Ichie Kurosaki
Proudly Presents
The Beauty of Silver Eyes
Rate: T+
Genre: Romance-Drama
Character Pairing: Draco Malfoy-Harry Potter
Disclaimer : J. K. Rowling
Warning : Typo, BxB, Yaoi, Fluff, AU, No War, Bash Chara! OOC! OC!
Summary : Sudah cukup lama Harry mengenal Draco Malfoy. Pemuda culun di Hogwarts, karena meskipun dia anak kaya, dia itu kutu buku dan jelas-jelas pemuda yang lebih tua sebulan itu anti-sosial. Nah, mana mungkin dia, Harry Potter, anak populer sehogwarts, jatuh cinta pada pemuda itu?
Malfoy Manor
Manchester, England
Saat Mother menyambutnya di ruang keluarga, Draco tidak ragu untuk memeluk wanita itu. Pelukannya begitu erat saat bukannya sakit di dadanya menghilang, malah makin menjadi-jadi. Dadanya sesak. Apa lagi melihat senyum Harry yang seolah mempermainkan perasaannya. Dia bukannya bodoh untuk tahu jika Harry memang hanya bersenang-senang.
Dia menganggap Draco sama seperti cowok yang pernah dikencaninya. Seolah dia piala bergilir. Dan Draco membenci kenyataan itu. Dia juga membenci dirinya sendiri yang bisa-bisanya jatuh cinta pada Harry. Memendam perasaan hampir dua tahun ternyata hanya memupuk rasa itu untuk makin membesar dan tidak menghilangkannya.
Air matanya mengalir dan dia langsung berlari ke kamar. Dia tidak mau Mother tahu jika dia menangis. Father bisa marah dan menganggapnya anak lemah. Dia melepas kemejanya dan masuk ke kamar mandi untuk menyiram diri di bawah pancuran air dingin. Dia bersandar pada dinding dan membiarkan dingin mengguyurnya. Dan dia menangis.
Menangis tanpa suara. Dan menelan jeritannya sendiri.
Dia tidak kuat menahan luka patah hati ini. Dan membayangkan beratnya hari esok untuk berhadapan dengan Daniel. Tapi dia menyayangi Mother dan tidak mau membuatnya cemas. Ini pertama kalinya dia merasakan beban seberat ini. Dia jadi berpikir lebih baik dia tidak pernah mengenal Harry lebih dari yang seharusnya.
Dia sudah tamak karena berani berharap bisa berhubungan lebih jauh dengan pemuda itu. Ini bayaran atas kebahagiaan kemarin. Dia membuka matanya saat mendengar Mother mengetuk pintu kamarnya dan menyuruhnya keluar untuk makan malam.
Huh, bodohnya dia. Buat apa dia bertindak cengeng dan melodrama seperti ini. Dia tidak menyadari jika dia selemah ini. Dia segera menyelesaikan urusan kamar mandinya dan berbenah diri untuk makan malam dengan Mother. Selesai melihat di cermin jika dia sudah lebih baik, dia keluar kamarnya dan turun tangga untuk ke ruang makan. Sayup-sayup dia mendengar Mother sedang berbicara dengan orang yang dia kira Father.
"Aku sedih melihatnya hancur perlahan seperti itu. Tidakkah kau mencemaskannya? Lebih baik jika dia pindah ke luar negeri." Suara Mother terdengar seperti tercekik dan membuat Draco urung menuruni kakinya ke anak tangga lebih jauh. Dia bahkan mundur.
"Ke mana?" Draco kenal suara berat Father.
"Entah ke mana! Mungkin Amerika, atau benua lain! Asia, Jepang bagus." Sahut Mother cepat.
"Dan membuatnya mendapat hal serupa. Atau bisa jadi dia mendapat hal lebih buruk. Aku tidak pernah mengajarinya lari dari kenyataan, Cissy. Dia harus menghadapi masalahnya dan menyelesaikannya. Dia yang memilih jalan hidupnya. Bukankah kita sudah membantunya sebisa kita dengan mengabulkan keinginannya. Jika dia memang ingin lari dan pindah ke luar negeri, aku akan kabulkan."
"Maka lakukan! Pindahkan dia! Tidak ke luar negeri boleh. Ke kota lain saja!"
