Curiosity (Bab 1)


Aku mulai mengetik 'Lycan' di mesin pencaharian. Dan berbagai macam hasil ku temui. Aku semakin tertarik mendalami 'Makhluk macam apa Lycan' itu.

Aku tak pernah suka cerita-cerita monster, Mitiologi, atau pun horror. Karena sejak kecil ibu tidak akan mengizinkan aku memiliki khayalan-khalayan menakutkan yang hanya akan menjadikan diriku anak yang pengecut.

"Konyol" gumamku, saat membaca artikel yang selalu sama dengan artikel-artikel sebelumnya.

Bagaimana bisa seorang vampire berhubungan intim dengan seorang werewolf? Hal yang ada di kepalaku adalah wujud werewolf yang menakutkan. Seperti; Tubuhnya yang tinggi besar, dengan bulu-bulu serigala yang nyaris menutupi setiap permukaan tubuhnya. Oh, dan taring-taring besar serta air liur di sekitar moncong mereka.

Suara lolongan serigala mengejutkan aku. Dan aku yakin, serigala itu berada di jarak yang cukup jauh di dalam hutan. Hutan di Harvest Valley adalah pemukiman yang paling cocok untuk pack-pack serigala.

Aku tahu ini gila, karena sekarang aku sudah memakai jaketku dan sebuah senter, serta pemukul base ball-ku. Aku menunggu kelengahan ayahku yang selalu memastikan aku tertidur di dalam kamar setiap malamnya.

Ku harap tidak apa-apa jika aku memastikan sendiri jika mitos yang digembar-gembor oleh masyarakat desa itu hanya omong kosong belaka.

Setelah ku yakin ayah tertidur, aku segera melarikan diri dari jendela kamarku yang terletak di lantai dua. Dengan hati-hati aku menuruni pohon oak yang berada di samping rumahku agar tidak terjatuh.

Konyol, seharusnya aku tak perlu kabur dari rumah hanya untuk memastikan sesuatu yang tak pernah selaras dengan jalan pikiranku.

Aku melirik rumahku, ku harap ayah tidak terbangun dan mendapati putra semata wayangnya kelayapan di malam hari.

Yang harus ku lakukan adalah masuk ke dalam hutan dan menyorot di sekitarnya. Kemudian pulang ke rumah dan tertidur. Apa itu cukup berbahaya? Ku rasa tidak. Aku berjanji pada diriku sendiri agar tidak masuk terlalu jauh ke dalam hutan.

Tanpa terasa aku telah sampai di depan hutan yang berada 5 atau 7km dari rumahku. 'Kau gila, Jongin' batinku. Bagaimana jika ayah tahu? Ibu, maafkan aku! Aku hanya ingin memastikan jika ketakutan mereka hanya omong kosong belaka.

Ku langkahkan kedua kakiku. Aroma basah dan lembab tercium di hidungku. Suara ranting-ranting pohon yang ku injak mampu membuat jantungku berpacu.

Kresekkk...

Aku menoleh ke belakang saat mendengar suara ranting yang terinjak. Seperti ada seseorang yang tengah berjalan. Tidak mungkin itu aku, karena ku yakin aku sudah berhenti melangkah.

Bayangan hitam bergerak cepat, membuat bulu kudukku meremang. Kepalaku pusing, dan rasa takut mulai menderaku. Ayolah, aku harap itu hanya polisi hutan yang sedang membuat lelucon.

Aku meremat pelan kalung berbandul salib berbahan perak serta diamond kecil bulat yang terletak di bagian tengah.

"Hallo"

Seorang berwajah pucat berdiri tepat di depanku. Dia seorang yeoja, rambutnya pirang pucat. Matanya berwarna jingga dengan wajah khas orang-orang kaukasia.

"Sedang apa anak manis sendirian di hutan ini?" Tanyanya.

"Harum sekali"

Aku terkejut saat mendapati yeoja lainnya mengendus punggungku.

Aku terkejut dengan tingkah aneh dua yeoja ini.

