Dude Ranch Bride (Remake)

.

Story By : Madeline Baker

Remake By : Zahra Amelia

.

Rate : T - M

.

Length : Chaptered

.

Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin

Other Cast : Zhoumi, Lee Donghae, Lee Sungjin, Kim Ryeowook, Kim Heechul, Song Qian, Shim Changmin, Amber, Luna, Krystal, Sulli.

.

Genre : Romance/Hurt/Comfort

.

Disclaimer : KyuMin is Destiny

.

Warning : Boys Love, Yaoi, Absurd, Monotone story, Failed Romance, OOC,

OC, miss typo(s) etc

.

Sebuah novel Harlequin straight yang merupakan karya dari 'Madeline Baker' dengan judul 'Dude Ranch Bride' yang saya remake menjadi sebuah fanfiction dengan main pair KyuMin, dengan segala penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya, demi menyelaraskan dengan karakter dari Kyuhyun dan Sungmin.

.

Chapter 1

.

Don't Like Don't Read

Happy Reading n enJOY!

.

.

.

Cho Kyuhyun mengernyit heran saat melihat sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah kantor peternakan. Sepertinya kali ini Heechul akan kembali kedatangan seorang tamu, turis yang mungkin seorang pemula, renungnya dalam hati. Biasanya sebagian besar tamu yang setiap tahunnya menghabiskan musim panas di peternakan ini akan memilih mengendarai mobil Van, atau bahkan SUV, dibandingkan datang dengan menggunakan jasa sebuah taksi.

Sang pengemudi taksi keluar dari kendaraan itu, lalu membuka pintu bagasi. Dan Kyuhyun nyaris terjungkal dari tangga saat melihat seorang pemuda manis melangkah keluar dari dalam taksi. Pemuda manis itu mengenakan setelan jas rapi berwarna putih, yang dia yakin jas itu lebih cocok dikenakan seorang mempelai pria disaat pesta pernikahan dibandingkan untuk berkunjung ke sebuah peternakan. Dia mengangkat sebelah alisnya, berbulan madu mungkin, pikirnya.

Kyuhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya. Rambut pemuda manis itu berwarna hitam pekat dan terjatuh lembut menutupi dahinya. Pemuda manis itu tidak lebih tinggi darinya, hanya sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter, tinggi rata-rata seorang pria Asia pada umumnya. Kulitnya putih bersih dan terlihat lembut, seperti susu yang dihasilkan oleh sapi di perternakan, tubuhnya sedikit berisi namun justru menambah kesan sensual dengan lekukkan yang berada ditempat yang tepat, bahkan bokongnya terlihat padat dan kencang. Dari jarak sejauh ini, dia tidak bisa melihat mata pemuda manis itu, tapi dia tahu manik mata itu sejernih dan seindah mata air di Pulau Jeju.

Salah satu sudut bibir Kyuhyun terangkat. Sudah lima tahun dia tidak pernah melihat pemuda manis itu, tapi selama itu juga dia terus membawa bayangan pemuda manis itu di benak dan hatinya setiap hari. Pemuda manis itu selalu memesona dan kernyitan di dahinya semakin dalam saat dia merasakan rasa panas menjalari dadanya, rasa cemburu yang tiba-tiba menyeruak untuk pria ataupun wanita yang cukup beruntung menikahi pemuda manis itu. Dia menunggu, ingin melihat seperti apa pilihan seorang Lee Sungmin.

Pemuda manis itu terlihat berbicara kepada supir taksi, lalu menyeret kopernya menuju kantor itu, jutaan helaian miliknya melambai lembut tertiup angin ketika dia berjalan dengan anggunnya. Sialan! Pemuda manis itu bahkan lebih dari sekedar memesona.

Kyuhyun cepat-cepat membalikkan badan, berpura-pura mengamati pengumuman yang tertempel di papan pengumuman. Apa yang sebenaranya Sungmin lakukan di sini? Dan bagaimana bisa dia menghindari pemuda manis itu? Dia melirik sekali lagi ke arah taksi, bertanya-tanya dimana mempelai pria atau wanitanya. Bahkan ketika taksi itu melaju meninggalkan peternakan, tidak ada seorangpun yang turun bersama Sungmin.

