Chapter 2: I don't think is you
Author: Moka~
Pairing: Yoonkook! #SemeDiDepan (tiap chapter berbeda pairing, tetapi pairing utama tidak berubah. Hanya untuk menjalankan cerita! Dan karena ini pairing paling terlihat di chapter ini!"
Disclaimer: BTS bukan punya saya (kecuali jungkook #digampar) dan cerita murni otak saya meski terinspirasi dari beberapa fanfic dan film yang telah menodai ide polos saya #jder
Genre: Romance (gagal) beserta life school (yang maksa)
Rated: T+ (bukan M karena terdapat kata kasar untuk anak dibawah umur^^) #GakNyadarUmur
Warning: Masih sama dengan typo berterbangan layaknya aerosol dan EYD yang gak berlaku! Gak usah baca kalau anti yaoi atau gay! Moka nulis cuma yang buat suka karya Moka jadi jangan judge gaya penulisan, pairing, kebacotan dan kesalahan Moka. Moka juga manusia yang punya kekurangan. DLDR! Apa gunanya tombol kembali?!
.
~Between Two of Us~
.
Jungkook menguap sesekali merasakan terpaan angin yang membelai lembut wajahnya. Beberapa kali matanya tak fokus dengan penjelasan guru di depannya itu. Kepalanya benar-benar berat karena rasa kantuknya yang menjalar memaksa seluruh tubuhnya beristirahat.
Dia akhirnya tertidur karena merasakan kantuk yang luar biasa mengambil alih dunianya. Tanpa disadarinya, seseorang tengah mengamatinya dengan intens. Beberapa kali orang itu mengernyit dengan tingkah laku aneh Jungkook.
Mungkin jika mengambil dari sudut pandang Jungkook, hal itu sudah biasa baginya menahan kantuk saat jam pelajaran tengah berlangsung. Berbeda dari sudut pandang pengamat, Kim Seokjin tidak mungkin menahan kantuk saat pelajaran, dia tipe dimana mengantuk akan langsung tertidur. Dia terus mengamati Jungkook hingga sebuah tepukan kasar dibahunya mengalihkan pendangannya.
"Mengapa kau memandangi Seokjin terus, Yoongi?" tanya Jimin menatap sahabatnya itu heran. Biasanya sahabatnya itu anti namanya mencari masalah dengan Seokjin semenjak kejadian dia diikat di gudang sekolah. Jadi, suatu hal yang luar biasa jika sahabatnya itu justru menatap Seokjin dengan tatapan takjub bukannya benci.
"Jangan..." "Tak usah berburuk sangka, Jimin. Atau mulutmu yang cerewet itu akan kujahit dengan benang yang mengandung unsur logam kalau perlu agar tidak bisa digunting" Yoongi menatap Jimin dengan sangat datar. Jimin bungkam seketika, sahabatnya itu kalau sudah mengancam lebih mengerikan dari Seokjin yang tengah berkumpul dengan anak buahnya.
Akhirnya, tanpa sepengetahuan guru, Yoongi langsung duduk di bangku kosong tepat samping Jungkook. Tangannya menepuk pundak namja itu pelan. Seketika mata namja itu terbuka meski sayu membuatnya menjadi lebih heran, Kim Seokjin itu susah dibangunkan jika sudah tertidur karena pelajaran.
"Ano, aku mau meminjam catatan" Seokjin –alias Jungkook- memberikan catatannya yang lengkap dan justru berwarna-warni untuk memudahkan belajar. Yoongi terdiam melihatnya, sejak kapan Seokjin yang terkenal pemalas itu mempunyai catatan sebegini rapinya. Dia pernah meminjam catatan Seokjin dan tulisan itu sangat berantakan dan bersyukur jika masih bisa dibaca.
"Gomawo" Jungkook mengangguk antusias. 'Sinar mata itu sudah pasti bukan milik Seokjin' batin Yoongi melihat namja dihadapannya ini berbinar senang dan terkesan sangat polos. "Aku ingin bertanya satu hal" Jungkook terdiam memandang Yoongi yang sepertinya berusaha merangkai kalimat.
