Moshi-moshi (?)! Akhirnya Kazue bisa update setelah nyelesain chappie lanjutan di fandom KHR dulu. Gomenne kalo lama T-T
Huwaaah~ Gak nyangka kalo di chappie satu udah ada yang ngereview~ Bahagiaaa... *nangis gerobak*
Mungkin Kazue bakal bales Review secara barengan aja ne~
Miku menelantarkan Len dan Rin~ Tapi nanti Len sama Rin bakal bales apa yang udah Miku lakuin kok~ Kufufufu~ *ngambil kufufunya Mukuro dari fandom sebelah*
Fuwaaa? Suka lagu Trick and Treat juga? Yeeeeiiyy~! Hi-five~!
Hontouni Arigatou ne, sampe dimasukkin ka fave, Kazue seneng beneran ^^
Sekali lagi, Sankyuu~ *bungkuk hormat*
Mending langsung mulai aja kali ya? Ah, OC2 pada ngacir, gak ada asisten nih -3-)
Disclaimer: Vocaloid milik Mama Crypton dan Papa Yamaha (lagi)
Warning: (kembali) Bahasa FTV! Bahasa gak efektip, alur kecepetan, Typo nyempil, dll~
Genre: Mystery, Horror, Bloodscene di akhir!
Rated: T
Don't like don't read
-Trick and Treat: The Revenge-
Miku dan kedua teman barunya, Len dan Rin, berjalan ke arah bukit di dalam hutan, di situlah rumah Len dan Rin.
Tak habis-habisnya Miku berpikir, kenapa Len dan Rin tinggal dalam hutan seperti ini. "Apa mereka tak punya keluarga? Apa tak ada tempat tinggal lain yang lebih layak selain di hutan?" pikirnya semakin bingung. Tapi terlihat dari raut wajah Len dan Rin, sepertinya mereka menikmati tinggal di hutan menyeramkan seperti ini.
Tak lama, sampailah mereka di sebuah rumah besar yang letaknya hampir dekat dengan bukit yang mereka tuju tadi. Terlihat fondasi rumah itu sepertinya tidak terlalu kuat. Aura di sekitar rumah tidak terlalu enak. Cat rumahnya berwarna hitam kelam dan semakin memberikan kesan angker, dan sebenarnya bangunan itu lebih cocok disebut "kastil" ketimbang rumah.
"Kalian tinggal di sini?" tanya Miku kurang percaya.
"Hai. Mungkin dari luar terlihat menyeramkan, tapi dalamnya tidak begitu kok." Jawab Rin. "Di dalam sangat menyenangkan, makanya kami betah tinggal di sini." Lanjutnya dengan tawa riang.
Len berjalan ke arah pintu, diikuti dengan Rin. Mereka membukakan pintu itu secara bersamaan dan mempersilahkan Miku masuk. Sekarang Miku benar-benar merasa seperti ojou-sama.
"Selamat datang si rumah kami. Silahkan masuk." Kata Len dan Rin bersamaan diiringi senyuman manis keduanya.
Miku tertawa kecil. "Arigatou." Balasnya sambil membungkuk hormat ala tuan putri lalu masuk ke dalam. Len dan Rin ikut masuk sebelum menutup pintu rumah mereka.
Miku tercengang melihat isi dari rumah itu. Benar kata Rin, dalamnya berbeda jauh dengan luarnya. Dalam rumah itu sangat bersih dengan perabotan yang masih bagus dan lagi catnya berwarna putih dan silver, terkesan eksotis.
"Rumah kalian bagus sekali..." puji Miku masih sambil melihat-lihat seisi rumah.
"Sankyuu." Balas Len sambil tersenyum. "Kamarnya ada di atas, bisa kau pilih sendiri."
"Eh? Apa benar... Tidak merepotkan...?" Miku ragu.
"Ya ampun, santai saja. Kami malah senang menerima kedatanganmu di sini." Kata Rin sambil tertawa riang lagi. Kesimpulan Miku, Rin adalah anak yang ceria.
Rin lalu menarik tangan Miku ke atas. "Ayo, kuantar kau."
Miku menurut saja, membiarkan tangannya ditarik oleh Rin.
