Yeah xD akhirnya chapter 1 diupdate juga… '^^ *swt*
ngg.. jadi, seperti yang telah kami katakan sebelumnya… di chapter ini akan ada sedikit "kejutan" dari kami~ _
yak, apakah itu??? .=D silahkan dibaca sendiri.. ^__^ *ditendang*
dan tentunya bukan hanya di chapter ini saja, di chapter-chapter berikutnya pun telah kami siapkan masing-masing kejutan yang berbeda-beda =) (dan hal ini memang disengaja, supaya dapat membuat pembaca penasaran ^__^ *disundul*)
yah...mungkin hanya itu saja basa-basi yang dapat saya sampaikan..=w=
so, hope you enjoy it~ xD
P.S: yang ngomong di atas nih Kuro, gantian dengan sebelumnya..
Line of Truth
Dislaimer: ATLUS owns Persona 3 & Persona 4
Genre: Parody/Adventure
Rated: T for storyline
Chapter 1: Arrival
Seiring berputarnya jarum penunjuk waktu, kereta yang ditumpangi oleh sang pemuda semakin menjauhi stasiun di kota itu menuju sebuah stasiun kereta yang lainnya. Suasana di dalam kereta tampak lengang, mengingat hari sudah hampir menunjukkan pukul dua belas tengah malam.
Di dalam kereta, sang pemuda berdiri menatap sebuah jendela, menikmati pemandangan luar kereta. Laut dan pepohonan seakan-akan bergeser melewatinya. Dari kaca jendela tersebut, dapat dilihatnya juga refleksi dirinya, yang walaupun awalnya samar-samar, namun semakin jelas ketika kereta meluncur memasuki terowongan.
Tak terasa, akhirnya pemuda itu sampai di stasiun yang ia tuju. Ia mulai bergerak, melangkahkan kakinya keluar dari kereta tersebut sambil mengangkat barang bawaannya dengan pundak kirinya.
Suasana stasiun tak jauh berbeda dengan keadaan di dalam kereta tadi, hanya tampak beberapa orang yang berlalu-lalang disana, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Kedua telinga sang pemuda mendengar suara samar seorang wanita yang berbicara melalui speaker, memberitahunya bahwa ia telah menginjakkan kakinya di stasiun kereta yang ia tuju.
"Iwatodai… Iwatodai..." suara speaker menggema dengan nada yang monoton, dan sang pemuda mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya, sementara jarum jam terus berputar, mendekati angka dua belas.
O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O
Dipandangnya sekumpulan gambar dan huruf yang terpampang di atas kertas. Sementara kedua bola matanya terus memeriksa dengan seksama tulisan dan gambar yang tertera di atas kertas, jarum panjang dari jam yang tergantung di belakang kepala pemuda tersebut akhirnya terhenti tepat di angka dua belas.
Terhenti, tidak bergerak sama sekali…
Bahkan jarum jam lainnya yang menghitung detik, semuanya terhenti pada angka dua belas, darah mengaliri jam dinding tersebut, membasahinya dan mewarnai jam tersebut dengan warna merahnya.
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan memperhatikan sekelilingnya.
Listrik di kota tersebut mati total, tidak ada cahaya sama sekali yang menerangi selain sinar rembulan yang juga menguning. Langit malam pada saat itu tampak berwarna hitam kehijauan, benda-benda berlumuran oleh darah, dan suasana pada saat itu entah mengapa terasa begitu mencekam. Tanah dan lantai pun becek oleh genangan darah, merefleksikan sinar rembulan yang menyinari malam itu dengan sinar kuning gelap kehijauannya.
Pemuda itu kemudian menghentikan langkahnya sejenak. Ia menutup kedua bola matanya, menghela napasnya sebentar, dan kemudian kembali berjalan, seolah-olah tidak mempedulikan apa yang telah dilihatnya.
O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O
Peti-peti mati berlumuran darah.
Benda itulah yang selalu berdiri memenuhi jalanan yang dilalui oleh pemuda itu. Sang pemuda terus berjalan sambil memperhatikan sekitarnya sekilas, namun matanya tetap terkunci pada satu objek: secarik kertas yang menunjukkan arah menuju sebuah asrama yang akan ditinggalinya selama satu tahun ke depan, secarik kertas yang telah digenggamnya sejak ia menginjakkan kakinya di stasiun Iwatodai.
Akhirnya langkah sang pemuda tersebut terhenti. Ia mengangkat kepalanya, memperhatikan sebuah bangunan bertingkat yang kini berdiri tepat di hadapannya. Anehnya, lampu pada bangunan tersebut menyala terang, sementara lampu-lampu jalanan dan lampu-lampu pada bangunan lain yang ia lewati gelap total, membuat daerah di sekitarnya bagaikan sebuah kota mati.