"Kau ini..." "Seokjin, waktunya pergi" perkataan Yoongi terpotong oleh Namjoon yang langsung menarik tangan Jungkook kasar. Yoongi dapat melihat kilasan bingung serta kedipan mata beberapa kali dari namja disebelahnya itu.
Dan semua itu membuat Yoongi yakin bahwa di sebelahnya itu bukanlah Kim Seokjin, lalu siapa dia? Mengapa mereka berdua memiliki wajah serupa? Kim Seokjin bahkan tidak memiliki riwayat alter ego. Jadi siapa yang tadi...
.
~Between Two of Us~
.
Suara derap langkah terdengar menggema di penjuru gudang. Beberapa murid terlihat sedang menghabiskan seluruh aktivitas mereka di balik kegelepana itu. Tidak sedikit dari mereka yang merokok, meminum minuman keras, bahkan ada yang menonton film porno.
Jungkook hanya merinding karena melihat aksi brutal teman-teman kakaknya. "Biasakan dirimu, mereka memang begitu" ucap Namjoon santai kemudian melangkah menuju sebuah kasur yang terlihat kumuh. Membaringkan tubuhnya dan menutup seluruh wajahnya dengan sebelah tangannya.
Jungkook menghela nafasnya berusaha menerima semua yang terjadi di depannya. Ayolah, dia hidup sebagai murid yang baik di sekolahnya dan sekarang dia harus berhadapan dengan segala murid berandalan yang terkenal bringas. Bahkan dalam mimpipun Jungkook tidak pernah membayangkannya.
"Yo, Seokjin. Mengapa kau tidak ikut kami menonton film ini saja?" tanya sebuah suara yang membuat Jungkook mau tak mau melihatnya. "Aku sedang mengantuk, Ravi. Mendengar ocehan tidak berguna guru tadi membuatku benar-benar mendengar dongeng tidur" kata Jungkook dengan sedikit ragu karena ini pertama kalinya dia berbicara seperti itu.
Ravi awalnya mengerutkan keningnya mendengar nada bicara Jungkook kemudian mengangguk dua kali dan melanjutkan film yang tadi dihentikan olehnya sekedar mengajak Seokjin menonton. Jungkook berjalan pelan dan membaringkan tubuhnya di samping Namjoon. Namja itu tidak terlihat terganggu sama sekali dengan perbuatan Jungkook.
Jungkook menghela nafas melihat kelakuan beberapa anak di sekitarnya. Mereka semua benar-benar melukiskan senyum tanpa terpaksa. Dia tersenyum tipis melihatnya, andaikan kehidupannya di sana juga seperti ini. Semua temannya hanya memasang senyum palsu membuatnya benar-benar muak ingin memukul wajah mereka, tetapi dia lebih ingin menyalahkan dirinya sendiri.
Sebuah elusan ringan tiba-tiba terasa pada surai raven Jungkook. "Aku tahu kau gelisah" lirih Namjoon di sampingnya. "Aku tidak..." "Pergerakanmu yang terkesan ragu di kasur ini yang mencerminkan hatimu" ucapnya meski masih memejamkan matanya.
"Jangan disimpan sendiri. Jika kau mau, aku bisa menjadi tempatmu melampiaskan masalahmu, ne..." Namjoon kini membuka matanya dengan tangan yang masih mengelus surai itu. Gerakannya yang terkesan lembut membuat Jungkook mau tak mau tertidur. "Astaga, benar kata Seokjin. Dia sangat manis seperti kelinci kecil dan juga kelakuannya seperti bayi –menggemaskan" gumam Namjoon sedikit terkiki melihat Jungkook tertidur dengan posisi memeluk dirinya sendiri.
"Sudahlah, Leo jangan biarkan siapapun mengganggu!" teriak Namjoon yang hanya dibalas delikan mata oleh namja yang sedari tadi diam disana. Namun senyum tipis namja itu seakan berkata baiklah. Kembali Namjoon melanjutkan tidurnya meski harus sesak karena keberadaan Jungkook.
