CIWAAAAAW~ Chapter 2 Updaaate~! *tebar wig dora*

Ryuto: "Ehm, tolong abaikan makhluk astral itu."

Kazue: "Muuuh! Aku masih waras, Ryuto-kun! ToT" *guling-guling*

Len: *guling-guling juga*

Reiga: "Tch, kapan mulainya ini kalo pada guling-guling segala?" *dark side: ON*

Kazue: "Oke udahan." *bangun dan ngurek-ngurek tong sampah* "Ah! Ini dia~!" *merentangkan kertas demek*

[Isi]
Rated: T

Genre: Angst, Drama, Romance

Diclaimer: KHR milik Akira Amano-sensei, kalo milik Kazue, pasti isinya yaoi semua! Kufwahahaha~! #Slepeted

Warning: 1827! Mungkin pair yang lain bakal nongol juga Typo mungkin

Don't like? Don't read and press "back" button or close it, Oke? :3

HAPPY READING~

Story Beginning... (Ch 2)


Kejadian tadi pagi selalu terngiang-ngiang di benak Tsuna. Saat dimana Hibari berbicara pelan tepat di kuping Tsuna. Padahal itu hanya suatu moment kecil-kecilan, tapi Tsuna merasa... Entahlah... Senang? Bocah Vongola itu memang tak mengerti perasaannya.

"Juudaime, daijoubuka?" tanya orang yang sedang berdiri tepat di sebelahnya. Pemilik rambut perak dengan gaya tako-head *dibom* Gokudera Hayato. Anak buah Tsuna dalam organisasi Vongola.

"Gokudera-kun..." Tsuna menoleh. "Hai... daijoubu..." jawabnya pelan sambil tersenyum tipis.

Gokudera sempat melihat ada semburat merah kecil pada wajah Juudaimenya. "Wajah anda memerah, apa anda sakit?"

Tsuna menyadarinya. "Aah.. I-iie...! Aku... Sehat-sehat saja kok!" balasnya gelagapan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Gokudera diam. "Yosh... tapi jika anda merasa tidak enak, bilang saja pada saya." Katanya pelan lalu kembali melihat pemandangan. Sekarang mereka sedang di atap sekolah.

"Gokudera-kun... Dia selalu mengkhawatirkanku..." batin Tsuna. Ah dasar, jadi sebenarnya kau pilih Gokudera atau Hibari sih!? (Readers: BERISIK! / Kazue: oke... *pundung*)

(/^^)/\(^^)/\(^^\)

Bel pulang sudah berbunyi, Tsuna buru-buru merapihkan tasnya sebelum pergi ke tempat Sang Karnivore Nami-chuu.

"Juudaime!" panggil Gokudera dari arah pintu. Tsuna menoleh dan yang ia lihat bukan Gokudera saja yang ada di situ. Seorang laki-laki Si Bintang Baseball Namimori, Yamamoto Takeshi.

"Oi, Tsuna, ayo pulang!" seru Yamamoto riang.

"Ck, yakyuu-baka, aku yang harusnya bilang begitu pada Juudaime!" umpat Gokudera kesal pada Yamamoto. Yamamoto hanya tertawa, tidak mengubris umpatan Gokudera.

"Ah... Gomenne... Aku masih ada urusan, kalian pulang berdua saja ya...?" kata Tsuna meminta maaf.

"Nani? Berdua dengannya?" Gokudera kaget karena disuruh pulang dengan Yamamoto.

Belum sempat protes lagi, Tsuna sudah mengeluarkan Puppy Eyes no jutsu disertai wajah memelas yang bisa membuat para fangirl menjerit-jerit histeris atau mungkin nosebleed.

Gokudera sedikit blushing melihat Juudaimenya dalam mode kawaii.

"Yosh... Tapi anda juga cepat pulang. Ayo teme." Gokudera keluar duluan.

"Jaa Tsuna~" pamit Yamamoto lalu menyusul Gokudera.

