Lucy membuka matanya perlahan. Dilihatnya langit masih gelap di hadapannya. Ia mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang menunjukkan waktu tepat pukul dua dini hari. Lucy mengalihkan pandangannya kembali kemudian ia terkejut melihat apa yang ada di atas mejanya. Karangannya yang sengaja ia jatuhkan tadi ada dihadapannya. Lucy kemudian teringat pada apa yang dilihatnya sebelum ia tertidur. Ia bergegas menatap ke luar jendela untuk menemukan apa yang telah dilihatnya tadi.
His Life Gives Me an Inspiration
Chapter 2
"Bintang-bintang bergemerlap menerangi malam yang kelam. Hembusan angin seakan mengirim pesan untuk membawa hamba menemui seorang gadis yang terlihat mencari sesuatu."
Lucy dengan cepat membalikkan badan ke sumber suara yang membacakan puisi itu. Ia terkejut mendapati sesosok manusia tengah bersandar di dekat pintu kamarnya.
"Buona notte1, Ms. Heartfilia," sapa sosok misterius itu.
Lucy sangat ketakutan, apalagi sosok itu kini melangkah mendekatinya. Dapat dilihatnya sosok itu adalah seorang pria, bertubuh lebih tinggi beberapa belas senti darinya, memakai setelan topi lebar khas Italia dengan rompi berwarna merah tua. Pada topinya terdapat bulu burung yang lebat menjuntai sampai ke punggungnya, lebih panjang daripada rambut pirangnya yang diikatnya ke belakang. Bagian belakang rompi merah tua yang dikenakannya itu mencapai lututnya, melapisi kemeja putih panjang di dalamnya. Di bagian bawahnya, pria itu memakai jeans berwarna cream dan boots hitam yang panjangnya menutupi hampir seluruh betisnya. Ia juga memakai kain yang menjadi dasi kabangsawanan khas Italia yang berlapis-lapis dari leher sampai ke yang paling berkesan adalah topeng merah tua yang dikenakan oleh pria itu yang menutupi mata sampai ke atas alisnya.
Pria itu tiba-tiba membungkuk dan membuka topinya ketika berdiri tepat di hadapan Lucy. "Perkenalkan, saya Rufus Lohr."
Lucy masih tidak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya masih gemetar. "K-. kenapa kau kesini?"
Sosok itu membalasnya dengan tersenyum tipis. Ia kembali memasang topinya. "Saya hanya memenuhi panggilan Anda, bukankah begitu?"
Lucy masih belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh pria itu. Selama ini ia pikir ia tidak pernah memanggil siapa-siapa datang ke rumahnya malam-malam seperti ini, apalagi orang itu tidak ia kenal dan berpenampilan sangat flamboyan.
"Sebenarnya saya tahu rencana Anda untuk mencari siapa yang meletakkan karangan Anda di depan pintu rumah, karena itulah saya sengaja memperlihatkan diri saya. Yah... mungkin memang sudah waktunya."
Lucy baru mengerti maksud perkataan pria itu sebelumnya setelah ia menambahkan. Berarti orang yang meletakkan amplop di depan rumahnya adalah orang yang tengah berdiri di hadapannya, Rufus Lohr.
"Tiga hari yang lalu, saya tanpa sengaja melihat selembar karangan terbawa angin dari sini," kata Rufus menjelaskan. "Kebetulan di hari ke dua saya juga menemukan benda yang sama berasal dari sini."
Rasa takut Lucy seakan-sakan lenyap tiba-tiba. Tubuhnya tidak gemetar lagi. Entah kenapa ia merasa bahwa Rufus bukanlah orang jahat yang perlu ia takuti.
"Maafkan saya karena sudah membuat Anda penasaran, Miss," kata Rufus sambil membungkuk lagi.
Lucy berusaha tersenyum, kemudian ia membungkuk juga. "Terima kasih karena telah menyelamatkan karanganku."
Rufus hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Tapi... kenapa kau mau melakukan itu?" tanya Lucy.
"Hn... saya hanya melakukan apa yang saya suka. Adakah yang salah dari hal itu?"