.
~Between Two of Us~
.
Yoongi hanya bisa mendelikkan matanya ke arah Jimin yang sedari tadi mengoceh tidak jelas. Kemudian dia melihat beberapa kumpulan anak yang sangat ditakuti hampir seluruh penjuru sekolah. Dia menyipitkan matanya sekedar melihat dengan jelas apakah Seokjin ada berada di antara mereka.
Pikirannya melayang memikirkan hal aneh ketika tidak melihat Seokjin maupun Namjoon disana. Oh jangan lupakan, untuk pertama kalinya namja bernama Leo dan Ravi tidak ikut dengan kelompok mereka. Biasanya Ravi yang akan memimpin kelompok itu dan Leo berada di belakang dengan auranya yang mencekam.
Seluruh atensinya kembali begitu seorang namja bodoh di sampingnya ini berteriak kencang sembari menarik kedua pipinya dengan kekuatan kecil. "Sekali lagi kau begitu, kupatahkan tanganmu" sinis Yoongi mengusap telinganya. Heol, apa Jimin belum pernah púber? Mengapa suaranya melengking bak yeoja yang berteriak daripada namja yang menggeram? Sungguh suara Jimin tidak main-main oktafnya tinggi dan berpotensi memecahkan gendang telinganya.
"Jim, bisakah kau membantuku?" tanya Yoongi masih memandang kumpulan siswa itu. "Membantu apa?" tanya Jimin mulai tertarik dengan pembicaraan sahabatnya ini dan mulai mengikuti arah pandanganya. "Ah, kau mau membalas dendam?" tebak Jimin dengan percaya diri yang akut.
Yoongi terdiam sejenak, tidak mungkin ia memberitahu tujuan aslinya hanya untuk sekedar mengecek apakah itu Seokjin atau bukan. Dia belum siap menerima kemungkinan terburuk yang akan diciptakan oleh Jimin pada akhirnya. "Iya" dengan sedikit keraguan dia membalasnya.
"Kau ingin aku melakukan apa?" Oh, ingatkan Yoongi selama ini dialah yang menjadi 'otak' kelompok Jimin. Dia yang selalu menyusun rencana agar tidak terjebak dan mengambil langkah yang mungkin saja jalan terburuk. Yoongi benar-benar merutuk kebodohan Jimin yang setidaknya jangan sedang kambuh hampir setiap saat.
"Ha... Bisa kalian buat kegaduhan 'sedikit' di wilayah Ilsan?" tanya Yoongi menatap Jimin yang menatapnya seakan mengatainya 'kau sedang bodoh, hyung?' Dan melihatnya Yoongi langsung menjitak keras kepala Jimin. "Namjoon itu dari Ilsan dan itu bisa membuat anak buahnya juga akan ikut. Aku akan menangani Seokjin karena dia tetap harus disini, bukan?" perkataan Yoongi membuat Jimin mengangguk pelan sedikit meringis sakit pada kepalanya.
"Kalian pergi nanti malam dan buatlah kegaduhan saat jam sekolah. Kupastikan 100% Namjoon beserta anak buahnya akan segera pergi. Dan aku akan menelponmu sekedar memberi sinyal ketika mereka telah pergi ke Ilsan, kau larilah ke Daegu dan menginap di rumahku. Ini bukanlah balas dendam sepenuhnya, hanya sebuah jebakan dan untuk mencegah hal terburuk terjadi"
"Baiklah, hyung" Yoongi tersenyum tipis. Semoga rencananya berjalan lancar sehingga dia bisa mengetahui siapakah sosok Seokjin yang sekarang. Karena firasatnya benar-benar mengatakan di hadapannya bukanlah Kim Seokjin. Yoongi menutup mata sekedar berdoa dan memohon untuk hari esok.
"Tenang saja, hyung. Rencanamu pasti berjalan lancar" Jimin menyadari kegelisahan Yoongi.
"Semoga, Jim. Semoga"
.
~Between Two of Us~
.