"Siapa kalian?" tanyaku, tak gentar.

Dua yeoja itu tertawa cekikikan. Apakah dia hantu? Tapi kedua kaki mereka menapak meskipun wajah mereka terlalu pucat. Bahkan aku bisa melihat urat-urat biru di tubuh mereka.

"Mereka menyebut kami Lintah penghisap" si wanita yang lebih tinggi berkata.

Sementara yeoja yang lebih pendek berambut hitam itu menyeringai.

"Noona, mundurlah! Aku tidak mau menyakiti yeoja"

Tawa mereka semakin melengking. Dengan cepat si yeoja berambut pirang melompat ke arahku. Namun dengan cepat pula seekor serigala berbulu putih menerkam yeoja itu.

"Rrrrrrrrrrrr"

Serigala itu mengeram marah. Aku gemetar melihatnya. Apalagi saat pertempuran itu terjadi, dimana serigala berbulu putih itu mencabik-cabik tubuh kedua yeoja itu dengan tatapan amarahnya.

Kepalaku pusing, mataku seperti berkunang-kunang. Aku merasa tubuhku sudah tidak kuat lagi. Maka yang terjadi selanjutnya adalah aku melihat sosok namja bertelanjang dada berjalan ke arahku sebelum akhirnya gelap menghampiriku.

...


"Jongin"

Aku membuka kedua mataku, dan mendapati diriku berada di dalam kamarku—serta mendapati ayahku dan keluarga Ryu yang menatap cemas ke arahku.

"A..ayah" Aku berusaha terbangun.

"Mengapa kau kabur dari rumah?" tanya ayahku. Sarat akan amarah dan kekhawatir yang luar biasa.

Bibi Ryu membalurkan tangan kananku dengan sesuatu yang membuatku tersadar jika tanganku terluka.

"Arrgg" ringisku.

"Kau membuat kami cemas, nak" kata Bibi Ryu. "Ayahmu mencarimu ke rumah kami pukul 10 malam kemarin"

Ayah mendesis pelan. Ia terlihat kesal dengan tingkahku yang sembrono ini.

"Pergi kemana kau semalam?" tanya ayah.

Aku terdiam, mana mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya. Pergi ke hutan hanya untuk memastikan makhluk bernama Lycan itu benar-benar ada atau tidak.

"Pergaulan anak muda di Harvest Valley sama sekali tidak baik untukmu, Jongin" Ujar paman Ryu.

Aku mengangguk pelan. Mungkin itulah sebabnya ayah menyekolahkan aku jauh dari lingkungan Harvest Valley. Dia hanya tak mau aku bergaul dengan para pemuda-pemuda putus sekolah yang kerap kali berbuat onar.

"Untung saja putra angkat Profesor Jung menemukanmu. Dia bilang kau dikeroyok dua orang pemuda" Bibi Ryu menambahkan.

Aku berpikir sejenak. Profesor Jung? Bukankah itu ayah angkat Sehun dan keempat saudaranya?

...

Hari ini aku tak masuk sekolah, dan dalam waktu singkat berita tentang penyeranganku itu menyebar ke seluruh Harvest Valley. Bahkan teman dekatku, seperti; Wonshik, Jaehwan, Myungsoo, dan Moonkyu datang ke rumah membawakan buah-buahan—aku tahu itu hanya formalitas, karena yang sesungguhnya mereka inginkan adalah mengetahui keadaanku yang sebenarnya.

"Kau keluar tadi malam?" Tanya Moonkyu.

Aku yang duduk bersandar di ranjangku—dengan sebuah jeruk di tangan pun menoleh ke arahnya. Dia pasti tahu, pikirku.

"Aku minta maaf, tapi aku sama sekali tidak menyarankanmu ke luar" katanya. Ada penyesalan yang begitu mendalam di matanya.

"Ayahmu bilang kau ditemukan oleh si bungsu keluarga Jung" Jaehwan menyela. Dia berbaik hati mengupas mangga untukku. 'Thanks' ucapku pelan. Jaehwan baik sekali, dia sudah seperti seorang ibu diantara kami.