Bel di atas pintu berdenting pelan saat pemuda manis itu membuka pintu dan melangkah masuk. Menyadarkan pria tampan itu jika tidak ada mempelai pria maupun wanita? Dikuasai rasa ingin tahu, Kyuhyun tergoda untuk mengikuti pemuda manis itu masuk, tetapi dia baru saja kembali dari melakukan perjalanan berkuda yang jauh bersama belasan tamu penginapan dan dia lebih membutuhkan mandi air hangat, lalu meminum segelas wine kesukaannya. Lagipula, dia pernah bersumpah tidak akan lagi berbicara dengan Lee Sungmin, tidak dalam kehidupan saat ini atau yang akan datang.

Sembari menggeleng-geleng, Kyuhyun menyingkirkan pemuda manis itu dari benaknya dan pergi menuju ke kandang.

.

.

.

Sungmin melemparkan tasnya ke atas tempat tidur, kopernya dia biarkan di samping tempat tidur ganda di dalam pondoknya. Lalu seraya menghela napas, dia mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur. Paradise Ranch di sinilah dia berada sekarang.

Dia memandang ke sekeliling ruangan. Meskipun bagian luar pondok terbuat dari gelondongan kayu, bagian dalamnya tampak cukup modern. Ada tempat tidur ganda, meja rias berikut cermin, kursi yang tampak nyaman dan berbantalan tebal yang menghadap ke arah satu perangkat televisi, kamar mandi, dan sepasang meja nakas dengan lampu bergaya western. Dia juga bisa melihat dapur kecil dan kulkas di ruangan sebelah.

Dia menatap koper di samping tempat tidur dan memikirkan nasib satu koper yang dia sengaja tinggalkan tadi, koper hitam yang ukurannya lebih besar itu berisi semua pakaian dan keperluan untuk acara resepsi di salah satu hotel yang telah Zhoumi pesan nanti. Sebuah jas soft pink yang rencananya akan dia kenakan malam ini saat acara berlangsung. Oh, well... dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Ibunya pasti akan mengambil barang-barang itu nanti, dan tentu saja menunggunya saat dia pulang, meskipun dia tidak tahu apakah dia masih mau mengenakan sesuatu yang akan mengingatkannya pada kekacauan hari ini.

Sejenak Sungmin menatap permadani berwarna-warni yang menutupi lantai. Hidupku persis seperti itu, bathinnya, berbagai warna yang dirangkai jadi satu tanpa bentuk yang jelas. Apa yang akan dia katakan kepada orangtuanya? Apa yang akan dia katakan kepada Zhoumi? Bagaimana dia bisa mempunyai muka lagi untuk bertemu keluarga dan teman-temannya. Adiknya Lee Donghae tak akan pernah mau memberitahunya mengenai akhir semua kejadian ini, terutama adik bungsunya, Lee Sungjin. Mengapa dia bisa membiarkan semuanya berjalan sejauh ini?

Seraya menggeleng, Sungmin menendang sepatu pantofel berwarna putih miliknya. Ditilik dari sikap antusias pria yang berbicara di kantor tadi, sepertinya dia bukanlah satu-satunya orang yang datang ke peternakan ini dengan menggunakan jas pengantin, bagaimanapun ini adalah Pulau Jeju, salah satu tempat tujuan banyak pasangan yang baru saja menikah untuk berbulan madu, namun raut itu seketika berubah saat pria itu tidak menemukan seorang pria ataupun wanita di sisinya. Dan dia beruntung karena ada pembatalan pesanan pada detik-detik terakhir.

Sungmin melepaskan setelan jas miliknya dan meletakannya di atas ranjang. Sebelum membuka koper miliknya dan mengganti pakaiannya dengan celana jeans hitam serta kaos berwarna putih dengan tulisan JOY di depannya. Jas ini indah, bathinnya. Setelan jas ini persis seperti apa yang dia impikan untuk dikenakan saat pernikahan. Berwarna putih dengan sedikit garis berwarna merah muda.

Dia menatap cincin di jarinya, dia merasakan dadanya kembali terhimpit. Perlahan dilepaskannya cincin itu dan diletakkan di dalam tas kecil miliknya. Mengapa dia bisa sebodoh itu dan mengapa dia bisa membiarkan Zhoumi yang mengambil semua keputusan?! Pria itu yang memutuskan kapan mereka menikah, memilih gereja, memutuskan tempat mereka akan mengadakan acara resepsi, serta kemana mereka akan pergi berbulan madu. Dan yang paling parah, pria itu telah meyakinkannya bahwa dia menginginkan pernikahan besar-besaran, resepsi besar-besaran di salah satu hotel berbintang di Seoul, dan bulan madu di Paris, meskipun yang sebenarnya Sungmin inginkan adalah pernikahan sederhana dan bulan madu di Pulau Jeju.

