"Dasar bodoh kau ini! Otakmu itu ditaruh mana, sih?"

"Perempuan cerewet! Memangnya kau pikir apa fungsi tengkorakku ini, hah?"

"Untuk mencetak wajah bodohmu, mungkin!"

"Dasar bodoh! Huh!"

"Kau yang bodoh, seharusnya… BERSIHKAN DULU LUKANYA, baru diolesi antiseptic, BODOH!"

"KAU YANG BODOH, TAHU! Ka- eh? He… hehehe! I.. Iya, peace.. Peace No, jangan galak-galak! Iya, hehehe, aku kelupaan!"

Sakura membuka sedikit matanya. Belum terlihat apapun, ia mencoba menggerakan tubuhnya, tapi yang ada malah rasa sakit. Perlahan ia mengerang.

"Makannya jangan sok tahu! Aku kan suda—"

"Iya… iya! Gak usah diulang kenapa, sih?"

"Huh! Susah deh, jadi perempuan di antara laki-laki sepertimu dan Sasuke!"

"Huh! Dasar perempuan menjengkelkan!"

"Kau yang menjengkelkan, bod—"

"Eh, dia sudah sadar, Ino!"

Sakura merasakan di sekitarnya ada suara-suara yang menurutnya sangat berisik, tetapi membuatnya penasaran.

"Ha, Iyaaa!" seorang gadis cantik berambut pirang panjang menghampiri Sakura dan berdiri di samping tempat Sakura berbaring.

"Naruto, ambilkan makan dan minum!" perintah Ino kepada Naruto yang lalu berjalan meninggalkan Sakura dan Ino.

"Uuung!" Sakura mencoba menggerakkan tubuhnya sendiri, namun terasa sakit. Alhasil, ketika ia mencoba berdiri, ia terbaring kembali.

"Jangan bergerak, lukamu masih belum sembuh!" kata Ino sambil merapikan selimut Sakura yang sedikit berantakan. Sakura melihat Ino masih kurang jelas.

"Aku… aku ada dimana? Apa aku… apa aku masih hidup?" tanya Sakura yang sekarang mulai bisa melihat Ino dengan jelas. "Dan… siapa kau?" lanjut Sakura kembali.

"Kau.. Kau ada di tempat ini, eng… aku cuma bisa menjelaskan sedikit, tapi yang jelas kau masih hidup, tenang saja. Aku? Aku Ino, salam kenal," kata Ino sambil tersenyum. Sakura membalas senyum Ino walaupun terasa lemas. Ino mulai duduk di pinggiran tempat tidur Sakura.

"Eng… Ino-san… ini… tempat apa?" tanya Sakura kembali. Ia melihat Ino dengan tatapan berharap penjelasan.

"Ini… eng… sebelumnya apa kau pernah dengar? Pernah dengar tentang sebuah jalan yang menghubungkan kita dengan dimensi lain?" tanya Ino. Sakura mengerutkan keningnya.

"Eng… sepertinya aku pernah membaca," katanya sambil memberikan tatapan ingin tahu kelanjutannya. Wajah Ino terkejut sebentar kemudian tersenyum.

"Yah, jelasnya… kau ada di dimensi lain, eng… namamu siapa?" tanya Ino.

"Aku… namaku… Haruno Sakura," jawab Sakura sambil mengernyit pelan karena tiba-tiba kepalanya pusing.

"Oh, Sakura-chan, kau masih sakit. Sebaiknya kau istirahat sebentar, ya? Aku mau menyusul si Bodoh itu," kata Ino kemudian beranjak dari pinggir tempat tidur Sakura dan menghilang di balik pintu. Sakura-chan? Rasa-rasanya sudah lama ia tidak mendapat panggilan seperti itu—kecuali dari ibunya. Dan Sakura merasa heran akan panggilan akrab yang diberikan orang yang baru dikenalnya. Tapi lebih jauh dari itu, ia merasa sangat senang.

Dan yang paling penting Sakura masih sangat bingung dengan tempat ini. Tempat apa ini sebenarnya? Tadi Ino bilang tentang dimensi lain? Dan sekarang ia—mereka ada di dalamnya? Jadi semua itu benar? Tentang adanya sebuah dimensi lain yang akan merubah hidupmu itu. Ah, ini benar-benar aneh. Bagaimana mungkin? Seingatnya ia terjatuh ke sumur setelah menarik Tayuya yang akan jatuh. Dan... tiba-tiba ia berada di sini? Sakura benar-benar bingung menjelaskan apa yang sedang terjadi padanya. Mengingat ini semua membuat kepalanya terasa berdenyut sakit.

Buru-buru Sakura menoleh ke arah kantongnya, mencari ponselnya. Siapa tahu ia bisa mendapatkan hal yang menjelaskan semua ini, dengan menghubungi bibi Tsunade mungkin ini akan membantu. Tapi ternyata saku seragamnya itu kosong melompong. Apakah ponselnya ikut terjatuh saat ia terjatuh dari sumur? Sakura menghela nafas. Ia kebingungan.