"Berarti Sehun tahu persis apa yang terjadi" celetuk Wonshik.

Myungsoo yang duduk di samping ranjangku tersenyum. "Memangnya kau sama sekali tidak ingat kejadian semalam?" tanyanya.

Aku menggeleng. Aku tidak berbohong, karena aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Yang aku ingat aku keluar dari rumah untuk pergi ke hutan. Namun tidak untuk kejadian selanjutnya, karena kepalaku seolah berdenyut sakit saat aku mengingat kejadian selanjutnya.

"Sehun bilang ada dua orang yang menyerangmu. Untunglah dia segera datang" Wonshik berkata.

"Aku tak menyangka jika orang careless seperti dia itu mau menolong orang" Moonkyu bermonolog seorang diri.

.

.

.

.

Curiousity (Bab 2)


"Hallo"

Aku membuka kedua mataku dengan sempurna saat mendengar suara husky menyapaku.

Aku baru saja ingat, setelah teman-temanku pulang, aku tertidur pulas di kamarku.

Aku menoleh, dan mendapati Sehun tengah duduk di meja belajarku tanpa ekpresi. Ia bersedekap dada, aku mulai menerka-nerka, sudah berapa lama dia berada di sini.

Wajahnya yang tanpa ekpresi itu terus menatapku. Namun biar begitu, matanya yang seminggu lalu selalu menatap tajam ke arahku kini terlihat mempesona dan begitu bersahabat.

"Ha..hai"

Ia tersenyum tipis dan berjalan mendekat ke arahku.

"S..sudah berapa lama di sini?" tanyaku, gugup.

Ia duduk di samping ranjangku dan terus menatapku. Saking bingungnya kepalaku kembali pusing. Apakah aku berkhayal? Ya ampun, yang ada di depanku benar-benar Sehun. Si bungsu keluarga Jung.

"5 jam yang lalu"

"Apa? selama itu?"

Ia menganggukan kepalanya. Aku terdiam, lalu bertanya. "Dimana ayahku?"

"Dia pergi ke klinik. Ada yang terluka di sana"

Aku berdehem pelan. Ia mengambilkan segelas air di nakas kecil yang terletak di samping ranjangku. "Minumlah" katanya.

Aku menurut—air memasuki kerongkonganku yang kering.

"Jadi, Jongin"

"Kau tahu namaku?"

Ia tersenyum lagi. Senyum yang sopan dan menyenangkan, menurutku. "Siapa yang tidak mengenal Kim Jongin? Anak pindahan dari Seoul, putra dari dokter Kim"

Aku menyengir—gugup. Sudah kuduga, jawabannya pasti akan seperti itu.

"Sehun-ssi, aku ingin berterimakasih mengenai kejadian semalam" ujarku. Mungkin aku benar-benar seperti orang bodoh sekarang.

"Untuk kebodohanmu yang pergi ke hutan?" tanyanya.

Ku rasakan hangat menjalari wajahku hingga ke kuping. Well, dia pasti akan mengatakan jika aku terlalu bodoh untuk pergi ke hutan di malam hari.

"T..tapi mengapa kau bisa tahu aku ada di sana?" tanyaku. Pertanyaan yang terus berputar di kepalaku akhirnya keluar juga dari mulutku.

Sehun terdiam—sepertinya ia tengah berpikir. Matanya yang blue icy itu seperti kosong.

"Apa aku harus menceritakan kejadian yang sesungguhnya?"

Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku terkejut, dingin merayapi sekujur tubuhku. Aku seperti melihat sesuatu di matanya, sekilas ada yang aneh. "Apa kau menggunakan softlens?" tanyaku, perlahan. Agar ia tak tersinggung

Sehun memang memiliki wajah yang agak kaukasia. Membuatku sempat berpikir jika ia dan keluarganya masih memiliki keturunan barat. Tapi aku ingat jelas warna obsidian kelamnya yang kontras sekali dengan kulit pucatnya.

