Annyeong readerdeul... junghee comeback! Mian kalau lama baru bisa publish soalnya junghee lgi banyak tugas jdi gak sempat publish.. hehehe gomawo buat readerdeul yang udah ngasih review.. junghee juga mohon buat semua silent reader buat ninggalin review biar junghee tau kalau FF ini mau diterusin atau gak... gomawo dan jangan lupa tinggalin review yahhh~~
.
.
.
.
"Kai-ah kau sendiri eoh? Dimana Kyungsoo-mu?", tanya seorang namja dengan cengiran khasnya.
"ne dimana Kyungsoo-mu? Tidak biasanya kau kesini sendiri. Apa ada masalah antar kalian?", sekarang namja tampan dengan rambut merah terangnya yg bertanya.
2 namja itu duduk bersama Kai. Chanyeol –namja tinggi- itu duduk disamping Kai sedangkan Luhan –namja berambut merah- duduk didepan Kai.
"ani. Aku memang tidak datang dengan Kyungsoo. Ia sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah jadi tak bisa menemaniku. Dan kami tidak ada masalah", Kai memanggil seorang pelayan lalu memberitahu pesanannya begitu juga dengan Chanyeol dan Luhan.
"oh begitu. Kukira kau bertengkar dengan Kyungsoo", Luhan mengalikan pandangannya keluar jendela.
Chanyeol dan Kai mengeluarkan ponselnya dan sibuk dengan kegiatannya. Sedangkan Luhan sedang mengamati seseorang yg dianggapnya menarik sedang duduk ditaman sebrang cafe.
"ya Chanyeol-ah, Kai-ah! coba kalian perhatikan yeoja berbaju pink disebrang", Luhan menunjuk seseorang yg duduk ditaman.
Kai mengalikan perhatiannya pada orang yg dimaksud Luhan dan setelahnya ia kembali berkutat dengan smartphone-nya.
"mana Luhan hyung?", tanya Chanyeol penasaran.
"itu! ya ya ya Park Chanyeol! Bukan disana! Tapi disana!" Luhan mengarahkan kepala Chanyeol agar dapat melihat orang yg ia maksud.
"aigoo.. manisnya. Neomu kyeopta", Chanyeol menatap takjub orang yg dimaksud Luhan.
"yak Park Chanyeol! Jangan mendekatinya! Dia itu milikku arrasseo?", Luhan menatap Chanyeol yg belum mengalihkan perhatiannya dari objek yg menurutnya menarik.
"aku tidak janji hyung. Dia begitu cantik. Neomu yeppeoseo", Chanyeol hanya nyengir melihat ekspresi kesal Luhan. "bagaimana kalau kita taruhan hyung? Siapa yg bisa mendapatkan yeoja itu maka ia adalah pemenangnya. Dan yg kalah harus mentraktir yg menang selama 1 bulan. Eotte?", tanya Chanyeol dengan wajah sumringan.
"ish kau ini! Joha. Kita mulai dari sekarang. Kai-ah kau mau ikut?", tanya Luhan menatap temannya yg hanya diam sedari tadi.
"aniyo hyung. Kau lupa kalau aku sudah memiliki Kyungsoo hyung?", Kai balas menatap Luhan.
"aigoo Luhannie hyung neo jeongmal baboya! Menanyakan hal seperti itu pada kkamjong. Jelas saja dia tidak akan ikut", Chanyeol menatap Luhan sambil menjulurkan lidah bermaksud mengolok hyungnya itu.
PLETAK
"yak hyung apposeo! Kenapa kau memukul kepalaku?", Chanyeol mengelus bekas pukulan Luhan.
"itu karna kau mengoloku! Ish kenapa perutku jadi sakit begini yah? Kai-ah, Chanyeol-ah aku ketoilet dulu", Luhan berjalan sedikit terburu menuju toilet.
"kesempatan! Kai-ah aku pergi dulu ne? kalau Luhan hyung datang bilang saja pesananku untuknya saja atau kalau kau mau kau bisa mengambilnya, arrachi?", tanya Chanyeol.
"hmm", dan setelahnya Chanyeol melesat keluar cafe menuju taman sebrang jalan
.
.
.
