpuh, lalu memberi kantung makanan yang berat ke atas kepala Sakura. Sakura menengadah.
"Aku… Sudah terlalu lelah, Sasuke-kun…"
"Bukalah."
Sakura tersentak.
"I-Ini… Rainbow Quartz…"
oOo
Konoha, 14 February XXX9
Sakura berjalan santai diiringi nyanyian sore hari. Senja menghiasi langit. Di atas bukit penuh pohon, ia memandang bangga rumah kecilnya yang hangat.
"Ibu! Aku bawa ini untuk ibu." Seorang anak berumur berkisar 4 tahun lebih mendekati Sakura dengan senyum manisnya sambil membawa seikat bunga bakung. Sakura yang terharu langsung tersenyum lembut dan memeluk gadis kecil itu.
"Dapat darimana, Saki-chan?" tanya Sakura. Gadis kecil yang dipanggil Saki tersebut menengadah dan menjawab takut-takut. "Katakanlah pada ibu."
"Ta-Tadi, aku diajak Satsuki-nii dan Sora-nii ke tengah hutan. Tapi tempatnya indah, lho, Bu! Sungguh!" Saki berkata penuh kagum. Sakura tertawa kecil lalu menepuk kepala anak bungsunya pelan.
"Lain kali kalau kesana ajak ibu, ya?" Saki terkejut sesaat, karena ia menyangka ibunya akan memarahinya. Ia langsung tersenyum dan mengangguk, lalu berlari melepaskan pelukannya dari Sakura menuju ayahnya yang menunggu dibalik pohon, muncul dari balik hutan.
"Ah, Sasuke-kun." Sakura tersenyum senang saat suaminya datang bersama kedua anak laki-lakinya yang memegangi telinga kiri mereka masing-masing. Sakura terkekeh geli. "Apa yang kau lakukan pada mereka, hm?"
"Hanya pelajaran untuk anak nakal yang nekat masuk hutan dan pulang telat." Kedua anak laki-lakinya meringis kesakitan. "Dan mengajak adik perempuan mereka ikut serta." Saki memeluk kaki kiri ayahnya, lalu Sasuke langsung menggendongnya.
"Mereka melakukan apa saja denganmu tadi?" tanya Sasuke. Saki menjawab polos.
"Aku diajak ke dalam hutan, ada taman yang sangat indah. Aku bawa bunga untuk ibu." Ia menunjuk seikat bunga bakung di pelukan Sakura, yang kini tersenyum terharu melihat keluarga kecilnya. Sasuke tersenyum tipis, lalu menyuruh ketiga anaknya masuk ke rumah.
"Sakura." Sakura menoleh. "Cincinmu mana?" Sakura tersentak sesaat, lalu melihat jari manis tangan kanannya yang sudah polos tak bercincin.
"A-Ano, Sasuke-kun…" Sakura menjawab gugup. "Ta-Tadi terlepas saat mencuci piring." Sakura menundukkan kepalanya. "Se-Setelah ini aku akan ke kota untuk memperbaiki cincinku yang mulai longgar, aku janji."
Sasuke mendekat ke arah Sakura yang tubuhnya bergetar. Ia menatap istrinya dengan tajam, sebelum ia mengambil tangan kanan Sakura dan mengecupnya pelan, membuat istrinya salah tingkah sejenak.
"Tidak ada cincin yang bisa melonggar begitu saja, Sakura." Sakura menunduk. "Aku tahu akhir-akhir ini kau menjadi kurus. Ceritakan padaku."
Sakura mendongak, menatap mata obsidian gelap milik suaminya. Air mata terjatuh dari mata kirinya yang berpendar. Ia memeluk suaminya erat.
"Aku mengkhawatirkan Saki-chan… Aku menunggunya sejak tadi…" Sasuke mengusap punggung istrinya pelan.
"Sst, sudahlah. Ayo masuk. Besok kita makan di kota. Kau harus mengisi tubuhmu itu dengan makanan yang sehat."
"Jadi selama ini aku tak makan sehat?"
"Kau tak bosan hanya makan seperti itu setiap hari?"
Sakura menggeleng.
"Selama impianku, untuk menikah dan punya 3 anak lalu tinggal di bukit dekat hutan dan mendapatkan Rainbow Quartz incaranku sejak dulu, aku sudah bahagia."
Sasuke langsung mengecup kening istrinya pelan dan lembut.
"Aku tahu kau bisa dipercaya."
.
.
.
Part Two : END
.
.
.
AN : Entah ini udah draft keberapa yang Autosaved karena mati lampu dan belum ke-save FUUUUUUU! #keseltothemax Disini, Sasuke jadi agak OOC ya ^^'a Tuntutan lagu dari sananya sih =="
Untuk MiiGiiChan04 bagaimana ch ini? Nyambung sama lagunya gak? Maaf disini Sasuke sama Sakura jadi agak OOC ;-; Lagunya Like-Dislike udah kudownload, dan kyuuuuuun~~ Lucu banget~~~ Thanks for review! Lain kali req boleh kok XD #ditabok
Teruntuk Kitty Kuromi-san, ch depan ya World Is Mine nya :) Aku juga suka lagu itu XDD Thanks for review! Nantikan hasil fic nya, ya!
Dan ada lagi dari celubba yang ngeloyor review pake hp di kelas. Hwaa kan udah aku kasih tau lewat PM ;_; Sebenernya endingnya itu gak dikasih tau, stuck sampe mereka saling perang gitu di PV aslinya. Aku cuma nambah-nambahin adegan biar cow cweet(?) gituh #dan fail. Thanks for review! Ini update, sitar-nyoo~~
Ada review keyen juga dari sasa-hime. Aku juga suka Karakuri Burst, Magnet sama Kagerou Days. Ketiganya sama-sama mengharukan #ambil tisu #dicoret. Yah, meski yang Kagerou Days itu kelewat ngenes, sama Karakuri Burst yang kelewat kejem, mungkin ch ke-4 kubuat dari lagu Kagerou Days saja ya~~ Thanks for review!
Wah, aku pernah lihat profile picture nya Ricchu yang bagus banget~ Itu bukan SasuSaku, kan? Woho~ SasuSaku in other world #melayang ala superman #jatoh ketabrak mesjid Wah, gapernah denger lagunya tuh… Diusahain yaa~ Thanks for review!
Terakhir, dari ReiyKa, review begini nih yang bikin semangat Author tersulut(?). Thanks buat ketelitiannya, ya! Kali ini, gak nyantumin song lagi deh di discnya #pundung Abisnya gak tau nama komposer-komposernya, sih ==a Thanks for review!
Thanks for review! Ch depan, gebrakan teriakan lagu World Is Mine dari Miku Hatsune dengan versi Len Kagamine.
RnR, da ze? :D