Sakura kemudian mengamati seluruh penjuru ruangan tempat ia berbaring. Ruangan yang tidak terlalu besar. Setidaknya, jika dibandingkan dengan kamarnya. Ia mengerutkan keningnya melihat ruangan itu. Dari dinding, sampai lantai dibuat dari kayu dan semuanya berwarna coklat tua. Ia menolehkan kepalanya ke samping, kemudian pandangannya tertumbuk pada almari kayu yang cukup besar dengan meja di sampingnya. Di sisi lainnya, terdapat sebuah kursi dan sebuah meja kecil. Ia menggerakkan tangannya. Sulit.

Dan satu lagi yang membuatnya merasa kian lemas. Ia merasa haus dan lapar. Astaga, sudah berapa lama ia pingsan?

(_ _')zzZZ

"Makanya, aku kan sudah bilang, kalau mau mengambil piring itu hati-hati! Begitu saja tidak bisa! Dasar bodoh kau iniiii!"

"Kau ini bisa diam tidak sih? Selalu saja marah padaku, dasar bodoh!"

"Huuh! Awas kalau aku sudah tidak sabar lagi, aku akan membunuhmu, Dobe!"

"Hei! Kenapa ikut-ikutan memanggilku seperti itu, Babi?"

"APA KAU BILANG?"

Dan setelah itu Sakura mendengar suara barang-barang berjatuhan disertai derap langkah orang berlari menjauhi rumah. Sakura mengerutkan keningnya mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Ino… dan… eng… siapa ya tadi?" bisiknya pada diri sendiri.

"Huh! Awas saja kalau nanti aku menangkapmu!" kata Ino kemudian masuk ke dalam ruangan tempat Sakura berbaring.

"Eh, Sakura-chan. Ini makanan dan minumannya. Maaf ya! Si Naruto itu memang kelamaan!" kata Ino sambil tersenyum manis. Ia meletakkan nampan di meja, kemudian mengambil kursi dan menyeretnya ke dekat tempat tidur tempat Sakura berbaring. Ino kemudian kembali dan mengambil nampan tersebut.

"Ini, minum dulu!" katanya kemudian menyodorkan gelas itu untuk diminumkan kepada Sakura yang tangannya masih sakit bila digerakkan.

"Sudah, ayo makan, Sakura-chan!" Ino tersenyum kemudian menyuapkan bubur kepada Sakura. Sakura membalas senyum Ino dan mulai memakan bubur, errr… berasa seperti pisang. Ah, sudahlah.

Malam harinya, ketika keadaan sudah sepi, Sakura terbangun. Ia menegakkan tubuhnya duduk di tempat tidur, kalau tidak boleh dibilang kotak kayu. Yah, itu hanya kayu yang dibentuk sedemikian rupa, menjadi sebuah balok, dan Sakura ada di atasnya menggunakannya untuk tidur. Memang rasanya membuat punggung sakit, mengingat ia biasanya tidur di tempat tidur yang bisa dibilang nyaman. Tapi mau bagaimana lagi kalau adanya ini? Dengan tertatih ia mendekati pintu kamarnya. kakinya yang telanjang langsung disambut oleh dinginnya lantai kayu di kamarnya. ia berjalan terpincang dan kemudian membuka kenop pintu kamarnya. Asing. Itulah satu-satunya kata yang muncul ketika ia melihat sesuatu yang baru di depannya. Sebuah ruangan yang luas namun tidak terlihat dengan jelas karena penerangan yang pas-pasan. Sakura menajamkan penglihatannya, tapi tetap saja terbatas. Ia hanya bisa melihat sudut-sudut ruangan persegi panjang di depannya yang cukup luas, sekitar 12 x 6 meter yang diterangi oleh sebuah alat, seperti batang bambu yang dipotong menurut ruasnya, dan Sakura tidak tahu apa yang ada di dalamnya sehingga api bisa menyala dari sana dan memberikan penerangan.

Sakura menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sepi. Dengan perlahan, ia maju menuju ke tengah-tengah ruangan di depannya. ia menghembuskan nafasnya mantap. Sakura lalu mengedarkan pandangannya berkeliling, melihat pemandangan asing yang baru kali ini dilihatnya, melihat ruangan yang sangat aneh. Di pojok ruangan disamping salah satu alat penerangan, ia melihat sebuah rak buku yang hanya berisi sebuah buku yang sangat tebal. Sangat menarik minatnya. Dengan penasaran ia berjalan menuju ke tempat itu, mencoba melihat buku tersebut.

Meskipun penerangan pas-pasan, Sakura melihat dengan jelas bahwa buku itu adalah buku yang sudah sangat tua. Di beberapa bagian sudah tidak berbentuk wajar karena digerogoti rayap. Warna kertasnya pun sudah tidak bisa dibilang putih lagi. Sakura kembali mengamati sampul buku tebal yang terbuat dari kulit itu. Berwarna coklat. Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat gambar di sampul itu. Bentuknya aneh, seperti lingkaran, kemudian di dalamnya ada tanda bintang, belum lagi, bagian luar lingkaran itu ada beberapa garis lancip yang jika dilihat seperti gambar matahari dengan bintang di dalamnya. Itu pun masuh banyak gambar di dalamnya yang kecil, sangat kecil, sehingga Sakura hanya bisa melihat itu saja.