'aku benar-benar lapar. Perutku sakit sekali. Eotteokhae jigeum?', Kevin meremas perutnya yg terasa sakit. 'kalau kau membutuhkan sesuatu telpon saja aku', perkataan Sehun tadi sore terngiang dikepalanya.
Antara senang dan ragu ia membuka kontak nomor diponselnya dan mencari nama Sehun.
"apa aku harus minta tolong padanya? Bagaimana kalau ia sibuk? Tapi perutku sudah tak bisa berkompromi lagi". Akhirnya Kevin memutuskan untuk menelponya.
"yeoboseyo"
"ne yeoboseyo Sehunnie. Ini aku Kevin"
"kevin hyung? Wae? Apa terjadi sesuatu eoh?"
"ani gwaenchanha. Aku hanya... hanya..."
"hanya apa hyung?"
"aku hanya la-", kata-kata Kevin terputus saat ada seorang namja tinggi duduk disampingnya dan mengerang frustasi.
"ARGGHH", namja yg ternyata adalah Chanyeol itu mengerang frustasi sambil menarik-narik rambutnya.
"hyung neo gwaenchanha? Ada apa?", tanya Sehun. Kevin dapat menangkap nada khawatir dari ucapan Sehun. Ia tersenyum.
"aniyo. Sehunnie mian aku tutup dulu telponnya", belum sempat ia memutuskan sambungan Sehun kembali bicara.
"tapi kau harus janji saat terjadi sesuatu kau harus menelponku hyung. Geureom annyeong hyung", dan setelahnya sambungan telpon terputus.
Kevin menatap namja disampingya dengan tatapan bingung, aneh, dan kaget karna tiba-tiba namja itu menghadapnya dan mengguncang tubuhnya.
"Agassi apa aku kurang tampan? Apa wajahku ini buruk sehingga yeoja itu menolakku eoh?", tanya Chanyeol masih memegang bahu Kevin namun tak mengguncangnya.
"eum maaf tuan. Aku tidak mengerti apa maksudmu. Tapi kau sangat tampan dan wajahmu tidak buruk", Kevin hanya menjawab seadanya.
"Benarkan! Aku ini tampan tapi kenapa yeoja itu menolakku? Apa dia sudah gila menolak seorang Park Chanyeol?".
Kevin menatap namja didepannya semakin bingung. Sedangkan Chanyeol yg merasa aktingnnya berhasil tersenyum dalam hati.
"eum jeogiyo tuan. Bisa kau lepaskan tanganmu?", Kevin melepaskan tangan chanyeol dari bahunya.
"ah ne mian aku tidak sengaja. Aku benar-benar frustasi karna ditolak yeoja itu", Chanyeol menundukkan kepalanya menunjukkan ekspresi sedihnya.
"gwaenchanha tuan. Masih banyak yeoja didunia ini bukan hanya yeoja itu saja", Kevin menepuk pelan punggung Chanyeol bermaksud menenangkan.
"kau benar agassi. Masih banyak yeoja didunia ini termaksud kau", sekarang Chanyeol tersenyum lebar membuat Kevin salah tingkah.
"engg itu... sebenarnya aku ini namja bukan yeoja", Kevin tersenyum kikuk saat melihat Chanyeol menatap dengan tatapan tidak percaya.
"kau jangan bercanda begitu. Mana mungkin namja secantik kau! Kau pasti berbohong".
"aniya. Aku tidak berbohong. Kalau kau tidak percaya kau bisa melihat dadaku tuan. Rata sepertimu". Dan setelahnya Chanyeol menatap dada Kevin dan benar saja itu rata sepertinya.
'jadi ia benar-benar namja? Gwaenchanha namja atau yeoja aku sudah jatuh dalam pesonanya', Chanyeol berkata dalam hati sambil terus menatap Kevin.
"eum tuan ada apa? Mengapa menatapku seperti itu?" tanya Kevin menjadi semakin salah tingkah dengan tatapan Chanyeol.
"kau namja tapi kau sangat cantik. Aku menyukaimu", Chanyeol mengungkapkan perasaannya.