Ia memalingkan wajahnya dari wajahku.

"Sehun?"

"Tidak" jawabnya.

Aku bergumam. Ku pikir ada yang berbeda dengan matanya kali ini. Aku menggeleng pelan, sebenarnya aku yakin memang ada yang aneh dengan kehidupanku kali ini. Tapi aku mencoba menampik. Aku yang aneh, atau Jinan yang aneh? Atau malah penduduk di sini yang membuatku merasa seperti orang sinting? Ku harap aku tidak benar-benar menjadi sinting di sini.

"Baiklah" ujarnya. Ia menarik wajahnya dari wajahku. Kemudian berdiri di samping ranjangku. "Pelajaran untuk anak kota yang nakal adalah tidak keluar ke hutan di malam hari"

"Aku tidak"

Aku menunduk malu, tanganku terkepal.

"Kau membuat ayahmu panik bahwa putranya yang manis kabur dari rumah"

"A..aku"

"Aku tak akan mengatakannya pada ayahmu" kata Sehun. "Tapi ku peringatkan padamu supaya tidak terlalu ingin tahu mengenai mitos itu"

Apa?

Bagaimana ia bisa tahu?

"Semakin kau ingin tahu, semakin kau terlihat seperti orang bodoh"

"Kau juga keluar saat itu" kataku. "Apa yang kau lakukan di sana?"

Aku tidak mungkin bodoh. Aku memang tidak ingat apa yang terjadi malam itu. Tapi sosok seorang pemuda bertelanjang dada membuatku langsung berpikir jika itu adalah Sehun.

"Ayahku seorang profesor, mencari obat-obatan di dalam hutan sudah menjadi hobinya" Ia mengangkat bahu, namun tatapannya masih tajam.

"Kau juga tidak percaya dengan mitos itu kan"

Aku tertawa sinis. "Kau sama sepertiku"

"Tidak, kita tidak sama" gumamnya.

Ia kembali mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Tidak akan pernah sama" ia berkata dingin.

Kemudian keluar dari kamarku. Dan ku dengar suara ayah yang menyapanya, dan mengucapkan kata terimakasih karena telah menjagaku selama ayah pergi.

Aku berpikir, bagaimana ia bisa tahu jika ayahku telah tiba?

.

.

.

Hari Senin..

Aku berusaha terlihat menyimak Min Saem yang tengah menjelaskan di depan papan tulis dengan layar proyektor yang menyala. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi penuh saat mengingat keanehan yang semakin ku rasakan selama aku berada di Jinan.

Ketika bel berbunyi, Sehun yang duduk di pojok belakang langsung meninggalkan kelas dengan gerakan yang anggun—seperti yang kerap kali ia lakukan. Dan seperti biasanya, aku masih akan memandangi punggung lebar dan tegapnya dengan pikiran yang aku sendiri pun tidak mengerti apa.

Jaehwan dengan cepat mendatangiku bersama Wonshik—pacarnya. Namja itu membantuku membereskan buku-bukuku ke dalam tas.

"Tanganmu sudah sembuh?" tanyanya.

"Setidaknya sudah tidak terlalu sakit lagi" jawabku.

"Sudah bertemu Sehun?" Kini giliran Wonshik yang bertanya.

Aku mengangguk pelan. Tapi aku merasa jika ada sesuatu dalam hatiku jika aku harus menemui Sehun sekali lagi.

...

Aku berjalan tergesa-gesa setelah pelajaran terakhir berakhir. Aku harus segera mencari Sehun untuk meminta penjelasannya mengenai kejadian di hutan Harvest Valley.

Aku mencoba mengingat-ingat tempat favorite keluarga pucat itu menghabiskan waktunya. Aku tiba di gedung 4, sebuah gedung yang digunakan para siswa pecinta sains dan biologi. Aku tersenyum saat melihat salah satu dari putra Jung itu berdiri tegap di sana dengan jas lab membalut tubuh tingginya.

