Erza memeluk kedua kakinya erat. Seakan baru saja terbangun dari mimpi buruk, tubuhnya bergemetar. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Apa yang harus ia lakukan? Di ruangan gelap itu ia sendirian. Hanya ada suara angin yang mengisi kesunyian. Tapi ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Yang penting baginya saat ini adalah mengambil keputusan. Ya, tepatnya memilih satu dari dua pilihan.
THE DAWN IN MAGNOLIA
Chapter 2
Flashback:
"Menghancurkan Fairy Tail? Apa kau berniat menjadikanku sandera lalu dengan mudah kau menghancurkan Fairy Tail?"
Jellal menyeringai, "Aku bukan raja pecundang seperti itu," jawaban Jellal membuat Erza terkejut. "Para Tetua memang berencana seperti itu, tapi aku memiliki cara lain untuk menghancurkan Fairy Tail."
Jellal menyentuh wajah Erza dengan lengannya. Erza menepisnya cepat.
"Aku tidak akan menyanderamu, tetapi sebaliknya,"
"Se... sebaliknya?'
Jellal menyeringai lagi, seringai yang sangat dibenci Erza. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Erza.
"Aku akan menjadikan Fairy Tail sebagai sanderaku.," bisiknya. "Kalau kau tidak ingin melihat kerajaanmu hancur, kau harus menikah denganku."
Erza terbelalak kaget.
"Kau bisa menemuiku malam ini setelah mengambil keputusan."
Jellal tersenyum penuh kemenangan. Ia meninggalkan Erza yang masih mematung di tempatnya.
Normal Mode:
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Erza lirih pada dirinya sendiri.
Ia mendongakkan kepalanya, berusaha berpikir jernih untuk mengambil keputusan. Kedua pilihan itu sama-sama merugikan untuknya. Kalau saja ia memilih untuk menikah dengan Jellal, ia tahu pasti nantinya ia akan tersiksa. Tapi kalau ia tidak melakukan itu, maka kerajaan ayahnya akan hancur. Mata Erza berkaca-kaca mengingat hal itu. Ia tidak bisa memilih antara dirinya dan kerajaannya. Tapi tetap saja ia harus mengambil keputusan sekarang juga.
"Ayah... maafkan aku..."
-o0o-
Gadis itu melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah, sampai akhirnya ia berhadapan dengan Raja muda itu. Pemuda itu sedang duduk sendirian di tahtanya, tersenyum melihat Erza datang menghadapnya. Ia ingin segera mendengarkan keputusan gadis itu.
"Putri Erza, apa kau sudah..."
"Jellal!" sahut Erza lantang, memotong perkataan Jellal. "Aku sudah memutuskan, aku..." Erza berhenti sebelum melanjutkan perkataannya. Tampak ia masih ragu dengan keputusan yang akan diambilnya. Ia berusaha keras untuk menguatkan keputusannya itu. "Aku... aku akan menikah denganmu!"
Jellal tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kau yakin?"
"Tentu saja! Asal kau mau berjanji untuk tidak menyerang Fairy Tail lagi. Kau juga harus mengembalikan semua wilayah kekuasaan Fairy Tail yang telah kau rebut!"
Jellal memasang wajah pura-pura berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Baiklah, Aku akan berjanji. Jadi, kapan upacara pernikahan akan dilaksanakan?"
Sebuah jawaban yang tidak dipercaya oleh Erza, membuatnya tidak menghiraukan pertanyaan raja di depannya itu. Ia tidak menyangka Jellal akan semudah itu menerima persyaratannya. Ada apa ini? Apa janji si brengsek itu bisa dipegang? Atau mungkin ada sesuatu yang direncanakannya? beragam pertanyaan melintas di pikirannya. Apa pun yang akan terjadi, aku tetap akan menyelamatkan Fairy Tail!
-o0o-
Tengah hari yang panas. Matahari menyinari Magnolia dengah seluruh energinya. Tak tahu betapa suramnya kerajaan itu sekarang. Tampak seorang pemuda berambut merah muda berlari kecil sambil bersenandung ria.
"Natsu!" pemuda berambut hitam memanggilnya.
"Gray!" pemuda yang dipanggil Natsu itu berjalan kepadanya. "Ada apa? Apa kau mau bertarung denganku lagi? Kali ini kau tak akan kuampuni! Hahaha..."
"Diam, bodoh! Aku memanggilmu karena Makarov-sama memintamu menemuinya sekarang juga di istana!"