"mwo? Kau menyukaiku? Haha kau pasti bercanda", Kevin tertawa renyah membuat Chanyeol yg melihanya menjadi tak tahan dan
Chuu~
Chanyeol mengecup sekilas bibir Kevin membuat Kevin membelalakan matanya kaget.
"jangan memanggilku tuan. Itu terdengar seperti aku sangat tua. Namaku Chanyeol, Park Chanyeol. Dan namamu?", tanya Chanyeol masih menatap Kevin.
"a-aku ke-kevin woo, kau bisa memanggilku Kevin", Kevin menundukkan kepalanya malu. Wajahnya sekarang sangat merah karna mendapat ciuman dari Chanyeol.
"baiklah aku akan memanggilmu Kevinnie. Tak apa kan?", tanya Chanyeol yg hanya dibalas anggukan Kevin. "jja Kevinnie bagaimana kalau kita pergi kencan? Tapi sebelumnya kita makan dulu. Kau sudah makan?", tanya Chanyeol sambil berdiri dan memegang tangan kanan Kevin.
"tapi kita bukan pasangan kekasih mengapa berkencan?", tanya Kevin membiarkan tangannya digenggam chanyeol.
"molla. Aku ingin berkencan dengan namja yg aku cintai apa salah? Geureom uri kajja. Aku sudah sangat lapar", dan setelahnya mereka pergi dengan audi putih milik Chanyeol.
.
.
.
Sementara ditempat lain
"Park Chanyeol! Beraninya dia mencium yeoja itu! Akan kuhajar nanti!" Luhan geram melihat Chanyeol yg mencium orang yg disukanya lalu membawanya pergi.
"kau berlebihan hyung! Kaukan bisa mencari yeoja lain yg lebih cantik!", Kai yg melihat kekesalan hyungnya itu hanya bisa geleng-geleng.
"ani eobseo! Aku harus mendapatkan orang itu!", kata Luhan dengan semangat membara. Sementara Luhan sibuk mengatur rencana, Kai menelpon seseorang.
"yeoboseyo Kai hyung"
"ne yeoboseyo Hunnie. Ada yg ingin aku tanyakan"
"tanyakan? Mwo?"
"apa kau memiliki nomor telpon Kevin?"
"Kevin hyung? Ne aku punya wae?"
"bisa kirimkan padaku? Aku harus menelponnya tapi aku tak punya nomornya"
"ah ne hyung. Akan aku kirimkan"
"gomawo Hunnie"
"cheonma hyung"
TUT TUT TUT
Dan sambungan telpon terputus.
"siapa? Sehun?", tanya Luhan yg sedari tadi memperhatikan Kai yg menelpon seseorang.
"hm aku hanya meminta nomor seseorang darinya"
"siapa? Kenapa tidak minta sendiri dengan orangnya?"
"aku lupa"
Drrttt Drrttt
"siapa kai-AH?"
"Sehun. Ia mengirimkan nomor orang yg kuminta tadi". Luhan yg mendengar jawaban Kai ber'0' ria.
"yeoboseyo"
"ne yeoboseyo"
"eum mianhae. Neo nuguya?"
"aku Kai"
"ah ne Kai-ssi. Wae geurae?'
"aku melihat kau pergi dengan seorang namja"
"ne aku memang pergi bersamanya"
"berarti aku tidak harus menunggumu untuk pulang. Kau bisa pulang dengan namja itu atau pulang sendiri. Hanya itu saja"
"tapi-"
TUT TUT TUT
Kevin side
"ish ada apa dengan namja ini? Seenaknya saja memutuskan sambungan telpon. Akukan belum selesai ngomong", Kevin mendengus kesal menatap ponselnya.
"siapa Kevinnie", tanya Chanyeol yg melihat Kevin menggerutu.
"aniya. Hanya seorang teman yg tiba-tiba memutuskan sambungan telpon saat aku ingin mengatakan sesuatu"
"hm berarti temanmu itu bukan teman yg baik !ia pasti orang yg dingin!", Chanyeol jadi teringat dengan Kai pada saat mereka pertama bertemu. Kai yg dingin dan tidak mudah dekat dengan seseorang. Ia lebih senang menyendiri sampai Kyungsoo –kekasih Kai- datang dan merubah namja itu menjadi lebih terbuka.
