Lu Han

.

Sehun menatap wajah Luhan yang tengah terlelap tenang dalam pelukannya. Entah apa yang terjadi, namun tiba-tiba beberapa jam lalu Luhan mengetuk pintu kamarnya dan datang membawa boneka Rillakuma yang baru saja ia ambil dari gudang beberapa hari lalu. Padahal setelah makan malam Luhan mengatakan bahwa ia sedang ingin tidur sendiri malam ini. Entahlah, yang jelas Sehun mengijinkan Luhan tidur bersamanya.

"Aku selalu ragu gadis seperti dirimu pernah mengalami hal buruk yang tidak sedikit saat melihat kau tertidur tenang seperti ini, Lu... Maafkan aku..." lirih Sehun. Perasaan bersalah masih saja ia rasakan, sekalipun Luhan sendiri sudah mengatakan agar ia melupakan semuanya. Tapi tetap saja tidak bisa.

Janjinya 5 tahun lalu, belum terpenuhi seutuhnya.

Oh Se Hun. Itu nama lengkap yang diberikan kedua orang tuanya, Oh Ji Seung dan Kim Hee Ji. Kedua orang tuanya adalah pelayan setia di rumah besar Keluarga Xi ini. Sejak kecil ia sudah mengenal kedua orang tua Luhan yaitu Tuan Xi Lin Jiang yang merupakan pria keturunan China dan Nyonya Young Se Ra. Keduanya sama-sama merupakan yatim-piatu yang berhasil berdiri dikaki mereka sendiri; dan membuat Sehun takjub. Tuan dan Nyonya besarnya itu selalu memperlakukannya dengan baik, bahkan Sehun dianggapnya putra sendiri.

Mereka menikah di tahun yang sama saat Sehun lahir, dan kenyataan itulah yang membuat kedua orang tuanya bekerja di rumah keluarga Xi. Mereka memperlakukan Sehun dengan baik, bahkan menganggapnya sebagai putra sendiri. Perhatian besar sebagai ganti rasa ingin segera memiliki keturunan sendiri. Lalu bertepatan dengan 8 hari setelah ulangtahun Sehun yang ke-5, Luhan lahir.

Bayi mungil yang sangat cantik. Luhan lahir prematur maka dari itu ia dimasukkan kedalam inkubator. Sebuah kebetulan yang entah harus disebut apa karena saat mata Luhan membuka untuk pertama kalinya, Sehun yang berada disana dan dapat melihat mata rusa mungil yang benar-benar bersinar. Seolah memberikan pratanda tentang betapa pentingnya Sehun untuk kehidupannya nanti.

Sehun kecil langsung berlari menuju kamar rawat Nyonya Xi dan memberitahu tentang Luhan yang sudah membuka matanya untuk pertama kalinya itu. Setelah itu, kebahagiaan besar menyelimuti rumah keluarga Xi. Tangisan kencang Luhan kerap kali terdengar. Nyonya dan Tuan Xi sangat bahagia kala itu. Perhatian mereka ke Sehun sedikit berkurang tapi itu sama sekali tidak mengecewakannya. Sehun kecil bisa memakluminya. Setiap hari Sehun selalu tersenyum ketika Nyonya dan Tuan Xi memanggil Luhan dengan panggilan Nona Muda Lu. Saat bertanya pada Ayahnya, Ayahnya menjawab kalau Nyonya dan Tuan Xi memanggil Luhan seperti itu karena mereka berdua sangat menyukai panggilan itu. Terdengar lebih manis, kekeh Ayahnya. Dan ya, Sehun kecil setuju akan itu.

Sehun masih ingat kalimat yang Tuan Xi katakan padanya didepan Luhan yang saat itu berumur 6 bulan dan sedang lucu-lucunya.

"Nona Muda Lu, nanti kau akan memiliki pelindung yang sangat hebat bernama Oh Se Hun. Baba akan mempercayakanmu padanya, jadi Nona Muda Lu harus tumbuh menjadi gadis cantik yang baik agar tidak merepotkan Sehun ne?"

Mungkin terdengar seperti candaan, tapi Sehun kecil mengerti kalimat itu. Dan Sehun berusaha menepatinya. Sehun tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan tangguh demi menjaga Nona Mudanya itu. Sehun berusaha keras menyempurnakan dirinya; ia belajar keras saat disekolah agar bisa menyetarakan diri dengan Nona Mudanya yang pasti akan mengecap pendidikan tinggi dan ia mendapatkan beasiswa membanggakan karenanya, ia belajar beladiri agar bisa melindungi Nona Mudanya, ia selalu berusaha yang terbaik. Komitmen itu sudah mengakar kuat sampai ke dalam hatinya, terselipi rasa ingin membalas budi baik kedua orang tua Luhan.

Semuanya berjalan dengan baik. Luhan tumbuh menjadi gadis manis yang baik hati. Gadis manis yang bisa menempatkan diri dengan baik. Luhan yang selalu menjadi pusat perhatian dan selalu menjadi tempat tercurahkannya cinta dan kasih sayang tidak lantas membuatnya menjadi gadis manja yang tidak tahu diri. Sikap manja dan menggemaskannya selalu muncul diwaktu yang tepat bersamaan dengan sikap anggun dan mempesona yang juga muncul diwaktu yang tepat. Didikan kebangsawanan benar-benar mengalir dalam darahnya. Kesempurnaan. Hanya itu yang bisa Sehun lihat dari Nona Mudanya itu.

Dimana ada Luhan, disanalah Sehun akan berada. Secara otomatis Luhan akan bergantung pada Sehun saat kedua orang tuanya sedang tidak ada. Sehun menjadi figur teman, kakak, pelindung dan semua figur lelaki yang Luhan butuhkan. Sedikit waktu Sehun melihat kesedihan dimata Nona Mudanya itu. Mata rusanya selalu memancarkan kebahagiaan dan seakan-akan ada bias pelangi dari dalam sana.

Luhan mempunyai banyak sahabat dekat, Kai yang kala itu satu tingkat dengan Sehun salah satunya. Namun tentu saja, Sehun adalah yang terdekat dan tak pernah tergantikan. Banyak yang datang dan pergi serta membawa warna tersendiri pada kehidupan Luhan, tapi, Sehun selalu menjadi pewarna terbaik yang tak pernah tergantikan.

Sehun tak sempat mengurusi hidupnya sendiri, dalam artian semuanya berpusat pada Luhan. Luhan sebagai titik gravitasinya. Luhan menyukai sesuatu namun Sehun tidak, maka Sehun akan berusaha menyukainya juga. Luhan tidak menyukai sesuatu namun Sehun iya, maka Sehun akan secara otomatis menjauh dari hal itu.

"Aku berharap Sehunna akan selalu menemaniku sampai kapanpun. Karena saat Baba dan Mama tidak ada, hanya Sehunna yang menemani Lulu, ah, Paman dan Bibi Oh juga. Tapi, yang Lulu inginkan adalah Sehunna yang akan selalu disamping Lulu."

Itu adalah doa yang Luhan ucapkan dengan suara indahnya saat Ulangtahun ke-15nya sebelum meniup lilin kuenya. Semuanya tertawa keras mendengar penuturan yang agak kekanak-kanakan itu. Tapi, lain dengan Sehun, ada sesuatu dibalik doa itu. Entah mengapa Sehun sama sekali tidak bisa tersenyum sampai hari itu berakhir.