"Tapi dia tidak memintanya. Apa kau tidak sadar? Dia anak yang kuat. Aku bangga padanya. Bukannya aku tidak peduli akan lingkungan sosialnya. Apakah kau tidak tahu jika dia menjadi pemuda yang baik? Dia tidak menjadi pemuda yang manja atau brengsek. Syukuri dan bahagialah Cissy. Maka Draco juga akan bahagia."
Draco terdiam. Entah kenapa, tubuhnya terasa ringan dan dia tersenyum. Ya, Draco yang memilih jalan ini. Dia kemudian kembali menuruni tangga dan langkahnya tidak lagi berat. Dia lihat Father yang memandang Mother dengan lembut dan begitu melihatnya, tatapannya kembali serius. Huh!
Dia acuhkan saja dan duduk di meja makan di ikuti keduanya. Maid segera beranjak pergi dan sudah tertata banyak makanan di meja. Draco bertekad dia akan menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan tidak akan membuat Mother khawatir lagi. Dia hanya patah hati. Tidak lebih, iya 'kan?
Dan dadanya mencelos…
Vvvv
Ketika dia bangun, kepalanya begitu pusing. Dia baru bisa tidur sejam yang lalu dan sekarang dia harus bangun. Dia duduk dan menatap langsung pada cermin sambil mencengkram kepalanya yang berdenyut. Dia mencoba ingat jadwalnya hari ini. Sial, ada ujian di kelas Biologi. Bersama Harry Potter.
Mengingat Harry membuat dadanya ngilu dan dia melupakan sakit kepalanya. Pemuda yang menjadi alasan dia tidak bisa tidur malam tadi. Dia lihat wajahnya yang makin pucat dan ada kantung mata. Hell! Dia paksakan dirinya dan bersiap-siap diri. Setelah dia rapi dengan jaket kaos dan celana Eiger sebetis, dia turun untuk sarapan.
Ibunya memandangnya aneh. "Kau sehat, son? Sebaiknya kau tidur di rumah. Akan Mother telepon sekolah untuk minta izin. Kau terlihat mengerikan."
"Aku ada ujian pagi ini, setelah itu baru aku minta izin. God, aku belum belajar!" Dia ambil roti daging dan meminum susunya.
"Jangan paksakan dirimu, son. Tidak apa kalau kau ikut remidi. Father pasti mengerti. Lagi pula dia tidak akan menanyakan rincian nilaimu." Mother menyodorkan obat yang dia pinta dari maid yang disuruhnya.
Draco meminum obat itu. Dia mengenakan kacamatanya dan mengabaikan Mother yang berjengit melihatnya. Dia berlalu begitu saja setelah mengambil kunci mobilnya di nakas dan mengabaikan ocehan Mother soal softlens mahal serta keselamatan mengemudi. Dia bahkan berlari kecil menghindari ibu tersayangnya itu. Dia malas diantar supir dan sedang ingin mengemudi sendiri.
Sesampainya di sekolah dengan selamat, sarapan membuat sakit kepalanya berkurang. Mungkin karena obat Mother tadi. Dia melangkah cepat menuju kelas Biologi dan memiliki waktu sejam untuk belajar seadanya. Dia dengar ada langkah kaki yang mengikutinya dan saat dia menoleh, dia membelalakan matanya dan dadanya kembali berdenyut. Dia kembali memandang ke depan dan mempercepat langkahnya.
Itu Harry, ya, Harry Potter yang itu.
Sepertinya, pemuda manis itu tidak menyadari Draco dan sibuk dengan bukunya. Saat sampai di kelas, Draco menemukan hampir separuh bangku sudah diisi. Dia duduk di depan agar fokus. Dan dia mencium aroma mawar saat sadar siapa yang duduk di sebelahnya. Dalam hati dia meratap. Namun pemuda yang diratapi sepertinya tidak sadar dan masih sibuk dengan buku.
Kenapa Harry Potter duduk di depan!? Biasanya juga pemuda itu di belakang. Namun setelah terhenyak beberapa detik, Draco sadar dan segera mengeluarkan bukunya panik. Materi ujian ini banyak dan sial buat apa dia kurang tidur jika waktu semalaman dia tidak belajar! Kemana otakmu Malfoy!?
Dia kembali merasakan denyut di kepalanya dan apa yang dia baca di satu bab tidak masuk ke ingatannya. Dia melihat ada yang menggeser sebuah makalah tipis ke mejanya. Dan hanya ada satu orang yang tepat di sampingnya karena sisi lainnya itu tembok. Sebuah senyum lembut menyapanya saat dia menoleh. Deg deg!