Sakura membuka kembali buku tersebut. Tangan kirinya menyangga buku itu, sedangkan tangan kanannya membuka lembar demi lembar halaman buku misterius tersebut. Ia belum berniat membaca karena keadaannya tidak memungkinkan. Ia tidak mau merusak matanya tentu saja.

Ia baru saja selesai membuka kira-kira seperempat halaman ketika tiba-tiba ia melihat bayangan hitam ada di samping belakangnya. Ia melirik ke samping, karena bayangan orang itu membujur ke samping, dan letaknya kira-kira tepat di belakang bayangan Sakura. Ia menutup matanya ngeri. Tanpa diperintah pun jantungnya berdebar sangat kencang. Apakah Ino? Tapi... kenapa bayangannya berbeda? Begitu juga kalau dengan Naruto. Rambut Naruto tidak mungkin seperti itu, kan? 'Aduh… aduh bagaimana ini?Apa yang ada di belakangku'? Seingat Sakura hanya ada ia, Ino dan Naruto. Lalu, siapa yang dibelakangnya sekarang?

Dan tiba-tiba ia melihat bayangan itu mengulurkan tangannya ke arah bahu Sakura. Merasa terancam—dan Sakura mengira itu mahkluk gaib sejenis hantu, reflek ia memegang buku itu dengan kedua tangannya. Menggenggamnya erat kemudian memutar tubuhnya dengan benar ke belakang.

BHUAGGH

Suara itu sangat keras. Bahkan Sakura sendiri menjamin, jika ia yang terkena itu, wajahnya pasti akan memar hebat.

"Akkkhh!" suara memekik terdengar ketika Sakura selesai memukulkan buku tebal itu. Sakura yang telah memukul sosok bayangan di belakangnya itu kemudian membuka matanya sedikit demi sedikit sambil mendekap buku tebal yang merupakan senjatanya.

Alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat sesosok manusia yang jatuh tersungkur sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Sakura yakin kalau itu adalah laki-laki. Tubuh Sakura serasa bergetar. Ia telah memukul seseorang. Ia menutup mulutnya refleks ketika setelah laki-laki itu membuka tangannya dan menatap tajam kepadanya marah. Beberapa bagian wajahnya kebiruan. Bahkan di pelipisnya mengeluarkan sedikit darah. Sakura merasakan tubuhnya bergetar hebat. Takut terhadap pandangan dari laki-laki itu. Siapa lelaki ini?

"M- Ma- Maaf," ucapnya sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Akan tetapi pemuda itu tak merespon apapun. Ia masih jatuh terduduk sambil memegangi salah sisi kepalanya yang terkena pukulan Sakura. Sebaliknya, pemuda itu menatap Sakura tajam, dan Sakura pun bahkan tak sadar, saking takutnya, air matanya mengalir di kedua matanya.

Sakura mengulurkan tangannya bermaksud membantu pria tadi berdiri dan pria tadi tidak menerima uluran tangan Sakura. Pemuda itu tiba-tiba berdiri, masih menatap Sakura yang ketakutan.

"KAU!" bentak pemuda itu kepada Sakura. Sakura menunduk.

"Ma-maaf! Aku sama sekali tidak sengaja! Maaf!" ucap Sakura sambil membungkukkan badannya berkali-kali.

"Kau pikir kepalaku ini apa, Bodoh? Kenapa memukulku? Perempuan bodoh!" ucap pria itu kasar, sambil menuding Sakura tepat di depan wajahnya. Sakura merasakan tubuhnya gemetar hebat. Dan ia merasakan air matanya tidak bisa berhenti mengalir.

"Tap… Tapi… Ak-" ucapannya terpotong ketika tiba-tiba tangan pria itu ke depan untuk memukulnya.

"Kyaaa!" pekiknya ketika itu. Namun, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Karena penasaran, ia segera membuka matanya dan menemukan bahwa pria itu sudah menarik kembali tangannya dan berbalik meninggalkannya.

Merasa bersalah, Sakura segera mengejar pemuda itu.

"Tu-tunggu!" ucapnya sambil berlari mengejar pemuda yang berjalan cepat menuju ke pintu utama rumah ini.

.

"Ada apa ini?" tanya Ino tiba-tiba keluar dari salah satu ruangan dan berjalan cepat menghampiri Sakura yang berlari kecil mengingat kakinya yang masih sedikit sakit mengejar seorang pria yang sudah mencapai ambang pintu.

"Tunggu!" ucap Sakura sedikit berteriak parau ketika mengetahui pemuda itu menutup pintunya kasar, menuju ke luar rumah. Sakura yang panik segera mencoba menggapai kenop pintu. Akan tetapi sebelum ia berhasil mencapainya, seseorang menarik bahunya, memaksa memutar badan Sakura.

"Sakura-chan! Ada apa?" tanya Ino sambil memegangi kedua bahu Sakura. Sakura menggeleng cepat sambil sesenggukkan. Wajahnya berurai air mata. Ino terkesiap.