Sungmin menghela nafasnya, lalu sedikit merapikan rambutnya di depan cermin. Bahkan Zhoumi mengatur soal tatanan rambutnya, meski dia tidak keberatan jika rambutnya dibiarkan terjatuh lembut menutupi dahinya. Oh, Tuhan! Dia benar-benar merasa marah pada dirinya sendiri, dia adalah seorang pria, dan bagaimana dia bisa membiarkan dirinya dimanipulasi semudah itu?! Bagaimana dia membiarkannya begitu saja! Dia adalah pria yang cerdas. Dia menyandang gelar sarjana dibidang bisnis dan mempunyai pendapat sendiri, tetapi Zhoumi telah memasuki kehidupannya dan mengambil alih seolah pria itu memang berhak melakukannya. Dan bodohnya, dia telah membiarkannya! Tidak lagi! Dia sudah muak dengan pria-pria semacam itu, pria arogan yang suka mengatur dan seenaknya! Hyunmin, bibinya, tampak sangat bahagia hidup seorang diri dengan delapan ekor kucing, tiga anjing dan seekor burung kakatua yang meniru dialog didrama-drama Korea yang sering ditonton bibinya itu.

Sungmin tertawa sendiri memikirkannya. Yah, mungkin dia belum siap menjadi seorang pertapa yang dikelilingi hewan peliharaan. Tapi, perlu waktu lama baginya untuk melirik pria lagi kecuali dia punya suara seksi seperti Kim Jongwoon, mata seperti Choi Siwon, senyum ala Kim Kibum, dan tubuh bak para dewa Yunani. Serta rambut ikal kecokelatan seperti... astaga lupakan.

Dia menyingkirkan bayangan dan nama pria itu dari benaknya. Dia pernah bersumpah takkan memikirkan pria itu lagi, meski sepertinya dia melihat pria itu dimana-mana. Bahkan pria yang dia lihat di luar kantor tadi mengingatkannya akan sosok pria itu, tetapi mungkin itulah yang diharapkan, karena seorang anggota keluarganya pemilik peternakan ini. Dia seharusnya tidak datang ke tempat ini!

"Lupakan!" gumam Sungmin. "Aku harus melupakannya! Seperti dia yang aku yakin juga sudah melupakan semuanya."

Sungmin melangkahkan kakinya ke sebelah ruangan, melihat isi kulkas yang ternyata kosong. Pria di kantor tadi mengatakan bahwa setiap Senin keponakannya pergi ke kota untuk membeli persediaan, dan jika Sungmin mau, dia bisa ikut bersama keponakan pria itu untuk membeli beberapa persedian selama dia memutuskan untuk menenangkan diri di sini.

.

.

.

Setelah mengenakan sandal kulit miliknya, Sungmin akhirnya memutuskan untuk pergi melihat-lihat ke luar. Lagipula, cepat atau lambat dia harus memberi kabar kepada orangtuanya bahwa dia baik-baik saja, tapi tidak sekarang. Saat ini yang dia inginkan hanyalah sendirian.

Sembari memasukkan kunci pondok ke dalam kantong celananya, Sungmin melangkah ke luar dan mengunci pintu di belakangnya.

Tampaknya banyak orang dimana-mana, ada yang tengah duduk-duduk di tempat teduh, ada yang tengah bersantai di bawah matahari sore, ada yang tengah melihat seorang koboi yang tengah menunggangi kuda, atau hanya sekedar mengobrol santai sambil menikmati angin musim panas.

Sungmin sedang tidak ingin berkumpul dengan orang-orang atau terlibat dalam obrolan tanpa arah, atau yang lebih buruk lagi menjelaskan apa yang dia lakukan di sini sendirian. Seraya memutari bagian belakang pondoknya, dia melihat jalan setapak yang menjauh dari halaman peternakan.

Pemandangannya indah, dan untuk sesaat dia melupakan segala sesuatu. Terpukau keindahan alam di sekitarnya, Sungmin mengikuti jalan setapak itu. Jalan itu bersisian dengan sungai kecil yang dangkal, berpagar pohon-pohon tinggi dengan daun keperakan yang dihembus angin musim panas yang sepoi-sepoi.