"Kurasa kau membutuhkannya. Baca dan pahami makalah itu. Akan sangat membantumu meringkas materi ujian." Lalu wajahnya kembali serius saat membaca bukunya. "Lakukan, Malfoy. Waktumu kurang dari satu jam." Tegur Harry lagi tanpa menoleh saat Draco dengan bodohnya malah melamun kosong.
Dengan gugup Draco membuka dan membaca makalah itu. Ada sedikit keraguan namun dia percaya saat isi makalah itu mirip dengan materi di buku dan lebih ringkas. Dia terlalu fokus memahami isi makalah itu hingga tidak sadar jika Mrs. Sprout sudah masuk ke kelas.
"Tutup buku kalian!" ujarnya. Draco tersentak dan buru-buru memasukan buku dan makalah yang dipegangnya ke dalam tas. Dia keluarkan pena hitamnya dan duduk dengan tegang. Dia merasa pikirannya kosong dan tidak bisa ingat apa pun meski telah membaca isi makalah itu lebih dari tiga kali.
Dia akhirnya berusaha tenang dan pasrah saat lembar ujian dibagikan dan mencoba mengacuhkan bisik-bisik di belakangnya yang minta contekan.
Vvvv
Setelah ujian selesai, Draco melihat jika Harry berlalu keluar kelas begitu saja. Membuat Draco tidak memiliki kesempatan untuk mengembalikan makalah pemuda itu. Harus Draco akui dia selamat di ujian ini berkat makalah Harry. Isinya ketikan tentu saja, namun ringkasan itu tidak bisa dibilang contekan. Mengingat senyum seringai Harry kemarin membuat Draco goyah kembali.
Apa maksud Harry membuatnya terombang-ambing seperti ini?
Mungkin Harry tidak sadar, tentu saja. Dia tidak pernah peduli soal hati seperti ini 'kan? Setelah kelas sepi dan Draco merasa jika kepalanya mau meledak, dia bangkit berdiri. Selanjutnya menyesal karena dia jadi limbung. Memutuskan jika dia sebaiknya pulang, Draco berpikir jika harus berusaha bertahan hingga ruang piket.
Dia berjalan ke pintu kelas dan hampir saja jatuh jika lengannya tidak ditahan. Sepasang mata berwarna hijau yang memandangnya membuatnya menegakkan diri. Ah, kebetulan, pikirnya dan membuka tasnya untuk mengeluarkan makalah milik pemuda di hadapannya.
"Milik mu" dia sodorkan makalah itu. "Trims, kau menyelamatkanku."
"Yeah, kau juga," gumaman Harry masih bisa dia dengar. Karena itu dia mengernyit. "Kau terlihat tidak sehat. Mau aku antar ke ruang kesehatan atau pulang?" tawarnya.
Draco ingin sekali menolak. Sumpah. Karena dia tidak mau ambil resiko. "Aku berencana pulang setelah ke ruang piket. Jadi, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Merasakan jika kepalanya berputar, Draco mencoba mendorong Harry menjauh. Namun tangannya hanya mampu menimbulkan sentuhan di bahu anak populer itu.
Memutar bola matanya, Harry menarik Draco duduk di bangku terdekat. "Duduk saja, aku akan membuat izin untukmu. Aku tidak ada kelas lagi. Kau demam parah." Kemudian pemuda itu pergi.
Merasa dia tidak bisa apa-apa, Draco putuskan untuk menjatuhkan kepalanya ke meja. Dalam hati dia menyesal melakukan tindakan melodrama seperti menangis di kamar mandi. Terdengar seperti gadis remaja patah hati. Well, Draco memang remaja yang patah hati. Tapi dia bukan anak gadis!
Berpikir jika dia melantur karena pikirannya kemana-mana maka dia mengeluarkan kunci mobilnya. Apa dia sanggup menyetir? Bukannya dia gengsi atau apa, dia hanya tidak mau merepotkan Harry. Apa lagi tindakan dia kemarin yang meninggalkan pemuda itu begitu saja. Tapi dia kan punya alasan.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dan dugaannya jika itu Harry tepat. Dia mau mengatakan protes karena Harry mengambil kunci mobilnya namun urung saat pemuda itu melotot. Maka dia bangkit berdiri dan pasrah saja diseret ke parkiran.