"Maaf, tetapi bisakah kali ini kau sendiri di sekolah? Karena hari ini ada masalah di Ilsan dan kami harus mengurusnya, Tetapi, kau tidak usah ikut,oke?" tanya Namjoon memandang Jungkook sedikit khawatir. Dia memang ditugaskan oleh Seokjin menjaga Jungkook, tetapi dia harus menangani masalah di Ilsan.
Jungkook menatap Namjoon memelas, tetapi masih mengangguk pertanda mengiyakan. "Jeongmal mianhae ne, kookie" ucap Namjoon penuh sesal. Jika saja bukan di Ilsan –yang notabene adalah tempat kelahirannya-, dia tidak akan pernah mau meninggalkan kelinci kesayangan Seokjin –yang juga menjadi kesayangannya sekarang-.
Jungkook hanya mampu menatap sendu Namjoon yang mengelus pucuk kepalanya sebelum memasuki mobil. "Maafkan aku jikakau benar-benar sendiri karena kelompok kita sepenuhnya pergi karena di sana terjadi masalah yang besar" Namjoon menaikkan jendela mobil sebelum mencarternya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Jungkook meremas pelan ujung seragam olahraganya –milik Seokjin- yang sedikit kebesaran. Dia tidak ingin sendiri, selamanya dia ingin bersama seseorang. Tetapi, Jungkook memaksakan sebuah senyum miris menatap kepergian Namjoon, dia sekarang adalah Kim Seokjin. Dia harus sekuat kakaknya.
Jungkook menatap datar ke arah lapangan yang terisi oleh murid sekelasnya sejak tadi. Banyak dari mereka yang terlihat bahagia saat bermain di sana. Jungkook menghela nafas, sekeras apapun dia mencoba, dia tetap tidak akan bisa bermain karena tubuhnya yang lemah.
Seseorang menepuk bahunya pelan membuat Jungkook sedikit berjengit di bangku penonton. "Kau tidak bermain? Tidak biasanya" suara itu, suara yang sama dengan seseorang meminjam buku catatannya. "Ah, tidak. Aku sedang kelelahan" ucap Jungkook sekenanya. Sekeras apapun dia mencoba seperti kakaknya, dia tetap dijatuhkan oleh kenyataan yang ada.
"Kenalkan, namaku..." "Yoongi" Yoongi tersenyum tipis mendengar reaksi yang memotong pembicaraannya. "Tidak biasanya kau memanggil nama asliku, biasanya kau memanggil julukanku" ucapan Yoongi membuat Jungkook menggigit bibirnya waspada.
"Hehehe... lagi ingin" perkataan sekenanya dari namja di depannya ini membuat Yoongi menyeringai. Dia memang bukan seseorang yang suka dipotong pembicaraan seenaknya, tetapi instingnya mengatakan bahwa namja di hadapannya ini hanyalah seorang bocah. Dan mendengar yang dikatakan namja ini membuatnya semakin yakin di hadapannya bukanlah seorang Kim Seokjin meskipun wajah mereka sama.
Lama mereka terdiam menyelami pemikiran masing-masing sebelum sebuah teriakan membuat mereka menyadari bahwa sebuah bola melayang ke arah mereka. "AWAS!" teriakan itu seakan membuat semuanya menjadi lambat. Dan setelahnya, yang Yoongi lihat hanya bola yang terkena kepala namja di depannya dengan keras. Semua itu terdeskripsikan melalui suara benturan keras dan tubuh yang menimpanya tiba-tiba. Seokjin –Jungkook- pingsan di pangkuannya membuatnya hanya dapat membeku beberapa saat.
"Apakah dia baik-baik saja?" suara ang Yoongi tidak ketahui milik siapa membuatnya kembali tersadar. "Apa yang kalian lakukan?!" teriak Yoongi murka membuat mereka semua terdiam. Salah satu yang mereka takuti adalah Yoongi yang tengah mengamuk, karena namja itu biasanya hanya diam dan cuek. Sekarang di hadapan mereka namja itu sangat mengerikan ketika mengamuk. Tidak perlu sebuah perlakuan, hanya merasakan auranya saja membuatmu merinding.