Saat dia berbelok di jalan setapak, terlihat sebuah pondok lagi. Seekor anjing terlihat sedang berbaring di beranda. Anjing itu mengangkat kepalanya dan menatap Sungmin dengan mata besarnya yang kekuningan, dan dia bisa melihat gigi putihnya yang terlihat tajam.

Kuda jantan besar berwarna keemasan dengan ekor dan surai berwarna hitam berjalan maju mundur di kandang yang terpisah, kadang-kadang berhenti untuk mengais tanah atau menggelengkan kepala. Sungmin tidak tahu banyak tentang kuda kecuali sedikit dia ingat dari pelajaran berkuda yang diperolehnya beberapa tahun silam, tetapi kuda ini bagus. Kulitnya berkilat laksana emas yang dipoles, surai ekornya bak sutra berwarna hitam. Kuda itu mendengus dan mengangkat telinganya saat dia mendekati kandang.

"Hei! Pergi dari situ!" teriak seseorang.

Sungmin berbalik dengan cepat dan merasakan darahnya tersedot dari wajahnya saat melihat seorang pria yang mengenakan kemeja berwarna biru pudar, celana jeans biru yang tak kalah pudarnya, dan sepasang sandal kulit melangkah mendekatinya dari samping pondok. Tubuhnya tinggi tegap, bahunya lebar, dadanya bidang, rambutnya sama seperti terakhir kali Sungmin lihat -sedikit ikal dengan warna kecokelatan, rahang yang tidak terlalu tegas, dan hidung yang mancung. Seluruh kulit pria itu halus berwarna putih pucat, semuanya sama persis seperti apa yang diingatnya. Sungmin merasakan tenggorokannya terasa kering saat melihat tiga kancing kemeja yang dikenakan pria itu dibiarkan begitu saja, mempertontonkan leher jenjang dan sedikit kulit pucat dadanya.

"Kau! Apa yang kau lakukan di sini?" seru Sungmin. Lalu dia bertanya-tanya mengapa dia harus terkejut ketika melihat pria ini? Dia bahkan tahu jika salah satu anggota keluarga Kyuhyun memiliki tempat ini. Dalam hati, bukankah Sungmin berharap untuk bertemu dengan pria ini?

Kyuhyun menatapnya. Matanya berkilau bagai berlian hitam namun sorotnya tajam seperti mata elang. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya kasar.

Sungmin sedikit terkesiap, namun dengan cepat dia mengendalikan dirinya. "Aku yang lebih dulu bertanya padamu."

Kyuhyun tersenyum mengejek. "Tentu saja aku bekerja di sini, Tuan Lee. Kau pikir aku sekaya itu untuk membuang-buang waktu dengan berlibur."

Sungmin mengangkat bahu acuh, berusaha tidak terpengaruh dengan ucapan pria di hadapannya ini. "Well, aku tentu saja tidak tahu jika kau bekerja di sini."

Kyuhyun menggerutu pelan. Dia yakin akan hal itu. Sungmin tidak mungkin datang ke tempat ini jika tahu dia ada di sini.

Sungmin tidak bisa berhenti menatap pria itu. Kyuhyun sudah tampan saat berumur dua puluh tahun, dan sekarang, lima tahun berlalu, pria itu terlihat semakin tampan dan matang. Tubuhnya pun semakin terlihat tegap. Panas menjalar ke sekujur tubuh Sungmin. Dia merasakan dorongan tiba-tiba untuk mengusapkan tangannya ke dada bidang itu, untuk merasakan kulitnya yang halus dan sehangat matahari sore di bawah ujung-ujung jemarinya. Dan celana jeans itu begitu pas melekat di kaki jenjang pria itu bak lapisan kulit kedua.

"Sudah cukup melihatnya?" tanya Kyuhyun kurang ajar. "Atau apa aku harus melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhku?"