Semuanya menjadi jelas ketika Sehun mendapati Ibunya pingsan setelah menerima telefon dari pihak bandara. Sehari sebelumnya, Nyonya dan Tuan Xi berangkat ke Jepang untuk urusan bisnis, seperti biasa, namun untuk kali pertama Luhan melarang keras mereka untuk pergi. Luhan bahkan sampai menangisi keberangkatan kedua orang tuanya. Dan, Sehun merasakan dunianya hancur ketika melihat Nona Mudanya jatuh terduduk, membeku dengan lelehan air mata yang berasal dari matanya yang menatap tak percaya.

Sudah bisa ditebak bukan? Nyonya dan Tuan Xi tak selamat dalam kecelakaan pesawat yang diakibatkan oleh badai. Saat itu Sehun menyadari, semua kehidupan itu akan selalu adil dan imbang; dimana ada kebahagiaan disitu pula ada kesedihan.

Seminggu kemudian jasad Nyonya dan Tuan Xi ditemukan. Seminggu itu pula Luhan mengurung diri didalam kamar tanpa ada keinginan untuk makan sedikitpun. Semua nutrisi yang ia butuhkan ia dapatkan dari jarum infus yang menusuk punggung tangannya. Luhan belum lagi menangis setelah hari kecelakaan itu. Ia hanya meringkuk diranjang kamarnya.

Itu adalah awal dimana Sehun merasa bersalah dan tidak becus untuk menjaga Nona Mudanya.

Saat pemakaman, semua orang memandang iba kepada Luhan. Gadis yang selalu dicurahi cinta, kasih sayang dan perhatian tiba-tiba ditinggal mati kedua orang tuanya di usia yang sangat muda, siapa yang tidak iba dan kasihan? Namun, Luhan menolak semua rasa iba dan kasihan itu. Pada saat pemakaman itu pulalah Luhan berubah menjadi pribadi lain. Memasang topeng dingin didepan wajahnya. Menyembunyikan dirinya yang rapuh dan sudah hancur berkeping-keping itu.

Tidak ada lagi binar mata bahagia pada Luhan, bias pelangi dimatanya lenyap digantikan awan gelap yang selalu mendung. Tatapan berbinarnya berubah menjadi tatapan dingin, arogan, tajam dan menusuk. Tak ada lagi sapaan "Pagi semuanya! Apa Baba dan Mama tidur nyenyak? Apa Paman dan Bibi Oh sudah memasak sarapan kesukaanku? Apa Sehunna sudah menyelesaikan tugas kuliah yang menyebalkan itu?" saat Luhan menuruni tangga. Tak ada lagi rengekan yang disertai aegyo mematikan dari Luhan saat ia meminta Sehun untuk membelikan sesuatu yang harusnya tidak boleh. Tak ada dan tak ada, hingga membuat Sehun merasa hancur dan kosong.

Luhan menyingkirkan semua hal yang berhubungan dengan kedua orang tuanya; seakan-akan membuang semua masa lalunya jauh-jauh. Semua lukisan koleksi Tuan Xi, guci-guci dan keramik milik Nyonya Xi, dimasukkan kedalam kamar utama di rumah mewah itu; milik Nyonya dan Tuan Xi sendiri, yang lantas Luhan kunci tanpa ada niat membukanya sedikitpun. Semua barang-barang pemberian orang tuanya ia singkirkan dari kamarnya, menggantinya dengan semua yang baru. Bahkan dengan halus, ia meminta kedua orang tua Sehun untuk berhenti bekerja di rumahnya dan memberikan pekerjaan lain sebagai pengurus mansion besar keluarga Xi di sisi barat Busan.

Luhan menjauhi semua temannya, ia hanya benci dikasihani. Terlebih lagi, ada banyak yang mencemoohnya sepeninggal kedua orang tuanya. Itu semakin menguatkan alasannya untuk menjauhi semuanya. Benar-benar menyedihkan.

Sehun tahu persis, kesedihan Luhan terlalu mendalam hingga membuatnya membuang semuanya. Ah, tidak semuanya. Karena Luhan memintanya untuk menepati janji yang ia ucapkan sendiri.

"Aku akan selalu disampingmu. Melindungimu, menyayangimu, menggantikan semua peran yang menghilang dari kehidupanmu, dan melakukan apapun untukmu. Pegang janjiku, aku tak akan pergi sampai kau sendiri yang memintaku pergi."

Janji yang ia ucapkan tepat sebelum Luhan memasuki kamarnya setelah pulang dari pemakaman.

Tahun pertama yang berat. Luhan harus menghandle perusahaan ayah dan ibunya diumur yang masih sangat muda dibantu Sekretaris Kang serta Pengacara Shin kepercayaan Ayahnya. Sehun mengambil kuliah dobel dan menargetkan untuk menyelesaikan sisa kuliah management bisnisnya dalam satu tahun. Sehun berusaha keras menyelesaikan kuliahnya bersamaan dengan tugasnya menjaga Luhan. Bolak-balik antara kampusnya, sekolah Luhan dan kantor perusahaan Xi sudah menjadi rutinitas sehari-hari.

Sehun lelah, Sehun penat. Semuanya terasa begitu memuakkan.

Tapi ia tahu Luhan lebih menderita ketimbang dirinya. Luhan berusaha keras menyelesaikan kelas aksel yang ia ambil bersamaan dengan meeting dengan klien-klien perusahaan. Sebuah pekerjaan berat untuk gadis 15 tahun. Tapi Sehun bersyukur, kecerdasan dan kedewasaan Luhan meningkat pesat sehingga ia bisa kokoh menjalani semuanya. Kedewasaannya di umur 17 tahun bahkan sudah menyamainya. Masa remaja yang terenggut menjadikan Luhan hanya mengenal kertas-kertas bergambarkan skala-skala saham serta deretan angka dengan nol yang banyak; membuatnya tak sempat melihat dunia luar yang dulunya menjadi dunianya. Tidak sempat berteman apalagi mencari tambatan hati. Sehun sudah cukup baginya.

Dua tahun berlalu dan Luhan diberitakan sebagai Presdir wanita dengan umur termuda yang meraih banyak kesuksesan, sekalipun berkali-kali punggung tangannya ditusuk jarum infus serta hidungnya yang dibaluti alat bantu oksigen. Bertepatan dengan Luhan yang memasuki bangku kuliah dan Sehun yang mulai mengambil alih pekerjaan Luhan. Luhan meminta frekuensi pekerjaannya dikurangi agar ia bisa fokus ke bangku kuliahnya; ia tak ingin mengambil percepatan pendidikan apapun seperti yang ia ambil di bangku SMA. Luhan mengatakan bahwa ia ingin hidupnya berjalan sedikit normal. Sehun memaklumi, Luhan perlu sedikit bernafas setelah dua tahun yang berat itu.

Di tahun yang sama Kyungsoo datang ke rumah keluarga Xi sebagai juru masak. Luhan bertemu dengan Kyungsoo saat Luhan sedang makan malam disalah satu restoran mewah di pusat Kota Seoul yang sering Luhan sambangi. Luhan merasakan Salmon Steak yang ia makan berbeda rasa dengan yang ia makan malam-malam sebelumnya. Ia menanyakan itu pada manager restoran dan berakhir dengan manager restoran yang menyeret seorang gadis berpakaian hitam putih khas pelayan restoran dengan tampilan kumal dan kucal, dia Kyungsoo. Gadis pencuci piring itu ternyata yang menggantikan koki yang memasak pesanan Luhan, dengan alasan koki itu terlalu sibuk hingga tidak konsisten dengan tertib kerja yang sebenarnya. Manager itu hampir menyemprot Kyungsoo kalau saja Luhan tidak mengatakan—

"Pecat dia. Dan kau Kyungsoo-ssi, mulai saat ini kau bekerja padaku sebagai Koki utama dirumahku."