\(^^)/\(^^)/
"Waaaah~ Bagus sekali~" Miku kembali tercengang begitu melihat kamarnya. Kamar itu lebih luas daripada kamarnya yang ada di rumah. Tempat tidur bertirai dan beberapa lukisan boneka yang lucu-lucu tergantung di sana-sini.
"Istirahat saja dulu. Nanti kalau sudah waktunya 'makan malam', akan kupanggil." Kata Rin.
"Ne, arigatou~" balas Miku sambil tersenyum. Rin membalas senyumannya lalu menutup pintu kamar perlahan. Suara decitan pintunya membuat telinga Miku ngilu, tapi biarlah.
Miku berjalan perlahan ke arah kasur lalu duduk di pinggirannya. Dia melihat sekeliling dan mulai berbicara dalam hati lagi. "Rumah besar... Kamar yang banyak dan bagus-bagus semua... Tapi kenapa tuan rumahnya hanya dua orang? Dan lagi... Kenapa kamar ini penuh dengan lukisan boneka? Agak kurang wajar sih... Tapi mungkin saja mereka pecinta boneka (?)."
Miku mendekati salah satu lukisan yang tergantung di jendela. Itu adalah lukisan sebuah boneka perempuan berambut hijau berwajah lucu tapi garis senyumannya agak turun, seperti sedang cemberut. Atau lebih tepatnya... Sedih merangkap takut juga. Di bawah lukisan itu ada tulisan "1999 – Done"
Miku menatap tulisan itu agak heran. 1999 adalah tahun saat dia berusia 5 tahun. Dan lukisan boneka itu mirip dengan boneka pertamanya yang ia dapat saat ulang tahun kelimanya.
Boneka "pertama"...?
Bukan. Miku ingat sebelumnya dia mendapat boneka kembar, tapi karena waktu itu dia tak peduli lagi dengan kedua boneka itu, akhirnya dia melupakannya dan sampai sekarang dia tak pernah ingat nama dan wujud boneka pertamanya itu.
Miku yang malang.
Dia kembali memerhatikan lukisan itu. "Apa maksud dari done...? Apa mereka yang membuat boneka itu ya?"
Dia ingat saat masa-masa umur 5 tahunnya, banyak kejadian aneh terjadi setelah Len dan Rin dibuang (tentu Miku lupa dengan nama dua boneka itu). Kejadian pertama adalah hilangnya boneka perempuan hadiah ulangtahunnya itu. Entah bagaimana bisa, tapi saat itu...
[Flashback ON...]
Miku menaruh bonekanya di atas tempat tidur miliknya lalu bergegas keluar kamar karena ingin mengambil alat-alat mainnya. Dia berencana akan bermain rumah-rumahan dengan boneka kesayangannya.
Boneka itu hanya ditinggal kurang dari 3 menit, tapi saat Miku kembali ke kamar, dia tidak melihat bonekanya itu. Miku mencari-cari ke seluruh penjuru rumah sambil menangis karena putus asa karena tak dapat menemukannya. Karena orangtua Miku merasa kasihan pada anak semata wayang mereka, akhirnya mereka segera membelikan Miku boneka baru. Boneka panda.
Miku kembali ceria lagi mendapat boneka baru itu. Seluruh warga rumah juga merasa senang lagi karena Miku berhenti menangis. Untuk info, jika Miku sudah menangis, bahkan tetangga di jalan seberang yang jauh saja bisa mendengar jelas tangisannya. Memang, Miku termasuk anak yang manja dan cenderung cengeng.
Hingga malam itu, Luka pergi ke kamar Miku untuk menemani Miku tidur. Memang sudah menjadi kebiasaan Luka tiap malam untuk datang ke kamar Miku, membacakan cerita, lalu menemani Miku sampai dia tidur.
Saat Luka masuk ke kamar Miku, terlihat Miku sudah duduk manis di kasurnya sambil memeluk boneka panda yang baru dibelikan itu. Luka tersenyum lalu duduk di sebelah Miku. Barulah dia melihat sesuatu yang aneh.
Tempat Luka duduk itu tepat di sebelah tempat terakhir boneka yang hilang itu ditaruh. Dan anehnya, dia merasa seperti melihat bercak aneh di situ. Walaupun kasat mata, Luka masih bisa melihatnya. Noda merah kering kecil menempel di situ.