Selama di mobil, Draco berusaha tidur dan mencoba mengacuhkan jika seorang Harry Potter menyetir untuknya. Itu tidak pernah dia bayangkan. Dia ingin menjerit pada satu sekolah untuk menyebarkan berita itu. Entah mereka akan percaya atau tidak. Melonjak senangnya dada Draco dibarengi dengan sesak di hatinya mengingat ini tidak berarti apa pun. Ironi.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Harry pelan. Namun Draco berusaha mengacuhkannya dan diam saja. Dia merasa mual dan merasa hari ini begitu hancur berantakan karena dia sakit. Tidak lama hingga mobil berhenti dan Draco masih ingin memejamkan matanya. Entah kenapa dia tidak mau ini berakhir.
Dia merasakan tangan lembut Harry mengusap pipinya. Hingga dia ingin menjerit dan membuka mata saat merasakan benda hangat dan lembab menyentuh bibirnya. Dia tidak bodoh untuk tahu jika Harry sekali lagi menciumnya.
"Aku mencintaimu," bisiknya dan menjauh dari Draco. Degup jantung Draco begitu kencang hingga dia takut itu menyakitinya. Apa-apaan! Namun dia tidak tahan untuk tidak membuka matanya dan terkejut. Dia menoleh pada Harry dan menemukan mereka di depan manor namun tidak masuk. Harry parkir di pinggir jalan. "Aku tidak memiliki niat mempermainkanmu atau menambah daftar pria yang pernah kukencani." Pemuda manis itu tidak memandangnya dan hanya menatap lurus ke depan seolah sedang fokus menyetir. Ekspresinya juga begitu serius sehingga Draco tidak berani menyela. Dia tidak yakin apa Harry sadar dia sudah membuka matanya.
"Ada beberapa hal di dunia ini yang harus kau pikir dengan terbuka. Aku mungkin terbiasa dengan kepercayaan diriku dan merasa bisa mendapatkan semuanya. Aku akui aku egois. Betapa aku sangat seenaknya. Aku hidup dengan mencela sikap kakak dan ayahku namun ternyata aku sama saja seperti mereka." Pegangan Harry pada kemudi mengeras. "Kau benar, bagaimana mungkin aku yang dulu tidak pernah mempedulikan kehadiranmu kini dengan seenaknya berusaha mendekatimu.
"Tapi aku janji aku akan berubah demi dirimu. Aku tidak akan egois. Aku hanya begitu menginginkanmu. Mungkin kau butuh waktu untuk yakin. Namun aku tidak pernah sebegitu inginnya memiliki seseorang. Ini bukan perasaan sepintas yang akan hilang, aku yakin. Kenapa aku tidak mengejarmu kemarin? Aku begitu senang tahu kau mencintaiku. Tapi aku juga ragu pada perasaanku sendiri."
"Dan sekarang… melihatmu menderita entah kenapa aku juga ikut merasakannya. Baru pertama kali aku peduli pada orang lain. Aku merasa hidup dan menjadi diriku sendiri di depanmu. Dan tidak mungkin aku mau kehilanganmu. Tidak untuk seterusnya! Kau tidak tahu betapa aku begitu ingin jadi kekasihmu." Harry memukul kemudi dan menoleh pada Draco yang masih membeku. "Tidakkah itu cukup jelas?" tanyanya.
Sekarang Draco yakin jika Harry memang sudah tahu dia bangun. Wajahnya begitu menyiratkan kecemasan. Seolah dia takut akan sesuatu yang Draco tidak pahami. Menyadari wajah bingungnya, Harry menghela napas kasar dan frustasi.
Draco tidak mengerti kenapa Harry mengungkapkan hal itu. Dia bukannya tidak paham, tapi dia ragu. Dia takut sewaktu-waktu Harry akan meninggalkannya. Karena ini terlalu cepat untuk Draco. Begitu cepatnya Harry berubah hingga dia takut itu akan terulang ke arah yang begitu buruk.
"Apa kau mau memberiku kesempatan?" tanya Harry padanya dan tangan lentik pemuda itu terulur ke wajah pucatnya dan mengusapnya lembut. "Kau harus tahu ini pertama kalinya aku menembak duluan." Bisikan pemuda cantik itu membuat ketegangan Draco menyurut.
Senyuman geli muncul di wajah Draco membuat Harry tersenyum cantik. "Apa aku pantas?" tanya Draco dengan pedih.