Tsuna sedikit mendesah karena menyesal tak bisa pulang bersama dua anggotanya. Cepat-cepat dia membereskan tasnya lalu keluar kelas. Terbayang wajah dingin Hibari tengah menunggunya sambil memegang tonfa dan bergumam "kamikorosu..". Tsuna langsung menggelengkan kepala, menghapus bayangan menyeramkan itu.

(/^^)/\(^^)/\(^^\)

"Kau terlambat 2 menit."

Tsuna menunduk ketakutan. Sekarang dia sudah berada di ruangan Hibari, hanya berdua dengan Hibari. Berdua. Pintu ruangan dikunci supaya Tsuna tidak bisa kabur.
Tsuna terduduk di lantai lemas dan ketakutan menghadapi Sang Karnivore yang sekarang tengah duduk di meja kerjanya sambil memainkan tonfanya.

"Sudah kubilang jangan terlambat." Hibari berhenti memainkan tonfanya lalu menunjuk Tsuna dengan tonfanya itu. "Kenapa masih berani terlambat?" tanyanya dingin.

"Hi-hiee!" Tsuna langsung pucat begitu Hibari menunjuknya menggunakan tonfa. Salah ucap sedikit, bisa-bisa tonfa itu melayang ke wajahnya.

Hibari memberikan tatapan cepat-jawab-atau-kamikorosu.

"A-ano... Ta-tadi... Aku... Habis... Mem-membantu... Gu-guru... Makanya..." omongan Tsuna terputus-putus.

"Cara bicaramu menyebalkan, herbivore." Potong Hibari sambil sudah memasang ancang-ancang mengkamikorosu.

"Hiie!" Tsuna kembali ber-'hiee' ria.

"Hentikan juga teriakanmu itu." Kata Hibari agak sinis. "Membuatku muak." Lanjutnya.

Tsuna menghela nafas, menenangkan dirinya, lalu mulai membuka mulut lagi. "Aku membantu guru... Makanya aku terlambat..."

Hibari menaikkan satu alisnya. "Ho? Membantu guru?"

Tsuna mengangguk.

Flashback: ON

Pelajaran terakhir adalah pelajaran IPA dan materinya adalah tentang kerangka. Itu artinya guru IPA pasti membawa alat peraga atau kerangka bohongannya ke kelas (?).

"Sawada-kun."

Tsuna yang sedang membereskan buku langsung menoleh. "Hai, sensei?"

"Tolong kembalikan kerangka ini ke lab ya."

Memang pada saat itu hanya ada Tsuna di kelas.

"Hm... Hai, sensei..." Akhirnya Tsuna membawa kerangka itu ke lab. Tentu saja susah karena ukuran kerangka itu lebih besar dari tubuh Tsuna yang kecil.

Flashback: OFF

"Rajin." Komentar Hibari pendek.

Tsuna masih menunduk. Tiba-tiba Hibari mendekatinya. "Berdiri."

Tsuna langsung berdiri, tentu dia masih takut karena ukuran tinggi mereka cukup jauh. Hibari lebih tinggi dari Tsuna yang tingginya kira-kira hanya sedada Hibari.

"Hukuman. Bereskan ruangan ini dalam waktu 5 menit." Perintah Hibari datar. "Tidak selesai, kamikorosu..."

Tsuna langsung berdiri tegap kemudian memasang wajah tegang. "H-hai! Kulakukan!"

"Hn." Komen Hibari pendek kemudian keluar dari ruangannya, meninggalkan Tsuna sendiri di situ. Tsuna mulai membereskan ruangan yang tidak terlalu kotor itu dengan cepat.

...

"Kenapa kau tidak membunuhnya?"

"Hah?" Tsuna mencari asal suara tersebut.

"Di sini, dame-Tsuna."

Tsuna menoleh ke sumbernya, dari jendela. Ternyata dia sang tutornya, sekaligus Arcabalone dari organisasi Vongola yang ditakuti. Reborn.

"Reborn?"

Reborn yang tadi duduk di jendela lalu turun dan mendekati Tsuna. "Dia tergetmu kan?"

Tsuna diam, masih saja membereskan ruangan itu.

"Dia pewaris tunggal Black Ass. Kan?" tanya Reborn lagi.

