Tittle : Eternal Sunshine
Genre : Brothership, Friendship, Family
Rating : Fiction T
Cast : Kyuhyun dan kawan-kawan …. temukan saja ya
Disclaimer : Canon, Typos, Geje, If read don't bash, jangan meng-copi paste meskipun menyertakan nama.
Summary : Kyuhyun percaya matahari akan selalu bersinar kekal. Kyuhyun percaya akan cinta dan kasih sayang, meski di saat ia tak sedang diperlihatkan.
.
.
.
Chapter 2
.
.
Ini adalah hari Senin. Hari pertama di mana Kyuhyun dengan rasa terpaksa sedang menjalani perintah orang tuanya. Kini, dalam satu minggu ke depan ia akan hidup berdua hanya bersama dengan Siwon saja di rumah. Dan itu membuat hatinya pegal meranyah tak karuan. Karena alasan apa? Kyuhyun tidak menyukai masakan Siwon. Hal sepele, bukan?
Jam weker yang dipasang di atas meja nakas sebelah tempat tidur berhasil membuat Kyuhyun terbangun. Pukul 8 pagi? Ya, masih ada waktu sekitar 1 jam untuk tidak terlambat ke kampus. Ia bangkit dan mengusap wajahnya yang sedikit berminyak. Kyuhyun beranjak, memutuskan untuk segera bersiap tanpa ingin memikirkan lebih lanjut serangkaian hal yang akan ia lalui hari ini.
Kyuhyun menggeliatkan tubuh di depan jendela, memandang keluar, dan cuaca pagi ini nampak menyenangkan. Ia tersenyum senang, hari ini Kyuhyun akan berangkat dengan menaiki bus. Merasa terbebas dari kungkungan Siwon, lantaran si hyung mendadak ada meeting penting dan harus berangkat lebih awal. Itu membuatnya jauh lebih lega tanpa mendengar cuapan cerewet Siwon yang hampir setiap hari ia dapatkan.
"Ck… Siwon cerewet!", umpatnya jengkel. Setelah membaca pesan dari ponselnya.
Meskipun demikian, rupanya Kyuhyun tidak sebebas apa yang diharapkannya. Dalam pagi ini Siwon sudah bertingkah melebihi eomma mereka. Mengirimkan pesan pada Kyuhyun agar selalu berhati-hati, menjaga diri, dan hal semacam itu yang entah sudah ke berapa kalinya.
…
.
Kelas Kyuhyun berakhir lebih lambat dari biasanya. Di antara segala gerutuan, kekesalan dan umpatan yang tertelan sebatas di dalam hati karena pelajaran tambahan yang begitu mendadak. Kyuhyun memandang ayal kegiatan Profesor yang berdiri di depan kelas. Pikirannya sudah tak sesegar pagi tadi. Saat-saat seperti ini, delusi yang akan berperan dalam konsentrasinya. Hingga perlahan rasa kantuk merayap mulai menggodanya dari segala penjuru.
"Ssstt...! Kyu, jangan tidur!", bisik Changmin sibuk memperingatkan Kyuhyun.
"Changmin-ah, aku sudah tak kuat.", gumamnya pelan.
"Tahan sebentar lagi!", meski dengan berbisik, Changmin mendengus sebal karena Kyuhyun mengabaikannya."Yak! Bodoh, buka matamu!"
"Oh Tuhan, ini sungguh menyiksaku..", keluh Kyuhyun dan berusaha kembali menormalkan posisi duduknya.
Ketika akhirnya hari penuh siksaan itu berakhir, Kyuhyun dengan segera melesat keluar. Tidak, dia tidak sedang dikejar-kejar untuk sampai sesegera mungkin di rumah. Kyuhyun hanya ingin meninggalkan kampus secepatnya. Menghabiskan lebih dari sepertiga hari dengan duduk manis di dalam kelas ataupun menikmati lingkungan kampus sendirian, menurutnya terlalu berlebihan. Sendirian? Lalu di mana Changmin? Oh, rupanya namja tinggi itu sudah pulang lebih dulu. Changmin terburu-buru karena ada sanak saudara yang berkunjung ke rumahnya.
Kyuhyun berjalan santai menuju halte bus. Langkah kakinya begitu ringan. Entah mengapa rasa kantuk yang sempat menyergapnya, tiba-tiba hilang terserap udara hingga tak bersisa. Saat sampai di halte, Kyuhyun melihat Minho sedang duduk menunggu bus yang sama sambil membaca sebuah buku.
