DISCLAIMER :
Palembang punya Indonesia!
Yana Toboso adalah Negara saya!
Kuroshitsuji adalah tanah kelahiran saya!
Salah? Perbaiki Sendiri! Nyeahahahaha *nodongin AK-47 ke laptop*
Well, napa ke laptop!
WARNING :
OOC akut pada setiap chara, Bahasa Palembang dan Indonesia yang campur aduk, bahasa suka-suka-gue. Typo sana-sini, Humor yang ancur, AU, UA, AA, UU, UUD, dll.
Don't like don't read!
APLIKASI KOES PLOES (emang ada!) :
Yang gak ngerti bahasa Palembang, tenang aja. Soalnya ada translate-nya
ENJOOOYYY~~
SUMMARY :
Setelah Queen Victoria kembali dari Indonesia, suatu keanehan terjadi pada Queen Victoria yang dapat mengubah Negara Inggris Raya 180 derajat berubah total! Dan sekarang tutor macam apa yang datang!
Halo, selamat pagi, siang, dan malam semuanya! Akhirnya fic ini jadi! Kawan, fic ini udah jadi! Udah jadi! Kyaaa, udah jadi! Udah jad—ubh!*dibekep pake buku yaoi*
Readers: elu klo ngomong 'udah jadi' lagi, gue sita buku 'manusia setengah salmon' lu!
Alice: *gaya slow motion* tiidaaaak!
Karena Alice-san mau nulis dengan –coretsangattidakcoret- ikhlas maka fic ini diputar!(?)
.
.
.
Masyask~ masyask seundirie~ mandie~ mandie seundirie~ tidur~ tiydur pyun seundiriie~
Beuh. Lagu apa nih? Beuh lagu yang diputer di taksi men. Oh! Penumpangnya ternyata Sebastian ama Ciel lho! Aneh…taksi kok muteriun lagu dangdut. Yeah, walaupun gitu Ciel nya udah joget-joget gak jelas, jadi jangan ketuker ama joget-joget ama penyakit epilepsi akut.
Tapi waktu bagian 'tidur~ tiydur pyun seundiriie~' Sebas nangis lho! Ada apa gerangan!
Ciel yang lagi asyik joget-joget di atas jok langsung nyadar kalo Sebas nangis. Tanpa ba-bi-bu Ciel nanya "Oi lu nape nangis? Gak ada malu ye? Nangis di taksi?". Daripada elu joget-joget di atas jok.
'Oh Tuan Muda… anda perhatian sekali!'dalam batin. " Lagu ini mengingatkan pada kucing saya yang kutinggal di Pasar Cinde(1), seeediih sekalii. Padahal daku bertemu dengannya waktu lagi makan jiwa manusia tumis yang lagi nge-hits di sana(2). Hiks…hiks…sedih deh"
"Apa?"
"…"
Ciel ngelanjutin jogetnya dan ngekacangin Sebastian, Sang Butler Labil. Kacang~kacang~kacang~telur~telur~telur~
.
.
.
CKIIIT
GUBRAK
DBUAGH
Teng~ Teng~ Teng~ Tengteng!~ We are in Tokyo!~ Ha!~ Ha!~ In Tokyoo!~ Ha!~ Ha!~
Tokyo? Oh, taksinya berubah kecepatannya mirip kayak Tokyo Drift itu lhooo #gak penting!
.
.
.
.
Singkat cerita, Sebastian dan Ciel udah nyampe di istana Queen Victoria.
Dan singkat cerita lagi, Ciel udah di Singgasana Queen Victoria dan mereka disambut dengan lagu Sm*sh – Ahh. Gerah banget gitu deh, secara saya gak suka smash *buat fansnya jangan marah yaa~*.
Dan singkat cerita lagi—oke oke, tolong lepaskan granat dari tangan anda tersebut!
Daaan singkat cerita lagiii—*author mati di tempat*
*SKIP*
*PLAY*
"Ada apa Paduka Ratu? Ada apa gerangan sehingga saya dipanggil kemari?"
"Ada tugas untukmu"
"Sudah kuduga!" batin Ciel. "Apa tugasnya Paduka Ratu?"
"Tugasmu adalah…" suara Queen Victoria disengaja misterius. "Buatkan Negara Inggris Raya ini kayak suasana Palembang dooonk!~". Nah, yang ini mirip anak abege yang diberitakan kalo dia lulus.
Nek, nek, ingat umurmu nek! Ingat umurmu!
Ciel cengo. Sebastian kaget with OOC-nya. Duo Charles bakar sate. Oke, napa bakar sate? Kaga nyambung banguetsss.
"Palembang? Suasana? Apa maksud anda?" tanya Ciel dengan *masih* cengo-nya.