"Tentu saja!" jawab Harry cepat. "Kalau kau tidak yakin, kau kuberitahu. Kau itu yang pertama dalam segala hal di hidupku. Yang pertama boleh masuk kamarku, tapi kau sudah tahu itu-"
"Jadi itu sungguhan?" potong Draco menyembunyikan rasa tidak percayanya. Dan melihat sekali lagi Harry memutar bola matanya kesal.
"Tentu saja. Buat apa Mom rela bawa nampan ke kamarku saking penasarannya?" sahut Harry seolah sarkastik. "Yang pertama dengar pernyataan cintaku yang memalukan. Kuharap kau tutup mulut soal hari ini. Yang pertama aku setirkan, berbanggalah kecuali saat aku belajar menyetir dan membuat SIM. Yang pertama aku cium. Yang pertama mendengar aku mengoceh panjang. Entahlah, kau yang pertama soal segalanya dalam hidupku."
Draco masih diam saja mendengarkan Harry. Dia merasa lucu bisa melihat sikap Harry Potter yang tidak dikenalnya di sekolah. Dan sifat egoisnya muncul. Dia tidak mau orang lain tahu soal ini. Tidak ingin Harry jadi milik orang lain. Dia ingin seperti ini terus. Harry hanya untuknya.
"Tapi aku mengerti jika kau belum bisa menerima semua ini." Senyum Harry membuat Draco menelan ludah. "Maaf jika aku sudah seenaknya padamu. Aku tidak bisa menahannya. Kalau kau butuh waktu aku akan memberikannya. Jangan lama, ya." Harry kembali menyalakan mobilnya dan membawa mobil itu masuk ke parkiran. Lalu keduanya turun dari mobil. Harry melempar kunci mobilnya.
"Kau mau-"
"Nah, sebaiknya aku pulang. Kau butuh banyak istirahat. Jangan pikirkan kata-kataku. Kepalamu nanti pecah. Selamat tidur!" Harry mengecup bibir Draco. "Manisnya!" lalu pemuda itu keluar gerbangnya dengan langkah cepat. Setelah Harry hilang dari pandangannya, dia jatuh bersandar di mobilnya. Rona merah tidak bisa dia sembunyikan dari pipinya.
"Kemana harga dirimu sebagai seorang Malfoy jika posisimu di bawah, Draco?" tanya Lucius membuat Draco berjengit. Pria itu sudah duduk di teras dan membaca korannya. "Sangat memalukan." Ejekan itu membuat Draco mengingat sakit kepalanya.
Dengusan keluar dari hidungnya dan dia memilih masuk ke dalam Manor. Dia benar-benar butuh istirahat.
Pagi ini keadaan Draco membaik. Kepalanya tidak berdenyut atau sakit apa pun. Apa pun, termasuk luka hatinya. Dia kadang ingin tersenyum-senyum atau tertawa gembira mengingat pernyataan Harry kemarin soal menyukainya. Perasaannya terbalas setelah hampir dua tahun. Dan Draco tahu dia bodoh karena membiarkan Harry menggantung.
Karena ada di hati kecilnya rasa takut. Bagaimana jika semua hanya mimpi?
Hari ini dia memilih bolos. Karena merasa tubuhnya masih lemas setelah demam semalam. Father masih saja menggodanya saat sarapan dan akhirnya Mother tahu. Kini seringai Mother tidak hilang padanya. Dia lebih memilih bermain Playstation di kamarnya hingga siang hari. Tepat setengah jam sebelum makan siang ada tamu yang datang.
Dia tidak menutup pintu kamarnya setelah sarapan. Lagi pula kamarnya di lantai dua, lantai khusus miliknya dan tidak ada satu pun maid yang kurang kerjaan hilir mudik di sana. Jadi dia cuek saja. Tapi dia menyesal akan kebiasaannya itu sekarang. Karena saat tamu itu berdiri di pintunya, dia bisa melihat Draco secara langsung.
Draco belum mandi. Meski Father sudah menyinggungnya tadi pagi dia tidak peduli. Kini dia sangat menyesal. Dia masih pakai kaos lengan panjang yang memperlihatkan bahunya dan celana training panjang. Apa lagi rambut pirangnya yang acak-acakan meski biasanya dia butuh setengah jam demi memastikan kerapihan rambutnya setiap harinya.
Harry terlihat sempurna hari itu. Dia mengenakan celana jeans di bawah lutut dan kaos setengah lengan dengan hoodie. Dia berdiri di pintu kamar Draco selama beberapa saat sebelum melangkah masuk dan melihat sekeliling. "Kupikir kau sakit dan tidak bisa bangun dari kasur."