Lucy menggeleng. Sejenak keheningan mengisi dimensi waktu. Tidak ada yang berbicara, baik Lucy maupun Rufus.
"Se-sebenarnya... kau siapa?" Lucy akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, membuka kembali percakapan di antara mereka yang sempat terhenti.
Rufus berjalan ke arah jendela, membuat Lucy sedikit menjauh. Ia menatap bintang yang pada malam itu bersinar terang. Kedua lengannya ia letakkan dibelakang. Wajahnya terlihat serius.
"Saya bukan manusia," katanya tiba-tiba.
Lucy masih belum bisa mencerna perkataan pria itu dengan baik. Karena itu dia kembali bertanya, "Maksudmu?"
Rufus melirik Lucy yang berdiri di sampingnya. "Apakah Anda benar-benar mau mendengar kisah saya?"
Lucy terlihat bingung sejenak, kemudian ia mengangguk.
Rufus menarik napas dalam sebelum ia mulai bercerita. "Sebelumnya saya bekerja di Oraciόn Corp sebagai alat untuk mencari info mengenai kode rahasia perusahaan lain. Ya... bisa dikatakan saya adalah seorang pencuri informasi."
Rufus berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan ceritanya. Tampak ia tersenyum pahit. "Saya sadar bahwa apa yang telah saya lakukan itu salah, karena itu saya meninggalkan Oraciόn Corp."
"Lalu... apa hubungannya dengan perkataanmu "Saya bukan manusia"?" tanya Lucy yang masih belum mengerti.
Lagi-lagi Rufus tersenyum. "Perhatikan!"
Dalam sekejap, pria itu menghilang dari pandangan Lucy. Lucy tercekat dan ketika ia melihat sekelilingnya, pria itu ternyata telah berdiri di depan pintu dari satu detik kemudian, Rufus telah kembali lagi berdiri menghadap jendela.
"Anda lihat, Saya bisa bergerak dengan cepat. Selain itu, saya juga bisa mengingat dengan cepat apa yang saya lihat. Semuanya terekam dengan baik di sini," Rufus menunjuk kepalanya. "Kemampuan ini benar-benar sama dengan kemampuan seekor elang."
Mata Lucy membelalak. Baru kali ini ia pernah bertemu dengan manusia yang memiliki kemampuan seperti itu.
"Dari mana kau mendapatkan kemampuan itu?" tanya Lucy.
"Sejak kecil saya sudah memilikinya, karena saya bukan manusia, tapi sebuah alat ciptaan," jawab Rufus. "Saat ini saya mungkin terlihat seperti manusia pada umumnya, bukan seperti robot. Tetapi saya diciptakan tidak seperti manusia lainnya yang memiliki orang tua, melainkan saya diciptakan dari sebuah alat, sebuah teknologi."
Lucy dapat melihat raut wajah Rufus yang tampak muram. Kemudian ia mendekati pria itu. "Kenapa kau ke sini? Apa yang kau inginkan dariku?"
Rufus terkejut mendengar pertanyaan gadis gadis itu. Ia dapat melihat wajah cantik gadis itu terlihat prihatin.
"Saya tidak menginginkan apa-apa dari Anda. Tetapi ada satu hal yang mungkin bisa Anda lakukan," Lucy memperhatikan Rufus dengan baik sebelum pria itu melanjutkan perkataannya. "Bisakah Anda menuliskan kisah saya? Saya ingin dunia mengetahui kejahatan Oraciόn Corp, agar tidak ada lagi manusia ciptaan yang terlahir seperti saya lagi."
Awalnya Lucy agak ragu, tapi kemudian ia mengangguk, "Iya, aku akan berusaha."
"Gradiece2," ucap Rufus. "Maafkan saya karena telah mengganggu waktu istirahat Anda. Sekarang sebaiknya Anda istirahat kembali.Un buon sonno3, Ms. Heartfilia."
Dalam sekejap, pria itu menghilang dari pengelihatan Lucy yang masih tidak kemudian ia mendekati tempat tidurnya dan berbaring di sana. Ia menyadari bahwa ini kali pertama ia menempati tempat tidurnya itu selama ia tinggal di sana. Lucy menutup matanya sekaligus menutup kisahnya hari ini.