Sang pemuda tersebut kembali melanjutkan langkahnya, menaiki setiap anak tangga yang tersusun rapi di depan pintu bangunan tersebut. Ia lalu membuka pintu tersebut, yang membawanya pada sebuah ruangan yang terlihat cukup luas dan megah. Suasana ruangan tersebut benar-benar berbeda dengan suasana di sekelilingnya; lampu-lampu pada ruangan tersebut bersinar terang, membuat sekilas ruangan tersebut tampak menyilaukan jika dibandingkan dengan suasana kota pada malam itu. Benda-benda di ruangan tersebut tertata dengan baik, sama sekali tidak ada peti mati ataupun genangan darah—segalanya tampak terlihat normal bagi pemuda tersebut.
O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O=O
"Kau terlambat" terdengar sebuah suara.
Pemuda itu lalu menoleh ke arah asal suara tersebut, dan ia mendapati sesosok anak kecil yang menatapnya dengan tatapan yang cukup aneh sedang menahan dagunya dengan kedua tangannya, sementara sikunya bertumpu pada permukaan meja resepsionis.
"Aku sudah lama menunggumu," katanya lagi dengan nada bicaranya yang seolah sudah menjadi ciri khasnya.
"Jika kau ingin melanjutkannya lagi, tulislah namamu disana." lanjut anak kecil itu, mengangkat tangannya dan menunjukkan suatu arah. Sang pemuda menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjukkan oleh anak kecil tersebut, dan ia dapat melihat sebuah map berwarna merah di atas meja yang secara tiba-tiba terbuka bagaikan disapu oleh angin.
"Jangan takut, ini hanya sebuah kontrak, hal yang harus kau lakukan adalah menerima pertanggungjawaban atas segala keputusanmu. Kau tahu, hal-hal biasa…" tambah anak kecil itu.
Pemuda itu mengulurkan tangannya, digenggamnya pena bulu yang tersedia di meja resepsionis tersebut dan tangannya mulai menari-nari di atas secarik kertas pada kontrak tersebut. Perlahan-perlahan, pena bulu tersebut melukis permukaan kertas dengan nama pemuda tersebut.
Seusai menuliskan namanya, pemuda itu melepaskan pena bulu yang dipakainya. Anak kecil itu kemudian meraih secara perlahan kontrak tersebut, dan memperhatikan tulisan sang pemuda. Bibirnya mulai bergerak-gerak, melafalkan setiap huruf yang ditulis dengan rapi oleh sang pemuda.
"S-e-t-a S-o-u-j-i…" anak kecil itu mengangkat kepalanya dan mempertemukan bola matanya dengan bola mata keabu-abuan jernih pemuda tersebut. Lidahnya menari-nari, bibirnya mulai bergerak, mengulang kembali nama yang baru saja dibacanya. "Seta Souji."
Anak kecil itu terdiam, lalu ia menutup kontrak itu dan menyunggingkan sebuah senyuman sambil menutup kedua matanya. Ia mulai membuka mulutnya lagi. "Tidak ada seorang pun, yang dapat kabur dari waktu. Waktu akan membawa setiap kehidupan pada akhir yang sama." Ia kembali membuka matanya dan menatap sang pemuda berambut abu-abu di hadapannya. Senyum yang tersungging di bibirnya semakin melebar. Ia melanjutkan lagi. "Kau tidak dapat menutup telingamu, ataupun menutupi kedua matamu." Anak kecil itu lalu mengangkat kontrak yang dipegangnya dan dalam sekejap, kontrak tersebut menipis bagaikan kartu dan lenyap di udara.
Setelah kontrak tersebut dilenyapkan oleh anak kecil tersebut bagai seorang pesulap, anak kecil itu lalu mengulurkan tangannya. "Dan dimulailah segala sesuatu…" perlahan-lahan, ruangan tersebut mulai menggelap dan kegelapan muncul dari belakang anak kecil itu. Anak kecil tersebut mulai tertelan oleh kegelapan, hingga menyisakan tangannya yang terulur, yang tidak lama kemudian ikut tertelan oleh kegelapan itu juga.
Dan ruangan yang sebelumnya terang oleh cahaya lampu, perlahan-lahan menjadi gelap, dan memiliki nuansa yang sama dengan nuansa di luar asrama. Darah mengalir dari dinding, dan ruangan hanya diterangi oleh langit berwarna hitam kehijauan dan sinar rembulan yang berwarna kuning gelap kehijauan.
