Good day Minna-san! :D

Sebelumnya Stella bakal ngucapin beribu thank you buat para reviewers yang udah sangat baik hati ngasih semangat dan saran buat Stella. Dan beribu thank you juga buat para silent readers yang diam-diam baca fic pertama Stella. Hehehe iya Stella ini newbie di fanfic, jadi harap maklum kalau banyak typo(s) maupun cerita yang terlalu pendek T_T

Diella NadiLa : Diella-san adalah reviewers pertamaku. Thank you for reading my fic sist! :* di usahakan update kilat

Dorobbong-ikanmokpoo : hihihi iya maklum lah Stella baru di fanfic. Ini chapter 2 nya Stella panjangin kok

Ran Murasaki SS : For Dracula's fang, jangan di cekek dong T_T ini Stella udah bikin chapter 2 sama 3. Chapter 3 bakal di publish kalo sekiranya cerita ini masih layak di fanfic :'3

sasa-hime : Nih persembahan buat rasa penasaran sasa-san! :D

.77 : Gosh, thanks for the praise doain aja fic ini bisa rampung :D

Ayano Futabatei : aye aye, Ayano-san! Stella usahakan :D

Cherrysakusasu : aye aye, cap'n! :D semoga suka chapter 2 nya ya

Karasu Uchiha : lanjut Karasu-san )

SakuraChiha93 : ada romance nya kok, tapi Stella lebih fokusin ke inti cerita. hohoho soal pekerjaan aslinya Sasuke bakal di bahas di chapter ini. Semoga suka!

Okey, here we are. Please enjoy the story. Happy reading! :D

Sasuke menatap white-wine di hadapannya.

Dia mendengarkan alunan jam dinding ruang kerjanya dengan seksama, seolah jam dinding itu adalah bom waktu yang dapat meledak sewaktu waktu.

Sedari tadi ia biarkan iPhone 5 nya berdering melantunkan Gimme Shelter milik Rolling Stones yang sudah entah keberapa kalinya berbunyi. Merasa muak dengan panggilan itu, ia mengangkatnya.

"Ada apa Kakashi?"

"Datang sekarang juga ke kantorku"

"Kau memang tak punya hati. Empat jam yang lalu kau baru memanggilku"

Pria bernama Kakashi itu menutup pembicaraan. Yang mana membuat Sasuke segera mengambil jas dan kunci mobilnya.

Mau apa lagi Kakashi itu?

Is There Hope For Us?

Sakura POV

Dia tidak ada di rumah pagi ini. Lagi.

Aku lelah menemukan dia selalu menghilang sepanjang hari. Telepon dan pesan yang tak pernah di balas. Sesibuk apakah dia?

Ingat Sakura. Dia sudah memberimu nafkah dan memenuhi kebutuhanmu. Dan kau masih tak tahu diri menginginkan kehadirannya di sisimu?

Tapi tak bisa kupungkiri aku menginginkannya.

Kuputuskan untuk membantu Chiyo baa-san di dapur sebelum aku kembali menangisi diriku yang menyedihkan ini. Hmm… aroma masakan yang di olah Chiyo baa-san menggugah seleraku.

"Pagi, Chiyo baa-san" sapaku.

"Ah, selamat pagi Nyonya! Tuan Sasuke berpesan pada saya agar Nyonya menghabiskan sarapan Nyonya terlebih dahulu sebelum beraktivitas" ujar Chiyo baa-san sambil mengiris-iris bawang bombay. "Hari ini saya memasak Beef Blackpepper dan Grill Salmon. Semoga Nyonya suka"

Aku tersenyum. "Saya selalu suka semua masakan baa-san. Izinkan saya membantu baa-san ya?".

"Ah tidak usah Nyonya! Jangan repot-repot!" sergah Chiyo baa-san dengan sedikit ketakutan. Yah, Sasuke pernah memarahi Chiyo baa-san lantaran aku membantunya memasak di dapur. Saat itu kondisi ku sedang buruk karena demam dan aku memaksakan diri membantu Chiyo baa-san. Hasilnya? Sasuke menamparku dan tidak membiarkanku keluar rumah selama seminggu.

"Tak apa Chiyo baa-san. Jangan khawatirkan saya" kataku sambil ikut memotong-motong rempah-rempah. Nampaknya Chiyo baa-san kehabisan kata untuk melarangku, ia membiarkanku mengerjakan tugasku sembari mengajakku ngobrol.