—dengan tatapan tak terbantahkan. Sehun masih ingat binar bahagia muncul dari mata bulat Kyungsoo yang mengucapkan terima kasih berulang-ulang sambil membungkukkan badannya.

Dan untuk pertama kalinya sepeninggal Nyonya dan Tuan Xi, Sehun melihat sebuah senyum tipis dibibir Luhan yang tengah menatap Kyungsoo.

Kyungsoo adalah seorang gadis berumur 18 tahun yang hidup sebatang kara di Seoul. Ia seorang yatim piatu yang dulunya tinggal di panti asuhan di daerah pinggiran Seoul. Ia keluar saat ia lulus SMA dan pergi ke pusat Kota Seoul untuk memulai kehidupan. Iapun bekerja sana-sini untuk menghidup dirinya disalah satu flat murah. Luhan pernah menawari Kyungsoo untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah karena Luhan tahu Kyungsoo gadis yang cerdas, tapi Kyungsoo menolak dengan alasan "Aku ingin bekerja denganmu saja, semua ini sudah cukup bagiku dan aku tidak mau lebih.". Luhan hanya bisa mengiyakan, toh, apapun yang terjadi nanti, Kyungsoo akan ia pastikan tetap bersamanya.

Walaupun sedikit, Luhan mulai menampakkan sisi hangatnya semenjak kehadiran Kyungsoo. Sehun rasa kehadiran Kyungsoo sebagai yang lebih tua membuat Luhan merasakan kembali hadirnya figur sang Mama—Demi Tuhan, Luhan masih 17. Luhan mulai menampakkan senyum tipisnya saat sarapan dipagi hari, itu sebuah kemajuan besar dan Sehun sangat bersyukur. Luhan selalu bertingkah seolah semuanya sudah selesai dan ia tak mempermasalahkan masa lalu, tapi Sehun lebih dari mengerti seberapa rindunya Luhan dengan kedua orang tuanya.

Tak berapa lama, Luhan bertemu dengan salah satu temannya —lebih tepatnya teman Sehun— yang dulu pindah ke Jepang saat Luhan kelas 8 SMP, yakni Kim Jong In dan bernama kecil Kai. Kai mendatanginya dengan maksud melamar kerja sebagai sekretaris Luhan. Agak konyol mengingat yang ia sodorkan adalah ijazah S2 dari Tokyo University. Luhan tahu betul Kai datang padanya sebagai bentuk rasa simpati karena saat kecelakaan Nyonya dan Tuan Xi, Kai tak sempat datang dan menghibur Luhan, yah, diselipi rasa sayang sebagai sahabat dan adik juga tentunya.

Luhan menyetujuinya; ini pertama kalinya ia menerima dengan tangan terbuka orang yang simpati padanya, mungkin karena dulu Kai adalah sosok kakak yang menyenangkan? Luhan sekaligus meminta Kai untuk tinggal bersamanya. Sebenarnya ada alasan tersendiri selain agar Kai lebih mudah berhubungan dengannya; Luhan bisa melihat kecocokan antara Kyungsoo dan Kai hanya dalam sekali analisa.

Sehun bersyukur ada banyak orang yang menyayangi Luhan mengelilinginya. Sehun mulai berkurang rasa khawatirnya, karena sudah ada dua orang lagi yang akan ikut menjaga Luhan. Tapi tetap saja, perasaan bersalah dan hancur itu masih tidak bisa hilang.

Setahun lalu, Baekhyun yang pernah menjauh kembali ke kehidupan mereka dan mulai mengacau. Didepan Sehun ia bersikap simpati dan baik hati pada Luhan, bersikap seolah-olah menjadi sahabat yang baik bagi Luhan. Tapi, dengan tegas Luhan menolak didepan semua orang akan kedatangan Baekhyun. Luhan mempermalukan Baekhyun disana. Membuat rasa cemburu dan marah pada diri Baekhyun makin berkobar terlebih lagi Sehun hanya diam dibelakang Luhan.

Sejak Luhan lahir, Baekhyun kehilangan Sehun, teman sepermainannya. Sehun selalu menolak saat ia ajak bermain dengan alasan ingin menemani bayi Luhan yang bahkan tak menyadari keberadaan Sehun saat itu. Luhan masih bayi! Dan rasa cemburu seorang bocah perempuan berumur 4 tahun itu membesar menjadi rasa cemburu luar biasa sampai menginjak remaja. Sehun selalu mengabaikan Baekhyun. Ia ingat betul, saat itu ia baru saja terjatuh dari sepeda dan Sehun sudah berlari untuk menolongnya. Namun saat mendengar teriakan Luhan yang ternyata hanya terpeleset sedikit, Sehun lantas langsung berbalik tanpa menatap Baekhyun sama sekali. Luhan sudah mengatakan ia baik-baik saja dan ia terlalu berlebihan tadi, Luhan bahkan sudah meminta Sehun untuk menolong Baekhyun, tapi Sehun menolak dan malah membawa Luhan ke mobil mereka, meninggalkan Baekhyun yang terluka luar dalam.

Semua tentang Luhan dan semua tentang Luhan. Baekhyun merasa muak. Ia merasa kehadiran Luhan telah mengambil kehadiran Sehun. Apa hanya karena hidup Luhan menyedihkan lalu semua orang lantas menyayanginya? Lantas Sehun mengabaikannya hanya demi Nona Mudanya itu?! Sebenarnya Baekhyun bukannya benci pada Luhan; ia hanya marah pada dirinya sendiri yang tak mampu membuat Sehun tetap melihatnya. Tapi ia menolak membenarkan itu, ia memilih untuk menimpakan semuanya pada Luhan. Luhan yang salah dan pantas untuk ia benci.

Sehun menyadarinya. Ia mengenal Baekhyun dengan baik. Iapun juga merasa tidak adil, namun bagaimanapun itu tanggung jawabnya untuk bersama Luhan. Ia hanya diam saat Baekhyun mulai mengganggu Luhan dan menerornya; Sehun mencoba bersabar karena ia merasa ini adalah kesalahannya sampai membuat Baekhyun berubah menjadi gadis jahat seperti sekarang.

Baekhyun tidak tahu, semua kedewasaan Luhan menghilang saat hanya berdua dengan Sehun. Baekhyun tidak tahu, seberapa sering Luhan terisak karena merasa tidak kuat menjalani semuanya. Baekhyun tidak tahu, Luhan hampir ketergantungan obat penenang kalau saja Sehun tak datang untuk menggantikan obat penenang itu. Baekhyun tidak tahu, Luhan berkali-kali merelakan punggung tangan mulusnya untuk tertusuk jarum infus demi menyambung hidupnya. Baekhyun tidak tahu, betapa tersiksanya Luhan menjalani kehidupannya setelah kedua orang tuanya pergi meninggalkannya. Baekhyun tidak tahu, betapa sakitnya hatinya setelah mendengar kata-kata menyakitkan yang disebabkan olehnya.

Baekhyun tidak tahu, betapa Luhan sangat membenci kenyataan ini. Luhan tersayat ketika menyadari kalimat Baekhyun benar; hidupmu memang menyedihkan, tapi bukan artinya kau bisa memonopoli Sehun dengan tameng hidup menyedihkanmu itu. Demi Tuhan! Luhan tak pernah menginginkannya, ia tak pernah mau dikasihani, dan kalau bisa ia tak ingin bersandar pada Sehun sekalipun! Ia tak ingin ada seseorang yang membantu menyembuhkan lukanya bahkan Sehun sekalipun! IA TAK INGIN SEHUN TERUS-TERUSAN MENJADI PELINDUNGNYA! Tapi, ia tak sekuat itu. Ia ingin tapi tak bisa. Ia membutuhkan Sehun disampingnya untuk melanjutkan hidupnya. Ia membutuhkan Sehun untuk menyembuhkan luka-luka bernanahnya. Luhan tak bisa melepaskan Sehun begitu saja. Sehun sudah terlalu jauh menjadi bagian hidupnya. Luhan mencintainya.