Game Over!
Draco mendesis kesal saat melihat tulisan 'Lozer' di LCD. "Tidak, kau lihat aku sudah lebih baik dan bisa berpikir jernih." Kemudian Draco berbaring di permadani dan membiarkan Harry duduk di sebelahnya. Dia memejamkan matanya membiarkan Harry menyentuh keningnya untuk menyibak poninya.
"Apa aku mengganggu hari bolosmu?" tanya Harry dan saat dia menjauhkan tangannya, Draco menahannya.
"Tidak. Ada yang ingin kutanya." Mendengar sahutan "hm" dari Harry Draco melanjutkan. "Kenapa Daniel belum mendatangiku setelah aku tendang tulang keringnya dan dicium adik kesayangannya?"
Terdengar suara tawa keras dari Harry dan Draco membuka matanya. Dia menatap Harry seolah memprotes 'apa yang lucu?' Setelah Harry meredakan tawanya, pemuda itu menjawab masih dengan cengiran geli.
"Baik-baik! Maaf!" mulai Harry. "Daniel bilang setelah dia meninju perutmu, dia mengatakan 'Ini bayaran restu dariku untukmu mendekatinya 'kan?' lalu kau menendang tulang keringnya." Setengah heran Draco mengangguk saat Harry malah makin kelihatan geli. "Daniel itu sebenarnya ingin membicarakan soal rencana pendekatanmu denganku. Dia ingin membantumu menjadi pacarku. Karena selama ini aku hanya kencan tapi tidak pernah pacaran. Daniel tahu aku ingin mempunyai kekasih tapi semua temannya tidak ada yang cocok denganku."
Dalam hati, Draco menyesal menendang kaki Daniel saat itu. Andai dia mengundur niatnya setelah Daniel membicarakan maksudnya.
"Well, Daniel sempat kesal. Tapi dia senang karena tahu kau orang paling berani yang dia kenal. Dia percaya kalau kau yang jadi kekasihku, aku pasti baik-baik saja. Dan setelah dia tidak menemukanmu lagi, dia bilang aku yang harus maju sendiri untuk mendapatkanmu." Senyum Harry membuat Draco merasa tenggelam di permadaninya.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Draco dan memandang Harry lembut. Dia bangkit duduk dan mencium bibir Harry. "Inikah?" dia lepas dan tersenyum. Dia peluk Harry dan menyusupkan kepalanya ke leher Harry untuk menghirup aroma bunga Lily. "Atau mengatakan, aku mencintaimu. Sangat."
Harry membalas pelukan Draco begitu erat. "Ya, semuanya benar." Dia usap rambut Draco dan kembali berciuman. Menyesap rasa bibir masing-masing. Dia bahkan memasukan lidahnya saat bibir Harry membuka. Dia melepas ciumannya saat Harry menepuk dadanya karena membutuhkan oksigen. Namun Draco, seperti remaja normal lainnya tentu saja tidak bisa menolak apa yang disajikan di hadapannya.
Kecupan-kecupan Draco berikan di wajah Harry dan tangannya tidak tinggal diam menggerayangi tubuh ramping dipelukannya itu. Dan baru saja tangannya terselip ke dalam baju Harry untuk meraba kemulusannya, suara deheman juga ketukan pelan menghentikan aktivitas keduanya. Sontak Harry mendorong Draco saat melihat siapa yang berdiri di pintu.
Dengan wajah merah dan malu, Harry bangkit berdiri untuk menunduk hormat pada kepala keluarga Malfoy itu. Ada sirat humor di mata kelabu yang serupa dengan Draco itu. Sedangkan anaknya sendiri mendengus dan ikut berdiri. "Ada apa Father?" tanyanya menyembunyikan kesal.
"Well, maaf mengganggu apa pun yang kalian sedang lakukan." Harry membuang wajahnya mendengar sindiran Lucius. "Tapi Mother sudah menyiapkan makan siang. Segera ke bawah. Kalian bisa lanjutkan apa pun tadi setelah mengisi energi. Aku yakin kalian butuh." Tidak perlu bertanya untuk tahu jika Lucius sedang mengejek Draco sebelum pergi dengan seringai.
Dengusan kasar Draco keluarkan dan pemuda itu masuk ke kamar mandi.