"kau benar Chanyeol-ah. Dia memang namja yg dingin dan sangat kasar", Kevin mempoutkan bibirnya mengingat perlakuan Kai padanya tadi sore.
"geureom, kemana kita akan pergi? Kau ingin makan malam dimana? Dan kencan kemana?", tanya Chanyeol antusias.
"dimana yah?", Kevin nampak berfikir. "bagaimana kalau kita makan di kedai makanan tradisonal korea dekat sungai Han?" tanya Kevin antusias.
"kalau kau mau makan disana dengan senang hati aku juga akan makan disana. Jja mari kita kesana", dan Chanyeol pun membawa mobilnya menuju tempat yg Kevin maksud.
.
.
.
"Luhan hyung aku sudah selesai. Aku akan pergi deluan. ini~", Kai mengeluarkan beberapa lembar uang won dari dompetnya dan menaruhnya didekat piring makan Luhan.
"hmm baiklah. Hati-hati dijalan yah Kai-ah", Luhan mengambil uang itu dan melanjutkan makannya sedangkan Kai berjalan menuju pintu keluar.
"hah bagaimana caraku membawa helm yg satu ini?", tanya kai pada dirinya sendiri saat melihat helm yg tadi dipakai kevin. Ia melihat sekelilingnya dan mendapati mobil yg ia kenal, mobil Luhan.
Ia mengeluarkan notebook dari saku jaketnya dan menuliskan sesuatu pada kertas itu lalu merobeknya dan menempelkannya pada helm ditangannya. Meletakan helm itu di kap mobil luhan.
"sebaiknya ku pergi kerumah Kyungsoo hyung saja", gumam Kai sambil tersenyum dan memakai helmnya.
Brumm
Kai memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju satu tempat, rumah Kyungsoo.
.
.
.
"annyeong Chanyeol-ah. terima kasih karna sudah mengantarku pulang", Kevin keluar dari mobil diikuti Chanyeol yg juga keluar dari mobilnya.
"ne cheonma. Terima kasih juga karna sudah mau berkencan denganku", Chanyeol berkata sambil berdiri didepan Kevin. "sebaiknya kau masuk. Udara diluar dingin. Aku tidak ingin kau sakit", Chanyeol tersenyum manis sambil tangannya mengusap lembut rambut Kevin.
"eum. Aku akan masuk sekarang. Kau juga harus segera pulang dan jangan lagi memikirkan tentang yeoja yg menolakmu itu", Kevin tersenyum sangat manis membuat Chanyeol merasa sesuatu berdesir didadanya.
"geureom. Aku pulang. Annyeong", Kevin berbalik dan berjalan meninggalkan Chanyeol.
"Kevin-an", Chanyeol mencegat lengan Kevin membuat Kevin membalik badannya dan menatap Chanyeol. "itu.. kalau seandainya kita bertemu lagi maukan kau berkencan denganku lagi?", tanya Chanyeol, tangannya bergerak mengelus tengkuknya untuk menghilangkan rasa malunya. Semetara Kevin yg mendengarnya hanya bisa menunduk menyembunyikan romna merah diwajahnya.
"eum selama kau masih tidak memiliki kekasih", dan jawaban Kevin membuat chanyeol tersenyum senang sangking senangnya ia tanpa sengaja mencium sekilas bibr Kevin dan menatap Kevin yg menundukkan kepala.
"sudah sana masuklah", Kevin menganggukan kepalanya dan berjalan masuk kedalam gedung apartement yg sekarang menjadi tempat tinggalnya.
Kevin berjalan menuju apartement Kai yg berada dilantai 20. Sesampainya ia didepan pintu apartement ia memencet bel. Awalnya hanya sekali namun makin lama ia semakin menggila memencet bel itu.
'apa dia masih belum pulang?' tanya Kevin dalam hati sambil menatap pintu apartement kai. Ia memundurkan tubuhnya hingga menyentuh dinding dan merosotkan tubuhnya. Melipat kedua kakinya dan memeluknya. Meneymbunyikan wajahnya diantara lengan tangannya. 'semoga ia cepat pulang. Aku kedinginan'.