Seringkali hatinya kalut karena memikirkan hal ini. Ia merasa bersalah telah meminta Sehun untuk terus bersamanya. Luhan tahu selama ini ia sangat kurang ajar memperlakukan Sehun benar-benar seperti pelayannya lalu dengan seenaknya Luhan menjadikan Sehun tempatnya berkeluh-kesah dan menjadi tempat sampah akan semua perasaan menyakitkannya. Ia tahu benar Sehun kerap kali terluka saat ia mulai keterlaluan. Luhan merasa sesak sekali. Ia ingin melepaskan Sehun agar perasaan menyakitkan ini menghilang, tapi ia tak yakin akan menjadi lebih baik setelahnya; ia tak bisa. Ia tak bisa membiarkan Sehun pergi dari kehidupannya.

Kau tahu, Lu? Sehun tulus padamu; Sehun tak pernah merasa kasihan padamu; Sehun tak pernah merasa terkekang; Sehun tak pernah merasa termonopoli akan sikapmu; Sehun tak pernah keberatan kau memperlakukannya sebagai pelayanmu sekalipun hatinya sedikit terluka; Sehun tak pernah merasa keberatan melakukan apapun untukmu; Sehun tak apa kalau ia harus mengotori tangannya agar tanganmu tetap bersih; Sehun tak apa kau selalu berbicara dingin dan memperlakukanmu seenak hatimu; Sehun tak apa kau menjadikannya tempat sampah seluruh keluh-kesahmu. Karena dalam setiap tangisan pilumu; dalam setiap pukulan yang kau layangkan pada dada Sehun saat ia memeluk menenangkanmu; dalam setiap dinding tebal yang kau bangun itu; Sehun tahu betapa rapuhnya dirimu. Sehun tahu betapa kau sangat membutuhkannya. Dan..., akhirnya kau tahu, Lu.

"Kau harus tahu betapa aku sangat ingin melindungimu, Luhan."

Sehun memang merasa bersalah, dirinyapun hancur bersamaan dengan hancurnya Luhan. Tapi ia tak kasihan pada Luhan; Luhan gadis kuat yang tak butuh dikasihani, Luhan gadis yang menakjubkan yang bisa bangkit tanpa rasa kasihan. Ia hanya ingin melindunginya sekuat tenaga, kalau bisa ia ingin memiliki Luhan seutuhnya agar ia bisa leluasa mengamankan Luhan dari segala macam kekejaman hidup dan memberikannya rasa manis dari kebahagiaan yang sampai saat ini belum bisa terwujud, Sehun hanya ingin melindunginya, Sehun mencintainya. Perasaan ingin melindungi itu telah tumbuh menjadi perasaan berbeda yang lebih indah jauh sebelum Sehun mengerti apa arti cinta itu sebenarnya. Kalau Sehun mau menelisik lebih dalam, perasaan cinta itu telah ada sejak dulu.

Luhan tak bisa melepaskannya dan Sehun tak akan melepaskan diri dari Luhan. Itu sudah cukup kan?

Pagi yang menyenangkan. Itu yang selalu Kyungsoo rasakan semenjak Luhan kembali menjadi dirinya yang dulu. Akan ada senandung merdu yang ia nyanyikan saat tangannya memotong-motong bahan makanan untuk membuat sarapan; akan ada senyuman lebar yang terhias dibibirnya saat mendengar ketukan langkah dari tangga sayap timur; akan ada binar mata bahagia saat menerima senyuman manis dari Luhan. Luhan tak selalu ada di jam makan malam, maka dari itu Kyungsoo benar-benar memanfaatkan jam sarapan dengan baik; bahkan ia tak membiarkan siapapun untuk membantunya memasak. Melewatkan hari tanpa senyuman Luhan seolah menjadi hal yang sudah sangat lama tak lagi ia rasakan, dan Kyungsoo tak berharap sama sekali untuk merasakannya kembali.

"Kau ceria sekali, Soo..." Suara itu mengejutkan Kyungsoo dari aktivitasnya menyusun sarapan di meja. Kyungsoo mendengus pelan.

"Lalu bagaimana denganmu, Jongin-ah?" kata Kyungsoo sedikit sebal. Kai terkekeh senang, ia tidak pernah suka seseorang memanggilnya Jongin; ia lebih suka dipanggil dengan nama kecilnya, tapi entah kenapa, Kai suka sekali saat Kyungsoo yang memanggilnya.

"Aku? Bagaimana ya? Tentu saja aku tidak jauh darimu. Aku ikut senang melihat Luhan kembali menjadi dirinya yang dulu. Senyuman yang sangat aku rindukan itu membuat hatiku menghangat." Ujar Kai tulus. Kyungsoo ikut tersenyum, ia tidak cemburu sama sekali; Kai memang sangat menyayangi Luhan, sangat malah, tapi Kyungsoo tahu, Kai memberikan rasa sayang yang berbeda untuknya. Ah, analisa Luhan benar-benar hebat.

"Ah, hatimu menghangat eoh?" goda Kyungsoo. Kai tertawa mendengarnya, ia lantas menarik tangan Kyungsoo dan menggenggamnya erat.

"Tidak perlu cemburu, Nona Do. Aku hanya mencintaimu kalau kau mau tahu, lagipula, Nona Muda sudah punya Sehunnya bukan? Aku tidak yakin dia pernah berpikir untuk menyerahkan Luhan padaku." Kata Kai melayani godaan Kyungsoo. Kyungsoo terkekeh malu, ia suka saat menggoda Kai seperti ini.

"Dan aku tidak berpikir untuk menyerahkan Ummaku padamu, Kkamjong! Aku tidak bisa membayangkan mempunyai Appa sepertimu." Kata Luhan yang ternyata sudah masuk ke ruang makan bersama Sehun. Kai mendelik main-main.

"Kau akan menyesal menolak Appa seksi sepertiku, Baby Lu!" Luhan membuat gestur muntah main-main.

"Appa pesek, hitam, dan dekil lebih tepatnya." Sahut Sehun santai. Kai mendelik sementara Luhan dan Kyungsoo kompak mendekat dan berhigh-five sambil tertawa ceria.

"Kalau aku sudah menikahi Kyungsoo nanti, aku tidak akan membiarkan lelaki pucat, datar, dan mengerikan sepertimu untuk menjadi menantuku." Kata Kai kesal.

Luhan dan Sehun tersedak ludahnya sendiri.

"Jangan membuat mereka salah tingkah, Jongin-ah. Jja, bagaimana kalau kita sarapan saja?" Kyungsoo benar-benar tidak tega melihat Sehun dan Luhan yang terlihat canggung satu sama lain itu. Kai mengerti dan akhirnya duduk lalu disusul yang lain.

Setelah semuanya, mereka bahkan masih canggung mengenai hal ini? Mereka telah terbiasa hidup berdua, kurasa memang terasa agak berbeda hidup dengan ikatan berbeda...

"Jadi, kau mau kemana sekarang? Kuliahmu sudah selesai, klien membatalkan meeting karena ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda." Tanya Sehun yang tengah menyetir mobil membelah jalanan senja Kota Seoul. Luhan yang berada disampingnya mengulas senyum manisnya.