"Sakura-chan!" ucapnya kemudian menggandeng tangan Sakura dan membawanya untuk duduk bersandar pada dinding. Perlahan ia mengelap air mata gadis itu dengan tangannya.

"Ada apa, Sakura-chan!" ucap Ino lembut.

"I- Ino-san… ta-tadi aku memukul se-orang pria. Te-tapi… buk-bukan Naruto-san… A-aku ti-dak sengaja, I-Ino-san, aku... aku takut!" ucap Sakura di sela sesenggukannya. Ino mengerutkan dahinya.

"Pria selain Naruto? Hmm... Mungkin maksudnya Sasuke!" kata Ino pelan nyaris berbisik pada dirinya sendiri. Ditatapnya Sakura yang masih duduk meringkuk di sebelahnya, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Perlahan disingkapkannya beberapa helai rambut gadis yang menutupi bagian depan wajah Sakura itu penuh rasa sayang.

"Sudahlah, Sakura-chan. Tidak apa-apa. Dia itu juga teman kita, kok. Besok kita bisa bicara baik-baik dengan dia. Sekarang ayo kita tidur," bujuk Ino halus sambil menggenggam bahu sakura lembut. Sakura membuka telapak tangan dari wajahnya kemudian mengangguk lemah. Ino tersenyum manis. Ia merasa, ia sangat ingin melindungi Sakura.

Perlahan kedua gadis itu berdiri. Ino menuntun Sakura sampai di kamarnya.

"Sakura-chan! Tidak apa-apa! Jangan Kuatir, sebaiknya Sakura-chan tidur saja, ya! Kemudian besok kita akan menjelaskannya bersama-sama kepada Sasuke!" hibur Ino ketika sampai di depan pintu kamar Sakura. Sakura mengangguk kemudian tersenyum kecil. Keberadaan Ino sangat menenangkan hatinya. Sakura pun berbalik hendak membuka pintu kamarnya. Akan tetapi sebelum ia melakukannya, mendadak menjadi canggung dan gugup. Ia kemudian berbalik kembali kepada Ino yang masih di tempatnya semula menatapnya seakan bertanya 'ada apa'.

Sakura menunduk malu-malu. Sebagian rambutnya kembali jatuh ke dahinya, sedikit menghalangi pandangannya. Di pipinya muncul goresan merah samar-samar.

"Err… I- Ino-san… Te-terimakasih dan selamat malam!" ucap Sakura kemudian segera berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dan masih berdiri bersandar disana. Samar-samar didengarnya suara Ino yang kembali menenangkan hatinya.

"Iya, Sakura-chan, sama-sama. Selamat malam juga!" kemudian terdengar derap langkah menjauh. Kemudian secara samar-samar pula Sakura mendengar suara-suara kecil di luar sana.

"Ino ada apa sih?" dan Sakura bisa menjamin itu suara Naruto.

"Akh! Kau itu! Makanya kalau tidur jangan seperti kerbau, tahu!" cibir Ino.

"Enak saja… Aku ka-"

"Sudah cukup, Naruto. Aku ngantuk. Cepat tidur!" suruh Ino untuk terakhir kalinya. Sakura tersenyum kecil—masih di balik pintu. Kemudian ia masih mendengar gerutuan kecil tak jelas keluar dari suara Naruto. Dengan perasaan yang lebih baik dari tadi, ia menuju ke tempat tidurnya dan menghempaskan tubuhnya pelan di sana. Ingat kalau tempat tidur itu terbuat dari kayu.

Sebelum memejamkan matanya, ia kembali bertanya tentang apa sebenarnya tempat ini. Tapi... ah, sudahlah, besok ia bisa bertanya pada Ino, kan?

Wajah Sakura tiba-tiba menjadi muram kembali. Kalau dia disini? Apa yang terjadi di dunianya—kalau ini benar dimensi lain seperti kata Ino. Dan... apa bibi Tsunade juga mencarinya? Apa yang dilakukan teman-temannya pula? Bagaimana dengan Karin, Ami dan Tayuya? Memikirkan itu semua kembali membuat kepala Sakura berdenyut sakit. Dan sekelebat ingatan atas tragedi pemukulan itu juga membuatnya tidak bisa tenang sekarang.

(_ _')zzZZ

Kicau burung merdu membangunkan Sakura dan tidurnya. Perlahan, di singkapkannya selimut super tipis yang menutupi tubuhnya. Ia mengerjapkan matanya. Kemudian bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Masih merasa sedikit mengantuk, lihat dari caranya menguap dan matanya yang belum terbuka seutuhnya.