Kyuhyun menyeringai ketika melihat tubuh Sungmin menegang dan segera memalingkan wajah. Seharusnya aku sudah terbiasa melihat tatapan seperti itu, bathin Kyuhyun. Dia telah diajak berkencan oleh para wanita yang tak terhitung banyaknya selama dua tahun terakhir. Wanita kesepian, wanita yang sudah menikah namun tidak bahagia, wanita lajang, bahkan wanita kaya, dia sepertinya menarik perhatian mereka semua, meski satu-satunya pria dihidup Kyuhyun hanya Sungmin, karena memang hanya Sungmin yang sejujurnya dia inginkan. Satu-satunya orang yang sanggup menawan hatinya dan menolak untuk melepaskannya, bahkan saat pemuda manis itu sudah tidak menginginkannya lagi.

"Sebentar lagi sepertinya gelap, aku harus pergi. Senang bertemu denganmu lagi, Kyuhyun-ssi." Sungmin sebisa mungkin mengatur nada suaranya agar terdengar tenang, dan berlalu melewati Kyuhyun.

Kyuhyun berbalik untuk menatap Sungmin. Pemuda manis itu juga tampak semakin memesona, setelah lima tahun berlalu, pikirnya. Dia mengenang setiap siang dan malam yang mereka habiskan bersama, waktu yang mereka lewatkan saat mereka berkencan. Saat dia bernyanyi, hanya untuk Sungmin. Saat setiap dia pulang ke rumah, tubuhnya tegang dan sakit, karena Sungmin adalah pemuda baik-baik.

"Hei, Sungmin-ssi!"

Sungmin berhenti ketika mendengar suara Kyuhyun, meski dia tidak juga membalikan tubuhnya, menunggu apa yang akan pria itu katakan.

"Aku tidak bermaksud bersikap kasar atau kurang ajar padamu."

Sungmin perlahan berbalik, namun tidak benar-benar menatap pria itu.

Kyuhyun mengedikan dagunya ke arah kandang. "Dia masih liar, kuda itu baru saja ditangkap. Aku hanya terlalu terkejut tadi dan tidak ingin kau terluka."

"Aku mengerti. Terima kasih."

"Sama-sama."

Sembari mengangguk, Sungmin berbalik dan berjalan menyusuri jalan setapak.

Kyuhyun mengawasi Sungmin sampai pemuda manis itu menghilang dari pandangan, mengagumi bagaimana bokong padat pemuda manis itu berayun, cara matahari sore yang berwarna jingga menerpa tubuh milik pemuda manis itu hingga sosoknya terlihat semakin bersinar. Mengapa dia perlu menjelaskan reaksinya? Mengapa dia masih peduli dengan apa yang dipikirkan pemuda manis itu tentangnya? Rasionalitas, dia berkata pada dirinya sendiri bahwa dia tidak mungkin menyinggung perasaan para tamu, terutama orang-orang kaya yang terbiasa mengeluh bila tidak memperoleh apa yang diinginkan. Dia di sini siap menderita, tidak lebih. Tapi, itu bukan alasan sebenarnya, dan dia tahu itu.

Kyuhyun menggeleng sedih, dia sudah bersumpah untuk menjauhi orang-orang kaya manja. Namun, dia tidak tahan untuk tidak mengagumi pemandangan saat Sungmin berjalan menjauh.

.

.

.

Sungmin berjalan dengan langkah cepat menyusuri jalan setapak menuju kantor, detak jantungnya bertalu. Dari semua pria yang ada di dunia, Cho Kyuhyun adalah pria terakhir yang ingin dia temui lagi. Meskipun, pria itu juga orang yang paling ingin dia jumpai.

Kyuhyun. Dia masih pria paling tampan yang pernah dia kenal. Sungmin pernah berharap seandainya dia bertemu dengan pria itu lagi, dia tidak akan merasakan apapun, membuktikan bahwa dia sudah benar-benar melupakannya. Beberapa minggu pertama setelah mereka berpisah, dia tidur dengan menggunakan kaus milik pria itu. Dia bahkan tidak pernah mencucinya karena baunya yang seperti Kyuhyun. Lalu setelah beberapa bulan berlalu dan pria itu sama sekali tidak memberikan kabar, Sungmin membakar semua kenangannya bersama pria itu, kecuali satu. Tetapi rasa sakit itu masih ada dan sekarang, setelah melihat pria itu lagi, dia tahu perasaan ini tidak akan hilang, karena bagaimanapun dia masih mencintai pria itu. Seandainya dia cerdas, dia akan pergi dari tempat ini, sekarang, detik ini juga. Dan dia memang cerdas. Tapi, dia juga lapar.

