Chapter 2.

Maaf di Chpater 2 ini, tidak ada teks lagunya karena dijamin! Gak cocok sama isi ceritanya..

Akan ada teksnya lagi di chapter 3!

Claire's POV:

"Claire, Claire~! Ayo buka matamu. Aku ingin melihat mata birumu yang indah itu~"

Aku membuka mataku pelan-pelan dan melihat Professorku yang sedang tersenyum karena melihatku terbangun.

"Ihh~ Kamu manis deh, kalau baru bangun~!" Kata Professor sambil mencubit pipiku. Tapi tetap saja aku hanya terdiam seperti boneka tanpa emosi.

"Uhh…Kamu gak senang ya? Marah ya? Maaf ya~" Kata Professor salting sedangkan aku hanya berjalan keluar dari tempatku tertidur.

Tiba- tiba saja, Professor meletakkan sesuatu diatas kepalaku sehingga membuatku menyentuh benda tersebut.

"Ini.."

"Itu mahkota bunga. Dan itu pun aku membuatnya dari bunga kesukaanmu loh!" Kata Professor sambil mengusap kepalaku.

"Kamu gak marah lagi kan sekarang? Senyum dong~" Kata Professor sambil melihat wajahku.

Aku hanya terdiam dengan wajah datar, melihat kearah professor tersebut.

"Uhh…Masih marah ya?" Tanya Professor sambil sweatdrop ria kembali seperti kemarin.

Aku pun hanya terdiam, karena bingung harus menjawab apa.

"Professor…"

"Iya?"

"Bisa kau jelaskan padaku apa arti "Kokoro" itu? Apakah anda sudah menemukan jawabannya?" Tanyaku.

"Umm..Sebentar lagi ketemu kok! Tenang saja! Oh iya akan kujelaskan sedikit tentang "Kokoro" itu padamu ya sekarang. Jadi baca baik2!" Kata Professor tersebut bersemangat.

Aku hanya mengangguk sedikit, Professor Trent memberikan aku sebuah kertas yang tebal sekitar 100 halaman. Aku hanya menatapnya dengan datar, lalu kembali menatap Professor.

"Kok tebal?"

"Banyak tahu penjelasannya. Aku sampai bergadang untuk ini." Kata Professor sambil menunjuk matanya yang kurang tidur.

Aku hanya terdiam datar lagi, dan melihat lembar kertas yang ada di tanganku.

Aku membaca, membaca, dan membaca sampai selesai. Tapi aku tetap tidak mengerti apa arti Kokoro itu meskipun sudah membaca 100 lembar kertas yang berisi penjelasan tentang itu.

"Jadi, kamu sudah mengerti kan?" Tanya Professor penuh harap.

Aku hanya terdiam, lalu menggeleng kepalaku karena tidak mengerti sama sekali.

"Bagian mananya yang nggak ngerti? Aku saja ngerti loh." Kata Professor sambil melihat mukaku yang tanpa emosi.

"Sebenarnya, perasaan senang itu seperti apa? Perasaan sedih itu seperti apa? Kenapa banyak sekali perasaan yang aku tidak mengerti Professor?" Tanyaku padanya.

Professor hanya terdiam, sepertinya dia tidak tahu harus menjawab apa. Lalu dengan wajah yang sepertinya ingin menangis, dia pergi ke laboratoriumnya.

"Claire, sampai jawaban itu muncul. Kamu jangan masuk ke laboratorium ya, kecuali hanya untuk memberiku makan dan minum. Mengerti?" Kata Professor sebelum masuk ke laboratoriumnya.

Aku hanya mengangguk, tapi aku langsung menarik jas kerja Professor, dan melihat wajah Professor yang ingin menangis.

"Kenapa wajah Professor seperti itu? Apakah kamu sedang ada masalah?" Tanyaku sambil menatapnya.

Professor hanya mengusap tersenyum kecil dan memelukku. Aku pun bingung kenapa aku dipeluk olehnya.

"Aku tidak ada masalah kok Claire, tenang saja ya. Oh iya mengenai folder "Kokoro" itu."

"Ya?"

"Tolong kamu jangan membuka folder itu sebab, itu sangat berbahaya bagimu."

"Aku mengerti, Professor." Kataku sambil mengangguk kembali, dan Professor segera masuk ke Laboratoriumnya.

Laboratorium

Trent's POV:

Aku pun segera duduk dan membuka folder yang berjudul "Kokoro" itu. Aku melihat berbagai rekaman atau gambar tentang Claire saat masih hidup. Ada pada saat dia lahir, bermain, belajar berjalan, berbicara, tertawa, dan menyanyi.

Aku pun mengeluarkan air mata karena aku sangat merindukannya, dan mencoba menyentuh wajahnya yang ada di komputer tapi tidak bisa. Beberapa saat kemudian, aku melihat dia saat sedang di rumah sakit, air mataku mengalir makin deras saat melihat sat dia dirumah sakit, dan meninggal tak lama kemudian seminggu setelah dia terbaring di rumah sakit.

"Aku ingin Claire merasakan perasaan sama seperti dia di saat itu, tapi..Kenapa dia tidak bisa merasakannya, hanya karena dia itu adalah robot!" Kataku sambil menangis dan menggebrak meja.

"Tok, tok."

"Professor boleh aku masuk?"

Aku langsung sadar dan segera menutup folder Kokoro tersebut dan menghapus air mataku.

"Silakan masuk Claire." Kataku memperbolehkan.

Claire segera membuka pintu dan berjalan ke arahku sambil membawa nampan dengan segelas minuman.

"Apakah anda ingin teh?" Tanyanya padaku masih memegang nampan tersebut.

"Oh, boleh kok! Tapi kok tumben, kasih aku teh di jam segini?" Tanyaku padanya dengan wajah sedikit bingung.

Claire hanya terdiam lalu segera menaruh tehnya di atas meja kerjaku, sedangkan aku hanya sweatdrop melihat dia seperti itu.

"Habisnya Professor lagi stress sepertinya." Kata Claire sampai membuatku agak kaget.

"Masa sih, aku stress! Aku tidak stress! Aku masih normal!" Kataku setengah bercanda dengan gaya lebay.

"Bodoh…" Kata Claire tanpa emosi sambil melihatku guling- guling kaya penggiling, dan segera menuju kearah pintu untuk keluar.

"Mau kemana?" Tanyaku lagi sambil berdiri.

"Mau cuci baju." Katanya singkat.

"Oh iya Claire. Jangan pergi dulu." Kataku langdung memegang pundaknya.

"Ada apa Professor?"

"Kamu bisa menyanyi?"

Claire terdiam beberapa saat, dan langsung menggeleng kepalanya.

"Oh, begitu ya.." kataku agak sedih dan mengusap kepalanya.

Claire hanya terdiam lalu dia menatapku.

"Ada apa?" Tanyaku bingung.

"Tidak ada apa-apa." Kata Claire sambil menggeleng kepala.

"Begitu ya. Nah sekarang, kamu beresin ruang tamu dulu ya. Aku ingin bekerja mencari jawabanmu. Hehe…"

"Un.." Kata Claire mengangguk dan pergi ke ruang tamu.

Aku pun hanya terdiam dan segera melanjutkan pekerjaanku untuk mencari jawaban untuk Claire agar dia mempunyai hati seperti dia yang dulu, meskipun membutuhkan waktu bertahun- tahun.

Aduh gomene! Ini aku sampai memeras otak sampai nih chapter selesai! Tapi enjoy aja ya!

Arigatou! Tunggu chapter selanjutnya ya! RnR?