Perlahan ia bergegas keluar dari kamarnya. Kembali ia disuguhi oleh pemandangan kemarin. Hanya saja kali ini lebih jelas karena sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah atau lobang kayu pada atapnya. Sakura berjalan sedikit berjinjit kaki kirinya karena sakit. Dengan penasaran di longoknya ruas bambu yang kemarin dapat memunculkan api. Ia mengerutkan keningnya melihat didalamnya hanya terdapat sumbu dan cairan. Ia berniat untuk menyentuhnya ketika tiba-tiba terdengar suara derap langkah cepat di belakangnya. Ia membatalkan niatnya dan menoleh cepat. Dengan mata membulat, dilihatnya seseorang dengan rambut khas yang seingatnya kemarin malam ia pukul secara ganas sedang keluar dari salah satu pintu yang terletak di samping kamarnya yang letaknya paling depan. Orang itu memakai kaos berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam, lewat begitu saja, tak acuh dengan keberadaan Sakura. Merasa kewajibannya belum terpenuhi, yaitu meminta maaf kepada orang itu—karena ia merasa orang itu belum mau memaafkan Sakura, Sakura berniat untuk mengejarnya. Namun sayang, karena posisinya belum berbalik sepenuhnya, yaitu tubuhnya masih membelakangi orang itu kemudian kepalanya menoleh kepada orang itu serta Sakura sama sekali tidak mahir dalam memutar pinggang secara tiba-tiba, ia hanya menggunakan kaki kanannya untuk berbalik ke kiri langsung tanpa mempedulikan kaki kirinya yang sakit. Alhasil karena tak kuat menahan berat tubuhnya sendiri, di tambah pinggangnya yang berbalik tiba-tiba, membuat gadis itu terjungkal dan mendarat tepat di dagunya karena tangannya malah berusaha menggapai orang itu.

DHUG

"Aaaakkh!" pekiknya pelan sambil memejamkan matanya. Sedetik kemudian ia kembali membuka matanya dan dilihatnya pria tadi sama sekali tidak mempedulikannya, masih melenggang pergi meninggalkannya.

Dengan rasa sakit, Sakura berdiri untuk mengejar pria itu, mencoba mengabaikan keadaan tubuhnya. Baru beberapa langkah, suara seorang pria mengagetkannya.

"Sakura…. Errr… Sakura-chan!" sapa orang itu ceria dengan senyum lebarnya. Sakura buru-buru menghentikan langkahnya dan menunduk gugup.

"Hei! Sakura-chaan.. sedang apa kau disini? Kau tidak ikut dengan Ino untuk mandi?" tanya Naruto sembari mendekat, mempertipis jarak di antara keduanya. Sakura mengangkat wajahnya sedikit.

"E-.. Ma-mandi? Di- dimana?" tanyanya gugup. Perlahan ia mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Naruto. Akan tetapi ketika melihat wajah pria itu tersenyum lebar kepadanya, malah membuat Sakura merona. Dialihkan pandangannya ke arah lain.

"Iya. Mandi. Biasanya sih, Ino mandi di air terjun sana, tidak jauh dari sini," ucap Naruto sambil menunjuk suatu arah di samping kanannya. Sakura mengikuti arah telunjuk Naruto.

"I-iya. Ta-tapi aku tidak tahu tempatnya," jawabnya masih gugup.

"Kalau begitu ayo kuantar!" ucap Naruto kemudian dengan cepat menggenggam tangan gadis di sebelahnya tanpa meminta persetujuan. Sakura yang terkejut hanya mampu mengikuti langkah kaki Naruto sambil menunduk malu.

Hal pertama yang dijumpai Sakura adalah asing. Ia mengerutkan keningnya. Bukankah ketika ia terdampar disini—dua hari yang lalu, ia terdampar di padang savannah? Lalu… bagimana ia bisa menjelaskan ini?

Di depannya terdapat hamparan padang rumput hijau yang luas. Banyak bunga bertebaran di mana-mana. Suasananya sangat indah. Dan Sakura bisa melihat, di samping rumah itu, terdapat sebuah pohon yang sangat besar. Dan Sakura amat yakin kalau ia tidak akan mampu memeluk batang pohon itu dengan tangannya. Meskipun itu ditambah dengan tangan Naruto, tangan Ino… dan… tangan… siapa? Sakura menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Ingin sekali ia menanyakan hal itu kepada Naruto, tetapi ia masih terlalu canggung untuk memulai suatu percakapan.

"Nah, Sakura-chan…" ucap Naruto tiba-tiba. Sakura mengangkat wajahnya dan langsung disuguhi senyuman Naruto yang menggenggam tangannya lembut.

"Kemarin aku dan Teme menemukanmu disana!" kata Naruto sambil menunjuk sebuah arah di balik bukit yang lumayan jauh dengan tangannya yang bebas. "Kau tahu? Untung saat itu Teme sedang jalan-jalan. Ah, entahlah dia itu kenapa memang agak aneh orangnya," sambung Naruto tak lupa dengan kekehannya. Sakura menunduk malu. 'Teme? Kenapa namanya seperti itu, ya?' pikirnya polos. Sama sekali tidak mengerti apa artinya. Seingatnya Ino menyebut laki-laki yang ia pukul tadi dengan... Sasake? Susake? Apa tadi? Dan Sakura mulai berpikir kalau Teme adalah nama lain dari lelaki itu. Alias, atau nama panggilan lain begitu.

"Sakura-chan?" panggil Naruto kembali. Sakura mengangkat wajahnya kembali kemudian lagi-lagi dengan cepat menunduk.