Yoongi dengan segera menggendong tubuh namja itu dengan bridal. Oh dia segera sadar, sejak kapan ukuran manusia bisa menyusut tiba-tiba? Tubuh di hadapannya ini bahkan hampir sama dengan tubuhnya yang notabene Seokjin itu lebih besar darinya. Menepis semua pemikiran lain, Yoongi segera bergegas mengangkat namja itu menuju UKS untuk mendapat perwatan lebih lanjut.
.
~Between Two of Us~
.
Jungkook tersadar dengan sebuah rasa sakit hebat pada bagian kepalanya. Butuh beberapa menit hingga dia menyadari bahwa dia sedang berada di UKS masih dengan rasa pening yang menyerangnya.
Bahkan jendela UKS langsung menghadap ke arah lapangan yang masih memperlihatkannya siswa yang masih bergerak dengan bebasnya. Perasaannya sesak, dia sendiri dan kenyataan itu menamparnya telak. Tidak seorang pun yang menemaninya kini.
Dia terus bertanya apa yang membuatnya tak memiliki teman? Bisakah seseorang setidaknya menemaninya meski hanya beberapa saat karena dia pun tahu waktunya tidak terlalu lama. Jungkook menunduk meremas surainya pelan. Dia hancur ketika tidak ada sebuah topangan sekecil apapun.
Tubuh Jungkook langsung menengang begitu mendengar sebuah suara yang merupakan tanda pintu di ruangan itu terbuka. Buru-buru Jungkook menutupi seluruh tubuhnya hingga kepalanya di dalam selimut yang tersedia.
Jungkook sangat ketakutan, tubuhnya gemetar hebat akan kejadian selanjutnya. Selimut yang berada di tubuhnya tiba-tiba tersibak keras. Dan terpampanglah wajah Yoongi yang menatapnya sangat datar. Dia langsung mengalihkan pandangannya begitu mata mereka bertemu.
Dapat Jungkook dengar Yoongi menggeram. Geraman yang benar-benar membuat tubuhnya semakin bergetar. Apa yang akan dilakukan namja di depannya ini jika tahu dirinnya bukanlah Seokjin? Apakah dia akan membalas dendam dengan melampiaskannya?
Yoongi langsung memegang dagu Jungkook ketika merasa kesal karena namja itu terus saja tidak ingin menatapnya. "Tatap aku!" bentak Yoongi membuat Jungkook langsung menatapnya. Dapat Yoongi lihat mata berair Jungkook dan tubuh Jungkook yang gemetaran mengalir di tangannya. 'Dia penurut' batin Yoongi gemas.
"Kau siapa? Aku tahu kau bukan Kim Seokjin!" Yoongi berucap dengan nada rendah membuatnya seperti menggeram. "Jeo... Jeon... Jung... Kook" nada terbata-bata itu membuat Yoongi mengernyit sebentar guna memproses apa yang dikatakannya. Jungkook langsung menunduk dan Yoongi dapat membaca dari ekspresi tubuhnya jika Jungkook ketakutan dan membutuhkan sebuah perlindungan.
Yoongi langsung memeluk Jungkook sekedar menenangkan namja itu. Dapat Yoongi rasakan ketika tubuh yang dipeluknya itu tiba-tiba menegang kemudian rileks ketika sudah beberapa saat. "Aku takut" lirihan itu terdengar membuat Yoongi tersenyum tulus. "Aku disini Jungkook. Tidak apa aku akan melindungimu" Yoongi berbisik dan membuat tubuh itu semakin nyaman dalam pelukannya.
Ketika sudah dirasa lebih tenang, Yoongi melepas pelukannya. Jungkook menatapnya dengan tatapan polos membuat Yoongi setengah mati merasa gemas. Yoongi perlahan duduk di kasur Jungkook membuat kasur itu sedikit berguncang karena Yoongi langsung menghempaskan badannya. "Jadi, apa alasanmu berada disini?" tanya Yoongi membuat Jungkook kembali melepas kontak tatapan mereka.