Perutnya berbunyi keras, mengingatkan Sungmin bahwa dia belum mengisi perutnya itu sejak sarapan tadi pagi. Sembari memeriksa jadwal yang tertempel di luar kantor, Sungmin melihat bahwa hidangan makan malam di sajikan dari pukul 18:00 sampai 19:30. Jika bergegas, dia masih sempat makan.

Seraya berjalan ke pondok, Sungmin berpikir alasan mengapa dia harus pergi dari tempat ini. Dia tidak ingin Kyuhyun berpikir dia hanya anak orang kaya manja dan pria itu telah membuatnya ketakutan. Lagipula, dia selalu ingin mengunjungi peternakan. Dia sekarang berada di sini. Dan dia akan tinggal, masa bodoh dengan Cho Kyuhyun!

.

.

.

Ruang makan itu luas dan persegi. Sebuah perapian besar memenuhi satu sisi dinding. Dua meja kayu panjang, masing-masing dengan kursi yang cukup untuk sekitar dua puluh empat orang, terletak di tengah-tengah ruangan. Setengah lusin meja persegi berderet di dinding. Beberapa orang terlihat masih duduk di salah satu meja panjang, berbicara dan tertawa mengenai Patbingsu dan Naengmyeon.

Merasa sedikit malu dan pada dasarnya dia memang tidak terlalu menyukai keramaian, Sungmin mengambil tempat duduk yang lebih kecil di samping jendela. Beberapa saat kemudian pria yang telah berbicara dengannya di kantor terburu-buru memasuki ruangan. Jika dia tidak salah ingat namanya adalah Kim Heechul. Pria itu tinggi dan kurus, rambutnya hitam dan agak sedikit panjang. Dan satu yang menarik perhatiannya dari awal adalah pria di hadapannya ini benar-benar cantik, meski terlihat sedikit angkuh.

"Sungmin-ssi," sapa Kim Heechul seraya tersenyum tipis. "Apa yang kau lakukan di sini sendirian? Ayo kemari dan berkenalan dengan dengan keluarga Shim."

"Kurasa tidak, kalau kau tidak keberatan, aku lebih baik makan sendiri saja," ucap Sungmin. Dia tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk sekedar berbasa-basi, atau menjelaskan mengapa dia berada di sini.

Heechul mengerutkan dahi, lalu tersenyum. "Terserah kau saja. Kami menyajikan Samgyetang malam ini. Aku akan meminta Ryeowook untuk membawakannya. Kau ingin minum apa?"

"Kau punya cokelat dingin?"

"Tentu!" Heechul menepuk bahu Sungmin. "Aku perlu mengurus sesuatu di kantor, tapi Ryeowook ada di dapur. Dia akan menolongmu. Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan, minta saja ke dia."

Sungmin tersenyum tipis. "Terima kasih, Heechul-ssi."

Heechul balas tersenyum padanya. Pria cantik itu singgah sebentar untuk menyapa keluarga Shim, lalu menghilang di dapur.

Tidak lama kemudian, seorang pemuda dengan tubuh mungil yang mengenakan celemek bermotif jerapah membawakan Sungmin satu porsi Samgyetang, puding karamel dan segelas cokelat dingin.

"Aku Kim Ryeowook," kata pemuda mungil itu. "Kalau kau butuh sesuatu teriak saja, oke."

"Aku Lee Sungmin. Terima kasih, Ryeowook-ssi."

"Tak perlu sungkan, Sungmin-ssi. Oh, Cho Kyuhyun akan bernyanyi malam ini, jangan sampai melewatkannya atau kau akan menyesal. Suaranya benar-benar indah." Ryeowook memberitahunya, sebelum berbalik ke dapur.

Seraya mengangguk, Sungmin menatap makanan yang ada di atas mejanya, pikirannya di penuhi bayangan Kyuhyun yang tengah bernyanyi. Pria itu yang bernyanyi hanya untuknya di malam musim panas yang hangat, suaranya begitu indah dan menyejukan, suara angin yang bergesekan dengan daun seolah menjadi pengiring pria itu saat bernyanyi, dengan kulit bersinar diterpa cahaya samar bulan.

Pemuda manis itu menyingkirkan bayangan itu dan berkonsentrasi pada makanannya. Aku tidak akan bisa makan sama sekali, pikir Sungmin seraya menyuap Samgyetangnya. Tetapi dia menghabiskannya. Ayamnya begitu lembut, dan rasanya sangat lezat. Puding karamelnya pun terasa lumer dalam mulutnya.