"Err.. Kau tidak perlu merasa gugup seperti itu di depanku. Aku tidak menggigit, tahu!" ucap Naruto yang kemudian melepaskan pegangan Sakura dan berpura-pura marah kepadanya. Sakura yang melihatnya hanya tersenyum kecil kemudian menunduk lagi. Naruto mendengus pelan.

"Iya, sih… kita baru saja berbincang. Tapi… kau tahu? Sebisa mungkin kita harus cepat mengakrabkan diri. Karena di tempat ini, hanya ada kita-Kau, aku, Ino dan Teme, dan lagi… katanya batu kebahagiaan itu- eh ? Maksudku… ah sudahlah, nanti saja kau pasti juga akan tahu," ucap Naruto lagi. Ia melihat ekspresi wajah Sakura yang berubah agak penasaran. Akan tetapi ia belum berniat untuk memberitahukan hal itu kepada Sakura.

"Sakura-chan?" panggil Naruto ketika melihat Sakura melamun.

"Sakura-chaaaan?" panggilnya kembali disertai lambaian tangannya di depan wajah Sakura. Masih tidak ada perubahan. Naruto merengut. Akhirnya dengan terpaksa ia berdiri disana menemani gadis yang masih saja seperti memikirkan sesuatu.

Merasa jengkel—Naruto adalah tipe orang yang tidak suka diam, tanpa canggung ia meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Sakura spontan. Membuat gadis itu terlonjak kaget. Rambut pink sebahunya bergoyang pelan.

"Haaah… Kau ini… sudah pemalu, kagetan pula. Eh, aku ada ide. Sekarang begini saja… Hmmm… Bagaimana kalau kau… panggil aku Naruto-nii saja. Biar kesannya lebih akrab. Bagaimana ?" tanya Naruto sambil menunduk menyetarakan tinggi kepalanya dengan Sakura yang terpaut satu jengkal. Sakura memundurkan wajahnya. Dan Naruto benar-benar bisa melihat warna wajah Sakura berubah menjadi merah. Segera ia menjauhkan wajahnya dari depan wajah Sakura.

"Hmmmh…! Ya sudah deh!" ucap Naruto seketika memonyongkan bibirnya. Sakura tersenyum kecil melihatnya. Naruto kemudian menghela nafasnya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, agaknya frustasi dengan gadis di sebelahnya yang sangat pasif.

Sakura yang melihatnya hanya mampu bersyukur di dalam hati. Ternyata masih ada orang yang mau memperhatikannya seperti ini. Maka dari itu...

"Na-naruto… -nii?" katanya kecil. Naruto memekik pelan.

"Uwaa.. Bagus, Sakura-chan…! Dengan begini, kita bisa akrab satu sama lain, kan?" ucap Naruto kembali. Dengan segera ia menautkan tangannya pada tangan Sakura dan mengajaknya berjalan. Dan wajah Sakura rupanya belum berubah ke warna normalnya.

Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Sepanjang jalan, sinar mentari yang hangat menyertai langkah mereka. Tak lupa suara beberapa hewan yang mewarnai alam. Ada kicauan burung, suara semak-semak yang terinjak oleh beberapa kelinci yang berlarian, suara tupai yang sedang mencari kenari di dahan-dahan, dan lain sebagainya. Semuanya begitu tenang dan damai.

"Nah, kau lihat semak-semak dan pohon tinggi itu, Sakura-chan?" kata Naruto menunjuk ke kumpulan semak-semak dan pohon-pohon di depan mereka yang berjarak kurang lebih sepuluh meter. Ingin sekali Sakura memutar bola matanya mendapat pertanyaan konyol Naruto. Tentu saja ia melihatnya dengan sangat jelas. Namun ia hanya mengangguk kecil. Ia mengerutkan keningnya ketika dari jarak ini, ia mendengar suara air terjun samar-samar.

"Nah, itu tempat Ino mandi sekarang!" kata Naruto semangat. Sakura tersenyum kecil. Naruto pun seperti teringat sesuatu.

"Dan kau lihat semak-semak di sana, kan ?" tanyanya langsung reflek menunjuk kumpulan semak-semak di depan bebatuan besar yang terletak di samping tempat pertama yang ditunjuk Naruto, namun jaraknya cukup jauh. Sakura kembali mengangguk disertai bunyi 'Hm' kecil dari mulutnya.

"Nah, kalau yang itu, tempat kami para cowok—aku dan Teme untuk mandi. Yah, dibuat berbeda sih, soalnya waktu itu tak jarang aku masuk saat Teme atau Ino sedang mandi. Hahahaha. Setelah itu Ino memutuskan agar para cowok mandi di sebelah sana. Memang hanya ada air terjun kecil di sela-sela batu, sih. Tapi airnya tetap segar!" jelas Naruto. Sakura mengangguk kecil. Bahkan ia merona ketika mendengar Naruto yang menceritakan kalau dia pernah melihat Ino mandi—intinya begitu, kan?

"Hmm… dan kau lihat sesuatu di sana, Sakura ?" tanya Naruto kembali. Sakura menajamkan matanya ke arah semak-semak tempat para cowok mandi. Ia tidak melihat apapun.