"Tenang saja" ucap Yoongi langsung merebahkan tubuhnya di kasur itu. "Aku ingin merasakan kehidupan hyungku. Aku ingin merasakan rasanya mempunyai teman karena tidak seorangpun yang ingin berteman denganku disana" tangan Jungkook terkepal menandakan sang empu menahan gejolak emosi.
"Apakah kau akan menghajarku karena kesalahan hyungku atau melaporkan kepada sekolah?" pertanyaan polos itu membuat Yoongi tertawa. Ini pertama kalinya ia dapat tertawa bebas karena lelucon Jimin selama ini benar-benar garing. "Tidak. Meski aku memang pernah dihajar hyungmu, tetapi aku tidak sejahat itu –dan juga kau sangat manis" ucap Yoongi tersenyum tipis membuat Jungkook memasang wajah bingung.
"Kau tidak bersalah sama sekali. Yah, memang aku mempunyai persepsi yang berbeda dengan Seokjin dalam soal hajar-menghajar. Dan aku menyukaimu karena kau sangat manis dan menggemaskan" Yoongi mencubit pelan pipi Jungkook membuat sang empu hanya bisa melongo mendengarnya.
"Tapi, aku tidak menyukai hyung. Hyung jangan marah karena aku tidak bisa menjadi pacar hyung" ucapan polos itu benar-benar membuat Yoongi semakin gemas. Yoongi memeluk Jungkook dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. "Kau polos sekali. Aku mengucapkannya berarti aku mau bersamamu" Yoongi terkekeh gemas. "- dan terima kasih memanggilku hyung."
"Bersama berarti ingin menjadi pacar, bukan?" perntanyaan –yang lebih menyerupai pernyataan- polos itu membuat Yoongi memasang senyum. Dia tidak menampik jika jatuh ke dalam pesona polos Jungkook. "Kalau aku tidak bisa menjadi pacarmu, berarti aku bisa menjadi guardianmu?" Yoongi mulai terbawa untuk mengikuti alur polos namja di hadapannya ini.
"Guardian itu apa?" "Aku akan melindungimu sebagai orang tua, menyayangimu layaknya saudara, menghabiskan waktu seperti teman, dan menjadi tempat curhat dengan sahabat. Kau mau, bukan?" Belum sempat Jungkook berbicara, Yoongi telah memotongnya, "kau sudah menolakku sebagai pacar, maka aku tidak menerima penolakan untuk hal ini" Jungkook langsung menunduk dan meremas ujung seragamnya.
"Tidak ada seorang pun yang ingin bersamaku kecuali hyung kembarku. Aku sudah trauma mempunyai teman pengkhianat" lirih Jungkook membuat Yoongi menatapnya iba. Dia tidak pernah membayangkan Jungkook bertukar hanya karena itu. "Aku menyukai hidup hyungku karena dia mempunyai teman yang baik dan setia" perlahan wajah Jungkook terdongak dan menampilkan mata sembabnya.
Yoongi langsung memeluk Jungkook membagi kepercayaan. "Aku berjanji akan menjadi guardianmu, Jungkook" bisik Yoongi membuat Jungkook mendorongnya pelan. "Janji?" kelingking Jungkook terulur. Yoongi tersenyum gemas karena Jungkook benar-benar tipikal anak kecil –bahkan bayi. Mengapa Seokjin tidak pernah memperlihatkannya? Sudah dia pastikan dia akan menculik namja kelinci ini karena tingkat kepolosan dan keimutannya.
"Ne, hyung janji" kelingking Yoongi terpaut dengan kelingking Jungkook. Jungkook tersenyum manis menampilkan kedua gigi kelincinya membuatnya semakin manis. 'Kau benar-benar bukan Seokjin. Tetapi, aku tidak menyesal bertemu denganmu karena aku bisa merasakan namanya memberi kasih sayang dan pelindungan' batin Yoongi masih menatap Jungkook yang memegang jemarinya gemas.