A/N: Jo di sini~ dan kami putus dulu di sini xD seperti yang disebutkan di atas, kejutan lain sudah disiapkan =)) -digampolin-
Yang bisa kami beritahukan, kemungkinan fic ini bakal panjang banget, dan kami usahakan untuk mengupdate rutin :) (tapi namanya juga kolab, ga semudah itu kan? apalagi kami tentunya punya kesibukan sendiri-sendiri)
Dan tentunya, terima kasih sebanyak-banyaknya untuk para reviewers! Really appreciate you guys!! xDD -thumbs up-
Sekarang waktunya bagi kami untuk membalas para reviewers~
Balasan buat para reviewers :D
Yap! dimulai dari reviewer paling pertama, MelZzZ~ xDD -lebay-
Jo: thanks for the review~ xD ga bisa kasih review apa-apa juga ga apa kok xD namanya juga baru prolog gaje -ditendang- tulisan terkesan serius dan rapi? arigatou~ padahal abal banget tulisan saya, tapi makasih~
Kuro: Terimakasih banyak atas sambutannya ^__^,, dan terimakasih juga karena sudah mau mereview fic collab saya dan Jo (meskipun kebanyakan Jo yang nulis dan saya hanya sok-sok nambah-nambahin ini dan itu TwT). Ah iya, dan mohon bantuan untuk kedepannya, ya.. *bungkuk*
Lalu reviewer kedua, Reaper!! xDD (maksudnya DeathCode)
Jo: apa yang u maksud dengan dewi? =_= but thanks! puitis? ga salah tuh? xD -ditendang- thanks selametannya, fic kolab yang kedua (yg ketiga menyusul kan?) thanks~
Kuro: (Cici itu siapa? *OOT*) Btw terimakasih banyak ya Reaper, udah mau ngereview fic ini ^__^. Sayangnya mungkin saya membutuhkan waktu yang amat-sangat lama untuk menulis fic sendiri ;_; Saya masih harus banyak-banyak belajar, soalnya.. ,=) Ah iya, dan terimakasih juga karena udah ngejadiin account ini menjadi salah satu account favorit anda. ^^
reviewer ketiga, Mocca-Marocchi~
Jo: arigatou~ hmm.. interesting? semoga dan kami usahakan begitu thanks sekali lagi~
Kuro: Terimakasih banyak.. ^__^ kami akan terus dan tetap berusaha agar fic ini terlihat lebih dan lebih menarik lagi… ^__^ Mohon dukungannya, ya.. ^^
reviewer keempat, Shina Suzuki~ xD
Jo: makasih banyak~ kami memang mengusahakan ga ada misstypo kalo ada beritahu saja ya xD yap! kami usahakan penulisan kami tetap maju dan tidak mundur, arigatou~
Kuro: Terimakasih banyak atas review-nya… dan kami pun berharap nanti kedepannya tidak ada misstypo. ^^ Dan..saya sendiri masih harus lebih banyak belajar lagi supaya (paling tidak) saya bisa jadi partner yang baik bagi Jo… =)
next, reviewer kelima, sharasuke~
Jo: SS~~ xDD -bales peluk"- -ditendang- thanks~ walopun ga mudeng sama fandomnya, anda bersedia membaca, arigatou~ diksi? kami usahakan untuk meningkatkan diksi, dan ya, kami tiap chapter kami kerjakan berdua dan bersama" kalo mau kolab, cukup dengan PM sebenarnya bisa xD bagi tugas sepotong", begitulah.. makasih banyak
Kuro: Saya salut dengan anda karena anda mau membaca fic yang bahkan anda tidak mudeng dengan fandomnya—kalau saya, mungkin saya tidak akan pernah melakukannya. Dan terimakasih banyak karena SS udah mau ngereview fic ini.. __ Saya terharu, nih.. :'D
Dan soal diksi--yang bahkan saya sendiri nggak ngerti diksi itu apa--saya hanya menulis dengan mengandalkan perasaan saya saja(dan kesotoyan saya, tentunya).
SS berminat untuk menulis fic collab juga?? ^__^
next, reviewer keenam, heylalaa~ xD
Jo: ahoy! xD -ditabok- ga bisa ngebedain? bagus dong -ditendang- walopun mengerjakan sama", penulisan kami mungkin memang mirip" jadinya kayak ga beda -ditabok- tapi kami saling memperbaiki satu sama lain, itulah salah satu keunggulan kolab bukan? -sotoy- terima kasih banyak~ xD
Kuro: *Fyuh* haha, justru saya bakalan malu banget kalau tulisan saya dan Jo bisa dibedakan (soalnya nanti pasti bakalan kelihatan banget betapa abalnya tulisan saya). Selain itu, 'karangan' saya juga masih sering diperbaiki oleh Jo (domo arigatou, Jo ^^)… makanya, penulisannya jadi rapi ^__^. Oh, dan terimakasih banyak atas reviewnya!! XD
and the last...
review dari Snow Jo, salah satu author fic collab ini :D
Jo: dari saya sendiri xD -ditimpuk- pengen ngucapin ini sih, selamat datang di fandom MegaTen, Kuro~ -peluk"- -taboked- aktif"lah menulis dan suatu saat, Kuro membuat fic sendiri yang pasti bagus banget :D mohon kerjasamanya ke depan~ ini mungkin review pertama dari dua review yang akan saya sumbangkan dalam fic ini :P
Kuro: Pertama-tama, terimakasih banyak atas sambutannya, Jo... :'D *sob*.
Kemudian, terimakasih banyak juga atas bantuan dan waktunya yang berharga untuk menulis fanfic collab ini... ^_^ Semoga saja kedepannya nanti kita bisa menjadi semakin lebih baik lagi, ya... :D
Saya juga mohon kerjasamanya ya, Jo~ :D
P.S: Untuk account sendiri...saya masih nggak yakin... ^^a *swt*
Akhir kata, review please? xD -dikemplang-
