内の電力
Uchi no Denryoku – Internal Power
NARUTO © Masashi Kishimoto
UnD © The Great SnowFire - FairyErzaScarlet
Genre: Adventure – Fantasy – Friendship – Supernatural – Mystery
Pairing: Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Warning: AU, OOC
Untuk pembukaan chapter 2 UnD, mari kita sapa dulu para reviewers (?) pertama kita… XD
Febri feven : Pasti dilanjutin! *w*)9 *terlalu bersemangat*
Nervous : Ikuti terus yaaa.. w)/ *terlalu ngarep*
Nitya-chan : Arigatou~ Ikuti terus ceritanya yaaa.. w)/
Sthefanyy Kurawa : Bukan disebut kekuatan sih.. kalo disebut gitu terlalu gimana gitu ya.. sebut aja tenaga dalem.. kalo itu, iya .. sudah aktif.. ^^) Makanya dapet ide bikin fanfic tentang internal power..
Hadni : Arigatou nee~ ^w^) ada saran untuk kelanjutan cerita? Boleh request koq di ceritanya mau ada apa… tapi itupun kalau bisa ditambahin yaa..
Tharaaw : Arigatou!~ X3 Ikuti terus ceritanya yaaaa.. makasih buat semangatnyaa..
deEsQuare : Ikutin terus ceritanya yaaa.. X3 Makasih~ Salam kenal jugaa..
Hikari Iruhamu : Salam kenal juga.. aa.. author juga niatnya bikin begitu.. tapi mau sedikit dimodifikasi, gimana? :3 Cuma ditambah sedikit kekuatan lain koq..
Guest : Siap! *hormat* XD *dibakar massa*
Yosh! Kita mulai aja ceritanya yaaa..
"Lalu, dengan nama apa kalian menyebut perkumpulan kalian?" Sakura menatap Naruto penuh kewaspadaan.
"Uchi no Denryoku." jawab Sasuke, "Internal Power."
"Bagaimana Sakura?" Naruto menatapnya lagi, "Apa kau mau bergabung?"
Sakura berpikir sejenak. Setidaknya untuk awal, untuk proteksinya di sekolah mengerikan ini, di sekolah penuh misteri ini, rasanya bukan hal yang bisa ditolak. Apalagi jika dengan itu ia bisa mengendalikan kekuatannya, ia merasa tak keberatan, selagi ia tak lagi bisa diganggu oleh arwah-arwah sialan di luar sana.
Sakura menghela nafas, menetapkan hatinya, kemudian kembali menatap Sasuke dan Naruto bergantian, "Ya… aku mau."
Chapter 2
Sakura's POV
Aku hanya terdiam di ruang kesehatan. Naruto dan Sasuke sudah kembali ke kelas setelah bel tanda masuk berdentang cukup kencang dari menara lonceng beberapa jam yang lalu. Aku masih menimbang-nimbang keputusanku untuk ikut dalam kelompok yang bahkan sama sekali aku ketahui, dan dengan mudahnya aku percaya kepada dua pemuda yang baru kutemui sekarang. Tapi..
Kurasa Naruto bukan orang yang jahat. Wajahnya terlihat damai, dan ia sangat bersemangat. Sasuke pun begitu, walaupun matanya dingin dan pendiam, aku yakin dia bukan orang jahat. Dan kupikir.. kalau mereka sudah mengatakan soal internal power, mereka takkan berbohong. Mana mungkin mereka berbohong.
Aku harus mencoba percaya pada mereka
Aku mengingat kembali kata-kata Naruto sebelum ia meninggalkanku.
"Hari ini Internal Power akan berkumpul setelah semuanya sudah pulang di taman belakang sekolah. Kau akan melihat bagaimana kita berlatih, dan kau akan melihat banyak hal yang belum pernah kaulihat, Sakura-chan.. sampai jumpa pulang sekolah ya.."
Mereka akan berkumpul pulang sekolah nanti. Apa sebaiknya aku juga ikut? Lagipula mungkin akan lebih baik jika aku melihat sebentar. Aku ingin melihat kegiatan klub itu. Dan apa sekolah mengizinkan mereka? Tidak akan ada yang percaya kalau kekuatan itu benar adanya. Mereka hanya akan menganggap konyol kekuatan itu. Lalu mereka akan dianggap gila, sama seperti nasibku yang dianggap gila dan dicemooh oleh orang-orang dulu.
Akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur, menyambar tasku yang tergeletak di sofa, dan keluar dari ruang kesehatan.
Aku merasakan hal aneh. Hawa dingin langsung menusuk begitu aku keluar dari ruang kesehatan. Rasanya tidak senyaman di dalam. Aku menghirup nafas panjang, kemudian mulai mencari ruang tata usaha sekolah, untuk meminta map sekolah dan jadwal pelajaran. Kudengar beberapa kelas bersorak, ada juga yang setenang pemakaman. Aku berharap aku tahu dimana kelas Sasuke dan Naruto. Mereka pasti setahun lebih tua daripadaku, mengingat bahwa mereka sudah membuat perkumpulan seperti itu.
Kubuka pintu ruang Tata Usaha, kemudian menemui seorang wanita muda.
"Aa. Haruno-san?" tanya wanita muda penjaga ruang TU itu. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, "Ini adalah map dan jadwal pelajaran kelasmu. Kenapa terlambat di hari pertama?"
"Aa.. tadi sebenarnya aku sudah masuk pagi, tapi karena aku sedang sakit, aku pingsan di tengah jalan, jadi aku dibawa ke ruang kesehatan." kata Sakura, berbohong setengah tepatnya.
"Seharusnya kau tidak masuk kalau sedang sakit, Haruno-san.." kata wanita muda itu dengan lembut. Hari pertama sekolah takkan terlalu lama. Mungkin sebentar lagi pulang." Wanita muda itu menatap jam besar di ruangan itu.
"Boleh aku menunggu disini?" tanya Sakura, "Aku tak tahu harus menunggu dimana. Aku takut jika aku menunggu di luar aku dikira membolos oleh guru yang baru melihatku."
"Tentu saja boleh.." wanita muda itu tersenyum hangat. Dia sangat baik, senyumnya hangat dan ramah sekali. Siapapun pasti nyaman bersamanya. Aku menunggu dalam kesunyian. Hanya ada suara nafas, langkah kaki wanita muda itu, suara mesin fotokopi dan mesin printer, lalu suara ketikan komputer, dan juga..
"Mau dibuatkan minum?" tanya wanita muda itu ketika ia sedang mengaduk teh yang dibuatnya.
Aku menggeleng sopan, "Tidak usah, terima kasih banyak." Aku mencoba tersenyum hangat.
Wanita itu kembali bekerja di depan komputer tuanya –komputer yang masih menggunakan layar cembung. Suara printer kembali beradu dengan suara jari wanita muda itu yang menekan tombol di keyboard dengan cepat. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan teh yang barusan dibuatnya. Kupikir teh itu tidak terlalu panas.
TENG! Jam di ruang Tata Usaha berdentang nyaring.
"Haruno -san. Kau boleh keluar sekarang. Sudah jam pulang sekolah." kata wanita muda itu. Aku mengangguk, kemudian keluar bersama-sama dengannya. Ia pergi melewati koridor entah kemana. Aku segera pergi menuju taman belakang. Tak lama, bel di menara berdentang keras. Kupikir wanita muda itu pergi untuk membunyikan bel menara.
Aku melihat semua murid berbondong-bondong keluar. Mereka tampak senang, tapi tak seorangpun menyapaku. Aku melongok ke kelasku yang sudah kosong. Kelas itu tampak kusam, hanya dihias ornament mawar di dindingnya. Benar-benar model klasik. Sesudah itu aku kembali ke perjalanan menuju taman belakang sekolah. Kulihat map yang diberikan tadi. Taman belakang takkan jauh lagi.
Kelas Naruto dan Sasuke dimana ya... pikirku. Aku berharap bisa pergi dengan mereka, karena aku merasa tak nyaman berjalan sendirian di lorong sepi. Walaupun hari masih siang, pepohonan menutupi sinar matahari sehingga lorong masih tampak gelap. Aku merasa diikuti, diperhatikkan, oleh sesuatu tak kasat mata, aku yakin kalian tahu itu apa. Aku mempercepat langkahku, berharap 'mereka' yang mengikutiku segera pergi.
Lorong ini begitu hening. Bahkan aku bisa mendengar suara detak jantungku, deru nafasku yang cepat dan langkah kakiku.
Tiba-tiba sesuatu menyentuh pundakku. Refleks aku berteriak.
"KYAAAAAAAAAAA!" Aku berteriak sekuat tenaga, menepis tangan yang menyentuh pundakku, dan hendak berlari.