Pria berambut merah muda itu tampak membulatkan matanya, "Hn? Kenapa dia memanggilku?"
"Mana aku tahu!" balas pemuda berambut hitam itu gusar. "Yang penting temui saja dia sekarang!"
"Iya-iya, aku akan menemuinya. Sudah ya..." Natsu berlari meninggalkan Gray yang masih kelihatan gusar.
-o0o-
"Makarov-sama!" teriak Natsu sambil berlari kecil mendekati sang Raja, memalingkan seluruh perhatian orang yang ada di sana kepadanya.
Makarov hanya tersenyum kecil tanpa bergerak sedikit pun. Ia terbaring di atas tempat tidurnya sambil ditemani beberapa tabib istana.
"Makarov-sama, kau kenapa?"
"Stt... Natsu-san, bisakah suaramu dipelankan sedikit?" tegur Mirajane, kepala tabib istana.
Natsu menyeringai. "Hhe... maaf, aku hanya sangat khawatir saja pada Raja."
Makarov tersenyum lagi. "Aku tidak apa-apa," katanya menenangkan Natsu. Ia memaklumi sikap salah seorang panglimanya itu. Natsu memang pemuda yang semberono, tidak sompan, dan agak aneh. Tetapi Makarov tidak mempermasalahkan hal itu.
"Kata Gray kau memanggilku, kenapa?"
Makarov memberikan isyarat kepada Mirajane. Gadis berambut perak itu mengerti.
"Begini, Natsu-san. Tadi kita mendapatkan surat perdamaian dari kerajaan Fernandes. Seluruh daerah kerajaan kita juga akan dikembalikan." Jelasnya.
"Yeah! Berarti mereka sudah menyerah! Ini sebuah berita yang bagus! Apa semua orang sudah diberitahu?" sahut natsu semangat.
Mirajane tampak muram, begitu juga dengan yang lainnya.
"Masalahnya... itu semua harus ditukar dengan Putri Erza."
Tampak tanda tanya di wajah Natsu, bertanda ia belum mengerti. "Maksudmu?"
Mirajane menghela napas. "Putri Erza harus tertawan di sana selamanya."
"Apa!" teriak Natsu histeris. "K... kenapa bisa begitu?"
"Natsu," kali ini Makarov berbicara. "Dua hari yang lalu, Erza diculik."
Natsu memasang ekspresi agak terkejut. Ia memang belum tahu masalah ini karena masalah ini sengaja ditutupi agar tidak meresahkan warga.
"Ti... tidak mungkin! Bagaimana bisa!"
Makarov terdiam. Raut wajahnya berubah sedih, kemudian ia berkata, "Apa kau mau menolongku... maksudku menolong Erza?"
"Tentu saja!" kata Natsu tanpa berpikir panjang. "Apa pun akan kulakukan untuk menyelamatkan Putri Erza!"
Makarov tersenyum, "Baiklah. Natsu, aku akan memberitahukan tugasmu..."
-o0o-
Erza melihat sekelilingnya, menatap istana megah di hadapannya yang dipenuhi segala pernak-perniknya. Ribuan bunga menghiasi warna dan aroma tempat itu. Namun tetap saja, itu semua tidak tampak indah bagi Erza. Baginya itu malah awal mimpi buruknya.
"Apa kau menyukainya?" tanya Jellal di sampingnya.
Erza terdiam. Ia semakin gusar.
"Aku sengaja membuat acara resepsi pernikahan kita agak berlebihan, meskipun mereka tidak menyetujuinya."
Mereka? Apakah para tetua? Pikir Erza. Tapi kemudian ia kembali menatap kosong. Pikirannya masih membayang keadaan apa yang akan dialaminya malam ini. Acaranya memang akan dilangsungkan jam delapan malam atau tepatnya dua jam yang akan datang, tetapi ia sudah bisa membayangkan di atas altar ia berdiri bersama Jellal, menjadi pusat perhatian ratusan_bahkan ribuan jiwa yang hadir di sana. Namun yang paling ia pikirkan adalah hidupnya, hidupnya setelah malam ini berlalu.
TBC
Langsung TBC! Cerita semakin gak jelas! Gomen...
Chap. depan semoga cepat update dan lebih memuaskan tentunya. Mungkin romance-nya bakal nongol di chap. depan.
Thanks buat reviewers chap. sebelumnya. Semoga nggak jera nge-review...
Terakhir... Review please...