"Hyung benar-benar menjadi temanku, kan?" Yoongi mengusak surai Jungkook dengan gemas. "Tentu saja. Hyung kan sudah berjanji" Yoongi menatap Jungkook yang kini mencoba berdiri meski berkali-kali gagal. "Jangan takut lagi, Jungkook. Aku disini sebagai guardianmu" Yoongi terkekeh dan menarik pelan tubuh Jungkook agar kembali berbaring.
"Aku mempunyai teman" lirih Jungkook memejamkan matanya.
"Aku guardianmu" lirih Yoongi memeluk Jungkook dan mencoba tertidur juga.
.
.
~I don't think is you~
.
.
TBC/END (?)
Oke, Moka balik lagi karena Moka lagi mood lanjutin. Dan buat yang kecewa karena konfliknya gak complex (?), Moka minat maaf karena Moka gak bisa bikin konflik rumit, alasannya Moka ujung-ujungnya gak tau cara nyelesaiin konfliknya. Jadi, terkesan maksa gitu dan ringan gini #NunjukKeAtas
Moka memang kecewa karena reaksi di fanfic yang Snow Memory. Cuma Moka nyadar juga kalau fanfic yang itu masih terbilang jelek. Maklumi gaya penulisan yang masih urak-urakan khas anak kelas 7. Dan sekedar curhat, Moka punya banyak fav author di wattpad, cuma ada satu author yang hiatus panjang karena ketahuan sekolah buat ff. Jadi, Moka juga was-was karena takut ketahuan.
Oke, karena Moka paling suka namanya balas review kalian jadi Moka balas tiap chapter. Moka selalu sempatin untuk nyelipin balasan review kok ^^
Natsuya12: Please beb. Ini juga dipublish karena kau yang hampir mirip guru yang suka nagih tugas menjelang semester. Btw, makasih sudah mau baca dan maaf kalau jelek dan gak sesuai harapan. Requestmu yang satunya terlalu menekan batin sehingga Moka gak kuat nulis. Sini Moka cipok :*
KPOPfics: Ciee yang pendukung Kookie uke juga ^_^. Yep, Moka gak kuat ngeliat muka Kookie yang imut dijadiin seme apalagi kalau bayangin yang pas predebut masih unyu dan make bando kelinci. Gemes pengen bawa pulang. Makasih sudah baca dan maaf kalau jelek plus gak sesuai imajinasi :*
Reiya zuanfu: Annyeong zu. Moka mau minta maaf besar dulu karena di chapter ini belum ada JinV. Karena Moka bikinnya berurut biar gak bingung sama ceritanya gak kecampur karena alurnya Jungkook sama Seokjin agak beda. Ditunggu chapter selanjutnya Seokjin muncul. Makasih sudah sempat baca dan maaf karena gak sesuai harapan :*
Kyuminjoong: Hiks Moka gak bisa update kilat juga karena harus nunggu paketan orang #GakModal. Suka? Moka senang ada yang suka karena ceritanya rada abal dan terkesan aneh plus jelek. Makasih sudah mampir baca dan maaf kalau gak sesuai yang diinginkan :*
Guest: Huwe Moka minta maaf banget. Tetapi, memang Kookie uke cuma Taetae yang harus turun peringkat (?) karena ini juga berdasarkan request. Kapan-kapan Moka bikin fanfic Vkook. Makasih sudah mau baca dan maaf karena Moka memang nulis gak sesuai harapan :*
Makasih buat yang sudah review, favorite, ma follow
~Natsuya12~sweetkookie60~reiya zuanfu~Ichaa846~Rapstarmon~Sien Venus~KPOPfics~Kyuminjoong~
~ choppyMOW ~ YM424 ~
Maaf yang tidak disebutkan karena Moka juga malas baca pesan yahoo satu-satu #ditabok
Akhir kata makasih sudah sempat baca dan maaf kalau fanfic ini jelek. Review, Follow, Favorite sangat Moka harapkan untuk tau bagaimana kalian menilai karya Moka
Dan Moka tetap bilang Moka gak terima kritikan karena Moka itu anak baperan, saran Moka masih terima apalagi ide cerita kalau ada yang mau #pundung