"Dasar penakut, ini aku!" Aku menghentikan langkahku ketika mendengar suara pemuda itu. Tangan dinginnya menahan tanganku. Aku kenal suara ini. Sasuke-san!
"S-Sasuke-sa- maksudku .. Uchiha-san?" Aku mengatur nafasku sambil menatap mata onyx Sasuke yang menatap dingin diriku.
"Panggil saja aku Sasuke, Uchiha hanya nama keluargaku." katanya dingin. Aku hanya bisa terdiam sambil menunduk, "Maaf aku mengagetkanmu.." dia melanjutkan kalimatnya.
"T-tidak apa-apa koq. Salahku juga, kenapa aku terlalu takut." kataku, "Ngomong-ngomong, Sasuke-san hendak pergi ke taman belakang?"
Dia hanya mengangguk. Benar-benar orang yang irit bicara.
"Boleh pergi bersama?" tanyaku, dengan hati-hati, "A-aku belum terlalu mengenal sekolah ini, jadi aku… takut tersesat dan aku takut.. dengan 'mereka' yang sedari tadi memperhatikanku."
"Hn.. tenang saja, mereka sudah tidak ada. Aku baru saja mengusir mereka." Jawab Sasuke, "Aku juga tak tahu arah taman belakang dimana. Ini pertama kalinya internal power mengadakan pertemuan di taman belakang, tanpa menyebutkan bagian mana di sekolah seluas ini."
"Tapi kau berjalan seakan kau sudah mengetahui seluruh isi sekolah ini." kataku, "Lagipula kau pasti sudah setahun diatasku, bukan? Kau terlihat sudah lama sekolah disini."
"Ini bantuan Shinigami." sanggah Sasuke, "Dari atas sana.." jari telunjuknya menunjuk langit, "Ia melihat seluruh sekolah ini, dan aku melihat dengan matanya. Hey.. aku masih seumuran denganmu, gadis bodoh.."
"Tapi kau sudah tahu betul perkumpulan itu.. kau pasti sudah lama disini."
"Aku tahu karena aku memang sekolah disini untuk tujuan itu. Aku sudah mencari tahu bersama Dobe sampai sedetail apapun. Aku sudah ikut perkumpulan itu sejak SMP." Sasuke menjelaskan dengan kesal.
"Baiklah.. aku mengerti.." Aku menyerah bertanya lagi, "Lalu, Shinigami itu apa?" Aku mengangkat sebelah alisku, tak mengerti.
"Dia itu sejenis naga. Dari mulutnya ia bisa mengeluarkan kabut ilusi." Sasuke menjelaskan, kelihatannya ia sudah malas berbicara denganku.
Aku mengangguk mengerti. Kemudian, karena tak tahu harus membicarakan apa, kami kembali diselimuti keheningan sampai pada akhirnya kami sampai di taman belakang. Naruto dan beberapa orang lainnya sudah berkumpul.
"Sakura-chan!" Naruto menyambutku hangat, "Waktunya perkenalan dulu.." katanya dengan riang. Ia mendorongku pelan menuju sekelompok pemuda, dan semuanya laki-laki! Aku tidak menemukan perempuan seorangpun di antara mereka.
"Jadi dia anak baru yang kaubicarakan itu?" tanya salah seorang dari mereka. Pemuda berambut panjang dengan suara bass. Matanya berwarna biru indigo. Ia tampak sangat antusias ketika melihatku. Menyeramkan.
"Iya.. Sakura -chan punya kemampuan melihat kejadian lampau suatu tempat loh. Jarang-jarang ada yang punya kekuatan seperti itu. Aku pikir tidak akan bisa menemukannya secepat itu."
"Kebetulan!" Pemuda berambut seperti nanas langsung tersenyum, "Kita sedang membutuhkannya. Dengan begini kita bisa melanjutkan trip mencari 'itu' lagi nanti saat liburan."
Aku hanya bisa diam. Sepertinya Naruto mengajakku memang karena kekuatanku yang dibutuhkan mereka. Cih. Aku benci merasa dimanfaatkan, walaupun sebetulnya aku senang akhirnya diriku bermanfaat bagi orang lain.
"Kalau aku hanya dimanfaatkan karena kekuatan, lebih baik aku tidak ikut!" Aku menepis tangan Naruto yang memegang pundakku dan berbalik pergi.
"Tunggu dulu Sakura-chan!" Naruto menyerukan namaku, "Dasar Shikamaru bodoh! Kau membuatnya marah.."