"Haduuuh, bocah Cieeel, kamu gak pernah liat atlas Indonesia ya?"
"Hah?"
Disini kita pasti tau…kalo Ciel kaga pernah buka-buka Atlas dunia. Dia lebih sering buka-buka majalah playboy dan berbie, sih. *plak* *digolok ama Ciel, lagi*
"Eleh-eleh, cah lanang, cah lanang~ gimana sih kamu iki tooh?~*gaya ibu-ibu jawa*. Mas Sebas, kasi tau Ciel donk"
"Errr…oke". Sebastian dengan ogah-ogahan ngejelasin geografis Indonesia ke Ciel.
1 menit kemudian…
.
.
5 menit kemudian…
.
.
20 menit kemudian…
Ciel angguk-angguk.
.
.
1 jam kemudian...
Giliran Sebastian yang geleng-geleng.
.
.
3 jam kemudian...
.
.
7 jam kemudian...
Pluto bantuin angkat jemuran (yang ini kalian bayangin dimana anjing iblis yang dapat berubah menjadi manusia ini angkat jemuran. Oke untuk lebih jelas, bayangkanlah pengantar surat yang dikejar-kejar dan digigit anjing)
8 jam kemudian...
Author dan duo Charles epilepsi bareng.
.
.
15 jam kemudian...
Sebastian tobat. Karena itu, Black Butler a.k.a Kuroshitsuji telah berubah nama menjadi White Butler a.k.a Shiroshitsuji. Tentang dimana malaikat poni belah tengah bertarung dengan iblis berjidat lebar memperebutkan jiwa yang tak diketahui gendernya. Saksikan besok! Shiroshitsuji di Abalabalmax jam 12 malam!
.
.
The End.
.
.
Author : hei, ini belom selesai lhoo. Lanjutkah?
Asisten+Readers : woy! Daripada ngebacot, mending lu lanjutin lagi!
Author: iyaaaa! Uwoh ada piring terbaaang~ lho, lho kok ada gallon terbang!
Gaje part 1…loncat!~...
Oke, lanjut.
Setelah penjelasan yang berbelit-belit bagikan belut *?* dan panjang bagaikan ular makan tiang listrik *?*. Ciel angguk-angguk (lagi), entah itu tanda mengerti ato kagak.
"Sudah mengerti, Tuan Muda?"
Ciel diem. Sambil angguk-angguk *lagi* tentunya sambil makan lemper. Oke, yang bagian lemper ini bohong.
"Tuan Muda?"
Ciel angg—oke, kali ini Ciel gak angguk-angguk lagi tapi udah mendongak kepalanya ke arah muka Sebastian. "HAH? Apa? Mengerti apanya?"
Somplak nih anak, udah berjam-jam jelasinnya eh malah gak denger. Untung, Butler *iblis* perfecto *pedofillo* from hell ini penyabar. Lha kalo kagak? Bisa-bisa si Ciel udah koit duluan.
"Oke, oke. Aku udah ngerti kok. Cuman ngerjain kamu aja. Kan jarang-jarang ada iblis dikerjain". Saya juga jarang lho. Ngeliat iblis tobat, trus dikerjain sama anak moe super sombong, kok, Ciel... #apaan sih? Maen nyambung aja.
Ciel, yang ngedenger suara gaib tersebut langsung mencari-cari suara gaib tersebut. "Eh, Sebastian. Lo tadi denger gak suara gaib barusan? Serem amat. Malah lebih serem daripada elu, yang aslinya iblis".
"Eh? Denger tapi samar-samar..."
"Kok samar-samar?"
"Entah"
"Napa?"
"KEPO LU". Bentak Sebastian.
"Eetttt daaah! Udah mulai berani ya lo! *ngebuka eyepatch* INI PERINTAH, BEGO!"
"*nurut* Okeh. Napa saya tadi mendengarnya samar-samar? Itu...karena...suaranya...mirip emak saya di neraka, Tuan Muda". Terang sebastian. Oke ini 'terang' dalam arti menjelaskan, bukan 'terang' dalam menerangi ruangan.
"Hah? Lo punya emak ya? Kok di neraka sih? Gak elit tau". Ciel oh Ciel. Sadarlah nak. Kau tau Sebastian tinggal dimane!
"Yaelah. Masa di surga! Kalo gitu gue bukan iblis lagi, geblek. Lo mikir-mikir dulu, kalau iblis tulen kayak gue tinggal dimane! Masa di surga! Bisa-bisa gue udah binasa duluan, nyet.". Beuh ngelawan ya lu. Pake bahasa gaul lagi. Memang, julukan 'si serba bisa' jatuh ke dalam kolor—eh, tangan elu, Sebas. Hebat.