Tanpa sapaan, aba-aba, atau semacamnya, Kyuhyun langsung saja mendudukan diri di sebelah Minho."Apa kau tidak takut matamu makin seperti kodok?"
Minho sedikit tersentak, "Hyung, mengapa kau ada di sini?"
"Tentu saja menunggu bus!"
"Memangnya Siwon hyung ke mana?"
"Sudah, itu tidak penting! Kau harusnya senang, sesekali aku bisa naik bus seperti ini. Hidupku terbebas dari kekangan kuda jinak yang suka memaksakan kehendaknya itu.", ucap Kyuhyun dengan wajah yang dibuat seterluka mungkin.
"Mwo? Hahahaa…", Minho hanya tertawa mendengar penuturan sahabatnya.
"Kau pikir ini lucu? Jangan tertawa!",hardik Kyuhyun.
Dengan menahan tawa Minho menjawab, "Okay.. okay.. mianhae.." lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
Kyuhyun memang selalu suka mendramatisir semua hal, meskipun terkadang itu hanya kebohongan semata yang sengaja ia lakukan. Namun, mereka yang sudah mengenal baik namja berkulit pucat itu, tentu saja tidak akan mengiba melihat aksi eksesifnya.
Menunggu bus rupanya sedikit membosankan bagi Kyuhyun yang tidak terbiasa melakukannya. Apalagi sekarang, ia merasa hidupnya tercampakkan karena Minho duduk asik sambil membaca buku di sampingnya. Tidak, Kyuhyun tidak akan membiarkan dirinya diabaikan seperti ini.
"Minho-ya.. Tidak biasanya kau sendirian. Ke mana Jonghyun?"
"Dia pergi..", jawab Minho masih focus dengan buku yang dibacanya.
"Pergi?"
"Ya, bertemu Bella noona di Gallery mereka.", jawabnya malas.
Kyuhyun memperhatikan wajah Minho, "Kau tampak tak senang.", ucapnya menebak.
Minho menutup bukunya, "Bagaimana aku bisa senang? Jonghyun sudah berjanji mengajakku ikut pergi, tapi dia justru meninggalkanku dengan alasan tiba-tiba ada hal yang mendesak!", ia memandang Kyuhyun dengan wajah nahas.
"Mungkin Jonghyunie memang sedang terburu-buru."
"Itu benar, karena Bella noona sudah menghubunginya berkali-kali sejak pagi."
"Lalu masalahnya denganmu apa?"
"Tentu saja kesempatanku hilang lagi untuk bertemu Bella noona!", Minho menjerit kesal.
"Astaga..", Kyuhyun menepuk jidatnya. "Kau masih saja berusaha menjadi calon kakak ipar Jonghyun?", ucapnya dengan nada tidak percaya.
Pipi Minho bersemu merah, tanpa ragu ia menjawab, "Bella noona makin hari semakin cantik, hyung.."
"Aigoo…. aigoo…. aigoo…. Sepertinya kau sedang mabuk."
Minho menghirup udara yang tiba-tiba terasa segar dan menyejukkan. Mungkin bunga-bunga di hatinya sedang tumbuh bermekaran, sehingga apapun yang dikatakan Kyuhyun tertelan lenyap oleh perasaan gembiranya.
Namun beberapa saat setelahnya, semangat Minho mulai luntur kembali bersamaan dengan fokusnya yang kembali jatuh pada buku yang dipegangnya.
"Haahh.. sudah cukup! Gara-gara kau, hyung. Aku jadi lupa mengerjakan ini."
"Apa yang kau kerjakan?"
"Materi untuk jadwal kuliah besok."
Kyuhyun memutar bola matanya malas, "Astaga.. apa kau tidak bosan belajar, huh? Ini waktunya pulang, kita beristirahat."
"Aku tidak akan bisa tidur jika ada materi yang belum dimengerti.", Minho mengerutkan wajahnya tampak frustasi.
Kyuhyun lalu mencondongkan badannya lebih mendekat, ia melihat buku yang dibaca Minho, "Ommo.. mata kuliah itu rupanya. Kau ini rajin sekali, sih.", ucap Kyuhyun gemas.
"Memangnya ada apa dengan mata kuliah ini?"
"Tutor yang membimbingku dulu, paling menyebalkan!"
"Mwo?"
"Ah, bukan.", ralat Kyuhyun cepat. "Dulu aku juga susah mengerti dengan mata kuliah ini.", jawab Kyuhyun sekenanya.