Lucy berdiri di depan pintu kayu yang berukuran normal. Diketuknya pintu itu beberapa kali. Levy membukanya dan menyapa Lucy terlebih dahulu sebelum Lucy sempat membuka mulutnya untuk mengucapkan selamat pagi. Levy kemudian mengajak Lucy masuk ke rumahnya yang kebetulan juga merupakan rumah kontrakan, sama seperti Lucy. Bedanya, rumah kontrakan Levy berada di tengah keramaian kota.
"Jadi, apa yang membawamu datang jauh-jauh ke sini?" tanya Levy yang duduk bersila di atas kasurnya seraya menatap Lucy dengan serius, seakan-akan ia sedang menginterogasi seorang pelaku kejahatan.
Lucy sibuk memperhatikan ruangan pribadi Levy itu yang dipenuhi oleh ratusan susunan buku di lemari sampai-sampai ia tidak menghiraukan pertanyaan Levy. Levy melambaikan lengannya di depan wajah Lucy yang membuat gadis itu tergelonjak.
"Hello... jadi dari tadi aku dicuekin ya?"
Lucy tersenyum meminta maaf kepada temannya yang tengah memayunkan bibir itu. Kemudian ia berbicara.
"Levy, kau tahu tentang manusia elang?"
Levy mengerjapkan mata mendengar pertanyaan Lucy.
"Manusia elang? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Jawab saja pertanyaanku," pinta Lucy tanpa menghiraukan pertanyaan Levy sebelumnya.
Levy mengangguk, "Manusia elang. Yang kutahu dia adalah manusia berwajah seperti seekor elang. Ada beberapa orang sih yang katanya tanpa sengaja pernah melihatnya. Tapi kurasa itu hanya mitos belaka."
"Tunggu dulu, tadi kau bilang wajahnya seperti seekor elang?"
Levy mengangguk lagi. "Itu sih menurut beberapa orang yang katanya pernah melihatnya. Tapi aku kan tidak pernah melihatnya, jadi aku kurang tahu pasti tentang hal itu."
"Berwajah seperti elang. Tapi yang kutemui tadi malam..." Lucy berguman dan tampak berpikir.
"Apa kau menggumamkan sesuatu?" tanya Levy.
"Errm... Levy, apakah ada suatu teknologi yang bisa menciptakan manusia elang?" tanya Lucy yang lagi-lagi mengabaikan pertanyaan Levy.
"Mana kutahu. Tapi pada pada zaman ssekarang ini hal seperti itu bukan tidak mungkin lagi diciptakan. Melakukan peleburan antara gamet burung dan gamet manusia mungkin sudah bisa dilakukan dengan cara melakukan mutasi pada gen-gennya."
"Mungkinkah..." Lucy kembali lagi ke alam pikirannya. Levy hanya bisa menghembuskan napas keras melihat sahabatnya itu.
Seorang pria misterius mendatangiku. Ia datang untuk menceritakan kisahnya ke padaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar kisahnya. Ia adalah seorang korban akibat perkembangan teknologi.
Lucy menyelesaikan karangannya, kemudian ia menutup buku dan mematikan lampu kamarnya. Ia beranjak ke tempat tidurnya dan bersiap menutup harinya.
Kira-kira satu jam sudah Lucy terlelap. Waktu menunjukkan tepat pukul dua belas malam. Seakan-akan merasakan kehadiran sesuatu, Lucy terbangun dari tidurnya. Dilihatnya gorden jendelanya bergerak-gerak ditiup angin.
Tadi aku merasakan keberadaan seseorang di sini, pikirnya.
"Buona notte, Ms.Heartfilia," sapa seseorang yang kini tengah berdiri di samping tempat tidurnya.
Lucy agak terkejut sebelum akhirnya menyadari bahwa orang itu adalah Rufus.
"A-apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Lucy.