Luka merendahkan badannya dan coba mencium sedikit aroma noda itu. Anyir. Mungkinkah...
Luka langsung melihat ke arah Miku tapi anak itu tidak memperlihatkan tanda-tanda kalau dia terluka atau semacamnya.
Luka menerawang sendiri. Saat dia melihat ke arah jendela kamar Miku, dia sempat melihat dua bayangan kecil melesat cepat. Kaget, itu yang dirasakan Luka, dan juga takut. Sangat takut. Tapi karena dia tak mau membuat anaknya ketakutan juga, akhirnya dia menyimpan rahasia itu sendiri.
[Flashback OFF...]
Miku berbaring di kasurnya sambil memikirkan masa lalunya. Sebenarnya, bukan itu saja kejadian aneh yang pernah terjadi. Setelah kejadian itu, boneka-boneka yang lainnya pun juga ikut hilang secara misterius. Sudah sekitar 30 boneka yang hilang dari total 31 boneka. Di umurnya yang sekarang, dia masih punya satu boneka yang dia "segel" dalam gudang rumah. Boneka itu handmade asli dari nenek Miku dan sengaja dibuat mirip dengan Miku. Karena Miku sangat sayang pada boneka itu, akhirnya dia simpan boneka itu di gudang. Dia berpikir kalau dia simpan boneka itu di gudang, nasibnya tak akan sama dengan boneka-bonekanya yang lain.
Miku mendesah panjang lalu mulai memejamkan mata perlahan, tapi belum sampai 10 detik ia memejamkan mata, pintu kamarnya sudah diketuk kembali.
"Miku-chan~ Makan malam sudah siap~" terdengan suara Rin dari seberang.
Miku langsung bangun dan meregangkan tubuhnya. "Aku segera ke bawah!" balasnya.
"Ditunggu~" suara Rin kembali terdengar, disusul suara langkah kaki menjauh.
Miku berdiri lalu berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar. Aroma sup sudah tercium sampai ke atas, membuat Miku langsung cepat-cepat turun ke bawah.
\(^^)/\(^^)/
"Gouchisousama deshita~" ucap Miku mengakhiri acara makan malamnya. Rin dengan riangnya mengambil piring-piring kosong bekas makan Miku, Len, dan dirinya sendiri, lalu membawanya ke dapur untuk dicuci.
Len menuangkan teh ke cangkir Miku dan ke cangkirnya sendiri. Miku langsung meminumnya dengan sopan.
"Nee, Miku-san..." panggil Len tiba-tiba.
Miku menghentikan aksi minumnya lalu menatap Len. "Hai?"
Len terdiam sebentar lalu memandang keluar lewat jendela dekat situ. "Hujan semakin deras, sementara sekarang sudah mendekati jam tengah malam. Sangat tidak memungkinkan kalau kau ingin pulang sekarang. Menginap dulu saja tidak apa kan?"
Miku ikut melihat keluar jendela. Benar kata Len, hujan mengguyur deras daerah itu.
"Hm... baiklah..." ujar Miku membuat keputusan. Dia tahu kalau mau pulang sekarang juga susah karena dia tak bawa payung, lagipula, dia juga tak tahu jalan. Kalau dia pulang besok, bisa saja Len atau Rin mengantarnya sampai perbatasan hutan dengan jalan utama. Jadi, pilihannya sudah pasti benar kan?
...
Seandainya dia tahu...
...
Len tersenyum senang. "Akhirnyaaa~" serunya ambigu.
Miku menatap heran. "Maksudmu?"
Len menatap Miku senang. "Akhirnya ada orang yang mau menemaniku dan Rin di rumah ini, walau hanya semalam." Jelasnya berbohong.
"Oh..." Miku tersenyum kecil sebelum meminum tehnya lagi. "Aku juga senang bisa menemani kalian berdua."
Len kembali tersenyum lalu meminum tehnya.
Tiba-tiba, Rin muncul dari dapur dan langsung melompat dan memeluk Len dari belakang. "Nee, Len-chan, apa yang kulewatkan~?" tanyanya.
Len agak meronta karena kurang suka dipeluk seperti itu. "Hanase yo, Rinny!"
Rin langsung melepaskan pelukannya lalu tertawa kecil. Len memperbaiki posisi duduknya lalu menatap Rin dengan tatapan senang. "Miku-san akan menginap di sini malam ini, jadi kita tidak akan kesepian lagi~!"