"Tapi kau bisa lulus dengan mudah, hyung. Bahkan setiap hari kau bisa terlihat begitu santai."
Kyuhyun tertawa kering, "Sebenarnya orang tuaku berkali-kali mengigatkan agar aku rajin belajar. Menyebalkan sekali. Mereka pikir hidupku akan lebih bermanfaat kalau aku rajin belajar. Aku tidak tahu di mana hubungannya. Aku hanya tidak suka alasannya".
"Lalu apa alasan yang kau suka?" tanya Minho.
"Aku akan belajar kalau aku sudah mau belajar."
"Sekarang tidak mau?"
"Sekarang? Tidak mau.", jawab Kyuhyun menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Apa kau mau buang air kecil?"
"Tidak"
"Kenapa?"
"Aku sedang tidak ingin buang air kecil."
"Sama, aku pun sedang tidak ingin belajar."
"Tapi belajar tidak sama dengan buang air kecil, hyung.."
"Lalu sama dengan apa?"
Minho menarik napas panjang. Mengumpulkan energinya. Okay, memang kalau sudah beradu mulut dengan Cho Kyuhyun, meski hanya sebentar itu akan membuatnya merasa lelah. Karena Minho tahu, Kyuhyun sangat mahir dalam hal ini. Dan dia sadar, jika dirinya bukanlah tanding yang sepadan.
"Di mana Changmin hyung? Changmin hyung…! Changmin hyung…!", panggil Minho dengan teriakan penuh.
"Hei.. mengapa tiba-tiba memanggil Changmin?"
"Aku butuh bantuannya."
"Untuk apa? Soal mana yang tidak bisa kau kerjakan? Sini, biar aku saja yang membantu.", Kyuhyun sudah bergegas menggeser tubuhnya mendekati Minho lagi.
"ANDWAE!"
"Waeyo..?", , tanya Kyuhyun dengan mata berkedip-kedip begitu polos.
Terkadang disaat yang tidak tepat, Kyuhyun suka mempertontonkan sifat polosnya yang hampir mendekati absurd. Ia lebih sering melupakan statusnya sebagai sunbae dari Minho dan Jonghyun. Itu yang membuat mereka kadang menjadi gemas berhadapan dengannya.
"Aku butuh bantuan Changmin hyung untuk menghentikanmu. Hanya dia yang sanggup melawanmu beradu mulut seperti ini.",sungut Minho.
"Hah?", Kyuhyun sedikit terkejut mendengarnya, lalu ia terkikik geli. "Memangnya dia bersamamu? Bukankah Changmin sudah pulang sejak tadi?", Kyuhyun mulai celingukan mencari-cari keberadaan Changmin.
"Memang dia tidak di sini.", tukas Minho datar.
"Iishh.."
Hal seperti ini pun sudah biasa terjadi pada Kyuhyun, Changmin, Minho dan Jonghyun. Mungkin karena terlalu dekat hingga sikap-sikap yang baik sampai ke yang menyebalkan pada masing-masing, sudah mereka ketahui satu sama lain.
…
-:-
…
Sore yang sedikit mendung. Kibum baru saja kembali dari kampus untuk menyelesaikan segala hal yang tertunda sebelum kepindahannya ke Korea. Ia berjalan dalam diam, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku, melangkahkan kaki dengan cukup santai memasuki rumah.
Tampak Heechul tengah duduk di salah satu sofa dengan segelas lemon tea di tangan kirinya.
"Kibumie, bagaimana? Apa semua sudah beres?"
Kibum menggelengkan kepala, "Prof. Jason tidak datang hari ini, kemungkinan besok atau dua hari lagi aku baru bisa terima tanda tangannya.", jelasnya.
"Tidak apa-apa, kita masih punya banyak waktu.", ucap Heechul.
Dan tanpa berniat menambah pembicaraan lagi, Kibum langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesungguhnya ada sesuatu yang mengganjal pikiran Heechul. Ia rasa, semua sudah dipikirkan ulang sebelumnya. Dengan segenap keyakinan, Heechul beranjak menyusul Kibum ke lantai atas.
"Kibumie, boleh aku masuk?", tanya Heechul dari luar meski pintu kamar Kibum memang terbuka.
"Masuk saja.."
Heechul masuk dan duduk di ranjang Kibum. Sementara Kibum sedang sibuk melihat-lihat berkas, entah dokumen apa yang sedang dicarinya.
"Kenapa hyung, sepertinya ada hal penting?", ucap Kibum disela-sela kesibukannya.