"Tinggalkan saja piringnya di situ," kata seorang wanita cantik, sambil tersenyum ramah. "Kau orang baru di sini, bukan? Aku Song Qian, panggil saja aku Victoria, dan ini suamiku, Shim Changmin. Dan keempat anakku, Amber, Luna, Krystal, dan Sulli."

"Aku Lee Sungmin. Senang bertemu dengan kalian." Dia tersenyum kepada keempat gadis itu, yang perbedaan usianya pasti tidak lebih dari satu tahun. Mereka anak-anak yang cantik. Menurut Sungmin anak yang tertua mungkin berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun.

"Kami akan menonton pertunjukan musik," kata Victoria. "Kau ingin bergabung bersama kami, Sungmin-ssi?"

Sungmin ragu-ragu, baru akan menolak, tetapi bayangan Kyuhyun saat menyanyi terlalu menggoda untuk ditolak. "Ya, terima kasih."

Sembari berdiri Sungmin meletakan serbet di meja dan mengikuti keluarga Shim keluar ruang makan.

"Ada beberapa bentuk hiburan setiap malam," Victoria bercerita kepadanya. "Film, tarian tradisional Korea, pertunjukan musik tradisonal Korea, pertunjukan musik modern. Dan selalu ada permainan dan semacamnya di ruang bersantai di penginapan."

Sungmin tersenyum lebar. "Wow, kedengarannya menyenangkan."

"Ya, kau tidak akan menyesal menghabiskan liburan musim panasmu di sini."

Pertunjukan itu dilakukan di luar, di bawah cahaya samar bulan dan semilir angin musim panas yang sepoi-sepoi berhembus. Mereka menggabungkan diri dengan sejumlah orang yang berjalan menuju sebuah teater terbuka atau amphitheater yang luas. Di atas teater itu sudah terdapat berbagai alat musik, seperti gitar, piano, drum, dan bass. Api unggun menyala di lubang dangkal di tengah-tengah penonton, seolah tidak kalah oleh cahaya samar lampu di atas panggung. Sungmin kemudian mendudukkan dirinya di samping Victoria.

"Cho Kyuhyun menyanyi malam ini," gumam Victoria. "Kami sekeluarga menontonnya minggu lalu. Suaranya benar-benar indah."

"Dia benar-benar hebat," ujar salah satu anak Victoria seraya mendesah.

"Kurasa Lunaku yang cantik tertarik pada pria itu." Victoria tersenyum penuh sayang pada putrinya. "Saat kau melihatnya, kau akan tahu kenapa."

"Eomma berhenti menggodaku." Luna mencondongkan tubuhnya. "Pertunjukannya akan segera dimulai."

Penonton terdiam saat Cho Kyuhyun berdiri di sana, lalu duduk di kursi tinggi yang terletak di tengah panggung. Kyuhyun terlihat luar biasa tampan. Dengan kaus berwarna putih gading, jas sepanjang lutut berwarna putih dengan celana jeans yang berwarna senada, serta sepatu boots kulit berwarna cokelat. Rambut ikal kecokelatannya dia biarkan berantakan. Suara piano mulai terdengar, seperti desahan angin di musim panas. Matanya yang kelam menatap sendu ke dalam temaram malam, lalu dia mulai bernyanyi.

I don't know how many seasons have passed since i sent you away.

The pain in my heart was as if i was dying it's become a little duller now. It's okay now.

Even when i tried to fill my heart with someone else.

No matter who i met, because it wasn't you.

The side of me that could throw myself fully into love was never there.

The two of us, we laughed and cried a lot.

My friends, who tried to help me drown everything in alcohol.

I, who awkwardly put my head down and smile.

Have we now already forgotten about that time?

I, who was like a fool. I, who was too young.

I pushed you away, and thought i did it for you.

If i had met you just a little latter maybe we wouldn't have broken up.