"Maafkan saya karena saya telah mengganggu waktu istirahat Anda. Saya datang ke sini untuk menceritakan lanjutan kisah saya, untuk novel Anda," jawab Rufus.
"Tapi... kenapa harus malam-malam begini?"
Terdengar Rufus menghembuskan napasnya, "Hanya pada malam hari saya bisa berwujud seperti ini untuk bercerita kepada Anda. Pada siang hari, saya harus ke tempat di mana saya bisa memastikan tidak akan ada orang lain yang akan melihat saya."
Lucy teringat perkataan Levy tentang rupa manusia burung itu. Sekarang ia mengerti. Lucy mengambil posisi duduk bersila di atas tempat tidurnya. Ditunggunya Rufus memulai ceritanya. Rufus pun akhirnya bercerita sekitar lima belas menit lamanya. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Lucy. Ia berjanji akan datang setiap malam jikalau Lucy tidak keberatan. Dan Lucy, ia tidak pernah keberatan akan hal itu.
Sudah satu minggu lebih ia datang ke tempatku, menemuiku dengan kejutan puisi-puisinya tepat pukul dua belas malam. Aku selalu menunggu kedatangannya. Malam ini bulan purnama bersinar terang. Aku masih menunggunya, meski sudah lewat dari waktu biasanya ia datang. Entah kenapa ia terlambat malam ini, atau mungkin ia tidak datang.
Lucy melirik jam dinding yang menunjukkan waktu pukul satu lewat. Ia menarik napas dalam kemudian menghembuskannya pelan.
"Mungkin malam ini dia tidak datang," gumamnya.
Lucy siap berbaring di tempat tidurnya, sebelum akhirnya seseorang yang ia tunggu sejak tadi muncul dari balik tirai jendela.
"Nyanyian penyair dari bulan merah, membuat seorang gadis menunggu lama sampai ia mati rasa."
Lucy tersenyum kearah sosok itu yang kini berdiri di hadapannya.
"Maaf, saya terlambat. Dari tadi saya mencari ini."
Sosok itu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, setangkai mawar merah. Rufus menekukkan sebelah lututnya untuk memberikan mawar itu kepada Lucy, layaknya seorang pangeran yang memberikan mawar kepada seorang putri.
Lucy turun dari ranjangnya. "Gradiece, Principe Rufus4."
Lucy mengambil mawar itu. Dihirupnya aroma harum mawar merah itu sejenak.
"Malam ini saya akan melakukan sesuatu sebagai ucapan terima kasih saya atas kebaikan Anda selama ini," kata Rufus yang mengalihkan perhatian Lucy. "Maukah Anda berdansa dengan saya?"
Lucy agak terkejut. Wajahnya merona di kegelapan malam tiba-tiba. Rufus mengulurkan tangannya yang membuat Lucy melepaskan mawar yang digenggamnya dan beralih menggenggam tangan Rufus.
Gerakan Lucy mulanya terlihat kaku di balik piyama merah mudanya. Namun tak lama setelah itu, ia merasa rileks karena dihampiri oleh suatu perasaan, entah perasaan apakah itu.
"Jujur saja, setiap kali saya berada di dekat Anda, saya merasa tenang," aku Rufus tiba-tiba, membuat wajah Lucy kembali bersemu merah. "Apakah seperti ini rasanya berada di dekat ibu?"
Lucy sekilas tampak bingung memikirkan jawaban dari pertanyaan Rufus, namun kemudian ia tersenyum. "Berada di dekat ibu rasanya jauh lebih tenang. Dulu sewaktu kecil aku selalu memeluk Mama ketika ketakutan. Ketika aku menyentuh Mama, rasanya semua rasa takutku tiba-tiba menghilang."
"Hn, kelihatannya Anda sangat mencintai Ibu Anda, benarkah begitu?"
Lucy terdiam. Irama langkah kakinya mendadak lenyap, membuat irama langkah Rufus ikut berhenti. "Aku sangat mencintai Mama. Tapi sayangnya Tuhan sepertinya jauh lebih mencintai Mama dari pada aku, sehingga ia membawa Mama kembali ke itu aku masih berusia lima tahun."