Macam-macam yang ia ceritakan. Tapi yang membuatku lebih tertarik adalah kisah cucu nya yang sangat berbudi kepada Chiyo baa-san. Namanya Sasori. Menurut cerita Chiyo baa-san, kini ia bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit terkenal di kawasan Los Angeles. Wow, batinku. Dulu aku sempat bercita-cita menjadi dokter. Namun cita-cita itu terhempas sejak Sasuke melarangku bekerja setelah kuliah. Haaah…. Menyebalkan memang.

"Sasori adalah anak yang sangat penurut. Ia membiayai kuliahnya dengan usahanya sendiri. Anak itu memang hebat! Sepeninggal orang tuanya, saya sempat bingung harus bagaimana membiayai pendidikannya. Maka dari itu saya bekerja sebagai pembantu di keluarga Uchiha. Namun ternyata Sasori diam-diam bekerja paruh waktu di sebuah kafe dan sempat menjadi asisten di suatu koperasi. Saya benar-benar terharu dengan semua usahanya. Kini setelah sukses, ia melarang saya bekerja. Tapi saya merasa masih sanggup bekerja. Akhirnya Sasori mengalah dan hanya mengizinkan saya bekerja paruh waktu. Saya bangga sekali ketika ia berhasil di terima menjadi dokter spesialis di Los Angeles. Tepat pada saat itu Nyonya Mikoto, ibu Tuan Sasuke, menyuruh saya bekerja di rumah ini. Sasori juga suka membaca buku, sama seperti Nyonya Sakura. Saya selalu ingat pada Sasori ketika melihat Nyonya. Banyak kemiripannya lho! Maka dari itu saya sangat senang bekerja di sini" papar Chiyo baa-san. Raut wajahnya begitu bahagia ketika topik pembicaraan kami mengalir sekitar kisah Sasori.

"Apa Sasori pernah menjenguk baa-san?" tanyaku.

"Pernah. Terakhir ia berkunjung ke kediaman Uchiha tepat sebelum pernikahan Tuan dan Nyonya. Ia berjanji datang menjenguk saya, tapi entah kapan. Saya harap secepatnya" jawab Chiyo baa-san.

Aku tersenyum. Sambil membersihkan salmon, aku mengingat-ingat kembali ibu ku yang kini tinggal di Sapporo. Bagaimana kabarnya? Beliau pasti kesepian sendirian di rumah. Untung ada Ino-chan, teman masa kecilku, yang setia merawat ibu. Ino-chan sendiri tak punya orang tua. Dia di asuh oleh ibu sejak kecil, jadi tidak heran kalau aku menganggapnya seperti adikku sendiri. Ino-chan adalah gadis dengan kepribadian yang menyenangkan. Ia pribadi yang ekstrovert, lain denganku yang cenderung pendiam.

"Ngomong-ngomong, kapan Nyonya punya momongan?"

Pertanyaan itu hampir saja membuatku mengiris jariku sendiri. Selain karena kaget, aku juga merasa sedih karena aku dan Sasuke jarang tidur bersama. Apalagi membicarakan anak.

"Maaf Nyonya, saya lancang" lirih Chiyo baa-san. Tampaknya ia menyadari perubahan raut wajahku.

Aku menggeleng, "Tak apa, baa-san. Saya dan Sasuke masih belum ada rencana untuk itu". Aku tertawa dan bersenandung kecil, berusaha meyakinkan Chiyo baa-san bahwa aku baik-baik saja.

Dari kaca jendela dapur, kulihat Kiba sedang mengelap Toyota Prius warna silver milik Sasuke. Mobil itu jarang sekali di pakai oleh Sasuke, ia lebih suka menggunakan Chevrolet Camaro merahnya. Maka dari itu Sasuke memberikan Prius itu untukku, tentu aku tak boleh menyetir sendiri. Dan aku hanya boleh bepergian menggunakan mobil dengan Kiba.

"Yo, Nyonya Sakura! Hari ini mau pergi tidak?" sapa Kiba dengan semangat. Ia selalu bersemangat. Terkadang mengingatkanku kepada sahabat Sasuke yang bernama Naruto. Mereka memiliki sifat serupa.

"Mmmm.. nanti siang aku harus membeli beberapa kain perca" kataku.

"Saya siap mengantarkan kapan saja! Tinggal panggil saja!" seru Kiba.

"Kiba.. sopan sedikit terhadap Nyonya Sakura!" ucap Chiyo baa-san setengah berteriak. Suaranya yang renta membuatnya sedikit kesulitan untuk berteriak.

"Hehehe.. maaf baa-san!" cengir Kiba sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku terkikik melihat Kiba yang sangat ekspresif, lain dengan Sasuke yang mempunyai ekspresi yang konstan : datar.