"Kau sudah menemukannya?"
Kibum mendongak, alisnya tiba-tiba bertaut bingung, "Maksud hyung?"
"Sejak tadi aku melihatmu sibuk dengan berkas - berkas itu. Apa kau sudah menemukan dokumen apa yang sedang kau cari?"
"Oh, bukan sesuatu yang penting.", Kibum lalu meletakkan berkas itu di atas meja dan duduk di samping Heechul.
Beberapa menit berjalan, lagi-lagi keheningan menyelimuti keduanya. Jika boleh jujur ini adalah kondisi yang paling menyebalkan bagi Heechul. Padahal sudah sekian tahun hidup dalam satu atap dengan saudara yang sudah dianggapnya sebagai adik kandung, Heechul tetap saja merasa harus belajar lebih lagi bagaimana cara meruntuhkan dikala ia harus berhadapan dalam atmosfer seperti ini bersama Kibum.
Heechul menggelengkan kepalanya, tidak, dia datang ke kamar Kibum bukan untuk terpaku seperti ini. Heechul kemudian menghela nafas sekali. "Apa kau tidak berniat memberitahu mereka tentang kepulanganmu nanti?", akhirnya pertanyaan itu tersampaikan juga.
"Haruskah?", balas Kibum tanpa berpikir panjang lagi.
Heechul menoleh dan menatap lekat Kibum di sampingnya, "Menurutmu?"
"Ku rasa itu tidak perlu.", jawab Kibum singkat. Ia kembali berdiri berusaha menghindari tatapan Heechul.
…
-:-
…
Hari sudah semakin gelap ketika Kyuhyun sampai di rumahnya. Ia berdiri termangu menatap bangunan di depan matanya tampak sepi dan tak ada satupun lampu yang dinyalakan. Kyuhyun merasa bimbang untuk melangkahkan kakinya masuk. Beberapa kali ia menelan ludah mencoba menetralkan perasaan tak tenangnya. Kyuhyun tahu Siwon sang hyung belum pulang dan sayangnya ia lupa jika Ahjussi dan Ahjumma Lee sepasang suami istri yang sudah lama bekerja di rumah itu, sedang pulang ke kampung mereka di Gongju.
Bergegas Kyuhyun merogoh ponselnya dari saku celana dan menekan tombol speed dial.
"Kau masih di kantor, hyung?"
"Sedang dalam perjalanan pulang. Kenapa Kyu?"
"Apa masih lama?"
"Mungkin sekitar tiga puluh menit lagi. Aku harus ke Kedai Jajangmyeon dulu membelikan pesananmu. Ada apa? Kau sudah di rumah?"
"Tidak usah mampir ke manapun. Kau harus segera sampai di rumah. Tidak apa-apa, untuk malam ini aku mau makan masakanmu. Cepatlah pulang!", dan dengan tidak sopannya Kyuhyun menutup secara sepihak perbincangan mereka.
~Astaga.. kapan anak ini akan merubah sikapnya? Main seenaknya saja. Ckckck….~ gumam Siwon menatap ponselnya sambil menggelengkan kepala.
…
…
Kyuhyun duduk di salah satu sofa ruang tamu dengan mata terpejam sambil memeluk lututnya dengan dagu yang bertumpu. Earphone terpasang di kedua telinga dan tidak lupa tv yang menyala dengan volume di atas rata-rata.
"Apa yang kau lakukan, Kyuhyunie?", tiba-tiba Siwon datang lalu mematikan TV itu.
"Hyung, kau mengagetkanku saja.", Kyuhyun tersentak lalu melepas earphonenya.
"Sebenarnya mana yang kau dengarkan, oeh? Musik di iPodmu atau acara di TV?"
"Aku hanya ingin suasana jadi lebih ramai saja."
"Ck.. kau ini.", Siwon berdecak sembari meletakkan jas dan tas kerjanya di atas sofa."Tapi tidak harus dengan volume sebesar itu Kyu, kau bisa mengganggu para tetangga.", tukas Siwon. Ia lalu beranjak.
"Mau ke mana?"
"Membuat kopi."
Dengan gerakan cepat Kyuhyun menarik tangan Siwon sehingga tubuhnya duduk bersebelahan dengan Kyuhyun. "Apa yang kau lakukan?"
"Duduklah sebentar saja di dekatku, hyung.", ucap Kyuhyun tidak banyak bergerak, pandangan matanya terfokus pada lantai dingin di depannya saat ini. Namun iPod itu masih tergenggem erat di kedua tangan Kyuhyun yang bergetar hebat.