Rueen Victoria. Ratu kita tercinta. Udah merasa dikacangin daritadi, langsung ngelunjak "WOY! KAPAN GUE DAPET DIALOG NEEHH!
-Balik ke wujud *?* normal-
"Oh. Ehm. Jadi suasana seperti apa, Paduka Ratu?"
"Buset dah. Lu baca lagi deh dari awal fic ini. Gue kan mau suasana Palembang, BOCAH." bentak Ratu Victoria sambil melototkan matanya 5 meter.
"Errrrr...oke. Caranya?". Ciel emang gak bisa marah ya, kalo dibilang 'bocah' sama nenek songong yang jadi ratu inggris ini ya? Ceka-ceka-ceka.
"Ya. Gak tau lah! Mendingan elu ajarin semua warga inggris ini belajar bahasa palembang buat dijadiin bahasa kedua di inggris atau ubah menu makanan menjadi masakan asal palembang ato yang laen-laen deh!". Duo Charles cuman bisa ngelus-ngelus dada sendiri *yai'lah, masa dada Ratu Victoria!*, nanggepin perkataan-perkataan Paduka Ratu.
"Nah, itu tau!" dengan nada 'saya-tau-jawaban-kuisnya' oleh Ci'el Pantomhip (maklum logat Palembang, lah).
"Oiaya! Maklum ya udah mulai pikun"
Semua angguk-angguk. Everytime i'm Angguk-angguk.
Ratu Victoria nyadar "EITS! TAPI JANGAN ANGGEP SAYA UDAH TUA YA!".
Semua natap Ratu Victoria dengan tatapan curiga. JIIIIIIIIIIT.
Merasa diliatin terus, Ratu Victoria mengalihkan pembicaraan. "Eh, jadi gimana rencanamu...Ciel...?
"HUM! *berpikir ala inspektur megure di Detektif Conan* Tenang saja Paduka Ratu. Saya punya kartu andalan..." Ciel langsung memakai kumis persegi panjang *?* dan topi butut. Biar mirip sama inspektur megure.
"Hah? Andalan? Apa itu? Pil KB-kah?"
"Bukan, Paduka Ratu" potong Sebastian yang maen nyambung aja.
"Jadi, apa itu?" tanya Ratu Victoria dengan rasa penasaran. Bisa penasaran juga ya, Ratu ini...Ratu juga manusiaaa~
"Itu..." Ciel menggantung kalimatnya, ternyata ingin menambahkan unsur misterius di kalimatnya. Namanya juga bocah...hahahahhaha *plak*
xXx
Indonesia-Palembang, Sumatra Selatan
14.36, di pinggir sungai Musi
.
.
"Lalalala~lililili~dududu~senangnya hidupkuuu~mengobok-obok air!~~di tengah panasnyaaa~duuuu~niiiii~aaaaaaa~~~!" begitulah senandung fales bin sarap ala gadis yang memakai baju tak matching dan muka yang hampir beda jauh dengan miss universe. Tak kala kemudian seorang *atau sesosok iblis* pemuda raven datang menghampiri gadis yang sedang -eh-uh-eh- yang melakukan -eh-uh- yang tidak elit sekali –err—yaitu, mengobok-obok air sungai musi(1). "Nona Licia?" tanya pemuda raven itu kepada gadis yang biasa dipanggil Licia, yang sedang asyik mengobok-obok air.
TSSAAHH. Sang gadis lansung menatap orang yang memanggil namanya tersebut. Dengan gaya slow motion, tentunya, biar dramatis ala sinetron silat Indonesia itu. Mata sang gadis pun tertuju pada 'sesuatu' pada pemuda raven. Dengan mata yang bersinar kayak E.T. *oke yang bagian E.T. ini juga bohong* dan wajah yang memerah, sang gadis pun berkata dengan tampang watados, "Mas, RESTETILINGnya kebuka".
"HAH! BUSET DAH. KOK BISA KEBUKA!" teriak ooc pemuda raven menahan malu sambil menkancingkan restelitingnya kembali. Dalam wajah yang sedikit memerah, pemuda raven itu bersikap gentle kembali, "Ehem! Maafkan atas kecerobohan saya tadi. Apa benar anda nona Licia?".
"Iya, betul. Kenapa ya?" tanyanya kembali dengan kebingungan. Tanpa ba-bi-bu, sang pemuda raven lansung menarik tangan Licia dengan tali tambang *?* dan terbang, "MAAF LANCANG! SAYA SEBASTIAN MICHAELIS, BUTLER KELUARGA PHANTOMHIVE! SEKARANG KITA TIDAK PUNYA WAKTU LAGI! ANDA HARUS IKUT PADA SAYA!". Licia, yang tiba-tiba ditarik cuma bisa teriak-teriak gaje dengan kata-kata yang -ehem- 'mutiara'.
xXx
Inggris Raya, Di Istana Ratu Victoria.