Sungmin menatap Kyuhyun lekat, terpesona, teringat pada nyanyian di malam yang lain. Pria itu menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati, sehingga dia bisa merasakan bagiamana makna yang tersirat dari lagu tersebut. Lagu ini, Kyuhyun belum pernah menyanyikan lagu ini sebelumnya. Dan entah hanya perasaannya saja, dia merasa lagu ini ditunjukan khusus untuknya. Dia menggelengkan kepalanya pelan, senyum pahit terlukis di bibirnya. Konyol sekali Lee Sungmin, pikirnya. Tidak mungkin Kyuhyun bernyanyi untuknya. Sungmin bahkan menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan telepon atau surat dari pria di hadapannya itu, namun hanya harapan semu yang dia dapatkan. Kekosongan dan kesakitan yang teramat sangat melukainya. Dia menundukan kepalanya, saat pria itu berdiri dari kursinya dan menuju ke depan panggung, tatapan Kyuhyun seperti terarah kepadanya, sebelum pria itu melanjutkan lagunya.

I, who was like a fool. I, who was too young.

You, who smiled at me. You were a dream to me, you were everything to me.

If i knew that being by your side would bring happines, i'd be there even if it hurts.

Maybe we would't have broken up.

Maybe we'd still be in love.

(My Thoughts, Your Memories. Kyuhyun's Solo at Super Show 6. Translated by : kikiikyu)

Suara Kyuhyun benar-benar indah. Magis. Menghanyutkan.

Dan Sungmin hanya bisa ikut bertepuk tangan ketika Kyuhyun menyelesaikan lagunya dengan sempurna. Suara pria itu mampu menghipnotis semua yang berada di sini. Dan Sungmin langsung berpamitan pada keluarga Shim. Dia merasa tidak sanggup berada di sini dan ingin secepatnya pergi, bahkan untuk kembali mendengar suara dari pria itu, dia tidak sanggup untuk melakukannya.

.

.

.

TBC

Bersyukur karena ternyata ada yang berminat dengan remake pertama saya ini. Dan saya merasa sedikit lega bahwa masih ada KMS yang setia mendukung KyuMin. Terima kasih banyak untuk kepercayaan kalian, terutama rasa percaya kalian kepada bias saya, Lee Sungmin. #HugTight

Untuk yang menanyakan kedua ff saya, saya sebenarnya sama seperti beberapa teman lainnya, saya ingin menenangkan diri dan berjanji setelah merasa lebih baik saya akan melanjutkannya. Saya ganti dulu dengan ff remake ini, semoga chinggudeul mengerti. Saya juga tidak sekuat yang chinggudeul kira, selama 2 hari saya habiskan dengan menangis saat berita ini naik ke permukaan, dan well, my tears falling down, again. Yah, saya menangis lagi ketika menulis lirik di atas. Astaga rasanya benar-benar sakit.

Kenapa saya tidak menjelaskan kekacauan di gereja ketika Sungmin kabur, karena point of view yang diberikan penulis asli aka Madeline Baker memang hanya ada di sudut pandang cast utama wanita. Jadi semuanya penejelasan tentang kegalauan sang cast utama wanita, tanpa memedulikan bagaimana kekacauan yang dia buat saat dia pergi.

Saya banyak merubah chapter ini, karena aslinya cast utama pria itu seorang pria indian, harusnya adegannya menari tradisional suku indian. Tapi, tidak mungkin saya tidak merubahnya. Jadi akhirnya saya mau tidak mau harus merubahnya, juga bebrapa ciri-ciri karakter saya sesuaikan dengan KyuMin juga dan cast lainnya. Semoga Madeline Baker tidak marah karyanya saya acak-acak seperti ini.

Saya memakai nama Paradise Ranch, seperti drama yang dimainkan Changmin. Karena jujur saya tertarik meremake novel ini justru setelah membaca sinopsis dari dramanya. Peternakannya seperti yang saya baca terletak di Pulau Jeju.

Dari bab 1, 2 dan 3 di bukunya memang belum terlalu banyak percakapan, mungkin maksud penulis ingin memperjelas diawal agar ke belakangnya tidak terlalu membingungkan. Dan saya hanya meremake jadi saya ikuti alur yang ada, meski banyak sekali perubahan di sana sini.

Terima kasih bagi yang mau membaca dan mereview. Salam kenal bagi yang baru mampir ke ff saya, silakan nikmati dan tinggalkan jejak lagi jika berkenan, karena banyak pename baru yang saya baru kenal. Sisanya pename lama yang sudah saya hafal di luar kepala kekekeke.

Sekali lagi terima kasih karena tetap setia menudukung Kyumin, juga semua dukungannya untuk saya.

Sorry for typo(s).

RnR?