"Sebenarnya aku ingin mengunjungi Baba dan Mama. Tapi, kurasa lebih baik aku kesana minggu depan saja. Sekarang aku ingin belanja! Bawa aku ke Coex sekarang! Full speed, Hunna!" kata Luhan semangat. Sehun terkekeh mendengarnya.

Sehun menambah kecepatan mobilnya sementara Luhan sibuk membenahi diri. Gadis bermata rusa itu melepas blazer lime-greennya dan meninggalkan rok span ketat berwarna senada beserta kemeja putih yang sedikit 'diacak'. Tak lupa ia mengikat rambutnya dengan cepot ketat tinggi yang menyisakan beberapa helai anak rambut. Uh, sekarang Luhan benar-benar terlihat seperti seharusnya; seorang gadis 20 tahun.

Mereka segera sampai di parkiran Coex Mall dan Sehun langsung melepas jas hitam formal dan dasinya. Ia keluar dan langsung menggandeng Luhan masuk ke dalam Mall. Banyak pasang mata yang menatap kagum sekaligus iri kepada mereka; Luhan dan Sehun benar-benar terlihat serasi sebagai pasangan.

Mengingat ke belakang, ini adalah kali pertama Luhan 'shopping' ke Mall; selama ini Luhan hanya menginjakkan kakinya ke Mall hanya sekedar untuk membeli setelan formal baru, itupun kalau sempat, atau bertemu dengan beberapa klien untuk urusan bisnis saja. Sehun tersenyum, ia merasa senang Luhan bisa menjadi dirinya yang seutuhnya. Melihat Luhan tersenyum ceria saat melewati berbagai macam pakaian model terbaru yang terpajang di etalase toko membuat Sehun merasa bahagia.

Mereka berkeliling dari satu toko ke toko lainnya, melihat-lihat dan kalau ada yang Luhan sukai; Luhan membelinya. Luhan juga sempat membeli banyak sekali pakaian yang terlihat tidak seperti seleranya disalah satu toko. Sehun tidak ingin bertanya karena Luhan terlihat antusias sekali; Sehun tidak ingin merusak mood gadis cantik itu.

Beberapa kali Sehun yang membayarkan, dan Sehun sama sekali tidak keberatan.

"Setelah membeli semua pakaian yang dipajang sepanjang koridor ini, keluar masuk toko perhiasan, keluar membawa belasan barang dari toko hadiah dan membeli barang-barang yang bukan seleramu; apa lagi yang mau kau lakukan?" tanya Sehun dengan nada lelah main-main sambil menyesap Americanonya pelan.

Luhan terkekeh pelan.

"Aku ingin makan disini kemudian pulang. Asal kau tahu, itu bukan hanya milikku saja, Hunna... Aku membelikan untuk Kyungsoo dan Kai juga, dan beberapa yang lain." Jawab Luhan ceria. Kini mereka tengah berada di salah satu restoran untuk mengisi perut mereka yang sedikit keroncongan akibat makan siang yang terlewat sangat lama; hmm, Sehun akan mengirim pesan agar Kyungsoo tidak memasak makan malam setelah ini. Luhan dengan santai memakan fish and chips yang dipesannya ditemani segelas ice tea float sedangkan Sehun memilih untuk menyesap americanonya tanpa teman apapun.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau membuat janji dengan desainer itu, Lu. Bahkan kau tidak mengijinkan aku ikut masuk kesana." Kata Sehun saat Americanonya sudah habis. Luhan tersenyum misterius. Ia memang tidak memberitahu Sehun perihal janji yang ia buat dengan salah satu desainer kenalannya itu, seorang desainer gaun pernikahan yang tak terkenal namun menjadi favorit Luhan karena Mamanya.

"Kau akan tahu nanti." Sahut Luhan tak kalah misterius dari senyumannya. Sehun mengernyit namun memilih untuk tidak mempedulikannya, toh, Luhan tak akan bisa lama-lama menyembunyikan sesuatu darinya. Lihat saja nanti.

"Kajja! Aku sudah selesai." kata Luhan sambil membenarkan bekas makan dibibirnya menggunakan tissue lalu bangkit diikuti Sehun.

Sehun berjalan dengan kedua tangan membawa banyak shopping bag, sedang Luhan yang berjalan disampingnya hanya membawa satu shopping bag berlabelkan butik milik desainer tadi. Itu hanya sebagian kecil kalau mau tahu, shopping bag lainnya sudah dikirim menuju rumah mereka; Sehun yakin mobil audinya tak akan bisa menampung semua shopping bag Luhan.

Tiba-tiba saat mereka berdua berbelok menuju tangga yang mengarah ke areal parkir, langkah Luhan terhenti begitu saja.

"Lu? Waeyo?" tanya Sehun melihat Luhan yang menatap lurus kedepan. Saat Sehun mengikuti arah pandangan Luhan, ia mengerti. Ada Baekhyun dan Irene yang juga berhenti didepan sana.

"Aku ingin meluruskan semuanya, kau bisa ke mobil lebih dulu, Sehunna." Kata Luhan sambil menatap Sehun lembut dan memberikan shopping bagnya ke Sehun. Sehun hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Luhan dengan perasaan tidak setuju.

Luhan mendekati Baekhyun yang menatapnya tanpa nyawa, mengabaikan tatapan sengit milik Irene.

"Apalagi yang kau mau, Nona Muda?! Apa kau belum puas dengan semuanya?!" sengit Irene begitu Luhan sampai. Luhan tak merespon, ia hanya menatap Baekhyun.

"Kau bisa pergi Irene. Aku akan menyusulmu nanti." Kata Baekhyun. Irene terkejut.

"T-tapi—"

"Aku mohon..." Irene akhirnya mengangguk mengerti dan meninggalkan mereka berdua.

"Apa yang mau kau katakan? Cepatlah, aku tidak mau berlama-lama dengan orang sepertimu." Kata Baekhyun sambil membuang pandangan. Luhan hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia tahu Baekhyun masih sangat membencinya, mungkin malah makin bertambah sampai saat ini.

"Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku selama ini. Aku sadar aku terlalu egois padamu. Sikapku padamu mungkin sulit untuk dimaafkan, namun, aku tetap berharap kau bisa memaafkanku, Baekhyun-ah..." kata Luhan. Tangan Baekhyun mengepal erat, matanya memerah menahan tangis. Ia lantas menumpukan tatapannya ke arah Luhan dan berkata sengit.

"Sangat sulit! Memang sangat sulit untuk memaafkan semua sikapmu selama ini, Luhan! Kau tahu betapa sakitnya aku saat Sehun meninggalkanku?! Kau tahu betapa sakitnya aku saat melihat semua perhatian Sehun teralih padamu?! Kau tahu betapa sakitnya aku saat Sehun hanya melihatmu dan balik tak pernah menatapku lagi? Apa kau tahu sakitnya diabaikan orang yang sangat kau pentingkan melebihi dirimu sendiri?! Aku mengalaminya hampir seumur hidupku, Luhan! Apa kau tahu seberapa sakitnya aku?"

Luhan menunduk mendengarnya, tak dapat ia pungkiri hatinya mulai menyesak. Mendengar perkataan Baekhyun sama saja dengan membuka masa lalunya. Namun, ia sudah memilih; ia akan meluruskan semuanya sekarang. Karena ia tak tahu ia akan sanggup melakukannya atau tidak di waktu mendatang kalau saat ini ia bersembunyi.