"Huuaeemm, nyam-nyam. Kapan nyampenya sih?" tanya Charles Grey sambil menatap sinis Ciel Phantomhive, yang membalas dengan tatapan yang tak kalah sinisnya. Ya, di bola mata Ciel tergambar abang sate sedang bertarung dengan monyet yang ingin mencuri dagangannya, biar sinis *well, ini maksudnya apa ya? Saya juga bingung*. SINIS..NIS...NIS...IS...IS..S...S *gema*.
Belum saja Ciel menjawab pertanyaan Grey, tiba-tiba Sebastian masuk dengan membawa gadis yang bernama Licia. "Semuanya, perkenalkan tutor kita."
"Salam kenal, saya Licia. Saya akan membantu apa yang saya bisa" hormat Licia sambil membungkukkan badannya. Ya, sekarang Licia sudah memakai baju ala tutor Inggris dan rapi. Gak kayak tadi, pakai baju daster bermotif pedobear, rambut dikuncir lima, dan pakai sendal di kaki kanan lalu dikaki kiri pakai sepatu. Tinggal dimasukin ke RSJ, udah cocok tuh.
"Huumn. Benarkah dia orangnya?" curiga sang ratu.
"Yeah. Betul. Sekarang ialah yang akan mengajari kita berbahasa Palembang, memasak makanan khas, dan lain-lain." ujar Ciel dengan pede tingkat panjang pinang *?*.
"Apakah ia bisa dipercaya?" tanya Ratu.
"Ya, bisa." tegas Sebastian.
"Yakin?" sambung Grey
"Ya, sangat"
"Sumpeh?" tanya Phipps
"Dijamin?" ragu Ciel. Eh, Ciel kok lu ikut-ikuttan?
"SUUMMPEEEHHH DAAH DIJAMIIINNNN" jawab Sebastian dengan nelangsa. Siapa juga mau ditanya dengan pertanyaan yang sama melulu!. Walupun bergelar tinggi, otaknya geblek juga ya. Hahahhahahhahahaha *plak* *digampar ama fans kuroshitsuji*
Gaje part 2, loncatin lagii..
Setelah acara banyak bacot tadi, Licia memang sangat handal, ia bisa berbicara dengan bahasa Palembang dengan lancar (yaiyalah, Licia kan orang Palembang), memasak makanan khas Palembang sampai masakan khas Papua Nugini. Saking hebatnya tuh anak, bisa-bisa dia ngrebut gelar 'serba-bisa' Sebastian. Oh no! Jadi gimana Sebastian-nya tuh? Oh, ternyata untuk itu Sebastian membungkam semua panitia dan juri penyerahan gelar 'serba-bisa' (emang ada? =.=") agar tidak bisa menyerahkan gelar 'serba-bisa' pada Licia. Ih, Sebastian egois deh...
"Hihihi" dengan senyum kecilnya, Licia memberatkan suasana ruangan tersebut. Semua hanya terdiam, hanya author ini yang gak diem karena keasyikkan nonton yaoi #ups! Malah buka aib sendiri...ehehehe...Lupakan yang ini :D
"Ada apa, Nona Licia?" tanya Phipps
"Ahahaha ternyata kalian lucu juga ya. Baik, kita mulai acara belajarnya"
BE CONTINUED
(1)Sungai musi : Itu adalah sungai yang membentang di tengah kota Palembang. Satunya hilir, dan satunya lagi hulu. Untuk lebih lanjut, cari sumbr terpercaya. Karena saya gak bisa dipercaya.
Bwaaahh...gajenyaaa. Akhirnya selesai juga... udah isinya gaje, endingnya gaje pula.
Makasih ya sudah mau membaca! m(^-^)m \(^-^)/ m(^-^)m \(^-^)/.
Makasih juga yang *rela* mau review sayaaa...walaupunitu kritik :D
Rierania, makasih ya ;D. Key Taurus, makasih atas kritiknya ya!
Hei, kalian add facebookku ya!
Ini dia : Alice Hitomura
Sebelum meng-add, kalian beritahu dulu apa nama facebook kalian ya. Soalnya saya gak sembarangan meng-konfirmasi pertemanan. Kalian bisa beritahu lewat review atau PM di ff ini :D Tenang aja, soalnya saya bisa memberikan 'sedikit spoiler' ff-ku yang lain di facebook (walah, walah)
Silahkan tumpahkan pujian, fave, flame, dan apa aja ke Review. Mau numpahin beras? Boleh kok, kebetulan saya lagi kehabisan beras dirumah.
Tidak tau apa itu review? Jika iya, klik yang dibawah ini. Jika tau, kasih review langsung!