Raut wajah Lucy terlihat sedih memikirkan mendiang ibunya sehingga Rufus merasa harus bertanggung jawab karena telah membuat Lucy menjadi seperti itu.
"Meskipun Tuhan telah memanggil Ibu Anda, tapi Anda masih jauh lebih beruntung daripada saya," kata Rufus, membuat Lucy mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah pria itu. "Saya tidak pernah memiliki ibu karena saya bukan manusia."
"Apa yang kau katakan? Kau adalah manusia. Kau memiliki akal dan hati yang baik," ujar Lucy. "Dan aku juga yakin, kau pasti memiliki seorang ibu. Kau tahu, manusia berasal dari sel telur ibu yang tidak dapat dibuat oleh teknologi secanggih apa pun."
Rufus tertawa kecil, "Anda seperti seorang guru saja yang mengajari saya."
Lucy juga ikut tertawa kecil, kemudian ia tersenyum. Ketika itulah ia dikejutkan oleh Rufus yang tiba-tiba saja memeluknya.
"Ms. Heartfilia, ini pertama kali saya merasakan perasaan aneh seperti ini. Setiap kali saya berada di dekat Anda, jantung saya selalu berdetak tak menentu seperti ini," aku pria itu. "Mungkin ini yang disebut cinta."
Lucy masih tak bergeming. Ia masih terlalu shock sehingga ia tidak dapat memulihkan kondisinya kembali. Raut wajahnya tidak bisa ditebak.
Rufus kemudian melepaskan pelukannya. "Saya tahu, ini mungkin salah. Tidak sepantasnya orang seperti saya merasakan perasaan ini."
"Ti... tidak, kau tidak salah. Perasaan itu adalah anugerah dari Tuhan yang pasti dirasakan oleh setiap manusia. Itu menunjukkan bahwa kau benar-benar manusia, sama sepertiku dan yang lain," Lucy kemudian tersenyum. "Apa kau pernah berpikir bahwa aku juga merasakan perasaan yang sama sepertimu?"
Rufus nampak terkejut. Ini kali pertama Lucy melihat ekspresi wajah Rufus seperti itu. Tapi tidak lama setelah itu, pria itu tiba-tiba saja melepaskan topi dan topeng yang selama ini ia kenakan. Lucy benar-benar tidak dapat mengalihkan pandangannya. Tatapan mereka pun bertemu, caramel bertemu onyx.
Lama bertatapan, membuat Rufus benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Lucy menutup kedua matanya. Ia dapat merasakan deru napas Rufus yang panas semakin mendekati wajahnya. Beberapa detik kemudian, bibir mereka bertemu. Mereka saling berbagi kehangatan di bawah sinar bulan purnama.
Rufus melepaskan Lucy beberapa saat kemudian. Ia melirik jam dinding di kamar Lucy. Sudah pukul dua lewat.
"Sebaiknya Anda segera istirahat, Ms. Heartfilia," saran Rufus yang tampak agak khawatir.
"Bisakah kau memanggil namaku saja?" pinta Lucy. "Dan mulailah berbicara tidak terlalu formal denganku."
"Hn... Lu-Lucy," panggil Rufus agak ragu.
Lucy tersenyum. Pria itu hendak menjauh dan mengucapkan selamat malam, namun Lucy menahan lengannya.
"Temani aku, malam ini..." pintanya pelan, tapi terdengar jelas oleh Rufus.
Rufus mengangguk, ia mengerti apa yang diinginkan oleh gadis itu. Ketika itulah mereka menghabiskan waktu sampai matahari benar-benar menggantikan bulan purnama.
TBC
1 Selamat malam
2 Terima kasih
3 Selamat tidur
4 Terima kasih, Pangeran Rufus
Saya berhasil menyelesaikan chap. 2 sebelum waktu yang telah saya janjikan. Arigatou buat yang udah nge-review chap. 1 ya...
Udah tau kan siapa karakter cowoknya? Entah kenapa saya tiba-tiba kepikiran buat bikin dic LuFus a.k.a RuCy a.k.a RuLu.
Terakhir, mind to review?