"Maafkan aku. Maafkan aku kalau kehadiranku membuat Sehun mengabaikanmu, membuat Sehun meninggalkanmu dan membuat seluruh perhatian Sehun tertuju hanya padaku. Aku sangat menyesal membuatmu jauh dari Sehun. Aku benar-benar minta maaf, Baekhyun-ah..." lirih Luhan dengan suara tercekat.

"Apa hanya dengan minta maaf semuanya akan selesai?! Aku tak habis pikir, Luhan! Apa hanya karena hidupmu menyedihkan, apa hanya karena kedua orangtuamu pergi dan apa hanya karena kau mengalami masa yang berat; membuat Sehun hanya mempedulikanmu?! Aku... Aku mengenal Sehun lebih dulu! Aku lebih dulu mengenalnya daripada kau yang saat itu bahkan tak tau apa-apa! Nafasku tak pernah benar semenjak Sehun mengabaikanku! Hatiku selalu tertindih batu semenjak Sehun terus-terusan membelamu tanpa peduli akan aku yang tersakiti, Luhan! Aku... Aku juga membutuhkan Sehun, Luhan... Semua ini menyakitiku..." Air matanya sudah meleleh. Menyuarakan semua perasaan mendesak yang selama ini ia simpan dalam hatinya sendiri.

"Apa kau tahu seberapa sakit aku saat melihat Sehun hancur hanya karena perasaan bersalahnya padamu? Apa kau tahu Sehun menyimpan lukanya hanya karena sikapmu, Luhan?! Apa selama ini kau tidak menyadari kalau kau sudah menyakiti Sehun?!"

Aku tahu... Aku tahu...

"Dan, apa kau tahu rasanya dibuang oleh orang yang sangat berharga untukmu? Oleh orang yang sangat penting dalam hidupmu?"

Luhan mendongakkan kepalanya. Menatap Baekhyun yang sudah kacau dengan wajah memerah, air mata yang terus mengalir dan nafas terengah-engah; Luhan menatapnya dengan sebuah senyum tipis.

"Aku tahu. Aku tahu bagaimana rasanya. Semuanya, bahkan lebih buruk dari itu. Sekarang aku bertanya padamu, apa kau pernah tahu rasanya hancur berkeping-keping serasa tak ada lagi yang bisa kau lakukan didunia ini? Apa kau pernah tahu bagaimana sakitnya menyadari kehancuranmu ikut menghancurkan hati orang yang paling berharga untukmu? Apa kau pernah tahu rasanya harus menjadi orang lain hanya untuk membangun dinding agar tidak ada yang kasihan padamu? Apa kau pernah tahu seberapa tersiksanya dirimu saat melihat orang yang kau sayangi diam-diam menangisimu? Apa kau pernah tahu rasanya harus membuang semua hal berhargamu agar kau tak tambah hancur? Kau tahu, aku cemburu padamu, Baekhyun-ah. Aku iri sekali padamu. Kau... Kau mempunyai Mama yang bisa menenangkanmu setiap saat, kau mempunyai Baba yang bisa menepuk bahumu menguatkan. Tapi, sekarang aku hanya punya Sehun, Baekhyun... Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi disini..."

"Aku minta maaf... Akulah penyebab Sehun membuatmu menjadi orang jahat seperti ini."

Luhan mulai terisak dan nafasnya tercekat menyakitkan. Ia benar-benar benci terlihat lemah. Tapi sungguh, ini adalah kali terakhirnya ia menampakkan kelemahannya; ia hanya ingin meluruskan semuanya.

Baekhyun mematung. Semua yang dikatakan Luhan membuatnya tercekat, sesak dalam hatinya makin menjadi dan semua emosinya membuncah sampai ke ubun-ubun. Ia terluka, ia tersakiti, tapi, Luhan juga terluka dan tersakiti, terluka dan tersakiti dengan hal yang berbeda. Ia tak bisa membandingkan siapa yang lebih menderita disini, namun dalam hati kecilnya ia menyadari; Luhan juga mengalami tekanan batin dan perasaan sakit yang Baekhyun juga rasakan. Mungkin sedikit lebih buruk; ia sedikit lebih beruntung daripada Luhan.

"Aku memandangmu salah karena kau tak pernah berada diposisiku; kau juga memandangku salah. Aku tak pernah berada dalam posisimu, Baekhyun-ah... Aku tahu aku tak akan pernah bisa. Dan aku tak akan mengatakan siapa yang lebih tersakiti disini; semua orang memiliki perasaannya masing-masing."

Luhan mendekat kearah Baekhyun yang masih mematung dan memeluknya erat, menumpukan dahinya ke bahu sempit Baekhyun dan tak mampu menahan aliran air matanya lagi.

"Maafkan aku, Baek... Aku benar-benar menyesal atas semua yang kau rasakan selama ini. Aku terlalu egois kepadamu, tapi, aku benar-benar tak bisa melepaskan Sehun pergi dariku... Aku tidak yakin bisa berdiri dengan benar setelahnya. Maafkan aku, aku lagi-lagi menjadi egois dan menyakitimu disini... Aku tak berharap kau memandangku kasihan dan akhirnya merelakan Sehun dengan perasaan 'aku lebih beruntung'. Aku tak menginginkannya; aku hanya ingin meluruskan semuanya. Kau terluka, kau tersakiti... Aku tahu benar bagaimana perasaan ditinggalkan... Dan aku harap, kau mau memaafkan aku yang membuatmu merasakan perasaan itu, Baekhyun-ah... Maafkan aku..." Luhan terguncang, tubuhnya berdeguk-deguk menahan emosi yang mulai membuat kepalanya sakit dan memberat.

Luhan mengeratkan pelukannya. Menarik nafas dalam-dalam dari pelukan Baekhyun yang diam-diam terasa menyenangkan.

"Kau akan sulit memaafkanku. Kita berdua bukan gadis malaikat yang bisa begitu saja melupakan luka; kau masih akan memandangku salah dan begitupun aku. Tapi aku harap, setelah ini tak ada lagi hal menyakitkan seperti ini... Terimakasih atas semuanya, Baekhyun-ah... Kau banyak mengajarkan hal berharga untukku." Kata Luhan.

Ia melepaskan pelukannya lantas memandang Baekhyun dengan sebuah senyum tipis. Sebelum ia meninggalkan Baekhyun yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ia mengusap air mata Baekhyun pelan.

"Air matamu terlalu berharga, Baek... Maafkan aku yang membuatnya tumpah, ne?" kata Luhan dengan gurauan hambar dan kaku.

Luhan pergi dari situ menuju kamar mandi. Ia tak bisa menemui Sehun dengan wajah kacau seperti ini. Disana ia mencuci wajahnya pelan, sedikit bersyukur kamar mandi itu kosong. Ia terpaku sebentar pada bayangannya dicermin sebelum mengambil tube BB creamnya dan menuangkannya banyak-banyak lantas mengoleskannya di wajahnya, sedikit lebih banyak pada bagian bawah matanya dan hidungnya.

"Tidak terlalu buruk." Gumamnya sebelum meninggalkan kamar mandi itu.

Ia menemukan Sehun tengah bersandar pada pintu mobil dengan tangan terlipat didepan dada, begitupun dengan wajahnya yang sedikit 'terlipat'. Luhan tersenyum saat menyadari raut wajah kusut Sehun yang terlihat mengkhawatirkannya.

"Jja, kita pulang Sehunna..." sapa Luhan. Sehun menoleh lantas tersenyum tipis.

"Usaha yang bagus, Lu... BB krim-mu lebih tebal dari biasanya." Sindir Sehun sambil membukakan pintu mobil untuk Luhan. Luhan terkekeh pelan, teramat pelan.