"Ti-tidak," jawabnya merasa bingung.

"Hm. Baguslah. Karena mungkin sekarang Teme sedang mandi. Hahaha," ucap Naruto sambil tertawa lebar membuat pipi Sakura merona.

"Haah. Kuantar sampai sini, ya! Nanti aku dikira mengintip Ino. Aku malas berdebat dengannya! Tidak apa-apa, kan?" tanya Naruto sambil melepaskan pegangannya pada tangan Sakura. Sakura mengangguk. Ia kemudian berjalan meninggalkan Naruto sesudah menggumamkan kata terimakasih kepada pria itu. Pria yang hangat dan ramah.

Sakura melangkahkan kakinya perlahan. Sesekali kepalanya ditolehkan ke kanan dan ke kiri untuk mengagumi keindahan alam yang ada. Benar-benar masih alami. Sebenarnya… Dimana ini?

Sakura baru saja melewati sela di antara semak-semak di depannya, ketika tiba-tiba sebuah batu kecil melayang kepadanya.

"JANGAN MENGINTIP!"

BLETAK

Sakura merasa dirinya pusing seketika saat sebuah benda asing yang diketahui bernama kerikil menabrak keningnya. Refleks ia memegangi keningnya sambil mengaduh kesakitan. Ia reflek berjongkok sambil terus memegangi keningnya dan mengaduh-aduh tidak jelas.

"E-eh ? Sakura-chaaaan!" teriak Ino seketika ketika mendengar suara rintihan Sakura. Ia langsung menoleh dan mendapati Sakura yang berjongkok sambil memegangi keningnya. Ternyata kerikilnya tak mendarat di kening Naruto seperti biasanya akan tetapi Sakura. Dengan cepat, dipakainya handuk yang sebelumnya ia letakkan di atas batu besar di sebelahnya kemudian menghampiri Sakura.

"Sakura-chaaann! Kau tidak apa-apa? Maaf, maaf aku sama sekali tidak sengaja! Awalnya aku pikir kau adalah si bodoh yang suka mengintip," ujar Ino merasa sangat bersalah sambil mencoba melihat hasil karyanya di dahi Sakura.

"Aw! I-Iya tidak apa-apa, I-Ino-san…" kata Sakura masih memegangi keningnya.

"Aduh, aku benar-benar minta maaf!" ulang Ino. Dan itu terjadi berulang-ulang sampai akhirnya Sakura berkata pelan. "Tidak apa-apa, Ino-san. Aku tidak apa-apa kok," jawabnya mencoba meyakinkan Ino agar tidak terus menerus meminta maaf kepadanya.

Ino menghembuskan nafas lega.

"Haah. Untunglah kau tidak gegar otak, Sakura-chan!" ucapnya sambil memegangi dadanya. Sakura hanya menanggapinya dengan senyum geli.

"Oh, iya! Kau kesini mau mandi, kan?" tanya Ino kepada Sakura yang langsung mengangguk canggung.

"Baiklah, aku juga sudah selesai. Biar kau mandi, aku pakai bajuku di sini. Sekalian berjaga-jaga kalau si Naruto akan mengintip seperti dulu. O.K ?" Ino mengacungkan jempolnya kepada Sakura meminta persetujuan. Sakura mengangguk malu-malu.

"I-iya!"

(_ _')zzZZ

"Sakura-chaan!" panggil Ino ketika Sakura sudah selesai memakai bajunya—baju seragam karena Sakura tidak punya baju ganti.

"Nanti, kau ganti baju saja ya, di rumah! Aku ada beberapa baju untuk kita," ucapnya sambil tersenyum. Sakura mengangguk. Helaian rambutnya kembali berayun di dahinya. Ino agak mengerutkan keningnya. Perlahan ia duduk bersimpuh di depan Sakura yang juga duduk bersimpuh. Ia memandang wajah gadis itu dalam-dalam. Perlahan tangannya terangkat untuk menjangkau rambut Sakura yang menutupi dahinya, kemudian menyingkirkannya ke samping. Sakura memundurkan kepalanya ke belakang dan menutupi dahi dengan tangannya.

"Hm? Kenapa?" tanya Ino bingung. Sakura menggeleng. Perlahan, matanya berkaca-kaca.

"E-EH? Sakura-chan kenapa?" tanyanya kebingungan. Sakura masih menggeleng.

"Ya ampun Sakuraaa-chaaan!" Ino semakin bingung di buatnya. Ia semakin gelisah tidak tau harus berbuat apa karena ia tidak tahu apa yang terjadi.

"Ino-san, tidak apa-apa!" ucap Sakura pelan. Akan tetapi disertai isakan.

"Eh? Ada apa, Sakura-chan. Ceritakan padaku kenapa kau menangis. Aku salah apa?" tanya Ino kebingungan.

"Tidak apa-apa Ino-san. Aku hanya… aku hanya malu karena… dahiku… semua orang berkata kalau dahiku… lebar," Sakura memelankan suaranya. Kemudian menunduk.