Vvvv
Setelah makan siang, Harry pulang dari rumah Draco dan menolak keras diantar. Draco sendiri meski belum sehat benar, yakin jika bisa menyetir untuk sekedar mengantar kekasihnya itu. Setelah Harry tidak terlihat lagi, dia masuk ke ruang keluarga dan menemukan suasana aneh. Meski Father bekerja di mejanya dan Mother menata toples kue, dia yakin atmosfer terasa berbeda. Apalagi sudut bibir Mother yang berkedut.
"Oh ayolah! Bisakah kalian berhenti meledekku?" tanya Draco kesal. Namun dia malah mendapati Father menyeringai dan Mother mengulum bibir.
"Apa? Kami sedang diam saja" jawab Lucius dan kembali pada dokumen-dokumennya. Dia masih menyeringai meski Draco melangkah dengan hentakan untuk naik ke kamarnya.
Vvvv
Langkah Draco tergesa dan dia benar-benar gugup. Setelah memantapkan batin, dia tekan bell rumah keluarga Potter, yang tidak lebih besar dari Manornya. Mansion itu memang mewah namun tidak seluas Malfoy Manor. Setelah agak lama, pintu itu terbuka dan Draco menahan napas dengan wajah sedatar mungkin.
"Hey, calon adik ipar!" pemuda tan itu mengacak rambut Draco dengan seringai menyebalkan. Dia memandang maklum saat Draco hanya mengangguk sopan. "Kalau kau serius begitu terus, kau hanya akan jadi bulan-bulanan dan cepat tua lalu mati karena dikerjai orang."
"Nah, kau mati setelah dengan bodoh mengerjai orang karena kecerobohanmu." Saat itu Daniel hanya memutar bola matanya. Lalu mempersilahkan dia masuk.
"Harry! Pangeran kodokmu datang!" teriak Daniel dan masuk setelah kembali mengacak rambut Draco. Dia hanya tertawa mendengar Draco menggerutu. "Ya ya, kau butuh setengah jam untuk menatanya kan!" sayup-sayup komentar itu terdengar.
Tidak lama seorang pria hampir saja melewatinya jika pria itu tidak sadar Draco berdiri. Dia terlihat terkejut. "Draco?" tanyanya tidak percaya. Dan dibalas pandangan bingung oleh pemuda pirang yang mencoba merapikan tatanan rambutnya itu. "Kau sudah besar!" seru pria itu histeris sendiri.
"Ehm, ya, aku sudah tujuh belas" sahut Draco tidak mengerti. Dia lihat Lily masuk ke ruang itu dan menyodorkan teh padanya. "Good morning, Mrs. Potter" sapanya dan dibalas kecupan di pipi oleh wanita itu.
Keduanya terkejut saat pria berambut hitam itu mendekati Draco dan memeluknya singkat sebelum mengacak rambut Draco. Pemuda itu terlihat tidak suka dan menjauhkan kepalanya. Namun pria itu malah tertawa melihat reaksinya. "Persis seperti ayahmu Draco. Lily, kau tidak bilang mengenal anak Cissy."
"Oh, aku lupa kau sepupunya, Sirius. Lagi pula bukan aku, dia pacar Harry. Kemarin dia heboh bercerita soal kekasih pertamanya ini. Kau harus lihat dia tertawa dan merona. Senang sekali anak itu." Lily menarik Draco untuk duduk di sofa panjang.
"Jadi Harry jatuh cinta pada keponakanku?" pria yang ternyata Sirius Black itu duduk di sofa tunggal.
"Maaf?" tanya Draco. Hal itu membuat Lily dan Sirius tertawa kecil.
"Aku ini pamanmu, Draco. Ibumu itu sepupuku" jelas Sirius. "Terakhir aku melihatmu itu ketika kau masih kecil. Berapa ya, tiga atau empat tahun." Dia jelas tidak tersinggung Draco tidak mengenalnya. Pria berjas mewah itu berdiri dan mencoba mengacak rambut Draco namun pemuda itu berhasil mengelak. Sambil tertawa dia mengecup pipi Lily yang ikut berdiri. "Aku ada urusan, sampai jumpa Lils, Draco."
Draco hanya mengagguk saja dan dia lihat Harry yang ribut dengan Daniel soal entah apa. Kemudian Harry berlari ke arah Draco dan memeluk pemuda pirang itu. Draco jelas kaget dan berusaha meredam malunya di depan Lily dan Daniel. "Ayo pergi! Mom kami berangkat."