"Ternyata aku tak bisa menyembunyikan apapun darimu." Kata Luhan saat Sehun duduk dibelakang pintu kemudi dan memasang sabuk pengaman. Sehun tersenyum tipis.

"Memang tak akan bisa. Apa yang terjadi?" tanya Sehun. Ia menyalakan mobilnya dan membawanya keluar dari area basement parkir. Luhan menyandarkan beban tubuhnya sepenuhnya ke sandaran jok, ia menutup matanya pelan.

"Harusnya kau bertanya; apa yang kau lakukan? Maka aku akan menjawab; aku membuatnya menangis, lagi." Jawab Luhan pelan. Cengkeraman tangan Sehun pada kemudi sedikit mengeras.

"Kau bisa menggantinya dengan kalimat; aku membuat diriku menangis lagi." Kata Sehun sedikit menyengit. Luhan menghela nafas lelah.

"Aku sudah mengatakan padamu, Lu. Jangan mengurusinya lagi tapi kau malah mengabaikannya. Aku benci melihatmu menangis lagi, itu menyakitiku..." kata Sehun berusaha menahan nada bicaranya agar tidak meninggi.

"Hei hei hei... Maafkan aku, aku tidak apa-apa. Aku berjanji ini adalah kali terakhirku aku menangis karena hal itu; aku akan menepatinya Sehunna. Jangan berpikir seperti itu lagi, ne?" kata Luhan, tangannya terulur ke bahu Sehun dan mengelusnya pelan. Gadis berambut cokelat almond itu tersenyum lega saat bahu tegang Sehun menurun.

"Sehunna, aku ingin bertanya padamu tapi kau cukup menjawabnya dalam hati; kau menyayangi Baekhyun, kan? Dia sahabat yang berharga bagimu, jadi, maafkan aku telah menjadi penyebab kau membuatnya menjadi orang jahat seperti sekarang. Dia gadis yang baik dan ia hanya terlalu mencintaimu, dan... maafkan aku, aku tidak akan melepaskanmu hanya karena itu." kata Luhan dengan suara sedikit bergetar. Sehun terdiam cukup lama.

"Untuk apa kau minta maaf? Tidak akan melepaskanku bukan sebuah kesalahan bagiku; karena aku memang tak pernah berniat lepas darimu." Jawab Sehun sambil mengulas sebuah senyum lega. Luhan ikut tersenyum lega.

Setelah ini, semuanya akan benar-benar baik-baik saja...

Sehun menambah kecepatannya dan tak lama kemudian mereka berdua sampai di rumah. Sehun memberikan kunci mobilnya ke penjaga —Paman Kim— untuk dimasukkan ke garasi sedangkan ia sendiri langsung masuk mengikuti Luhan sambil membawa sisa shopping bag Luhan. Karena, ya... Luhan akan benar-benar membutuhkan Sehun sekarang.

Baru saja ia masuk beberapa langkah dari pintu utama dan Luhan sudah berbalik dan bersembunyi di belakang punggungnya.

"Oh, apa kau pikir Sehun bisa melindungimu kali ini heum?! Aku tidak mau tahu, jelaskan padaku apa yang kau lakukan, Nona Muda Lu! Kau pikir menyenangkan membuka pintu dan langsung disuguhi satu mobil penuh berisikan puluhan shopping bag yang bahkan aku tak sanggup menghitungnya hah?!" Benar kan? Kyungsoo sudah memulai ceramahnya sambil melirik sadis ke sofa panjang yang diatasnya terdapat puluhan shopping bag milik Luhan. Sehun terkekeh merasakan Luhan yang mengkerut dibalik punggungnya.

"Sekali-kali aku belanja banyak kan tidak apa! Apa kau tahu dilemariku hanya berisi setelan formal saja?!" Luhan membela diri dan membuat Sehun terkekeh lagi.

"Hei, kau pernah membuka lemarimu? Memangnya kau tahu dimana setelan formalmu itu tersimpan?" Luhan merona antara malu dan kesal, kenapa Sehun malah ikut memojokkannya sih?!

"Jangan ikut-ikutan Sehun! Kau harusnya membelaku!" sengit Luhan sambil mencubit pinggang Sehun keras-keras. Sehun mengaduh kesakitan, cubitan tangan kecil Luhan benar-benar pedas.

"Sudahlah, Kyung... Sesekali Luhan harus 'normal' sedikit kan untuk gadis seusianya?" kata Kai yang muncul dibelakang Kyungsoo dan langsung memeluk pinggangnya. Mereka memberikan reaksi berbeda. Kyungsoo menjadi satu-satunya orang yang memasang wajah sulit diartikan.

"Aku sebenarnya geli dengan nada bicaramu, Kkamjong; tapi aku setuju." Kekeh Sehun. Luhan dibelakangnya terkikik tidak jelas.

"Ne, ternyata Appaku bisa menjadi orang yang bijaksana juga." Kata Luhan.

"K-kau benar... I-ini pertama kalinya Luhan melakukan hal yang sudah seharusnya ia lakukan... M-maafkan aku..." lirih Kyungsoo, matanya sedikit berkilat. Luhan terkejut melihatnya dan langsung pergi dari balik punggung Sehun dan menuju Kyungsoo. Luhan menarik tangan Kyungsoo dan memegangnya erat.

"Bukan waktu yang tepat untuk menangis, Kyungsoo-ya..." kata Luhan sambil tersenyum manis. Kyungsoo akhirnya mengangguk dan ikut tersenyum.

Luhan melepaskan pegangan tangannya dan menuju ke sofa panjang lantas mengobrak-abriknya sebentar, setelah beberapa saat ia mengambil shopping bag bertuliskan Cartier bernuansa perak. Tanpa ada yang menyadari kecuali Luhan, Kai memucat. Luhan menyeringai tipis dan Kai menelan ludahnya gugup.

"Panggilkan semua maid disini." Kata Luhan. Sehun mengiyakan dan memanggil semua maid yang ada menggunakan interkom yang ada disisi kiri lemari pajangan. Tak berapa lama terdengar kegaduhan dan muncullah semua maid yang bekerja di rumah besar Keluarga Xi itu. Mulai dari yang bertugas membersihkan rumah, merawat kebun, mengurusi pakaian dan membantu Kyungoo menyiapkan makanan dan beberapa penjaga keamanan. Luhan melirik Kai sekilas sebelum meletakkan shopping bag tadi ke meja lantas mengambil belasan shopping bag bertuliskan nama toko yang sama dengan susah payah.

Sehun tersenyum melihatnya. Ia mengerti sekarang. Ia mendekati Luhan yang terlihat kesusahan dan membantunya mengambil sisa shopping bag yang bertuliskan label toko yang sama. Luhan tersenyum padanya dan bergumam terimakasih.

"Aku hanya ingin memberikan sedikit hadiah untuk kalian semua. Sebagai rasa terimakasihku karena selama ini telah bersabar menghadapi aku yang benar-benar buruk, yah walaupun ini sebenarnya tidak cukup. Aku memang tidak terlalu sering bertemu dengan kalian, tapi percayalah aku tahu tentang kalian. Ini untuk Bibi Young, Bibi Jung, Soora Unnie, dan Jaeil Unnie yang selama ini sudah membersihkan rumah besarku ini dan menyetrika setelanku, aku suka hasilnya, licin sekali... Ini untuk Bibi Hyeon dan Bibi Yoo yang sudah membantu Kyungie Umma memasak makanan yang enak untukku... Ini untuk Paman Kang yang sudah mengurusi taman bunga milik Mama selama ini... Dan ini, untuk Paman Kim dan Paman Han yang sudah rela tidur sampai malam untuk menjaga kami semua. Aku benar-benar berterimakasih atas semuanya. Dan maafkan aku atas semua sikap burukku selama ini."