Sasuke lagi. Ah.. kenapa hatiku selalu sakit hanya dengan mendengar namanya?

Normal POV

"Hasil kerjamu minggu lalu adalah pertama kalinya dalam sejarah tugasmu, berjalan dengan sangat buruk Sasuke"

Sasuke hanya menatap datar pria berambut perak yang melawan gravitasi di hadapannya.

"Kau bisa jelaskan mengapa kau bisa gagal dalam tugas ini?" tanya pria perak itu. Ia menyangga kepalanya dengan tangannya di meja.

Sasuke masih tidak memberikan respon.

"Aku tidak menyuruhmu kesini hanya untuk mendapatimu duduk terdiam di kantorku" lanjut si pria perak.

Sasuke mendengus, "Uchiha Corporation membuatku sibuk, mungkin itu alasannya"

BRAK!

"Aku tidak menerima alasan yang tidak logis!" bentak si perak.

"Aku mengatakan hal logis, Kakashi. Pekerjaanku bukan hanya pada organisasi ini" kata Sasuke.

"Lantas kau mengesampingkan kewajibanmu sebagai warga Negara ini? Ini Amerika, bukan Jepang Sasuke! Jangan seenaknya saja!"

Sasuke kembali diam.

"Subjek proyek cyrokofagus yang terbaik hanya dirimu, Sasuke. Kau istimewa. Hanya satu banding satu juta orang. Kesempurnaanmu seharusnya bisa membawa tugas ini dengan baik. Apa yang membuatmu ragu?"

Sasuke menyeringai tipis, "Kelak kalian sadar kalian bahwa kalian sedang menciptakan monster. Kuharap kalian tidak terlalu lama menyadarinya". Kemudian pria berambut emo dan pemilik kesempurnaan wajah itu melangkah menuju luar ruangan. Meninggalkan Kakashi yang sedang merutuki kesombongan Sasuke.

Sasuke kini berada di rooftop sebuah gedung. Gedung tempatnya menjalani 'pekerjaan' keduanya selain sebagai direktur Uchiha Corporation. Ia mengeluarkan pematik api berbentuk pistol kecil dan menyulut rokok di bibirnya.

Proyek Cyrokofagus. Tugas. Kesempurnaan. Organisasi. Kegagalan yang tidak terampuni. Semua itu sudah cukup membuat Sasuke merasa frustasi. Di samping ketidakpuasannya kepada ayahnya yang juga menuntut kesempurnaan Uchiha Corporation cabang Toronto yang ia pegang kini, ia juga merasa tertekan terhadap dirinya sendiri.

Hanya ada satu hal di benaknya, KENAPA HARUS AKU?

Ia mengutuk kakaknya, Itachi, yang telah memasukkannya kedalam organisasi rahasia milik CIA. Organisasi yang memiliki berbagai macam proyek percobaan demi membantu kemulusan kerja CIA. Dan Sasuke−sayangnya−adalah salah satu anggota organisasi itu sekaligus kelinci percobaan mereka.

CIA Science-Project Organization (CIA SPO). Dengan Uchiha Sasuke sebagai agen rahasia mereka di divisi Criminal and Terorism.

Hidupnya bertambah gila sejak orang tuanya, Fugaku dan Mikoto, menjodohkannya dengan putri sahabat mereka Haruno Rin. Sasuke benar-benar berusaha menolak hal itu. Ini akan memperburuk hidupku, batin Sasuke saat itu. Ia merasa tidak sanggup membina rumah tangga dengan pekerjaan ganda seperti ini. Di tambah lagi kondisi dirinya sebagai subjek proyek Cyrokofagus. Rasanya ia hanya ingin kematian segera menjemputnya.

Namun apa daya, Sasuke tak bisa melawan keinginan Fugaku yang begitu keras. Ia menyukai kesempurnaan, dan dia tidak ingin anak-anak serta keluarganya melenceng dari apa yang diharapkannya. Itachi adalah anak yang paling ia banggakan. Sasuke sudah cukup muak mengetahui dirinya selalu di bandingkan dengan Itachi yang lembut dan penuh kharisma.

Sasuke tidak pernah lagi keberatan akan hal itu, sebelum Itachi merekrutnya masuk ke CIA. Karena menurut Itachi, kecerdasan Sasuke jauh di atas rata-rata. Bahkan sebenarnya Sasuke jauh lebih cerdas dari Itachi. Dan itu pula yang membuat Sasuke jauh lebih berbahaya dari Itachi. Awalnya Sasuke tertarik, namun rasa itu ia buang selamanya begitu ia menyadari bahwa Itachi hanya menipunya. Dan mengubah Sasuke menjadi seperti sekarang.