Aku tetap melanjutkan langkahku, tak peduli Naruto menyerukan namaku berkali-kali dengan suara lantangnya.
"Sakura-chan! Maaf… tapi kami mengajakmu ikut bukan hanya karena menginginkan kekuatanmu, Sakura-chan! S-Shikamaru terlalu berambisi untuk mencari senjata, karena itu dia membutuhkanmu. Maaf Sakura-chan." seru Naruto sambil terengah-engah, "Setidaknya lihatlah dulu.. kalau memang setelah itu kau tetap tidak mau, kami takkan memaksa lagi."
Aku menoleh pada Naruto yang terlihat memohon padaku. Dia ada benarnya juga. Lagipula bukankah mereka mau menolongku untuk mengendalikan kekuatanku? Bukankah aku sendiri yang memutuskan untuk mencoba bergabung dengan mereka dan belajar mengendalikan kekuatanku sendiri? Ah.. seharusnya aku tak membuat Naruto menjadi seperti itu.
"Baiklah… kali ini kumaafkan. Suatu saat nanti jika aku sudah bisa mengendalikan kekuatanku sendiri, aku mungkin akan keluar demi kepentinganku sendiri." kataku, "Aku tak mau dimanfaatkan oleh rambut nanas itu."
Naruto tampak gembira, "Tenang saja, Sakura-chan ! Kami akan memperlakukanmu dengan baik. Terlebih, Sakura-chan adalah perempuan pertama yang iktu Internal Power!" Naruto merangkulku, kembali membawaku ke tempat perkumpulan.
Aku merasa sangat nyaman berada di dekat Naruto.
Mungkinkah tanda cinta? Aa. Baka! Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya semudah itu kan? Lagipula.. tujuanku kan untuk mengendalikan kekuatanku.
Aku memperhatikkan mereka satu -masing dari mereka punya ciri khas tersendiri. Sambil menggoyang-goyangkan kakiku menikmati angin di ayunan tua dekat tempat mereka berlatih, aku mulai menilai mereka, mengenal nama-nama mereka, menghafal setiap kekuatan mereka, dengan pengetahuanku dari perpustakaan tua distrik 6. Yang akhirnya kumengerti isinya. Tentu saja, yang paling kumengerti pertama kali adalah Naruto.
Naruto, tipe periang dan tidak mudah menyerah. Selubung yang dibuatnya dari angin tidak mampu ditembus oleh kekuatan sebesar apapun, kecuali satu. Oleh Sasuke sendiri, karena Sasuke tahu betul kelemahan setiap selubung yang dibuat Naruto, setebal apapun itu. Aku bisa merasakan tekanan kekuatannya. Benar-benar selubung yang mustahil untuk ditembus.
"Sakura-chan!" Naruto melambaikan tangannya padaku, "Kau tak mau mencoba?"
Aku menggeleng, "Aku tak siap kalau sekarang.." kataku sambil tersenyum dipaksakan. Hari ini aku hanya ingin melihat mereka. '
Naruto mengangguk, wajahnya langsung mengisyaratkan seakan dia mengerti keadaanku yang sekarang dan memaklumiku. Aku senang sekali. Pertama kalinya dalam sejarah, aku dimengerti dan tidak dianggap gila oleh seseorang. Ini keajaiban. Okay.. aku benar-benar berlebihan.
Mataku beralih kepada Sasuke yang sedari tadi hanya diam saja. Tapi aku bisa melihat itu! Kekuatannya yang tersebar di seluruh permukaan kulit putihnya. Listrik itu.. aku bisa merasakannya bahkan dari jarak 10 meter. Ia mempunyai sebuah pelindung besar yang sama hebatnya dengan Naruto, selubung yang terlalu kuat.
Aku melihat Naruto menghentikan TD-nya –sebutan kami ketika berlatih saling menyerang– kemudian berjalan mendekati Shikamaru dan Neji, berbicara sesuatu yang kelihatannya lumayan penting, kemudian Neji dan Shikamaru seakan kembali bertanya. Raut wajah mereka sangat serius. Kelihatannya Neji dan Shikamaru adalah senior mereka disini.
"Sakura-chan! Bisa kesini?" Naruto memanggilku, seperti biasa, dengan nada suara riang. Aku mengangguk, turun dari ayunan dan setengah berlari mendekatinya.