Siwon menyadari ada yang salah dengan Kyuhyun, dengan segera ia menyingkirkan iPod itu dari tangan sang dongsaeng lalu memeluknya. "Tenangkan dirimu. Semua baik-baik saja."
"Aku tidak apa-apa..", jawab Kyuhyun dengan suara bergetar, namun tetap memeluk erat sang hyung. Ia bahkan membenamkan wajahnya di bahu Siwon.
"Apa kau begitu lama menungguku pulang, hm?"
"Tidak.. aku hanya tidak terbiasa dengan suasana rumah seperti ini. Gelap... Sepi...", ujarnya dengan nada yang tersendat.
"Aku mengerti.", Siwon melepas pelukannya. "Sebaiknya kau minum dulu.", Siwon berlari ke arah meja makan mengambil segelas air minum, lalu dengan segera kembali dan memberikannya pada Kyuhyun.
Sekian menit Siwon tak berhenti mengamati dongsaengnya. Kyuhyun masih terlihat sedikit gelisah. Akhirnya Siwon kembali memeluknya beberapa saat, lalu menggenggam tangan Kyuhyun yang terasa begitu dingin. Mencoba memberi ketenangan.
"Bagaimana perasaanmu? Sudah merasa lebih baik?", tanyanya khawatir.
"…", Kyuhyun menjawab dengan anggukan dan tersenyum agak sedikit kaku.
"Baiklah, kalau begitu, tidak apa-apa kan jika aku tinggal sebentar?"
Kyuhyun tahu Siwon tidak akan membatalkan niat awalnya untuk pergi ke dapur. Kegiatan yang tidak bisa ia lewati setiap pulang kerja.
"Sebaiknya kurangi kebiasaan minum kopimu itu, hyung.", titah Kyuhyun setelah dirinya mulai didominasi oleh rasa tenang.
"Aku hanya minum tiga cangkir perhari, sumpah." Bahkan Siwon tidak tahu mengapa ia harus bersumpah segala. Untungnya, Kyuhyun tak begitu peduli. Dia hanya berkata 'terserahlah'.
Semua tampak biasa saja. Mereka berbincang seolah tidak pernah terjadi apapun detik sebelumnya. Mungkinkah ini hal yang biasa? Entahlah.
"Kau ingin dibuatkan teh?", tawar Siwon ketika ia sedang meracik kopinya.
"Tidak."
"Atau kau ingin dimasakkan apa untuk makan malam kita?"
"Nanti saja.."
Kyuhyun benar-benar merasa tenaganya terkuras habis. Ketegangannya memang telah berakhir, ia menyandarkan kepala di sandaran sofa dan merasakan bahwa perutnya berbunyi minta diisi. Namun Kyuhyun terlanjur lelah dan mengantuk, maka yang terjadi adalah ia berbaring tengkurap dan menendang semua bantal ke bawah agar mendapatkan tempat yang lebih lapang di sofa.
"Biarlah nanti Siwon hyung yang membereskannya," gumamnya.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Aku update chapter 2 agak cepet kan… tapi gak janji untuk chapter 3 ya.. hehehe..
Untuk yang membaca dan mereview di chapter 1, gomawo, terimakasih, thankyou so much.. semoga chapter 2 tidak mengecewakan.
Aku tidak bisa membalas satu2.. tapi untuk… :
readlight, Desviana407, adlia, ekha sparkyu, Awaelfkyu13, melani s khadijah, YJSexolf, sofyanayunita1, widiantini9, MissBabyKyu, diahretno, Sparkyubum, mifta cinya, phn19, hyunnie02, kyuli 99, Emon204, ainkyu, kyunoi, Apriliaa765, lydiasimatupang2301, yulianasuka, angel sparkyu, Deari, angella, Choding, Erka, Nisa, Dwikurnia, dd, nanakyu, gnagyu, maya kyu, Dangkuk, Bbkyu, Songkuria, Chika, Lily, jiahkim, Wonhaesung Love, Aikyu, dewidossantosleite, martincho27, pcyckh, Shin Ririn1013, dewiangel, namielf, Fitri MY, yunacho90, Atik1125
Terimakasih semuanya, karena sudah menyempatkan diri meninggalkan komen yang sangat berarti buat author di ff ini.
Dan untuk yang sudah nge-add di FB, terimakasih dan salam kenal… ^^
Author : Belle