"Kai-ah nanti kau jangan bermain dengan kasar yah! Jangan mentang-mentang besok hari minggu kau bermain kasar denganku", Kevin mendengar suara langkah yg berjalan menuju kearahnya.
"aku tidak janji Kyungsoo chagi", Kevin medongakkan kepalanya menatap 2 namja yg sekarang berjalan menuju kearah apartement Kai. Ia dapat melihat Kai memeluk posesif namja disampingnya.
"apa yg kau lakukan disini", tanya Kai begitu melihat Kevin yg berjongkok meringkuk didepan pintu apartementnya.
"aku menunggumu. Aku kedinginan", jawab Kevin lirih. Mungkin karna efek kedinginan.
"Jongin-ah, nugu namjaya?", tanya Kyungsoo melihat Kevin yg meringkuk dengan tubuh sedikit menggigil.
"gwaenchanha Kyungsoo hyung. Ia hanya temanku. Ayo kita masuk dan menghangatkan diri", Kai menarik Kyungsoo memasuki apartementnya tanpa memperdulikan Kevin yg menggilgil kedinginan.
Brakk
Kai menutup pintu dan mengucinya. Ia berbalik dan mendapati Kyungsoo menatapnya dengan tatapan bingung.
"waeyo hyung?", tanya Kai berjalan mendekati Kyungsoo.
"kau tidak kasihan melihat namja tadi? Diakan temanmu? Mengapa kau tega Jongin-ah. Apa kau tidak melihatnya menggigil keinginan? Bagaimana kalau dia sakit?", tanya Kyungsoo sambil menatap pintu apartement Kai.
"geogjeongma hyung. Dia akan segera pergi. Lebih baik kita mulai menghangatkan diri", Kai tersenyum lebih tepatnya menyeringai lalu membawa Kyungsoo masuk dalam kamarnya tak memikirkan Kevin.
.
.
.
Kevin yg masih meringkuk didepan pintu apartement Kai. Ia menggigil kedinginan dan menggosok kedua telapak tangannya berharap bisa mengurangi rasa dinginnya.
"aku kedinginan. Sekarang harus bagaimana?", ucapnya lirik. Ia teringat akan seseorang.
Sehun
Ia segera mengambil ponselnya. "pukul 22.17pm. bagaimana kalau ia sudah tidur?", gumamnya ketika melihat jam pada layar ponselnya. Tapi merasa tak ada pilihan ia mencoba untuk menghubungi Sehun.
"..."
"ne yeoboseyo Sehunie. Apa aku mengganggumu?"
"..."
"bisakah malam ini aku menginap dirumahmu? Kai sedang bersama seorang namja dan aku tidak ingin mengganggu. Jadi aku pergi keluar"
"..."
"aku ditaman dekat gedung apartement Kai"
"..."
"ne. bisakah kau cepat Sehunnie. Disini dingin"
"..."
"gomawo"
"..."
TUT TUT TUT
Kevin berdiri dan berjalan meninggalkan apartement Kai menuju taman dekat apartement itu. Sesampainya disana ia duduk disalah satu bangku taman.
15 menit kemudian.
"hyung mianhae aku agar lambat", Sehun sekarang berdiri didepan Kevin. Kevin yg mendengar suara Sehun mendongakkan kepalanya.
"ne gwaenchanha. Sekarang bisakah kita pergi? Aku kedinginan", Kevin memusut lengannya. Kevin terlihat pucat dan tubuhnya menggigil.
"hyung pakai saja ini", Sehun menyerahkan jaketnya. Kevin menerimanya dan tersenyum kemudian memakainya.
"kajja kita pulang", Sehun memegang tangan Kevin yg sangat dingin. Menuntunnya menuju mobilnya.
.
.
.
"hyung kita sudah sampai", Sehun membangunkan Sevin yg terlelah disampingnya. Merasa Kevin tak akan bangun Sehun berinisiatif menggendongnya.
Sesampainya diapartementnya ia membawa Kevin menuju kamarnya. Merebahkan tubuh mungil Kevin diranjangnya.
"kau seperti malaikat hyung", ujarnya mengelur pipi Kevin. Ia merebahnkan tubuhnya disamping Kevin dan memeluknya. "jaljayo nae sarang", dan ia mengecup kening Kevin lembut.
TBC