"Ya ampun Sakura-chaaan… Aku tidak akan mengatakan hal itu. Menurutku kamu sangat cantik. Coba deh, kamu singkirkan ponimu yang di dahi itu supaya tidak mengganggu pandanganmu. Pasti kamu akan terlihat lebih cantik," ucap Ino sambil tersenyum manis. Matanya yang biru cerah itu tertutup sepenuhnya karena senyumnya.

"Tap-tapi nanti kalau…"

"Kalau apa? Kamu pasti terlihat sangat cantik!" Ino berkata lagi meyakinkan Sakura.

"Tapii…." tawar Sakura lagi.

"Kenapa? Sakura-chan takut kalau kami mengejek Sakura-chan? Tentu saja tidak! Kami semua tidak akan melakukannya, Sakura. Dan lagi, aku kenal cukup baik dengan teman kita yang lain. Mereka tidak akan melakukannya. Mereka sangat baik!" Ino berkata lagi meyakinkan Sakura.

Akhirnya Sakura menurut saja ketika Ino menata rambutnya sedemikian rupa, menyingkirkan rambut yang menutupi dahinya. Membaginya ke dalam dua bagian yang kemudian di sampirkan ke kiri dan ke kanan.

"Naaah… Selesai… Kau cantik sekali, Sakura-chaaaan!" puji Ino setelah selesai mengganti gaya poni Sakura. Semburat merah muncul di kedua pipi putih Sakura. ia tersenyum malu-malu kepada Ino yang tersenyum bangga di depannya. Sakura merasa Ino adalah sosok seorang kakak yang melindunginya.

"Ah, aku masih ada bandana di kamar. Kalau kau pakai, kau pasti tambah cantik, Sakura-chan! Aku nanti akan memakaikannya untukmu setelah sampai rumah," lanjut Ino dengan semangat.

"E-e… Te-terimakasih Ino-san," ucap Sakura malu-malu. Ino mengangguk kemudian mengacungkan kedua jempolnya. Tiba-tiba ia seperti ingat sesuatu.

"Oh, iya. Sakura, kemarin malam itu…" tanya Ino sambil mencoba memilih kata yang tepat agar Sakura mau cerita kepadanya. Sakura memiringkan kepalanya, kemudian menunduk, meremas-remas bajunya. Akan tetapi kemudian, cerita mengalir dari bibir mungil Sakura.

"Nee, Sakura-chan, kau tidak usah takut padanya. Dia itu sebenarnya baik kok," ucap Ino menenangkan Sakura. Sakura menundukkan wajahnya.

"Ta-tapi Ino-san," kata Sakura tetap menundukkan wajahnya merasa ngeri membayangkan wajah lelaki yang telah dipukulnya. Ino tersenyum kecil. Diusapnya bahu Sakura bermaksud menenangkan gadis itu.

"Kita coba saja bicara padanya, Sakura-chan. Kau pasti akan kaget betapa baiknya ia," ujar Ino mantap. Ia tersenyum manis di depan Sakura sambil mengacungkan kedua jempolnya. Mau tak mau Sakura tersenyum. Pertama kalinya... ia benar-benar menemukan orang-orang yang peduli padanya. Akankah ini bertahan lama? Sepertinya, berada disini tidak buruk, apalagi dengan adanya orang-orang baik disekelilingnya.

Tsudzuku

(_ _')zzZZ : Akhirnya setelah berabad-abad lamanya... *lebay*. Maaf jika updatenya terlalu lama. Dulu ide bersliweran saat saya baru membuat fict ini—tapi pas saya sedang malas-malasnya. Alhasil dengan o'onya bukannya dicatat atau apa. Sekarang malah lupa semua. Jadi terpaksa bikin plot baru lagi. Saya kira berbeda sedikit dengan yang awal.

Hmm... Saya jadikan ini semi-canon, terutama untuk friendshipnya. Ino yang melindungi Sakura, membuat Sakura jadi seperti sekarang. Itu sangat manis dan saya sangat suka. Hehehe. Dan juga Naruto. Tapi... Gitu deh. Hehehe (Sok Misterius/dikeplak/). Terus, kalau dengan Sasuke, sepertinya Sakura mengawali pertemuannya dengan sangat buruk, ya. ;p /dikemplang/

Hehehe, yang jelas fict ini genrenya Friendship, Familiy, Romance, Adventure, dll. Pairingnya ada banyak. Tapi yang paling pokok tetap Sasusaku seperti biasanya.

Ah, iya. Saya memang sadar kalau fict ini mirip sama Inuyasha. Wkwkwk. Ketauan o'on lagi deh sayanya.

Terimakasih untuk yang sudah mereview cerita saya. *HUG*. Mohon maaf belum bisa dibalas. Karena koneksinya lama sekali. T,T. Mau buka tab baru saja lemot.

Tanya sebentar, FFn tampilannya beda-baru tau. dan saya bingung untuk fitur PMsnya yang aneh. Kenapa saya tidak bisa membalas PMs dari author lain? Kelihatannya versinya beda. *sok tau* Apakah ada yang bisa bantu? Senpai-senpai juga... :D Maafkan saya yang katrok ini. m(_ _)m

Ish, panjang amat AN-nya. *plak* Err...review? Hehehe ;)