Tsuna masih saja membisu.

"Dia, orang yang harus kau bunuh kan?"

Tsuna mulai merasa terdesak.

"Dia... Hibari Kyoya, kan?"

"URUSAINA!" jerit Tsuna kesal. Reborn hanya memasang wajah datarnya, biasa.

"Tak apa, aku bisa memakluminya. Ini masih hari pertama. Kuingatkan padamu, tersisa 6 hari lagi untuk menyelesaikan misi ini." Kata Reborn datar.

Tsuna terdiam sejenak. "Aku..."

Omongan Tsuna terputus begitu mendengar langkah kaki di depan.

"Hibari-san?" Tsuna kaget. Reborn langsung lompat ke jendela. "Semakin cepat, semakin baik, dame-Tsuna." Ucapnya.

Tsuna tak menghiraukannya. Dia masih membereskan ruangan itu sampai benar-benar bersih.

Suara langkah kaki itu terhenti di depan pintu. Benar, itu Hibari. Hibari membuka pintu dan melihat ruang kerjanya sudah benar-benar rapih. "Hn. Lumayan."

Hibari masuk ke dalam dan melihat Sawada Tsunayoshi, tengah terduduk di pojok ruangan, kecapekan.

"Ho? Kau lelah?" tanya Hibari.

Tsuna tidak menjawab. Dia diam di pojokkan begitu karena memang lelah dan karena memikirkan misinya yang sekarang. Targetnya, orang yang sedang berdiri tepat di hadapannya. Sebenarnya bisa saja sekarang dia berubah menjadi HDW Tsuna dan membunuh Hibari saat itu juga, tapi entah kenapa dia tak bisa dan tak mau melakukannya.

Pandangan Hibari beralih ke mejanya, dia melihat ada satu berkas yang ketinggalan dirapihkan. "Kau ketinggalan satu."

Tsuna langsung merasa horror, rasanya dia ingin sekali memiliki kemampuan teleport untuk meneleport dirinya ke rumahnya.

Hibari menutup pintu ruangannya. Tsuna bingung tapi semakin merasa takut. Dapat dilihat Hibari sedikit menyeringai padanya. Tsuna merinding, siapa yang tidak akan bergidik ngeri melihat seringai Sang Karnivore itu?

Hibari berjalan mendekati Tsuna. Tsuna ingin kabur, tapi kakinya terasa berat. Sampai akhirnya Hibari benar-benar sudah di dekat Tsuna lalu berjongkok di hadapannya. Wajah Tsuna langsung memerah malu.
Tanpa aba-aba, tiba-tiba Hibari menaruh tonfanya lalu dengan kedua tangannya, dia memborgol tangan Tsuna dan dia desak ke tembok. Posisi Tsuna dikunci di antara Hibari dan Tembok. Tak bisa berkutik karena tangannya telah diborgol oleh tangan Hibari di tembok. Kakinya terlalu lemas untuk melakukan gerakan.

Tsuna benar-benar salting. "Hi-Hibari-san!? A-Apa—"

"Aku bosan menghabisi orang dengan kekerasan." Kata Hibari dingin. Dia kembali tersenyum licik. "Sudah kubilang bukan? Tidak selesai, kamikorosu..." ucapnya pelan tapi penuh arti ambigu.

Tsuna gelagapan. Apa yang akan dilakukan Hibari padanya? Kamikorosu? Iie... Ini bukan kamikorosu yang biasa ia lakukan. Dan kenapa perasaannya sekarang... Takut? Sudah pasti! Panik? Apalagi! Hm... Entahlah...

Senang?

"Hi-Hibari-san... Ha-hanase..." pinta Tsuna pelan. Wajahnya memerah benar-benar malu dan dia memejamkan mata sambil memalingkan wajahnya, tak mau melihat wajah Hibari yang benar-benar ada di hadapannya.

"Herbivore."

Tsuna terdiam masih memalingkan muka.

"Tatap aku. Atau kau akan berhadapan dengan tonfaku."