"Apa benar tadi pagi kau dikejar oleh para arwah?" tanya Neji, menginterogasi.
Aku terdiam sebentar, kemudian mengangguk perlahan, "Y-ya.. mereka merintih padaku dengan suara yang amat menyakitkan telinga."
"Apa rintihan mereka?" Kali ini Shikamaru yang bertanya.
"Arwah yang paling kudengar rintihannya adalah arwah yang menggenggam pergelangan kakiku." Aku memperlihatkan kemerahan berbentuk tangan di betisku, "Dia bilang 'jangan tinggalkan aku. Dingin.' Lalu dia melanjutkan, 'Kaki ini.. mau kaki ini.' Lalu aku merasa seakan kakiku akan dilepas paksa olehnya."
"Itu aneh.. Arwah disini tak pernah seagresif itu.." kata Neji pada Shikamaru.
"Mungkin karena dia itu perempuan dengan kekuatan itu." timpal Naruto, "Rasanya masuk akal kalau alasannya itu."
"Tapi ini berbahaya. Kalaupun begitu kenapa arwah itu tidak menyerah gadis lain? Bukankah Mia dari kelas XII-2 juga indigo. Dia damai-damai saja sekolah disini." Shikamaru duduk di tumpukan batu besar di belakangnya.
"Mereka diperintah…" Sasuke mendekati mereka. Aura tenaga dalamnya masih sangat terasa, membuatku merinding.
"Bagaimana kau bisa tahu? Ini kan kasus pertama. Lagipula kalaupun diperintah, oleh siapa? Dalam tujuan apa? Kenapa dia targetnya? Begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab." kata Neji.
"Aku tak tahu oleh siapa, kenapa dia, atau apa tujuannya. Yang pasti dalangnya sudah lama mengincar Sakura, dan kebetulan.. sekolah ini banyak arwah yang bisa disuruhnya secara paksa." Sasuke menurunkan tingkat aura di tubuhnya.
"Aku tak tahu apa yang kalian bicarakan…" kataku pada akhirnya, "Yang pasti aku akan baik-baik saja. Kalian tak perlu khawatir. Mungkin benar kata Naruto, mereka ingin bebas, dan mungkin dengan kekuatanku mereka bisa bebas, atau aku bisa membantu mereka."
"Tapi, kau tahu Sakura-chan? Sasuke hampir tak pernah salah soal kasus macam begini…" Naruto terlihat mengkhawatirkanku.
"Mungkin hari ini dia salah… lagipula mana ada yang menginginkanku?" tanyaku sambil tertawa kecil, "Ada-ada saja.. aku kan baru bertemu kalian hari ini.. tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Aku menatap jam tanganku, "Sudah waktunya aku pulang…"
"Untuk jaga-jaga, aku akan mengantarmu pulang!" seru Naruto, "Aku tetap mengkhawatirkanmu, Saku-chan! Terlebih kau belum bisa mengendalikan kekuatanmu."
"Biar aku saja yang mengantarnya," Sasuke menahan tangan Naruto yang hendak menggenggam lenganku, "Kau pulang saja. Katakan pada Tou-san aku akan pulang terlambat."
"Kau tidak sakit 'kan, Sasuke?" tanya Neji, sedikit tak percaya, "Aku baru pertama kali melihatmu mengantar seorang gadis pulang."
"Urusai!" Sasuke menatap tajam mereka satu persatu, kemudian dengan sedikit paksaan, mendorong punggungku untuk segera maju dengan tangannya yang kekar.
"Apa aku tak merepotkanmu?" tanyaku waspada, "Aku bisa pulang sendiri koq."
"Aku tak mau mengambil resiko kalau-kalau aku benar." kata Sasuke, "Lebih cepat sampai rumahmu lebih baik."
Aku hanya bisa diam menurutinya. Entah mengapa aku merasa kalau aku berdebat dengannya, aku akan mati luar dalam. Kau tahu maksudku, aku akan mati jiwa dan ragaku.. oke, ini berlebihan. Intinya aku mencari mati dengannya kalau berniat adu mulut dengannya.
"T-tapi bukankah aku bisa minta tolong Naruto?" tanyaku dengan sangat hati-hati, salah-salah aku bisa menyinggungnya dan entah bagaimana nasibku.
"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat." Tanpa menoleh padaku, ia mengeluarkan sepedanya lalu dengan bahasa isyarat dia menyuruhku segera naik di belakangnya.