Luhan memberikan satu persatu shopping bagnya ke mereka semua, dengan sebuah senyuman tulus yang membuat Sehun nyaris menangis bahagia. Tak lupa Luhan memberikan sebuah pelukan singkat ke mereka semua, dan mengakhirinya dengan membungkukkan badannya hormat didepan mereka semua.

Kyungsoo sudah menangis terisak di bahu Kai sedangkan Kai hanya bisa tersenyum sambil menahan air matanya yang sudah menggantung dipelupuk mata. Begitupun juga, semua maid menatap Luhan dengan mata berkaca mereka.

"Aku berterimakasih karena kalian semua masih bertahan bersamaku sekalipun Mama dan Baba sudah tidak ada. Aku berterimakasih sekali untuk itu. Maafkan sikap burukku selama ini..." Luhan membungkukkan badannya sekali lagi, sambil mengusap air matanya yang mengalir pelan.

"Kami senang bisa bekerja dengan Nona Luhan. Nona tidak perlu berterimakasih karena kami senang melakukannya." Bibi Jung, wanita paruh baya yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi di rumah keluarga Xi ini menjawab kalimat Luhan dengan sangat lembut dan pelan. Dalam hati wanita paruh baya itu bersyukur bisa mendengar nada bicara Nona Mudanya yang persis seperti beberapa tahun silam itu.

Luhan tersenyum manis dengan lelehan air matanya. Ia lantas mengusap air matanya dengan cepat dan mengambil satu shopping bag dan lantas memberikannya pada Kyungsoo. Kyungsoo yang tengah sibuk mengusap air matanya itu mengeryit bingung.

"Untuk Kyungie Ummaku. Aku tidak bisa menyebutkan apa yang telah kau lakukan untukku. Jadi, terimalah..." kata Luhan. Kyungsoo mengangguk, ia tak bisa mengucapkan apapun karena ia yakin suaranya sedang benar-benar jelek sekarang. Ia membukanya dan langsung menatap tak mengerti pada Luhan. Tak disangkanya Luhan malah menyeringai cantik sedangkan tanpa ia sadari, Kai memucat.

"M-majalah pernikahan?" Kai tercekat. Luhan melebarkan seringaiannya lantas mengambil shopping bag yang ia ambil pertama kali dan melemparkannya ke Kai. Kai menerimanya dengan tatapan komohon-jangan-Lu. Luhan mengabaikannya tentu saja.

"Cepat ambil dan katakan pada Kyungsoo! Aku tidak mau menunggu lama, Kkamjong Appa." Luhan berkata dengan nada sing a song yang menggoda. Kai menelan ludahnya gugup, terlebih dengan Kyungsoo tengah menatapnya meminta penjelasan.

Kai mendesah pelan. Ia membuka shopping bag itu dan mengeluarkan sebuah kotak biru beludru kecil dari sana. Kai lantas berlutut didepan Kyungsoo sambil membuka kotak biru beludru yang berisikan sebuah cincin emas putih yang indah.

"Maukah kau menikah denganku? Aku tahu ini tidak romantis sama sekali. Aku tidak bisa mengelak lagi, aku yakin Luhan sudah melihat isi ponselku dan melihatku ke toko perhiasan untuk memesan cincin ini. Sebenarnya aku masih memikirkan cara untuk melamarmu, Kyung... Tapi yah, kau tahu sendiri Nona Muda Lu itu sangat seenaknya sendiri; aku tidak bisa mengelak lagi kan? Jadi, apa jawabanmu?" kata Kai sambil mengulas senyumannya. Sebuah senyum serius yang baru pertama kali Kyungsoo lihat. Kyungsoo menutup mulutnya; merasakan nafasnya tercekat. Ia sangat bahagia sampai membuatnya pusing, membuat matanya basah kembali oleh air mata bahagia.

Kyungsoo menganggukkan kepalanya kacau.

"Yeay! Akhirnya Kkamjong melamarmu, Kyungsoo-ya..." pekik Luhan bahagia, ia tersenyum lebar dipelukan Sehun disampingnya.

Kai memasangkannya ke jari manis Kyungsoo dan langsung memeluk kekasihnya itu.

"Aku mencintaimu... Aku benar-benar mencintaimu..." bisik Kai ditelinga Kyungsoo. Kyungsoo hanya mengangguk, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa, s uaranya tercekat ditenggorokan sangat bahagianya dengan semua ini. Ia segera menyembunyikan wajah merona kacaunya di leher Kai; merasa malu karena tepukan tangan yang sangat meriah.

Terimakasih, Lu... Aku benar-benar berterimakasih...

Luhan kini tengah berada dalam pelukan Sehun setelah beberapa saat yang lalu ia istirahat sebentar dan membersihkan diri. Ia tersenyum saat mengingat betapa eratnya pelukan Kyungoo saat menangis dibahunya. Ia merasa lega bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada orang-orang terdekatnya. Yah, janji yang ia buat bersama desainer siang tadi adalah janji untuk Kyungsoo. Ia akan memberikannya sebagai hadiah pernikahan Kai dan Kyungsoo bulan depan. Ia tahu semua rencana Kai, salahkan saja kebodohan Kai yang tak menyandi kotak pesannya saat Luhan meminjamnya untuk menelfon Sehun beberapa waktu lalu.

"Kenapa kau terkikik seperti itu heum?" tanya Sehun. Luhan mendongak dan menatap Sehun dengan kerlingan jahilnya.

"Aku hanya sedang senang saja, Hunna..." jawab Luhan jujur. Sehun tersenyum tipis.

"Ya ya ya... Kau senang dan semua orang senang, kecuali aku; mana hadiahku? Aku kira sisa shopping bag tadi adalah hadiahku, ternyata kau memberikannya untuk keluarga mereka." Gemas Sehun sambil mencubit hidung bangir Luhan.

"Oh astaga, kau menginginkan boneka dan mainan untuk hadiahmu? Kekanakan sekali." kekeh Luhan. Sehun tertawa pelan tak percaya. Ia mengeratkan pelukannya ke Luhan, makin menenggelamkan Luhan ke dada bidangnya sambil menghirup aroma rambut Luhan.

"Aku bercanda. Semua yang kau lakukan untukku sudah menjadi hadiah terbaik untukku. Terimakasih telah menyembuhkan lukaku." Lirih Sehun. Luhan tersenyum tipis, sedikit miris dan getir terlihat.

"Bukankah sudah aku bilang sekarang adalah giliranku untuk menyembuhkan lukamu? Untuk menyembuhkan semua rasa sakit dan hatimu yang hancur karenaku. Kau sudah melakukan semuanya untukku." Kata Luhan dengan suara tercekat.

"Berada disampingku dan terus tersenyum; itu akan menyembuhkan lukaku dengan cepat, Lu."

END

"Aku membuat part Luhan-Baekhyun dengan segenap perasaanku. Maafkan, kalau kalian merasa part itu terlalu berlebihan, karena ya, itu adalah tumpahan isi hatiku tentang masalahku dengan beberapa orang terdekatku."

.

.

.

Ini adalah series kedua dari My Assistent. Setiap Series berbeda fokus cerita kok, tapi berkesinambungan, jadi bisa dibaca satu-satu atau semuanya juga. Maaf kalau format publishnya masih agak kacau, karena aku belum terbiasa dengan format FFn. tapi kedepannya akan aku perbaiki.

Btw, thanks buat reviewnya. Mungkin kedepannya aku akan publish oneshot-oneshot aja. Just enjoys. ^^