Rin menganga, menatap Miku, lalu langsung berlari dan memeluknya. "Fuwaaa~ Sankyuu ne Miku-chaan~!" serunya girang.
Miku hanya mengangguk sambil tertawa kecil. Dia merasa seperti sedang dipeluk oleh adik sendiri.
"Istirahatlah Miku. Bintang tengah malam biasanya terlihat indah dari sini. Kau mau bermain bersama kami sambil melihat bintang itu, kan?" tanya Len.
Miku, yang tak sadar kalau pertanyaan itu adalah jebakan, malah mengangguk senang. "Aku selalu suka bintang tengah malam."
Rin melepaskan pelukannya. "Kalau begitu, ayo kita kembali ke kamarmu!" ajak Rin langsung menarik lengan Miku. Miku hanya diam menurut.
Rin meninggalkan Miku di kamarnya lalu menutup pintunya. Miku kembali berbaring dan menatap lukisan boneka itu satu per satu.
Kejanggalan mulai terasa di hati Miku begitu melihat tulisan done di setiap lukisan. Tahunnya pun berurutan setelah lukisan boneka perempuan tadi. Dan lagi, Miku baru sadar kalau boneka-boneka dalam lukisan itu sebenarnya adalah boneka-bonekanya yang sudah lama hilang secara misterius.
Miku langsung bangun dan menatap semuanya. Kalau diperhatikan lebih jelas, semua ekspresi boneka seperti menyiratkan kalau mereka kesakitan, sedih, dan sejenis itu.
Miku mundur perlahan. Tidak mungkin Len dan Rin adalah pembuat semua boneka yang ia miliki. Karena penasaran, Miku keluar kamar perlahan lalu berjalan menuju kamar sebelah.
Terkunci.
Sial.
Untung Miku punya cara. Segera ia ambil peniti lalu mencoba membuka pintu dengan peniti itu.
Terbuka.
Miku masuk. Itu hanya ruangan kosong. Dengan banyak lukisan boneka.
Total Seluruh Lukisan ada 30.
Termasuk lukisan yang ada di kamarnya.
Miku langsung terlonjak kaget. Dia benar-benar ketakutan begitu melihat banyak tulisan done berwarna merah di sekitar lukisan-lukisan itu.
"A-apa maksudnya...?" Miku benar-benar ketakutan lalu berlari ke kamar sebelah. Untungnya kamar itu tak terkunci.
Miku langsung masuk ke dalamnya. Kamar itu juga gelap dan sepertinya tak ada apa-apa di situ kecuali jendela besar di seberang kamar.
JLEEEGAAARRR!
Miku menutup kupingnya karena takut dengan suara petir yang besar. Dan kilatan petir itu berhasil membuat ruangan yang gelap tadi agar tersinari. Dia bisa melihat sekilas sebuah benda putih di ujung ruangan. Karena penasaran, Miku mendekati benda itu. Ternyata benda itu tertutupi kain putih.
Miku membukanya.
...
Berdebar.
Takut.
Ternyata itu adalah lukisan.
Lukisan boneka yang mirip dengannya dan masih tersegel di gudang rumah.
Dengan tulisan di bawahnya Undone.
...
Miku menahan teriakan dan tangisan ketakutannya. Langsung saja ia berlari keluar dari kamar itu dan mulai berlari pelan ke bawah. Berusaha sebisa mungkin supaya tidak terdengar oleh Len dan Rin.
Sampai di bawah, ruangan gelap. Aneh, padahal tadi masih terang. Miku berjalan melewati dapur dan dia terhenti di depan sebuah kamar yang hanya diterangi oleh penerangan lilin.
Miku memberanikan diri melihat ke dalamnya. Dan dia bisa melihat Len dan Rin sedang berdiri membelakanginya dan sedang memegang sesuatu yang sepertinya terlihat meronta di kasur.
Miku menahan napasnya lalu mundur perlahan, tak berani melihat adegan itu. Dan seketika, Rin langsung menikam benda yang meronta tadi dengan pisau. Darah segar mengalir membasahi kasur berwarna putih itu dan menetes ke lantai.
"Done..." ucap Rin pelan.