Dia hanya bisa pasrah diseret Harry dan pamit pada Lily yang tertawa. Daniel dan Harry saling menjulurkan lidah untuk mengejek. Dia hanya geleng kepala melihat tingkah kekanakan itu.
Vvvv
Saat sampai di parkiran sekolah, Draco terdiam. Dia melihat Harry yang juga sadar jika dia belum melepas sitbeltnya. Harry menghela napas dan memandangnya. "Apa lagi? Kau masih meragukanku?"
"Ti-tidak" sangkal Draco. Dia menyesal melihat Harry yang berusaha menutupi kecewanya. Dia tahu seberapa banyak Harry mengorbankan harga dirinya demi mendapatkan Draco. "Aku takut kau malu berjalan bersamaku."
Draco menelan ludahnya melihat Harry kini benar-benar kesal. "Apa sih yang ada di otakmu!?" bentak Harry. Pertama kalinya seorang Malfoy dibentak. (standing applause/plak!). Harry memutar bola matanya. "Tidak akan ada lagi yang mengganggumu. Sungguh! Jika masih ada, akan aku biarkan Mrs. Norris menggigit paha Daniel."
Senyuman muncul di bibir Draco. Ya, buat apa dia ragu. Harry menyerahkan segalanya. Seolah penantian Draco dua tahun ini berbuah begitu manis. Keduanya kemudian turun dari mobil Audi Draco dan berjalan bergandengan tangan menuju kelas Kimia hari ini. Harry tidak peduli, asal dia mendapatkan apa yang dia mau.
Draco pun tidak peduli kegemparan dan melesatnya gosip-gosip sekolah hari ini. Yang dia pedulikan hanya kebahagiaannya bisa bersama dengan Harry. Bahkan Daniel pun merasa senang jika adiknya bisa bahagia seperti dulu. Seperti sebelum ayah mereka meninggal. Dia akan lakukan apa pun untuk adiknya.
Ya, karena yang mereka pedulikan hanya orang yang mereka sayangi. Dan meski rasa takut kehilangan itu ada, mereka mengabaikannya. Biar waktu saja yang menghapus keraguan itu. Kali ini Draco biarkan dia pertaruhkan perasaannya sekali lagi. Dan Harry pertaruhkan semuanya untuk Draco. Biarkan takdir kali ini yang membawa mereka. Biarkan semuanya mengalir apa adanya.
The end
Jakarta, June 3th 2016
Ichie Kurosaki
Author's Note :
YUHUUU! Ichie is back! Wkwkwk! Makasih buat semua yang dukung Ichie. Maaf lama bales review kalian. Ini Ichie persembahkan twoshoot panjang hampir 10k. wkwk. Akhirnya bahagia yak? Yee! /buagh! Tuuh kan Daniel gak jahat, Cuma iseng ajaa. /plak/ salah sndiri Draco main kabur gituuu! /dicrucio/
Sebetulnya soal bully membully ini… berdasarkan pendapat pribadi ichie aja sih soal sekolah-sekolah di luar negeri. Meski kenyataannya gak gitu kali yaah.. tapi kan di sana emang mereka kalo bully parah. Nah, ichie sendiri gak pernah tuh kena bully. Wkwkwk. Cuma waktu sd suka bully anak lain juga gara2 main ama anak cowo semua. /diavada/. Nah pas smp jadi anak biasa aja. Ceritanya tobat dan gak suka ama anak populer. /yeee!/ tapi pas senior high school gaul juga ama mereka, sempet kebawa arus tapi akhirnya sadar gara2 ortu. Kebanyakan pulang malem dan dapet omelan. Ninggalin dunia ffn dan real ichie. Nah saya tapi kembali kan.
Lirik doi yang hampir ansos. Ternyata jadi orang lain itu gak enak. Jadi menurut ichie sih Harry tuh gak jadi dirinya sendiri. Meski Ichie ama doi kepribadiannya beda, Ichie cenderung seneng clubbing dan loncat2 di depan DJ, dan doi lebih seneng lumutan di depan komputernya entah baca komik atau nonton anime. Tapi tetep bisa cocok satu sama lain. Jadi yaah, itu kenapa Harry bisa tertarik sama Draco. Well, selesai latar belakangnya. Btw, kalian mau sekuelnya gak? wkwkwk, itu sih tergantung review. /kejam/ kalo banyak review akan Ichie buatin sekuel tapi kalo dikit gak janji yah! /smirk/disetrika reader/
See you in my next drarry! /tebar konfeti/
PLEASE REVIEW ALL!