"Chanyeol-ssi"

Ia berhenti dan menoleh. Wajahnya pucat dengan maniks-nya yang Coklat keemasan. Aku menggeleng pelan. Apa dia salah satu namja-namja metroseksual yang gemar menggunakan Softlens?

"Putra dokter Kim" sahutnya.

Ia tersenyum begitu menawan. Aku menggeleng, mencoba lebih fokus dengan wajahnya dibandingkan dengan iris matanya yang kecoklatan itu.

"Kau pasti mencari Sehun kan?"

Aku membulatkan kedua mataku.

"Hanya menebak" katanya. Dia tersenyum lagi.

Aku balas tersenyum.

"Mungkin kau bisa menemuinya di halaman belakang sekolah"

Aku segera mengucapkan terimakasih dan bergegas ke halaman belakang sekolah. Di sana masih nampak bukit yang hijau dan sejuk dengan hamparan pohon yang tumbuh sangat subur.

Aku melihat namja itu berbaring di bawah pohon sambil menutup kedua matanya. Tubuhnya yang pucat terlihat begitu menawan dengan bibir tipis dan rahangnya yang tegas.

Dia sangat tampan—dan selama aku berada di Yeol han, banyak para siswi maupun siswa yang terpana akan ketampanannya. Yah, hanya saja mereka tidak terlalu menyukai tingkah anak-anak Jung itu yang terkenal penyendiri dan jadi terlihat tidak mau bergaul.

Kretekkk..

Aku tak sengaja menginjak ranting dan menghasilkan suara yang lumayan keras.

Sehun segera memasang kesiagaannya dan menoleh ke arahku. Matanya yang tajam itu menatapku tanpa ekpresi—selalu tatapan yang sama yang akan selalu ia perlihatkan padaku.

Dimana tatapan ramah yang kemarin?

"Mau apa kau kemari?" tanyanya.

Aku berjalan mendekatinya.

"Aku ingin bertanya soal kejadian di malam itu" kataku, begitu canggung.

"Tak bisakah kau berterimakasih dan melupakan kejadian itu?

Aku terdiam saat ia berkata seperti itu. "Aku tidak akan menyerah sampai kau menceritakan yang sesungguhnya padaku"

"Kau diserang pemuda mabuk"

"Kau mengarang cerita!" Aku berseru kesal. "Aku tahu kau berbohong"

Kami saling menatap marah dalam keheningan. Akulah yang pertama kali bicara, mencoba tetap fokus. Perhatianku nyaris teralihkan oleh parasnya yang menawan itu.

"Mengapa kau tak mau cerita?" tanyaku.

"Tidak akan ada yang percaya" ia menjawab acuh. Wajahnya yang dingin terkesan angkuh bagaikan malaikat penghancur. Setan yang tampan dan menyebalkan, pikirku.

"Kau pun lebih baik pergi" seperti bisikan. Ia berbalik dan menjauh.

Aku marah, dan mengambil sebuah batu. Kemudian melempar batu itu ke arahnya. Namun dengan cepat ia berbalik dan menangkap batu itu dengan tangannya.

Aku menatapnya nyalang. Dia tidak peka! Aku tahu dia tidak akan pernah peka dan terus membungkam mulutnya seolah ia membisu.

.

.

.

.


Minggu pagi yang dingin—mengingat salju sudah mulai turun melapisi permukaan jalan di desa Jinan.

Aku hanya melamun sambil memandangi jalanan dari jendela kamarku yang sedikit berembun. Sekilas teringat mimpiku semalam tentang ibuku dan seseorang yang akhir-akhir ini menjadi trending topik di kepalaku.

Di sana aku bertemu ibu. Ibu terlihat sangat cantik dengan gaun pernikahannya yang ia kenakan saat acara pemakamannya. Ia mengusap lembut rambutku, tanpa bicara.

Aku menutup kedua mataku saat merasakan usapan lembutnya itu. Aku sangat merindukan ibuku, sampai rasanya aku masih bisa merasakan usapan tangannya di kepalaku.