Sudah ada dua belas punting rokok yang di habiskan Sasuke. Ia setengah berharap ia dapat menemui ajal dengan cepat melalui benda yang paling sering di konsumsi 85% orang di dunia ini. Padahal dia tahu dirinya tidak mungkin mati secepat itu.

Lantunan suara Mick Jagger 'Rolling Stones' yang menyanyikan Gimme Shelter kembali berbunyi di iPhone 5 nya.

Aburame Shino calling.

"Ya, Shino?". Sasuke mengangkat panggilan itu.

"Saya akan melaporkan keadaan Mrs. Sakura hari ini, Mr. Uchiha" jawab Shino.

"Hn". Kata itu selalu bermakna ambigu bagi siapapun yang mendengarkan. Uchiha bungsu ini nampaknya memiliki bahasa komunikasi tersendiri.

"Sakura-san sehat. Hari ini ia tidak mengunjungi seseorang atau bersama orang selain Kiba-san. Ia ke pusat pertokoan untuk membeli beberapa kain dan benang. Kemudian pulang ke rumah dan merajut kain-kain itu. Ia hanya menerima telepon dari Yamanaka Ino, temannya di Sapporo. Mereka membicarakan keadaan ibu Mrs. Sakura. Hanya itu saja laporan hari ini" ujar Shino.

"Hn. Kerja bagus". Sasuke langsung memutus sambungan. Ia teringat istrinya. Dia gadis yang baik, sungguh suatu nasib buruk di nikahkan denganku.

Tapi yang sudah jadi milikku tetap milikku sampai kapanpun.

"Uchiha. Kau disini rupanya". Seorang pria berambut nanas dan seorang wanita cantik dan anggun tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

"Hyuuga. Nara" ucap Sasuke pelan.

Nara Shikamaru dan Hyuuga Hinata. Rekan terdekat Sasuke karena sama-sama berasal dari Jepang. Satu lagi teman mereka Sabaku Gaara yang sedang menjalani misi di daerah Virginia. Beruntunglah mereka karena mereka bukanlah subjek proyek seperti Sasuke. Shikamaru adalah ilmuwan CIA Science-Project Organization, namun ia tidak menangani proyek Cyrokofagus. Hinata adalah sekretaris divisi yang sama dengan Sasuke. Sedangkan Gaara adalah 'assassin' divisi yang sama dengan Sasuke juga. Di sebut assassin karena ia adalah selain ahli senjata juga seorang intel. Agen hebat yang hampir setara dengan Sasuke yang juga berprofesi sama dengan Gaara, hanya saja Sasuke unggul dalam strategi dan timing. Assassin sendiri adalah semacam tugas divisi Criminal and Terorism yang bertugas untuk 'melenyapkan' penjahat-penjahat. Keberhasilan Sasuke dalam menjalankan misi hampir seratus persen, namun ia gagal dalam misi yang di berikan Kakashi kepadanya minggu lalu.

Misi gila yang hampir melenyapkannya begitu saja dari dunia ini.

"Uchiha, kudengar kau gagal dalam misimu" celetuk Shikamaru sambil melirik remeh pada Sasuke.

"Diam, Shikamaru. Andai saja kau tahu tugas macam apa yang Kakashi berikan padaku" rutuk Sasuke sambil menyulut rokoknya yang ke-13.

Shikamaru tertawa.

"Bah! Bahkan agen sehebat kau bisa gagal dalam misi!" ejeknya. Ia berbaring di tanah dengan tangan di silangkan di belakang kepalanya. Ilmuwan CIA SPO ini mempunyai hobi yang spektakuler bagi seorang ilmuwan : tidur. Ia memiliki kemampuan tidur di atas rata-rata, mungkin dalam waktu 30 detik dia sudah terlelap.

"Shikamaru, jangan membuat Sasuke down dong!" tegur Hinata. Putri sulung keluarga Hyuuga ini memiliki sifat paling lembut diantara rekan-rekannya.

"Yah sesekali agen hebat perlu kritikan, Hinata! Tak selamanya orang berada di atas angin!" celetuk Shikamaru.

Sasuke tidak menanggapi rekannya. Ia hanya menatap senja yang mulai datang. Cahaya kuning keemasaannya sama sekali tak menghalangi mata Sasuke untuk memandangnya. Cahaya ini kembali mengingatkannya pada malam pertamanya dengan Sakura.

(flashback)

"Kau apa aku dulu yang mandi?" tanya Sasuke dengan sedikit menyeringai. Membuat wanita pink di hadapannya merona malu.