Miku semakin mundur karena sangat ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Dan tak sengaja, kakinya menimbulkan bunyi berdecit, membuat Len dan Rin menoleh ke arahnya secara cepat.
Mata mereka berwarna merah dengan aksen keoranyean (?).
"Miku... Kau bangun...?" tanya Len sambil berjalan perlahan mendekatinya, diikuti Rin. Dapat dilihat korban yang tertusuk pisau tadi.
Boneka yang mirip dengannya itu.
"A-Apa yang kalian lakukan!?" pekik Miku histeris. Len dan Rin tidak menjawab. Mereka semakin mendekat dengan aura pembunuh yang kuat.
"Siapa kalian sebenarnya!?" akhirnya, Miku bertanya begitu.
"Kami..." omongan Len terputus. Petir menyambar dari jendela, cahayanya mengenai Len dan Rin dan seketika terbentuklah bayangan.
Bayangan boneka.
...
Miku kembali mundur. Dia mulai menangis ketakutan.
"Sudah ingat siapa kami...?" tanya Rin dengan nada suara yang sinis.
Miku tak menjawab, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak sanggup bicara.
"Ya Miku, kamilah Len dan Rin... Boneka pertamamu..." kata Len.
"Iie... Tak mungkin..." Miku terisak.
"Bonekamu... Yang dengan nistanya kau tinggalkan begitu saja..." desis Rin pelan.
"Dan sekarang..." Mereka berdua berhenti. Miku kembali mundur.
...
"Kami akan membalaskan dendam kami..."
"IIEEEE!" Miku langsung berlari keluar, tak peduli kalau hujan masih mengguyur dengan derasnya. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah pulang ke rumah.
Jam 23.50...
Miku berlari mengelilingi hutan, tak bisa menemukan jalan keluar.
23.52...
"Ketemu..." Sebuah suara mengangetkannya. Begitu ia menengok ke atas, dia melihat Len dan Rin sudah bertengger di pohon dengan seringai menyeramkan.
"KYAAAAA!"
23.54...
Len dan Rin turun tepat di depan Miku. Miku terdesak di antara mereka dan pohon. Laripun percuma saja.
23.56...
"Kenapa... Kau lebih memilih mereka daripada kami...?" tanya Len dengan nada bergetar. Miku tak bisa menjawab.
"Kamilah yang mengambil semua bonekamu lalu membunuh mereka satu per satu... Dan kami akui... Bonekamu yang terakhir memang susah untuk diambil dan dibunuh... Dia masih bisa meronta saat lehernya sudah kubelah..." ujar Rin dengan nada agak berbisik.
Miku menangis tanpa suara. "Gomenne... Rin... Len..." Miku benar-benar merasa bersalah.
23.58...
"Terlambat Miku..." Rin dan Len mengadahkan pisau mereka. Miku menjerit histeris.
"Oyasumi..."
00.00...
Seluruh daerah itu penuh dengan warna merah segar. Teriakan kesakitan yang memilukan juga bergema di mana-mana.
Tusuk.
Sayat.
Belah.
Cabut.
Congkel (?)
Semua mereka lakukan pada Miku sampai Miku benar-benar tewas mengenaskan di pohon itu.
00.01...
Len dan Rin kembali ke wujud boneka dan bertengger di samping kanan-kiri Miku. Menghilangkan bukti. Terlihat senyuman inosen mereka yang sedikit tersirat rasa kepuasan.
"Selamat Ulang Tahun, Miku... Istirahatlah dengan tenang..."
OMAKE
Pagi yang cerah menyambut hari itu, tapi hati keluarga Miku tidak cerah seperti pagi kali ini.
Bagaimana tidak? Anak kesayangan mereka yang hilang tadi malam, ditemukan tewas mengenaskan di dalam hutan. Dengan dua boneka di tangannya.
Luka menangis histeris kehilangan putri tunggal mereka. Gakupo juga menangis, tapi tidak sehisteris istrinya.
"Mereka benar-benar kembali..."
THE END
HUWAAAAHHH Gimana? Gimana? Jelek ya? Maklumlah, Kazue gak berpengalaman bikin cerita horor T-T
Yang penting, Review ne~ Review kalian bisa bikin Kazue semangat lagi~
Yossh~ Sampai ketemu di fic Kazue selanjutnya~