Lalu entah bagaimana ibuku menghilang tergantikan dengan sosok kegelapan yang tertawa. Tawanya menggelegar dan membuatku takut. Ia mencoba meraihku, namun seseorang menarik pergelangan tanganku—menyelamatkan aku dari sosok itu.

Secerca cahaya terlihat di tubuhnya, dan aku mengenali sosok tampan ini.

Ku pikir itu adalah mimpiku yang paling aneh. Dan aku bertanya-tanya, mengapa aku bisa memimpikan Sehun? Segalanya terasanya tak nyaman dan membuat hatiku resah bukan main.

"Nak Jongin"

Itu bibi Na, asisten rumah tangga yang ayah pekerjakan untuk membantu kami. Bibi Na akan menginap di rumah ini bersama Seolchan, cucu semata wayangnya yang baru berusia 4 tahun dan sudah menjadi yatim piatu.

Ia melongok dari pintu kamarku yang terbuka.

"Bibi sudah membuat sarapan" katanya.

Aku mengangguk dengan senyum di wajahku. "Nanti aku akan turun"

"Baiklah..Tuan Kyuhyun juga sudah menunggu di bawah"

...

"Ayah"

Ayah mengalihkan fokus dari koran hariannya dan melihat ke arahku.

"Iya?"

"Apa ayah tahu mengenai profesor Jung?"

Ayah nampak berpikir sejenak. Kemudian ia berkata jika Profesor Jung adalah seorang profesor hebat yang tinggal di timur Harvest Valley di sebuah rumah besar bersama kelima anaknya dan juga istrinya.

Profesor Jung dengan nama asli Jung Yunho. Dia seorang namja yang ramah dan baik hati. Hanya saja kehidupannya sedikit tertutup karena rumahnya yang seperti kastil itu terletak lumayan jauh dari pemukiman penduduk.

"Dia bekerja sama dengan dokter-dokter di sini" kata ayah. "Karena dia juga klinik di sini tak pernah kehabisan obat sekalipun untuk penyakit yang langka"

"Ayah pernah bertemu dengannya?"

"Tentu saja. Bahkan mengobrol" jawab ayah.

Aku menganggukan kepalaku.

"Kelima anaknya sekolah di tempat yang sama denganmu kan?"

"Iya, dan aku selalu berada di kelas yang sama dengan Sehun"

"Oh, si bungsu" ayah menyahut cepat. "Dia orang yang ramah"

Ramah apanya, pikirku. Bahkan sikapnya saja sangat jutek padaku. Bisa benar namja itu memainkan perannya. Ini sungguh tidak adil bagiku!


.

.

TBC

.

.

.

A/n :

Replied for some question:

A : Marganya kok Jung?

Me : Marganya Sehun tetap Oh kok. Cuma memang ada cerita tersendiri di balik marga Jung itu.

A: Insipirasi Twilight?

Me: Gak benar-benar twilight sih, ada Vampire diaries, Underworld, Van helsing, dan beberapa VamStories lainnya. Dibanding Twilinght aku lebih suka Vampire diaries.

A: Kenapa pake sudut pandang orang pertama?

Me: Gpp, suka aja:))

A: Sehun itu Vampire atau werewolf?

Me : Lihat judulnya^^

A: Kok Kyungsoo jadi mamanya Jongin?

Me: Cuma pinjem namanya doang kok. Lagian kalo mamanya namanya Yesung? Nouh! Aku shipper Kyusung! Dan mereka harus bersatu*Lol Intinya Kim Kyungsoo itu bukan Do Kyungsoo. Kalo Do Kyungsoo mah nanti jadi character yang akan datang*lol.

A: Update kok selalu cepat?

Me: Anggap aja aku org yg aneh. Kalo lagi galau justru malah semakin byk ide buat nulis. tp kalo lagi bahagia mah boro-boro punya ide, buat update cepet aja juga gak kepikiran. Intinya anggap aja FF ku Curahan hati yang tertunda*Lol*

(Ok aku harap jawaban ini bisa membuat SIDERS yg punya banyak pertanyaan terjawab ya hehehe..)