"Entah kau mau membawaku kemana, yang pasti aku tak mau pulang lebih dari jam 3." Aku segera berpegangan pada pundaknya. Aku bisa merasakan betapa kekarnya dia.
"Pegangan yang kencang." kata Sasuke sebelum ia mengayuh sepedanya dan mengebut di jalan yang sepi. Aku hanya mengangguk, mencengkeram pundaknya –semoga saja dia tidak kesakitan– melihat kanan kiri yang semakin lama semakin tak kukenal.
"Ini sudah masuk wilayah hutan.. kau mau membawaku kemana?" tanyaku. Dan dia tak menjawab. Aku hanya bisa mendengus kesal, pasrah mengikuti kemauannya.
Beberapa lama kemudian, ia berhenti mengayuh –tepatnya ia sedikit memiringkan sepedanya, untuk membuat benda itu berhenti, entah apa dia tidak punya rem atau bagaimana– lagi-lagi dengan isyarat ia menyuruhku turun dari sepeda. Aku turun, merasakan ilalang-ilalang tinggi menyentuh kakiku.
"Untuk apa kita kesini?" tanyaku.
"Tutup matamu." Sasuke memerintahku seakan aku ini budaknya, "Rasakan segalanya di sekitarmu. Fokus. Bayangkan kau berada di tempat ini sejak lama."
"H-hey! J-jangan bilang kau mau mencoba kekuatanku yang dikatakan Naruto?!"
"Memang begitu tujuanku. Diamlah.. tidak akan lama."
Dengan sangat terpaksa aku menurutinya. Kututup mataku, merasakan segala di sekitarku sampai detail. Mendengar suara burung hummingbird yang berkeliaran disini, suara angin yang berhembus cukup kencang, suara detak jantungku sendiri, deru nafasku. Atau merasakan sentuhan angin di kulitku, ilalang-ilalang yang membelai kakiku.
Tunggu dulu.. aku merasa sekitarku mulai berubah.
Panas! Rasanya sangat panas. Aku mendengar suara tembakan samar-samar, seruan, lalu teriakan menyakitkan seorang wanita, tangisan anak-anak. Hey?! Aku sekarang ada dimana?!
Lalu diantara suara-suara kacau itu, aku mendengar suara Sasuke.
"Buka matamu, perlahan."
Aku menuruti perintahnya. Dan semua berubah!
Padang rumput ilalang tadi berubah menjadi sebuah lapangan abu, hitam kelam. Darah di tanah mengalir membentuk sungai, api yang menyala dimana-mana. Aku melihat seorang perwira yang sedang menodongkan senjata tuanya ke arah seorang wanita yang sedang memeluk anaknya.
"HENTIKAN!" Sia-sia.. suaraku tak keluar.
Suara tangisan anak kecil mengalihkan perhatianku. Di antara balok kayu yang terbakar aku melihat seorang anak, dengan tubuh yang sudah setengahnya terluka, meringkuk menghindari tentara.
Aku mengerti sekarang.
Aku baru menyadari kekuatanku. Aku sedang melihat sejarah sekarang. Aku tak tahan dengan suara-suara teriakan penderitaan mereka. Aku berbalik, berharap di belakangku ada sebuah portal menghubungkan diriku ke padang rumput ilalang. Tidak! Ini sama seperti dulu! Aku tidak bisa keluar! Aku berusaha mencari jalan, dan sama sekali tidak menemukan apapun. Aku hanya mendengar suara isakan, tangisan, dan teriakan penderitaan itu makin keras, membuat telingaku berdenging. Aku menutup telingaku, berharap Sasuke segera memberi aba-aba lagi.
"Tutup matamu perlahan, hilangkan semuanya dari otakmu. Bayangkan kau melihat sebuah pintu dengan sinar terang dalam pikiranmu. Berjalanlah ke arah sana." Suara samar Sasuke kembali terdengar. Aku menghela nafas lega, terlalu lega, lalu segera menurutinya. Berjalan ke arah cahaya.
Aku kembali membuka mataku, mendapati diriku kembali ke padang rumput ilalang.
"Jika kau bisa meresapi, menerima kekuatanmu. Kau mendapat keuntungan banyak dengan itu." kata Sasuke, "Kau hanya tak tahu cara keluar dari situ, bukan?"
Aku mengangguk mengiyakan. Kenyataannya memang aku tak bisa keluar tanpa aba-abanya.