Tsuna tak punya pilihan, dia mulai membuka matanya perlahan dan bertemu pandang dengan Hibari. Mata coklatnya bertemu dengan manik mata skyklark milik Hibari dan terjadilah kesunyian sesaat.

"Heh. Wajahmu itu."

"A-ada apa... Dengan... Wajahku...?" tanya Tsuna ketakutan.

"Membuatku puas." Jawab Hibari sambil menyeringai licik kembali.

Tsuna semakin blushing. Tanpa diduga, tiba-tiba Hibari mulai mendekatkan wajahnya. Tsuna menyadarinya dan mulai agak meronta, tapi Hibari malah mengencangkan tangannya pada pergelangan tangan Tsuna.

Tsuna semakin panik, dia hampir menangis karena ketakutan. "Ya-yamete...!"

Hibari tak mengubris. Wajahnya semakin dekat. Akhirnya Tsuna pasrah dan memejamkan mata tanda merespon.

Semakin dekat... Hingga jarak di antara mereka tinggal 1 cm. Tsuna memejamkan mata makin erat.

...

Tanpa dia duga, tiba-tiba Hibari menghentikan aksinya dan beralih ke telinga Tsuna. "Herbivore baka, kau pikir aku benar-benar akan melakukannya?" bisiknya.

Tsuna kaget. Dia merasa lega tapi... Ada sedikit perasaan sedih juga.

"LEPASKAN AKU!" jerit Tsuna karena merasa sudah dipermainkan.

"Ho?" Hibari tersenyum penuh arti. Dia langsung menjilat telinga Tsuna dan benar saja, Tsuna membatu saat itu juga.

"Ge-geli... Hentikan!" Tsuna semakin blushing ketika merasakan kalau telinganya dimainkan oleh Sang Karnivore.

Hibari berhenti lalu melepaskan Tsuna seluruhnya, merasa waktu bermainnya sudah cukup. Dia berdiri kemudian mengambil tonfanya.

Tsuna masih terdiam. "Kenapa... Hibari-san... Lakukan itu padaku...?"

Hibari diam sejenak. "Aku tak mau lakukan itu pada perempuan. Kau tahu alasannya."

Tsuna mengangguk pelan. Hibari memang tidak suka perempuan. Tapi alasan Hibari tadi kurang bisa Tsuna terima. Haruskah ia menjadi orang pertama yang mendapatkan "kamikorosu baru" dari Hibari?

"Selain itu..."

Tsuna menoleh. "Selain itu?"

"... Wajahmu tadi membuatku ketagihan untuk melakukan itu lagi." Hibari tersenyum licik.

Tsuna terlonjak. "Damedesu...!" teriaknya malu.

Hibari terkekeh pelan lalu memukul Tsuna di kepala memakai tonfanya. Tapi kali ini hanya pukulan kecil.

"Hie!" jerit Tsuna pelan karena kaget.

Hibari menjauh dari Tsuna lalu berjalan ke arah jendela sambil menatap pemandangannya. "Pulanglah."

"Eh?" Tsuna bingung.

"Cepat pulang. Besok jangan terlambat lagi, atau..." omongan Hibari terputus.

"Atau...?" Tsuna menunggu lanjutannya.

"... Kamikorosu." Hibari menoleh, terlihat senyuman liciknya dari wajah coretcoretcorettampancoretcoretcoretnya #TripleSlepet!

"Hieee! H-hai!" Tsuna langsung menyambar tasnya.

"Aku pamit dulu, jaa Hibari-san...!" pamit Tsuna buru-buru lalu keluar ruangan sambil berlari.

Tanpa mereka berdua sadari, Reborn daritadi melihat apa yang mereka lakukan dari atas pohon. "Hm, Tsunayoshi... Ini akan menjadi misi tersulitmu."

TBC~


Kufwahahahaha~! Gimana? Masih belom berasa momentnya ya?
Kayaknya chapter 3 bakal rada lama diupdate, semi-hiatus dulu sementara mungkin?

Ryuto: "Baru newbie udah mau hiatus? Bakauthor... -_-"

Reiga: "Leave some Review, please?"