"Ng.. aku dulu ya?" jawab Sakura sambil mengambil handuk dan segera pergi ke kamar mandi. Ia terlalu malu berada dalam satu ruangan dengan Sasuke yang menatapnya begitu intens.

Sasuke tak mencintai wanita itu. Setidaknya belum.

Namun ia tahu, ia harus bersikap sebagai suami yang baik. Ia belum sanggup menyentuh Sakura, Sakura pun belum tentu mau di sentuhnya. Ia terus memikirkan apa yang harus dia lakukan terhadap rumah tangganya ini. Ia tidak menginginkan ini, tak setitikpun ia memikirkan pernikahan ini. Sasuke tahu rumah tangga ini akan sangat menyakiti Sakura.

Tanpa sadar ia sudah cukup lama melamun hingga Sakura keluar dari kamar mandi. Wanita cantik itu hanya mengenakan handuk selutut. Sebagai lelaki normal, Sasuke tentu merasakan gairah yang membuncah di dadanya. Apalagi punggung mulus Sakura terekspos dengan jelas. Merasa sedang di perhatikan, Sakura menoleh.

"Ke-kenapa Sasuke?" tanyanya gugup. Mukanya kembali memerah.

Sasuke hanya tersenyum kecil. "Tak apa. Aku mandi dulu"

"I-iya". Sakura cepat-cepat mengenakan baju sebelum perasaan malu dan gugupnya membunuhnya perlahan.

Malam itu mereka lewati dengan diam. Baik Sasuke dan Sakura terlihat enggan membuat percakapan. Sakura adalah wanita pemalu yang tidak pandai membuat percakapan terlebih dahulu. Jelas ia tidak mungkin memulai pembicaraan.

Apalagi Sasuke. Pria dingin itu sangat irit bicara terhadap siapapun.

Sasuke tentu tahu Sakura kecewa malam itu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia mendengar isak tangis Sakura ketika mereka tidur. Dan ia berusaha mengacuhkannya.

Sasuke tahu, namun ia memilih untuk tidak peduli. Tidakkah ia terlalu kejam?

(flashback end)

"Sasuke! Woy, tukang ngelamun! Aku dapat uang bonus dari Asuma. Mau ikut aku ke bar?" tawar Shikamaru.

"Tidak. Aku pulang saja" jawab Sasuke. Ia memakai jasnya dan segera pergi ke parkiran basement.

"Sasuke aneh ya.." ucap Hinata sambil memandangi Sasuke yang kian menghilang dari sudut matanya.

"Dia memang selalu aneh" komentar Shikamaru.

Storm Bar, Los Angeles, pukul 21.30

"Give me more whisky, baby" ucap seorang pria berotot besar sambil memberikan pandangan merayu pada bartender perempuan di bar itu.

"Gotcha, sir. Here's your favourite" kata bartender perempuan itu sambil menyerahkan segelas whisky.

"I am Hidan, by the way" ucap lelaki bernama Hidan itu.

"Ah, you got a strange name, sir. Where do you come from?"

"Give me your name, and I'll tell you" rayu Hidan sambil mengedipkan sebelah matanya.

Bartender itu tersenyum. "My name is Natalie, just call me Nat"

"Okay, Nat. I am from Japan. Can I−"

Belum sempat Hidan meneruskan kata-katanya, seorang lelaki bermuka tengkorak datang menepuk bahunya.

"He just a freak, Nat. Ignore him. You'd better give your service for anyone else. I have a little chit-chat with Hidan". Lelaki itu nyengir.

Nat mengangguk. "I see. Just call me later, Christ!". Wanita itu segera pergi melayani pelanggan lain.

Hidan merengut sebal, "Christ? Nama macam apa itu, Kisame?"

"Hahaha orang Barat selalu kesusahan menyebut nama orang Asia. Kusarankan kau segera memilih nama samaran asing agar namamu lebih mudah di sebut. Tentu juga untuk menjaga identitas rahasia kita" jelas Kisame. Ia meneguk bir kalengannya.

"Terserah. Apa yang membuatmu tiba-tiba memanggilku kemari?"

"Perintah Bos. Kau ahli senjata yang ia butuhkan. Tahulah pemerintah itu mempunyai banyak sekali anjing yang mereka gunakan untuk melindungi diri mereka. Dan kami percaya padamu, kau bisa jadi pemasok senjata organisasi kami"

Hidan mendecih sebal, "Cih! Apa untungnya bagiku?"

"Apapun yang kau inginkan sobat. Apapun"

Melihat sinar mata yang di tunjukkan Hidan, Kisame merasa menang.

"Bawa aku kepada bos sialanmu" ucap Hidan dengan mantap.

To be continue