Sasuke kembali menaiki sepedanya, "Ayo pulang.."
Tanpa disuruh aku segera naik di belakangnya, seperti tadi. Keheningan menyelimuti kami di sepanjang perjalanan ke rumahku, dan aku benci ini. Aku merasa pikiranku masih dipenuh suasana tempat tadi. Aku tak menyangka padang ilalang itu semacam tempat pembantaian dulu.
Ketika sampai di depan rumahku, aku hanya mengucapkan terimakasih, dan berkata hati-hati padanya. Ia mengangguk, hanya mengangguk, tanpa mengucapkan apapun dia segera meninggalkanku.
Aku melihat jam tanganku, sudah jam setengah 12 siang, padahal aku merasa tadi hanya beberapa menit. Kaa-san baru pulang jam 3, dan saat yang tidak tepat, aku sedang tak mau sendirian di rumah.
Ketika aku masuk, aku merinding. Rasanya aku tak pernah semerinding ini. Aku segera menaruh asal tasku, kemudian membuka lemari di dapur, mengambil soup cream instant kemudian memasaknya.
Aku masih tak bisa berpikir, apa keuntungan yang bisa kuambil dari kekuatanku? Apa dia pikir aku bisa kembali belajar sejarah dengan melihat kejadian lampau seperti tadi? Tidak, tidak mungkin itu manfaat yang ia maksud.
Setelah supnya selesai, aku segera menghabiskannya, walaupun panas, membuat lidahku sedikit terbakar.
TOK!
Aku menghentikan kegiatanku, segalanya berubah menjadi hening. Siapa yang mengetuk pintu? Apalagi hanya sekali ketuk.
TOK!
Suara itu kembali muncul. Aku mendekati pintu perlahan. Apakah itu tetangga yang memberikan surat edaran? Tidak mungkin. Aku sudah mengunci gerbang! Mana ada yang bisa masuk.
TOK!
Sudah lama aku tak setakut ini. Dengan tangan gemetar aku berusaha menggapai gagang pintu.
"Siapa ya?" tanyaku. Tak ada jawaban.
TOK! Lagi-lagi suara itu terdengar.
Aku memegang gagang pintu dengan gemetaran. Kemudian aku merasa bau busuk menyengat dari balik pintu. Sesuatu dalam tubuhku bergejolak, ingin tanganku segera membuka pintu.
Tidak! Aku tak sanggup. Apapun yang ada di depan sana pasti tidak bagus.
Kali ini sesuatu itu tidak lagi mengetuk, tapi mengoyang-goyangkan gagang pintunya. Aku tak bisa berpikir! Aku panik! Aku segera memutar kunci, segera menjauhi pintu. Karena terlalu terburu-buru, aku tersandung. Tidak! Apapun itu, kumohon, segera pergilah!
Bau busuk itu makin menyengat. Membuatku hampir kehilangan kesadaran. Lalu tiba-tiba bau itu menghilang.
Aku sudah tak merasakan takut lagi. Rasanya hawa tadi seakan terisap sesuatu dan menghilang begitu saja. Aku bangkit berdiri, suasana masih hening mencekam. Aku mendekati pintu, memutar kuncinya untuk membuka pintunya, dan membukanya perlahan.
BRAK! Pintu itu terbuka lebar dengan paksa. Aku terhempas, terjatuh kembali. Sebelum aku bisa melihat dengan jelas, aku melihat bayangan hitam besar di ambang pintu rumahku. Mata merahnya, bau busuk tadi.. hawa mencekam ini.
Aku akan menyesal telah membuka pintu itu.
"KYAAAAAAAAAAAA!"
Internal Power – To Be Continued
Taraa~ This is it, Chapter 2!
Aku merasa senang ketika banyak yang ingin aku melanjutkan fanfic ini. Mohon maaf kalau beberapa chapter awal aku tak menyediakan romance yang berarti.. ^^"7 Kuharap aku bisa menyisipkan romance di beberapa chapter depan.
Aku merencanakan bahwa kekuatan Sakura akan sama dengan kekuatan canon-nya, tapi aku akan menyediakan beberapa modifikasi di satu atau dua chapter depan. Kuharap kalian akan menyukainya.. X3
Dan maaf karena fanfic ini akan banyak pergantian POV.. ;w;) *dibakar massa*
Sekian dari author, semoga kalian senang membacanyaa.. X3
Mohon maaf kalo ada typo atau semacamnya... Orz
Mind to RnR?
